Senin, 13 Oktober 2025

Bayangan yang Lepas Tanpa Kata

 Kau adalah angin yang tak kulihat,
namun merobek tenang malamku tanpa jejak.
Aku adalah pohon yang berdiri diam,
menyimpan daun yang kau jatuhkan perlahan.

Di ruang hampa tanpa saksi,
kata-kata kita seperti daun kering tertiup jauh,
tanpa mendengar akar yang merintih sakit,
tanpa tahu betapa dalam luka yang tersembunyi.

Cintaku adalah sungai yang mengalir bisu,
tak pernah membanjiri lembahmu dengan dahaga salah.
Namun rindu yang kautarik seperti air terjun,
jatuh, menguap, lalu hilang dalam senyap tanpa kembali.

Di pengadilan waktu, kau lepaskan cincin,
seperti kapal yang meninggalkan dermaga tanpa kata selamat tinggal.
Aku tetap di sini,
menunggu bayanganmu mereda dalam ingatan,
meski bayang itu tidak pernah kembali memeluk.

Perpisahan kita adalah malam tanpa bintang,
dingin, pekat, dan tanpa gemuruh hujan,
hanya hening yang menyayat di setiap pelukan rindu,
hingga kita menaruh cinta dalam diam yang paling dalam.

 

Versi bahasa Jawa

Bayangan Sing Lepeh Tanpa Tembung

Kowe angin kang ora katon,
nanging ngrubruk sepiing bengi tanpa jejak.
Aku wit kang mandeg bisu,
nyimpen godhong sing kowe seleh alon-alon.


Ing papan sepi tanpa pamirsa,
tembung kita kaya godhong garing kabur adoh,
ora krungu oyot sing nandhang lara,
ora ngerti jerone lara sing kasimpen.


Tresnoku kaya kali kang mili bisu,
ora tau nglembabake lembahmu kanthi panggah kang salah.
Nanging kangen sing kowe tarik kaya banyu pancuran,
tibrah, menguap, banjur sirna tanpo bali.


Ing pawiyatan wektu, kowe ngeculake cincin,
kaya kapal ninggal dermaga tanpo pamit tembung.
Aku tetep ana ing kene,
ngenteni bayanganmu surut ing eling,
sanaos bayangan iku ora tau bali pangreget.


Pamitan kita kaya bengi tanpa lintang,
adhem, peteng, lan tanpa guyu udan,
mung sepi sing nyobek saben pelukan kangen,
ngantos kita nyeleh tresna ing kasepen kang jero.

 

Versi Bahasa Inggris

The Shadow That Slipped Away Without Words

You are the wind unseen,
tearing through the quiet night without a trace.
I am the tree that stands silent,
harboring the leaves you gently let fall.


In an empty space with no witness,
our words scatter like dry leaves blown afar,
unheard by roots aching in silence,
unaware of wounds hidden deep within.


My love flows like a silent river,
never drowning your valley in misplaced thirst.
Yet the longing you pull is like a waterfall—
falling, evaporating, vanishing in silence, never to return.


In the court of time, you let go of the ring,
like a ship leaving the pier without a word of farewell.
I remain here,
waiting for your shadow to fade in memory,
though that shadow never returns to embrace.


Our farewell is a starless night—
cold, dense, without the roar of rain,
only silence that pierces every embrace of longing,
until we place love within the deepest quiet.

Versi Bahasa Jepang

詞なき離れ影

Kotoba Naki Hanare Kage


君は我が眼に見えぬ風なれど、

Kimi wa waga me ni mienu kaze naredo,
跡も留めず静けき夜を裂きぬ。

Ato mo todomezu shizukeki yoru o sakinu.
我は声なきまま立つ木にして、

Ware wa koe naki mama tatsu ki nishite,
君のそと落としたる葉を抱き留む。

Kimi no soto otoshitaru ha o daki tom u.


証人なき虚しき空の内に、

Shōnin naki munashiki sora no uchi ni,
我らが詞は枯葉のごとく彼方へ吹かれ、

Warera ga kotoba wa kareha no gotoku kanata e fukare,
根の嘆きを聞かず、

Ne no nageki o kikazu,
深く隠れたる傷を知らず。

Fukaku kakuretaru kizu o shirazu.


我が愛は沈黙のまま流るる川にして、

Waga ai wa chinmoku no mama nagarururu kawa nishite,
過ちの渇きにて谷を満たさず。

Ayamachi no kawaki nite tani o mitasazu.
されど君が寄せたる慕ひは滝のごとく、

Saredo kimi ga yosetaru shitahi wa taki no gotoku,
落ちては消え、やがて帰らず。

Ochite wa kie, yagate kaerazu.


時の裁きに君は指輪を解き放ち、

Toki no sabaki ni kimi wa yubiwa o toki hanachi,
別れの詞もなく港を離るる舟の如し。

Wakare no kotoba mo naku minato o hanarururu fune no gotoshi.
我はこの地に留まり、

Ware wa kono chi ni todomari,
影の記憶に鎮まらむを待ち、

Kage no kioku ni shizumaramu o machi,


再び抱く事なからむを知る。

Futatabi daku koto nakaramu o shiru.
我らが別れは星なき夜にして、

Warera ga wakare wa hoshi naki yoru nishite,
冷たく、暗く、雨音すら無く、

Tsumetaku, kuraku, amaoto sura naku,
ただ静けさのみが恋を裂き、

Tada shizukesa nomi ga koi o saki,
やがて愛を最も深き沈黙の底に置きぬ。

Yagate ai o mottomo fukaki chinmoku no soko ni okinu.

Janji di Kebun Jambu

         Malam itu udara di Tegalsari terasa lembap dan berat. Kabut tipis menggantung di antara pohon-pohon kopi yang tumbuh liar di belakang kontrakanku. Suara jangkrik mendadak lenyap entah kenapa, membuat langkahku terdengar sangat jelas ketika aku memasuki halaman yang gelap.

Aku, Bagus, baru saja pulang dari luar kota. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Cahaya lampu jalan hanya sampai di ujung gang, sementara rumah kontrakanku berdiri sendirian di pinggiran kebun. Saat membuka gerbang besi, aku melihat seorang wanita berdiri di bawah pohon jambu, rambutnya panjang terurai dan wajahnya samar karena tertutup bayangan.

Aku sempat berpikir dia tetangga atau orang yang tersesat. Tapi begitu aku panggil pelan, “Mbak, cari siapa?”, wanita itu tersenyum tapi bibirnya tidak bergerak—senyum yang tidak wajar. Sekejap kemudian, tubuhku terasa berat, udara di sekitarku dingin menusuk seperti diselimuti embun pagi.

Wanita itu melangkah maju, gaunnya putih panjang, dan kulitnya tampak pucat kehijauan diterpa cahaya bulan. “Kamu pulang juga akhirnya…” suaranya bergema pelan, seolah datang dari tempat jauh. Aku mundur spontan, namun langkahku terhenti karena suara gonggongan anjing menggema dari kejauhan—anjing yang selama ini tak pernah terdengar di daerah itu.

Malam berikutnya, suara-suara aneh mulai muncul dari belakang rumah. Kadang seperti langkah kaki, kadang seperti suara orang memanggil namaku dengan nada lembut. Suatu kali aku mendengar ketukan di jendela, dan ketika kusibak tirai, kulihat wajah wanita itu menatapku dari luar, matanya kosong tapi penuh rasa sedih.

Aku mencoba mencari tahu dari warga sekitar tentang sejarah rumah itu. Seorang kakek di warung kopi bercerita lirih, bahwa dulu di kebun belakang rumah itu pernah ditemukan jasad seorang perempuan muda yang menghilang menjelang hari pernikahannya. Katanya, ia sering menampakkan diri pada orang yang tinggal di kontrakan itu—mencari seseorang yang tidak pernah kembali menjemputnya.

Sejak malam itu, aku mulai bermimpi berulang: berjalan di kebun jambu dengan aroma bunga melati yang kuat, dan di ujung jalan selalu ada wanita itu menungguku, mengulurkan tangannya sambil berbisik, “Kamu sudah janji datang waktu itu…”

Aku belum tahu siapa yang ia maksud. Tapi setiap kali matahari terbenam di Tegalsari, aku merasakan tatapan itu lagi—menyusup dari balik kabut yang tak pernah hilang di halaman belakang rumahku.

Sejak malam pertama, keberadaan wanita itu mulai mengguncang ketenangan hidupku. Setiap senja, kabut dari perkebunan kopi dan jambu semakin pekat, seolah menutupi jalan keluar dari rumah kontrakan. Warga sekitar menyebutnya asep gunung, kabut dingin dari lereng Ungaran yang konon menjadi jalur para arwah pulang.

Suatu sore, aku memberanikan diri mendatangi kakek yang pernah bercerita di warung kopi. Kakek itu perlahan menatap kosong ke arah kebun dan berkata, “Kalau sudah dipanggil Mbak Ayu, sulit lepas… dia bukan sekadar hantu, dia penunggu tanah ini.”

Menurut cerita, Mbak Ayu adalah anak kepala kebun yang dahulu terkenal cantik tiada tara. Ia dijodohkan dengan seorang lelaki kaya dari kota, namun pada malam lamaran ia menghilang di jalan sepi antara Tegalsari dan pasar Bergas. Beberapa hari kemudian, jasadnya ditemukan di kebun jambu tua—kepalanya terkulai, gaunnya basah oleh embun malam, matanya menatap kosong ke langit. Warga percaya ia dibunuh oleh orang yang ia cintai, lalu rohnya terikat di tanah yang dipenuhi pohon jambu itu.

Konon, siapa pun yang tinggal di rumah kontrakan dekat kebun akan merasakan panggilan malam. Awalnya hanya aroma melati yang muncul saat magrib, lalu suara bisikan, dan akhirnya penampakan di bawah jendela. Banyak yang pindah setelah berhari-hari mimpi bertemu wanita berpakaian putih yang menawarkan tangan untuk digenggam.

Aku mulai mengalami tahap terakhir—penampakan bertambah jelas. Beberapa kali, saat membuka pintu, aku mendapati jejak kaki basah menuju pekarangan belakang. Aku ikuti jejak itu, dan di tengah kebun jambu kulihat sosoknya berdiri menghadapku, matanya memancarkan cahaya kehijauan.

“Maukah kamu menepati janji itu, Bagus?” ucapnya lirih.

Kata-kata itu menusuk pikiranku. Aku tidak pernah merasa membuat janji… tapi entah mengapa hatiku berdebar, seperti pernah mengenalnya di kehidupan lain. Warga bilang, jika seseorang menggenggam tangan Mbak Ayu dalam mimpi, ia akan dibawa menyusuri jalan kabut menuju “pesta pernikahan” di dunia arwah—dan tak kembali lagi.

Sejak tahu itu, aku tak berani tidur nyenyak. Namun kabut di Tegalsari tetap datang tiap malam, menebal, membungkus rumah, sementara dari jendela aku bisa melihat dia menunggu… hanya menunggu aku menjawab panggilannya.

Malam itu, kabut turun lebih tebal dari biasanya. Lampu rumahku meredup, lalu padam sama sekali, menyisakan cahaya bulan pucat yang menerobos dari sela-sela ranting jambu. Aroma melati semakin menyengat sampai membuat dadaku terasa sesak.

Dari balik kaca jendela, Mbak Ayu kembali muncul. Tapi kali ini ia tidak sekadar menatap—dia berbicara terus-menerus, bibirnya bergerak cepat seperti melafalkan mantra. Penasaran, aku membuka pintu. Saat aku melangkah keluar, suara itu menjadi lebih jelas:

“Bagus… kamu pernah berjanji di bawah pohon ini… tapi kamu tinggalkan aku…”

Ucapan itu membuat kepalaku berdenyut. Gambar-gambar aneh berkelebat di pikiranku—seperti potongan ingatan yang bukan milikku: seorang lelaki berpakaian lurik, memegang tangan seorang gadis bergaun putih di bawah pohon jambu, berjanji akan kembali membawanya pergi dari kampung. Lalu, malam gelap, suara-suara teriakan, dan darah membasahi tanah. Lelaki itu… memiliki wajah yang sama denganku.

Tiba-tiba aku sadar. Mungkin ini bukan mimpi. Aku, atau seseorang yang menyerupai diriku dalam kehidupan terdahulu, adalah orang terakhir yang bersama Mbak Ayu sebelum ia mati. Dia melangkah mendekat. “Kamu pikir bisa lari, Mas?” bisiknya, matanya yang kehijauan menatap dalam. “Kita belum selesai. Janjimu belum terbayar.”

Kakiku memaku di tanah. Suasana di kebun terasa berubah, seperti aku sedang berada di masa lain. Pohon-pohon jambu tampak lebih muda, udara dipenuhi suara gamelan dan aroma dupa. Dari kejauhan, terlihat deretan obor mengarah ke sebuah pendopo besar, ramai oleh orang berpakaian adat yang wajahnya pucat seperti topeng.

Ia mengulurkan tangannya. “Ayo, kita lanjutkan pesta pernikahan kita…”

Gemetar, aku mundur. Namun saat berbalik untuk lari, kabut sudah menutup jalan pulang—tinggal satu arah menuju pendopo. Jantungku berdegup keras, karena di dalam pendopo, kursi pelaminan sudah menunggu… dan di sana, duduk seorang pria yang wajahnya persis seperti aku, tapi dengan tatapan penuh kebencian.

Dari belakang, Mbak Ayu berbisik di telingaku, “Mungkin kali ini, kita akan mengakhirinya dengan benar…”

Di tengah kabut yang makin pekat, Bagus berdiri di hadapan pendopo bercahaya temaram. Gamelan mengalun pelan, namun setiap dentingnya terdengar seperti detak jantung yang melambat. Sosok yang menyerupai dirinya duduk di kursi pelaminan, menatap tajam seakan tahu bahwa akhirnya Bagus datang juga untuk menebus janji yang tertunda puluhan tahun. Mbak Ayu menggenggam tangannya erat, dingin seperti batu. “Kamu tinggal selangkah lagi, Mas. Setelah ini, kita tak akan terpisah.”

Bagus menatap wajah wanita itu—tidak lagi menyeramkan, tetapi sedih, seolah ia lelah menunggu. Saat itu Bagus baru mengerti: roh ini bukan ingin menakutinya, tapi ingin membebaskan diri dari janji yang tak pernah ditepati. Dengan tangan gemetar, Bagus berlutut di hadapan Mbak Ayu. “Maafkan aku… kalau aku yang mengingkari hidupmu dulu, aku rela menebusnya. Tapi biarkan sekarang kamu tenang.”

Kabut di sekitar mereka berputar cepat. Lantunan gamelan berubah menjadi desir angin, obor satu per satu padam, dan suara perempuan itu samar-samar berbisik, “Terima kasih… akhirnya kamu pulang juga.”

Dalam sekejap, semuanya lenyap. Bagus terbangun di depan rumah kontrakannya, fajar mulai menyingsing. Di tanah dekat jendela, hanya tersisa setangkai bunga melati basah embun, dan bayangan samar pohon jambu yang meneteskan getah merah seperti darah.

Sejak hari itu, aroma melati tak pernah muncul lagi. Rumah sepi di Tegalsari kembali tenang. Namun setiap kali kabut turun dari lereng Ungaran, Bagus masih bisa melihat sosok wanita bergaun putih berdiri jauh di kebun, tersenyum lembut seolah mengucapkan selamat tinggal—dan terima kasih karena janjinya akhirnya ditepati.

 

 

 

Versi Bahasa Jawa

Janji Ing Kebon Jambu

Bengi kuwi hawa ing Tegalsari kroso lembab lan abot. Kabut alus ngantung-ing antarane wit kopi sing tuwuh liar neng mburi omah kontrakanku. Swara jangkrik dadakan ilang, ora ngerti kenapa, nganti saben langkahku krungu cetha nalika mlebu halaman sing peteng.

Aku, Bagus, anyar wae mulih saka njaba kutha. Jam wis nuduhaké pukul sewelas bengi. Cahya lampu dalan mung tekan pucuke gang, omah kontrakanku manggon dhewe neng pinggir kebon. Nalika mbukak gerbang besi, aku weruh ana wong wadon ngadeg ing ngisor wit jambu, rambute dawa terurai, raié samar ketutup bayangan.

Aku sempat mikir dheweke kuwi tangga utawa wong kesasar. Nanging pas tak sapa alon, “Mbak, golek sapa?” wong wadon kuwi mesem, nanging lambe ora obah—mesem sing ora lumrah. Sakjroning sekejap, awakku kroso abot, hawa ing sakupenge adhem menusuk kaya diselimuti embun esuk.

Wong wadon kuwi maju, nganggo klambi putih dawa, kulité pucet kehijauan kena cahya rembulan. “Kowe pungkasane mulih ya…” swaré gemerem, kaya saka panggonan adoh. Aku mundur, nanging langkah mandheg amarga krungu swara asu nggonggong saka kejauhan — asu sing sadurunge ora tau krungu neng kéné.

Bengi-bengi sabanjure, swara aneh wiwit muncul saka mburi omah. Kadhang kaya swara langkah kaki, kadhang kaya wong ngundang jenengku nganggo nada alus. Kaping pirang aku krungu ketukan neng jendhela, lan nalika tak singkap tirai, katon wajah wong wadon kuwi ndelok aku saka njaba, mripate kosong nanging kebak rasa sedhih.

Aku nyoba takon warga bab sejarah omah iki. Simbah-simbah ing warung kopi crita alon yen biyen ana jasad wong wadon enom ketemu ing kebon mburi omah, ilang sadurunge dina mantenan. Katane, dheweke kerep nuduhake dhiri marang wong sing manggon kono—golek wong sing ora tau bali nyemputé.

Wiit bengi kuwi, aku kerep ngimpi sing padha: mlaku neng kebon jambu karo ambune melati sing wangi, lan neng pucuke dalan ana wong wadon kuwi ngenteni aku, nguluri tangan karo bisik, “Kowe wis janji arep teka wektu kuwi…”

Aku durung ngerti sapa sing dimaksud. Nanging saben surup srengenge ing Tegalsari, aku krasa tatapan kuwi maneh—nyusup saka balik kabut sing ora tau ilang neng kebon mburi omahku.

Warga nyebut kabut sore kuwi “asep gunung,” kabut adhem saka lereng Gunung Ungaran sing diyakini dadi jalur bali para arwah. Simbah kuwi kandha, “Yen wis dipanggil Mbak Ayu, angel uwal… Dheweke dudu hantu biasa, nanging penunggu tanah iki.”

Cerita nyebut Mbak Ayu iku putri kepala kebon sing biyen ayune ora ana tandhingane. Dheweke dijodhokake karo priya sugih saka kutha, nanging pas bengi lamaran menghilang neng dalan sepi antarane Tegalsari lan pasar Bergas. Sawetara dina sabanjuré, jasadé ditemokaké ing kebon jambu tua—kepala terkulai, gauné basah kebak embun bengi, mripaté kosong ndeleng langit. Warga percaya yen dheweke dipatèni wong sing ditresnani, banjur rohé kesandhung ing tanah sing kebak wit jambu kuwi.

Sapa wae sing manggon cedhak kebon bakal krasa “panggilan bengi”: wiwit saka ambune melati pas magrib, bisikan alus, nganti penampakan neng ngisor jendhela. Akeh sing pindhah amarga ngimpi ketemu wanita klambi putih sing nguluri tangan kanggo digenggam.

Aku saiki mlebu tahap pungkasan—penampaké tambah cetha. Kaping pirang, nalik aku mbukak lawang, aku weruh jejak sikil teles tumuju pekarangan mburi. Aku ngetutaké jejak kuwi, lan ing tengah kebon jambu aku weruh wujudé ngadeg ngadhep aku, mripaté ngglidhik cahya kehijauan.

“Maukah kowe nepatake janji kuwi, Bagus?” swaré lirih.

Ukara kuwi menusuk pikiranku. Aku ora tau rumangsa janji… nanging atiku deg-degan kaya tau kenal dheweke ing urip liyane. Warga ngomong, yen ana wong nyekel tangan Mbak Ayu ing mimpi, wong kuwi bakal digawa nyusuri dalan kabut menyang “pesta manten” ing donya arwah—lan ora bakal bali maneh.

Saka ngerti kuwi, aku ora wani turu nyenyak. Nanging kabut Tegalsari tansah teka saben bengi, ndadekake omahku kebak kabut, déné saka jendhela aku isih bisa ndeleng dheweke ngenteni… mung ngenteni aku mangsuli panggilane.

Bengi kuwi, kabut teka luwih kenthel tinimbang biyasané. Lampu omah redup nganti mati, nyisakke cahya bulan pucet liwat sela-sela ranting jambu. Ambune melati nganti gawe dada sesek.

Mbak Ayu manèh metu saka balik kaca jendhela. Nanging saiki ora mung ndeleng—dheweke terus ngomong, lambe obah cepet kaya ngucap mantra. Aku penasaran lan metu saka omah. Swarane dadi luwih cetha:“Bagus… kowe tau janji ing ngisor wit iki… nanging kowe ninggal aku…”

Ukara kuwi gawe sirahku nyut-nyutan. Gambaran aneh nyambar ing pikiran—kaya potongan memori sing ora duwéku: ana wong lanang nganggo klambi lurik nyekel tangan wong wadon nganggo gaun putih ing ngisor wit jambu, janji bakal bali nggawa dheweke lunga saka kampung. Bengi peteng, swara bengok-bengok, lan getih ngrembes ing lemah. Wong lanang kuwi… raine padha karo aku.

Aku banjur ngerti. Mungkin iki dudu mimpi. Aku, utawa wong sing padha rupane karo aku ing urip mbiyen, iku wong terakhir sing bareng Mbak Ayu sadurunge dheweke mati. Dheweke maju. “Kowe kira iso mlayu, Mas?” bisik dheweke kanthi mripat kehijauan ndeleng jero. “Kita durung rampung. Janjimu durung dibayar.”

Kakiku kaku ora isa obah. Suasana ing kebon malih, kaya aku menyang jaman mbiyen. Wit-wit jambu katon luwih enom, hawa kebak swara gamelan lan ambu dupa. Saka kejauhan katon lampu obor nuju pendopo gedhe, rame karo wong nganggo busana adat, rai pucet kaya topeng.

Dheweke nguluri tangan. “Ayo, kita terusake pesta manten kita…”

Aku gemeter, mundur. Nanging nalika arep mlayu, kabut wis nutup dalan bali—mung siji arah menyang pendopo. Jantungku deras deg-degan, amarga ing kursi pelaminan lungguh priya sing raine padha kaya aku, nanging ndelok nganggo tatapan nesu banget.

Saka mburi, Mbak Ayu bisik, “Mungkin saiki, kita akhiri iki karo cara sing bener…”

Ing tengah kabut sing tambah kenthel, Bagus ngadeg ngarepé pendopo sing sumebar cahya temaram. Gamelan muni pelan, nanging saben dentingan kaya detak jantung lambat. Wong sing mirip aku lungguh ing kursi pelaminan, ndelok tajem kaya wis ngerti yen pungkasane Bagus teka kanggo nebus janji sing tak kelakon. Mbak Ayu nyekel tangané kenceng, adhem kaya watu. “Kowe tinggal siji langkah, Mas. Sawisé iki, kita ora bakal pisah.”

Bagus ndelok wajahé—ora medeni maneh, nanging ketok sedhih banget, kaya kesel ngenteni. Wektu kuwi Bagus ngerti: roh kuwi ora pengin medeni, nanging pengin bebas saka janji sing ora tau ditepati. Kanthi tangan gemeter, Bagus sujud ing ngarepé Mbak Ayu. “Ngapura aku… yen aku sing ngingkari uripmu biyen, aku ikhlas nebus. Nanging saiki ayo kowe tentrem.”

Kabut muter cepet. Suara gamelan malih dadi desiran angin, obor padam siji-siji, lan swara wanita kuwi alon-alon ngomong, “Matur nuwun… pungkasane kowe wis bali…”

Sak kedipan mripat, kabeh ilang. Bagus tangi ing ngarepé omah kontrakan, fajar wiwit njingglang. Ing lemah cedhak jendhela, mung ana setangkai melati teles embun, lan bayangan samar wit jambu sing netesake getah abang kaya getih.

Wiit dina kuwi, ambune melati ora tau metu maneh. Omah sing sepi ing Tegalsari bali tentrem. Nanging saben kabut teka saka lereng Ungaran, Bagus isih isa ndeleng wujud wanita klambi putih ngadeg adoh ing kebon, mesem alus kaya ngucap pamit—lan matur nuwun amarga janjine pungkasane ditepati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Versi Bahasa Jepang

グアバの庭で交わした約束
Guaba no Niwa de Kawashita Yakusoku

 

その夜、テガルサリの空気は湿って重かった。薄い霧がアパートの裏にある野生のコーヒーの木々の間に漂っていた。何故か突然コオロギの声が止み、私の足音だけがやけに大きく響いていた。
(Sono yoru, Tegarusari no kūki wa shimette omokatta. Usui kiri ga apāto no ura ni aru yasei no kōhī no kigi no aida ni tadayotte ita. Nazeka totsuzen kōrogi no koe ga yami, watashi no ashioto dake ga yakeni ōkiku hibiite ita.)

私はバグス。出張から帰ってきたばかりだった。時計は夜の十一時を指していた。街灯の光は路地の端までしか届かず、私の借家はその先の畑の端に寂しく建っていた。鉄の門を開けたとき、ジャムの木の下に立つ一人の女性が見えた。長い髪を垂らし、顔は影に隠れていた。
(Watashi wa Bagusu. Shucchō kara kaette kita bakari datta. Tokei wa yoru no jūichi-ji o sashite ita. Gaitō no hikari wa roji no hashi made shika todokazu, watashi no shakuyashō wa sono saki no hatake no hashi ni sabishiku tatte ita. Tetsu no mon o aketa toki, jamu no ki no shita ni tatsu hitori no josei ga mieta. Nagai kami o tarashi, kao wa kage ni kakurete ita.)

近所の人か道に迷った人かと思い、「すみません、誰をお探しですか」と声をかけた。しかしその女は唇を動かさずに微笑んだ。不自然な微笑みだった。次の瞬間、体が急に重くなり、空気が冷たく、朝露に包まれるように凍りついた。
(Kinjo no hito ka michi ni mayotta hito ka to omoi, “Sumimasen, dare o osagashi desu ka” to koe o kaketa. Shikashi sono onna wa kuchibiru o ugokasazu ni hohoenda. Fushizen na hohoemi datta. Tsugi no shunkan, karada ga kyū ni omoku nari, kūki ga tsumetaku, asatsuyu ni tsutsumareru yō ni kōritsuita.)

その女は月明かりの下を進み出た。白い長いドレスが風に揺れ、肌は青白く光っていた。「やっと帰ってきたのね……」その声は遠くのほうから響いてきた。
(Sono onna wa tsukiakari no shita o susumideta. Shiroi nagai doresu ga kaze ni yure, hada wa aojiru-ku hikatte ita. “Yatto kaette kita no ne...” sono koe wa tōku no hō kara hibiite kita.)

翌晩から、家の裏で奇妙な音が聞こえ始めた。足音のようだったり、時には私の名を囁く声のようにも聞こえた。ある夜、窓を叩く音がして、カーテンを開けると、あの女の顔が外からのぞいていた。目は空虚で、悲しみに満ちていた。
(Yokuban kara, ie no ura de kimyō na oto ga kikoeshimeta. Ashioto no yō dattari, toki ni wa watashi no na o sasayaku koe no yō ni mo kikoeta. Aru yoru, mado o tataku oto ga shite, kāten o akeru to, ano onna no kao ga soto kara nozoite ita. Me wa kūkyo de, kanashimi ni michite ita.)

近所の老人にその家の過去を尋ねると、彼は低い声で語った。昔その裏の畑で若い女の遺体が見つかったという。結婚式の前日に姿を消した娘だったらしい。彼女は今も、迎えに来なかった誰かを探しているのだと。
(Kinjo no rōjin ni sono ie no kako o tazuneru to, kare wa hikui koe de katatta. Mukashi sono ura no hatake de wakai onna no itai ga mitsukatta to iu. Kekkonshiki no zenjitsu ni sugata o keshita musume datta rashii. Kanojo wa ima mo, mukae ni konakatta dareka o sagashite iru no da to.)

それから私は夢を見続けた。霧の中のグアバの庭を歩き、道の端には必ずあの女が立っていた。「あのとき、来ると約束したでしょう……」と手を差し伸べてくる。
(Sorekara watashi wa yume o mitsudzuketa. Kiri no naka no guaba no niwa o aruki, michi no hashi ni wa kanarazu ano onna ga tatte ita. “Ano toki, kuru to yakusoku shita deshō...” to te o sashinomete kuru.)

その日から、私の暮らしは落ち着きを失った。黄昏になると、コーヒーとグアバの畑から濃い霧が流れてきて、家のまわりを包み込む。村人たちはそれを「山の霊気」と呼び、魂が帰る道だと言った。
(Sono hi kara, watashi no kurashi wa ochitsuki o ushinatta. Tasogare ni naru to, kōhī to guaba no hatake kara koi kiri ga nagarete kite, ie no mawari o tsutsumikomu. Murabito-tachi wa sore o “yama no reiki” to yobi, tamashii ga kaeru michi da to itta.)

ある夕方、私は再びあの老人に会いに行った。老人は庭の方を見つめ、「アユ様に呼ばれたら、逃げるのは難しい……。彼女はこの土地の守り神のようなものだ」と言った。
(Aru yūgata, watashi wa futatabi ano rōjin ni ai ni itta. Rōjin wa niwa no hō o mitsume, “Ayu-sama ni yobaretara, nigeru no wa muzukashii... Kanojo wa kono tochi no mamorigami no yō na mono da” to itta.)

アユという女性は、昔この農園の主の娘だった。町の金持ちと婚約していたが、婚約の夜に行方不明になった。数日後、彼女の遺体は古いグアバの木の下で見つかった。首を垂れ、衣は朝露に濡れ、目は空を見つめていたという。
(Ayu to iu josei wa, mukashi kono nōen no aruji no musume datta. Machi no kanemochi to konyaku shite ita ga, konyaku no yoru ni yukuefumei ni natta. Sūjitsugo, kanojo no itai wa furui guaba no ki no shita de mitsukatta. Kubi o tare, koromo wa asatsuyu ni nure, me wa sora o mitsumete ita to iu.)

村人は言う。その家に住む者は皆、夜ごと呼び声を聞く。初めはジャスミンの香り、次に囁き、そして白衣の女が窓の外に現れるのだと。誰もが数日後には家を去っていった。
(Murabito wa iu. Sono ie ni sumu mono wa mina, yogoto yobigoe o kiku. Hajime wa jasumin no kaori, tsugi ni sasayaki, soshite hakui no onna ga mado no soto ni arawareru no da to. Dare mo ga sūjitsugo ni wa ie o satte itta.)

ある夜、私は外に足跡が続いているのを見つけた。濡れた足跡を追っていくと、グアバの木の間に彼女が立っていた。「バグス……あの約束を果たしてくれるの?」
(Aru yoru, watashi wa soto ni ashiato ga tsudzuiteru no o mitsuketa. Nureta ashiato o otte iku to, guaba no ki no aida ni kanojo ga tatte ita. “Bagusu... ano yakusoku o hatashite kureru no?”)

私は約束などした覚えはない。だが心の奥で何かが揺れた。村人は言った。夢の中でアユの手を取った者は、霊の婚礼に連れて行かれ、二度と戻らないのだと。
(Watashi wa yakusoku nado shita oboe wa nai. Daga kokoro no oku de nanika ga yureta. Murabito wa itta. Yume no naka de Ayu no te o totta mono wa, rei no konrei ni tsurete ikare, nidoto modoranai no da to.)

眠れぬ夜が続いた。やがてある晩、霧が一段と濃く降りた。灯りが消え、月の光だけが漏れていた。窓の外に彼女が立っていた。今度は唇を動かし、何かを唱えている。
(Nemurenu yoru ga tsudzuita. Yagate aru ban, kiri ga ichidan to kōku orita. Akari ga kie, tsuki no hikari dake ga morete ita. Mado no soto ni kanojo ga tatte ita. Kondo wa kuchibiru o ugokashi, nanika o tonaete iru.)

「バグス……あなたはあの木の下で約束したのよ……でも私を置いて行った……
(“Bagusu... anata wa ano ki no shita de yakusoku shita no yo... demo watashi o oite itta...”)

その言葉で頭が割れるように痛んだ。見知らぬ記憶が流れ込む。古い時代、ルリクの服を着た男が白い衣の女に誓いを立てていた。再び迎えに来ると――その男の顔は、私と同じだった。
(Sono kotoba de atama ga wareru yō ni itanda. Mishiranu kioku ga nagarekomu. Furui jidai, ruriku no fuku o kita otoko ga shiroi koromo no onna ni chikai o tatete ita. Futatabi mukae ni kuru to— sono otoko no kao wa, watashi to onaji datta.)

気がつくと、彼女が目の前にいた。「逃げられないわ、もう一度終わらせましょう」と囁く。霧の中に古い時代の風景が浮かび、遠くでガムランが鳴っていた。灯の並ぶ道の先に、淡い光の殿堂が見える。
(Kigatsuku to, kanojo ga me no mae ni ita. “Nigerarenai wa, mō ichido owarasemashou” to sasayaku. Kiri no naka ni furui jidai no fūkei ga ukabi, tōku de gamuran ga natte ita. Hi no narabu michi no saki ni, awai hikari no dendō ga mieru.)

「さあ、結婚式を続きを……」彼女が手を差し伸べる。私は震えながら後ずさったが、霧は退路を閉ざした。殿堂の中には、私とそっくりな男が座り、冷たい目でこちらを見ていた。
(“Saa, kekkonshiki o tsudzuki o...” Kanojo ga te o sashinoberu. Watashi wa furuenagara nochizusatta ga, kiri wa tairo o tozashita. Dendō no naka ni wa, watashi to sokkuri na otoko ga suwari, tsumetai me de kochira o mite ita.)

アユは私の手を握った。その手は氷のように冷たかった。「もうすぐよ……これでずっと一緒にいられる」
(Ayu wa watashi no te o nigitta. Sono te wa kōri no yō ni tsumetakatta. “Mō sugu yo... kore de zutto issho ni irareru”)

彼女の悲しげな瞳を見て、私は悟った。彼女は恐ろしい幽霊ではなく、解放を求める魂だった。膝をついて言った。「もし私があの時の男だったなら、どうか許してほしい。もう安らかに眠ってくれ。」
(Kanojo no kanashige na hitomi o mite, watashi wa satotta. Kanojo wa osoroshii yūrei de wa naku, kaihō o motomeru tamashii datta. Hiza o tsuite itta. “Moshi watashi ga ano toki no otoko datta nara, dōka yurushite hoshii. Mō yasuraka ni nemutte kure.”)

霧が渦を巻き、ガムランの音が風の音へと変わった。「ありがとう……やっと帰ってきたのね」という声が消えていった。
(Kiri ga uzu o maki, gamuran no oto ga kaze no oto e to kawatta. “Arigatō... yatto kaette kita no ne” to iu koe ga kiete itta.)

気がつくと夜明けだった。私は家の前に倒れており、窓の外の地面には夜露に濡れた一輪のジャスミンが落ちていた。それ以来、香りは二度と現れなかった。
(Kigatsuku to yoake datta. Watashi wa ie no mae ni taorete ori, mado no soto no jimen ni wa yotsuyu ni nureta ichirin no jasumin ga ochite ita. Soreirai, kaori wa nidoto arawarenakatta.)

テガルサリの家は静けさを取り戻した。しかし霧が山から降りるたび、私は遠くのグアバの畑に白いドレスの女の影を見た。彼女は微笑み、まるで最後の別れを告げるように手を振っていた。
(Tegarusari no ie wa shizukesa o torimodoshita. Shikashi kiri ga yama kara oriru tabi, watashi wa tōku no guaba no hatake ni shiroi doresu no onna no kage o mita. Kanojo wa hohoemi, marude saigo no wakare o tsugeru yō ni te o futte ita.).

Versi Bahasa Inggris.

The Promise in the Guava Grove

On that humid, heavy night in Tegalsari, a thin mist clung between the wild coffee trees behind my rented house. The usual serenade of crickets abruptly ceased, leaving my footsteps unnervingly loud as I stepped into the shadowed yard.

I am Bagus, recently returned from a journey beyond the city. The clock struck eleven; the streetlight faded at the alley’s end, and my solitary home stood at the grove’s fringe. As I lifted the iron gate, a figure emerged beneath the guava tree—a woman with long, flowing hair and a face obscured by shadows.

At first, I thought her a neighbor or a lost soul. But when I softly called, “Miss, are you seeking someone?” she smiled without moving her lips—an unnatural, haunting smile. Suddenly, my body grew heavy; a chilling cold wrapped the air like morning dew.

She stepped forward, her white gown trailing, her complexion pale-green under the moon’s touch. “You have finally come home...” her voice drifted, distant and echoing. I retreated, but my steps froze when distant dog barks shattered the night—dogs unheard in these parts until now.

On nights that followed, strange sounds haunted the house’s rear—footsteps, whispers calling my name in tender tones. Once, a knock at the window startled me; upon drawing back the curtain, I met her vacant, sorrowful gaze.

Seeking answers, I asked the locals. An elderly man at a coffee stall spoke softly: years ago, the body of a young woman was found in the grove behind that house—vanished the eve of her wedding. It was said her spirit lingered, appearing to tenants—searching for one who never returned to claim her.

Since then, recurrent dreams plagued me: wandering the jasmine-scented guava grove, only to find her waiting at the path’s end, extending her hand and whispering, “You promised to come that night…”

I knew not to whom she referred, yet each Tegalsari sunset revived that penetrating gaze from the ever-present mist beyond my yard.

From the first evening, her presence unraveled my peace. As dusk fell, the fog thickened—an ancient shroud from Mount Ungaran’s slopes, a passage believed to carry spirits home.

One dusk, I braved the coffee stall’s old man again. Staring blankly at the grove, he said, “Once Mbak Ayu calls your name, you cannot escape... She is more than a ghost—she is the land’s guardian.”

Her story unfolded: Mbak Ayu, the plantation foreman’s daughter, renowned for beauty beyond compare. Engaged to a wealthy city man, she vanished on her betrothal night along the desolate route between Tegalsari and Bergas market. Days later, her body emerged amid the old guava trees—head bowed, dew-soaked gown, eyes empty skyward. Villagers whispered she was slain by the one she loved; her soul tethered to the guava grove forever.

They warned those living nearby: the night’s call would come—the jasmine’s scent at dusk, then whispers, and finally, the apparition beneath the window. Many fled after nights filled with dreams of a woman in white, her hand extended in longing.

I was nearing that final stage—the visions vivid and undeniable. Wet footprints led me into the grove where she stood, eyes glowing faintly green.

“Will you keep your promise, Bagus?” she breathed.

Her words stabbed my mind—I remembered no promise, yet my heart raced as if bound to her from a former life. They said those who clasped her hand in dreams were led through the fog to a spectral wedding—never to return.

Fear gripped me. Sleep abandoned me, but the nightly fog persisted, wrapping the house, while she waited by the window—waiting for my answer.

That night, the fog thickened beyond belief. My lights flickered out, succumbing to darkness, leaving only pale moonlight that seeped through guava branches. The jasmine’s scent swelled until my chest tightened.

At the window, she appeared again, lips chanting fast, as if casting spells. Stirred by dread and curiosity, I opened the door. As I stepped outside, her voice sharpened:

“Bagus... you promised beneath this tree... but you abandoned me...”

A sharp throb seized my head. Flickers of foreign memories flashed—vivid and haunting: a man in traditional lurik clothing grasping the hand of a white-gowned girl under the guava. A promise made to whisk her from the village. Then darkness, screams, blood soaking the earth. The man’s face—it was mine.

Suddenly, clarity struck. This was no dream. I—or a life once mine—was the last to walk with Mbak Ayu.

She closed the distance. “Think you can run, Mas?” her green eyes bore into mine. “This is unfinished. Your promise remains.”

Rooted to the spot, the grove transformed—youthful trees, sounds of gamelan, incense heavy in the air. Distant torches lined a path to a grand pavilion brimming with pale-faced guests in traditional garb.

Her hand reached out. “Come, let us finish our wedding…”

I trembled, stepping back. Turning to flee, the fog barred my retreat—only one path led forward, to the glowing pavilion. My heart thundered. Within, a wedding chair awaited one who bore my face, eyes filled with hatred.

Behind me, Mbak Ayu whispered, “Perhaps now, we end it rightly...”

In the thickening mist, I stood before the dimly lit pavilion. The gamelan slowed—a dying heartbeat. The doppelganger’s gaze pierced me, as if expecting my arrival to settle debts decades old. Mbak Ayu’s hand gripped mine—cold as stone. “One step more, Mas. After this, no more parting.”

Her face softened—not terror, but sadness, worn from waiting. Understanding dawned—the spirit did not seek to frighten, but to be freed. With trembling hands, I knelt.

“Forgive me... if I once betrayed your life, I will atone. But now, I set you free.”

The fog swirled violently. Gamelan turned to wind’s sigh. Torches extinguished one by one. Her voice faded, “Thank you... you finally came home.”

All vanished in an instant. I awoke on my porch as dawn stretched its light. Near the window lay a single jasmine flower, heavy with dew, and the guava tree’s shadow dripping red sap like blood.

Since that day, jasmine’s scent never returned. Tegalsari’s quiet home found peace once more. Yet when Ungaran’s fog descends, I glimpse her—far in the grove—smiling softly, whispering farewell, and thank you, for the promise was finally kept.

 

 

Retak yang Tak Terucap

Karya: Teguh Santoso  Aku pulang membawa letih dan doa-doa yang kupeluk di dada, namun pintu hatimu terbuka pada sunyi yang tak menyeb...