Senin, 11 Mei 2026

Milikku

Nama    :Wulan Dwi Liestya Ayuningtyas

NIM        : 094231022 

Sejak duduk di bangku kelas satu SMA, aku mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam diriku.

Awalnya hanya perasaan-perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Kadang aku merasa sedang diperhatikan padahal tidak ada siapa-siapa. Kadang bulu kudukku berdiri ketika melewati tempat tertentu. Dan di beberapa malam, aku bisa merasakan kehadiran sesuatu yang tidak terlihat, seolah berdiri sangat dekat di belakangku.

Aku membencinya.

Bahkan sampai sekarang pun, aku masih belum benar-benar bisa menerima kemampuan itu. Namun jauh di dalam hati, aku tahu ini bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Kemampuan itu diwariskan turun-temurun dari leluhur keluargaku—mengalir dalam darahku, menetap di mata batinku bahkan sebelum aku cukup dewasa untuk memahaminya.

Delapan tahun lalu, aku meninggalkan kampung halaman demi mengejar mimpi pergi ke Jepang. Untuk itu, aku harus belajar di sebuah sekolah bahasa Jepang di Sukoharjo, Solo.

Aku datang bersama Mae, teman satu daerah yang ternyata memiliki kemampuan serupa denganku. Bedanya, Mae belum mampu mengendalikan apa yang ia lihat.

Karena asrama sekolah penuh, kami tinggal di sebuah rumah kos berbentuk joglo tua khas Jawa. Bangunannya besar, dengan kayu-kayu tua yang berderit setiap malam diterpa angin. Aku sekamar dengan Mae dan seorang gadis asal Bogor bernama Fira.

Belakangan aku baru sadar—Fira juga bisa melihat mereka.

Malam itu, aku dan Fira sedang duduk di ruang makan sambil mengerjakan tugas. Hanya suara kipas angin dan gesekan pensil yang terdengar di antara kami. Tiba-tiba, dari kamar terdengar suara rintihan pelan.

Aku dan Fira saling berpandangan.

Rintihan itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas.

Kami langsung berlari menuju kamar.

Mae terduduk di sudut ranjang sambil memeluk lututnya sendiri. Air matanya mengalir deras. Wajahnya pucat seperti tidak memiliki darah.

“Wulan… tolong… aku takut…” isaknya gemetar.

Aku terpaku beberapa detik. Selama ini Mae tidak pernah menceritakan apa pun tentang kemampuannya kepadaku. Namun sebelum aku sempat bertanya, tubuhnya tiba-tiba menegang.

Dan detik berikutnya—

teriakannya memecah malam.

Suara itu begitu melengking hingga membuat napasku tercekat.

Fira langsung menggenggam tanganku erat. Kami mencoba membaca doa, mencoba menenangkan Mae, tetapi semuanya di luar kendali kami.

Ada sesuatu yang jauh lebih kuat sedang merasukinya.

Satu per satu penghuni kos berdatangan. Sebagian membaca ayat suci dengan suara bergetar, sebagian lagi hanya berdiri ketakutan di depan pintu kamar.

Suara doa memenuhi rumah joglo itu.

Tubuh Mae melengkung ke belakang seperti busur. Tangannya mencengkeram sprei begitu kuat hingga kukunya hampir robek.

Dan saat itulah aku melihatnya.

Di depan pintu kamar, berdiri sosok hitam besar dengan tubuh menjulang tinggi. Ia diam saja, menatap kami tanpa bergerak sedikit pun.

Dadaku langsung sesak.

“Bajingan…” umpatku dalam hati.

Fira menoleh kepadaku. Ia pasti melihat perubahan di wajahku. Perlahan ia mengusap punggungku sambil berbisik pelan di telingaku.

“Wulan… Astaghfirullāhal-‘aẓīm… nyebut…”

Aku langsung menunduk dan melanjutkan doa.

Tak lama kemudian, Kak Ado—senior dari asrama putra—datang. Setelah beberapa saat membacakan doa, suasana kamar perlahan berubah. Udara yang tadi terasa berat mulai terasa ringan.

Mae akhirnya sadar.

Ia langsung menangis sambil menggenggam tanganku erat-erat.

“Aku nggak mau ke sana lagi, Wulan…” suaranya serak. “Jangan belanja di sana lagi… seram… mereka pakai penglaris…”

Aku tahu tempat yang ia maksud.

Namun Kak Ado segera memberiku isyarat untuk diam.

Malam itu rumah kos kami berubah menjadi tontonan. Anak-anak dari kos lain berdatangan hanya untuk melihat apa yang terjadi. Dan seperti biasa, kabar menyebar lebih cepat daripada angin.

Keesokan harinya, cerita itu sudah sampai ke telinga kepala sekolah.

Belum selesai sampai di situ, Mae kembali kesurupan di dalam kelas. Sekolah langsung gempar. Akhirnya kepala sekolah memutuskan untuk menskors Mae sementara.

Namun Mae sudah terlalu ketakutan.

Ia memilih pulang.

Setelah kepergian Mae, semuanya terasa kembali normal.

Setidaknya, itulah yang kupikirkan.

Beberapa bulan kemudian sekolah kami pindah ke gedung baru yang letaknya jauh dari kos lama. Demi menghemat biaya, aku memilih tinggal di asrama sekolah.

Dan di situlah semuanya dimulai lagi.

Di samping sekolah terdapat lahan kosong dengan beberapa pohon pisang tumbuh liar di sana. Tempat itu biasa dipakai para siswi untuk membakar pembalut bekas.

Aku tidak pernah tahu bahwa tempat itu menyimpan sesuatu.

Malam itu aku baru pulang dari supermarket setelah membeli kebutuhan bulanan. Sendirian.

Saat melewati pagar sekolah, aku melihat sesuatu bergerak cepat di ujung pandanganku.

Putih.

Melintas tepat di samping pagar.

Langkahku langsung terhenti.

Asrama berada di dalam kompleks sekolah. Tidak ada jalan lain selain melewati tempat itu.

Dengan jantung berdebar keras, aku menunduk dan terus berjalan sambil menatap ujung sepatuku sendiri.

Aku tidak mau makhluk itu tahu bahwa aku bisa melihatnya.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Aku berhasil melewatinya tanpa menoleh sedikit pun.

Namun malam itu, ia datang dalam mimpiku.

Aku berdiri di depan pagar sekolah yang sama. Udara terasa dingin dan berat. Waktu seolah berhenti bergerak.

Di dekat rak sepatu depan asrama, berdiri sosok yang terbungkus kain kafan putih dari kepala hingga kaki.

Tetapi wajahnya—

wajah seorang lelaki muda.

Tampan. Tegap. Seperti jawara zaman dulu.

“Wulan…”

Suaranya lembut seperti angin malam.

“Aku Joko.”

Ia tersenyum tipis.

“Baumu harum… Aku ingin kamu jadi milikku.”

Sesaat aku terpaku.

Namun kesadaranku segera menarikku kembali.

Ini bukan manusia.

Ini makhluk yang sedang menyamar.

“Maaf,” kataku tegas. “Aku hanya tertarik pada manusia. Bukan makhluk sepertimu.”

Tatapannya berubah redup.

“Lebih baik kamu pergi.”

Aku membalikkan badan dan berjalan masuk ke asrama.

BRAK!

Suara pintu terbanting keras membuatku terbangun.

Aku langsung duduk sambil terengah.

Jam menunjukkan pukul lima pagi.

Suara sandal mulai terdengar di koridor asrama.

“Cuma mimpi…” gumamku pelan, mencoba menenangkan diri sendiri.

Namun ternyata semuanya belum selesai.

Sejak malam itu, setiap habis maghrib aku merasa takut keluar kamar. Dan hampir setiap malam, ada suara gagang pintu dimainkan perlahan dari luar.

Klik…

Klik…

Klik…

Seperti seseorang yang sedang memastikan apakah pintunya terkunci.

Tempat tidurku paling dekat dengan pintu.

Aku hanya bisa meringkuk di balik selimut sambil pura-pura tidur, mendengarkan suara itu dengan jantung berdegup begitu keras hingga terasa sakit.

Untungnya, lama-kelamaan gangguan itu mulai berkurang.

Hari-hari kembali terasa normal.

Sampai malam interview itu datang.

Perusahaan Jepang akan segera melakukan wawancara, dan para senior diminta membimbing junior setiap malam. Aku ikut mengajar di kelas interview bersama beberapa teman lain.

Saat itu aku sedang memperhatikan seorang junior bernama Ita.

Tatapannya aneh.

Ia terus menatapku tanpa berkedip.

Awalnya aku mengabaikannya.

Namun semakin lama, matanya terasa kosong. Tubuhnya mulai oleng.

Dan tiba-tiba—

BRUK!

Ia jatuh ke lantai.

Di belakang tubuh Ita yang terkulai, aku melihat sosok itu berdiri.

Joko.

Tubuhku langsung terasa berat.

Aku ingin bergerak, tetapi kakiku seperti tertanam di lantai.

Teman-teman mulai membaca doa bersama. Suara ayat suci menggema memenuhi ruangan.

Perlahan rasa berat itu menghilang.

Aku berlutut di samping Ita dan berbisik pelan.

“Lepaskan anak ini. Kalau urusanmu denganku, jangan libatkan orang lain.”

Belum sempat suasana tenang, tiba-tiba terdengar teriakan dari arah taman sekolah.

“Bola api!”

“Ya Allah! Bola api!”

Aku langsung menoleh.

Cahaya merah menyala melayang di antara pepohonan.

Banaspati.

“Astaghfirullāhal-‘aẓīm…” bisikku lirih.

Aku menarik napas panjang lalu berkata tegas kepada semuanya.

“Jangan lihat ke sana! Fokus baca Al-Qur’an! Fokus ke Ita!”

Kami membaca doa bersama-sama.

Satu suara.

Satu niat.

Dan perlahan tubuh Ita mulai bergerak. Napasnya kembali normal. Matanya terbuka pelan dengan tatapan bingung.

“Alhamdulillah…”

Aku langsung meminta teman-temannya mengantar Ita kembali ke kamar.

“Jangan biarkan dia sendirian malam ini.”

Kelas interview dibubarkan lebih cepat.

Kupikir malam itu sudah selesai.

Ternyata belum.

Saat aku hendak tidur, Evi datang menghampiriku dengan wajah pucat.

“Lan… kamu tahu Sila di mana? Dia belum balik ke kamar.”

Aku menggeleng.

Evi menggigit bibir bawahnya gugup.

“Temenin aku kunci gerbang, dong… aku takut sendirian.”

Aku sebenarnya juga ketakutan. Tetapi aku tetap ikut bersamanya.

Lorong sekolah malam itu terasa sunyi sekali.

Lampu-lampu redup memantulkan bayangan panjang di lantai.

Di tengah perjalanan, aku melihat Sila keluar dari kamar mandi dekat ruang guru.

“Itu Sila!” seruku lega.

“Oh syukurlah…” Evi mengembuskan napas panjang. “Aku mau ke toilet dulu sebentar.”

Aku dan Sila menunggu di luar.

Dan saat itulah kami mendengarnya.

Suara tawa perempuan.

Pelan.

Tipis.

Melayang dari lantai atas.

“Mbak?” panggilku sambil mendongak. “Sudah malam… jangan ketawa keras-keras…”

Tidak ada jawaban.

Hanya sunyi.

Lalu tawa itu terdengar lagi.

Kali ini lebih nyaring.

Lebih liar.

Seolah mengelilingi kami dari segala arah.

Dari kiri.

Dari kanan.

Dari atas.

Aku dan Sila saling pandang.

Dan tanpa aba-aba, kami langsung berlari.

Aku masuk ke asrama secepat mungkin. Sementara Sila justru kembali ke kamar mandi menarik Evi keluar.

Aku membanting pintu kamar asrama dan langsung mengajak teman-teman membaca doa bersama.

Beberapa menit kemudian, aku kembali mengetuk pintu kamar mandi.

“Evi! Sila! Cepat keluar!”

Pintu terbuka.

Mereka berdua langsung berlari ke kamar tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkanku sendirian di lorong beberapa detik yang terasa sangat panjang.

Ketika kami semua berkumpul di kamar, barulah kami sadar sesuatu.

Sila duduk diam di pojok ranjang.

Wajahnya pucat.

Matanya kosong.

Dan celananya basah.

Tidak ada yang menertawakannya.

Kami hanya duduk di dekatnya sambil mengusap punggungnya pelan.

Malam itu kami tidur dengan lampu menyala dan pintu terkunci rapat.

Namun jauh di dalam hati, aku tahu—

Joko belum benar-benar pergi.

Beberapa minggu setelah kejadian itu, gangguan kecil masih terus muncul. Bayangan di sudut mata. Perasaan diikuti di koridor. Tidur yang tidak pernah benar-benar nyenyak.

Sampai akhirnya program selesai dan aku pulang kampung.

Ibuku langsung sadar ada yang berbeda dariku.

“Kamu kenapa, Nduk?”

Aku tidak menjawab.

Namun malam itu aku menangis tanpa alasan yang jelas.

Atas saran keluarga, aku dibawa menemui seorang ustaz yang biasa melakukan ruqyah.

Beliau menanganinya dengan tenang. Tidak keras. Tidak menakutkan.

Saat ayat-ayat mulai dibacakan, dadaku terasa sesak luar biasa.

Seolah ada sesuatu di dalam tubuhku yang menolak pergi.

Ustaz itu membuka mata perlahan lalu berkata pelan,

“Ada yang ikut kamu dari jauh.”

Aku hanya diam.

“Dia bilang kamu harum.”

Tubuhku langsung menegang.

“Kamu lahir Sabtu Legi?”

Aku menatap beliau kaget.

“Iya…”

Beliau mengangguk kecil.

“Tulang wangi,” katanya pelan. “Makhluk seperti mereka bisa mencium keberadaanmu dari jauh. Seperti bunga di tengah padang.”

Saat itulah semuanya mulai jelas.

Joko bukan sekadar makhluk yang lewat begitu saja.

Ia sudah lama tinggal di area pohon pisang itu. Dan ketika aku membakar pembalut di dekat tempatnya berdiam, keberadaanku seperti cahaya yang menarik perhatiannya.

Ia langsung memilihku.

“Kamu tidak salah,” kata ustaz itu lembut. “Tapi kamu harus lebih hati-hati. Tidak semua orang membawa hal seperti yang kamu miliki.”

Ruqyah berlangsung lama.

Dan di satu titik, aku merasa seperti ada kabut tebal yang perlahan terangkat dari dadaku.

Lega.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa bernapas dengan tenang.

Namun ustaz itu tidak mengatakan bahwa kemampuanku akan hilang.

Karena beliau tahu—

itu bukan penyakit.

Itu warisan.

Sesuatu yang mengalir dari leluhurku, turun ke darahku, tinggal di mata batinku jauh sebelum aku mengerti apa artinya.

“Ini titipan,” kata beliau. “Bukan kutukan.”

Yang beliau lakukan hanyalah membantu meredamnya sedikit. Seperti lampu yang terlalu terang lalu diredupkan.

Cahayanya tetap ada.

Tetapi tidak lagi menyilaukan.

Setelah hari itu, aku mulai bisa tidur nyenyak kembali.

Joko sudah pergi.

Dan untuk pertama kalinya, aku berhenti lari dari diriku sendiri.

Kemampuan itu masih ada, dan mungkin akan selalu ada.

Namun kini aku tidak lagi membencinya.

Ia adalah bagian dari diriku.

Seperti nama yang diwariskan leluhur.

Seperti darah yang mengalir tanpa pernah kuminta.

Dan dengan semua itu, akhirnya aku berangkat ke Jepang.

 

Versi Bahasa Jepang 

俺のもの

高校一年生の頃、私は自分の中に何か普通ではないものがあることに気づき始めた。

最初は、うまく説明できない違和感だった。
誰もいないはずなのに視線を感じたり、特定の場所を通ると急に鳥肌が立ったりする。そして夜になると、目には見えない“何か”がすぐそばに立っているような気配を感じることがあった。

私はその力が嫌だった。

今でも完全に受け入れられているわけじゃない。
でも心の奥では分かっている。これは突然手に入ったものじゃない。

この力は、先祖代々受け継がれてきたものだった。
私がまだ物心つく前から、血の中に流れ、心の奥に静かに宿っていたもの。

八年前、私は日本へ行くという夢を叶えるため、ソロ近郊のスコハルジョにある日本語学校へ通い始めた。

一緒に来たのは、同じ地元出身のマエだった。
彼女にも私と似た力があった。でも、まだその力をうまく扱えずにいた。

学校の寮は満室だったため、私たちはジャワの伝統家屋であるジョグロ造りの下宿で暮らすことになった。古い木造の家で、夜になると風に揺れた柱が軋む音を立てる。

そこで私たちは、ボゴール出身のフィラという女の子と同室になった。

しばらくしてから気づいた。
フィラにも、“見える”力があることを。

ある夜、私はフィラと食堂で宿題をしていた。
静かな空間に響くのは、扇風機の音と鉛筆の走る音だけだった。

その時だった。

部屋の方から、小さなうめき声が聞こえた。

私はフィラと顔を見合わせた。

もう一度、声が聞こえる。

今度はもっとはっきりと。

私たちは慌てて部屋へ駆け込んだ。

マエはベッドの隅で膝を抱え、震えながら泣いていた。顔は血の気がなく、涙で濡れていた。

「ウラン……助けて……怖い……」

私は数秒、言葉を失った。
マエは今まで、自分の力について何も話してくれなかったからだ。

だが次の瞬間、彼女の体が突然硬直した。

そして――

悲鳴が夜を切り裂いた。

耳をつんざくような叫び声だった。

フィラがすぐに私の手を握った。
私たちは祈りを唱え、マエを落ち着かせようとした。けれど、もう私たちだけではどうにもならなかった。

彼女に取り憑いているものは、あまりにも強かった。

下宿の住人たちが次々に集まってきた。
震える声で聖句を唱える者もいれば、恐怖で部屋の外から見ているだけの者もいた。

祈りの声が、古いジョグロの家を満たしていく。

マエの身体は弓のように反り返り、今にも宙に浮きそうだった。

そしてその時、私は見た。

部屋の入り口に、巨大な黒い影が立っていた。

動かないまま、じっとこちらを見ている。

胸が締めつけられるように苦しくなった。

――くそったれ。

心の中でそう吐き捨てた。

フィラは私の顔色の変化に気づいたらしい。
そっと背中を撫でながら、耳元で囁いた。

「ウラン……アスタグフィルッラーハル・アジーム……唱えて」

私は小さく頷き、再び祈りを続けた。

しばらくして、男子寮の先輩であるアド先輩が駆けつけてきた。
彼が祈りを唱え始めると、重く淀んでいた空気が少しずつ軽くなっていった。

やがてマエは意識を取り戻した。

彼女は泣きながら、私の手を強く握った。

「あそこ、もう行きたくない……ウラン……。あの店、もう行かないで……怖い……あそこ、ペンガラリ使ってる……」

私は彼女がどの店のことを言っているのか分かっていた。

だがアド先輩は、黙っていろというように私へ目配せした。

その夜、私たちは完全に下宿中の注目の的になっていた。
別の下宿からも生徒たちが集まり、騒ぎを見に来ていた。

噂はあっという間に学校中へ広がった。

翌日、マエは教室で再び取り憑かれた。

学校中が大騒ぎになり、校長は彼女をしばらく自宅待機にした。

でも、マエはもう限界だった。

彼女はそのまま故郷へ帰ってしまった。

マエが去ったあと、しばらくは平穏な日々が続いた。

少なくとも、私はそう思っていた。

数か月後、学校は新しい校舎へ移転した。
古い下宿からは遠くなったため、私は生活費を節約するために学校の寮へ入ることにした。

そして――

すべては、そこで再び始まった。

学校の隣には空き地があり、そこには何本ものバナナの木が生えていた。女子生徒たちは、その場所で使用済みの生理用品を燃やしていた。

まさか、その場所が災いの始まりになるとは思ってもいなかった。

その夜、私はスーパーで買い物を終え、一人で寮へ戻っていた。

学校の門を通りかかった時だった。

視界の端に、白い影が横切った。

足が止まった。

寮へ戻るには、その門を通るしかない。

心臓が激しく脈打つ。

私は顔を伏せ、自分の靴の先だけを見つめながら歩いた。

あれに、“見えている”ことを知られてはいけない。

一歩。

二歩。

三歩。

私は振り返ることなく、その場を通り過ぎた。

だがその夜、そいつは夢に現れた。

気づくと私は、あの門の前に立っていた。

空気は重く、時間が止まったようだった。

寮の靴箱のそばに、それは立っていた。

頭から足先まで白い布に包まれている。

だが、その顔だけは――

若い男の顔だった。

整った顔立ち。
堂々とした姿。

昔の時代なら、英雄と呼ばれていたような男。

「ウラン……」

夜風のように静かな声だった。

「俺はジョコだ」

男はゆっくり笑った。

「お前、いい匂いがするな……。俺のものになれ」

一瞬、私はその顔に見入ってしまいそうになった。

だが次の瞬間、理性が私を引き戻した。

これは人間じゃない。

美しい顔を被っただけの化け物だ。

「断る」

私ははっきりと言った。

「私は人間にしか興味ない。お前みたいなのは無理。消えて」

私は背を向け、寮へ入った。

――バン!!

激しい音に飛び起きた。

時計は朝五時を指していた。

廊下では、他の女子生徒たちのサンダルの音が聞こえ始めている。

「……夢か」

私は深く息を吐いた。

だが、それで終わりじゃなかった。

それ以来、マグリブの祈りが終わる頃になると、私は外へ出るのが怖くなった。

そして夜になると、誰かが部屋のドアノブをゆっくり回す音が聞こえる。

カチャ……

カチャ……

カチャ……

鍵が閉まっているか確かめるように、何度も。

私のベッドはドアのすぐ近くだった。

私は毛布にくるまり、眠ったふりをしながら、その音を聞いていた。

心臓が壊れそうなくらい鳴っていた。

それでも、不思議と時間が経つにつれ、怪異は少しずつ静まっていった。

そして面接指導の日がやってきた。

日本企業の面接が近づき、私たち上級生は後輩たちの指導を任されていた。

その夜、私はイタという後輩の様子がおかしいことに気づいた。

彼女は何度も私を睨むように見ていた。

最初は気にしなかった。

だが、徐々にその目が虚ろになっていく。

次の瞬間――

ドサッ。

イタが床へ倒れた。

その背後に、私は見た。

ジョコだった。

全身が重くなる。

足が動かない。

仲間たちはすぐに聖句を唱え始めた。

祈りの声が教室に響く。

少しずつ、体の重さが消えていった。

私はイタのそばに膝をつき、低い声で囁いた。

「この子を離せ。用があるなら私だけにしろ。関係ない人を巻き込むな」

その瞬間、庭の方から悲鳴が上がった。

「火の玉だ!」

「火の玉が飛んでる!」

私は反射的に振り向いた。

赤い光が、木々の間を漂っている。

――バナスパティ。

「アスタグフィルッラーハル・アジーム……」

私は息を整え、皆に叫んだ。

「そっちを見るな! クルアーンを読んで! イタに集中して!」

みんなで声を合わせて祈りを唱えた。

一つの声。

一つの願い。

やがてイタの体が小さく動いた。

目が開く。

戸惑ったような表情だったが、意識は戻っていた。

「アルハムドゥリッラー……」

私はすぐに彼女を部屋へ連れていくよう頼んだ。

「今夜は絶対に一人にしないで」

その夜、面接クラスは早めに解散になった。

でも、恐怖はまだ終わっていなかった。

Ore no Mono

Kōkō ichinensei no koro, watashi wa jibun no naka ni nanika futsū de wa nai mono ga aru koto ni kizuki hajimeta.

Saisho wa, umaku setsumei dekinai iwakan datta.
Dare mo inai hazu na no ni shisen o kanjitari, tokutei no basho o tōru to kyū ni torihada ga tattari suru. Soshite yoru ni naru to, me ni wa mienai “nanika” ga sugu soba ni tatte iru yō na kehai o kanjiru koto ga atta.

Watashi wa sono chikara ga iyadatta.

Ima demo kanzen ni ukeire rarete iru wake janai.
Demo kokoro no oku de wa wakatte iru. Kore wa totsuzen te ni haitta mono janai.

Kono chikara wa, sosen daidai uketsugarete kita mono datta.
Watashi ga mada monogokoro tsuku mae kara, chi no naka ni nagare, kokoro no oku ni shizuka ni yadoritte ita mono.

Hachi-nen mae, watashi wa Nihon e iku to iu yume o kanaeru tame, Soro kinkō no Sukoharjo ni aru Nihongo gakkō e kayoi hajimeta.

Issho ni kita no wa, onaji jimoto shusshin no Mae datta.
Kanojo ni mo watashi to nita chikara ga atta. Demo, mada sono chikara o umaku atsukaezu ni ita.

Gakkō no ryō wa manshitsu datta tame, watashitachi wa Jawa no dentō kagoku de aru Joguro-zukuri no geshuku de kurasu koto ni natta. Furui mokuzō no ie de, yoru ni naru to kaze ni yureta hashira ga kishimu oto o tateru.

Soko de watashitachi wa, Bogōru shusshin no Fira to iu onna no ko to dōshitsu ni natta.

Shibaraku shite kara kizuita.
Fira ni mo, “mieru” chikara ga aru koto ni.

Aru yoru, watashi wa Fira to shokudō de shukudai o shite ita.
Shizuka na kūkan ni hibiku no wa, senpūki no oto to enpitsu no hashiru oto dake datta.

Sono toki datta.

Heya no hō kara, chiisana umeki-goe ga kikoeta.

Watashi wa Fira to kao o miawaseta.

Mō ichido, koe ga kikoeru.

Kondo wa motto hakkiri to.

Watashitachi wa awatete heya e kakekonda.

Mae wa beddo no sumi de hiza o kakae, furuenagara naite ita. Kao wa chinoke ga naku, namida de nurete ita.

“Wuran…… tasukete…… kowai……”

Watashi wa sūbyō, kotoba o ushinatta.
Mae wa ima made, jibun no chikara ni tsuite nani mo hanashite kurenakatta kara da.

Da ga tsugi no shunkan, kanojo no karada ga totsuzen kōchoku shita.

Soshite――

Himei ga yoru o kirisaita.

Mimi o tsunzaku yō na sakebigoe datta.

Fira ga sugu ni watashi no te o nigitta.
Watashitachi wa inori o tonae, Mae o ochitsukaseyō to shita. Keredo, mō watashitachi dake de wa dōnimo naranakatta.

Kanojo ni toritsuite iru mono wa, amarini mo tsuyokatta.

Geshuku no jūnin-tachi ga tsugitsugi to atsumatte kita.
Furueru koe de seiku o tonaeru mono mo ireba, kyōfu de heya no soto kara mite iru dake no mono mo ita.

Inori no koe ga, furui Joguro no ie o mitashite iku.

Mae no karada wa yumi no yō ni sorikaeri, ima ni mo chū ni uki-sō datta.

Soshite sono toki, watashi wa mita.

Heya no iriguchi ni, kyodai na kuroi kage ga tatte ita.

Ugokanai mama, jitto kochira o mite iru.

Mune ga shimetsukerareru yō ni kurushiku natta.

――Kusottare.

Kokoro no naka de sō hakisuteta.

Fira wa watashi no kaoiro no henka ni kizuita rashii.
Sotto senaka o nadenagara, mimimoto de sasayaita.

“Wuran…… Asutagufirullāharu Ajīmu…… tonaete”

Watashi wa chiisaku unazuki, futatabi inori o tsudzuketa.

Shibaraku shite, danshi-ryō no senpai de aru Ado-senpai ga kaketsukete kita.
Kare ga inori o tonae hajimeru to, omoku yodonde ita kūki ga sukoshi zutsu karuku natte itta.

Yagate Mae wa ishiki o torimodoshita.

Kanojo wa nakinagara, watashi no te o tsuyoku nigitta.

“Asoko, mō ikitakunai…… Wuran…… ano mise, mō ikanai de…… kowai…… asoko, pengarari tsukatteru……”

Watashi wa kanojo ga dono mise no koto o itte iru no ka wakatte ita.

Da ga Ado-senpai wa, damatte iro to iu yō ni watashi e mekuwase shita.

Sono yoru, watashitachi wa kanzen ni geshuku-jū no chūmoku no mato ni natte ita.
Betsu no geshuku kara mo seito-tachi ga atsumari, sawagi o mi ni kite ita.

Uwasa wa atto iu ma ni gakkō-jū e hirogatta.

Yokujitsu, Mae wa kyōshitsu de futatabi toritsukareta.

Gakkō-jū ga ōsawagi ni nari, kōchō wa kanojo o shibaraku jitaku taiki ni shita.

Demo, Mae wa mō genkai datta.

Kanojo wa sono mama kokyō e kaette shimatta.

Mae ga satta ato, shibaraku wa heion na hibi ga tsudzuita.

Sukunakutomo, watashi wa sō omotte ita.

Sū-kagetsu go, gakkō wa atarashii kōsha e iten shita.
Furui geshuku kara wa tōku natta tame, watashi wa seikatsuhi o setsuyaku suru tame ni gakkō no ryō e hairu koto ni shita.

Soshite――

Subete wa, soko de futatabi hajimatta.

Gakkō no tonari ni wa akichi ga ari, soko ni wa nanbon mo no banana no ki ga haete ita. Joshi seito-tachi wa, sono basho de shiyō-zumi no seiri yōhin o moyashite ita.

Masaka, sono basho ga wazawai no hajimari ni naru to wa omotte mo inakatta.

Sono yoru, watashi wa sūpā de kaimono o oen, hitori de ryō e modotte ita.

Gakkō no mon o tōrikakatta toki datta.

Shikai no hashi ni, shiroi kage ga yokogitta.

Ashi ga tomatta.

Ryō e modoru ni wa, sono mon o tōru shika nai.

Shinzō ga hageshiku myakuutsu.

Watashi wa kao o fuse, jibun no kutsu no saki dake o mitsumenagara aruita.

Are ni, “miete iru” koto o shirarete wa ikenai.

Ippo.

Niho.

Sanpo.

Watashi wa furikaeru koto naku, sono ba o tōrisugita.

Da ga sono yoru, soitsu wa yume ni arawareta.

Kizuku to watashi wa, ano mon no mae ni tatte ita.

Kūki wa omoku, jikan ga tomatta yō datta.

Ryō no getabako no soba ni, sore wa tatte ita.

Atama kara ashisaki made shiroi nuno ni tsutsumarete iru.

Da ga, sono kao dake wa――

Wakai otoko no kao datta.

Totonotta kaodachi.
Dōdō to shita sugata.

Mukashi no jidai nara, eiyū to yobarete ita yō na otoko.

“Wuran……”

Yokaze no yō ni shizuka na koe datta.

“Ore wa Joko da”

Otoko wa yukkuri waratta.

“Omae, ii nioi ga suru na…… ore no mono ni nare”

Isshun, watashi wa sono kao ni miitte shimai sō ni natta.

Da ga tsugi no shunkan, risei ga watashi o hikimodoshita.

Kore wa ningen janai.

Utsukushii kao o kabutta dake no bakemono da.

“Kotowaru”

Watashi wa hakkiri to itta.

“Watashi wa ningen ni shika kyōmi nai. Omae mitai na no wa muri. Kiete”

Watashi wa se o muke, ryō e haitta.

――Ban!!

Hageshii oto ni tobiokita.

Tokei wa gozen go-ji o sashite ita.

Rōka de wa, hoka no joshi seito-tachi no sandaru no oto ga kikoehajimete iru.

“……Yume ka”

Watashi wa fukaku iki o haita.

 

Versi Bahasa Inggris 

Mine

Back then, I was only a first-year high school student when I first realized that something inside me was different.

At first, it was only a strange feeling I could never explain.
I would sense someone watching me even when no one was there. Certain places made my skin crawl the moment I passed them. And at night, I often felt as though something invisible was standing quietly beside me.

I hated that ability.

Even now, I still cannot fully accept it.
But deep inside, I know the truth. This was not something I suddenly obtained one day.

It was inherited.

The ability had flowed through my bloodline for generations, long before I was old enough to understand it. It had always existed quietly inside me, buried deep within my soul.

Eight years ago, I took my first step toward my dream of going to Japan. To make that dream come true, I enrolled in a Japanese language school in Sukoharjo, near Solo.

I went there together with Mae, a friend from my hometown.
She possessed an ability similar to mine, although she still could not control it.

Because the school dormitory was already full, we ended up renting a traditional Javanese joglo house. It was an old wooden building whose pillars creaked softly whenever the night wind blew through it.

There, we shared a room with a girl from Bogor named Fira.

Not long after, we realized something unsettling.

Fira could see them too.

One night, Fira and I were studying together in the dining room.
The only sounds filling the silence were the spinning fan and the scratching of our pencils.

Then suddenly—

A faint moan came from our bedroom.

Fira and I exchanged glances.

We heard it again.

This time, louder.

We rushed toward the room.

Mae was curled up in the corner of the bed, trembling violently. Tears streamed down her pale face.

“Wulan… help me… I’m scared…”

For a moment, I could not speak.
Mae had never told me anything about her ability before.

But before I could ask anything, her body suddenly stiffened.

Then—

A scream tore through the night.

It was so sharp it felt as if it split the darkness apart.

Fira immediately grabbed my hand.
We recited prayers, trying desperately to calm Mae down. But it was useless.

Whatever had possessed her was far stronger than us.

People from the boarding house began gathering one after another. Some recited holy verses with trembling voices, while others stood frozen outside the room, too terrified to come closer.

The sound of prayers filled the old joglo house.

Mae’s body arched backward like a bow, as if she might levitate at any moment.

And then I saw it.

A massive black figure stood motionless by the doorway.

Watching us.

My chest tightened painfully.

Damn you.

I cursed silently in my heart.

Fira noticed the change in my expression. She gently rubbed my back and whispered into my ear.

“Wulan… Astaghfirullahal-‘Azhim… keep reciting…”

I nodded weakly and continued praying.

Not long after, Kak Ado, a senior from the boys’ dormitory, arrived.
As soon as he began reciting prayers, the suffocating heaviness in the room slowly started to fade.

Eventually, Mae regained consciousness.

She clung tightly to my hand while crying.

“I don’t want to go there anymore, Wulan… Don’t ever shop there again… It’s terrifying… They use black magic…”

I knew exactly which place she meant.

But Kak Ado immediately signaled me to stay silent.

That night, we became the center of attention for the entire boarding house. Even students from nearby lodgings came to watch the commotion.

Rumors spread through the school by the next morning.

Then it happened again.

Mae was possessed inside the classroom.

The entire school panicked, and eventually the principal suspended her temporarily.

But Mae had already reached her limit.

She chose to return home.

After Mae left, things became peaceful again.

Or at least, that was what I believed.

A few months later, the school moved to a new building located far from our old lodging. To save money, I moved into the school dormitory.

And that was where everything began again.

Beside the school stood an empty field filled with banana trees. The female students often burned used sanitary pads there.

I never imagined that place would become the beginning of my nightmare.

That night, I had just returned from shopping alone at the supermarket.

As I walked past the school gate, something white flashed across the corner of my vision.

I froze.

There was no other path back to the dormitory except through that gate.

My heartbeat thundered in my ears.

I lowered my head and stared only at the tips of my shoes while walking.

I could not let it realize that I could see it.

One step.

Two steps.

Three.

Without turning around, I walked past it.

But that night, it appeared in my dream.

I found myself standing in front of the same gate.

The air felt unbearably heavy, as if time itself had stopped moving.

Near the dormitory shoe rack stood a figure wrapped entirely in white burial cloth.

But its face—

Its face looked human.

Young. Handsome. Noble.

Like a warrior from another era.

“Wulan…”

Its voice was soft like the night wind.

“My name is Joko.”

The figure smiled slowly.

“You smell beautiful… Become mine.”

For a brief second, I almost found myself captivated by his face.

But reality pulled me back.

This was not human.

It was a monster hiding behind beauty.

“No.”

I answered firmly.

“I’m only interested in humans. Not something like you. Leave.”

I turned my back and walked into the dormitory.

BANG!!

I jolted awake.

The clock showed five in the morning.

Outside, I could already hear the sound of sandals dragging along the hallway as other girls woke up.

“…Just a dream.”

I exhaled deeply.

But it did not end there.

Ever since that night, fear returned every evening after maghrib prayer.

And at night—

Someone would slowly play with my doorknob.

Click…

Click…

Click…

As if checking whether the door was locked.

My bed was closest to the door.

I hid beneath my blanket, pretending to sleep while my heart pounded violently every time the sound returned.

Still, little by little, the disturbances began to lessen.

Until interview preparation season arrived.

The senior students, including me, were assigned to guide the juniors for Japanese company interviews. Every evening, we held training sessions about self-introduction, answering interview questions, and proper posture.

That night, I noticed something strange about one of the juniors named Ita.

She kept staring at me.

At first, I ignored it.

But gradually, her gaze became emptier… colder.

Then suddenly—

THUD.

Ita collapsed onto the floor.

And behind her—

I saw him.

Joko.

My entire body became heavy.

I could not move.

The others immediately began reciting holy verses around us.

Their voices echoed throughout the room.

Slowly, the pressure crushing my body faded away.

I knelt beside Ita and whispered quietly.

“Leave her alone. If you want something, deal with me. Don’t drag innocent people into this.”

Suddenly, screams erupted from outside.

“Fireball!”

“There’s a fireball!”

I turned instinctively.

A glowing red light floated between the trees.

Banaspati.

“Astaghfirullahal-‘Azhim…”

I steadied my breathing and shouted at everyone.

“Don’t look at it! Keep reciting the Qur’an! Focus on Ita!”

Everyone prayed together.

One voice.

One intention.

Gradually, Ita began moving again.

Her eyes opened slowly.

Confused, but alive.

“Alhamdulillah…”

I immediately asked the others to escort her back to her room.

“Don’t leave her alone tonight.”

That night, the interview class ended early.

But the terror was far from over.

Kenangan yang Tertinggal

NAMA : YUNI ARINDA
NIM     : 094241048

Rumah itu kini terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Tidak ada lagi suara lembut yang menyambut setiap kali aku datang, tidak ada lagi panggilan hangat dari dalam rumah yang membuat langkahku terasa pulang. Kursi kayu di sudut ruang tamu yang dulu selalu ditempati, kini kosong dan berdebu. Bahkan aroma kopi hitam yang biasanya menguar setiap pagi dan sore seolah ikut menghilang bersama kepergiannya.

Sejak nenekku, Toimah—yang kami panggil penuh kasih sebagai Hamiot—meninggal dunia, semuanya berubah. Kehilangan itu bukan hanya tentang tiadanya seseorang di rumah kami, melainkan hilangnya bagian penting dalam hidupku. Ada ruang di hati yang tak pernah benar-benar bisa terisi lagi.

Hamiot adalah nenek dari pihak ibu. Sosoknya sederhana, tetapi kasih sayangnya begitu besar. Ia mencintai anak-anak dan cucu-cucunya dengan cara yang tenang, tanpa banyak kata, namun selalu terasa hangat. Aku adalah cucu pertamanya, dan mungkin karena itu, aku menerima begitu banyak perhatian darinya.

“Cucu kesayangan Hamiot,” begitu katanya setiap kali memanggilku.

Dulu, aku menganggap panggilan itu biasa saja. Aku tidak pernah benar-benar memikirkannya. Namun sekarang, setelah ia tiada, kata-kata sederhana itu justru menjadi sesuatu yang paling kurindukan. Kadang, aku berharap bisa mendengarnya sekali lagi, walau hanya sebentar.

Di balik sifatnya yang lembut, Hamiot juga keras kepala—terutama dalam hal-hal yang ia sukai. Salah satunya kopi hitam. Setiap pagi dan sore, ia selalu menyeduh kopi hitam kesayangannya. Padahal dokter sudah berkali-kali melarang karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan. Namun Hamiot selalu tertawa kecil setiap kali diingatkan.

“Hidup tanpa kopi itu bukan hidup,” katanya suatu kali sambil tersenyum.

Dan seperti biasa, kami semua menyerah menghadapi keras kepalanya.

Kini, setiap kali mencium aroma kopi hitam, ingatanku selalu kembali padanya. Pada perempuan tua yang menjalani hidup dengan caranya sendiri—jujur, sederhana, dan apa adanya.

Hamiot juga dikenal sebagai sosok yang pandai memasak. Masakannya memiliki rasa khas yang sulit dijelaskan, tetapi selalu berhasil membuat siapa pun ingin menambah nasi. Dulu, ia memiliki warung nasi pecel di pasar. Banyak orang datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga karena mereka menyukai masakannya.

Bahkan, dalam berbagai hajatan tetangga, Hamiot sering diminta menjadi juru masak. Dari dapurnya yang sederhana, lahir hidangan-hidangan penuh rasa dan kehangatan. Bagiku, dapur itu bukan sekadar tempat memasak. Di sanalah tawa, cerita, dan kebersamaan keluarga tumbuh.

Ada begitu banyak kenangan bersamanya hingga sulit memilih mana yang paling berkesan. Namun, satu kebiasaan sederhana selalu melekat kuat dalam ingatanku.

Sepulang sekolah, aku hampir selalu pergi ke rumahnya. Orang tuaku sibuk bekerja, dan rumah kami memang berdekatan. Aku tahu, akan ada seseorang yang menungguku di sana.

Dan benar saja.

Hamiot selalu duduk menunggu kepulanganku.

Kadang ia sudah menyiapkan makanan di meja, kadang masih sibuk di dapur sambil bertanya bagaimana hariku di sekolah. Setelah itu, kami makan siang bersama. Dulu, semua itu terasa biasa saja. Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari nanti, momen-momen sederhana itu justru akan menjadi kenangan paling berharga dalam hidupku.

Waktu terus berjalan, dan kesehatan Hamiot perlahan menurun.

Selama kurang lebih sepuluh tahun, ia berjuang melawan diabetes yang kemudian disertai komplikasi jantung. Dalam tiga tahun terakhir sebelum kepergiannya, ia harus rutin pergi ke rumah sakit setiap bulan untuk menjalani pemeriksaan.

Tubuhnya memang semakin melemah, tetapi semangatnya tidak pernah benar-benar hilang.

Ia tetap berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa.

Saat itu aku masih duduk di bangku SMA. Aku belum cukup dewasa untuk memahami betapa berat perjuangannya. Aku juga belum mampu melakukan banyak hal untuk membantunya. Kini, ketika mengingat masa itu, ada rasa sesal yang diam-diam tumbuh di dalam hati.

Semua terjadi begitu cepat.

Tiga hari sebelum meninggal dunia, kondisi Hamiot tiba-tiba menurun drastis. Ia segera dilarikan ke rumah sakit dan dirawat di ruang ICU. Tidak ada seorang pun yang menyangka semuanya akan terjadi secepat itu.

Padahal, di hari yang sama sebelumnya, kami masih sempat berkumpul bersama. Sepupuku baru saja datang dari luar kota, dan rumah terasa ramai oleh suara tawa. Hamiot tampak bahagia melihat anak dan cucunya berkumpul.

Tak ada yang tahu bahwa kebersamaan itu akan menjadi kenangan terakhir kami bersamanya.

Tanggal 8 Agustus 2020 menjadi hari yang tidak akan pernah bisa kulupakan.

Saat itu aku sedang berada di rumah, sibuk mempersiapkan keberangkatanku ke Jepang. Aku masih mengurus banyak hal ketika kabar itu datang.

Hamiot telah pergi.

Dunia seolah berhenti sesaat.

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan saat itu. Dadaku terasa sesak, pikiranku kosong, dan rumah yang biasanya terasa hangat tiba-tiba menjadi sangat asing. Kesedihan itu begitu dalam hingga kata-kata terasa tidak cukup untuk menggambarkannya.

Bahkan sampai sekarang, setiap kali mengingat hari itu, rasa sakitnya masih tetap sama.

Ada kehilangan yang ternyata tidak pernah benar-benar sembuh.

Namun di antara semua kesedihan itu, ada satu hal yang paling sering menghantuiku: penyesalan.

Aku merasa belum sempat membahagiakannya.

Hamiot selalu berbicara tentang masa depanku dengan penuh semangat. Ia sering membayangkan aku lulus sekolah, lulus kuliah, menikah, bahkan memiliki anak.

“Nanti kalau sudah sukses jangan lupa Hamiot,” katanya sambil tertawa kecil.

Saat itu aku hanya tersenyum tanpa benar-benar memahami makna di balik ucapannya.

Dan sekarang, ketika sebagian mimpi itu perlahan mulai terwujud, ia justru sudah tidak ada lagi untuk melihatnya.

Sejak kepergiannya, banyak hal berubah dalam keluargaku.

Lebaran tidak lagi terasa sama. Rumah yang dulu menjadi tempat berkumpul kini lebih sering kosong. Tidak ada lagi sosok yang menyatukan kami seperti dahulu. Setelah kakek juga menyusul pergi, suasana hangat itu semakin perlahan menghilang.

Kami jarang berkumpul seperti dulu.

Dan aku mulai memahami bahwa ternyata sebuah keluarga sering kali bertahan karena adanya satu sosok yang diam-diam menjaga semuanya tetap utuh.

Ada banyak hal yang kurindukan dari Hamiot.

Masakannya.

Suaranya.

Kebiasaannya menyeduh kopi.

Caranya menyambutku pulang.

Dan makan siang sederhana bersama yang dulu terasa biasa saja.

Kadang aku membayangkan, bagaimana jika aku diberi kesempatan berbicara dengannya sekali lagi.

Aku ingin mengatakan bahwa sekarang aku benar-benar sudah berada di Jepang, seperti yang dulu sering kami bicarakan. Aku ingin ia tahu bahwa impianku perlahan mulai terwujud—dan semua itu tidak lepas dari doa-doanya.

Aku ingin mengajaknya berjalan-jalan melihat dunia yang lebih luas. Aku ingin membelikannya makanan enak, membawanya naik pesawat, dan membuatnya menikmati hidup tanpa harus lelah bekerja lagi.

Aku ingin membalas semua kebaikannya.

Namun waktu tidak pernah bisa diputar kembali.

Kini, yang tersisa hanyalah kenangan.

Tetapi dari kenangan itulah aku belajar banyak hal tentang hidup.

Dari Hamiot, aku belajar tentang kasih sayang yang tulus, tentang kesederhanaan, tentang keteguhan menjalani hidup meski tubuh perlahan melemah. Ia adalah perempuan kuat yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarganya, bahkan ketika dirinya sendiri sedang kesakitan.

Dan meskipun kini ia telah tiada, aku percaya satu hal:

dalam setiap langkah yang kuambil hari ini, masih ada doa-doanya yang diam-diam berjalan bersamaku.

Versi Bahasa Jepang

残された思い出

あの家は、今では以前よりずっと静かになってしまった。
帰っても、「おかえり」と迎えてくれる声はもう聞こえない。居間の隅に置かれた木の椅子も、今は誰も座ることなく、ただ静かにそこにあるだけだ。毎朝と夕方に漂っていたブラックコーヒーの香りさえ、祖母と一緒に消えてしまったように感じる。

祖母――トイマ。
私たちは愛情を込めて「ハミオット」と呼んでいた。

祖母がいなくなってから、すべてが変わってしまった。
それは単に「家族を失った」ということではない。私の人生の大切な一部が、ぽっかりと欠けてしまったような感覚だった。

ハミオットは母方の祖母だった。派手な人ではなかったが、とても優しく、家族への愛情にあふれていた。特に子どもや孫たちを本当に大切にしてくれていた。

私は祖母にとって最初の孫だった。だからなのか、たくさんの愛情を注いでもらった。

「ハミオットの一番大好きな孫だよ。」

祖母はよくそう言って笑っていた。

当時は、その言葉を特別だと思ったことはなかった。ただのいつもの言葉だと思っていた。でも今になって、その何気ない言葉こそが、一番恋しいものになっている。

優しい祖母だったが、少し頑固な一面もあった。特にブラックコーヒーに関してはそうだった。

毎朝と夕方、祖母は必ずブラックコーヒーを淹れていた。医者からは何度も止められていた。糖尿病や心臓の病気があったため、体にはよくないと言われていたからだ。

それでも祖母は、小さく笑いながらこう言っていた。

「コーヒーのない人生なんて、つまらないよ。」

その言葉を聞くたび、家族は呆れながらも結局は何も言えなくなってしまった。

今でもブラックコーヒーの香りを嗅ぐと、祖母のことを思い出す。
自分らしく、正直に、ありのままで生きていた祖母の姿を。

祖母は料理もとても上手だった。
その味は素朴なのに不思議と忘れられず、誰もが「また食べたい」と言っていた。

昔、祖母は市場でナシペチェルの屋台を営んでいた。多くの人が食べに来ていたのは、ただお腹を満たすためではない。祖母の料理には、人を温かい気持ちにする力があったからだ。

近所の結婚式や行事でも、祖母はよく料理人として頼まれていた。祖母の小さな台所からは、いつも料理の香りと一緒に、人の笑い声や会話が溢れていた。

私にとって、あの台所はただ料理をする場所ではなかった。
家族の温もりが集まる場所だった。

祖母との思い出は数え切れないほどある。
その中でも、特に心に残っているのは、ごく普通の日常だった。

両親は仕事で忙しく、学校が終わると私はよく祖母の家へ行っていた。家が近かったこともあり、自然と足が向いていた。

なぜなら、そこにはいつも私を待っていてくれる人がいたからだ。

祖母は毎日のように、私の帰りを待っていた。
テーブルにはすでに昼ごはんが並んでいることもあれば、祖母がまだ台所で料理をしながら「今日は学校どうだった?」と声をかけてくれることもあった。

そして私たちは、一緒に昼ごはんを食べた。

あの頃は、それが特別なことだとは思わなかった。
でも今になって気づく。人はきっと、何気ない日常を失って初めて、その大切さを知るのだ。

祖母は約十年間、病気と闘っていた。
糖尿病を患い、その後は心臓の合併症も抱えるようになった。亡くなる前三年間は、毎月病院へ通い、検査を受けなければならなかった。

体は少しずつ弱っていった。
それでも祖母は、できるだけいつも通りに過ごそうとしていた。

当時の私はまだ高校生で、祖母の苦しみを本当の意味では理解できていなかった。祖母をもっと支えてあげることもできなかった。

今思い返すたびに、そのことが少し心に残っている。

すべては突然だった。

亡くなる三日前、祖母の体調は急激に悪化した。すぐに病院へ運ばれ、そのままICUに入ることになった。

誰も、こんなに急に別れが来るとは思っていなかった。

その日の昼間まで、祖母は家族や孫たちと一緒に笑って過ごしていたからだ。遠くから帰ってきた従兄弟もいて、家の中は久しぶりにとても賑やかだった。

祖母も嬉しそうに笑っていた。

あの時の笑顔が、私たちにとって最後の思い出になった。

2020年8月8日。
祖母は静かに息を引き取った。

その時、私は家で日本へ行く準備をしていた。突然その知らせを聞いた瞬間、頭の中が真っ白になった。

胸が苦しくて、何も考えられなかった。
いつも温かかった家が、その日だけは別の場所のように感じた。

言葉では表せないほど悲しかった。

そして今でも、あの日のことを思い出すたび、胸の奥が静かに痛む。

時間が経っても、消えない悲しみというものがあるのだと思う。

でも、悲しみ以上に心に残っているものがある。
それは後悔だ。

私は、祖母を十分に幸せにしてあげられなかった。

祖母はいつも、私の未来を楽しみにしていた。
卒業すること。大学を出ること。結婚すること。いつか子どもを持つこと。

そんな未来の話を、祖母は本当に嬉しそうに語っていた。

「将来、立派になった姿を見せてね。」

祖母は笑いながら、そう言っていた。

でも、その夢が叶う前に、祖母は旅立ってしまった。

祖母がいなくなってから、家族も少しずつ変わってしまった。

レバランの時期になっても、昔のような賑やかさはない。祖母の家は静かになり、家族が集まる機会も減っていった。

さらに祖父も亡くなり、あの温かかった時間は少しずつ遠ざかっていった。

私はその時、気づいた。

家族というものは、誰か一人の大きな愛によって支えられていることがあるのだと。

今でも、祖母のことをたくさん思い出す。

祖母の料理。
ブラックコーヒーの香り。
「おかえり」と迎えてくれた声。
一緒に食べた昼ごはん。

昔は当たり前だったそのすべてが、今では何より大切な思い出になっている。

もしもう一度だけ祖母と話せるなら、私は伝えたいことがある。

「今、私は日本にいるよ。」

昔、一緒に話していた夢が、少しずつ叶い始めていることを伝えたい。

そして、それは祖母の祈りや支えがあったからこそだと伝えたい。

もし祖母が今ここにいてくれたなら、一緒にいろいろな場所へ連れて行きたかった。もう暑さや雨の中で苦労しなくていいように、美味しいものを食べさせて、たくさん笑って過ごしてほしかった。

祖母から私は、本当に多くのことを学んだ。

人を愛すること。
どんな時でも強く生きること。
そして、優しくあること。

祖母はもうこの世にはいない。
それでも、祖母との思い出と教えは、これからもずっと私の中で生き続けていく。

そしてきっと今でも――

祖母の祈りは、静かに私の人生を支え続けてくれている。

Nokosareta Omoide

Ano ie wa, ima de wa izen yori zutto shizuka ni natte shimatta.
Kaette mo, “okaeri” to mukaete kureru koe wa mou kikoenai. Ima no heya no sumi ni okareta ki no isu mo, ima wa daremo suwaru koto naku, tada shizuka ni soko ni aru dake da. Maiasa to yuugata ni tadayotte ita burakku koohii no kaori sae, sobo to issho ni kiete shimatta you ni kanjiru.

Sobo —— Toima.
Watashitachi wa aijou o komete “Hamiotto” to yonde ita.

Sobo ga inakunatte kara, subete ga kawatte shimatta.
Sore wa tan ni “kazoku o ushinatta” to iu koto de wa nai. Watashi no jinsei no taisetsu na ichibu ga, pokkari to kakete shimatta you na kankaku datta.

Hamiotto wa hahaoya-gawa no sobo datta. Hade na hito de wa nakatta ga, totemo yasashiku, kazoku e no aijou ni afurete ita. Toku ni kodomo ya magotachi o hontou ni taisetsu ni shite kurete ita.

Watashi wa sobo ni totte saisho no mago datta. Dakara na no ka, takusan no aijou o sosoi demo ratta.

“Hamiotto no ichiban daisuki na mago da yo.”

Sobo wa yoku sou itte waratte ita.

Touji wa, sono kotoba o tokubetsu da to omotta koto wa nakatta. Tada no itsumo no kotoba da to omotte ita. Demo ima ni natte, sono nanigenai kotoba koso ga, ichiban koishii mono ni natte iru.

Yasashii sobo datta ga, sukoshi ganko na ichimen mo atta. Toku ni burakku koohii ni kanshite wa sou datta.

Maiasa to yuugata, sobo wa kanarazu burakku koohii o irete ita. Isha kara wa nando mo tomerarete ita. Tounyoubyou ya shinzou no byouki ga atta tame, karada ni wa yokunai to iwarete ita kara da.

Sore demo sobo wa, chiisaku warainagara kou itte ita.

“Koohii no nai jinsei nante, tsumaranai yo.”

Sono kotoba o kiku tabi, kazoku wa akirenagara mo kekkyoku wa nanimo ienaku natte shimatta.

Ima demo burakku koohii no kaori o kagu to, sobo no koto o omoidasu.
Jibun rashiku, shoujiki ni, arinomama de ikite ita sobo no sugata o.

Sobo wa ryouri mo totemo jouzu datta.
Sono aji wa soboku na no ni fushigi to wasurerarezu, daremo ga “mata tabetai” to itte ita.

Mukashi, sobo wa ichiba de nasi pecheru no yatai o itonande ita. Ooku no hito ga tabeni kite ita no wa, tada onaka o mitasu tame de wa nai. Sobo no ryouri ni wa, hito o atatakai kimochi ni suru chikara ga atta kara da.

Kinjo no kekkonshiki ya gyouji demo, sobo wa yoku ryourinin toshite tanomarete ita. Sobo no chiisana daidokoro kara wa, itsumo ryouri no kaori to issho ni, hito no waraigoe ya kaiwa ga afurete ita.

Watashi ni totte, ano daidokoro wa tada ryouri o suru basho de wa nakatta.
Kazoku no nukumori ga atsumaru basho datta.

Sobo to no omoide wa kazoekirenai hodo aru.
Sono naka demo, toku ni kokoro ni nokotte iru no wa, goku futsuu no nichijou datta.

Ryoushin wa shigoto de isogashiku, gakkou ga owaru to watashi wa yoku sobo no ie e itte ita. Ie ga chikakatta koto mo ari, shizen to ashi ga muite ita.

Naze nara, soko ni wa itsumo watashi o matte ite kureru hito ga ita kara da.

Sobo wa mainichi no you ni, watashi no kaeri o matte ita.
Teeburu ni wa sude ni hirugohan ga narande iru koto mo areba, sobo ga mada daidokoro de ryouri o shinagara “Kyou wa gakkou dou datta?” to koe o kakete kureru koto mo atta.

Soshite watashitachi wa, issho ni hirugohan o tabeta.

Ano koro wa, sore ga tokubetsu na koto da to wa omowanakatta.
Demo ima ni natte kizuku. Hito wa kitto, nanigenai nichijou o ushinatte hajimete, sono taisetsusa o shiru no da.

Sobo wa yaku juu-nenkan, byouki to tatakatte ita.
Tounyoubyou o wazurai, sono ato wa shinzou no gappeishou mo kakaeru you ni natta. Nakunaru mae san-nenkan wa, maitsuki byouin e kayoi, kensa o ukete inakereba naranakatta.

Karada wa sukoshi zutsu yowatte itta.
Sore demo sobo wa, dekiru dake itsumo doori ni sugoso u to shite ita.

Touji no watashi wa mada koukousei de, sobo no kurushimi o hontou no imi de wa rikai dekite inakatta. Sobo o motto sasaete ageru koto mo dekinakatta.

Ima omoikaesu tabi ni, sono koto ga sukoshi kokoro ni nokotte iru.

Subete wa totsuzen datta.

Nakunaru mikka mae, sobo no taichou wa kyuugeki ni akka shita. Sugu ni byouin e hakobare, sono mama ICU ni hairu koto ni natta.

Daremo, konna ni kyuu ni wakare ga kuru to wa omotte inakatta.

Sono hi no hiruma made, sobo wa kazoku ya magotachi to issho ni waratte sugoshite ita kara da. Tooku kara kaette kita itoko mo ite, ie no naka wa hisashiburi ni totemo nigiyaka datta.

Sobo mo ureshisou ni waratte ita.

Ano toki no egao ga, watashitachi ni totte saigo no omoide ni natta.

2020 nen 8 gatsu 8 ka.
Sobo wa shizuka ni iki o hikitoritta.

Sono toki, watashi wa ie de Nihon e iku junbi o shite ita. Totsuzen sono shirase o kiita shunkan, atama no naka ga masshiro ni natta.

Mune ga kurushikute, nanimo kangaerarenakatta.
Itsumo atatakakatta ie ga, sono hi dake wa betsu no basho no you ni kanjirareta.

Kotoba de wa arawasenai hodo kanashikatta.

Soshite ima demo, ano hi no koto o omoidasu tabi, mune no oku ga shizuka ni itamu.

Jikan ga tatte mo, kienai kanashimi to iu mono ga aru no da to omou.

Demo, kanashimi ijou ni kokoro ni nokotte iru mono ga aru.
Sore wa koukai da.

Watashi wa, sobo o juubun ni shiawase ni shite agerarenakatta.

Sobo wa itsumo, watashi no mirai o tanoshimi ni shite ita.
Sotsugyou suru koto. Daigaku o deru koto. Kekkon suru koto. Itsuka kodomo o motsu koto.

Sonna mirai no hanashi o, sobo wa hontou ni ureshisou ni katatte ita.

“Shourai, rippa ni natta sugata o misete ne.”

Sobo wa warainagara, sou itte ita.

Demo, sono yume ga kanau mae ni, sobo wa tabidatte shimatta.

Sobo ga inakunatte kara, kazoku mo sukoshi zutsu kawatte shimatta.

Rebaran no jiki ni natte mo, mukashi no you na nigiyakasa wa nai. Sobo no ie wa shizuka ni nari, kazoku ga atsumaru kikai mo hette itta.

Sara ni sofu mo nakunari, ano atatakakatta jikan wa sukoshi zutsu toozakatte itta.

Watashi wa sono toki, kizuita.

Kazoku to iu mono wa, dareka hitori no ookina ai ni yotte sasaerarete iru koto ga aru no da to.

Ima demo, sobo no koto o takusan omoidasu.

Sobo no ryouri.
Burakku koohii no kaori.
“Okaeri” to mukaete kureta koe.
Issho ni tabeta hirugohan.

Mukashi wa atarimae datta sono subete ga, ima de wa nani yori taisetsu na omoide ni natte iru.

Moshi mou ichido dake sobo to hanaseru nara, watashi wa tsutaetai koto ga aru.

“Ima, watashi wa Nihon ni iru yo.”

Mukashi, issho ni hanashite ita yume ga, sukoshi zutsu kanai hajimete iru koto o tsutaetai.

Soshite, sore wa sobo no inori ya sasae ga atta kara koso da to tsutaetai.

Moshi sobo ga ima koko ni ite kureta nara, issho ni iroiro na basho e tsurete ikitakatta. Mou atsusa ya ame no naka de kurou shinakute ii you ni, oishii mono o tabesasete, takusan waratte sugoshite hoshikatta.

Sobo kara watashi wa, hontou ni ooku no koto o mananda.

Hito o aisuru koto.
Donna toki demo tsuyoku ikiru koto.
Soshite, yasashiku aru koto.

Sobo wa mou kono yo ni wa inai.
Sore demo, sobo to no omoide to oshie wa, korekara mo zutto watashi no naka de ikitsuzukete iku.

Soshite kitto ima demo――

Sobo no inori wa, shizuka ni watashi no jinsei o sasaetsuzukete kurete iru. 

Versi Bahasa Inggris

The Memories Left Behind

That house has become far quieter than it used to be.
No one welcomes me home anymore with a warm voice calling from inside. The wooden chair in the corner of the living room, once always occupied, now sits empty in silence. Even the aroma of black coffee that used to drift through the house every morning and evening seems to have disappeared along with her.

My grandmother—Toimah.
We lovingly called her Hamiot.

Since she passed away, everything has changed.
It was not simply the feeling of losing a family member. It felt as if an important part of my life had suddenly vanished, leaving an emptiness that could never truly be filled again.

Hamiot was my mother’s mother. She was not an extraordinary woman in the eyes of the world, but to us, she was warmth itself. She loved her family deeply, especially her children and grandchildren.

I was her first grandchild, and perhaps because of that, she poured so much love into me.

“You are Hamiot’s favorite grandchild.”

She used to say that with a smile.

Back then, I never realized how precious those words were. They sounded ordinary to me at the time. But now, they are the very words I long to hear the most.

Although she was gentle, she also had a stubborn side—especially when it came to black coffee.

Every morning and every evening, she would brew a cup of her favorite black coffee. The doctors had warned her many times to stop because of her health condition. She suffered from diabetes and heart complications, and coffee was not good for her body anymore.

Still, she would simply laugh softly and say,

“A life without coffee is no life at all.”

Every time she said that, the whole family could do nothing but smile helplessly.

Even now, whenever I smell black coffee, I immediately think of her.
Of the woman who lived honestly, simply, and completely as herself.

Hamiot was also an excellent cook.
Her food had a simple taste, yet somehow unforgettable. Anyone who ate her cooking would always want more.

Years ago, she ran a small nasi pecel stall in the market. People did not come only because they were hungry. They came because her cooking carried warmth and comfort.

She was also often asked to cook for weddings and neighborhood celebrations. From her small kitchen came not only delicious meals, but also laughter, conversations, and togetherness.

To me, that kitchen was never just a place for cooking.
It was a place where family warmth lived.

I have countless memories with my grandmother.
But among all of them, the ones that remain strongest in my heart are the simplest moments.

My parents were busy working, so after school I would often go to my grandmother’s house. Our homes were close to each other, and somehow my feet always carried me there naturally.

Because I knew someone was waiting for me.

Every day, my grandmother waited for me to come home from school.
Sometimes lunch was already prepared on the table. Other times, she would still be cooking in the kitchen while asking me about my day at school.

And then we would eat lunch together.

At that time, those moments felt ordinary.
But now I understand that people often realize the value of ordinary moments only after they are gone.

My grandmother fought against illness for about ten years.
She had diabetes, which later developed into heart complications. During the last three years of her life, she had to go to the hospital every month for medical checkups.

Her body grew weaker little by little.
Even so, she always tried to live her days as normally as possible.

At that time, I was still in high school. I was too young to truly understand how hard her struggle was, and I could not do much to help her.

Even now, that regret still quietly remains in my heart.

Everything happened so suddenly.

Three days before she passed away, her condition suddenly became much worse. She was rushed to the hospital and admitted to the ICU.

No one expected that our goodbye would come so quickly.

Earlier that same day, she had still been laughing together with the children and grandchildren. One of my cousins had just returned from another city, and the house was filled with happiness and noise once again.

My grandmother looked truly happy that day.

None of us knew that her smile would become our final memory of her.

On August 8th, 2020, my grandmother quietly took her last breath.

At that time, I was at home preparing for my departure to Japan. When I heard the news, my mind went completely blank.

My chest felt heavy, and I could not think clearly.
The house that had always felt warm suddenly felt unfamiliar and empty.

The sadness I felt was beyond words.

Even now, whenever I remember that day, there is still a quiet pain deep inside my heart.

Some kinds of grief never truly disappear.

But more than sadness, there is one thing that remains in my heart the most:

regret.

I feel that I never had the chance to truly make her happy.

My grandmother was always excited about my future.
She often talked about my graduation, my future career, my marriage, and even the day I would have children of my own.

“Show me your successful future someday,” she once said with a smile.

But before any of those dreams could come true, she had already left this world.

After her passing, many things in our family changed.

Lebaran no longer feels the same. The house that once brought everyone together became quiet and empty. Family gatherings slowly became less frequent.

Then, after my grandfather also passed away, the warmth that once held our family together slowly faded away.

That was when I realized something important:

sometimes, a family stays whole because of the love of one person.

Even now, there are so many things I still miss about her.

Her cooking.
The smell of black coffee.
Her voice welcoming me home.
The lunches we shared together.

Things that once felt ordinary have now become the most precious memories of my life.

If I were given one more chance to speak with her, there are so many things I would want to say.

“I’m in Japan now.”

I want her to know that the dreams we once talked about are slowly coming true.

And I want her to know that none of it would have been possible without her prayers and support.

If she were still here, I would take her to see many places. I would make sure she no longer had to struggle under the heat or rain. I would buy her delicious food and spend more happy moments together.

From my grandmother, I learned so many things about life.

How to love sincerely.
How to stay strong during difficult times.
And how to always remain kind.

My grandmother is no longer here.
But her memories and everything she taught me will continue to live inside me forever.

And even now, I still believe—

her prayers are quietly walking beside me in every step of my life.

Legenda Sangkuriang

Nama   : Ira Popi Laurina

NIM    : 091241007

Dahulu kala, di tanah Pasundan, Jawa Barat, hiduplah seorang perempuan cantik bernama Dayang Sumbi. Selain terkenal karena kecantikannya, Dayang Sumbi juga dikenal memiliki kesaktian dan awet muda. Ia tinggal seorang diri bersama putra semata wayangnya yang bernama Sangkuriang.

Sangkuriang tumbuh menjadi anak laki-laki yang kuat, lincah, dan gemar berburu. Ke mana pun pergi, ia selalu ditemani seekor anjing setia bernama Tumang. Namun, Sangkuriang tidak pernah mengetahui bahwa Tumang sebenarnya adalah ayah kandungnya yang mendapat kutukan hingga berubah menjadi seekor anjing.

Suatu hari, Sangkuriang pergi berburu ke hutan bersama Tumang. Namun hingga matahari mulai condong ke barat, mereka belum juga mendapatkan seekor buruan pun. Karena kesal dan lapar, Sangkuriang menyuruh Tumang mengejar seekor rusa yang terlihat melintas di semak-semak.

Akan tetapi, Tumang hanya diam dan tidak mau mengejar rusa tersebut. Hal itu membuat Sangkuriang murka. Dalam kemarahannya, ia memanah Tumang hingga mati. Setelah itu, ia membawa pulang hati Tumang untuk diserahkan kepada ibunya.

Sesampainya di rumah, Dayang Sumbi memasak hati itu tanpa mengetahui asalnya. Setelah makan, Dayang Sumbi mencari Tumang karena anjing kesayangannya belum juga pulang. Ketika Sangkuriang akhirnya mengaku bahwa hati yang dimakan mereka adalah hati Tumang, Dayang Sumbi sangat terkejut dan marah.

Dengan penuh emosi, Dayang Sumbi memukul kepala Sangkuriang menggunakan sendok nasi hingga terluka. Karena kecewa dan sedih atas perbuatan anaknya, Dayang Sumbi pun mengusir Sangkuriang dari rumah.

Sangkuriang pergi mengembara meninggalkan kampung halamannya. Bertahun-tahun lamanya ia hidup di perantauan hingga tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan sakti.

Sementara itu, Dayang Sumbi tetap terlihat muda dan cantik berkat kesaktian yang dimilikinya.

Suatu hari, Sangkuriang kembali ke daerah asalnya. Di perjalanan, ia bertemu dengan seorang perempuan cantik yang tidak lain adalah Dayang Sumbi. Karena sudah bertahun-tahun berpisah, keduanya tidak saling mengenali.

Sangkuriang pun jatuh cinta kepada Dayang Sumbi dan berniat menikahinya.

Ketika Sangkuriang datang melamar, Dayang Sumbi mulai merasa curiga. Ia kemudian melihat bekas luka di kepala pemuda itu dan akhirnya sadar bahwa lelaki tersebut adalah Sangkuriang, anak kandungnya sendiri.

Dayang Sumbi pun sangat terkejut dan ketakutan. Ia berusaha mencari cara agar pernikahan itu tidak terjadi.

Akhirnya, Dayang Sumbi mengajukan syarat yang mustahil dipenuhi. Ia meminta Sangkuriang membuat sebuah danau dan sebuah perahu besar hanya dalam waktu satu malam, sebelum fajar menyingsing.

Tanpa ragu, Sangkuriang menyanggupi permintaan itu. Dengan bantuan makhluk-makhluk gaib, ia mulai membendung sungai untuk membuat danau dan menebang pohon-pohon besar untuk dijadikan perahu.

Sedikit demi sedikit, pekerjaan itu hampir selesai. Dayang Sumbi menjadi panik melihat Sangkuriang hampir berhasil memenuhi syarat tersebut.

Sebelum pekerjaan selesai, Dayang Sumbi segera mencari akal. Ia membentangkan kain putih di sebelah timur dan menyalakan api sehingga langit tampak terang seperti fajar telah tiba. Ayam-ayam pun mulai berkokok mengira hari sudah pagi.

Makhluk-makhluk gaib yang membantu Sangkuriang segera menghilang karena mengira matahari telah terbit.

Melihat usahanya gagal, Sangkuriang sangat marah. Dengan amarah yang meluap-luap, ia menendang perahu besar yang belum selesai dibuat itu hingga terbalik.

Konon, perahu yang terbalik itulah yang kemudian menjadi Gunung Tangkuban Perahu, yang bentuknya menyerupai perahu terbalik dan masih dapat dilihat hingga sekarang di Jawa Barat.

 Versi Bahasa Jepang

サンクリアンの伝説

昔々、西ジャワのパスンダン地方に、ダヤン・スンビという美しく不思議な力を持つ女性が暮らしていた。彼女には、サンクリアンという一人息子がいた。

サンクリアンは、力強く活発な少年へと成長し、狩りをすることが大好きだった。彼はいつも、トゥマンという一匹の犬を連れて山や森へ出かけていた。

しかし、サンクリアンは知らなかった。実はトゥマンは、呪いによって犬の姿に変えられてしまった実の父親だったのである。

ある日、サンクリアンはいつものようにトゥマンと一緒に狩りへ出かけた。しかし、その日は朝から森を歩き回っても、獲物を一匹も捕まえることができなかった。

夕方になり、空腹と疲れで苛立っていたサンクリアンは、茂みの中を走る鹿を見つけた。

「トゥマン、早く鹿を追え!」

そう命じたが、トゥマンは動こうとしなかった。

その態度に怒ったサンクリアンは、怒りのあまり弓を放ち、トゥマンを殺してしまった。そして彼は、トゥマンの心臓を持ち帰り、母への土産にした。

家に戻ると、ダヤン・スンビは、それがトゥマンの心臓だとは知らずに料理した。

食事の後、ダヤン・スンビは大切なトゥマンの姿が見えないことに気づき、不思議に思った。

やがてサンクリアンが真実を打ち明けると、ダヤン・スンビは激しく怒り、深く悲しんだ。

怒りのあまり、彼女は手に持っていたしゃもじでサンクリアンの頭を叩いた。その傷は深く、彼の頭には大きな傷跡が残った。

そしてダヤン・スンビは、サンクリアンを家から追い出してしまった。

サンクリアンは故郷を離れ、長い年月を放浪しながら生きていった。やがて彼は、たくましく立派な青年へと成長した。

一方、ダヤン・スンビは不思議な力によって、歳を取っても若く美しい姿を保っていた。

ある日、故郷へ戻ってきたサンクリアンは、一人の美しい女性と出会った。それがダヤン・スンビであるとは、二人とも気づかなかった。

サンクリアンはたちまち彼女に恋をし、結婚を申し込んだ。

しかし、ダヤン・スンビは彼の頭に残る傷跡を見て、その青年が自分の息子サンクリアンだと気づいた。

彼女は大きな衝撃を受け、この結婚を何としても止めなければならないと思った。

そこでダヤン・スンビは、決して果たせないような条件を出した。

「一晩のうちに、大きな湖と船を作ってください。」

サンクリアンは迷うことなく、その条件を引き受けた。

彼は不思議な力を持つ精霊たちを呼び集め、川をせき止めて湖を作り、巨大な木を切り倒して大きな船を作り始めた。

作業は驚くほど早く進み、夜明け前にはほとんど完成しようとしていた。

それを見たダヤン・スンビは恐ろしくなった。

彼女は急いで白い布を東の空に広げ、火を灯して、まるで朝が来たかのように見せかけた。すると、鶏たちは本当に夜明けが来たと思い、一斉に鳴き始めた。

精霊たちは朝が来たと勘違いし、姿を消してしまった。

ようやく騙されたことに気づいたサンクリアンは、激しい怒りに震えた。

彼は完成目前だった大きな船を力いっぱい蹴り飛ばした。すると船は逆さまになり、そのまま山へと変わった。

その山こそが、現在の「タンクバン・プラフ山」であると、今も語り継がれているのである。

Sangkurian no Densetsu 

Mukashi mukashi, Nishi Jawa no Pasundan chihō ni, Dayang Sumbi to iu utsukushiku fushigi na chikara o motsu josei ga kurashite ita. Kanojo ni wa, Sangkurian to iu hitori musuko ga ita.

Sangkurian wa, chikarazuyoku kappatsu na shōnen e to seichō shi, kari o suru koto ga daisuki datta. Kare wa itsumo, Tumang to iu ippiki no inu o tsurete yama ya mori e dekakete ita.

Shikashi, Sangkurian wa shiranakatta. Jitsu wa Tumang wa, noroi ni yotte inu no sugata ni kaerarete shimatta mi no chichioya datta no de aru.

Aru hi, Sangkurian wa itsumo no yō ni Tumang to issho ni kari e dekaketa. Shikashi, sono hi wa asa kara mori o arukimawatte mo, emono o ippiki mo tsukamaeru koto ga dekinakatta.

Yūgata ni nari, kūfuku to tsukare de iradatte ita Sangkurian wa, shigemi no naka o hashiru shika o mitsuketa.

“Tumang, hayaku shika o oe!”

Sō meijita ga, Tumang wa ugokō to shinakatta.

Sono taido ni okotta Sangkurian wa, ikari no amari yumi o hanachi, Tumang o koroshite shimatta. Soshite kare wa, Tumang no shinzō o mochikaeri, haha e no miyage ni shita.

Ie ni modoru to, Dayang Sumbi wa, sore ga Tumang no shinzō da to wa shirazu ni ryōri shita.

Shokuji no ato, Dayang Sumbi wa taisetsu na Tumang no sugata ga mienai koto ni kizuki, fushigi ni omotta.

Yagate Sangkurian ga shinjitsu o uchiaketa to, Dayang Sumbi wa hageshiku okori, fukaku kanashinda.

Ikari no amari, kanojo wa te ni motte ita shamoji de Sangkurian no atama o tataita. Sono kizu wa fukaku, kare no atama ni wa ōkina kizuatoga nokotta.

Soshite Dayang Sumbi wa, Sangkurian o ie kara oidashite shimatta.

Sangkurian wa furusato o hanare, nagai toshitsuki o hōrō shinagara ikite itta. Yagate kare wa, takumashiku rippa na seinen e to seichō shita.

Ippō, Dayang Sumbi wa fushigi na chikara ni yotte, toshi o totte mo wakaku utsukushii sugata o tamotte ita.

Aru hi, furusato e modotte kita Sangkurian wa, hitori no utsukushii josei to deatta. Sore ga Dayang Sumbi de aru to wa, futari tomo kizukanakatta.

Sangkurian wa tachimachi kanojo ni koi o shi, kekkon o mōshikonda.

Shikashi, Dayang Sumbi wa kare no atama ni nokoru kizuat o mite, sono seinen ga jibun no musuko Sangkurian da to kizuita.

Kanojo wa ōkina shōgeki o uke, kono kekkon o nantoshite mo tomena kereba naranai to omotta.

Soko de Dayang Sumbi wa, kesshite hatasenai yō na jōken o dashita.

“Hitoban no uchi ni, ōkina mizuumi to fune o tsukutte kudasai.”

Sangkurian wa mayou koto naku, sono jōken o hikiuketa.

Kare wa fushigi na chikara o motsu seireitachi o yobiatume, kawa o sekitomete mizuumi o tsukuri, kyodai na ki o kiritaoshite ōkina fune o tsukuri hajimeta.

Sagyo wa odoroku hodo hayaku susumi, yoake mae ni wa hotondo kansei shiyō to shite ita.

Sore o mita Dayang Sumbi wa osoroshiku natta.

Kanojo wa isoide shiroi nuno o higashi no sora ni hiroge, hi o tomoshite, marude asa ga kita ka no yō ni misekaketa. Suru to, niwatori-tachi wa hontō ni yoake ga kita to omoi, issei ni naki hajimeta.

Seireitachi wa asa ga kita to kanchigai shi, sugata o keshite shimatta.

Yōyaku damasareta koto ni kizuita Sangkurian wa, hageshii ikari ni furuita.

Kare wa kansei mokuzendatta ōkina fune o chikara ippai ketobashita. Suru to fune wa sakasama ni nari, sono mama yama e to kawatta.

Sono yama koso ga, genzai no “Tangkuban Perahu-san” de aru to, ima mo kataritsugarete iru no de aru.

Versi Bahasa Inggris

The Legend of Sangkuriang

Long ago, in the land of Pasundan in West Java, there lived a beautiful woman named Dayang Sumbi. She was known not only for her beauty, but also for the magical powers she possessed. Dayang Sumbi lived with her only son, Sangkuriang.

Sangkuriang grew into a strong, energetic young boy who loved hunting. Wherever he went, he was always accompanied by his loyal dog named Tumang.

However, Sangkuriang did not know that Tumang was actually his own father, who had been cursed and transformed into a dog.

One day, Sangkuriang went hunting in the forest with Tumang as usual. They wandered through the woods from morning until evening, but they failed to catch any prey.

Tired, hungry, and frustrated, Sangkuriang suddenly saw a deer running through the bushes.

“Tumang, chase that deer!” he ordered.

But Tumang remained silent and refused to move.

Filled with anger, Sangkuriang lost control of himself. He shot Tumang with his weapon and killed him. Then he took Tumang’s heart home as a gift for his mother.

When he arrived home, Dayang Sumbi cooked the heart without knowing where it came from. After the meal, she realized that Tumang had not returned home. Curious and worried, she asked Sangkuriang what had happened.

At last, Sangkuriang confessed the truth.

Hearing the terrible story, Dayang Sumbi became furious and heartbroken. In her anger, she struck Sangkuriang on the head with a rice spoon. The blow left a deep scar on his head.

Unable to forgive him, Dayang Sumbi drove Sangkuriang away from home.

Sangkuriang wandered far from his homeland for many years. Over time, he grew into a handsome, strong, and powerful young man.

Meanwhile, because of her magical powers, Dayang Sumbi remained youthful and beautiful despite the passing years.

One day, Sangkuriang returned to his homeland. During his journey, he met a beautiful woman and instantly fell in love with her. Neither of them realized that they were mother and son.

Sangkuriang eventually asked Dayang Sumbi to marry him.

However, when Dayang Sumbi noticed the scar on his head, she was shocked to discover that the young man was actually her own son, Sangkuriang.

Terrified and desperate to stop the marriage, Dayang Sumbi came up with an impossible condition.

“If you truly wish to marry me,” she said, “you must build a great lake and a giant boat in a single night before dawn.”

Without hesitation, Sangkuriang accepted the challenge.

Using his supernatural powers, he summoned spirits and magical creatures to help him. Together, they blocked the river to create a lake and cut down enormous trees to build a massive boat.

The work progressed incredibly fast, and before sunrise, the task was almost complete.

Seeing this, Dayang Sumbi became frightened and panicked.

Before Sangkuriang could finish his work, she spread a large white cloth in the eastern sky and lit fires to make it appear as though dawn had arrived. Roosters began crowing, believing morning had come.

The spirits who were helping Sangkuriang disappeared at once, thinking the night was over.

Realizing that he had been tricked, Sangkuriang was consumed by rage. In his fury, he kicked the unfinished boat with all his strength until it overturned.

According to legend, the overturned boat later became Mount Tangkuban Perahu, a mountain in West Java whose shape resembles an upside-down boat and can still be seen today.

Versi Bahasa Jawa

Legenda Sangkuriang

Mbiyen banget, ing tanah Pasundan, Jawa Barat, urip sawijining wanita ayu aran Dayang Sumbi. Dheweke ora mung misuwur amarga ayune, nanging uga amarga nduweni kasekten lan kekuwatan gaib. Dayang Sumbi urip karo anak lanang siji-sijine sing jenenge Sangkuriang.

Sangkuriang tuwuh dadi bocah lanang sing kuwat, sregep, lan seneng banget mburu. Saben lunga menyang alas utawa gunung, dheweke tansah ditemani asune sing setya aran Tumang.

Nanging, Sangkuriang ora ngerti yen Tumang sejatiné yaiku bapak kandunge dhewe sing kena kutuk nganti malih dadi asu.

Ing sawijining dina, kaya biyasane, Sangkuriang lunga mburu bebarengan karo Tumang. Wiwit esuk nganti sore dheweke mlaku-mlaku ing alas, nanging ora entuk kewan buruan siji wae.

Amarga kesel, luwe, lan nesu, Sangkuriang weruh ana kidang mlayu ing semak-semak.

“Tumang, cepet kejar kidang kuwi!” prentahe Sangkuriang.

Nanging Tumang mung meneng lan ora gelem nuruti.

Weruh Tumang ora obah, Sangkuriang dadi nesu banget. Kanthi emosi sing ora bisa dikendhaleni, dheweke mateni Tumang. Sawise kuwi, atiné Tumang digawa mulih kanggo diparingake marang ibune.

Nalika tekan omah, Dayang Sumbi masak ati kuwi tanpa ngerti yen kuwi atiné Tumang.

Sawise mangan, Dayang Sumbi rumangsa aneh amarga Tumang durung bali. Dheweke banjur takon marang Sangkuriang apa sing wis kedadeyan.

Pungkasane, Sangkuriang ngakoni kabeh sing wis ditindakake.

Krungu pengakuan kuwi, Dayang Sumbi nesu lan sedhih banget. Kanthi emosi, dheweke mukul sirahé Sangkuriang nganggo centhong sega nganti ninggal tatu gedhe ing sirahe.

Amarga kecewa banget, Dayang Sumbi banjur ngusir Sangkuriang saka omah.

Sangkuriang lunga ngumbara adoh saka tanah kelairane nganti pirang-pirang taun. Suwe-suwe dheweke tuwuh dadi nom-noman sing gagah, tampan, lan nduweni kasekten gedhe.

Dene Dayang Sumbi, amarga kekuwatan gaib sing diduweni, tetep katon enom lan ayu sanajan wektu terus mlaku.

Ing sawijining dina, Sangkuriang bali maneh menyang tanah kelairane. Ing perjalanan, dheweke ketemu wanita ayu lan langsung tresna. Dheweke ora ngerti yen wanita kuwi sejatiné yaiku ibune dhewe, Dayang Sumbi.

Sangkuriang banjur nglamar Dayang Sumbi supaya gelem dadi bojone.

Nanging nalika Dayang Sumbi weruh tatu ing sirahé Sangkuriang, dheweke langsung kaget lan sadar yen nom-noman kuwi yaiku anak kandunge dhewe.

Dayang Sumbi dadi bingung lan wedi. Dheweke banjur golek cara supaya pernikahan kuwi ora kelakon.

Pungkasane, Dayang Sumbi menehi syarat sing mokal ditindakake.

“Yen pancen kowe pengin nikah karo aku, gawenen tlaga gedhe lan prau gedhe sajrone sewengi sadurunge esuk teka.”

Tanpa mikir dawa, Sangkuriang nyanggupi syarat kuwi.

Kanthi bantuan makhluk gaib lan roh-roh alus, dheweke mbendung kali kanggo nggawe tlaga lan nebang wit-witan gedhe kanggo nggawe prau raksasa.

Pakaryan kuwi maju kanthi cepet banget. Sadurunge fajar, prau lan tlaga meh rampung kabeh.

Weruh kuwi, Dayang Sumbi dadi panik lan wedi yen Sangkuriang bakal kasil.

Dheweke banjur nyebar kain putih ing sisih wetan lan ngobong geni supaya katon kaya esuk wis teka. Pitik-pitik banjur padha berkokok amarga nganggep wis wayah esuk.

Makhluk-makhluk gaib sing mbantu Sangkuriang langsung padha ilang amarga ngira wengi wis rampung.

Nalika ngerti yen awake diapusi, Sangkuriang nesu banget. Kanthi nesu sing nggegirisi, dheweke nendhang prau gedhe sing durung rampung kuwi nganti kebalik.

Miturut crita rakyat, prau sing kebalik kuwi banjur malih dadi Gunung Tangkuban Perahu, gunung ing Jawa Barat sing wujude kaya prau terbalik lan isih bisa dideleng nganti saiki.

Legenda Kiai Sanggem dan Nyai Sanggem

 Nama    : Bagus Eka Saputra
NIM       : 091241003

Asal-usul Nama Bandungan

Dahulu kala, di sebuah daerah pegunungan yang berhawa sejuk dan diselimuti kabut tebal, hiduplah sepasang suami istri yang sangat dihormati masyarakat. Mereka adalah Kiai Sanggem dan Nyai Sanggem. Keduanya dikenal sebagai orang yang bijaksana, rendah hati, serta memiliki ilmu dan kesaktian yang tinggi.

Rumah mereka berada di lereng pegunungan yang masih dipenuhi hutan lebat. Meski tinggal jauh dari keramaian, banyak orang datang meminta nasihat dan pertolongan kepada mereka.

Pada masa itu, penduduk di daerah pegunungan hidup terpencar-pencar. Sebagian tinggal di dekat hutan, sebagian lagi menetap di sekitar sungai dan lereng gunung. Karena jarak tempat tinggal yang berjauhan, sering terjadi perselisihan antarwarga. Mereka kerap berebut sumber air, lahan pertanian, maupun hasil hutan.

Akibatnya, kehidupan masyarakat menjadi tidak tenteram. Banyak warga saling bermusuhan dan enggan hidup berdampingan.

Melihat keadaan itu, Kiai Sanggem merasa prihatin. Bersama istrinya, Nyai Sanggem, ia berusaha mendamaikan masyarakat.

Kiai Sanggem kemudian mengundang warga dari berbagai tempat untuk datang berkumpul di rumahnya. Di tempat itu, mereka diajak bermusyawarah dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Sementara itu, Nyai Sanggem dengan sabar menyiapkan makanan dan merawat warga yang sakit ataupun kelelahan.

Lambat laun, hati masyarakat mulai luluh. Warga yang sebelumnya saling bermusuhan akhirnya mau saling memaafkan. Mereka pun mulai hidup rukun dan bekerja bersama-sama.

Dengan semangat kebersamaan, masyarakat membuka lahan pertanian baru, membuat saluran air, dan mendirikan permukiman di daerah pegunungan tersebut. Daerah yang semula sepi perlahan berubah menjadi ramai dan makmur.

Konon, setiap kali Kiai Sanggem mengadakan pertemuan, semakin banyak warga yang datang berkumpul. Tempat itu kemudian dikenal sebagai tempat “membandung,” yang berarti tempat berkumpul, bersatu, dan mempererat persaudaraan.

Dari kata “membandung” itulah, masyarakat percaya muncul nama “Bandungan.”

Selain dikenal sebagai penengah perselisihan, Kiai Sanggem dan Nyai Sanggem juga dipercaya sebagai pelindung kawasan pegunungan tersebut. Berkat kebijaksanaan dan jasa mereka, masyarakat dapat hidup aman, damai, dan tenteram.

Seiring berjalannya waktu, daerah itu berkembang menjadi sebuah perkampungan yang subur dan ramai. Udara pegunungannya yang sejuk membuat banyak orang datang untuk bertani dan menetap di sana.

Hingga kini, nama Bandungan tetap digunakan sebagai nama wilayah, dan kisah Kiai Sanggem serta Nyai Sanggem masih dikenang sebagai bagian dari cerita rakyat masyarakat setempat.

Versi Bahasa Jepang

キアイ・サンゲムとニャイ・サンゲムの伝説

バンドゥンガンの由来

昔々、涼しい山の空気と深い霧に包まれた山あいの地に、一組の夫婦が暮らしていた。夫はキアイ・サンゲム、妻はニャイ・サンゲムと呼ばれていた。二人は知恵深く、心優しく、さらに不思議な力を持つ人物として、人々から深く尊敬されていた。

二人の家は、まだ深い森に覆われた山の斜面に建っていた。村から遠く離れていたにもかかわらず、多くの人々が悩み事を相談するためにその家を訪れていた。

当時、その山岳地帯の人々は、それぞれ離れた場所で暮らしていた。ある者たちは山の斜面に住み、またある者たちは森や川の近くに住んでいた。しかし、互いに離れて暮らしていたため、水や農地、森の恵みをめぐって争いが絶えなかった。

そのせいで、人々は仲良く暮らすことができず、地域には不穏な空気が流れていた。

そんな様子を見たキアイ・サンゲムは深く心を痛めた。そこで彼は、ニャイ・サンゲムと力を合わせ、人々を仲直りさせようと決意した。

キアイ・サンゲムは各地の住民たちを自宅へ招き、皆で話し合う場を作った。彼は人々に争いをやめ、互いに許し合うことの大切さを説いた。

一方、ニャイ・サンゲムは、集まった人々のために食事を用意し、病気の人や疲れた人の世話をしていた。

やがて、二人の優しさと知恵によって、人々の心は少しずつ変わっていった。これまで争っていた者たちも互いに許し合い、一緒に暮らすようになったのである。

その後、人々は力を合わせて新しい畑を切り開き、水路を作り、山あいの地に新しい集落を築いていった。静かだった土地は、次第に活気ある村へと変わっていった。

言い伝えによれば、キアイ・サンゲムが集まりを開くたびに、そこへ来る人々はますます増えていったという。

人々はその場所を、「人々が集まり、心を一つにする場所」という意味を持つ「ムバンドゥン」と呼ぶようになった。

そして、この「ムバンドゥン」という言葉が、現在の「バンドゥンガン」という地名の由来になったと言われている。

また別の言い伝えでは、キアイ・サンゲムとニャイ・サンゲムは、単なる賢者ではなく、その土地を最初に切り開いた開拓者だったとも語られている。

二人は山を守り、人々の平和と安全を見守る存在として、大切に敬われていた。

長い年月が流れるうちに、その土地は豊かでにぎやかな村へと発展していった。涼しい山の気候と肥沃な土地に惹かれ、多くの人々が農業を営むために移り住むようになった。

そして現在でも、「バンドゥンガン」という名前は、その地に受け継がれているのである。

Kiai Sanggem to Nyai Sanggem no Densetsu

Bandungan no Yurai

Mukashi mukashi, suzushii yama no kūki to fukai kiri ni tsutsumareta yamai no chi ni, hitokumi no fūfu ga kurashite ita. Otto wa Kiai Sanggem, tsuma wa Nyai Sanggem to yobarete ita. Futari wa chie bukaku, kokoro yasashiku, sara ni fushigi na chikara o motsu jinbutsu to shite, hitobito kara fukaku sonkei sarete ita.

Futari no ie wa, mada fukai mori ni ōwareta yama no shamen ni tatte ita. Mura kara tōku hanarete ita ni mo kakawarazu, ōku no hitobito ga nayami goto o sōdan suru tame ni sono ie o otozurete ita.

Tōji, sono sangaku chitai no hitobito wa, sorezore hanareta basho de kurashite ita. Aru monotachi wa yama no shamen ni suみ, mata aru monotachi wa mori ya kawa no chikaku ni sunde ita. Shikashi, tagai ni hanarete kurashite ita tame, mizu ya nōchi, mori no megumi o megutte arasoi ga taenakatta.

Sono sei de, hitobito wa nakayoku kurasu koto ga dekizu, chiiki ni wa fuon na kūki ga nagarete ita.

Sonna yōsu o mita Kiai Sanggem wa fukaku kokoro o itameta. Soko de kare wa, Nyai Sanggem to chikara o awase, hitobito o nakanaori saseru koto o ketsui shita.

Kiai Sanggem wa kakuchi no jūmintachi o jitaku e maneki, minna de hanashiau ba o tsukutta. Kare wa hitobito ni arasoi o yame, tagai ni yurushiau koto no taisetsusa o toita.

Ippō, Nyai Sanggem wa, atsumatta hitobito no tame ni shokuji o yōi shi, byōki no hito ya tsukareta hito no sewa o shite ita.

Yagate, futari no yasashisa to chie ni yotte, hitobito no kokoro wa sukoshi zutsu kawatte itta. Kore made arasotte ita monotachi mo tagai ni yurushiai, issho ni kurasu yō ni natta no de aru.

Sono ato, hitobito wa chikara o awasete atarashii hatake o kirihiraki, suiro o tsukuri, yamai no chi ni atarashii shūraku o kizuite itta. Shizuka datta tochi wa, shidai ni kakki aru mura e to kawatte itta.

Iitsutae ni yoreba, Kiai Sanggem ga atsumari o hiraku tabi ni, soko e kuru hitobito wa masumasu fuete itta to iu.

Hitobito wa sono basho o, “hitobito ga atsumari, kokoro o hitotsu ni suru basho” to iu imi o motsu “Mubandun” to yobu yō ni natta.

Soshite, kono “Mubandun” to iu kotoba ga, genzai no “Bandungan” to iu chimei no yurai ni natta to iwarete iru.

Mata betsu no iitsutae de wa, Kiai Sanggem to Nyai Sanggem wa, tan naru kenja de wa naku, sono tochi o saisho ni kirihiraita kaitakusha datta tomo katararete iru.

Futari wa yama o mamori, hitobito no heiwa to anzen o mimamoru sonzai to shite, taisetsu ni uyamawarete ita.

Nagai toshitsuki ga nagareru uchi ni, sono tochi wa yutaka de nigiyaka na mura e to hatten shite itta. Suzushii yama no kikō to hiyokuna tochi ni hikare, ōku no hitobito ga nōgyō o itonamu tame ni utsurisumu yō ni natta.

Soshite genzai demo, “Bandungan” to iu namae wa, sono chi ni uketsugarete iru no de aru.

 

Versi Bahasa Inggris

The Legend of Kiai Sanggem and Nyai Sanggem

The Origin of Bandungan

Long ago, in a cool mountainous region covered with thick mist and dense forests, lived a respected husband and wife named Kiai Sanggem and Nyai Sanggem. They were known as wise, humble, and kind-hearted people. Many believed that they also possessed great knowledge and spiritual powers.

Their home stood on the slope of a mountain, far from the crowded settlements. Even so, many people came to visit them to seek advice, help, and guidance.

At that time, the people living in the mountain region were scattered in different places. Some lived near the forests, while others stayed close to rivers and hillsides. Because they lived far apart, disputes often arose among them. They fought over water sources, farmland, and forest resources.

As a result, the people could not live peacefully, and hostility spread throughout the region.

Seeing the conflict among the villagers, Kiai Sanggem felt deeply saddened. Together with Nyai Sanggem, he decided to help unite the people and bring peace to the area.

Kiai Sanggem began inviting villagers from different places to gather at his home. There, he encouraged them to discuss their problems calmly and forgive one another. Meanwhile, Nyai Sanggem prepared food for the guests and cared for the sick and weary people who came to visit.

Little by little, the hearts of the villagers began to change. People who had once been enemies finally reconciled and started living side by side in harmony.

Together, they cleared new farmland, built irrigation channels, and established new settlements in the mountainous area. The once quiet land slowly grew into a lively and prosperous village.

According to local legend, every time Kiai Sanggem held a gathering, more and more people came together. Eventually, the place became known as a place for “membandung,” which means gathering together, uniting, and strengthening brotherhood.

From the word “membandung,” people believe the name “Bandungan” was born.

Another version of the story says that Kiai Sanggem and Nyai Sanggem were not merely wise elders, but also the pioneers who first opened and developed the region. They were regarded as protectors of the mountains who maintained peace and harmony among the people.

Because of their great service and wisdom, their names continued to be remembered in the folklore of the Bandungan community.

As time passed, the area developed into a fertile and bustling settlement. The cool mountain air and rich soil attracted many people to come, farm, and settle there.

Until today, the name Bandungan remains the name of the region, preserving the memory of Kiai Sanggem and Nyai Sanggem for generations to come.


Versi Bahasa Jawa

Legenda Kiai Sanggem lan Nyai Sanggem

Asal-Usul Bandungan

Mbiyen banget, ing sawijining dhaerah pegunungan sing hawane adhem lan kebak kabut kandel, urip pasangan bojo sing banget diajeni masyarakat. Jenenge Kiai Sanggem lan Nyai Sanggem. Wong loro kuwi dikenal wicaksana, andhap asor, lan seneng nulungi wong liya. Kajaba kuwi, dheweke uga dipercaya nduweni ilmu lan kasekten sing dhuwur.

Omahe ana ing lereng gunung sing isih kebak alas lebat. Senajan adoh saka keramaian, akeh wong teka kanggo njaluk pitutur lan tulung marang dheweke.

Nalika semana, warga ing dhaerah pegunungan kuwi urip kapisah-pisah. Ana sing manggon cedhak alas, ana uga sing manggon ing pinggir kali lan lereng gunung. Amarga papan panggonane adoh-adoh, warga kerep padha padudon rebutan banyu, sawah, lan asil alas.

Akibate, urip masyarakat dadi ora tentrem. Akeh warga padha memungsuhan lan ora gelem urip rukun.

Weruh kahanan kuwi, Kiai Sanggem ngrasa prihatin banget. Bareng karo Nyai Sanggem, dheweke banjur ngupaya ndamaikake warga supaya bisa urip guyub maneh.

Kiai Sanggem banjur ngundang warga saka maneka panggonan supaya padha kumpul ing omahe. Ing kana, warga diajak rembugan kanthi becik lan diwulang supaya padha gelem ngapura siji lan sijine. Dene Nyai Sanggem nyiapake panganan kanggo tamu-tamu lan nambani wong sing lara utawa kesel.

Suwe-suwe, ati warga wiwit owah. Wong-wong sing biyen padha musuhan pungkasane gelem rukun lan urip bebarengan.

Kanthi semangat gotong royong, warga banjur mbukak lahan tetanen anyar, nggawe saluran banyu, lan mbangun pemukiman anyar ing dhaerah pegunungan kuwi. Dhaerah sing biyen sepi alon-alon dadi rame lan makmur.

Miturut crita turun-temurun, saben Kiai Sanggem nganakake kumpulan, wong sing teka saya tambah akeh. Panggonan kuwi banjur dikenal minangka papan “membandung,” yaiku papan kanggo kumpul, nyawiji, lan nguwatake paseduluran.

Saka tembung “membandung” kuwi, masyarakat percaya yen jeneng “Bandungan” asalé saka kana.

Ana uga crita liyane sing nyebutake yen Kiai Sanggem lan Nyai Sanggem dudu mung wong sepuh biasa, nanging wong sing pisanan mbukak dhaerah kuwi. Dheweke dipercaya dadi penjaga pegunungan lan pelindung masyarakat supaya tetep tentrem lan aman.

Amarga jasa lan kawicaksanane gedhe banget, jenenge tetep dieling-eling lan diwarisake ing crita rakyat masyarakat Bandungan nganti saiki.

Suwe-suwe, dhaerah kuwi berkembang dadi perkampungan sing subur lan rame. Hawane gunung sing adhem lan lemahe sing subur nggawe akeh wong kepengin teka kanggo tetanen lan manggon ana kana.

Nganti saiki, jeneng Bandungan isih digunakake minangka jeneng dhaerah kasebut lan dadi pangeling marang jasa Kiai Sanggem lan Nyai Sanggem.

Legenda Malin Kundang

Nama: Aditya Irawan
NIM: 091241004

Dahulu kala, di sebuah desa nelayan di pesisir Sumatera Barat, hiduplah seorang janda miskin bernama Mande Rubayah bersama putra semata wayangnya, Malin Kundang. Kehidupan mereka sangat sederhana. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Mande Rubayah bekerja keras seorang diri. Meski hidup dalam kekurangan, ibu dan anak itu saling menyayangi dengan sepenuh hati.

Malin Kundang tumbuh menjadi anak yang rajin, kuat, dan patuh kepada ibunya. Sejak kecil, ia sudah terbiasa membantu ibunya mencari nafkah. Namun, semakin dewasa, Malin merasa sedih melihat ibunya terus bekerja keras demi dirinya.

Suatu hari, sebuah kapal dagang besar berlabuh di dekat desa mereka. Malin pun berniat merantau ke negeri seberang untuk mengubah nasib.

“Ibu, izinkan Malin pergi merantau. Malin ingin menjadi orang sukses agar bisa membahagiakan Ibu,” kata Malin.

Mendengar keinginan anaknya, hati Mande Rubayah terasa berat. Namun demi masa depan Malin, akhirnya ia mengizinkan.

“Hati-hatilah di perantauan, Nak. Jangan pernah lupakan ibumu,” pesan Mande Rubayah sambil menahan air mata.

Malin pun berangkat menumpang kapal dagang. Sejak saat itu, Mande Rubayah selalu menunggu kepulangan anaknya di tepi pantai.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Namun, Malin Kundang tak pernah kembali dan tak pernah mengirim kabar. Meski demikian, Mande Rubayah tidak pernah berhenti berdoa agar anaknya selamat dan suatu hari pulang menemuinya.

Hingga pada suatu hari, sebuah kapal besar dan mewah datang berlabuh di dermaga desa. Penduduk desa berbondong-bondong datang untuk melihat kapal tersebut. Mereka kagum melihat kemegahan kapal dan para awaknya yang berpakaian indah.

Di atas kapal itu berdirilah seorang pria muda berpakaian mewah bersama seorang wanita cantik. Betapa terkejutnya Mande Rubayah ketika menyadari bahwa pria itu adalah Malin Kundang, anaknya yang telah lama pergi merantau.

Dengan penuh haru, Mande Rubayah segera berlari menghampiri Malin.

“Malin, anakku! Akhirnya engkau pulang juga,” ucapnya sambil memeluk anaknya erat-erat.

Namun, Malin Kundang justru merasa malu melihat ibunya yang sudah tua, berpakaian lusuh, dan tubuhnya mulai bungkuk. Ia takut istrinya mengetahui bahwa wanita miskin itu adalah ibunya.

Dengan kasar, Malin mendorong Mande Rubayah hingga terjatuh ke tanah.

“Perempuan tua! Aku bukan anakmu!” bentak Malin. “Ibuku tidak mungkin berpakaian kumal seperti engkau!”

Mendengar ucapan itu, hati Mande Rubayah hancur berkeping-keping. Ia tidak menyangka anak yang selama ini dirindukan tega mengingkari dirinya sendiri.

Dengan tubuh gemetar dan air mata bercucuran, Mande Rubayah menengadah ke langit sambil berdoa.

“Ya Tuhan, jika benar dia anakku, hukumlah dia atas kedurhakaannya!”

Tak lama kemudian, langit yang semula cerah mendadak berubah gelap. Angin bertiup sangat kencang disertai petir yang menggelegar. Ombak besar menghantam kapal Malin Kundang.

Malin pun ketakutan. Ia berusaha meminta ampun kepada ibunya, tetapi semuanya sudah terlambat. Kilat menyambar tubuhnya, dan perlahan-lahan tubuh Malin Kundang berubah menjadi batu dalam posisi bersujud.

Badai pun mereda. Kapal megah itu hancur tenggelam di lautan.

Konon, batu yang menyerupai sosok manusia bersujud itu masih dapat ditemukan di Pantai Air Manis, Sumatera Barat, sebagai pengingat agar seorang anak tidak durhaka kepada orang tuanya.

 

Versi Bahasa Jepang

マリン・クンダンの伝説

昔々、西スマトラの海辺にある小さな漁村に、マンデ・ルバヤという貧しい未亡人と、その一人息子のマリン・クンダンが暮らしていた。二人の生活はとても質素だったが、母と子は深く愛し合い、支え合って生きていた。

マリン・クンダンは勤勉で力強く、母思いの少年だった。幼い頃から、彼は母の仕事を手伝いながら育った。しかし成長するにつれ、母が苦労し続ける姿を見るのが辛くなった。

ある日、大きな商船が村の港に立ち寄った。マリンはその船を見て、遠い国へ渡り、成功して母を幸せにしたいと考えるようになった。

「お母さん、僕は旅に出て立派な人間になります。そして、必ずお母さんを幸せにします。」

そう言って、マリンは母に別れを告げた。

マンデ・ルバヤは涙をこらえながら言った。

「どうか元気でいておくれ。どんな時でも、お母さんのことを忘れないで。」

こうしてマリン・クンダンは商船に乗り、遠い土地へ旅立っていった。

それから長い年月が流れた。マリンからの便りは一度も届かなかった。それでもマンデ・ルバヤは毎日のように海岸へ行き、息子の無事と帰郷を祈り続けていた。

ある日、村の港に豪華で大きな船がやって来た。村人たちは、その立派な船を一目見ようと港へ集まった。

船の上には、豪華な服を着た若い男性と、美しい女性が立っていた。

マンデ・ルバヤは、その男性を見た瞬間、彼が自分の息子マリン・クンダンだと気づいた。

母は喜びのあまり、急いで駆け寄り、涙を流しながら息子を抱きしめた。

「マリン、やっと帰ってきてくれたのね!」

しかし、マリン・クンダンは、年老いて服もぼろぼろになった母の姿を見て恥ずかしく感じた。彼は裕福な妻の前で、自分の母が貧しい女性だと知られることを恐れたのである。

するとマリンは、母を乱暴に突き放して叫んだ。

「お前は誰だ! 俺の母親が、こんなみすぼらしい姿のはずがない!」

その言葉を聞いたマンデ・ルバヤの心は、深く傷ついた。長い年月、息子を信じて待ち続けてきた母にとって、それはあまりにも悲しい仕打ちだった。

彼女は地面にひざまずき、涙を流しながら天に祈った。

「神様、もしあの人が本当に私の息子なら、その親不孝をお裁きください。」

すると突然、それまで晴れていた空が暗くなり、激しい嵐が海を襲った。大きな波が船を激しく揺らし、雷が鳴り響いた。

恐怖に震えたマリンは、母に許しを請おうとした。しかし、すべてはもう遅かった。

激しい雷鳴とともに、マリン・クンダンの体は次第に硬くなり、やがて両手を合わせて許しを乞う姿のまま石へと変わってしまった。

嵐が去った後、船は海の中へ沈んでいった。

今でも、西スマトラのアイル・マニス海岸には、ひざまずいた人の姿に似た石が残っていると言われている。それは、親に背いた者への戒めとして、今なお語り継がれているのである。

Marin Kundan no Densetsu 

Mukashi mukashi, Nishi Sumatora no umibe ni aru chiisana gyoson ni, Mande Rubaya to iu mazushii mibōjin to, sono hitori musuko no Marin Kundan ga kurashite ita. Futari no seikatsu wa totemo shisso datta ga, haha to ko wa fukaku aishiai, sasaeatte ikite ita.

Marin Kundan wa kinben de chikara tsuyoku, haha omoi no shōnen datta. Osanai koro kara, kare wa haha no shigoto o tetsudainagara sodatta. Shikashi seichō suru ni tsure, haha ga kurō shi tsudzukeru sugata o miru no ga tsuraku natta.

Aru hi, ōkina shōsen ga mura no minato ni tachiyotta. Marin wa sono fune o mite, tōi kuni e watari, seikō shite haha o shiawase ni shitai to kangaeru yō ni natta.

“Okaasan, boku wa tabi ni dete rippa na ningen ni narimasu. Soshite, kanarazu okaasan o shiawase ni shimasu.”

Sō itte, Marin wa haha ni wakare o tsugeta.

Mande Rubaya wa namida o koraenagara itta.

“Dōka genki de ite okure. Donna toki demo, okaasan no koto o wasurenaide.”

Kōshite Marin Kundan wa shōsen ni nori, tōi tochi e tabidatte itta.

Sore kara nagai toshitsuki ga nagareta. Marin kara no tayori wa ichido mo todokanakatta. Soredemo Mande Rubaya wa mainichi no yō ni kaigan e iki, musuko no buji to kikyō o inori tsudzukete ita.

Aru hi, mura no minato ni gōka de ōkina fune ga yatte kita. Murabito-tachi wa, sono rippa na fune o hitome miyō to minato e atsumatta.

Fune no ue ni wa, gōka na fuku o kita wakai dansei to, utsukushii josei ga tatte ita.

Mande Rubaya wa, sono dansei o mita shunkan, kare ga jibun no musuko Marin Kundan da to kizuita.

Haha wa yorokobi no amari, isoide kakeyori, namida o nagashinagara musuko o dakishimeta.

“Marin, yatto kaette kite kureta no ne!”

Shikashi, Marin Kundan wa, toshi o tori fuku mo boroboro ni natta haha no sugata o mite hazukashiku kanjita. Kare wa yūfuku na tsuma no mae de, jibun no haha ga mazushii josei da to shirareru koto o osoreta no de aru.

Suruto Marin wa, haha o ranbō ni tsukihanashite sakenda.

“Omae wa dare da! Ore no hahaoya ga, konna misuborashii sugata no hazu ga nai!”

Sono kotoba o kiita Mande Rubaya no kokoro wa, fukaku kizutsuita. Nagai toshitsuki, musuko o shinjite machi tsudzukete kita haha ni totte, sore wa amarini mo kanashii shiuchi datta.

Kanojo wa jimen ni hizamazuki, namida o nagashinagara ten ni inotta.

“Kamisama, moshi ano hito ga hontō ni watashi no musuko nara, sono oyafukō o osabaki kudasai.”

Suruto totsuzen, sore made harete ita sora ga kuraku nari, hageshii arashi ga umi o osotta. Ōkina nami ga fune o hageshiku yusaburi, kaminari ga narihibiita.

Kyōfu ni furuita Marin wa, haha ni yurushi o koō to shita. Shikashi, subete wa mō osokatta.

Hageshii raimei to tomo ni, Marin Kundan no karada wa shidai ni kataku nari, yagate ryōte o awasete yurushi o kou sugata no mama ishi e to kawatte shimatta.

Arashi ga satta ato, fune wa umi no naka e shizunde itta.

Ima demo, Nishi Sumatora no Airu Manisu kaigan ni wa, hizamazuita hito no sugata ni nita ishi ga nokotte iru to iwarete iru. Sore wa, oya ni somuita mono e no imashime to shite, ima nao kataritsugarete iru no de aru.

 

Versi Bahasa Inggris 

The Legend of Malin Kundang

Long ago, in a small fishing village on the coast of West Sumatra, lived a poor widow named Mande Rubayah and her only son, Malin Kundang. Although they lived in poverty, they loved each other deeply and always supported one another.

Malin Kundang was a diligent, strong, and kind-hearted boy. Since childhood, he had helped his mother work hard to earn a living. As he grew older, however, he became saddened by the sight of his mother struggling every day.

One day, a large merchant ship arrived at the village harbor. Seeing the ship inspired Malin to travel across the seas, become successful, and change their fate.

“Mother,” said Malin, “please allow me to go abroad. I want to become a successful man and make you happy someday.”

Hearing her son’s wish, Mande Rubayah felt both proud and sorrowful. Even so, she finally gave him permission to leave.

“Take care of yourself, my son,” she said with tears in her eyes. “And never forget your mother.”

Malin then boarded the merchant ship and sailed away to a distant land.

Years passed without any news from him. Still, every day Mande Rubayah waited faithfully on the shore, praying for her son’s safety and hoping he would one day return home.

At last, one bright morning, a magnificent ship anchored near the village harbor. The villagers gathered in amazement to see the luxurious vessel and its finely dressed passengers.

Standing proudly on the deck was a wealthy young man accompanied by a beautiful woman. To Mande Rubayah’s surprise, the man was none other than Malin Kundang, who had now become rich and successful.

Filled with overwhelming joy, Mande Rubayah rushed toward him and embraced him tightly.

“Malin, my son! You have finally come home!” she cried happily.

But Malin Kundang felt ashamed when he saw his mother’s old clothes and frail appearance. Afraid that his elegant wife would discover that the poor old woman was his mother, he pushed her away roughly.

“Who are you?” Malin shouted angrily. “My mother could never look this poor and dirty!”

Those cruel words shattered Mande Rubayah’s heart. She could hardly believe that the son she had loved and waited for so long would deny her in front of everyone.

Trembling with grief, she knelt on the ground and raised her hands to the sky.

“O God, if he truly is my son, then punish him for his disobedience!”

Suddenly, the clear sky turned dark. Thunder roared across the sea, and a violent storm struck Malin’s ship. Giant waves crashed against the vessel as lightning flashed fiercely.

Terrified, Malin realized his mistake and tried to beg his mother for forgiveness. But it was already too late.

A bolt of lightning struck him, and slowly his body turned stiff and hard. In an instant, Malin Kundang transformed into stone while kneeling in repentance.

Soon after, the storm calmed, and the great ship sank beneath the sea.

To this day, people believe that the stone resembling a kneeling man can still be found at Air Manis Beach in West Sumatra, serving as a reminder that children must always honor and respect their parents.

Versi Bahasa Jawa

Legenda Malin Kundang 

Mbiyen banget, ana sawijining desa nelayan ing pesisir Sumatra Kulon. Ing desa kuwi urip randha miskin aran Mande Rubayah bebarengan karo anak lanang siji-sijine, yaiku Malin Kundang. Uripe prasaja lan kebak kekurangan, nanging ibu lan anak kuwi padha tresna-tinresnan lan saling ngopeni.

Malin Kundang tuwuh dadi bocah sing sregep, kuwat, lan manut marang ibune. Wiwit cilik, dheweke wis biyasa mbantu ibune golek nafkah. Nanging saya gedhe, Malin rumangsa sedhih weruh ibune terus rekasa saben dina.

Ing sawijining dina, ana kapal dagang gedhe mampir ing pelabuhan desa. Malin banjur nduweni kepinginan lunga merantau menyang nagara adoh supaya bisa sukses lan ngowahi nasibe.

“Buk, aku pengin lunga merantau. Aku arep dadi wong sukses supaya isa nggawe Ibu urip seneng,” kandhane Malin.

Krungu kekarepane anak, Mande Rubayah ngrasa abot banget ing ati. Nanging demi masa depan anaké, pungkasane dheweke ngidini Malin lunga.

“Sing ati-ati ing perantauan, Le. Lan aja nganti lali karo ibumu,” pesene Mande Rubayah karo nahan tangis.

Malin banjur mangkat numpak kapal dagang menyang tanah sebrang.

Wektu terus mlaku. Dina ganti minggu, minggu ganti taun. Nanging Malin ora tau ngirim kabar lan ora tau bali menyang desa. Senajan mangkono, saben dina Mande Rubayah tansah teka ing pinggir segara, ndedonga supaya anaké slamet lan bisa bali maneh.

Nganti ing sawijining esuk, ana kapal gedhe lan mewah teka ing pelabuhan desa. Warga padha nglumpuk amarga kagum weruh kapal sing apik banget kuwi.

Ing ndhuwur kapal katon sawijining nom-noman sugih nganggo sandhangan mewah bareng karo garwane sing ayu rupane. Mande Rubayah langsung kaget lan ngerti yen nom-noman kuwi yaiku Malin Kundang, anaké sing wis suwe lunga merantau.

Kanthi ati bungah, Mande Rubayah mlayu nyedhaki anaké lan langsung ngrangkul dheweke.

“Malin, anakku! Akhire kowe bali uga!” ujare karo nangis bahagia.

Nanging Malin Kundang malah ngrasa isin weruh ibune sing wis tuwa, nganggo klambi lusuh, lan awaké wis ringkih. Dheweke wedi yen bojone ngerti yen wanita miskin kuwi ibune dhewe.

Kanthi kasar, Malin nyurung ibune nganti tiba.

“Sapa kowe? Aku dudu anakmu!” bentake Malin. “Ibuku ora mungkin katon mlarat lan kumuh kaya ngene!”

Krungu omongan kuwi, atine Mande Rubayah remuk banget. Dheweke ora nyangka anak sing wis ditresnani lan ditunggu-tunggu pirang-pirang taun malah tega nyingkirake ibune dhewe.

Kanthi awak gemeter lan luh deres mili, Mande Rubayah banjur sujud lan ndedonga marang Gusti Allah.

“Ya Gusti, yen pancen dheweke anakku, paringana paukuman amarga kedurhakaane!”

Saknalika langit sing mau padhang dadi peteng. Angin gedhe lan badai teka ngguncang segara. Ombak gedhe ngantem kapal Malin, lan gludhug muni banter banget.

Malin Kundang banjur wedi lan nyoba njaluk pangapura marang ibune. Nanging kabeh wis kasep.

Kilat nyamber awaké Malin Kundang. Alon-alon awaké dadi atos lan pungkasane malih dadi watu nalika lagi sujud njaluk pangapura.

Sawise badai reda, kapal gedhe kuwi klelep ing tengah segara.

Nganti saiki, miturut crita sing diwarisake turun-temurun, watu sing mirip wong lagi sujud isih ana ing Pantai Air Manis, Sumatra Kulon. Watu kuwi dadi pangeling supaya saben anak tansah ngajeni lan ngabekti marang wong tuwane.

Milikku

Nama      :Wulan Dwi Liestya Ayuningtyas NIM           : 094231022  Sejak duduk di bangku kelas satu SMA, aku mulai menyadari bahwa ada sesu...