Jumat, 20 Februari 2026

Ramadan di Ungaran, Sendiri

Di kaki sunyi Gunung Ungaran

angin turun pelan membawa bau tanah basah,

menyentuh atap-atap rumah di Ungaran

yang lebih cepat gelap saat azan menetes di langit.

Aku berbuka dengan bayanganku sendiri,

piring dan gelas seperti dua saksi

yang tak banyak bicara.

Suara takbir dari kejauhan bergetar lembut,

menyusuri jalan-jalan kecil di Kabupaten Semarang,

lalu hilang di tikungan yang sepi.

 

Tak ada tawa keluarga,

tak ada rebutan kurma atau cerita hari ini.

Hanya jam dinding dan detaknya

yang seperti menghitung rindu.

 

Di masjid, saf-saf terisi doa,

sementara aku pulang lebih awal,

membawa lengang di saku baju.

Lampu-lampu temaram seperti bintang rendah

yang enggan menyentuh hatiku.

 

Namun Ramadan tak pernah benar-benar sepi.

Di antara sunyi, ada bisik yang setia—

seperti embun yang jatuh tanpa suara,

seperti napas yang tetap ada

meski tak terdengar siapa-siapa.

 

Malam merambat pelan di lereng Ungaran,

dan aku belajar

bahwa sendirian bukan berarti hilang—

hanya cara lain

untuk mendengar Tuhan

lebih dekat dari biasanya.

Ramadan ing Ungaran, Dhewekan

Ing sikilé Gunung Ungaran
angin wengi mudhun alon, nggawa ambu lemah teles,
ngusap genteng-genteng omah ing Ungaran
nalika swara azan mili ing langit sing saya peteng.

Aku mbukak pasa karo bayanganku dhewe,
piring lan gelas dadi seksi bisu,
ora akeh omong.
Swara takbir saka kadohan nggegirisi alus,
nyusur dalan-dalan cilik ing Kabupaten Semarang,
banjur ilang ing pojok sing sepi.

Ora ana guyu kulawarga,
ora ana rebutan kurma utawa crita dina iki.
Mung jam tembok lan detake
kaya ngetung rasa kangen.

Ing masjid, saf kebak pandonga,
dene aku mulih luwih dhisik,
nggawa sepi ing kanthong klambi.
Lampu-lampu surem kaya lintang andhap
sing ora gelem nyedhak ing ati.

Nanging Ramadan ora nate temen-temen sepi.
Ing sela-sela sunyi ana bisik kang setya,
kaya embun tumiba tanpa swara,
kaya ambegan sing tansah ana
sanajan ora dirungu sapa-sapa.

Wengi alon-alon nglimputi lereng Ungaran,
lan aku sinau,
yen dhewekan dudu ateges ilang—
mung cara liya
kanggo ngrungu Gusti
luwih cedhak tinimbang biasa.

ウンガランのラマダン、ひとり

ウンガラン山の麓で、
夜風がそっと降りてくる。
湿った土の匂いを運びながら、
Ungaranの屋根を静かに撫でていく。
アザーンの声が空に溶けるころ、
町はいつもより早く闇に包まれる。

わたしは影と向かい合い、
ひとりで断食を解く。
皿とコップは無言の証人のように、
ただそこにあるだけ。
遠くから響くタクビールは、
スマラン県の細い道を伝い、
やがて静けさの角に消えていく。

家族の笑い声はない。
ナツメヤシを分け合う手も、
今日を語り合うぬくもりもない。
壁の時計の鼓動だけが、
胸の寂しさを数えている。

モスクでは祈りの列が整い、
けれどわたしは早めに帰る。
ポケットに静寂を忍ばせて。
淡い灯りは低い星のように、
心に触れず揺れている。

それでもラマダンは、
決して本当の孤独ではない。
沈黙の奥には、
そっと寄り添う囁きがある。
音もなく落ちる露のように、
誰にも聞こえぬ呼吸のように。

ウンガランの斜面を夜が包みこみ、
わたしは知る。
ひとりでいることは、
消えることではないと。
それはただ、
神の声を
いつもより近くで聴くための
静かな道なのだ。

 

Ungaran no Ramadan, Hitori

 

Ungaran san no fumoto de,

yokaze ga sotto orite kuru.

Shimetta tsuchi no nioi o hakobinagara,

Ungaran no yane o shizuka ni nadete iku.

Azaan no koe ga sora ni tokeru koro,

machi wa itsumo yori hayaku yami ni tsutsumareru.

 

Watashi wa kage to mukaiai,

hitori de danjiki o toku.

Sara to koppu wa mugon no shounin no you ni,

tada soko ni aru dake.

Tooku kara hibiku takubīru wa,

Sumaran-ken no hosoi michi o tsutai,

yagate shizukesa no kado ni kiete iku.

 

Kazoku no waraigoe wa nai.

Natsumeyashi o wakeau te mo,

kyou o katariau nukumori mo nai.

Kabe no tokei no kodou dake ga,

mune no sabishisa o kazoete iru.

 

Mosuku de wa inori no retsu ga totonoi,

keredo watashi wa hayame ni kaeru.

Poketto ni seijaku o shinobasete.

Awai akari wa hikui hoshi no you ni,

kokoro ni furezu yurete iru.

 

Soredemo Ramadan wa,

kesshite hontou no kodoku de wa nai.

Chinmoku no oku ni wa,

sotto yorisou sasayaki ga aru.

Oto mo naku ochiru tsuyu no you ni,

dare ni mo kikoenu kokyuu no you ni.

 

Ungaran no shamen o yoru ga tsutsumikomi,

watashi wa shiru.

Hitori de iru koto wa,

kieru koto de wa nai to.

Sore wa tada,

Kami no koe o

itsumo yori chikaku de kiku tame no

shizuka na michi na no da.

 

Ramadan in Ungaran, Alone

At the foot of Mount Ungaran

the night wind descends in silence,
carrying the scent of damp earth
across the rooftops of Ungaran.
When the adhan dissolves into the darkening sky,
evening falls more quickly than usual.

I break my fast with only my shadow beside me.
A plate and a glass
stand as quiet witnesses
to a meal without conversation.
From afar, the echo of takbir trembles softly,
slipping through narrow roads in Semarang Regency,
before fading at a silent corner.

There is no laughter of family,
no hands reaching for shared dates,
no gentle retelling of the day.
Only the ticking wall clock
counting the rhythm of longing.

At the mosque, rows of prayer are filled,
while I return home early,
carrying stillness in my pocket.
Dim lights hang like low stars,
hesitant to touch my heart.

Yet Ramadan is never truly empty.
Within the hush, a faithful whisper remains—
like dew falling without a sound,
like breath that endures
even when no one hears it.

Night slowly wraps the slopes of Ungaran,
and I begin to understand:
to be alone
is not to disappear.
It is another way
to hear God
closer than ever before.

 

Bayangan di Balik Kaca Cimory Bawen

 Malam itu kabut turun lebih cepat dari biasanya di kawasan perbukitan Bawen. Lampu-lampu di area Cimory Bawen masih menyala hangat, memantul pada dinding kaca restoran yang luas. Tempat itu siang hari selalu ramai—anak-anak tertawa, keluarga berfoto, aroma susu dan roti memenuhi udara. Namun ketika jam operasional usai dan gerbang ditutup, suasananya berubah drastis.

Raka, salah satu pegawai shift malam, sedang bertugas merapikan area kafe. Ia sudah terbiasa dengan suasana sepi dan suara angin yang menyapu pelataran parkir. Tapi malam itu ada yang berbeda. Dari pantulan kaca besar di dekat tangga, ia melihat sosok kecil berdiri di belakangnya.

Awalnya ia mengira itu hanya pantulan boneka pajangan. Namun ketika ia menoleh, tak ada apa-apa di sana. Saat kembali menatap kaca, sosok itu masih berdiri—seorang anak perempuan bergaun putih susu, rambutnya panjang menutupi sebagian wajah, menatap lurus ke arahnya.

Lampu tiba-tiba berkedip.

Raka memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. “Cuma capek,” gumamnya. Tapi ketika ia membuka mata, sosok itu kini lebih dekat. Pantulannya tidak mengikuti gerakan ruang nyata—ia berdiri sendiri, tidak terikat pada dunia di belakang kaca.

Terdengar suara tawa pelan. Bukan dari luar. Bukan dari dalam ruangan. Seperti berasal dari sela-sela dinding.

Keesokan harinya, video rekaman CCTV beredar di media sosial dan menjadi viral. Dalam rekaman itu terlihat jelas: Raka berdiri sendirian di ruangan. Namun pada pantulan kaca, tampak bayangan anak kecil berjalan perlahan mendekatinya. Anehnya, tidak ada wujud fisik di area sebenarnya—hanya di pantulan.

Warga sekitar mulai bercerita. Konon, sebelum kawasan itu ramai, dulu ada jalan lama yang sering dilalui kendaraan berat. Pernah terjadi kecelakaan tragis yang melibatkan satu keluarga kecil. Sejak saat itu, beberapa penjaga malam mengaku sering melihat sosok anak kecil bermain di sekitar kaca atau jendela.

Beberapa hari setelah video viral, Raka mengundurkan diri. Ia tak banyak bicara, hanya mengatakan satu hal pada temannya:

“Kalau kau melihatnya di kaca… jangan menoleh. Dia tidak suka diabaikan.”

Sejak itu, setiap malam berkabut, beberapa pengunjung yang makan hingga menjelang tutup mengaku melihat bayangan kecil berdiri di luar jendela, padahal area sudah kosong.

Dan yang paling aneh—bayangan itu tidak pernah terlihat langsung.

Hanya di balik kaca.

Versi Bahasa Jepamg

 チモリー・バウェンのガラスの向こうの影

その夜、バウェンの丘陵地帯にはいつもより早く霧が立ちこめた。チモリー・バウェンのエリアでは、まだ温かな灯りが灯り、大きなレストランのガラス壁に反射していた。昼間はいつも賑やかで、子どもたちの笑い声が響き、家族連れが写真を撮り、ミルクやパンの甘い香りが漂っている。しかし営業時間が終わり、門が閉まると、雰囲気は一変する。

夜勤の従業員の一人、ラカはカフェの片付けをしていた。静まり返った空間や、駐車場を吹き抜ける風の音には慣れているはずだった。だが、その夜は何かが違った。階段近くの大きなガラスの反射の中に、自分の背後に立つ小さな人影が見えたのだ。

最初は飾りの人形の映り込みだと思った。しかし振り向いても、そこには何もなかった。再びガラスを見ると、その姿はまだそこにいる。白いミルク色のワンピースを着た少女。長い髪が顔の半分を覆い、まっすぐにラカを見つめていた。

突然、照明が点滅した。

ラカは目を閉じ、自分を落ち着かせようとした。「疲れているだけだ」とつぶやく。だが目を開けると、少女の姿はさらに近づいていた。しかも、その反射は現実の動きと一致していない。まるでガラスの向こう側に、別の世界があるかのようだった。

かすかな笑い声が聞こえた。外からでも、室内からでもない。壁の隙間から響いてくるような、不気味な声だった。

翌日、防犯カメラの映像がSNSで拡散され、瞬く間に話題となった。映像には、ラカが一人で立っている姿がはっきり映っている。しかしガラスの反射の中には、小さな子どもの影がゆっくりと近づいてくる様子が映っていた。不思議なことに、実際の空間には何も存在していない。影はただ、ガラスの中にだけ現れていた。

地元の人々は語り始めた。かつてこの場所が賑わう前、そこには古い道路があり、大型車が頻繁に通っていたという。ある日、小さな家族が巻き込まれる悲惨な事故が起きた。それ以来、夜勤の警備員の中には、窓やガラスの近くで遊ぶ少女の姿を見たと証言する者もいる。

動画が拡散してから数日後、ラカは退職した。彼は多くを語らなかったが、友人にこう言い残した。

「もしガラスの中に彼女を見たら……振り向くな。無視されるのが嫌いなんだ。」

それ以来、霧の深い夜、閉店間際まで食事をしている客の中には、外の窓辺に小さな影が立っているのを見たという者がいる。しかし外はすでに無人である。

そして最も奇妙なのは――
その影は、決して直接は見えないということだ。

ただ、ガラスの向こう側にだけ現れる。

“Chimorī Bawen no Garasu no Mukō no Kage”

Sono yoru, Bawen no kyūryō chitai ni wa itsumo yori hayaku kiri ga tachikometa. Chimorī Bawen no eria de wa, mada atataka na akari ga tomori, ōkina resutoran no garasu kabe ni hansha shite ita. Hiru ma wa itsumo nigiyaka de, kodomotachi no waraigoe ga hibiki, kazoku zure ga shashin o tori, miruku ya pan no amai kaori ga tadayotte iru. Shikashi eigyō jikan ga owari, mon ga shimaruto, fun’iki wa ippen suru.

Yakin no jūgyōin no hitori, Raka wa kafe no katadzuke o shite ita. Shizumari kaetta kūkan ya, chūshajō o fukinukeru kaze no oto ni wa narete iru hazu datta. Daga, sono yoru wa nanika ga chigatta. Kaidan chikaku no ōkina garasu no hansha no naka ni, jibun no haigo ni tatsu chiisana hitokage ga mieta no da.

Saisho wa kazari no ningyō no utsurikomi da to omotta. Shikashi furimuite mo, soko ni wa nani mo nakatta. Futatabi garasu o miru to, sono sugata wa mada soko ni iru. Shiroi miruku iro no wanpīsu o kita shōjo. Nagai kami ga kao no hanbun o ōi, massugu ni Raka o mitsumete ita.

Totsuzen, shōmei ga tenmetsu shita.

Raka wa me o tojite, jibun o ochitsukaseyō to shita. “Tsukarete iru dake da,” to tsubuyaku. Daga me o akeru to, shōjo no sugata wa sara ni chikazuite ita. Shikamo, sono hansha wa genjitsu no ugoki to icchi shite inai. Marude garasu no mukōgawa ni, betsu no sekai ga aru ka no yō datta.

Kasuka na waraigoe ga kikoeta. Soto kara demo, shitsunai kara demo nai. Kabe no sukima kara hibīte kuru yō na, bukimi na koe datta.

Yokujitsu, bōhan kamera no eizō ga SNS de kakusan sare, matataku ma ni wadai to natta. Eizō ni wa, Raka ga hitori de tatte iru sugata ga hakkiri utsutte iru. Shikashi garasu no hansha no naka ni wa, chiisana kodomo no kage ga yukkuri to chikazuite kuru yōsu ga utsutte ita. Fushigi na koto ni, jissai no kūkan ni wa nani mo sonzai shite inai. Kage wa tada, garasu no naka ni dake arawarete ita.

Jimoto no hitobito wa katari hajimeta. Katsute kono basho ga nigiyau mae, soko ni wa furui dōro ga ari, ōgata sha ga hinpan ni tōtte ita to iu. Aru hi, chiisana kazoku ga makikomareta hisan na jiko ga okita. Sore irai, yakīn no keibiin no naka ni wa, mado ya garasu no chikaku de asobu shōjo no sugata o mita to shōgen suru mono mo iru.

Dōga ga kakusan shite kara sūjitsu go, Raka wa taishoku shita. Kare wa ōku o kataranakatta ga, yūjin ni kō iinokoshita.

“Moshi garasu no naka ni kanojo o mitara… furimuku na. Mushisareru no ga kirai nan da.”

Sore irai, kiri no fukai yoru, heiten magiwa made shokuji o shite iru kyaku no naka ni wa, soto no madobe ni chiisana kage ga tatte iru no o mita to iu mono ga iru. Shikashi soto wa sudeni mujin de aru.

Soshite mottomo kimyō na no wa——
Sono kage wa, kesshite chokusetsu wa mienai to iu koto da.

Tada, garasu no mukōgawa ni dake arawareru.

 Versi Bahasa Jawa

 Bayangan ing Balik Kaca Cimory Bawen

Bengi kuwi kabut mudhun luwih cepet tinimbang biasane ing perbukitan Bawen. Lampu-lampu ing area Cimory Bawen isih murub anget, mantul ing tembok kaca restoran sing amba. Yen awan, panggonan kuwi mesthi rame—bocah-bocah padha ngguyu, kulawarga padha foto-foto, ambune susu lan roti sumebar ing udara. Nanging yen jam operasional wis entek lan gerbang ditutup, swasanane langsung owah dadi sepi lan kaku.

Raka, salah siji pegawai shift wengi, lagi ngrapekake area kafe. Dheweke wis biasa karo sepiné wengi lan swara angin sing nyapu pelataran parkir. Nanging bengi kuwi ana sing beda. Saka pantulan kaca gedhe cedhak tangga, dheweke weruh sosok cilik ngadeg ing mburine.

Wiwitane Raka mikir kuwi mung pantulan boneka pajangan. Nanging nalika dheweke noleh, ora ana apa-apa. Nalika ndeleng kaca maneh, sosok kuwi isih ana—bocah wadon nganggo klambi putih susu, rambute dawa nutupi setengah rai, ndeleng terus marang dheweke.

Lampu dumadakan kedhep-kedhep.

Raka merem sedhela, nyoba nenangake atine. “Mung kesel,” gumamé alon. Nanging nalika mripate kabuka maneh, sosok kuwi wis luwih cedhak. Sing luwih aneh, pantulane ora manut karo gerakan ruang nyata—kaya ngadeg dhewe, ora kagandheng karo donya ing mburi kaca.

Ana swara ngguyu lirih. Dudu saka njaba. Dudu saka njero ruangan. Kaya metu saka sela-sela tembok.

Esuke, rekaman CCTV nyebar ing media sosial lan dadi viral. Ing rekaman kuwi katon cetha: Raka ngadeg dhewekan ing ruangan. Nanging ing pantulan kaca, katon bayangan bocah cilik mlaku alon nyedhaki dheweke. Sing aneh, ing ruang asline ora ana wujude babar pisan—mung katon ing pantulan.

Warga sakubenge banjur padha crita. Mbiyen, sadurunge kawasan kuwi dadi rame, ana dalan lawas sing kerep dilewati kendaraan gedhe. Tau ana kacilakan tragis sing nyeret siji kulawarga cilik. Wiwit kedadeyan kuwi, sawetara penjaga wengi ngakoni kerep weruh bocah cilik dolanan cedhak kaca utawa jendhela.

Sawetara dina sawise video kuwi viral, Raka milih mundur saka pakaryane. Dheweke ora akeh omong, mung ninggal pesen marang kancane:

“Yen kowe weruh dheweke ing kaca… aja noleh. Dheweke ora seneng yen diabaikan.”

Wiwit kuwi, saben bengi berkabut, ana sawetara pengunjung sing mangan nganti meh tutup ngakoni weruh bayangan cilik ngadeg ing njaba jendhela, sanadyan area wis kosong.

Lan sing paling nggegirisi—
bayangan kuwi ora tau katon langsung.

Mung katon ing balik kaca.

 Versi Bahasa Inggris

The Shadow Behind the Glass of Cimory Bawen

That night, the fog descended earlier than usual over the hills of Bawen. The lights in the Cimory Bawen complex still glowed warmly, reflecting against the wide glass walls of the restaurant. During the day, the place was always lively—children laughing, families taking photos, the scent of milk and freshly baked bread filling the air. But once closing time arrived and the gates were locked, the atmosphere changed completely.

Raka, one of the night-shift employees, was tidying up the café area. He was used to the silence and the sound of wind sweeping across the parking lot. But that night felt different. From the reflection in the large glass panel near the stairs, he saw a small figure standing behind him.

At first, he thought it was just the reflection of a display doll. But when he turned around, there was nothing there. When he looked back at the glass, the figure was still present—a little girl in a milky-white dress, her long hair partially covering her face, staring directly at him.

The lights suddenly flickered.

Raka closed his eyes, trying to calm himself. “I’m just tired,” he muttered. But when he opened them again, the figure was closer. Stranger still, the reflection did not follow the movement of the real space—it stood on its own, detached from the world behind the glass.

A soft laugh echoed.

Not from outside. Not from inside the room.

It sounded as if it came from within the walls.

The next day, the CCTV footage spread across social media and quickly went viral. In the recording, Raka was clearly seen standing alone in the room. But in the glass reflection, the shadow of a small child slowly approached him. Oddly, there was no physical form in the actual space—only in the reflection.

Local residents began sharing stories. Long before the area became crowded and commercial, there had been an old road frequently used by heavy vehicles. A tragic accident once claimed the lives of a small family there. Since then, several night guards had claimed to see the figure of a little girl playing near glass panels or windows.

A few days after the video went viral, Raka resigned. He did not say much, but he left his friend with one warning:

“If you see her in the glass… don’t turn around. She doesn’t like being ignored.”

Since then, on foggy nights, some customers who stayed until closing time claimed to see a small shadow standing outside the window, even though the area was already empty.

And the strangest part—

The shadow is never seen directly.

Only behind the glass.

Senin, 12 Januari 2026

Retak yang Tak Terucap

Karya: Teguh Santoso 

Aku pulang membawa letih

dan doa-doa yang kupeluk di dada,

namun pintu hatimu terbuka

pada sunyi yang tak menyebut namaku.

 

Di meja makan, kata-kata dingin

menjadi piring yang tak pernah terisi,

senyummu singkat, matamu jauh—

aku tinggal di rumah, tapi tak lagi pulang.

 

Janji kita menggantung di udara,

seperti debu yang enggan jatuh,

kau berkata “baik-baik saja,”

namun jarak tumbuh di antara napas kita.

 

Aku sang mantan yang belajar sabar,

menjahit kecewa dengan benang setia,

tapi setiap malam, jarum itu patah

oleh rindu yang tak kau dengar.

 

Bukan marah yang kutitipkan,

hanya luka yang ingin diakui,

bahwa cinta butuh hadir—

bukan sekadar nama di buku nikah.

 

Jika kau mau menoleh,

aku masih di sini,

menunggu retak itu diajak bicara,

sebelum ia menjadi dinding yang abadi.

 

Jenengku Wis Kokbusak

Aku bali
mung nggawa kesel.
Ing atimu,
jenengku wis kokbusak.

Senyummu palsu,
omonganmu adhem,
“ora popo”
mung alesan kanggo adoh.

Aku mantanmu.
Ora ana sing kari,
kejaba sabar
sing mbok entek-entekke.

Aku ora nesu.
Aku mung kroso
cedhak nanging ora dianggep.

Sadurunge sepi iki
dadi tembok,
kowe kudune tau noleh.

名を失った場所

祈りだけを連れて
僕は帰った。
君の心に
僕の名は、もうなかった。

笑顔は形だけ、
言葉は体温を失い、
「大丈夫」が
距離になった。

僕は元夫
耐えることだけが
残された愛だった。

怒りはない。
あるのは、
隣にいながら
失われたという事実。

この沈黙が
壁になる前に、
振り向いてほしかった。

Na o Ushinatta Basho

Inori dake o tsurete
boku wa kaetta.
Kimi no kokoro ni
boku no na wa, mō nakatta.

Egao wa katachi dake,
kotoba wa taion o ushinai,
“Daijōbu” ga
kyori ni natta.

Boku wa moto otto.
taeru koto dake ga
nokosareta ai datta.

Ikari wa nai.
aru no wa,
tonari ni inagara
ushinawareta to iu jijitsu.

Kono chinmoku ga
kabe ni naru mae ni,
furimuite hoshikatta.

A Place That Lost My Name

I came home
carrying only prayers.
In your heart,
my name was already gone.

Your smile kept its shape,
your words lost their warmth,
“it’s fine”
turned into distance.

I am the ex.
Endurance
was all the love left to me.

There is no anger.
Only this—
being beside you,
yet already erased.

Before this silence
became a wall,
I wish you had turned back.

Jumat, 19 Desember 2025

Belajar Bernapas Tanpamu

 Karya: Teguh Santoso

Pagi datang tanpa mengetuk pintu,

membawa terang yang terasa asing.

Aku menata hari dengan tangan gemetar,

seolah hidup harus dihafal ulang.

 

Bayangmu masih setia di sudut mata,

namun tak lagi menuntut untuk dimiliki.

Aku belajar melepaskan pelan-pelan,

seperti daun yang ikhlas jatuh ke tanah.

 

Jika dulu namamu adalah arah,

kini ia hanya penanda yang pernah ada.

Aku melangkah dengan luka yang jujur,

menjadikannya peta menuju dewasa.

 

Dan bila suatu saat kita saling sapa,

biarlah senyum yang lebih dulu bicara:

bahwa cinta pernah tinggal di sini,

dan kesepian telah mengajarkanku hidup.

 

Versi Bahasa Jepang

 

君なしで息をする

朝の光が 胸にしみて
君のいない 今日が始まる
震える心 抱きしめながら
もう一度 歩き出す

まだ瞳に 君が残って
それでも 手放していく
落ちる葉のように 静かに
痛みと 生きていく

君が道だった あの日々は
今はただの 記憶でも
この孤独が 教えてくれた
君なしで 息をする

 Kimi Nashi de Iki o Suru

Asa no hikari ga mune ni shimite
kimi no inai kyō ga hajimaru
furueru kokoro dakishimenagara
mō ichido arukidasu

Mada hitomi ni kimi ga nokotte
soredemo tebanashite iku
ochiru ha no yō ni shizuka ni
itami to ikite iku

Kimi ga michi datta ano hibì wa
ima wa tada no kioku demo
kono kodoku ga oshiete kureta
kimi nashi de iki o suru.

Versi Bahasa Inggris 

Breathing Without You

Morning light cuts through my chest,
Another day without your name.
With shaking hands I hold my heart,
Learning how to walk again.

Your shadow lingers in my eyes,
Still, I let you fade away.
Like falling leaves, I softly learn
To live with pain, to stay.

You were the road I used to follow,
Now just echoes of the past.
This loneliness has taught my soul
How to breathe without you at last.

Versi Bahasa Jawa

Ambegan Tanpa Sliramu

Esuk teka nyabet atiku,
dina tanpa sliramu diwiwiti.
Kanthi tangan gemeter nyawiji,
aku sinau mlaku maneh.

Bayangmu isih ana ing mripat,
nanging kudu tak tinggal alon-alon.
Kaya godhong tiba kanthi legawa,
urip bareng lara tak tampa.

Sliramu biyen dalanku,
saiki mung crita sing kepungkur.
Sepine ati mulang aku,
ambegan tanpa sliramu.

Ramadan di Ungaran, Sendiri

Di kaki sunyi Gunung Ungaran angin turun pelan membawa bau tanah basah, menyentuh atap-atap rumah di Ungaran yang lebih cepat gelap ...