Rabu, 01 Juli 2026

Pengalaman Hidup Terburuk dalam Perjalanan Karierku

Nama : Ia Tamia

NIM : 094241079

Ada kalanya aku bertanya pada diri sendiri, mengapa jalan hidupku terasa begitu berat dibandingkan orang lain. Namun setiap kali mengingat semua yang telah kulewati, aku sadar bahwa setiap luka telah membentukku menjadi pribadi yang lebih kuat.

Namaku Ia Tamia. Aku adalah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan yang lahir dari keluarga sederhana. Ayahku meninggal dunia ketika aku masih duduk di bangku SMP. Sejak saat itu, hidup kami berubah. Ibuku harus berjuang seorang diri membesarkan anak-anaknya, sementara kondisi ekonomi keluarga semakin sulit. Di keluargaku, pendidikan bukanlah sesuatu yang mudah diraih. Bertahan hidup setiap hari saja sudah menjadi perjuangan.

Sebenarnya, setelah lulus sekolah aku memiliki satu mimpi besar: menjadi seorang dokter. Aku ingin melanjutkan kuliah di fakultas kedokteran. Namun mimpi itu perlahan harus kukubur dalam-dalam. Aku tahu biaya kuliah sangat mahal, dan aku tidak ingin menambah beban ibuku yang sudah bekerja keras. Akhirnya aku memilih bekerja daripada mengejar impian yang saat itu terasa mustahil.

Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan konveksi di Bandung. Saat itu gajiku hanya sekitar Rp1.800.000 per bulan, bahkan belum mencapai Upah Minimum Regional. Gaji itu hampir tidak pernah cukup. Setelah membayar uang kontrakan, kebutuhan hidup sehari-hari, dan mengirim sebagian penghasilan untuk ibu di kampung, tidak ada lagi yang tersisa.

Setiap akhir bulan, rekeningku kembali kosong.

Aku bahkan tidak pernah benar-benar memiliki tabungan. Kalaupun berhasil menyisihkan sedikit uang, keluargaku sering memintanya untuk dipinjam. Ketika aku menolak karena ingin menyimpan uang itu untuk masa depanku, aku justru dianggap sebagai anak yang tidak tahu balas budi. Mendengar kata-kata itu sangat menyakitkan. Rasanya seperti semua pengorbananku selama ini tidak pernah dianggap.

Saat itu aku benar-benar lelah.

Menjadi bagian dari sandwich generation bukanlah sesuatu yang mudah. Hampir setengah dari penghasilanku digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga di rumah. Di saat yang sama, aku juga dituntut untuk menjadi anak yang sukses dan mampu memenuhi berbagai harapan keluarga. Semakin lama, semua tuntutan itu berubah menjadi beban yang menghimpit pikiranku setiap hari.

Tubuhku mulai memberi tanda. Aku sering jatuh sakit dan berkali-kali harus berobat ke rumah sakit. Pada akhirnya aku memutuskan berhenti bekerja karena kondisi kesehatanku semakin memburuk.

Kupikir pulang ke kampung halaman akan membuatku pulih.

Ternyata aku salah.

Bukannya mendapatkan ketenangan, aku justru merasa semakin tertekan. Karena tidak bekerja dan tidak menghasilkan uang, aku sering dimarahi. Aku hanya diam di rumah untuk memulihkan kesehatan, tetapi apa pun yang kulakukan selalu dianggap salah. Saat itu aku benar-benar merasa sendirian. Tidak ada seorang pun yang benar-benar memahami apa yang sedang kurasakan.

Setelah kesehatanku berangsur membaik, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak boleh menyerah. Aku mulai menyusun kembali impian dan tujuan hidupku.

Saat itulah aku memutuskan untuk mencoba bekerja di Jepang.

Melalui rekomendasi seorang tetangga, aku mendaftar di sebuah lembaga pelatihan tenaga kerja. Biaya pendaftarannya sebesar delapan juta rupiah, dan seluruh uang itu kupinjam dari kakakku. Selama satu bulan pertama semuanya berjalan baik. Kami belajar bahasa Jepang setiap hari dan mulai membayangkan kehidupan baru di negeri impian.

Namun kemudian, pemilik lembaga menawarkan program kerja di bidang kaigo. Katanya prosesnya cepat, persyaratannya mudah, dan kami hanya perlu membayar tambahan delapan juta rupiah.

Karena minim informasi dan belum memahami prosedur kerja ke Jepang, aku mempercayai semua janji itu. Sekali lagi aku meminjam uang delapan juta rupiah dari kakakku.

Aku begitu yakin bahwa masa depanku sudah di depan mata.

Ternyata semua itu hanyalah kebohongan.

Program kerja itu palsu.

Aku dan teman-temanku menjadi korban penipuan.

Hari itu rasanya seluruh harapanku runtuh begitu saja. Aku keluar dari lembaga tersebut tanpa membawa apa pun selain utang enam belas juta rupiah.

Itulah titik terendah dalam hidupku.

Mimpi yang selama ini kuanggap akan mengubah nasibku justru berubah menjadi mimpi buruk. Aku merasa malu kepada keluarga, tetangga, dan teman-teman yang sudah mengetahui rencanaku bekerja di Jepang. Di sisi lain, aku terus memikirkan bagaimana caranya melunasi utang yang jumlahnya sangat besar bagiku saat itu.

Aku benar-benar kehilangan arah.

Langkahku terasa berat. Pikiranku kacau. Masa depanku terlihat gelap.

Tetapi di tengah semua keputusasaan itu, aku tidak berhenti berdoa. Setiap hari aku meminta kepada Tuhan agar diberi jalan keluar dan kesempatan untuk memperbaiki hidup.

Entah dari mana datangnya kekuatan itu, aku memutuskan untuk mencoba sekali lagi.

Aku kembali mencari lembaga pelatihan yang benar-benar resmi dan dapat dipercaya. Kali ini aku lebih berhati-hati, lebih banyak mencari informasi, dan tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Puji Tuhan, usahaku tidak sia-sia.

Aku akhirnya berhasil berangkat ke Jepang.

Sedikit demi sedikit kehidupanku mulai berubah. Aku mampu melunasi seluruh utang kepada kakakku, membantu memenuhi kebutuhan keluargaku di kampung, memiliki tabungan untuk pertama kalinya dalam hidupku, dan yang paling membahagiakan, aku akhirnya dapat melanjutkan pendidikan yang selama ini hanya menjadi impian.

Kini aku memahami satu hal.

Kadang-kadang hidup memang membawa kita jatuh sedalam-dalamnya, bukan untuk menghancurkan kita, melainkan agar kita belajar bangkit dengan cara yang lebih kuat. Semua kegagalan, air mata, dan rasa sakit yang pernah kualami ternyata hanyalah bagian dari perjalanan panjang menuju kehidupan yang selama ini kuimpikan.

Versi Bahasa Jepang 

私のキャリアの中で最も辛かった経験

時々、どうして自分の人生だけこんなにも苦しいのだろうと思うことがある。でも、これまで乗り越えてきたことを振り返るたびに、あの痛みや苦しみが今の自分を強くしてくれたのだと感じる。

私の名前はイア・タミア。職業高校を卒業した、ごく普通の家庭に生まれた子どもだった。父は私が中学生の時に亡くなり、それから母は一人で家族を支えてきた。家には十分なお金もなく、教育に恵まれた環境でもなかった。

本当は高校を卒業したら、医学部に進学したいという大きな夢があった。医者になりたかった。でも、学費のことを考えると、その夢はあまりにも遠かった。母にこれ以上負担をかけたくなくて、私は夢を胸の奥にしまい込み、働く道を選んだ。

バンドンの縫製工場に就職したが、給料は月180万ルピアほどで、最低賃金にも届かなかった。家賃、生活費、そして母への仕送りを払うと、毎月お金はほとんど残らなかった。

貯金なんてできなかった。

たまに少しだけお金を残せても、家族から「貸してほしい」と言われた。断ると、「恩知らずだ」と責められた。その言葉を聞くたびに、胸が苦しくなった。自分なりに必死で頑張っているのに、誰にも理解されていない気がした。

私はいわゆるサンドイッチ世代だった。給料の半分近くを実家の生活費に充て、自分の将来より家族を優先していた。同時に、「成功してほしい」「もっと稼いでほしい」という期待も背負っていた。

その重圧は少しずつ心を壊していった。

体調を崩し、何度も病院に通うようになり、ついには仕事を辞めた。故郷に帰れば楽になれると思った。でも現実は違った。家で休んでいるだけで叱られ、無職になった途端、何をしても間違っているように扱われた。

あの頃、本当に孤独だった。

もう一度、夢を追う

少しずつ体調が回復した頃、私はもう一度人生をやり直そうと決めた。そして、日本で働くという夢に挑戦することにした。

近所の人の紹介で職業訓練校に入り、入学費として800万ルピアを兄から借りた。最初の一か月は、日本語を勉強しながら希望を抱いていた。

しかしある日、校長が「介護の仕事ならすぐ日本へ行ける」と言ってきた。追加で800万ルピア払えば、難しい手続きもなく早く出国できるという話だった。

日本で働く仕組みを何も知らなかった私は、その言葉を信じてしまった。

もう一度、兄から800万ルピアを借りた。

でも、それは詐欺だった。

私たちは騙されていた。

結局、私は1600万ルピアの借金だけを抱えて訓練校を辞めた。

人生のどん底

あの時期は、人生で一番苦しかった。

「日本へ行けば人生が変わる」と信じていた夢が、一瞬で崩れ去った。家族や友人に合わせる顔がなく、日本へ行けなかったことが本当に恥ずかしかった。

しかも、1600万ルピアもの借金をどう返せばいいのか分からなかった。

足元はふらつき、頭の中はぐちゃぐちゃで、人生の目的も見失っていた。

その頃の私の気持ち

詐欺

夢が壊れた

1600万ルピアの借金

返済への不安

迷い

目的を見失う

再挑戦

もう一度立ち上がる

それでも、前へ

それでも私は祈ることをやめなかった。毎日、「どうか良い道を示してください」と神に願い続けた。

そして、もう一度だけ挑戦しようと決めた。

今度は信頼できる訓練機関を探し、慎重に情報を集めた。その結果、本当に日本へ行くことができた。

少しずつ人生は変わっていった。

兄への借金をすべて返し、家族を支え、初めて貯金ができた。そして何より、ずっと諦めていた勉強を再び始めることができた。

今なら分かる。

人生は時に、人をどん底まで突き落とす。でもそれは壊すためではなく、もっと強く立ち上がるためなのだと。あの日の涙も、失敗も、苦しみも、すべて今の私につながっている。

Watashi no Kyaria no Naka de Motto mo Tsurakatta Keiken

Tokidoki, dōshite jibun no jinsei dake konna ni mo kurushii no darō to omou koto ga aru. Demo, kore made norikoete kita koto o furikaeru tabi ni, ano itami ya kurushimi ga ima no jibun o tsuyoku shite kureta no da to kanjiru.

Watashi no namae wa Ia Tamia. Shokugyō kōkō o sotsugyō shita, goku futsū no katei ni umareta kodomo datta. Chichi wa watashi ga chūgakusei no toki ni nakunari, sore kara haha wa hitori de kazoku o sasaete kita. Ie ni wa jūbun na okane mo naku, kyōiku ni megumareta kankyō demo nakatta.

Hontō wa kōkō o sotsugyō shitara, igakubu ni shingaku shitai to iu ōkina yume ga atta. Isha ni naritakatta. Demo, gakuhī no koto o kangaeru to, sono yume wa amarini mo tōkatta. Haha ni kore ijō futan o kaketakunakute, watashi wa yume o mune no oku ni shimaikomi, hataraku michi o eranda.

Bandon no hōsei kōjō ni shūshoku shita ga, kyūryō wa tsuki hyaku hachijū man rupia hodo de, saitei chingin ni mo todokanakatta. Yachin, seikatsuhi, soshite haha e no shiokuri o harau to, maitsuki okane wa hotondo nokoranakatta.

Chokin nante dekinakatta.

Tama ni sukoshi dake okane o nokosete mo, kazoku kara "kashite hoshii" to iwareta. Kotowaru to, "onshirazu da" to semerareta. Sono kotoba o kiku tabi ni, mune ga kurushiku natta. Jibun nari ni hisshi de ganbatte iru noni, dare ni mo rikai sarete inai ki ga shita.

Watashi wa iwayuru sandoitchi sedai datta. Kyūryō no hanbun chikaku o jikka no seikatsuhi ni ate, jibun no shōrai yori kazoku o yūsen shite ita. Dōji ni, "seikō shite hoshii", "motto kaseide hoshii" to iu kitai mo seotte ita.

Sono jūatsu wa sukoshi zutsu kokoro o kowashite itta.

Taichō o kuzushi, nando mo byōin ni kayou yō ni nari, tsui ni wa shigoto o yameta. Kokyō ni kaereba raku ni nareru to omotta. Demo genjitsu wa chigatta. Ie de yasunde iru dake de shikarare, mushoku ni natta to tan, nani o shite mo machigatte iru yō ni atsukawareta.

Ano koro, hontō ni kodoku datta.

Mō Ichido, Yume o Ou

Sukoshi zutsu taichō ga kaifuku shita koro, watashi wa mō ichido jinsei o yarinaosō to kimeta. Soshite, Nihon de hataraku to iu yume ni chōsen suru koto ni shita.

Kinjo no hito no shōkai de shokugyō kunrenkō ni hairi, nyūgakuhi to shite happyaku man rupia o ani kara karita. Saisho no ikkagetsu wa, Nihongo o benkyō shinagara kibō o idaite ita.

Shikashi aru hi, kōchō ga "Kaigo no shigoto nara sugu Nihon e ikeru" to itte kita. Tsuika de happyaku man rupia haraeba, muzukashii tetsuzuki mo naku hayaku shukkoku dekiru to iu hanashi datta.

Nihon de hataraku shikumi o nani mo shiranakatta watashi wa, sono kotoba o shinjite shimatta.

Mō ichido, ani kara happyaku man rupia o karita.

Demo, sore wa sagi datta.

Watashitachi wa damasarete ita.

Kekkyoku, watashi wa senroppyaku man rupia no shakkin dake o kakaete kunrenkō o yameta.

Jinsei no Donzoko

Ano jiki wa, jinsei de ichiban kurushikatta.

"Nihon e ikeba jinsei ga kawaru" to shinjite ita yume ga, isshun de kuzuresatta. Kazoku ya yūjin ni awaseru kao ga naku, Nihon e ikenakatta koto ga hontō ni hazukashikatta.

Shikamo, senroppyaku man rupia mo no shakkin o dō kaeseba ii no ka wakaranakatta.

Ashimoto wa furatsuki, atama no naka wa guchagucha de, jinsei no mokuteki mo miushinatte ita.

Soredemo, Mae e

Soredemo watashi wa inoru koto o yamenakatta. Mainichi, "Dōka yoi michi o shimeshite kudasai" to kami ni negaitsuzuketa.

Soshite, mō ichido dake chōsen shiyō to kimeta.

Kondo wa shinrai dekiru kunren kikan o sagashi, shinchō ni jōhō o atsume ta. Sono kekka, hontō ni Nihon e iku koto ga dekita.

Sukoshi zutsu jinsei wa kawatte itta.

Ani e no shakkin o subete kaeshi, kazoku o sasae, hajimete chokin ga dekita. Soshite nani yori, zutto akiramete ita benkyō o futatabi hajimeru koto ga dekita.

Ima nara wakaru.

Jinsei wa toki ni, hito o donzoko made tsukiosu. Demo sore wa kowasu tame de wa naku, motto tsuyoku tachiagaru tame na no da to. Ano hi no namida mo, shippai mo, kurushimi mo, subete ima no watashi ni tsunagatte iru.

Versi Bahasa Inggris

The Hardest Experience in My Career Journey

Sometimes I wonder why life has been so much harder for me than it seems to be for others. But whenever I look back on everything I have been through, I realize that every hardship and every tear has shaped me into the person I am today.

My name is Ia Tamia. I graduated from a vocational high school and was born into a humble family. My father passed away when I was in junior high school, leaving my mother to raise our family on her own. We had very little financially, and pursuing higher education was a luxury that seemed far beyond our reach.

Ever since I was young, I dreamed of becoming a doctor. After graduating from high school, I wanted nothing more than to study medicine. Unfortunately, our financial situation made that dream impossible. I could not bear the thought of placing an even heavier burden on my mother, so I quietly buried my dream and chose to start working instead.

I found a job at a garment factory in Bandung. At that time, my monthly salary was only 1.8 million rupiah, which was even below the regional minimum wage. After paying my rent, covering my daily living expenses, and sending money home to support my mother, there was almost nothing left.

Saving money was simply impossible.

Even when I managed to save a small amount, my relatives would ask to borrow it. Whenever I refused because I wanted to protect the little I had, I was called ungrateful and accused of forgetting my family. Those words hurt deeply. I was already doing everything I could, yet it felt as though no one understood the struggles I faced every day.

I became part of what people call the sandwich generation. Nearly half of my salary went toward supporting my family back home, while I was expected to succeed and fulfill everyone's hopes. The pressure kept growing until it became more than I could bear.

Eventually, my body began to give up.

I became seriously ill and had to visit the hospital repeatedly. In the end, I resigned from my job because my health had deteriorated so much.

I thought returning to my hometown would give me the chance to recover.

Instead, it became another painful chapter of my life.

Because I was unemployed and no longer earning money, I was constantly criticized for staying at home. No matter what I did, it always seemed wrong in the eyes of my family. During that time, I felt completely alone.

Little by little, my health improved. As I recovered, I promised myself that I would rebuild my life. I started to think again about my dreams and the future I wanted to create.

That was when I decided to pursue my dream of working in Japan.

Through a neighbor's recommendation, I enrolled in a job training institution. The registration fee was eight million rupiah, which I borrowed from my older brother. During the first month, everything went smoothly. I studied Japanese every day and began to imagine a brighter future.

Then one day, the head of the training institution offered us a caregiving (kaigo) job in Japan. He promised that we could leave quickly without complicated procedures if we paid an additional eight million rupiah.

At that time, I knew almost nothing about the actual recruitment process for working in Japan. Like many of my classmates, I believed his promises. I borrowed another eight million rupiah from my brother, convinced that my dream was finally coming true.

But everything turned out to be a lie.

The job offer was a scam.

My friends and I had been deceived.

In the end, I left the training institution carrying nothing but a debt of sixteen million rupiah.

That was the darkest period of my life.

The dream that I believed would change my future had collapsed overnight. I felt ashamed to face my family, my neighbors, and my friends after failing to go to Japan. On top of that, I had no idea how I would repay such a large debt.

I felt lost.

My confidence was shaken, my thoughts were in chaos, and I no longer knew what direction my life should take.

Even so, I never stopped praying. Every day, I asked God to guide me toward a better future and to give me the strength to keep moving forward.

With renewed determination, I decided to try one more time.

This time, I carefully searched for a trustworthy training institution and learned as much as I could before making another decision.

Finally, my efforts paid off.

I successfully came to Japan.

Little by little, my life began to change. I repaid every rupiah I owed my brother, supported my family back home, built my savings for the first time in my life, and, most importantly, continued my education—the dream I had once believed was impossible.

Looking back now, I have learned an important lesson.

Sometimes life brings us to our lowest point, not to destroy us, but to teach us how to rise stronger than before. Every failure, every disappointment, and every tear became part of the journey that led me to where I am today.

Legenda Situ Bagendit

 Nama : Muhammad Junaedi Rodibillah

NIM  : 094241096

Pada zaman dahulu, di sebuah daerah yang terletak di sebelah utara Garut, Jawa Barat, hiduplah seorang janda kaya raya bernama Nyai Endit. Ia dikenal sebagai seorang tengkulak padi yang memiliki lumbung-lumbung penuh hasil panen. Pekerjaannya adalah membeli padi dari para petani dengan harga yang sangat murah, lalu menjualnya kembali dengan harga yang berlipat ganda ketika musim paceklik tiba.

Kekayaan yang dimiliki Nyai Endit tidak membuat hatinya menjadi mulia. Sebaliknya, ia semakin kikir, sombong, dan gemar memanfaatkan penderitaan orang lain. Para petani sering kali dipaksa menjual hasil panennya dengan harga yang rendah. Ketika musim kemarau datang dan persediaan makanan mereka habis, Nyai Endit justru menjual kembali beras kepada mereka dengan harga yang sangat mahal. Tak sedikit keluarga yang harus menahan lapar karena tidak mampu membeli beras miliknya.

Sementara penduduk desa hidup dalam kesusahan, Nyai Endit justru menghambur-hamburkan kekayaannya. Ia kerap mengadakan pesta-pesta mewah di rumahnya. Hidangan melimpah disajikan untuk para tamu, sementara nasi yang masih layak dimakan sering kali terbuang sia-sia. Semua itu dilakukannya demi memamerkan kekayaan dan kedudukannya kepada orang-orang.

Pada suatu hari, ketika musim kemarau semakin panjang dan banyak warga desa mulai kekurangan makanan, Nyai Endit kembali mengadakan pesta besar. Musik dan gelak tawa terdengar memenuhi halaman rumahnya. Di tengah kemeriahan itu, datanglah seorang pengemis tua yang berpakaian lusuh. Dengan suara lirih, ia memohon sedikit makanan untuk mengganjal perutnya yang telah lama kosong.

Namun, permintaan sederhana itu justru membuat Nyai Endit murka. Dengan wajah angkuh, ia memerintahkan para penjaganya untuk mengusir pengemis tua tersebut.

"Pergi dari sini! Jangan mengotori pestaku!" bentaknya tanpa sedikit pun rasa iba.

Pengemis tua itu hanya menatap Nyai Endit dengan tenang. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia pergi meninggalkan rumah megah itu.

Keesokan harinya, suasana desa menjadi ramai. Di tengah lapangan berdiri sebuah tongkat kayu yang tertancap kuat di dalam tanah. Banyak penduduk berkumpul dan bergantian mencoba mencabut tongkat itu, tetapi tidak seorang pun berhasil menggerakkannya.

Karena penasaran, Nyai Endit datang menghampiri kerumunan. Betapa terkejutnya ia ketika melihat pengemis tua yang diusirnya sehari sebelumnya berdiri tidak jauh dari tongkat tersebut. Dengan nada mengejek, Nyai Endit menuduh pengemis itu sebagai penyebab keanehan tersebut.

"Kalau memang tongkat itu milikmu, cabutlah sendiri!" katanya dengan penuh kesombongan.

Pengemis tua itu melangkah mendekati tongkat, lalu mencabutnya dengan mudah seolah tidak ada beban sama sekali.

Saat tongkat itu terangkat, tiba-tiba terdengar gemuruh dari dalam bumi. Dari lubang bekas tongkat tertancap, memancar air yang sangat deras. Air itu terus mengalir tanpa henti, semakin lama semakin besar hingga membanjiri seluruh desa.

Penduduk desa segera berlari menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi. Mereka saling membantu agar semua orang dapat selamat dari banjir yang datang begitu cepat.

Namun, Nyai Endit tidak memikirkan keselamatan dirinya. Ia justru berlari menuju rumahnya untuk mengumpulkan emas, perhiasan, dan seluruh harta bendanya. Dengan tergesa-gesa ia berusaha membawa semua kekayaannya, seolah-olah harta itu lebih berharga daripada nyawanya sendiri.

Air terus meninggi hingga akhirnya menenggelamkan rumah megah milik Nyai Endit. Bersama seluruh harta yang begitu dicintainya, ia pun tenggelam tanpa dapat menyelamatkan diri.

Banjir itu akhirnya membentuk sebuah danau yang sangat luas. Masyarakat setempat kemudian menamainya Situ Bagendit, yang berarti danau tempat tenggelamnya Nyai Endit. Hingga kini, legenda tersebut terus diceritakan turun-temurun sebagai pengingat bahwa keserakahan, kesombongan, dan sifat kikir hanya akan membawa petaka. Sebaliknya, hidup yang penuh kepedulian, kerendahan hati, dan kemurahan hati akan mendatangkan kebaikan bagi sesama.

Versi Bahasa Jepang

シトゥ・バゲンディットの伝説

昔々、西ジャワ州ガルットの北にある小さな村に、ニャイ・エンディットという裕福な未亡人が住んでいた。彼女は農民たちから米を安く買い取り、それを高値で売る仲買人だった。そのため、多くの財産を築き、村一番の金持ちになっていた。

しかし、ニャイ・エンディットは非常に欲深く、けちで、高慢な性格だった。農民たちが生活に困っていても容赦なく安値で米を買い取り、干ばつや凶作で食べ物が不足すると、その米を何倍もの値段で売りつけていた。そのため、村人たちは苦しい生活を強いられていた。

一方で、ニャイ・エンディットは自分の富を誇示することが大好きだった。たびたび豪華な宴会を開き、財宝や山のような食べ物を客に見せびらかしては、自分の豊かさを自慢していた。

ある年、長い日照りが続き、村中が深刻な食糧不足に陥った。それにもかかわらず、ニャイ・エンディットは大勢の客を招いて盛大な宴会を開いていた。

宴の最中、一人のみすぼらしい老人が屋敷を訪れ、空腹をしのぐために少しだけ食べ物を分けてほしいと頼んだ。

しかし、ニャイ・エンディットは老人を見下し、冷たく笑うと、召使いたちに命じて屋敷の外へ追い払わせた。

翌日、村の広場では大勢の村人たちが一本の古い杖を囲み、地面に深く突き刺さったその杖を抜こうとしていた。しかし、どれほど力を込めても、誰一人として杖を動かすことはできなかった。

そこへニャイ・エンディットが通りかかると、昨日追い払った老人が静かに立っているのが目に入った。

彼女は老人を指さし、「こんな妙なことをしたのはお前だろう」と怒鳴りつけ、「それほど自信があるなら、自分でその杖を抜いてみろ」と言い放った。

老人は何も言わずに杖へ近づき、軽く手を添えると、いとも簡単に杖を引き抜いた。

その瞬間、杖が刺さっていた穴から激しい勢いで水が噴き出した。

水はあっという間に川のような流れとなり、村全体をのみ込んでいった。村人たちは互いに助け合いながら、高台へ向かって必死に逃げた。

しかし、ニャイ・エンディットだけは逃げようとはしなかった。彼女は屋敷へ駆け戻り、黄金や宝石などの財産を持ち出そうと夢中になっていた。

だが、水は容赦なく屋敷をのみ込み、やがてニャイ・エンディットは大切な財産とともに家の中で溺れ、そのまま姿を消してしまった。

洪水が収まると、その村は広大な湖へと姿を変えていた。

人々はその湖を、欲深いニャイ・エンディットが沈んだ場所という意味を込めて、「シトゥ・バゲンディット」と呼ぶようになったという。

この伝説は、欲張りや傲慢な心はやがて自らを滅ぼし、思いやりと分かち合いの心こそが人々を幸せにするという教えとして、今も語り継がれている。

Shitu Bagenditto no Densetsu

Mukashi mukashi, Nishi Jawa-shū Garutto no kita ni aru chiisana mura ni, Nyai Enditto to iu yūfuku na mibōjin ga sunde ita. Kanojo wa nōmintachi kara kome o yasuku kaitori, sore o takane de uru nakagainin datta. Sono tame, ōku no zaisan o kizuki, mura ichiban no kanemochi ni natte ita.

Shikashi, Nyai Enditto wa hijō ni yokubukaku, kechi de, kōman na seikaku datta. Nōmintachi ga seikatsu ni komatte ite mo yōsha naku yasune de kome o kaitori, hibatsu ya kyōsaku de tabemono ga fusoku suru to, sono kome o nanbai mo no nedan de uritsukete ita. Sono tame, murabito-tachi wa kurushii seikatsu o shiirarete ita.

Ippō de, Nyai Enditto wa jibun no tomi o koji suru koto ga daisuki datta. Tabitabi gōka na enkai o hiraki, zaihō ya yama no yō na tabemono o kyaku ni misebirakashite wa, jibun no yutakasa o jiman shite ita.

Aru toshi, nagai hidori ga tsuzuki, murajū ga shinkoku na shokuryō busoku ni ochiitta. Sore ni mo kakawarazu, Nyai Enditto wa ōzei no kyaku o manite seidai na enkai o hiraite ita.

Utage no saichū, hitori no misuborashii rōjin ga yashiki o otozure, kūfuku o shinogu tame ni sukoshi dake tabemono o wakete hoshii to tanonda.

Shikashi, Nyai Enditto wa rōjin o mishitashi, tsumetaku warau to, meshitsukai-tachi ni meijite yashiki no soto e oiharawaseta.

Yokujitsu, mura no hiroba de wa ōzei no murabito-tachi ga ippon no furui tsue o kakomi, jimen ni fukaku tsukisasatta sono tsue o nukō to shite ita. Shikashi, dore hodo chikara o komete mo, dare hitori to shite tsue o ugokasu koto wa dekinakatta.

Soko e Nyai Enditto ga tōrikakaru to, kinō oiharatta rōjin ga shizuka ni tatte iru no ga me ni haitta.

Kanojo wa rōjin o yubisashi, "Konna myō na koto o shita no wa omae darō" to donaritsuke, "Sore hodo jishin ga aru nara, jibun de sono tsue o nuite miro" to iihanatta.

Rōjin wa nani mo iwazu ni tsue e chikazuki, karuku te o soeru to, itomo kantan ni tsue o hikinuita.

Sono shunkan, tsue ga sasatte ita ana kara hageshii ikioi de mizu ga fukidashita.

Mizu wa atto iu ma ni kawa no yō na nagare to nari, mura zentai o nomikonde itta. Murabito-tachi wa tagai ni tasukeainagara, takadai e mukatte hisshi ni nigeta.

Shikashi, Nyai Enditto dake wa nigeyō to wa shinakatta. Kanojo wa yashiki e kakemodori, kogane ya hōseki nado no zaisan o mochidasō to muchū ni natte ita.

Daga, mizu wa yōsha naku yashiki o nomikomi, yagate Nyai Enditto wa taisetsu na zaisan to tomo ni ie no naka de obore, sono mama sugata o keshite shimatta.

Kōzui ga osamaru to, sono mura wa kōdai na mizuumi e to sugata o kaete ita.

Hitobito wa sono mizuumi o, yokubukai Nyai Enditto ga shizunda basho to iu imi o komete, "Shitu Bagenditto" to yobu yō ni natta to iu.

Kono densetsu wa, yokubari ya gōman na kokoro wa yagate mizukara o horoboshi, omoiyari to wakachiai no kokoro koso ga hitobito o shiawase ni suru to iu oshie to shite, ima mo kataritsugarete iru.

Versi Bahasa Inggris

The Legend of Situ Bagendit

Long ago, in a small village north of Garut in West Java, there lived a wealthy widow named Nyai Endit. She was a rice trader who bought rice from farmers at very low prices and sold it again at much higher prices. Through this business, she accumulated enormous wealth and became the richest person in the village.

Despite her riches, Nyai Endit was greedy, stingy, and arrogant. She showed no compassion for the struggling farmers. Even when they faced hardship, she continued to buy their rice cheaply. During seasons of drought and poor harvests, when food became scarce, she sold the rice back to them at outrageously high prices. As a result, many villagers suffered from hunger and poverty.

Instead of helping those in need, Nyai Endit delighted in showing off her wealth. She frequently held lavish banquets at her grand house, displaying her treasures and serving abundant food to her guests. Her extravagant lifestyle stood in sharp contrast to the misery endured by the villagers.

One year, a long drought struck the village, causing a severe food shortage. Although the villagers struggled to survive, Nyai Endit once again hosted a magnificent feast.

In the middle of the celebration, an old beggar arrived at her house. With a humble voice, he asked for just a little food to satisfy his hunger.

Rather than showing kindness, Nyai Endit looked down on the old man. She laughed scornfully and ordered her servants to drive him away.

The following day, the villagers gathered around an old wooden staff firmly embedded in the ground at the village square. One after another, they tried to pull it out, but no one was strong enough to move it.

As Nyai Endit approached the crowd, she noticed the same old beggar standing quietly nearby.

Pointing at him angrily, she shouted, "You must be the one responsible for this strange thing! If you're so confident, then pull the staff out yourself!"

Without saying a word, the old man stepped forward. He gently grasped the staff and effortlessly pulled it from the ground.

The moment the staff was removed, a powerful stream of water burst out from the hole beneath it.

The water quickly became a raging flood that swept across the entire village. The villagers fled to higher ground, helping one another escape from the rising waters.

Nyai Endit, however, thought only of her possessions. Instead of saving herself, she rushed back into her mansion to gather her gold, jewelry, and countless treasures.

But the flood rose relentlessly, swallowing her house along with everything inside. Trapped by her own greed, Nyai Endit drowned together with the wealth she treasured so dearly.

When the flood finally subsided, the village had disappeared beneath a vast lake.

From that day on, the lake became known as Situ Bagendit, meaning the lake where the greedy Nyai Endit met her fate.

To this day, the legend of Situ Bagendit continues to be passed down from generation to generation. It reminds people that greed, arrogance, and selfishness ultimately lead to destruction, while kindness, generosity, and compassion bring harmony and lasting happiness.

Batas Sabar di Negeri Sakura

Nama : Lia Utari

NIM: 094241045

Catatan Harian Seorang Perantau di Jepang

Saat memutuskan merantau ke Jepang, aku membayangkan hidup yang indah. Negeri Sakura yang selama ini hanya kulihat di televisi akhirnya bisa kusaksikan dengan mata kepala sendiri. Jalan-jalan yang bersih, kereta yang selalu tepat waktu, bunga sakura yang mekar di musimnya, dan masyarakat yang terkenal disiplin membuatku semakin yakin bahwa keputusanku datang ke sini adalah pilihan yang tepat.

Perusahaan menempatkanku di sebuah apartemen dinas. Kamarnya tidak terlalu besar, tetapi cukup nyaman. Hanya saja, aku harus berbagi tempat tinggal dengan seorang rekan kerja yang juga berasal dari Indonesia. Saat pertama bertemu, aku merasa lega. Setidaknya ada teman senegara yang bisa diajak berbicara ketika rasa rindu kampung halaman datang.

Beberapa minggu pertama berjalan baik. Kami berangkat kerja bersama, memasak bergantian, dan sesekali mengobrol hingga larut malam. Aku benar-benar mengira kami akan menjadi teman selama bekerja di Jepang.

Sayangnya, semua itu tidak berlangsung lama.

Sedikit demi sedikit, sifat aslinya mulai terlihat. Awalnya hanya candaan kecil yang menurutku masih bisa dimaklumi. Aku berpikir mungkin itu caranya menghilangkan penat setelah bekerja seharian di pabrik. Namun, lama-kelamaan candaan itu berubah menjadi sesuatu yang membuatku tidak nyaman.

Yang paling sering terjadi adalah saat aku sedang mandi.

Entah bagaimana, setiap kali aku masuk ke kamar mandi, tiba-tiba lampunya mati. Padahal di apartemen ini sakelar lampu berada di luar. Bayangkan mandi saat udara mulai dingin, lalu mendadak seluruh ruangan menjadi gelap gulita.

"Woi... jangan dimatikan! Gelap!" teriakku dari dalam.

Yang kudengar hanya suara tawanya, lalu langkah kaki yang menjauh.

Awalnya aku mencoba tertawa. Aku berpikir, mungkin dia hanya bercanda. Namun, ketika kejadian yang sama terus berulang hampir setiap hari, aku mulai merasa lelah. Mandi yang seharusnya menjadi waktu untuk melepas penat justru berubah menjadi sesuatu yang membuatku cemas.

Masalahnya tidak berhenti di situ.

Barang-barangku mulai sering berpindah tempat. Sepatu kerjaku pernah tiba-tiba berada di balkon hingga basah terkena embun. Dompet kecil, charger, buku catatan, bahkan perlengkapan mandi sering tidak berada di tempat semula.

Ketika kutanya baik-baik, jawabannya selalu sama.

"Apa? Bukannya dari tadi memang di situ?"

Kadang dia malah tertawa sambil mengatakan mungkin aku yang lupa.

Lama-lama aku benar-benar bingung. Sempat terpikir jangan-jangan aku memang mulai pelupa karena kelelahan bekerja. Sampai akhirnya beberapa kali aku memergokinya sendiri memindahkan barang-barangku ketika dia mengira aku belum pulang.

Hari itu aku sadar, semua ini memang disengaja.

Aku berusaha tetap bersabar. Aku tidak ingin memperbesar masalah. Kami sama-sama perantau. Aku tidak ingin suasana apartemen menjadi semakin buruk.

Namun, kesabaran setiap orang pasti ada batasnya.

Suatu pagi, ketika hendak berangkat kerja shift pagi, langkahku langsung terhenti di depan pintu kamar.

Payung lipat kesayanganku yang baru beberapa hari kubeli di Lawson sudah tergeletak di lantai. Rangkanya patah. Kainnya robek. Di sampingnya, kotak plastik tempat menyimpan sandal rumah juga retak seperti baru saja diinjak dengan sengaja.

Aku hanya bisa berdiri memandangi semuanya.

Tidak ada pertengkaran di antara kami. Tidak ada masalah besar sebelumnya.

Aku benar-benar tidak mengerti mengapa seseorang bisa melakukan hal seperti itu kepada teman satu apartemennya sendiri.

Perjalanan menuju tempat kerja pagi itu terasa sangat panjang. Di dalam kereta, aku hanya menatap jendela sambil menahan emosi. Rasanya sesak sekali.

Aku sadar, kalau aku terus diam, keadaan tidak akan pernah berubah.

Keesokan harinya, aku memberanikan diri mendatangi kantor manajemen. Dengan perasaan campur aduk, aku meminta bertemu dengan penanggung jawab pekerja Indonesia.

Aku menceritakan semuanya dari awal. Tentang lampu kamar mandi yang selalu dimatikan, barang-barang yang dipindahkan tanpa izin, hingga payung dan kotak penyimpananku yang dirusak. Untungnya aku sempat memotret semua kerusakan itu sebagai bukti.

Beliau mendengarkan tanpa memotong pembicaraanku sedikit pun. Wajahnya terlihat semakin serius.

Aku baru tahu bahwa di Jepang, kenyamanan tempat tinggal pekerja dianggap sama pentingnya dengan keselamatan kerja. Apa yang kulaporkan ternyata termasuk pelanggaran yang cukup berat.

Sore harinya kami dipanggil bersama.

Awalnya dia masih tersenyum dan menganggap semuanya hanya bercanda.

Namun, ketika penanggung jawab memberikan teguran keras dalam bahasa Jepang dan Indonesia, senyum itu perlahan menghilang. Wajahnya berubah pucat.

Tidak lama kemudian keputusan pun keluar.

Perusahaan memutuskan untuk menghentikan kontraknya di unit tempat kami bekerja. Ia juga diwajibkan meninggalkan apartemen dalam waktu tiga hari.

Aku hanya terdiam mendengar keputusan itu.

Tiga hari kemudian, kulihat ia menyeret koper keluar dari apartemen. Tidak ada ucapan maaf. Tidak ada salam perpisahan. Ia pergi begitu saja.

Entah mengapa, aku tidak merasa senang atas hukuman yang diterimanya.

Yang kurasakan hanyalah lega.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku mandi tanpa rasa takut lampunya akan dimatikan. Barang-barangku tetap berada di tempatnya. Apartemen terasa sunyi, tetapi justru menghadirkan ketenangan yang sudah lama hilang.

Hari itu aku belajar satu hal.

Menjadi sabar memang penting. Namun, membiarkan diri terus disakiti bukanlah bentuk kesabaran. Ada saatnya kita harus berani berbicara, demi menjaga harga diri, ketenangan batin, dan kehidupan yang lebih baik.

Versi Bahasa Jepang

桜の国で限界を迎えた忍耐

― 日本でのある日の記録 ―

日本へ働きに行くことは、ずっと私の夢だった。テレビや本で見てきた桜の景色、きれいな街並み、時間に正確な電車、そして規律正しい人々。そんな日本で生活できることを心から楽しみにしていた。

会社が用意してくれた社員寮は決して広くはなかったが、生活するには十分だった。ただ、一つだけ予想していなかったことがあった。同じインドネシア人の同僚と部屋を共有することになったのだ。

最初の数週間は何の問題もなかった。一緒に仕事へ行き、休みの日には簡単な料理を作り、たまには夜遅くまで話をすることもあった。私は、この人とはきっと日本で助け合いながら生活していけると思っていた。

しかし、その考えは少しずつ変わっていった。

彼は私にいたずらをするようになった。

最初は「疲れているからふざけているだけだろう」と思って笑っていた。でも、そのいたずらは日に日にひどくなっていった。

一番つらかったのは、私がシャワーを浴びている時だった。

寮の浴室はスイッチが外にある。私がシャワーを浴びていることを知ると、彼は突然電気を消した。

「おい! 消すなよ! 真っ暗じゃないか!」

私は浴室の中から何度も叫んだ。

すると返ってくるのは、彼の笑い声だけだった。

最初は我慢した。

でも、その出来事が何度も何度も繰り返されるようになると、シャワーを浴びることさえ怖くなってしまった。暗闇の中で転んでしまうかもしれないという不安もあった。

それだけでは終わらなかった。

私の持ち物まで勝手に動かされるようになった。

仕事用の靴がベランダに置かれていたこともあれば、机の上に置いていた財布や充電器、本がいつの間にか別の場所へ移されていることもあった。

理由を聞いても、彼は平然とこう言った。

「自分で置いた場所を忘れたんじゃない?」

そして笑う。

その言葉を何度も聞いているうちに、「もしかして本当に私の勘違いなのだろうか」と、自分自身を疑うことさえあった。

しかし、ある日、彼が私の物を動かしているところを偶然見てしまった。

その瞬間、すべてがわかった。

これは冗談ではない。

わざと私を困らせ、嫌な思いをさせるためにやっていたのだ。

それでも私は我慢し続けた。

同じ国から来た仲間なのだから、大きな問題にはしたくなかった。

でも、人の我慢には限界がある。

ある朝、早番へ行こうとして部屋を出ると、玄関の前で足が止まった。

お気に入りだった折りたたみ傘が壊されていた。

数日前にローソンで買ったばかりの傘だった。

骨は折れ、布は破れていた。

その隣には、室内用スリッパを入れていたプラスチックケースまで割れていた。

しばらく私は何も言えず、その場に立ち尽くしていた。

私たちはけんかをしたわけでもない。

大きなトラブルがあったわけでもない。

それなのに、なぜここまでするのだろう。

その日の通勤電車の中で、私はずっと窓の外を見つめていた。

胸が苦しかった。

もう限界だった。

翌日、私は一人で悩み続けるのをやめた。

勇気を出して会社の管理担当者を訪ねた。

私は今まで起きたことをすべて話した。

シャワー中に電気を消されたこと。

私物を勝手に動かされたこと。

壊された傘と収納ケースのこと。

証拠として撮っておいた写真も見せた。

担当者は最後まで黙って話を聞いてくれた。

表情はだんだん厳しくなっていった。

日本では、仕事だけでなく寮で安心して生活できる環境もとても大切にされている。

だから会社は、この問題を決して軽く考えなかった。

その日の夕方、私たちは二人とも事務所へ呼ばれた。

彼は最初、「ただの冗談です」と笑っていた。

しかし、担当者から日本語とインドネシア語で厳しく注意されると、その笑顔は消え、顔色が変わった。

最終的に会社は、彼の行動を重大な問題と判断し、契約を終了することを決めた。

そして三日以内に寮を退去するよう命じられた。

数日後、大きなスーツケースを引きながら寮を出て行く彼の後ろ姿を見送った。

不思議なことに、悲しいという気持ちはなかった。

胸いっぱいに広がったのは、ただ「ほっとした」という安心感だった。

その夜、私は久しぶりに何も心配せずにシャワーを浴びた。

電気が突然消えることもない。

私の物が勝手に動かされることもない。

部屋は静かだった。

でも、その静けさが何より心地よかった。

この出来事を通して、私は一つのことを学んだ。

我慢することは大切だ。

しかし、自分が傷つき続けることまで我慢する必要はない。

本当に苦しい時は、一人で抱え込まず、信頼できる人に相談する勇気も同じくらい大切なのだ。

Sakura no Kuni de Genkai o Mukaeta Nintai

— Nihon de no Aru Hi no Kiroku —

Nihon e hataraki ni iku koto wa, zutto watashi no yume datta. Terebi ya hon de mite kita sakura no keshiki, kirei na machinami, jikan ni seikaku na densha, soshite kiritsu tadashii hitobito. Sonna Nihon de seikatsu dekiru koto o kokoro kara tanoshimi ni shite ita.

Kaisha ga yōi shite kureta shain ryō wa kesshite hiroku wa nakatta ga, seikatsu suru ni wa jūbun datta. Tada, hitotsu dake yosō shite inakatta koto ga atta. Onaji Indonesiajin no dōryō to heya o kyōyū suru koto ni natta no da.

Saisho no sūshūkan wa nan no mondai mo nakatta. Issho ni shigoto e iki, yasumi no hi ni wa kantan na ryōri o tsukuri, tama ni wa yoru osoku made hanashi o suru koto mo atta. Watashi wa, kono hito to wa kitto Nihon de tasukeainagara seikatsu shite ikeru to omotte ita.

Shikashi, sono kangae wa sukoshi zutsu kawatte itta.

Kare wa watashi ni itazura o suru yō ni natta.

Saisho wa "tsukarete iru kara fuzakete iru dake darō" to omotte waratte ita. Demo, sono itazura wa hini hini hido ku natte itta.

Ichiban tsurakatta no wa, watashi ga shawā o abite iru toki datta.

Ryō no yokushitsu wa suicchi ga soto ni aru. Watashi ga shawā o abite iru koto o shiru to, kare wa totsuzen denki o keshita.

"Oi! Kesu na yo! Makkura janai ka!"

Watashi wa yokushitsu no naka kara nando mo sakenda.

Suru to kaette kuru no wa, kare no waraigoe dake datta.

Saisho wa gaman shita.

Demo, sono dekigoto ga nando mo nando mo kurikaesareru yō ni naru to, shawā o abiru koto sae kowaku natte shimatta. Kurayami no naka de koronde shimau kamo shirenai to iu fuan mo atta.

Sore dake de wa owaranakatta.

Watashi no mochimono made katte ni ugokasareru yō ni natta.

Shigoto-yō no kutsu ga beranda ni okarete ita koto mo areba, tsukue no ue ni oite ita saifu ya jūdenki, hon ga itsu no ma ni ka betsu no basho e utsusarete iru koto mo atta.

Riyū o kiite mo, kare wa heizen to kō itta.

"Jibun de oita basho o wasureta n ja nai?"

Soshite warau.

Sono kotoba o nando mo kiite iru uchi ni, "Moshikashite hontō ni watashi no kanchigai na no darō ka" to, jibun jishin o utagau koto sae atta.

Shikashi, aru hi, kare ga watashi no mono o ugokashite iru tokoro o gūzen mite shimatta.

Sono shunkan, subete ga wakatta.

Kore wa jōdan de wa nai.

Wazato watashi o komarase, iya na omoi o saseru tame ni yatte ita no da.

Sore demo watashi wa gaman shitsudzuketa.

Onaji kuni kara kita nakama na no dakara, ōkina mondai ni wa shitaku nakatta.

Demo, hito no gaman ni wa genkai ga aru.

Aru asa, hayaban e ikō to shite heya o deru to, genkan no mae de ashi ga tomatta.

Kinīri datta oritatami kasa ga kowasarete ita.

Sūjitsu mae ni Rōson de katta bakari no kasa datta.

Hone wa ore, nuno wa yaburete ita.

Sono tonari ni wa, shinai-yō surippa o irete ita purasuchikku kēsu made warete ita.

Shibaraku watashi wa nani mo iezu, sono ba ni tachitsukushite ita.

Watashitachi wa kenka o shita wake demo nai.

Ōkina toraburu ga atta wake demo nai.

Sore na noni, naze koko made suru no darō.

Sono hi no tsūkin densha no naka de, watashi wa zutto mado no soto o mitsumete ita.

Mune ga kurushikatta.

Mō genkai datta.

Yokujitsu, watashi wa hitori de nayamitsudzukeru no o yameta.

Yūki o dashite kaisha no kanri tantōsha o tazuneta.

Watashi wa ima made okita koto o subete hanashita.

Shawāchū ni denki o kesareta koto.

Shibutsu o katte ni ugokasareta koto.

Kowasareta kasa to shūnō kēsu no koto.

Shōko to shite totte oita shashin mo miseta.

Tantōsha wa saigo made damatte hanashi o kiite kureta.

Hyōjō wa dandan kibishiku natte itta.

Nihon de wa, shigoto dake de naku ryō de anshin shite seikatsu dekiru kankyō mo totemo taisetsu ni sarete iru.

Dakara kaisha wa, kono mondai o kesshite karuku kangaenakatta.

Sono hi no yūgata, watashitachi wa futari tomo jimusho e yobareta.

Kare wa saisho, "Tada no jōdan desu." to waratte ita.

Shikashi, tantōsha kara Nihongo to Indonesiago de kibishiku chūi sareru to, sono egao wa kie, kaoiro ga kawatta.

Saishūteki ni kaisha wa, kare no kōdō o jūdai na mondai to handan shi, keiyaku o shūryō suru koto o kimeta.

Soshite mikka inai ni ryō o taikyo suru yō meijirareta.

Sūjitsu go, ōkina sūtsukēsu o hikinagara ryō o dete iku kare no ushirosugata o miokutta.

Fushigi na koto ni, kanashii to iu kimochi wa nakatta.

Mune ippai ni hirogatta no wa, tada "hotto shita" to iu anshinkan datta.

Sono yoru, watashi wa hisashiburi ni nani mo shinpai sezu ni shawā o abita.

Denki ga totsuzen kieru koto mo nai.

Watashi no mono ga katte ni ugokasareru koto mo nai.

Heya wa shizuka datta.

Demo, sono shizukesa ga nani yori kokochi yokatta.

Kono dekigoto o tōshite, watashi wa hitotsu no koto o mananda.

Gaman suru koto wa taisetsu da.

Shikashi, jibun ga kizutsukitsudzukeru koto made gaman suru hitsuyō wa nai.

Hontō ni kurushii toki wa, hitori de kakaekomazu, shinrai dekiru hito ni sōdan suru yūki mo onaji kurai taisetsu na no da.

Versi Bahasa Inggris 

The Limit of My Patience in the Land of Cherry Blossoms

— A Page from My Diary —

Working in Japan had always been one of my biggest dreams. For years, I had imagined the country with its beautiful cherry blossoms, spotless streets, punctual trains, and people who valued discipline above all else. When I finally arrived, I felt as if I had stepped into the life I had always hoped for.

The company provided a dormitory for its technical intern trainees, and I was assigned to share a room with another Indonesian coworker. At first, I was relieved. Living with someone from the same country made me feel a little less homesick.

During the first few weeks, everything went well. We went to work together, cooked simple meals on our days off, and occasionally stayed up late chatting. I truly believed we would support each other throughout our time in Japan.

Unfortunately, that feeling didn't last.

Little by little, his true personality began to show.

At first, he liked playing little pranks on me. I laughed them off, thinking he was simply trying to relieve the stress of factory work. But as time passed, those jokes gradually turned into deliberate acts of harassment.

The worst moments happened whenever I was taking a shower.

The bathroom light switch was located outside the bathroom. Every time he knew I was inside, he would suddenly turn off the lights.

"Hey! Don't do that! It's completely dark in here!" I shouted.

The only response I ever heard was his laughter as he walked away.

At first, I tried to ignore it.

But when it happened over and over again, I began to dread taking a shower. I wasn't just annoyed—I was genuinely afraid I might slip and injure myself in the darkness.

Unfortunately, that wasn't the end of it.

He also started moving my personal belongings without my permission.

Sometimes I found my work shoes left outside on the balcony. Other times, my wallet, phone charger, notebooks, or other small belongings had mysteriously disappeared from my desk and reappeared somewhere else.

Whenever I asked him about it, he calmly replied,

"Maybe you just forgot where you put them."

Then he would laugh.

Hearing that over and over again made me question my own memory. I even began wondering if I was becoming forgetful because of exhaustion.

Then one day, I caught him moving my belongings with my own eyes.

At that moment, everything became clear.

It wasn't a joke.

He was doing it intentionally just to make me uncomfortable.

Even so, I kept trying to be patient.

We were both Indonesians living far from home, and I didn't want to create conflict among fellow overseas workers.

But everyone's patience has a limit.

One morning, as I was leaving for an early shift, I stopped in front of my room.

My favorite folding umbrella lay on the floor.

It had only been a few days since I bought it at Lawson.

Its frame was bent, and the fabric had been torn apart.

Beside it, the plastic storage box where I kept my indoor slippers was cracked as though someone had deliberately stepped on it.

I stood there speechless.

We had never had a serious argument.

There had never been any major conflict between us.

So why would someone do something like this?

That morning, as the train carried me to work, I spent the entire journey staring silently out the window.

My chest felt heavy.

I had finally reached my limit.

The next day, I decided to stop suffering in silence.

Gathering all my courage, I went to the company's management office and asked to speak with the supervisor responsible for the Indonesian trainees.

I told him everything.

How the bathroom lights were repeatedly switched off while I was showering.

How my belongings had been moved without permission.

How my umbrella and storage box had been deliberately damaged.

I also showed him the photographs I had taken as evidence.

He listened carefully without interrupting me.

As my story continued, his expression grew increasingly serious.

In Japan, a safe and comfortable living environment is considered just as important as a safe workplace. Because of that, the company took the matter very seriously.

That same evening, both of us were called into the office.

At first, my roommate laughed and insisted that everything had been "just a joke."

However, after receiving a stern warning from the supervisor in both Japanese and Indonesian, the smile quickly disappeared from his face.

Eventually, the company concluded that his behavior was unacceptable.

His employment contract was terminated, and he was ordered to leave both the dormitory and the workplace within three days.

A few days later, I watched him pull his suitcase out of the dormitory without saying a single word.

Surprisingly, I didn't feel happy or satisfied.

What I felt was relief.

That night, for the first time in months, I took a shower without worrying that someone would suddenly switch off the lights.

My belongings remained exactly where I had left them.

The room felt quiet.

Yet that silence brought me more peace than I had experienced in a long time.

Looking back, I learned an important lesson from that experience.

Patience is a virtue.

But enduring endless mistreatment is not.

When life becomes too painful to bear alone, having the courage to seek help from someone you trust is just as important as being patient.

Asal Usul Lemah Gempal

Nama : Chandra Novita Nawastri Cicilia 

NIM : 091241009

Pada zaman penjajahan Belanda, Kota Semarang sering dilanda banjir besar. Setiap musim hujan tiba, air sungai meluap hingga menggenangi rumah-rumah penduduk, sawah, dan jalan-jalan. Kehidupan masyarakat pun menjadi sulit karena hampir setiap tahun mereka harus menghadapi bencana yang sama.

Melihat keadaan itu, pemerintah kolonial Belanda memutuskan membangun sebuah saluran air yang sangat besar agar aliran sungai dapat dikendalikan dan banjir berkurang. Saluran itu kemudian dikenal sebagai Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur.

Pembangunan kanal di bagian timur berjalan dengan lancar. Akan tetapi, pembangunan di bagian barat justru menemui banyak hambatan. Setiap kali para pekerja menggali tanah dan membangun tanggul, tanah itu selalu longsor. Tanggul yang telah disusun dengan susah payah runtuh kembali. Berulang kali mereka mencoba memperbaikinya, tetapi hasilnya tetap sama. Hari demi hari berlalu tanpa kemajuan sedikit pun.

Para pekerja mulai putus asa. Mereka tidak mengetahui penyebab tanah itu terus-menerus longsor. Di tengah kebingungan itu, seorang warga menyarankan agar mereka meminta nasihat kepada seorang sesepuh yang dikenal bijaksana dan memiliki pengetahuan tentang alam, yaitu Ki Sanak.

Ki Sanak mendengarkan cerita mereka dengan saksama. Setelah beberapa saat merenung, ia berkata, "Di samping rumahku terdapat dua buah batu. Ambillah kedua batu itu, lalu tanamkan di tempat tanggul yang selalu runtuh. Setelah itu, lanjutkan pekerjaan kalian dengan hati yang teguh."

Meskipun merasa heran, para pekerja mematuhi petunjuk Ki Sanak. Mereka mengambil kedua batu tersebut dan menanamnya di lokasi yang dimaksud. Keajaiban pun terjadi. Tanah yang sebelumnya mudah longsor perlahan menjadi padat dan menyatu. Tanggul yang dibangun akhirnya berdiri kokoh dan tidak runtuh lagi.

Berkat tanggul itu, pembangunan kanal dapat diselesaikan. Air sungai pun mengalir dengan lebih baik sehingga banjir yang selama ini menghantui masyarakat Semarang berangsur-angsur berkurang.

Sejak peristiwa itu, masyarakat menamai daerah tempat tanggul tersebut berdiri dengan sebutan Lemah Gempal. Dalam bahasa Jawa, lemah berarti tanah, sedangkan gempal berarti padat, menyatu, atau bongkahan tanah yang menjadi kokoh. Nama itu menjadi pengingat akan peristiwa ketika tanah yang terus longsor akhirnya menjadi kuat berkat usaha, doa, dan kebijaksanaan Ki Sanak.

Hingga kini, nama Lemah Gempal tetap dikenal oleh masyarakat sebagai warisan sejarah dan cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pesan Moral:
Setiap kesulitan pasti memiliki jalan keluar. Dengan kerja keras, tidak mudah menyerah, serta mau mendengarkan nasihat orang yang bijaksana, masalah sebesar apa pun dapat diatasi. Selain itu, manusia hendaknya selalu hidup selaras dengan alam dan menghargai kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur. 

Versi Bahasa Jepang

レマ・ゲンパルの由来

オランダ統治時代、スマランの町は毎年のように大洪水に見舞われていた。海に近く、大きな川が町の中を流れていたため、雨季になると川の水があふれ、家々や田畑、道路まで水に浸かってしまった。人々は毎年洪水に苦しみ、不安な日々を送っていた。

その様子を見たオランダ植民地政府は、洪水を防ぐために大きな運河を造ることを決めた。その運河は後に「西洪水運河(Banjir Kanal Barat)」と「東洪水運河(Banjir Kanal Timur)」と呼ばれるようになった。

東側の工事は順調に進んだ。しかし、西側では思いがけない問題が起こった。作業員たちが何度土を掘り、堤防を築いても、土はすぐに崩れてしまう。何度やり直しても同じことの繰り返しで、工事はまったく進まなかった。

作業員たちは途方に暮れた。どうして土が崩れ続けるのか、誰にも理由が分からなかった。そのとき、一人の村人が「キ・サナックという賢者なら何か知っているかもしれない」と勧めた。

そこで作業員たちはキ・サナックのもとを訪れ、助けを求めた。キ・サナックは静かに話を聞いたあと、こう言った。

「わしの家のそばに二つの石がある。その石を持って行き、崩れ続ける堤防の場所に埋めなさい。そして、あきらめずに工事を続けるのだ。」

作業員たちは半信半疑ながらも、その言葉に従った。二つの石を運び、教えられた場所に埋めると、不思議なことが起こった。それまで何度も崩れていた土がしだいに固まり、堤防はしっかりと立ち上がった。もう土が崩れることはなかった。

こうして運河の工事は無事に完成し、川の水はスムーズに流れるようになった。洪水は少しずつ減り、人々は安心して暮らせるようになった。

それ以来、その場所は「レマ・ゲンパル」と呼ばれるようになった。ジャワ語で「レマ(Lemah)」は「土」、「ゲンパル(Gempal)」は「固まった土」や「土の塊」を意味する。この名前は、崩れ続けていた土が固くまとまり、人々を救った出来事を今に伝えている。

教訓

どんな困難に直面しても、決してあきらめてはいけない。努力を続け、知恵ある人の助言に耳を傾ければ、どんな困難にも必ず解決の道は見つかる。また、先人たちの知恵や地域に伝わる言い伝えを大切にする心も忘れてはならない。

Rema Genparu no Yurai

Oranda tōchi jidai, Sumaran no machi wa maitoshi no yō ni daikōzui ni miwarete ita. Umi ni chikaku, ōkina kawa ga machi no naka o nagarete ita tame, uki ni naru to kawa no mizu ga afure, ieie ya tahata, dōro made mizu ni tsukatte shimatta. Hitobito wa maitoshi kōzui ni kurushimi, fuan na hibi o okutte ita.

Sono yōsu o mita Oranda shokuminchi seifu wa, kōzui o fusegu tame ni ōkina unga o tsukuru koto o kimeta. Sono unga wa nochi ni "Nishi Kōzui Unga (Banjir Kanal Barat)" to "Higashi Kōzui Unga (Banjir Kanal Timur)" to yobareru yō ni natta.

Higashi-gawa no kōji wa junchō ni susunda. Shikashi, Nishi-gawa de wa omoigakenai mondai ga okotta. Sagyōin-tachi ga nando tsuchi o hori, teibō o kizuite mo, tsuchi wa sugu ni kuzurete shimau. Nando yarinaoshite mo onaji koto no kurikaeshi de, kōji wa mattaku susumanakatta.

Sagyōin-tachi wa toho ni kureta. Dōshite tsuchi ga kuzuretsudzukeru no ka, dare ni mo riyū ga wakaranakatta. Sono toki, hitori no murabito ga, "Ki Sanakku to iu kenja nara nanika shitte iru kamo shirenai." to susumeta.

Soko de sagyōin-tachi wa Ki Sanakku no moto o otozure, tasuke o motometa. Ki Sanakku wa shizuka ni hanashi o kiita ato, kō itta.

"Washi no ie no soba ni futatsu no ishi ga aru. Sono ishi o motte iki, kuzuretsudzukeru teibō no basho ni ume nasai. Soshite, akiramezu ni kōji o tsudzukeru no da."

Sagyōin-tachi wa hanshinhangi nagara mo, sono kotoba ni shitagatta. Futatsu no ishi o hakobi, oshierareta basho ni umeru to, fushigi na koto ga okotta. Sore made nando mo kuzurete ita tsuchi ga shidai ni katamari, teibō wa shikkari to tachiagatta. Mō tsuchi ga kuzureru koto wa nakatta.

Kōshite unga no kōji wa buji ni kansei shi, kawa no mizu wa sumūzu ni nagareru yō ni natta. Kōzui wa sukoshi zutsu heri, hitobito wa anshin shite kuraseru yō ni natta.

Sore irai, sono basho wa "Rema Genparu" to yobareru yō ni natta. Jawa-go de "rema (lemah)" wa "tsuchi", "genparu (gempal)" wa "katamatta tsuchi" ya "tsuchi no katamari" o imi suru. Kono namae wa, kuzuretsudzukete ita tsuchi ga kataku matomari, hitobito o sukutta dekigoto o ima ni tsutaete iru.

Kyōkun

Donna konnan ni chokumen shite mo, kesshite akiramete wa ikenai. Doryoku o tsudzuke, chie aru hito no jogen ni mimi o katamukereba, donna konnan ni mo kanarazu kaiketsu no michi wa mitsukaru. Mata, senjin-tachi no chie ya chiiki ni tsutawaru iitsutae o taisetsu ni suru kokoro mo wasurete wa naranai.

Versi Bahasa Inggris

The Origin of Lemah Gempal

During the Dutch colonial era, the city of Semarang was often struck by severe floods. Because the city was located near the coast and crossed by a large river, the water would overflow every rainy season, flooding houses, rice fields, and roads. Year after year, the people lived in fear of the floods that disrupted their daily lives.

Seeing this situation, the Dutch colonial government decided to build a large canal to control the flow of the river and reduce flooding. The canal later became known as the West Flood Canal and the East Flood Canal.

The construction of the eastern canal went smoothly. However, the western canal faced an unexpected problem. No matter how many times the workers dug the soil and built the embankment, the earth kept collapsing. They rebuilt it again and again, but each attempt ended in failure, and the project made no progress.

The workers became discouraged. No one could explain why the ground continued to collapse. At that moment, one of the villagers suggested seeking advice from a wise elder named Ki Sanak, who was well known for his wisdom and deep understanding of nature.

The workers visited Ki Sanak and asked for his help. After listening carefully to their story, Ki Sanak said,

"Near my house, there are two stones. Take them and bury them where the embankment keeps collapsing. Then continue your work without giving up."

Although they were doubtful, the workers followed his instructions. They carried the two stones and buried them in the place he had indicated. Suddenly, something extraordinary happened. The soil that had repeatedly collapsed gradually became firm and solid. The embankment stood strong and no longer crumbled.

With the embankment finally secured, the canal was successfully completed. The river flowed more smoothly, and little by little, the floods that had long troubled the people of Semarang began to subside.

From that day on, the area became known as Lemah Gempal. In the Javanese language, lemah means soil or land, while gempal means a solid mass or a compact lump of earth. The name has been passed down through generations to commemorate the remarkable event in which unstable ground became firm and brought safety to the people.

Moral of the Story

No matter how difficult the challenge may be, we should never give up. Through perseverance, hard work, and a willingness to listen to the advice of wise people, every problem can eventually be overcome. The story also reminds us to value the wisdom of our ancestors and preserve the local traditions that have been passed down from generation to generation.

Rabu, 03 Juni 2026

Candi Borobudur dan Legenda Gunadharma

Nama      : Ulfi Khoirunisak
NIM        : 094241132

Dahulu kala, di sebuah wilayah yang indah bernama Magelang di Pulau Jawa, hiduplah seorang arsitek bijaksana bernama Gunadharma.

Ia tidak hanya terkenal karena keahliannya dalam membangun bangunan, tetapi juga karena pengetahuan yang luas dan kebijaksanaannya. Banyak orang menghormatinya karena dianggap sebagai seorang pertapa yang memiliki kemampuan luar biasa.

Suatu hari, Raja kerajaan memanggil Gunadharma ke istana.

Sang Raja memiliki sebuah tugas besar untuknya.

Ia ingin membangun sebuah tempat suci yang dapat digunakan masyarakat untuk berdoa sekaligus mempelajari nilai-nilai kehidupan. Selain itu, bangunan tersebut juga harus menjadi simbol kemegahan dan kejayaan kerajaan yang dapat dikenang oleh generasi-generasi berikutnya.

Setelah memikirkan tugas itu dengan sungguh-sungguh, Gunadharma mendapatkan sebuah gagasan yang istimewa.

Ia ingin membangun sebuah candi yang menggambarkan perjalanan manusia menuju kesempurnaan dan pencerahan batin.

Bersama penduduk desa, ia mulai mengerjakan pembangunan tersebut.

Candi itu dirancang bertingkat-tingkat. Semakin ke atas, ukurannya semakin kecil. Bentuk itu melambangkan perjalanan manusia yang perlahan-lahan meninggalkan hawa nafsu dan berbagai godaan dunia untuk mencapai tingkat kebijaksanaan yang lebih tinggi.

Namun, pembangunan candi itu sama sekali tidak mudah.

Berbagai kesulitan datang silih berganti. Kadang-kadang hujan turun begitu deras sehingga pekerjaan harus dihentikan. Di waktu lain, terik matahari menyengat tubuh para pekerja. Tidak jarang pula mereka mengalami kekurangan tenaga untuk memindahkan batu-batu besar yang akan digunakan sebagai bahan bangunan.

Meskipun begitu, Gunadharma tidak pernah menyerah.

Siang dan malam ia bekerja tanpa mengenal lelah. Ia terus memberikan semangat kepada para pekerja dan mengajak mereka untuk tetap melanjutkan pembangunan.

Tahun demi tahun pun berlalu.

Akhirnya, candi yang megah itu berhasil diselesaikan.

Bangunan tersebut dihiasi dengan ribuan ukiran indah yang menceritakan kehidupan manusia, ajaran kebajikan, serta berbagai kisah yang penuh makna.

Ketika masyarakat melihat hasil akhirnya, mereka dibuat kagum oleh keindahan dan kemegahan candi itu.

Sejak saat itulah bangunan tersebut dikenal sebagai Candi Borobudur.

Pada hari selesainya pembangunan, Gunadharma naik seorang diri ke puncak candi.

Dari tempat yang tinggi itu, ia memandang hamparan alam yang luas dan melihat hasil karya yang telah ia dedikasikan selama bertahun-tahun.

Perasaan haru memenuhi hatinya.

Ia duduk dengan tenang lalu memejamkan mata untuk bermeditasi.

Angin bertiup perlahan, sementara awan bergerak pelan di langit yang luas.

Menurut legenda, setelah itu terjadi sesuatu yang misterius.

Gunadharma menghilang tanpa jejak.

Tidak seorang pun mengetahui ke mana ia pergi.

Namun, masyarakat percaya bahwa rohnya telah menyatu dengan Candi Borobudur dan akan terus menjaga bangunan itu untuk selamanya.

Hingga kini, Candi Borobudur masih berdiri dengan megah dan menjadi salah satu warisan budaya terbesar di dunia.

Lebih dari sekadar bangunan bersejarah, Borobudur menjadi simbol kecerdasan manusia, kerja keras, ketekunan, serta perjalanan spiritual yang mengajarkan bahwa setiap langkah dalam kehidupan memiliki makna menuju kebijaksanaan yang lebih tinggi.

Versi Bahasa Jepang

ボロブドゥール寺院とグナダルマの伝説

昔々、ジャワ島のマゲランという美しい土地に、グナダルマという名の賢い建築家が住んでいた。

彼は優れた技術を持つだけでなく、深い知識と不思議な力を備えた修行者としても知られていた。そのため、多くの人々から尊敬されていた。

ある日、王国の王はグナダルマを宮殿へ呼び出した。

王は彼に大きな使命を与えた。

それは、人々が祈りを捧げ、人生の教えを学ぶことができる壮大な寺院を建設することだった。また、その寺院は王国の繁栄と偉大さを後世に伝える象徴でもなければならなかった。

グナダルマはしばらく考えた末、人間が悟りへ向かう道のりを表現した寺院を造ることを決意した。

彼は村人たちと力を合わせ、建設を始めた。

寺院は下から上へ行くほど小さくなる段々の構造になっていた。それは、人間が欲や迷いを乗り越えながら、少しずつ精神的な高みへ近づいていく姿を表していた。

しかし、その建設は決して簡単なものではなかった。

激しい雨や強い日差しに悩まされることもあった。大きな石を運ぶ人手が足りなくなることもあった。

それでもグナダルマは決して諦めなかった。

昼も夜も働き続け、人々を励ましながら工事を進めた。

長い年月が流れた。

そしてついに、壮大な寺院が完成した。

その建物には数え切れないほどの美しい彫刻が刻まれ、人々の暮らしや教え、人生の物語が表現されていた。

人々はその壮大な姿に驚き、深く感動した。

後に、その寺院はボロブドゥール寺院として知られるようになった。

寺院が完成した日、グナダルマは一人で頂上へ登った。

高い場所から広大な景色と自らの作品を見渡した時、彼の胸には言葉では表せないほどの感動が込み上げてきた。

彼は静かに座り、瞑想を始めた。

風が吹き、雲がゆっくりと空を流れていった。

そして伝説によれば、グナダルマはそのまま姿を消してしまったという。

誰も彼がどこへ行ったのか知らなかった。

しかし人々は、彼の魂が寺院と一体になり、永遠にボロブドゥールを見守り続けていると信じるようになった。

現在でも、ボロブドゥール寺院は壮大な姿を残している。

それは単なる歴史的な建造物ではなく、人間の知恵と努力、そして精神的な成長を象徴する大切な遺産として、多くの人々に愛され続けている。

Borobudūru Jiin to Gunadaruma no Densetsu

Mukashi mukashi, Jawa-tō no Mageran to iu utsukushii tochi ni, Gunadaruma to iu na no kashikoi kenchikuka ga sunde ita.

Kare wa sugureta gijutsu o motsu dake de naku, fukai chishiki to fushigi na chikara o sonaeta shugyōsha to shite mo shirarete ita. Sono tame, ōku no hitobito kara sonkei sarete ita.

Aru hi, ōkoku no ō wa Gunadaruma o kyūden e yobidashita.

Ō wa kare ni ōkina shimei o ataeta.

Sore wa, hitobito ga inori o sasage, jinsei no oshie o manabu koto ga dekiru sōdaina jiin o kensetsu suru koto datta. Mata, sono jiin wa ōkoku no han'ei to idaisa o kōsei ni tsutaeru shōchō demo nakereba naranakatta.

Gunadaruma wa shibaraku kangaeta sue, ningen ga satori e mukau michinori o hyōgen shita jiin o tsukuru koto o ketsui shita.

Kare wa murabito-tachi to chikara o awase, kensetsu o hajimeta.

Jiin wa shita kara ue e iku hodo chiisaku naru dandan no kōzō ni natte ita. Sore wa, ningen ga yoku ya mayoi o norikoenagara, sukoshi zutsu seishinteki na takami e chikazuite iku sugata o arawashite ita.

Shikashi, sono kensetsu wa kesshite kantan na mono de wa nakatta.

Hageshii ame ya tsuyoi hizashi ni nayamasareru koto mo atta. Ōkii ishi o hakobu hitode ga tarinaku naru koto mo atta.

Sore demo Gunadaruma wa kesshite akiramenakatta.

Hiru mo yoru mo hatarakitsudzuke, hitobito o hagemashinagara kōji o susumeta.

Nagai toshitsuki ga nagareta.

Soshite tsuini, sōdaina jiin ga kansei shita.

Sono tatemono ni wa kazoe kirenai hodo no utsukushii chōkoku ga kizamarare, hitobito no kurashi ya oshie, jinsei no monogatari ga hyōgen sarete ita.

Hitobito wa sono sōdaina sugata ni odoroki, fukaku kandō shita.

Nochi ni, sono jiin wa Borobudūru Jiin to shite shirareru yō ni natta.

Jiin ga kansei shita hi, Gunadaruma wa hitori de chōjō e nobotta.

Takai basho kara kōdaina keshiki to mizukara no sakuhin o miwatashita toki, kare no mune ni wa kotoba de wa arawasenai hodo no kandō ga komiagete kita.

Kare wa shizuka ni suwari, meiso o hajimeta.

Kaze ga fuki, kumo ga yukkuri to sora o nagarete itta.

Soshite densetsu ni yoreba, Gunadaruma wa sono mama sugata o keshite shimatta to iu.

Dare mo kare ga doko e itta no ka shiranakatta.

Shikashi hitobito wa, kare no tamashii ga jiin to ittai ni nari, eien ni Borobudūru o mimamori tsudzukete iru to shinjiru yō ni natta.

Genzai demo, Borobudūru Jiin wa sōdaina sugata o nokoshite iru.

Sore wa tan naru rekishiteki na kenzōbutsu de wa naku, ningen no chie to doryoku, soshite seishinteki na seichō o shōchō suru taisetsu na isan to shite, ōku no hitobito ni aisare tsudzukete iru.

Versi Bahasa Inggris 

Borobudur Temple and the Legend of Gunadharma

Long ago, in the beautiful region of Magelang on the island of Java, there lived a wise architect named Gunadharma.

He was known not only for his extraordinary skill in designing buildings but also for his vast knowledge and wisdom. Many people respected him and believed that he possessed remarkable spiritual abilities.

One day, the king of the kingdom summoned Gunadharma to the royal palace.

The king entrusted him with a great mission.

He wanted a magnificent sacred monument that would serve as a place of prayer and reflection for the people. At the same time, it was meant to symbolize the greatness and prosperity of the kingdom for future generations.

After carefully considering the task, Gunadharma came up with a remarkable idea.

He decided to design a temple that would represent the journey of human life toward enlightenment and spiritual perfection.

Together with the villagers, he began the enormous construction project.

The temple was designed with a series of terraces that became smaller as they rose higher. This structure symbolized the gradual journey of human beings as they overcome worldly desires and distractions in their pursuit of wisdom and enlightenment.

However, building the temple was far from easy.

Many challenges stood in their way. At times, heavy rains forced the workers to stop their work. At other times, the scorching sun exhausted everyone involved. There were also occasions when they lacked enough people to transport the massive stones needed for construction.

Despite these difficulties, Gunadharma never gave up.

Day and night, he worked tirelessly. He encouraged the workers and inspired them to continue despite the hardships they faced.

Years passed.

At last, the magnificent temple was completed.

The structure was adorned with countless beautiful carvings depicting human life, moral teachings, and stories filled with wisdom and meaning.

When the people finally saw the completed monument, they were amazed by its beauty and grandeur.

From that day forward, the temple became known as Borobudur Temple.

On the day the construction was completed, Gunadharma climbed alone to the highest level of the temple.

From that lofty place, he gazed across the vast landscape and admired the masterpiece to which he had devoted so many years of his life.

A deep sense of emotion filled his heart.

He sat quietly and began to meditate.

The wind blew gently, and clouds drifted slowly across the endless sky.

According to the legend, something mysterious happened afterward.

Gunadharma disappeared without a trace.

No one ever discovered where he had gone.

However, the people came to believe that his spirit had become one with Borobudur Temple and would continue to watch over it forever.

Even today, Borobudur Temple stands proudly as one of the greatest cultural treasures in the world.

More than just a historical monument, it represents human intelligence, perseverance, dedication, and spiritual growth. It serves as a timeless reminder that every step in life carries meaning on the path toward greater wisdom and enlightenment.

Pelajaran Berharga dari Sebuah Kecelakaan Tak Terduga

NAMA : WILDA SUKMA AYU
NIM     : 094241117

Hujan turun deras sejak pagi itu. Langit kelabu menggantung rendah seolah ikut menambah kegelisahan yang sudah memenuhi pikiranku. Jam menunjukkan waktu yang hampir membuatku terlambat berangkat kerja. Di Jepang, ketepatan waktu adalah sesuatu yang sangat dihargai, dan aku tidak ingin meninggalkan kesan buruk di hadapan atasan maupun rekan kerja.

Tanpa banyak berpikir, aku mengenakan jas hujan, memasang topi, lalu mengayuh sepeda secepat mungkin menembus hujan. Butiran air yang jatuh semakin deras membuat jalanan tampak samar. Meski demikian, aku terus melaju. Dalam benakku hanya ada satu tujuan: jangan sampai terlambat.

Jalanan pagi itu cukup ramai. Orang-orang bergegas menuju tempat kerja dan sekolah sambil membawa payung. Namun, karena hujan yang mengaburkan pandangan serta topi yang menutupi sebagian penglihatanku, aku tidak terlalu memperhatikan keadaan sekitar. Aku terus mengayuh sepeda dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya.

Ketika mendekati sebuah persimpangan dengan lampu merah, aku masih melaju dengan tergesa-gesa. Di tengah derasnya hujan, seorang wanita Jepang yang sudah cukup tua berdiri di tepi jalan sambil memegang payung. Ia tampaknya hendak menyeberang.

Namun semuanya terjadi begitu cepat.

Dalam hitungan detik, aku kehilangan fokus. Saat menyadari ada seseorang tepat di depanku, semuanya sudah terlambat.

Brak!

Tubuhku dan sepeda yang kukendarai menghantam wanita itu. Ia terjatuh ke jalan dan tubuhnya sedikit terpental. Payung yang dipegangnya terlempar beberapa meter dari tempatnya berdiri.

Jantungku seakan berhenti berdetak.

Tubuhku langsung lemas. Tanpa berpikir panjang, aku melemparkan sepeda ke pinggir jalan dan berlari menghampirinya. Tanganku gemetar ketika membantu beliau bangun.

"Maaf... maafkan saya..." ucapku berulang kali.

Air mataku mulai jatuh tanpa bisa kutahan. Dengan panik aku bertanya apakah beliau terluka dan apakah perlu dibawa ke rumah sakit. Aku benar-benar ketakutan. Benturannya terasa cukup keras, terlebih lagi beliau sudah berusia lanjut.

Namun di luar dugaan, wanita itu menjawab dengan tenang.

"Saya tidak apa-apa," katanya sambil tersenyum tipis.

Beliau bahkan mengatakan tidak perlu pergi ke rumah sakit dan segera melanjutkan perjalanannya.

Meski mendengar jawaban itu, hatiku sama sekali tidak tenang.

Sepanjang perjalanan menuju tempat kerja, aku terus menangis. Rasa bersalah menghantamku tanpa ampun. Bayangan tubuh wanita itu yang terjatuh di tengah hujan terus berulang di dalam kepalaku.

Sesampainya di kantor, aku tidak mampu bekerja dengan baik. Tanganku masih gemetar dan pikiranku kacau. Akhirnya, aku memberanikan diri menemui atasan dan menceritakan seluruh kejadian yang baru saja kualami.

Atasanku mendengarkan dengan serius.

Setelah aku selesai bercerita, beliau berkata, "Ini bukan masalah kecil. Kamu harus bertanggung jawab dan memastikan keadaan korban."

Kata-kata itu membuatku semakin takut, tetapi aku tahu beliau benar.

Hari itu juga kami kembali ke lokasi kejadian dan melapor ke kantor polisi. Polisi meminta keterangan secara rinci, mulai dari kondisi cuaca, kecepatan sepeda yang kukendarai, hingga kronologi tabrakan yang terjadi.

Tidak lama kemudian, wanita yang kutabrak datang ke kantor polisi.

Saat melihatnya memasuki ruangan, perasaanku kembali campur aduk. Malu, takut, sedih, dan bersalah bercampur menjadi satu. Aku segera membungkukkan badan dan meminta maaf sekali lagi dengan tulus.

Kali ini aku mengetahui bahwa beliau memang mengalami luka ringan. Dahinya sedikit terluka dan perutnya terasa sakit akibat benturan.

Mendengar hal itu, hatiku terasa semakin berat.

Aku kembali meminta maaf sambil menahan air mata. Aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri. Semua itu terjadi karena aku terlalu terburu-buru dan mengabaikan keselamatan.

Namun, hal yang paling tidak akan pernah kulupakan adalah sikap wanita tersebut.

Alih-alih marah atau menyalahkanku, beliau justru berusaha menenangkanku.

"Tidak apa-apa. Jangan terlalu khawatir," katanya dengan suara lembut.

Perkataannya membuatku semakin terharu. Kebaikan hati beliau di tengah situasi seperti itu adalah sesuatu yang tidak pernah kuduga. Sikapnya mengajarkanku arti empati dan pengampunan yang sesungguhnya.

Setelah seluruh proses di kantor polisi selesai, aku kembali bekerja. Hari itu berjalan seperti biasa, tetapi hatiku tidak pernah benar-benar tenang. Peristiwa yang terjadi pagi itu terus memenuhi pikiranku.

Sejak saat itu, aku menyadari satu hal penting: terburu-buru dapat membawa akibat yang sangat berbahaya.

Hanya karena takut terlambat bekerja, aku hampir menyebabkan orang lain mengalami cedera yang lebih serius. Pengalaman tersebut mengajarkanku bahwa keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama, lebih penting daripada mengejar waktu atau memenuhi ambisi sesaat.

Kini, setiap kali mengendarai sepeda atau kendaraan apa pun, aku selalu mengingat kejadian itu. Rasa takut, panik, dan bersalah yang kurasakan pada hari itu mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang. Namun, dari pengalaman itulah aku belajar menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, lebih berhati-hati, dan lebih menghargai keselamatan diri sendiri maupun orang lain.

Kadang-kadang, pelajaran hidup yang paling berharga datang dari sebuah kesalahan yang tidak pernah kita harapkan terjadi. Dan bagi saya, kecelakaan di tengah hujan pada pagi itu adalah salah satu pelajaran terbesar yang akan selalu saya kenang sepanjang hidup.

Versi Bahasa Jepang

思いがけない事故から学んだ大切な教訓

その日の朝、空は厚い雲に覆われ、激しい雨が降っていた。

窓の外を見ながら、私は焦っていた。時計の針は出勤時間に近づいている。日本では時間を守ることがとても大切だ。遅刻をすれば、上司や会社に悪い印象を与えてしまうかもしれない。そんな不安が頭の中をいっぱいにしていた。

雨がどれほど強くても、仕事を休むわけにはいかなかった。

私はレインコートを着て帽子をかぶり、いつものように自転車に乗った。雨粒は容赦なく顔に当たり、視界はあまり良くなかった。それでも私はペダルを踏み続けた。

頭の中にあったのは、「遅刻したくない」という思いだけだった。

朝の道路は多くの人で混雑していた。会社へ向かう人、学校へ向かう学生、それぞれが傘を差しながら足早に歩いている。私はそんな人々の間を縫うように、自転車をいつもより速く走らせていた。

やがて赤信号のある交差点に差しかかった。

雨の向こう側に、一人の日本人女性が立っていた。少し年配の女性で、傘を手にしていた。おそらく彼女もどこかへ向かう途中だったのだろう。

しかし、その時の私は周囲を見る余裕を失っていた。

強い雨、帽子で狭くなった視界、そして遅刻への焦り。

そのすべてが重なり、私は女性が目の前にいることに気づかなかった。

次の瞬間だった。

ドンッ――。

激しい衝撃とともに、私は女性にぶつかってしまった。

女性の体は道路に倒れ、持っていた傘は遠くへ飛ばされた。

その光景を見た瞬間、頭の中が真っ白になった。

心臓が止まったような気がした。

私は慌てて自転車を道端に放り出し、女性のもとへ駆け寄った。

「すみません、本当にすみません!」

そう言いながら、震える手で女性を起こした。

涙が止まらなかった。

「大丈夫ですか? 病院へ行ったほうがいいんじゃないですか?」

私は何度もそう尋ねた。もし大けがをしていたらどうしよう。もし取り返しのつかないことになっていたらどうしよう。恐怖と後悔で胸がいっぱいだった。

ところが、女性は驚くほど落ち着いていた。

「大丈夫ですよ」

そう静かに言うと、彼女はそのまま立ち去ろうとした。

けれど、私の心はまったく落ち着かなかった。

会社へ向かう間も、私はずっと泣いていた。

頭の中には、道路に倒れた女性の姿が何度も浮かんでいた。本当に大丈夫だったのだろうか。どこか痛めていないだろうか。そんなことばかり考えていた。

会社に着いても、気持ちは少しも晴れなかった。

手は震え、仕事にも集中できない。

このまま黙っているのは違う。

そう思い、私は上司のもとへ向かった。

事故のことを最初から最後まで話すと、上司は真剣な表情で耳を傾けてくれた。

そして話を聞き終えると、静かに言った。

「それは小さな問題じゃない。きちんと責任を持たなければならない。」

その言葉を聞いて、私はさらに不安になった。

しかし、上司の言う通りだと思った。

その後、私は上司と一緒に事故現場へ戻り、警察署へ向かった。事故の時に使っていた自転車も持参した。

警察では、天候の状況や自転車の速度、事故が起きた経緯などを細かく説明した。

しばらくすると、あの女性も警察署にやって来た。

彼女の姿を見た瞬間、胸が締め付けられた。

私はすぐに頭を下げ、もう一度心から謝った。

そして、恐る恐る尋ねた。

「本当に病院へ行かなくて大丈夫ですか?」

すると女性は、額に小さな傷があり、お腹にも少し痛みがあると話してくれた。

その言葉を聞いた瞬間、胸がさらに重くなった。

私の不注意のせいで、年配の女性を傷つけてしまった。

その事実が苦しくてたまらなかった。

ところが、その時だった。

女性は私を責めるどころか、逆に優しく声をかけてくれた。

「大丈夫ですよ。あまり気にしないでください。」

その言葉を聞いた瞬間、涙があふれそうになった。

怒られても仕方がない状況だった。それなのに、彼女は私を思いやり、安心させようとしてくれた。

その優しさに、私は心から救われた。

すべての手続きが終わった後、私は会社へ戻り、再び仕事を始めた。

しかし、その日一日中、心は重いままだった。

あの雨の日の出来事が頭から離れなかった。

そして私は、その経験から大切なことを学んだ。

焦りは判断力を奪う。

私は遅刻したくないという気持ちにとらわれるあまり、安全を後回しにしてしまった。もし事故がもっと大きなものになっていたら、取り返しのつかない結果になっていたかもしれない。

それ以来、自転車に乗る時は以前よりもずっと慎重になった。

どれほど急いでいても、安全より優先すべきものはない。

あの日感じた恐怖や後悔、そして罪悪感は、今でも完全には消えていない。

それでも私は、その経験を人生の大切な教訓として受け止めている。

時には、人生で最も大切な学びは、自分が決して起こしたくなかった失敗の中にある。

雨の朝に起きたあの事故は、これから先もずっと、私に責任と安全の大切さを教え続けてくれるだろう。

Omoigakenai Jiko kara Mananda Taisetsu na Kyōkun

Sono hi no asa, sora wa atsui kumo ni ooware, hageshii ame ga futte ita.

Mado no soto o minagara, watashi wa asette ita. Tokei no hari wa shukkin jikan ni chikadzuite iru. Nihon de wa jikan o mamoru koto ga totemo taisetsu da. Chikoku o sureba, jōshi ya kaisha ni warui inshō o ataete shimau kamo shirenai. Sonna fuan ga atama no naka o ippai ni shite ita.

Ame ga dore hodo tsuyokutemo, shigoto o yasumu wake ni wa ikanakatta.

Watashi wa reinkōto o kite bōshi o kaburi, itsumo no yō ni jitensha ni notta. Amatsubu wa yōsha naku kao ni atari, shikai wa amari yokunakatta. Sore demo watashi wa pedaru o fumitsudzuketa.

Atama no naka ni atta no wa, "chikoku shitakunai" to iu omoi dake datta.

Asa no dōro wa ōku no hito de konzatsu shite ita. Kaisha e mukau hito, gakkō e mukau gakusei, sorezore ga kasa o sashinagara ashibaya ni aruite iru. Watashi wa sonna hitobito no aida o nuu yō ni, jitensha o itsumo yori hayaku hashirasete ita.

Yagate akashingō no aru kōsaten ni sashikakatta.

Ame no mukōgawa ni, hitori no Nihonjin josei ga tatte ita. Sukoshi nenpai no josei de, kasa o te ni shite ita. Osoraku kanojo mo dokoka e mukau tochū datta no darō.

Shikashi, sono toki no watashi wa shūi o miru yoyū o ushinatte ita.

Tsuyoi ame, bōshi de semaku natta shikai, soshite chikoku e no aseri.

Sono subete ga kasanari, watashi wa josei ga me no mae ni iru koto ni kizukanakatta.

Tsugi no shunkan datta.

Don!

Hageshii shōgeki to tomo ni, watashi wa josei ni butsukatte shimatta.

Josei no karada wa dōro ni taore, motte ita kasa wa tōku e tobasareta.

Sono kōkei o mita shunkan, atama no naka ga masshiro ni natta.

Shinzō ga tomatta yō na ki ga shita.

Watashi wa awatete jitensha o michibata ni hōridashi, josei no moto e kakeyotta.

"Sumimasen, hontō ni sumimasen!"

Sō iinagara, furueru te de josei o okoshita.

Namida ga tomaranakatta.

"Daijōbu desu ka? Byōin e itta hō ga ii n ja nai desu ka?"

Watashi wa nando mo sō tazuneta. Moshi ōkega o shite itara dō shiyō. Moshi torikaeshi no tsukanai koto ni natte itara dō shiyō. Kyōfu to kōkai de mune ga ippai datta.

Versi Bahasa Inggris 

 

A Valuable Lesson Learned from an Unexpected Accident

That morning, the sky was covered with thick gray clouds, and heavy rain had been falling since dawn.

As I looked out the window, I felt increasingly anxious. The clock was getting closer to my starting time at work. In Japan, punctuality is highly valued, and being late is often seen as a sign of irresponsibility. I did not want to leave a bad impression on my supervisor or my company. Those worries filled my mind as I prepared to leave.

No matter how hard it rained, taking a day off was not an option.

I put on my raincoat, wore a hat, and got on my bicycle as usual. Raindrops struck my face relentlessly, and my vision was far from clear. Still, I kept pedaling forward.

At that moment, there was only one thought in my mind:

I must not be late.

The streets were crowded with people heading to work and school. Everyone hurried along under their umbrellas, trying to escape the rain. I rode my bicycle faster than usual, weaving through the busy morning traffic.

Soon, I approached an intersection with a traffic light.

On the other side of the rain, I noticed a Japanese woman standing with an umbrella. She appeared to be elderly and was probably on her way somewhere, just like everyone else that morning.

However, I was too distracted to pay proper attention to my surroundings.

The heavy rain, my limited visibility under the hat, and my fear of being late had taken over my focus.

Before I realized it, everything happened in an instant.

Crash!

A sudden impact shook my entire body.

I had collided with the woman.

She fell onto the wet road, and the umbrella she was holding flew several meters away. The moment I saw her fall, my mind went completely blank.

It felt as if my heart had stopped beating.

Without thinking, I threw my bicycle to the side of the road and ran toward her.

“I’m so sorry! I’m really, really sorry!”

My hands trembled as I helped her get back on her feet. Tears began streaming down my face uncontrollably.

“Are you okay? Should we go to the hospital?”

I asked the same questions over and over again. Fear and guilt overwhelmed me. What if she had been seriously injured? What if something irreversible had happened because of my carelessness?

To my surprise, she remained remarkably calm.

“I’m fine,” she said softly.

Then she tried to continue on her way as if nothing had happened.

But I could not calm my heart.

On the way to work, I kept crying. The image of her falling onto the road replayed repeatedly in my mind. I could not stop wondering whether she was truly okay.

When I arrived at the office, I still could not focus. My hands were shaking, and my thoughts were in complete disarray.

I knew remaining silent would be wrong.

Gathering my courage, I went to my supervisor and explained everything that had happened from beginning to end.

He listened carefully and seriously.

When I finished, he looked at me and said,

“This is not a minor issue. You must take responsibility for what happened.”

His words made me even more nervous, but deep down, I knew he was right.

Soon afterward, my supervisor and I returned to the accident site and then went to the police station. I also brought the bicycle involved in the collision.

At the station, I was asked to explain every detail of the incident—the weather conditions, the speed of my bicycle, and exactly how the accident had occurred.

A short while later, the woman I had collided with arrived at the police station.

The moment I saw her, my chest tightened.

I immediately bowed deeply and apologized once again from the bottom of my heart.

Then I cautiously asked,

“Are you absolutely sure you don’t need to go to the hospital?”

This time, she admitted that she had suffered a small cut on her forehead and some pain in her stomach from the impact.

Hearing that made me feel even worse.

The reality that my carelessness had caused an elderly woman to be injured weighed heavily on my heart.

Yet what happened next is something I will never forget.

Instead of blaming me or expressing anger, she gently tried to comfort me.

“It’s all right,” she said kindly. “Please don’t worry too much.”

Her words nearly brought me to tears again.

She had every reason to be upset, yet she chose kindness and understanding instead. Her compassion in that difficult moment touched me deeply and gave me a sense of relief I desperately needed.

After all the procedures at the police station were completed, I returned to work and continued my duties as usual.

Outwardly, everything seemed normal.

But inside, my heart felt heavy throughout the entire day.

I could not stop thinking about what had happened.

That experience taught me one of the most important lessons of my life.

When people become too focused on rushing, they often lose the ability to make sound judgments.

My fear of being late had caused me to neglect something far more important: safety.

Had the accident been more serious, the consequences could have been devastating.

Since that day, I have become much more careful whenever I ride a bicycle or operate any vehicle.

No matter how urgent something may seem, nothing is more important than the safety of ourselves and others.

The fear, panic, guilt, and regret I felt that rainy morning have never completely disappeared.

Even so, I choose to remember that experience not only as a painful memory but also as a valuable lesson.

Sometimes, the most meaningful lessons in life come from mistakes we never wanted to make.

And for me, that accident on a rainy morning will always serve as a reminder to live more responsibly, act more carefully, and value safety above all else.

 

Senin, 01 Juni 2026

Lutung Kasarung

Nama : Tri Yoga Abiasa

NIM : 094241070

Pada zaman dahulu, di tanah Pasundan, berdirilah sebuah kerajaan yang makmur dan damai. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana dan disegani oleh seluruh rakyatnya. Sang raja memiliki tujuh orang putri yang cantik dan berbudi. Di antara ketujuh putri tersebut, putri bungsu bernama Purbasari adalah yang paling disayangi oleh rakyat.

Purbasari dikenal sebagai gadis yang baik hati, ramah, dan rendah hati. Ia tidak pernah membanggakan kedudukannya sebagai putri raja. Sebaliknya, ia senang membantu orang lain dan selalu memperlakukan siapa pun dengan sopan.

Namun, kebaikan Purbasari justru menimbulkan rasa iri di hati kakaknya, Purbararang. Sebagai putri sulung, Purbararang merasa dirinya lebih pantas menjadi penerus kerajaan. Ia tidak senang melihat rakyat dan sang raja begitu menyayangi adiknya.

Ketika sang raja mulai mempertimbangkan Purbasari sebagai calon penerus tahta, rasa iri Purbararang semakin besar. Ia pun menyusun rencana jahat untuk menyingkirkan adiknya.

Dengan bantuan seorang tabib istana, Purbararang membuat tubuh Purbasari dipenuhi bercak-bercak hitam yang menyerupai penyakit kulit. Melihat keadaan itu, banyak orang istana merasa takut dan menganggap Purbasari terkena kutukan.

Purbararang memanfaatkan keadaan tersebut untuk memengaruhi sang raja. Akhirnya, dengan berat hati, raja memutuskan untuk mengasingkan Purbasari ke tengah hutan.

Purbasari menerima keputusan itu dengan sabar. Ia meninggalkan istana tanpa membenci siapa pun. Meski sedih, ia tetap berusaha menjalani hidup dengan tabah.

Di tengah hutan yang lebat dan sunyi, Purbasari hidup seorang diri. Namun, suatu hari ia bertemu seekor lutung hitam yang berbeda dari hewan-hewan lainnya. Lutung itu tampak memahami kesedihan yang dirasakannya.

Lutung tersebut kemudian dikenal sebagai Lutung Kasarung.

Sejak saat itu, Lutung Kasarung selalu menemani Purbasari. Ia membantu mencarikan makanan, menjaga Purbasari dari bahaya, dan menjadi sahabat setianya. Berkat kehadiran lutung itu, hari-hari Purbasari di hutan tidak lagi terasa begitu sepi.

Lama-kelamaan, tumbuhlah rasa percaya yang kuat di antara mereka. Purbasari tidak pernah memandang Lutung Kasarung dari wujudnya yang sederhana. Ia melihat kebaikan hati dan kesetiaan yang dimiliki sahabatnya itu.

Tanpa diketahui Purbasari, Lutung Kasarung sebenarnya bukanlah hewan biasa. Ia adalah seorang pangeran dari kahyangan bernama Guruminda. Karena suatu kutukan, ia harus hidup dalam wujud seekor lutung hingga bertemu seseorang yang mampu melihat ketulusan di balik penampilan luar.

Sementara itu, di kerajaan, Purbararang semakin yakin bahwa Purbasari tidak akan pernah kembali. Namun, kabar tentang kehidupan Purbasari di hutan mulai terdengar oleh rakyat. Banyak orang yang merasa kasihan dan mulai meragukan keputusan yang telah diambil istana.

Untuk membuktikan bahwa dirinya lebih unggul, Purbararang mengadakan berbagai perlombaan dan memanggil Purbasari kembali ke kerajaan.

Satu demi satu tantangan diberikan kepada kedua putri tersebut. Mulai dari keterampilan rumah tangga, kecerdasan, hingga berbagai ujian lainnya.

Dengan bantuan Lutung Kasarung, Purbasari berhasil melewati semua ujian dengan baik. Ia menunjukkan bahwa kebaikan hati, kesabaran, dan ketekunan jauh lebih berharga daripada kesombongan.

Akhirnya tibalah ujian terakhir. Kedua putri diminta menunjukkan calon pendamping hidup mereka.

Purbararang merasa sangat yakin akan menang. Tunangannya adalah seorang pangeran tampan dan gagah. Sementara itu, Purbasari hanya ditemani seekor lutung hitam.

Para penghuni istana pun mulai berbisik-bisik. Mereka mengira kemenangan sudah pasti berada di tangan Purbararang.

Namun, sesuatu yang luar biasa terjadi.

Di hadapan seluruh penghuni istana, Lutung Kasarung tiba-tiba berubah wujud. Cahaya terang menyelimuti tubuhnya. Dalam sekejap, lutung hitam itu berubah menjadi seorang pangeran yang tampan dan berwibawa.

Dialah Pangeran Guruminda dari kahyangan.

Semua orang terkejut. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa sahabat setia Purbasari adalah seorang pangeran.

Purbararang hanya bisa menundukkan kepala. Saat itu ia menyadari bahwa rasa iri dan kesombongan tidak akan pernah mampu mengalahkan ketulusan dan kebaikan hati.

Akhirnya, kebenaran terungkap. Nama baik Purbasari dipulihkan, dan ia kembali memperoleh haknya sebagai putri yang layak menjadi penerus kerajaan.

Kelak, Purbasari memimpin kerajaan dengan bijaksana bersama Pangeran Guruminda. Di bawah kepemimpinan mereka, rakyat hidup damai, makmur, dan bahagia.

Sejak saat itu, kisah Lutung Kasarung terus diceritakan dari generasi ke generasi sebagai pelajaran bahwa kecantikan dan kemuliaan sejati tidak terletak pada penampilan luar, melainkan pada ketulusan hati dan kebaikan seseorang.

Tamat

Versi Bahasa Jepang

『ルトゥン・カサルン』

昔々、西ジャワのパスンダンという美しい国に、賢く立派な王がいた。

王は国を平和に治め、人々から深く尊敬されていた。王には七人の娘がいたが、その中でも末娘のプルバサリは特に人々に愛されていた。

プルバサリは優しく思いやりがあり、いつも謙虚だった。王女でありながら身分を誇ることはなく、誰に対しても親切に接していた。そのため、宮殿の人々だけでなく、多くの民からも慕われていた。

しかし、そのことを快く思わない者がいた。

姉のプルバラランである。

長女である彼女は、自分こそが王位を継ぐべきだと考えていた。ところが、王がしだいにプルバサリを信頼するようになると、その心には嫉妬の炎が燃え始めた。

やがてプルバラランは、妹を宮殿から追い出すための恐ろしい計画を立てた。

彼女は宮廷の医者を利用し、プルバサリの体に黒い斑点が現れるよう細工をした。

翌日、プルバサリの美しい肌には黒い斑点が広がっていた。

それを見た人々は驚き、不吉な出来事の前触れだと噂した。

プルバラランはその機会を逃さなかった。

「この者は王国に災いをもたらすかもしれません。」

そう言って王に訴えた。

王は深く悩んだ末、ついにプルバサリを森へ追放することを決めた。

プルバサリは悲しかったが、誰も恨まなかった。

ただ静かに運命を受け入れ、一人で森へ向かった。

深い森の中での暮らしは決して楽ではなかった。

それでもプルバサリは毎日を懸命に生きた。

そんなある日、彼女は一匹の黒いルトゥン(猿)と出会った。

その猿は普通の猿とはどこか違っていた。

優しい目をしており、まるで人の心が分かるかのようだった。

その猿こそ、ルトゥン・カサルンだった。

ルトゥン・カサルンはいつもプルバサリのそばにいた。

食べ物を見つけてくれたり、危険から守ってくれたりして、彼女の力になった。

こうして二人は少しずつ心を通わせていった。

プルバサリはルトゥンの姿ではなく、その優しさと誠実さを見ていた。

だが実は、ルトゥン・カサルンには大きな秘密があった。

彼の正体は、天界の王子グルミンダだったのである。

呪いによって猿の姿に変えられ、本当の価値を見抜く心を持つ者に出会うまで、その姿で生きなければならなかったのだ。

一方その頃、王宮ではプルバラランが自分の勝利を信じて疑わなかった。

しかし、森でたくましく暮らすプルバサリの噂は少しずつ国中に広まり、人々は王宮の決定に疑問を持ち始めた。

そこでプルバラランは、自分の方が優れていることを証明するため、さまざまな試練を行うことを提案した。

プルバサリは王宮へ呼び戻された。

料理や機織りなどの技術、知恵、そして人柄を試す多くの試練が与えられた。

しかし、プルバサリはどの試練も立派に乗り越えていった。

その姿に、多くの人々は感心した。

そして最後の試練の日がやって来た。

それは、どちらの伴侶がよりふさわしいかを比べる試練だった。

プルバラランは美しく立派な婚約者を連れて現れた。

彼女は自分の勝利を確信していた。

一方、プルバサリの隣にいたのは、いつもの黒いルトゥンだった。

人々はひそひそと話し始めた。

そのときだった。

突然、まばゆい光が辺りを包み込んだ。

ルトゥン・カサルンの体が光に包まれ、ゆっくりと姿を変え始めた。

そして光が消えると、そこには気高く美しい王子が立っていた。

グルミンダ王子だった。

宮殿中の人々は驚きのあまり言葉を失った。

プルバラランも何も言えなかった。

その瞬間、彼女はようやく気づいた。

本当に大切なのは外見や地位ではなく、心の美しさなのだということを。

やがてプルバサリは名誉を取り戻し、王国の正当な後継者となった。

そしてグルミンダ王子とともに国を治め、人々を幸せへ導いたという。

それ以来、『ルトゥン・カサルン』の物語は語り継がれ、真の美しさは外見ではなく、優しさと誠実な心の中にあることを人々に教え続けている。

おしまい

Lutung Kasarung

Mukashi mukashi, Nishi Jawa no Pasundan to iu utsukushii kuni ni, kashikoku rippa na ō ga ita.

Ō wa kuni o heiwa ni osame, hitobito kara fukaku sonkei sarete ita. Ō ni wa shichinin no musume ga ita ga, sono naka demo suemusume no Purbasari wa toku ni hitobito ni aisarete ita.

Purbasari wa yasashiku omoiyari ga ari, itsumo kenkyo datta. Ōjo de arinagara mibun o hokoru koto wa naku, dare ni taishite mo shinsetsu ni sesshite ita. Sono tame, kyūden no hitobito dake de naku, ōku no tami kara mo shitawarete ita.

Shikashi, sono koto o kokoroyoku omowanai mono ga ita.

Ane no Purbararang de aru.

Chōjo de aru kanojo wa, jibun koso ga ōi o tsugu beki da to kangaete ita. Tokoro ga, ō ga shidai ni Purbasari o shinrai suru yō ni naru to, sono kokoro ni wa shitto no honō ga moe hajimeta.

Yagate Purbararang wa, imōto o kyūden kara oidashu tame no osoroshii keikaku o tateta.

Kanojo wa kyūtei no isha o riyō shi, Purbasari no karada ni kuroi hanten ga arawareru yō saiku o shita.

Yokujitsu, Purbasari no utsukushii hada ni wa kuroi hanten ga hirogatte ita.

Sore o mita hitobito wa odoroki, fukitsuna dekigoto no maebure da to uwasa shita.

Purbararang wa sono kikai o nogasanakatta.

“Kono mono wa ōkoku ni wazawai o motarasu kamoshiremasen.”

Sō itte ō ni uttae ta.

Ō wa fukaku nayanda sue, tsuini Purbasari o mori e tsuihō suru koto o kimeta.

Purbasari wa kanashikatta ga, dare mo uramanakatta.

Tada shizuka ni unmei o ukeire, hitori de mori e mukatta.

Fukai mori no naka de no kurashi wa kesshite raku de wa nakatta.

Sore demo Purbasari wa mainichi o kenmei ni ikita.

Sonna aru hi, kanojo wa ippiki no kuroi lutung (saru) to deatta.

Sono saru wa futsū no saru to wa dokoka chigatte ita.

Yasashii me o shite ori, maru de hito no kokoro ga wakaru ka no yō datta.

Sono saru koso, Lutung Kasarung datta.

Lutung Kasarung wa itsumo Purbasari no soba ni ita.

Tabemono o mitsukete kuretari, kiken kara mamotte kuretari shite, kanojo no chikara ni natta.

Kōshite futari wa sukoshizutsu kokoro o kayowasete itta.

Purbasari wa Lutung no sugata de wa naku, sono yasashisa to seijitsusa o mite ita.

Da ga jitsu wa, Lutung Kasarung ni wa ōkina himitsu ga atta.

Kare no shōtai wa, tenkai no ōji Guruminda datta node aru.

Noroi ni yotte saru no sugata ni kaerare, hontō no kachi o minuku kokoro o motsu mono ni deau made, sono sugata de ikinakereba naranakatta no da.

Ippō sono koro, ōkyū de wa Purbararang ga jibun no shōri o shinjite utagawanakatta.

Shikashi, mori de takumashiku kurasu Purbasari no uwasa wa sukoshizutsu kunijū ni hiromari, hitobito wa ōkyū no kettei ni gimon o mochi hajimeta.

Soko de Purbararang wa, jibun no hō ga sugurete iru koto o shōmei suru tame, samazama na shiren o okonau koto o teian shita.

Purbasari wa ōkyū e yobimodosareta.

Ryōri ya orimono nado no gijutsu, chie, soshite hitogara o tamesu ōku no shiren ga ataerareta.

Shikashi, Purbasari wa dono shiren mo rippa ni norikoete itta.

Sono sugata ni, ōku no hitobito wa kanshin shita.

Soshite saigo no shiren no hi ga yatte kita.

Sore wa, dochira no hanryo ga yori fusawashii ka o kuraberu shiren datta.

Purbararang wa utsukushiku rippa na kon’yakusha o tsurete arawareta.

Kanojo wa jibun no shōri o kakushin shite ita.

Ippō, Purbasari no tonari ni ita no wa, itsumo no kuroi Lutung datta.

Hitobito wa hisohiso to hanashi hajimeta.

Sono toki datta.

Totsuzen, mabayui hikari ga atari o tsutsumikonda.

Lutung Kasarung no karada ga hikari ni tsutsumare, yukkuri to sugata o kae hajimeta.

Soshite hikari ga kieru to, soko ni wa kedakaku utsukushii ōji ga tatte ita.

Guruminda Ōji datta.

Kyūdenjū no hitobito wa odoroki no amari kotoba o ushinatta.

Purbararang mo nani mo ienakatta.

Sono shunkan, kanojo wa yōyaku kidzuita.

Hontō ni taisetsu na no wa gaiken ya chii de wa naku, kokoro no utsukushisa na no da to iu koto o.

Yagate Purbasari wa meiyo o torimodoshi, ōkoku no seitō na kōkeisha to natta.

Soshite Guruminda Ōji to tomo ni kuni o osame, hitobito o shiawase e michiita to iu.

Sore irai, 『Lutung Kasarung』 no monogatari wa kataritsugare, shin no utsukushisa wa gaiken de wa naku, yasashisa to seijitsu na kokoro no naka ni aru koto o hitobito ni oshietsudzukete iru.

Oshimai

Versi Bahasa Inggris  

Lutung Kasarung

Long ago, in the beautiful land of Pasundan in West Java, there lived a wise and noble king.

The king ruled his kingdom peacefully and was deeply respected by his people. He had seven daughters, but among them, the youngest, Purbasari, was loved the most by everyone.

Purbasari was kind-hearted, gentle, and humble. Although she was a princess, she never boasted about her status. She treated everyone with kindness and respect, which made her beloved not only by the people of the palace but also by the common folk throughout the kingdom.

However, there was one person who was unhappy about this.

It was her older sister, Purbararang.

As the eldest daughter, Purbararang believed that she alone deserved to inherit the throne. As the king began to place more trust in Purbasari, jealousy slowly grew in her heart.

Eventually, Purbararang devised a cruel plan to drive her younger sister out of the palace.

With the help of a royal physician, she caused dark spots to appear all over Purbasari’s body.

The next day, when the people saw the strange marks on the princess’s skin, they were shocked. Many believed that it was a sign of a curse or a bad omen.

Purbararang took advantage of the situation.

“This girl may bring disaster to our kingdom,” she told the king.

The king was deeply troubled. After much hesitation, he finally decided to send Purbasari away into the forest.

Although heartbroken, Purbasari did not blame anyone. She quietly accepted her fate and left the palace alone.

Life in the deep forest was not easy.

Yet Purbasari remained patient and strong. She did her best to survive and continued to live with kindness in her heart.

One day, she encountered a black lutung, a type of monkey unlike any other she had ever seen.

The animal had gentle eyes and seemed to understand human feelings.

This mysterious creature was known as Lutung Kasarung.

From that day on, Lutung Kasarung stayed by Purbasari’s side.

He helped her find food, protected her from danger, and became her faithful companion. Little by little, a strong bond grew between them.

Purbasari never judged Lutung Kasarung by his appearance. Instead, she saw his kindness, loyalty, and sincerity.

What she did not know was that Lutung Kasarung was not an ordinary animal.

In reality, he was Prince Guruminda, a prince from heaven.

Because of a curse, he had been transformed into a lutung and was destined to remain in that form until he met someone capable of seeing the true worth hidden beneath appearances.

Meanwhile, back at the palace, Purbararang remained convinced of her own superiority.

However, stories about Purbasari’s life in the forest gradually spread throughout the kingdom. The people began to question whether the princess had truly deserved her exile.

Determined to prove herself, Purbararang proposed a series of challenges.

Purbasari was summoned back to the palace and asked to compete in various contests that tested skill, wisdom, and character.

One by one, Purbasari successfully completed every challenge.

With the help and encouragement of Lutung Kasarung, she demonstrated patience, intelligence, and integrity. The people were amazed by her abilities and noble character.

At last, the final challenge arrived.

The sisters were asked to present their future husbands.

Purbararang confidently appeared with her handsome and noble fiancé. Certain of her victory, she smiled proudly.

Beside Purbasari, however, stood only the black lutung.

The people began whispering among themselves.

Then, something extraordinary happened.

A brilliant light suddenly filled the palace.

Lutung Kasarung's body became surrounded by a dazzling glow. Slowly, his form began to change.

When the light faded, the black lutung had disappeared.

Standing in his place was a handsome and majestic prince.

It was Prince Guruminda.

The entire palace fell silent in astonishment.

Even Purbararang could not say a word.

At that moment, everyone realized that true worth is not determined by outward appearance, wealth, or status, but by the goodness and sincerity within one's heart.

In the end, Purbasari regained her honor and rightful place as the heir to the kingdom.

Together with Prince Guruminda, she ruled wisely and compassionately, bringing peace and prosperity to the people.

From that day forward, the story of Lutung Kasarung has been passed down from generation to generation.

It teaches that true beauty lies not in appearance, but in kindness, honesty, and the purity of one's heart.

The End.

 

Pengalaman Hidup Terburuk dalam Perjalanan Karierku

Nama : Ia Tamia NIM : 094241079 Ada kalanya aku bertanya pada diri sendiri, mengapa jalan hidupku terasa begitu berat dibandingkan orang lai...