Senin, 01 Juni 2026

Lutung Kasarung

Nama : Tri Yoga Abiasa

NIM : 094241070

Pada zaman dahulu, di tanah Pasundan, berdirilah sebuah kerajaan yang makmur dan damai. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana dan disegani oleh seluruh rakyatnya. Sang raja memiliki tujuh orang putri yang cantik dan berbudi. Di antara ketujuh putri tersebut, putri bungsu bernama Purbasari adalah yang paling disayangi oleh rakyat.

Purbasari dikenal sebagai gadis yang baik hati, ramah, dan rendah hati. Ia tidak pernah membanggakan kedudukannya sebagai putri raja. Sebaliknya, ia senang membantu orang lain dan selalu memperlakukan siapa pun dengan sopan.

Namun, kebaikan Purbasari justru menimbulkan rasa iri di hati kakaknya, Purbararang. Sebagai putri sulung, Purbararang merasa dirinya lebih pantas menjadi penerus kerajaan. Ia tidak senang melihat rakyat dan sang raja begitu menyayangi adiknya.

Ketika sang raja mulai mempertimbangkan Purbasari sebagai calon penerus tahta, rasa iri Purbararang semakin besar. Ia pun menyusun rencana jahat untuk menyingkirkan adiknya.

Dengan bantuan seorang tabib istana, Purbararang membuat tubuh Purbasari dipenuhi bercak-bercak hitam yang menyerupai penyakit kulit. Melihat keadaan itu, banyak orang istana merasa takut dan menganggap Purbasari terkena kutukan.

Purbararang memanfaatkan keadaan tersebut untuk memengaruhi sang raja. Akhirnya, dengan berat hati, raja memutuskan untuk mengasingkan Purbasari ke tengah hutan.

Purbasari menerima keputusan itu dengan sabar. Ia meninggalkan istana tanpa membenci siapa pun. Meski sedih, ia tetap berusaha menjalani hidup dengan tabah.

Di tengah hutan yang lebat dan sunyi, Purbasari hidup seorang diri. Namun, suatu hari ia bertemu seekor lutung hitam yang berbeda dari hewan-hewan lainnya. Lutung itu tampak memahami kesedihan yang dirasakannya.

Lutung tersebut kemudian dikenal sebagai Lutung Kasarung.

Sejak saat itu, Lutung Kasarung selalu menemani Purbasari. Ia membantu mencarikan makanan, menjaga Purbasari dari bahaya, dan menjadi sahabat setianya. Berkat kehadiran lutung itu, hari-hari Purbasari di hutan tidak lagi terasa begitu sepi.

Lama-kelamaan, tumbuhlah rasa percaya yang kuat di antara mereka. Purbasari tidak pernah memandang Lutung Kasarung dari wujudnya yang sederhana. Ia melihat kebaikan hati dan kesetiaan yang dimiliki sahabatnya itu.

Tanpa diketahui Purbasari, Lutung Kasarung sebenarnya bukanlah hewan biasa. Ia adalah seorang pangeran dari kahyangan bernama Guruminda. Karena suatu kutukan, ia harus hidup dalam wujud seekor lutung hingga bertemu seseorang yang mampu melihat ketulusan di balik penampilan luar.

Sementara itu, di kerajaan, Purbararang semakin yakin bahwa Purbasari tidak akan pernah kembali. Namun, kabar tentang kehidupan Purbasari di hutan mulai terdengar oleh rakyat. Banyak orang yang merasa kasihan dan mulai meragukan keputusan yang telah diambil istana.

Untuk membuktikan bahwa dirinya lebih unggul, Purbararang mengadakan berbagai perlombaan dan memanggil Purbasari kembali ke kerajaan.

Satu demi satu tantangan diberikan kepada kedua putri tersebut. Mulai dari keterampilan rumah tangga, kecerdasan, hingga berbagai ujian lainnya.

Dengan bantuan Lutung Kasarung, Purbasari berhasil melewati semua ujian dengan baik. Ia menunjukkan bahwa kebaikan hati, kesabaran, dan ketekunan jauh lebih berharga daripada kesombongan.

Akhirnya tibalah ujian terakhir. Kedua putri diminta menunjukkan calon pendamping hidup mereka.

Purbararang merasa sangat yakin akan menang. Tunangannya adalah seorang pangeran tampan dan gagah. Sementara itu, Purbasari hanya ditemani seekor lutung hitam.

Para penghuni istana pun mulai berbisik-bisik. Mereka mengira kemenangan sudah pasti berada di tangan Purbararang.

Namun, sesuatu yang luar biasa terjadi.

Di hadapan seluruh penghuni istana, Lutung Kasarung tiba-tiba berubah wujud. Cahaya terang menyelimuti tubuhnya. Dalam sekejap, lutung hitam itu berubah menjadi seorang pangeran yang tampan dan berwibawa.

Dialah Pangeran Guruminda dari kahyangan.

Semua orang terkejut. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa sahabat setia Purbasari adalah seorang pangeran.

Purbararang hanya bisa menundukkan kepala. Saat itu ia menyadari bahwa rasa iri dan kesombongan tidak akan pernah mampu mengalahkan ketulusan dan kebaikan hati.

Akhirnya, kebenaran terungkap. Nama baik Purbasari dipulihkan, dan ia kembali memperoleh haknya sebagai putri yang layak menjadi penerus kerajaan.

Kelak, Purbasari memimpin kerajaan dengan bijaksana bersama Pangeran Guruminda. Di bawah kepemimpinan mereka, rakyat hidup damai, makmur, dan bahagia.

Sejak saat itu, kisah Lutung Kasarung terus diceritakan dari generasi ke generasi sebagai pelajaran bahwa kecantikan dan kemuliaan sejati tidak terletak pada penampilan luar, melainkan pada ketulusan hati dan kebaikan seseorang.

Tamat

Versi Bahasa Jepang

『ルトゥン・カサルン』

昔々、西ジャワのパスンダンという美しい国に、賢く立派な王がいた。

王は国を平和に治め、人々から深く尊敬されていた。王には七人の娘がいたが、その中でも末娘のプルバサリは特に人々に愛されていた。

プルバサリは優しく思いやりがあり、いつも謙虚だった。王女でありながら身分を誇ることはなく、誰に対しても親切に接していた。そのため、宮殿の人々だけでなく、多くの民からも慕われていた。

しかし、そのことを快く思わない者がいた。

姉のプルバラランである。

長女である彼女は、自分こそが王位を継ぐべきだと考えていた。ところが、王がしだいにプルバサリを信頼するようになると、その心には嫉妬の炎が燃え始めた。

やがてプルバラランは、妹を宮殿から追い出すための恐ろしい計画を立てた。

彼女は宮廷の医者を利用し、プルバサリの体に黒い斑点が現れるよう細工をした。

翌日、プルバサリの美しい肌には黒い斑点が広がっていた。

それを見た人々は驚き、不吉な出来事の前触れだと噂した。

プルバラランはその機会を逃さなかった。

「この者は王国に災いをもたらすかもしれません。」

そう言って王に訴えた。

王は深く悩んだ末、ついにプルバサリを森へ追放することを決めた。

プルバサリは悲しかったが、誰も恨まなかった。

ただ静かに運命を受け入れ、一人で森へ向かった。

深い森の中での暮らしは決して楽ではなかった。

それでもプルバサリは毎日を懸命に生きた。

そんなある日、彼女は一匹の黒いルトゥン(猿)と出会った。

その猿は普通の猿とはどこか違っていた。

優しい目をしており、まるで人の心が分かるかのようだった。

その猿こそ、ルトゥン・カサルンだった。

ルトゥン・カサルンはいつもプルバサリのそばにいた。

食べ物を見つけてくれたり、危険から守ってくれたりして、彼女の力になった。

こうして二人は少しずつ心を通わせていった。

プルバサリはルトゥンの姿ではなく、その優しさと誠実さを見ていた。

だが実は、ルトゥン・カサルンには大きな秘密があった。

彼の正体は、天界の王子グルミンダだったのである。

呪いによって猿の姿に変えられ、本当の価値を見抜く心を持つ者に出会うまで、その姿で生きなければならなかったのだ。

一方その頃、王宮ではプルバラランが自分の勝利を信じて疑わなかった。

しかし、森でたくましく暮らすプルバサリの噂は少しずつ国中に広まり、人々は王宮の決定に疑問を持ち始めた。

そこでプルバラランは、自分の方が優れていることを証明するため、さまざまな試練を行うことを提案した。

プルバサリは王宮へ呼び戻された。

料理や機織りなどの技術、知恵、そして人柄を試す多くの試練が与えられた。

しかし、プルバサリはどの試練も立派に乗り越えていった。

その姿に、多くの人々は感心した。

そして最後の試練の日がやって来た。

それは、どちらの伴侶がよりふさわしいかを比べる試練だった。

プルバラランは美しく立派な婚約者を連れて現れた。

彼女は自分の勝利を確信していた。

一方、プルバサリの隣にいたのは、いつもの黒いルトゥンだった。

人々はひそひそと話し始めた。

そのときだった。

突然、まばゆい光が辺りを包み込んだ。

ルトゥン・カサルンの体が光に包まれ、ゆっくりと姿を変え始めた。

そして光が消えると、そこには気高く美しい王子が立っていた。

グルミンダ王子だった。

宮殿中の人々は驚きのあまり言葉を失った。

プルバラランも何も言えなかった。

その瞬間、彼女はようやく気づいた。

本当に大切なのは外見や地位ではなく、心の美しさなのだということを。

やがてプルバサリは名誉を取り戻し、王国の正当な後継者となった。

そしてグルミンダ王子とともに国を治め、人々を幸せへ導いたという。

それ以来、『ルトゥン・カサルン』の物語は語り継がれ、真の美しさは外見ではなく、優しさと誠実な心の中にあることを人々に教え続けている。

おしまい

Lutung Kasarung

Mukashi mukashi, Nishi Jawa no Pasundan to iu utsukushii kuni ni, kashikoku rippa na ō ga ita.

Ō wa kuni o heiwa ni osame, hitobito kara fukaku sonkei sarete ita. Ō ni wa shichinin no musume ga ita ga, sono naka demo suemusume no Purbasari wa toku ni hitobito ni aisarete ita.

Purbasari wa yasashiku omoiyari ga ari, itsumo kenkyo datta. Ōjo de arinagara mibun o hokoru koto wa naku, dare ni taishite mo shinsetsu ni sesshite ita. Sono tame, kyūden no hitobito dake de naku, ōku no tami kara mo shitawarete ita.

Shikashi, sono koto o kokoroyoku omowanai mono ga ita.

Ane no Purbararang de aru.

Chōjo de aru kanojo wa, jibun koso ga ōi o tsugu beki da to kangaete ita. Tokoro ga, ō ga shidai ni Purbasari o shinrai suru yō ni naru to, sono kokoro ni wa shitto no honō ga moe hajimeta.

Yagate Purbararang wa, imōto o kyūden kara oidashu tame no osoroshii keikaku o tateta.

Kanojo wa kyūtei no isha o riyō shi, Purbasari no karada ni kuroi hanten ga arawareru yō saiku o shita.

Yokujitsu, Purbasari no utsukushii hada ni wa kuroi hanten ga hirogatte ita.

Sore o mita hitobito wa odoroki, fukitsuna dekigoto no maebure da to uwasa shita.

Purbararang wa sono kikai o nogasanakatta.

“Kono mono wa ōkoku ni wazawai o motarasu kamoshiremasen.”

Sō itte ō ni uttae ta.

Ō wa fukaku nayanda sue, tsuini Purbasari o mori e tsuihō suru koto o kimeta.

Purbasari wa kanashikatta ga, dare mo uramanakatta.

Tada shizuka ni unmei o ukeire, hitori de mori e mukatta.

Fukai mori no naka de no kurashi wa kesshite raku de wa nakatta.

Sore demo Purbasari wa mainichi o kenmei ni ikita.

Sonna aru hi, kanojo wa ippiki no kuroi lutung (saru) to deatta.

Sono saru wa futsū no saru to wa dokoka chigatte ita.

Yasashii me o shite ori, maru de hito no kokoro ga wakaru ka no yō datta.

Sono saru koso, Lutung Kasarung datta.

Lutung Kasarung wa itsumo Purbasari no soba ni ita.

Tabemono o mitsukete kuretari, kiken kara mamotte kuretari shite, kanojo no chikara ni natta.

Kōshite futari wa sukoshizutsu kokoro o kayowasete itta.

Purbasari wa Lutung no sugata de wa naku, sono yasashisa to seijitsusa o mite ita.

Da ga jitsu wa, Lutung Kasarung ni wa ōkina himitsu ga atta.

Kare no shōtai wa, tenkai no ōji Guruminda datta node aru.

Noroi ni yotte saru no sugata ni kaerare, hontō no kachi o minuku kokoro o motsu mono ni deau made, sono sugata de ikinakereba naranakatta no da.

Ippō sono koro, ōkyū de wa Purbararang ga jibun no shōri o shinjite utagawanakatta.

Shikashi, mori de takumashiku kurasu Purbasari no uwasa wa sukoshizutsu kunijū ni hiromari, hitobito wa ōkyū no kettei ni gimon o mochi hajimeta.

Soko de Purbararang wa, jibun no hō ga sugurete iru koto o shōmei suru tame, samazama na shiren o okonau koto o teian shita.

Purbasari wa ōkyū e yobimodosareta.

Ryōri ya orimono nado no gijutsu, chie, soshite hitogara o tamesu ōku no shiren ga ataerareta.

Shikashi, Purbasari wa dono shiren mo rippa ni norikoete itta.

Sono sugata ni, ōku no hitobito wa kanshin shita.

Soshite saigo no shiren no hi ga yatte kita.

Sore wa, dochira no hanryo ga yori fusawashii ka o kuraberu shiren datta.

Purbararang wa utsukushiku rippa na kon’yakusha o tsurete arawareta.

Kanojo wa jibun no shōri o kakushin shite ita.

Ippō, Purbasari no tonari ni ita no wa, itsumo no kuroi Lutung datta.

Hitobito wa hisohiso to hanashi hajimeta.

Sono toki datta.

Totsuzen, mabayui hikari ga atari o tsutsumikonda.

Lutung Kasarung no karada ga hikari ni tsutsumare, yukkuri to sugata o kae hajimeta.

Soshite hikari ga kieru to, soko ni wa kedakaku utsukushii ōji ga tatte ita.

Guruminda Ōji datta.

Kyūdenjū no hitobito wa odoroki no amari kotoba o ushinatta.

Purbararang mo nani mo ienakatta.

Sono shunkan, kanojo wa yōyaku kidzuita.

Hontō ni taisetsu na no wa gaiken ya chii de wa naku, kokoro no utsukushisa na no da to iu koto o.

Yagate Purbasari wa meiyo o torimodoshi, ōkoku no seitō na kōkeisha to natta.

Soshite Guruminda Ōji to tomo ni kuni o osame, hitobito o shiawase e michiita to iu.

Sore irai, 『Lutung Kasarung』 no monogatari wa kataritsugare, shin no utsukushisa wa gaiken de wa naku, yasashisa to seijitsu na kokoro no naka ni aru koto o hitobito ni oshietsudzukete iru.

Oshimai

Versi Bahasa Inggris  

Lutung Kasarung

Long ago, in the beautiful land of Pasundan in West Java, there lived a wise and noble king.

The king ruled his kingdom peacefully and was deeply respected by his people. He had seven daughters, but among them, the youngest, Purbasari, was loved the most by everyone.

Purbasari was kind-hearted, gentle, and humble. Although she was a princess, she never boasted about her status. She treated everyone with kindness and respect, which made her beloved not only by the people of the palace but also by the common folk throughout the kingdom.

However, there was one person who was unhappy about this.

It was her older sister, Purbararang.

As the eldest daughter, Purbararang believed that she alone deserved to inherit the throne. As the king began to place more trust in Purbasari, jealousy slowly grew in her heart.

Eventually, Purbararang devised a cruel plan to drive her younger sister out of the palace.

With the help of a royal physician, she caused dark spots to appear all over Purbasari’s body.

The next day, when the people saw the strange marks on the princess’s skin, they were shocked. Many believed that it was a sign of a curse or a bad omen.

Purbararang took advantage of the situation.

“This girl may bring disaster to our kingdom,” she told the king.

The king was deeply troubled. After much hesitation, he finally decided to send Purbasari away into the forest.

Although heartbroken, Purbasari did not blame anyone. She quietly accepted her fate and left the palace alone.

Life in the deep forest was not easy.

Yet Purbasari remained patient and strong. She did her best to survive and continued to live with kindness in her heart.

One day, she encountered a black lutung, a type of monkey unlike any other she had ever seen.

The animal had gentle eyes and seemed to understand human feelings.

This mysterious creature was known as Lutung Kasarung.

From that day on, Lutung Kasarung stayed by Purbasari’s side.

He helped her find food, protected her from danger, and became her faithful companion. Little by little, a strong bond grew between them.

Purbasari never judged Lutung Kasarung by his appearance. Instead, she saw his kindness, loyalty, and sincerity.

What she did not know was that Lutung Kasarung was not an ordinary animal.

In reality, he was Prince Guruminda, a prince from heaven.

Because of a curse, he had been transformed into a lutung and was destined to remain in that form until he met someone capable of seeing the true worth hidden beneath appearances.

Meanwhile, back at the palace, Purbararang remained convinced of her own superiority.

However, stories about Purbasari’s life in the forest gradually spread throughout the kingdom. The people began to question whether the princess had truly deserved her exile.

Determined to prove herself, Purbararang proposed a series of challenges.

Purbasari was summoned back to the palace and asked to compete in various contests that tested skill, wisdom, and character.

One by one, Purbasari successfully completed every challenge.

With the help and encouragement of Lutung Kasarung, she demonstrated patience, intelligence, and integrity. The people were amazed by her abilities and noble character.

At last, the final challenge arrived.

The sisters were asked to present their future husbands.

Purbararang confidently appeared with her handsome and noble fiancé. Certain of her victory, she smiled proudly.

Beside Purbasari, however, stood only the black lutung.

The people began whispering among themselves.

Then, something extraordinary happened.

A brilliant light suddenly filled the palace.

Lutung Kasarung's body became surrounded by a dazzling glow. Slowly, his form began to change.

When the light faded, the black lutung had disappeared.

Standing in his place was a handsome and majestic prince.

It was Prince Guruminda.

The entire palace fell silent in astonishment.

Even Purbararang could not say a word.

At that moment, everyone realized that true worth is not determined by outward appearance, wealth, or status, but by the goodness and sincerity within one's heart.

In the end, Purbasari regained her honor and rightful place as the heir to the kingdom.

Together with Prince Guruminda, she ruled wisely and compassionately, bringing peace and prosperity to the people.

From that day forward, the story of Lutung Kasarung has been passed down from generation to generation.

It teaches that true beauty lies not in appearance, but in kindness, honesty, and the purity of one's heart.

The End.

 

Asal-Usul Cianjur Kisah Prabu Siliwangi Membuka Tanah Baru

Nama    :Suryana Lubis
NIM      :094241013

Pada masa kejayaan Kerajaan Pajajaran, hiduplah seorang raja besar yang sangat dihormati oleh rakyatnya, yaitu Prabu Siliwangi. Namanya dikenal hingga ke berbagai penjuru negeri sebagai pemimpin yang bijaksana, adil, serta memiliki kesaktian yang luar biasa.

Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Pajajaran berkembang pesat. Sawah-sawah terbentang hijau, perdagangan berjalan lancar, dan rakyat hidup dalam keadaan aman serta sejahtera. Namun, meskipun kerajaannya telah makmur, Prabu Siliwangi tidak pernah melupakan tugasnya untuk memperhatikan kehidupan rakyat hingga ke pelosok wilayah.

Suatu hari, sang raja memutuskan melakukan perjalanan ke daerah selatan kerajaan. Ia ingin melihat secara langsung keadaan wilayah-wilayah yang masih jarang dikunjungi dan mencari daerah baru yang dapat dikembangkan untuk kesejahteraan rakyat.

Perjalanan itu membawanya melewati pegunungan, lembah, dan hutan yang lebat. Setelah menempuh perjalanan yang panjang, Prabu Siliwangi tiba di sebuah kawasan yang membuatnya terkesima.

Di hadapannya terbentang tanah yang sangat subur. Sungai-sungai mengalir jernih membelah hamparan alam yang hijau. Udara terasa sejuk, sementara hutan-hutan yang rimbun menjadi rumah bagi berbagai jenis tumbuhan dan hewan.

Sang raja berdiri sejenak memandangi keindahan tempat itu.

“Wilayah ini memiliki masa depan yang cerah,” pikirnya. “Jika dikelola dengan baik, tempat ini akan menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang.”

Tanpa menunda waktu, Prabu Siliwangi memerintahkan para pengikutnya untuk membuka lahan di daerah tersebut.

Maka dimulailah pekerjaan besar itu.

Pepohonan yang lebat dibersihkan dengan hati-hati. Saluran air dibuat untuk mengairi lahan pertanian. Rumah-rumah sederhana mulai didirikan sebagai tempat tinggal para penduduk yang datang membuka wilayah baru.

Hari demi hari berlalu.

Sedikit demi sedikit, kawasan yang dahulu berupa hutan sunyi berubah menjadi sebuah permukiman yang ramai. Sawah mulai menghasilkan padi, kebun-kebun tumbuh subur, dan kehidupan masyarakat berkembang dengan baik.

Melihat kemajuan tersebut, Prabu Siliwangi kemudian mengangkat seorang pemimpin setempat yang dikenal bijaksana dan jujur untuk mengatur kehidupan masyarakat sehari-hari.

Sebelum kembali ke Pajajaran, sang raja berpesan kepada penduduk agar selalu menjaga nilai-nilai kebajikan.

“Bangunlah daerah ini dengan kejujuran, kerja keras, dan semangat kebersamaan. Selama kalian menjaga nilai-nilai itu, tempat ini akan terus berkembang dan membawa kesejahteraan bagi generasi yang akan datang.”

Nasihat itu dipegang teguh oleh masyarakat.

Mereka hidup rukun, saling membantu, dan bekerja bersama membangun daerahnya. Berkat kerja keras seluruh penduduk, wilayah tersebut semakin maju dan dikenal sebagai daerah yang makmur.

Seiring berjalannya waktu, daerah itu kemudian dikenal dengan nama Cianjur.

Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, nama tersebut berasal dari kata ci yang berarti air, dan anjur yang berarti anjuran atau ajakan. Nama itu mengandung harapan agar masyarakat selalu memanfaatkan sumber daya alam dengan bijaksana, terutama air yang menjadi sumber kehidupan dan kemakmuran.

Tahun demi tahun berlalu. Generasi berganti generasi. Namun masyarakat Cianjur tetap mengenang jasa Prabu Siliwangi yang telah membuka dan mengembangkan wilayah tersebut.

Hingga sekarang, nilai-nilai yang diwariskannya masih hidup dalam kehidupan masyarakat, seperti kesederhanaan, keramahan, rasa hormat kepada sesama, dan semangat gotong royong.

Karena itulah, kisah asal-usul Cianjur tidak hanya menjadi sebuah legenda, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kemajuan suatu daerah lahir dari perpaduan antara kepemimpinan yang bijaksana, kerja keras, dan kebersamaan seluruh masyarakat.

Tamat

Versi Bahasa Jepang

チアンジュールの起源

プラブ・シリワンギと新しい土地の物語

パジャジャラン王国が最も栄えていた時代、一人の偉大な王がいた。

その名はプラブ・シリワンギ。

彼は知恵にあふれ、公正な統治を行う王として人々から深く敬われていた。また、不思議な力を持つ王としても知られていた。

彼の治める王国では、人々は平和で豊かな暮らしを送っていた。広い田畑には作物が実り、市場には活気があふれ、国中が繁栄していた。

しかし、プラブ・シリワンギは王国が豊かになったからといって満足することはなかった。

彼は常に人々の暮らしを気にかけ、遠く離れた地域にも目を向けていたのである。

ある日のこと。

王は南の地方を視察する旅に出た。

まだ十分に開発されていない土地を見て回り、人々の暮らしを自ら確かめるためだった。

長い旅の途中、王は山を越え、谷を渡り、深い森を進んでいった。

そしてある場所にたどり着いたとき、その美しい風景に思わず足を止めた。

そこには豊かな森が広がり、澄んだ川が静かに流れていた。

土は肥沃で、農業にも適しているように見えた。

人の姿はほとんどなかったが、その土地には大きな可能性が秘められていた。

プラブ・シリワンギはしばらく景色を眺めながら考えた。

「この土地は、きっと多くの人々の暮らしを支える場所になるだろう。」

そう確信した王は、すぐに家臣たちへ開拓を命じた。

人々は力を合わせて森を切り開き、水路を造り、畑を耕した。

住むための家も少しずつ建てられていった。

日が過ぎるにつれ、かつて静かな森だった場所には人々が集まり始めた。

やがて田畑には作物が実り、村には笑い声が響くようになった。

その土地は少しずつ発展し、活気ある集落へと生まれ変わっていったのである。

その様子を見たプラブ・シリワンギは、一人の賢明で誠実な人物を選び、その地域の指導者に任命した。

そして王は人々にこう語った。

「この土地を発展させるためには、正直であること、努力を惜しまないこと、そして互いに助け合うことが何よりも大切である。」

人々は王の言葉を心に刻んだ。

彼らは協力し合いながら暮らし、土地を守り、より良い未来を築こうと努力した。

その結果、この地域はますます豊かになり、多くの人々が憧れる土地として知られるようになった。

やがて人々は、この地を「チアンジュール」と呼ぶようになった。

言い伝えによれば、「チ(Ci)」は水を意味し、「アンジュール(Anjur)」は導きや勧めを意味するとされている。

その名には、生命の源である水を大切にし、自然の恵みを賢く活用しながら豊かに生きてほしいという願いが込められていた。

長い年月が流れ、時代が変わっても、人々はこの土地を切り開いたプラブ・シリワンギの功績を忘れなかった。

そして現在でも、チアンジュールの人々は質素さや親しみやすさ、そして助け合いの精神を大切に受け継いでいる。

だからこそ、この物語は単なる昔話ではない。

地域の発展は賢明な指導者だけでなく、人々の努力と協力によって築かれることを教えてくれる大切な教えなのである。

おしまい

Atarashii Kotoba 

 Pajajaran Ōkoku (パジャジャラン王国) = Kerajaan Pajajaran

 Purabu Shiriwangi (プラブ・シリワンギ) = Prabu Siliwangi

 Hiyoku na tsuchi (肥沃な土) = tanah yang subur

 Kaihatsu (開拓) = membuka lahan / mengembangkan wilayah

 Shūraku (集落) = permukiman, komunitas

 Iitsutae (言い伝え) = legenda yang diwariskan turun-temurun

 Tasukeai no seishin (助け合いの精神) = semangat gotong royong

 Oshimai (おしまい) = tamat / akhir cerita

Chianjūru no Kigen

Purabu Shiriwangi to Atarashii Tochi no Monogatari

Pajajaran Ōkoku ga motto mo sakaete ita jidai, hitori no idai na ō ga ita.

Sono na wa Purabu Shiriwangi.

Kare wa chie ni afure, kōsei na tōchi o okonau ō to shite hitobito kara fukaku uyamawarete ita. Mata, fushigi na chikara o motsu ō to shite mo shirarete ita.

Kare no osameru ōkoku de wa, hitobito wa heiwa de yutaka na kurashi o okutte ita. Hiroi tahata ni wa sakumotsu ga minori, ichiba ni wa kakki ga afure, kunijū ga han’ei shite ita.

Shikashi, Purabu Shiriwangi wa ōkoku ga yutaka ni natta kara to itte manzoku suru koto wa nakatta.

Kare wa tsuneni hitobito no kurashi o ki ni kake, tōku hanareta chiiki ni mo me o mukete ita node aru.

Aru hi no koto.

Ō wa minami no chihō o shisatsu suru tabi ni deta.

Mada jūbun ni kaihatsu sarete inai tochi o mite mawari, hitobito no kurashi o mizukara tashikameru tame datta.

Nagai tabi no tochū, ō wa yama o koe, tani o watari, fukai mori o susunde itta.

Soshite aru basho ni tadoritsuita toki, sono utsukushii fūkei ni omowazu ashi o tometa.

Soko ni wa yutaka na mori ga hirogari, sunda kawa ga shizuka ni nagarete ita.

Tsuchi wa hiyoku de, nōgyō ni mo tekishite iru yō ni mieta.

Hito no sugata wa hotondo nakatta ga, sono tochi ni wa ōkina kanōsei ga himerarete ita.

Purabu Shiriwangi wa shibaraku keshiki o nagamenagara kangaeta.

“Kono tochi wa, kitto ōku no hitobito no kurashi o sasaeru basho ni naru darō.”

Sō kakushin shita ō wa, sugu ni kashin-tachi e kaihatsu o meijita.

Hitobito wa chikara o awasete mori o kirihiraki, suiro o tsukuri, hatake o tagayashita.

Sumu tame no ie mo sukoshizutsu taterarete itta.

Hi ga sugiru ni tsure, katsute shizuka na mori datta basho ni wa hitobito ga atsumari hajimeta.

Yagate tahata ni wa sakumotsu ga minori, mura ni wa waraigoe ga hibiku yō ni natta.

Sono tochi wa sukoshizutsu hatten shi, kakki aru shūraku e to umarekawatte itta node aru.

Sono yōsu o mita Purabu Shiriwangi wa, hitori no kenmei de seijitsu na jinbutsu o erabi, sono chiiki no shidōsha ni ninmei shita.

Soshite ō wa hitobito ni kō katatta.

“Kono tochi o hatten saseru tame ni wa, shōjiki de aru koto, doryoku o oshimanai koto, soshite tagai ni tasukeau koto ga nani yori mo taisetsu de aru.”

Hitobito wa ō no kotoba o kokoro ni kizanda.

Karera wa kyōryoku shiainagara kurashi, tochi o mamori, yori yoi mirai o kizukō to doryoku shita.

Sono kekka, kono chiiki wa masu masu yutaka ni nari, ōku no hitobito ga akogareru tochi to shite shirareru yō ni natta.

Yagate hitobito wa, kono chi o “Chianjūru” to yobu yō ni natta.

Iitsutae ni yoreba, “Ci” wa mizu o imi shi, “Anjur” wa michibiki ya susume o imi suru to sarete iru.

Sono na ni wa, seimei no minamoto de aru mizu o taisetsu ni shi, shizen no megumi o kashikoku katsuyō shinagara yutaka ni ikite hoshii to iu negai ga komerarete ita.

Nagai toshitsuki ga nagare, jidai ga kawatte mo, hitobito wa kono tochi o kirihiraita Purabu Shiriwangi no kōseki o wasurenakatta.

Soshite genzai demo, Chianjūru no hitobito wa shisso-sa ya shitashimiyasusa, soshite tasukeai no seishin o taisetsu ni uketsuide iru.

Dakara koso, kono monogatari wa tan’naru mukashibanashi de wa nai.

Chiiki no hatten wa kenmei na shidōsha dake de naku, hitobito no doryoku to kyōryoku ni yotte kizukareru koto o oshiete kureru taisetsu na oshie na no de aru.

Oshimai.

Versi Bahasa Inggris  

The Origin of Cianjur

The Story of Prabu Siliwangi and the New Land

Long ago, during the golden age of the Pajajaran Kingdom, there lived a great king named Prabu Siliwangi.

He was admired throughout the kingdom for his wisdom, fairness, and extraordinary spiritual power. Under his rule, Pajajaran flourished. The fields were fertile, the markets were lively, and the people lived in peace and prosperity.

Yet despite the kingdom's success, Prabu Siliwangi never stopped thinking about the welfare of his people. He believed that a true ruler should not only govern from the palace but also understand the lives of those living in distant regions.

One day, the king decided to travel to the southern part of his kingdom.

His purpose was to inspect the remote areas and search for lands that could be developed to improve the lives of future generations.

His journey took him across mountains, valleys, and dense forests. After many days of travel, he arrived at a place that immediately captured his attention.

Before him stretched a beautiful landscape.

Lush forests covered the hills, clear rivers flowed peacefully through the land, and the soil appeared rich and fertile. Although very few people lived there, the king could see great potential hidden within the region.

For a moment, Prabu Siliwangi stood silently, gazing at the scenery.

“This land has a bright future,” he thought. “If it is developed wisely, it will become a source of life and prosperity for many people.”

Convinced of its potential, he immediately ordered his followers to begin opening the land.

The people worked together to clear the forests, build irrigation channels, and prepare fields for farming. Simple houses were gradually constructed, and more settlers began arriving.

Day by day, the once-quiet wilderness slowly transformed into a thriving community.

The fields began producing abundant harvests. Children's laughter echoed through the village, and the sound of daily activity filled the air.

As the settlement continued to grow, Prabu Siliwangi appointed a wise and honest local leader to guide the people.

Before returning to Pajajaran, the king gathered the villagers and gave them an important message.

“To build a prosperous land,” he said, “you must always uphold honesty, work diligently, and help one another. As long as you keep these values in your hearts, this place will continue to flourish.”

The people listened carefully and carried the king's words with them.

They worked together, protected their land, and supported one another in building a better future.

As the years passed, the region became increasingly prosperous and gained a reputation as one of the most fertile and successful areas in the kingdom.

Eventually, the land became known as Cianjur.

According to local tradition, the name comes from two words: “Ci,” meaning water, and “Anjur,” meaning guidance or encouragement.

Together, the name symbolizes the importance of using nature's blessings wisely, especially water, the source of life and prosperity.

Generations came and went, but the people never forgot the contribution of Prabu Siliwangi, who had recognized the potential of the land and helped transform it into a thriving community.

Even today, the people of Cianjur continue to uphold the values that have been passed down through the generations: simplicity, friendliness, mutual respect, and the spirit of cooperation.

For this reason, the story of the origin of Cianjur is more than just a legend.

It serves as a reminder that the growth of a region is not achieved through wise leadership alone, but also through the hard work, unity, and dedication of its people.

And so, the story of Prabu Siliwangi and the founding of Cianjur continues to be told, inspiring future generations to build a better future together.

The End

 

Pengalaman Menyeramkan di Asrama Sekolah

Mar'atus Sholihah
NIM:  093241001

Saat duduk di kelas satu SMP, saya pernah tinggal di sebuah asrama sekolah yang cukup besar. Bangunan asrama itu terdiri dari dua lantai. Saya tinggal di lantai satu bersama beberapa teman, sedangkan lantai dua ditempati oleh siswa-siswa lainnya.

Pada awalnya, kehidupan di asrama berjalan seperti biasa. Namun, suatu ketika terjadi kerusakan listrik di lantai dua. Gangguan tersebut cukup parah sehingga seluruh aliran listrik di lantai itu tidak dapat digunakan selama hampir satu bulan. Akibatnya, semua penghuni lantai dua harus pindah sementara ke lantai satu.

Sejak saat itu, lantai dua menjadi kosong dan tidak berpenghuni. Tidak ada lampu yang menyala, tidak ada suara percakapan, dan tidak ada aktivitas apa pun. Lorong-lorongnya yang panjang tampak gelap dan sunyi. Bahkan pada siang hari, tempat itu terasa suram. Apalagi saat malam tiba, suasananya berubah menjadi sangat menyeramkan hingga hampir tidak ada siswa yang berani naik ke sana sendirian.

Suatu malam sekitar pukul sepuluh, ketika sebagian besar penghuni asrama mulai beristirahat, seorang kakak kelas menghampiri saya. Ia meminta saya dan seorang teman untuk menemaninya ke lantai dua. Rupanya, ada beberapa pakaian yang tertinggal di kamarnya dan belum sempat ia setrika. Karena tidak berani pergi sendiri, ia mengajak kami berdua.

Awalnya saya ragu. Namun karena tidak enak menolak, akhirnya kami bertiga memutuskan untuk pergi bersama.

Dengan hanya ditemani sebatang lilin kecil, kami mulai menaiki tangga menuju lantai dua.

Begitu sampai di atas, suasana sunyi langsung menyelimuti kami. Cahaya lilin yang redup membuat bayangan-bayangan di dinding tampak bergerak mengikuti langkah kami. Lorong panjang yang biasanya ramai kini terlihat kosong dan gelap. Setiap langkah kaki yang kami ambil terdengar begitu jelas, seolah bergema di seluruh lantai.

Kamar yang dituju berada di ujung lorong. Kami berjalan perlahan sambil saling berdekatan. Tidak ada yang berbicara. Hanya suara langkah kaki dan detak jantung kami yang terasa semakin keras.

Setelah beberapa menit, kami berhasil menemukan pakaian yang dicari. Merasa lega, kami segera bersiap untuk turun kembali ke lantai satu.

Namun saat itulah sesuatu yang aneh terjadi.

Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari arah belakang kami.

Buk!

Suara itu cukup keras dan jelas.

Kami spontan menoleh ke belakang, tetapi tidak ada apa pun di sana.

Belum sempat kami memahami apa yang terjadi, sebuah sapu yang berdiri di dekat dinding tiba-tiba roboh dengan suara keras.

Brak!

Sapu itu jatuh begitu saja seolah-olah ada seseorang yang mendorongnya.

Jantung kami langsung berdegup kencang. Tanpa berkata apa-apa, kami saling berpegangan dan mulai berjalan cepat menuju tangga.

Meski sangat ketakutan, tidak seorang pun berani berlari. Tubuh kami terasa kaku, seolah kaki tidak mau bergerak lebih cepat.

Namun di tengah perjalanan menuju tangga, terdengar suara lain.

Tap... tap... tap...

Suara langkah kaki.

Suara itu terdengar jelas dari belakang, seakan ada seseorang yang sedang berlari mengikuti kami.

Kami memberanikan diri menoleh.

Tidak ada siapa pun.

Lorong panjang itu tetap kosong.

Tetapi suara langkah kaki itu masih terdengar.

Saat itulah rasa panik benar-benar menguasai kami.

Begitu sampai di tangga yang sempit, kami berusaha turun secepat mungkin. Dalam keadaan normal, kami tentu akan turun satu per satu. Namun malam itu rasa takut membuat kami kehilangan kendali.

Tiba-tiba kami terpeleset dan jatuh hampir bersamaan.

Yang paling aneh adalah apa yang terjadi setelahnya.

Ketika kami berhasil bangkit dan sampai di lantai bawah, posisi kami berubah tanpa kami sadari.

Saya yang sebelumnya berada di tengah justru menjadi orang pertama yang tiba di bawah. Kakak kelas yang tadi berada paling belakang malah terjatuh di bagian tengah tangga. Sementara teman yang berada di depan justru tertinggal paling atas.

Tidak seorang pun mengerti bagaimana hal itu bisa terjadi.

Sesampainya di lantai satu, beberapa siswa lain langsung menghampiri kami. Mereka bertanya mengapa kami berlari terburu-buru dari atas.

Kami saling berpandangan.

Padahal, kami merasa tidak pernah berlari.

Kami hanya berjalan cepat karena ketakutan.

Dengan napas masih terengah-engah, saya berkata bahwa rasanya seperti ada sesuatu yang mengejar kami dari belakang, meskipun kami tidak melihat siapa atau apa pun.

Malam itu kami tidak berani lagi membicarakan kejadian tersebut.

Yang lebih aneh, saya tidak mengalami luka sedikit pun akibat terjatuh di tangga. Sebaliknya, kakak kelas saya mengalami beberapa luka dan memar.

Hingga sekarang, peristiwa itu masih membekas dalam ingatan saya. Setiap kali mengingat lorong gelap di lantai dua, cahaya lilin yang bergetar, dan suara langkah kaki yang seolah mengikuti kami dari belakang, bulu kuduk saya masih meremang.

Saya tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

Namun satu hal yang pasti, pengalaman tersebut menjadi salah satu pengalaman paling menyeramkan yang pernah saya alami selama tinggal di asrama sekolah.

Versi Bahasa Jepang

学校の寮で体験した恐ろしい出来事

私が中学一年生だった頃、学校の寮で生活していた。

その寮は二階建てで、私は一階の部屋を使っていた。二階には上級生たちが住んでおり、普段はにぎやかな場所だった。

ところがある日、二階の電気設備が故障してしまった。

修理にはかなり時間がかかるらしく、一か月近く電気が使えなくなった。そのため、二階に住んでいた生徒たちは全員一階へ移動することになった。

それ以来、二階は誰もいない空間になった。

灯りのない廊下、閉ざされた部屋、聞こえるのは風の音だけ。

昼間でさえどこか薄気味悪く感じられたが、夜になるとその不気味さは何倍にも増した。

誰も一人では二階へ行こうとしなかった。

そんなある夜のことだった。

時計は午後十時を少し回っていた。

寮生の多くが部屋で休んでいる頃、一人の先輩が私のところへやって来た。

「部屋に服を置きっぱなしにしてしまったんだ。一緒に取りに行ってくれないか。」

先輩は少し困ったような顔をしていた。

どうやら一人で二階へ行く勇気がなかったらしい。

私も正直気が進まなかったが、断ることもできず、もう一人の友人と一緒に三人で向かうことになった。

私たちは一本のろうそくを手に持ち、ゆっくりと階段を上った。

二階へ着いた瞬間、重たい静けさが私たちを包み込んだ。

ろうそくの弱々しい光が壁に映り、揺れる影を作り出している。

まるで誰かがそこに立っているようにも見えた。

廊下の奥にある部屋まで行かなければならなかったため、私たちは身を寄せ合いながら慎重に歩いた。

誰も口を開かなかった。

聞こえるのは自分たちの足音と心臓の鼓動だけだった。

数分後、先輩は無事に服を見つけた。

ようやく終わった。

早く一階へ戻ろう。

そう思った、その時だった。

突然――

ドンッ。

背後から何かが落ちたような音が響いた。

私たちは反射的に振り返った。

しかし、そこには何もなかった。

誰もいない。

何も動いていない。

ただ暗い廊下が続いているだけだった。

その直後だった。

近くの壁に立てかけてあったほうきが突然倒れた。

バタンッ!

まるで誰かが押したかのような勢いだった。

私たちの心臓は一気に跳ね上がった。

言葉も出ないまま、互いの腕をつかみ、急いで階段へ向かった。

走ろうとしても体が思うように動かない。

恐怖で足が硬くなっていたのだ。

その時だった。

コツ……コツ……コツ……

後ろから足音が聞こえてきた。

最初は気のせいだと思った。

しかし、その音は確かに近づいてきていた。

まるで誰かが私たちを追いかけているかのように。

恐る恐る振り返った。

だが、やはり誰もいなかった。

長い廊下には私たち以外の姿はない。

それでも足音だけは聞こえていた。

その瞬間、恐怖は頂点に達した。

ようやく階段へたどり着いた私たちは、一刻も早く下へ降りようとした。

本来なら一人ずつ降りるはずだった。

しかし、その夜の私たちにはそんな余裕はなかった。

次の瞬間、全員がバランスを崩した。

気が付くと、私たちはほぼ同時に階段で転倒していた。

そして、その後に起きたことは今でも説明できない。

私はもともと三人の真ん中にいた。

それなのに、気が付くと一番先に一階へ着いていたのだ。

後ろにいたはずの先輩は階段の途中で倒れており、前にいた友人は上の方に取り残されていた。

どうしてそんなことになったのか、誰にも分からなかった。

ようやく一階へたどり着くと、他の生徒たちが驚いた顔で私たちを見ていた。

「どうしたんだ? すごい勢いで走っていたぞ。」

そう言われた。

しかし、私たちには走った記憶がなかった。

ただ怖くて必死に歩いていただけだった。

私は思わずこう言った。

「何かに追いかけられていた気がする……。」

もちろん、何かの姿を見たわけではない。

だが、あの足音だけは今でも忘れられない。

さらに不思議なことに、階段で転んだにもかかわらず、私はまったくけがをしていなかった。

一方で先輩は腕や足をぶつけてしまい、いくつか傷を負っていた。

あれから何年も経った今でも、あの夜のことは鮮明に覚えている。

暗闇に包まれた二階の廊下。

揺れるろうそくの灯り。

そして、誰もいないはずなのに背後から聞こえてきた足音。

あの出来事を思い出すたびに、今でも背筋が少し寒くなるのである。

 

Atarashii Kotoba:

  • Ryō (寮) = asrama.
  • Bukimi (不気味) = menyeramkan, tidak wajar.
  • Kyōfu (恐怖) = ketakutan.
  • Tenkō / Tentō (転倒) = terjatuh.
  • Sesuji ga samuku naru (背筋が寒くなる) adalah ungkapan Jepang yang setara dengan "bulu kuduk merinding" atau "merasa merinding ketakutan".

Gakkō no Ryō de Taiken Shita Osoroshii Dekigoto

Watashi ga chūgaku ichinensei datta koro, gakkō no ryō de seikatsu shite ita.

Sono ryō wa nikaidate de, watashi wa ikkai no heya o tsukatte ita. Nikai ni wa jōkyūseitachi ga sunde ori, fudan wa nigiyaka na basho datta.

Tokoro ga aru hi, nikai no denki setsubi ga koshō shite shimatta.

Shūri ni wa kanari jikan ga kakaru rashiku, ikkagetsu chikaku denki ga tsukaenaku natta. Sono tame, nikai ni sunde ita seitotachi wa zen’in ikkai e idō suru koto ni natta.

Sore irai, nikai wa dare mo inai kūkan ni natta.

Akari no nai rōka, tozasareta heya, kikoeru no wa kaze no oto dake.

Hiruma de sae dokoka ubushimiwaruku kanjirareta ga, yoru ni naru to sono bukimi-sa wa nanbai ni mo mashita.

Dare mo hitori de wa nikai e ikō to shinakatta.

Sonna aru yoru no koto datta.

Tokei wa gogo jūji o sukoshi mawatte ita.

Ryōsei no ōku ga heya de yasunde iru koro, hitori no senpai ga watashi no tokoro e yatte kita.

“Heya ni fuku o okippanashi ni shite shimatta nda. Issho ni tori ni itte kurenai ka.”

Senpai wa sukoshi komatta yō na kao o shite ita.

Dōyara hitori de nikai e iku yūki ga nakatta rashii.

Watashi mo shōjiki ki ga susumanakatta ga, kotowaru koto mo dekizu, mō hitori no yūjin to issho ni sannin de mukau koto ni natta.

Watashitachi wa ippon no rōsoku o te ni mochi, yukkuri to kaidan o nobotta.

Nikai e tsuita shunkan, omotai shizukesa ga watashitachi o tsutsumikonda.

Rōsoku no yowayowashii hikari ga kabe ni utsuri, yureru kage o tsukuridashite iru.

Marude dareka ga soko ni tatte iru yō ni mo mieta.

Rōka no oku ni aru heya made ikanakereba naranakatta tame, watashitachi wa mi o yoseainagara shinchō ni aruita.

Dare mo kuchi o hirakanakatta.

Kikoeru no wa jibuntachi no ashioto to shinzō no kodō dake datta.

Sūfun go, senpai wa buji ni fuku o mitsuketa.

Yōyaku owatta.

Hayaku ikkai e modorō.

Sō omotta, sono toki datta.

Totsuzen—

Don!

Haigo kara nanika ga ochita yō na oto ga hibiita.

Watashitachi wa hanshateki ni furikaetta.

Shikashi, soko ni wa nani mo nakatta.

Dare mo inai.

Nani mo ugoite inai.

Tada kurai rōka ga tsuzuite iru dake datta.

Sono chokugo datta.

Chikaku no kabe ni tatekakete atta hōki ga totsuzen taoreta.

Batan!

Marude dareka ga oshita ka no yō na ikioi datta.

Watashitachi no shinzō wa ikki ni haneagatta.

Kotoba mo denai mama, tagai no ude o tsukami, isoide kaidan e mukatta.

Hashirō to shite mo karada ga omou yō ni ugokanai.

Kyōfu de ashi ga kataku natte ita no da.

Sono toki datta.

Kotsu... kotsu... kotsu...

Ushiro kara ashioto ga kikoete kita.

Saisho wa ki no sei da to omotta.

Shikashi, sono oto wa tashika ni chikazuite kite ita.

Marude dareka ga watashitachi o oikakete iru ka no yō ni.

Osoru osoru furikaetta.

Da ga, yahari dare mo inakatta.

Nagai rōka ni wa watashitachi igai no sugata wa nai.

Sore demo ashioto dake wa kikoete ita.

Sono shunkan, kyōfu wa chōten ni tasshita.

Yōyaku kaidan e tadoritsuita watashitachi wa, ikkoku mo hayaku shita e oriyō to shita.

Honrai nara hitori zutsu oriru hazu datta.

Shikashi, sono yoru no watashitachi ni wa sonna yoyū wa nakatta.

Tsugi no shunkan, zen’in ga baransu o kuzushita.

Ki ga tsuku to, watashitachi wa hobo dōji ni kaidan de tentō shite ita.

Soshite, sono ato ni okita koto wa ima demo setsumei dekinai.

Watashi wa motomoto sannin no mannaka ni ita.

Sore nanoni, ki ga tsuku to ichiban saki ni ikkai e tsuite ita no da.

Ushiro ni ita hazu no senpai wa kaidan no tochū de taorete ori, mae ni ita yūjin wa ue no hō ni torinokosarete ita.

Dōshite sonna koto ni natta no ka, dare ni mo wakaranakatta.

Yōyaku ikkai e tadoritsuku to, hoka no seito-tachi ga odoroita kao de watashitachi o mite ita.

“Dōshita nda? Sugoi ikioi de hashitte ita zo.”

Sō iwareta.

Shikashi, watashitachi ni wa hashitta kioku ga nakatta.

Tada kowakute hisshi ni aruite ita dake datta.

Watashi wa omowazu kō itta.

“Nanika ni oikakerarete ita ki ga suru...”

Mochiron, nanika no sugata o mita wake de wa nai.

Da ga, ano ashioto dake wa ima demo wasurerarenai.

Sara ni fushigi na koto ni, kaidan de koronda ni mo kakawarazu, watashi wa mattaku kega o shite inakatta.

Ippō de senpai wa ude ya ashi o butsukete shimai, ikutsuka kizu o otte ita.

Are kara nannen mo tatta ima demo, ano yoru no koto wa senmei ni oboete iru.

Kurayami ni tsutsumareta nikai no rōka.

Yureru rōsoku no akari.

Soshite, dare mo inai hazu na noni haigo kara kikoete kita ashioto.

Ano dekigoto o omoidasu tabi ni, ima demo sesuji ga sukoshi samuku naru no de aru.

Versi Bahasa Inggris

A Terrifying Experience in the School Dormitory

When I was in my first year of junior high school, I lived in a school dormitory.

The dormitory was a two-story building. I stayed on the first floor, while the second floor was occupied by older students. Normally, it was a lively place filled with conversations and activity.

However, one day, the electrical system on the second floor broke down.

The repairs were expected to take quite a long time, and the electricity on that floor could not be used for nearly a month. As a result, all the students living upstairs had to move temporarily to the first floor.

From that moment on, the second floor became completely deserted.

The hallways were dark, the rooms were empty, and the only sound that could be heard was the wind passing through the building.

Even during the daytime, the place felt strangely unsettling. At night, however, it became much more frightening. No one wanted to go upstairs alone.

One particular night, at around ten o’clock, while most of the students were already resting in their rooms, an older student came to see me.

“I accidentally left some clothes in my room upstairs,” he said. “Could you come with me to get them?”

He looked uneasy. Apparently, he did not have the courage to go up there by himself.

To be honest, I did not want to go either. Still, I could not bring myself to refuse. In the end, another friend joined us, and the three of us headed upstairs together.

Carrying only a single candle, we slowly climbed the staircase.

The moment we stepped onto the second floor, a heavy silence surrounded us.

The weak candlelight cast trembling shadows on the walls, making it seem as though someone was standing in the darkness, watching us.

The room we needed to reach was at the far end of the hallway, so we walked carefully, staying close to one another.

No one spoke.

The only sounds were our footsteps and the pounding of our own hearts.

After a few minutes, the older student found his clothes.

Finally, we could go back downstairs.

That was what I thought.

Then, suddenly—

Bang!

A loud noise echoed from somewhere behind us, as if something had fallen to the floor.

We immediately turned around.

There was nothing there.

No one.

Nothing moving.

Only the long, dark hallway stretching into the shadows.

Then, just moments later, something even stranger happened.

A broom leaning against the wall suddenly fell over.

Crash!

It sounded as if someone had pushed it.

Our hearts nearly jumped out of our chests.

Without saying a word, we grabbed one another and hurried toward the staircase.

We wanted to run, but our bodies refused to move properly.

Fear had made our legs stiff.

Then we heard it.

Tap... tap... tap...

Footsteps.

Coming from behind us.

At first, I thought it was my imagination.

But the sound continued.

It was getting closer.

It felt as though someone—or something—was running after us.

Slowly and nervously, we looked back.

There was no one there.

The hallway was completely empty.

Yet the footsteps continued.

At that moment, our fear reached its peak.

When we finally reached the staircase, we desperately tried to get downstairs as quickly as possible.

Normally, we would have gone down one at a time.

But that night, panic had taken over.

Suddenly, all three of us lost our balance.

Before I knew it, we had fallen almost simultaneously on the stairs.

What happened next remains impossible for me to explain.

Originally, I had been walking in the middle.

Yet somehow, when everything was over, I was the first person to reach the bottom of the staircase.

The older student, who had been behind me, was lying halfway down the stairs.

Meanwhile, my friend, who had been in front, was still near the top.

None of us could understand how our positions had changed.

When we finally reached the first floor, several students rushed over to us.

“What happened?” they asked. “You were running down the stairs like crazy!”

But we had no memory of running.

As far as we knew, we had only been walking quickly because we were terrified.

Without thinking, I blurted out,

“It felt like something was chasing us.”

Of course, we had never actually seen anything.

Still, I have never forgotten those footsteps.

What was even stranger was that I did not suffer a single injury from the fall.

The older student, however, had bruises and cuts on his arms and legs.

Many years have passed since that night, but the memory remains vivid in my mind.

The dark hallway on the second floor.

The flickering candlelight.

And the footsteps that came from behind us, even though no one was there.

Whenever I remember that night, a chill still runs down my spine.

To this day, I have no idea what really happened.

But it remains one of the most terrifying experiences of my life.


PUTRI BULAN DAN NELAYAN BINTANG

Nama : Jeti Fitiana
NIM   : 094241112

Awal Mula

Di sebuah desa nelayan yang dipeluk oleh lautan luas dan diselimuti kabut pagi yang lembut, hiduplah seorang pemuda bernama Arjuna Samudra. Ia dikenal sebagai nelayan paling gigih di desanya. Setiap fajar menyingsing, ketika bintang-bintang masih berkelip di langit, Arjuna telah mendayung perahunya jauh ke tengah laut untuk mencari ikan.

Ketekunan dan keberaniannya membuat banyak orang menghormatinya. Namun, di balik semangatnya yang tak pernah padam, Arjuna sering memandangi langit malam dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah-olah ada sesuatu di antara bintang-bintang yang selalu memanggil hatinya.

Pertemuan Ajaib

Pada suatu malam purnama, ketika laut begitu tenang hingga tampak seperti cermin raksasa yang memantulkan cahaya bulan, Arjuna melihat sebuah sinar keemasan berkilauan di permukaan air.

Dengan rasa penasaran, ia mengarahkan perahunya mendekati cahaya tersebut. Semakin dekat ia mendayung, semakin jelas sosok yang berdiri di hadapannya.

Di atas sebuah batu karang yang diselimuti lumut berwarna perak, duduklah seorang putri yang sangat cantik. Rambut hitamnya terurai panjang bagai aliran sutra yang berkilau diterpa cahaya bulan. Di atas kepalanya bertengger mahkota berbentuk bulan sabit yang memancarkan sinar lembut.

"Siapakah engkau?" bisik Arjuna dengan suara gemetar karena tak percaya pada apa yang dilihatnya.

Sang putri tersenyum. Senyumnya sehangat cahaya fajar yang perlahan membuka cakrawala.

"Aku Dewi Chandra, putri dari Kahyangan Bulan," jawabnya. Suaranya terdengar merdu, bagaikan gemerincing lonceng perak yang tertiup angin malam.

"Setiap malam purnama, aku turun ke bumi untuk mengumpulkan tangisan bintang-bintang yang jatuh ke lautan."

Janji di Antara Dua Dunia

Sejak malam itu, setiap kali bulan purnama tiba, Arjuna selalu kembali ke batu karang tempat mereka pertama kali bertemu.

Di bawah cahaya bulan, keduanya berbagi cerita tentang dunia masing-masing. Arjuna bercerita tentang kehidupan di desa nelayan, aroma ikan bakar yang memenuhi udara senja, serta tawa anak-anak yang bermain di tepi pantai. Sementara itu, Dewi Chandra menceritakan keindahan langit malam, tarian bintang-bintang, dan kesunyian yang terkadang menyelimuti Kahyangan Bulan.

Seiring berjalannya waktu, pertemuan-pertemuan itu menumbuhkan perasaan yang semakin dalam di hati mereka. Tanpa disadari, cinta telah tumbuh di antara dua jiwa yang berasal dari dunia yang berbeda.

Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama.

Di Kahyangan Bulan terdapat hukum kuno yang melarang putri bulan menjalin cinta dengan manusia fana. Ketika Raja Bulan mengetahui hubungan Dewi Chandra dan Arjuna, ia murka.

Dengan suara yang mengguncang langit, Raja Bulan memerintahkan Dewi Chandra untuk tidak pernah lagi menginjakkan kaki di bumi.

Pengorbanan yang Abadi

Pada malam purnama berikutnya, Dewi Chandra turun ke bumi untuk terakhir kalinya.

Di batu karang tempat kenangan mereka bersemi, ia menemui Arjuna dengan mata yang dipenuhi kesedihan. Air matanya jatuh satu per satu ke permukaan laut dan seketika berubah menjadi mutiara-mutiara putih yang berkilauan.

"Aku tidak bisa lagi bersamamu di bumi," ucap Dewi Chandra dengan suara bergetar.

"Tetapi percayalah, aku akan selalu menjagamu dari atas sana."

Arjuna menggenggam tangannya erat, seakan tidak ingin melepaskan pertemuan terakhir itu. Namun takdir telah menentukan jalan yang berbeda bagi mereka.

Sebelum kembali ke Kahyangan Bulan, Dewi Chandra meniupkan napas lembut ke telapak tangan Arjuna. Seketika, sebuah bintang kecil bercahaya muncul dan berpendar hangat di sana.

"Itu adalah bagian dari cahayaku," katanya. "Selama bintang itu bersinar, hatiku akan selalu bersamamu."

Sesaat kemudian, tubuh Dewi Chandra berubah menjadi cahaya keperakan yang melesat menuju bulan, meninggalkan Arjuna yang berdiri memandang langit dengan hati yang penuh kerinduan.

Legenda yang Tak Pernah Padam

Sejak malam itu, penduduk desa percaya bahwa bintang paling terang yang selalu bersinar di dekat bulan adalah Arjuna Samudra yang telah diangkat ke langit untuk menjaga lautan bersama kekasihnya dari kejauhan.

Mereka juga percaya bahwa setiap mutiara yang ditemukan para nelayan di dasar laut berasal dari air mata Dewi Chandra—air mata cinta yang tak pernah pudar oleh waktu.

Dan hingga kini, ketika bulan purnama menerangi lautan yang tenang, para nelayan masih menceritakan kisah Putri Bulan dan Nelayan Bintang kepada anak-anak mereka sebagai pengingat bahwa cinta sejati akan selalu menemukan jalannya, meskipun dipisahkan oleh langit dan bumi.

Tamat

Versi Bahasa Jepang

月の姫と星の漁師

はじまり

広い海に抱かれ、朝霧にやさしく包まれた小さな漁村に、アルジュナ・サムドラという若者が住んでいた。

彼は村で一番勤勉な漁師として知られていた。夜明け前、まだ星々が空に瞬いている頃になると、アルジュナは小舟を漕ぎ出し、誰よりも早く海へ向かった。

村の人々はそんな彼を誇りに思っていた。しかしアルジュナは、仕事を終えた夜になると、いつも海辺に座って星空を見上げていた。まるで遠い空のどこかに、自分を呼ぶ声があるかのように。

不思議な出会い

ある満月の夜のことだった。

海は驚くほど穏やかで、まるで巨大な鏡のように月の光を映していた。

そのときアルジュナは、海面に金色の光が揺らめいているのを見つけた。

不思議に思いながら小舟を近づけると、銀色の苔に覆われた岩の上に、一人の美しい姫が座っていた。

夜風に揺れる黒く長い髪は絹のようになめらかで、その頭には三日月の形をした冠が静かに輝いていた。

「あなたは……誰なのですか?」

アルジュナは夢を見ているのではないかと思いながら、そっと尋ねた。

姫はやさしく微笑んだ。

その微笑みは、夜明けの光がゆっくりと空を染めていくように温かかった。

「私はデウィ・チャンドラ。月の天界に住む姫です。」

鈴の音のように澄んだ声で、姫はそう答えた。

「満月の夜ごとに地上へ降りてきて、海へ落ちた星たちの涙を集めているのです。」

二つの世界を結ぶ約束

それからというもの、満月の夜になるたびに、アルジュナはあの岩場を訪れるようになった。

二人は月明かりの下でさまざまな話をした。

アルジュナは漁村の暮らしや、浜辺に漂う焼き魚の香り、子どもたちの楽しそうな笑い声について語った。

一方、デウィ・チャンドラは夜空を彩る星々の舞や、月の天界の美しさ、そして雲の上に広がる静かな孤独について話した。

やがて二人の心は少しずつ近づいていった。

気が付けば、互いを想う気持ちはかけがえのないものになっていた。

しかし、その幸せな時間は長くは続かなかった。

月の天界には古くからの厳しい掟があった。

それは、「月の姫は決して人間を愛してはならない」というものだった。

二人のことを知った月の王は激しく怒り、デウィ・チャンドラに二度と地上へ降りてはならないと命じた。

永遠の別れ

次の満月の夜。

デウィ・チャンドラは最後の別れを告げるために地上へやって来た。

二人が初めて出会った岩場で、彼女は悲しそうにアルジュナを見つめた。

その瞳からこぼれ落ちた涙は海へと落ち、たちまち美しい白い真珠へと姿を変えた。

「私はもう、あなたと一緒にいることができません。」

震える声で彼女は言った。

「でも、どんなに離れていても、私はいつも空の上からあなたを見守っています。」

アルジュナは何も言えず、ただ彼女の手を強く握った。

離れたくない。

その思いだけが胸いっぱいに広がっていた。

するとデウィ・チャンドラは、彼の手のひらにそっと息を吹きかけた。

するとそこに、小さな星が現れ、やさしく輝き始めた。

「これは私の光のかけらです。」

彼女は微笑みながら言った。

「この星が輝いている限り、私の心はいつもあなたとともにあります。」

その言葉を残すと、デウィ・チャンドラの身体は銀色の光へと変わり、ゆっくりと夜空へ昇っていった。

アルジュナはその姿が見えなくなるまで、月を見上げ続けていた。

消えることのない伝説

それ以来、村には一つの言い伝えが残った。

月のすぐそばでひときわ明るく輝く星は、アルジュナ・サムドラなのだという。

彼は今もなお、愛するデウィ・チャンドラとともに、遠い空から海を見守っているのだと。

そして、漁師たちが海の底で美しい真珠を見つけるたびに、人々はこう語る。

「あれは月の姫が流した愛の涙だ。」

時が流れても、その涙が乾くことはない。

だからこそ、二人の愛の物語もまた、永遠に語り継がれていくのである。

おしまい

Tsuki no Hime to Hoshi no Ryōshi

Hajimari

Hiroi umi ni idakare, asagiri ni yasashiku tsutsumareta chiisana gyoson ni, Arujuna Samudora to iu wakamono ga sunde ita.

Kare wa mura de ichiban kinben na ryōshi to shite shirarete ita. Yoake mae, mada hoshiboshi ga sora ni matataku koro ni naru to, Arujuna wa kobune o kogidashi, dare yori mo hayaku umi e mukatta.

Mura no hitobito wa sonna kare o hokori ni omotte ita. Shikashi Arujuna wa, shigoto o oeta yoru ni naru to, itsumo umibe ni suwatte hoshizora o miagete ita. Marude tōi sora no dokoka ni, jibun o yobu koe ga aru ka no yō ni.

Fushigi na Deai

Aru mangetsu no yoru no koto datta.

Umi wa odoroku hodo odayaka de, marude kyodai na kagami no yō ni tsuki no hikari o utsushite ita.

Sono toki Arujuna wa, kaimen ni kin’iro no hikari ga yurameite iru no o mitsuketa.

Fushigi ni omoinagara kobune o chikadzukeru to, gin’iro no koke ni ōwareta iwa no ue ni, hitori no utsukushii hime ga suwatte ita.

Yokaze ni yureru kuroku nagai kami wa kinu no yō ni nameraka de, sono atama ni wa mikazuki no katachi o shita kanmuri ga shizuka ni kagayaite ita.

“Anata wa…… dare nanodesu ka?”

Arujuna wa yume o mite iru no de wa nai ka to omoinagara, sotto tazuneta.

Hime wa yasashiku hohoenda.

Sono hohoemi wa, yoake no hikari ga yukkuri to sora o somete iku yō ni atatakakatta.

“Watashi wa Dewi Chandra. Tsuki no tenkai ni sumu hime desu.”

Suzu no ne no yō ni sunda koe de, hime wa sō kotaeta.

“Mangetsu no yoru goto ni chijō e orite kite, umi e ochita hoshitachi no namida o atsumeite iru no desu.”

Futatsu no Sekai o Musubu Yakusoku

Sore kara to iu mono, mangetsu no yoru ni naru tabi ni, Arujuna wa ano iwaba o otozureru yō ni natta.

Futari wa tsukiakari no shita de samazama na hanashi o shita.

Arujuna wa gyoson no kurashi ya, hamabe ni tadayou yakizakana no kaori, kodomotachi no tanoshisō na waraigoe ni tsuite katatta.

Ippō, Dewi Chandra wa yozora o irodoru hoshiboshi no mai ya, tsuki no tenkai no utsukushisa, soshite kumo no ue ni hirogaru shizuka na kodoku ni tsuite hanashita.

Yagate futari no kokoro wa sukoshizutsu chikazuite itta.

Ki ga tsukeba, tagai o omou kimochi wa kakegae no nai mono ni natte ita.

Shikashi, sono shiawase na jikan wa nagaku wa tsuzukanakatta.

Tsuki no tenkai ni wa furuku kara no kibishii okite ga atta.

Sore wa, “Tsuki no hime wa kesshite ningen o aishite wa naranai” to iu mono datta.

Futari no koto o shitta Tsuki no Ō wa hageshiku okori, Dewi Chandra ni nido to chijō e orite wa naranai to meijita.

Eien no Wakare

Tsugi no mangetsu no yoru.

Dewi Chandra wa saigo no wakare o tsugeru tame ni chijō e yatte kita.

Futari ga hajimete deatta iwaba de, kanojo wa kanashisō ni Arujuna o mitsumeta.

Sono hitomi kara koboreochita namida wa umi e to ochi, tachimachi utsukushii shiroi shinju e to sugata o kaeta.

“Watashi wa mō, anata to issho ni iru koto ga dekimasen.”

Furueru koe de kanojo wa itta.

“Demo, donna ni hanarete ite mo, watashi wa itsumo sora no ue kara anata o mimamotte imasu.”

Arujuna wa nani mo iezu, tada kanojo no te o tsuyoku nigitta.

Hanaretakunai.

Sono omoi dake ga mune ippai ni hirogatte ita.

Suru to Dewi Chandra wa, kare no tenohira ni sotto iki o fukikaketa.

Suru to soko ni, chiisana hoshi ga araware, yasashiku kagayakihajimeta.

“Kore wa watashi no hikari no kakera desu.”

Kanojo wa hohoeminagara itta.

“Kono hoshi ga kagayaite iru kagiri, watashi no kokoro wa itsumo anata to tomo ni arimasu.”

Sono kotoba o nokosu to, Dewi Chandra no karada wa gin’iro no hikari e to kawari, yukkuri to yozora e nobotte itta.

Arujuna wa sono sugata ga mienaku naru made, tsuki o miagetsudzukete ita.

Kieru Koto no Nai Densetsu

Sore irai, mura ni wa hitotsu no iitsutae ga nokotta.

Tsuki no sugu soba de hitokiwa akaruku kagayaku hoshi wa, Arujuna Samudora na no da to iu.

Kare wa ima mo nao, aisuru Dewi Chandra to tomo ni, tōi sora kara umi o mimamotte iru no da to.

Soshite, ryōshitachi ga umi no soko de utsukushii shinju o mitsukeru tabi ni, hitobito wa kō kataru.

“Are wa tsuki no hime ga nagashita ai no namida da.”

Toki ga nagarete mo, sono namida ga kawaku koto wa nai.

Dakara koso, futari no ai no monogatari mo mata, eien ni kataritsuga rete iku no de aru.

Oshimai.

 

Versi Bahasa Inggris  

The Moon Princess and the Star Fisherman

The Beginning

In a small fishing village embraced by the vast sea and gently wrapped in the morning mist, there lived a young man named Arjuna Samudra.

He was known throughout the village as the most hardworking fisherman. Before dawn, while the stars still twinkled in the sky, Arjuna would set out in his small boat and sail farther into the sea than anyone else.

The villagers admired his diligence and determination. Yet, every night after finishing his work, Arjuna would sit alone by the shore and gaze at the stars above. It was as though a distant voice from the heavens was quietly calling to his heart.

A Magical Encounter

One night, under the light of a full moon, the sea became so calm that it looked like a giant mirror reflecting the silver glow of the sky.

As Arjuna sailed across the water, he noticed a golden light shimmering upon the surface of the sea.

Curious, he guided his boat toward it.

The closer he came, the more clearly he could see a beautiful young woman sitting upon a rock covered with silver moss.

Her long black hair flowed like silk in the night breeze, and upon her head rested a delicate crescent-shaped crown that shone with a gentle light.

“Who are you?” Arjuna asked softly, wondering whether he was dreaming.

The young woman smiled.

Her smile was as warm as the first light of dawn spreading across the horizon.

“I am Dewi Chandra, princess of the Moon Kingdom,” she replied in a voice as clear and delicate as the ringing of silver bells.

“Every full moon, I descend to the earth to gather the tears of the stars that have fallen into the sea.”

A Promise Between Two Worlds

From that night on, Arjuna returned to the rocky shore whenever the full moon appeared.

Beneath the moonlight, they shared stories of their worlds.

Arjuna spoke of life in the fishing village, the scent of grilled fish drifting through the evening air, and the joyful laughter of children playing along the beach.

In return, Dewi Chandra told him about the beauty of the night sky, the dance of the stars, and the loneliness that sometimes filled the vast kingdom above the clouds.

As time passed, their hearts grew closer.

Without realizing it, they had fallen deeply in love.

But their happiness was not destined to last.

In the Moon Kingdom, there existed an ancient law: a Moon Princess was forbidden to love a mortal human.

When the Moon King discovered their secret, he was consumed by anger.

With a voice that echoed through the heavens, he commanded Dewi Chandra never to set foot upon the earth again.

The Eternal Farewell

On the next full moon, Dewi Chandra descended to the earth one last time.

At the rocky shore where they had first met, she looked at Arjuna with eyes filled with sorrow.

Tears fell from her eyes and dropped into the sea.

The moment they touched the water, they transformed into beautiful white pearls.

“I can no longer stay with you,” she whispered, her voice trembling.

“But no matter how far apart we are, I will always watch over you from the sky.”

Unable to find any words, Arjuna simply held her hand tightly.

He did not want to let her go.

Then Dewi Chandra gently breathed into the palm of his hand.

At once, a tiny star appeared there, glowing softly with a warm light.

“This is a fragment of my light,” she said with a tender smile.

“As long as this star continues to shine, my heart will always remain with you.”

With those final words, her body transformed into a stream of silver light and slowly rose toward the heavens.

Arjuna stood silently beneath the moon, watching until she disappeared among the stars.

The Legend That Never Fades

From that day forward, a legend lived on in the village.

The brightest star shining beside the moon was said to be Arjuna Samudra himself.

The villagers believed that he had become a guardian of the sea, watching over the ocean together with his beloved Dewi Chandra from the heavens above.

And whenever fishermen discovered a pearl resting on the ocean floor, they would smile and say,

“That is a tear shed by the Moon Princess for the one she loves.”

Even as the years passed, those tears never faded.

And so the tale of the Moon Princess and the Star Fisherman continued to be told from generation to generation—a timeless story of love that endured beyond the boundaries of earth and sky.

The End

Pengalaman Paling Sulit Saat Pertama Kali Tinggal di Jepang

Wahidin Sopyadin
NIM:  094241042
 
    Setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit yang meninggalkan kesan mendalam dalam hidupnya. Pengalaman tersebut sering kali menjadi guru terbaik yang mengajarkan arti perjuangan dan kedewasaan. Bagi saya, pengalaman yang paling tidak menyenangkan sekaligus paling berharga adalah ketika pertama kali datang ke Jepang sebagai siswa magang dari Indonesia.
    Sebelum berangkat, saya membayangkan Jepang sebagai negeri impian. Saya sering melihat gambar-gambar kota yang bersih, kereta yang tepat waktu, serta teknologi yang canggih. Dalam benak saya, tinggal di Jepang akan menjadi pengalaman yang menyenangkan. Selain ingin mencari pengalaman baru, saya juga berharap dapat membantu perekonomian keluarga di Indonesia. Dengan penuh semangat, saya belajar bahasa Jepang dan mempersiapkan segala sesuatu jauh sebelum keberangkatan.
    Hari keberangkatan akhirnya tiba. Perasaan senang dan gugup bercampur menjadi satu ketika pesawat yang saya tumpangi lepas landas menuju Jepang. Saya merasa sedang melangkah menuju babak baru dalam kehidupan. Namun, sesampainya di sana, kenyataan ternyata tidak semudah yang saya bayangkan.

Minggu-minggu pertama terasa sangat berat. Udara dingin yang menusuk tulang menjadi tantangan pertama yang harus saya hadapi. Sebagai orang yang terbiasa hidup di iklim tropis Indonesia, musim dingin Jepang terasa begitu menyiksa. Setiap pagi saya harus berjuang melawan rasa malas untuk keluar dari selimut yang hangat. Tangan dan kaki sering terasa kaku karena suhu yang sangat rendah.

    Tidak hanya cuaca, makanan pun menjadi tantangan tersendiri. Rasa dan jenis makanan yang berbeda membuat saya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Saya sering merindukan masakan Indonesia yang biasa saya nikmati bersama keluarga di rumah.

    Namun, kesulitan terbesar datang dari bahasa. Meskipun telah belajar bahasa Jepang sebelum berangkat, saya menyadari bahwa memahami percakapan langsung dengan penutur asli jauh lebih sulit daripada yang saya kira. Mereka berbicara dengan cepat dan terkadang menggunakan dialek daerah yang belum pernah saya pelajari. Di tempat kerja, saya sering kebingungan ketika menerima instruksi dari atasan.

    Suatu hari, saya melakukan kesalahan yang tidak pernah saya lupakan. Saat itu atasan menjelaskan sebuah pekerjaan dengan cepat. Karena takut dianggap tidak mampu, saya hanya mengangguk seolah-olah mengerti. Padahal, sebenarnya saya masih bingung. Akibatnya, pekerjaan yang saya lakukan tidak sesuai dengan instruksi dan harus diperbaiki dari awal.

    Ketika atasan menyadari kesalahan tersebut, beliau menegur saya dengan nada yang cukup keras. Wajah saya langsung memanas. Saya merasa malu, sedih, dan kecewa pada diri sendiri. Sepanjang hari, pikiran saya dipenuhi pertanyaan, “Apakah saya benar-benar mampu bertahan di Jepang?” Untuk pertama kalinya, saya merasakan keinginan untuk menyerah dan pulang ke Indonesia.

    Kesulitan itu semakin berat karena saya harus hidup jauh dari keluarga. Setelah pulang bekerja, kamar kecil yang saya tempati sering terasa begitu sepi. Tidak ada suara ibu yang memanggil untuk makan malam, tidak ada canda teman-teman, dan tidak ada kehangatan keluarga yang biasa menemani hari-hari saya.

    Pada malam-malam tertentu, rasa rindu datang tanpa bisa dicegah. Saya membuka galeri telepon genggam dan melihat foto-foto keluarga. Terkadang tanpa sadar air mata mengalir begitu saja. Saya merindukan rumah, masakan Indonesia, dan kebersamaan sederhana yang dulu sering saya anggap biasa.

    Puncak kesulitan itu terjadi ketika saya jatuh sakit pada musim dingin. Tubuh saya demam dan terasa sangat lemah. Saat itu saya tinggal sendirian sehingga tidak ada keluarga yang bisa merawat saya. Dengan langkah tertatih, saya berjalan ke minimarket terdekat untuk membeli obat dan makanan. Di tengah perjalanan, saya merasa benar-benar sendirian. Namun justru dari pengalaman itulah saya menyadari bahwa hidup di luar negeri menuntut seseorang untuk menjadi lebih mandiri dan kuat.

    Meski menghadapi berbagai kesulitan, saya tidak ingin menyerah. Saya mulai berusaha memperbaiki diri sedikit demi sedikit. Setiap malam setelah pulang kerja, saya meluangkan waktu untuk belajar bahasa Jepang. Saya juga memberanikan diri bertanya kepada senior atau rekan kerja ketika ada hal yang tidak saya pahami. Lambat laun kemampuan bahasa Jepang saya meningkat dan rasa percaya diri mulai tumbuh.

    Selain itu, saya belajar memahami budaya kerja Jepang yang sangat menghargai disiplin, ketepatan waktu, dan tanggung jawab. Pada awalnya aturan-aturan tersebut terasa menekan, tetapi seiring waktu saya mulai terbiasa. Saya belajar untuk bekerja lebih teliti, menghargai waktu, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

    Tahun demi tahun berlalu. Kini, ketika mengingat masa-masa sulit itu, saya tidak lagi melihatnya sebagai pengalaman yang menyedihkan. Sebaliknya, saya merasa bersyukur karena pernah melewatinya. Semua kesulitan tersebut telah membentuk saya menjadi pribadi yang lebih mandiri, lebih sabar, dan lebih kuat secara mental.

    Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa setiap tantangan pasti memiliki hikmah. Kesulitan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan kesempatan untuk belajar dan berkembang. Karena itulah, saya ingin terus melangkah maju dan menjadikan pengalaman pahit tersebut sebagai sumber motivasi untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Versi Bahasa Jepang

人生で一番つらかった経験

人は誰でも、人生の中でつらい経験や苦しい経験をするものだと思う。そのような経験は、その時はとても大変だが、後になって振り返ると、自分を成長させてくれる大切な財産になる。

私にとって人生で一番つらかった経験は、技能実習生として初めてインドネシアから日本へ来た時のことだった。

日本へ来る前、私は大きな夢と希望を抱いていた。日本は先進国で、街はきれいで、技術も発達している国だと思っていた。そして、日本で働きながら新しい経験を積み、家族を助けたいという気持ちもあった。そのため、出発前には日本語を勉強し、一生懸命準備をしていた。

そして、ついに日本へ向かう日がやって来た。飛行機が離陸した瞬間、期待と不安が入り混じった複雑な気持ちになったことを今でも覚えている。新しい人生の第一歩を踏み出したような気分だった。

しかし、日本に到着してみると、現実は想像していたよりもずっと厳しかった。

最初の数週間は、新しい環境に慣れることができず、とても苦労した。特に冬の寒さは、インドネシアで育った私にとって想像以上だった。朝、暖かい布団から出ることさえつらく、冷たい風が肌を刺すたびに故郷の暖かい気候が恋しくなった。

食べ物も大きな違いだった。日本の料理はおいしかったが、慣れ親しんだインドネシア料理とは味付けが異なり、慣れるまで時間がかかった。

しかし、何よりも苦労したのは日本語だった。

日本へ来る前から勉強していたにもかかわらず、実際に日本人と会話することは簡単ではなかった。日本人は話すスピードが速く、時には方言も使う。そのため、会話の内容が理解できず、戸惑うことが何度もあった。

職場でも同じだった。上司からの指示を十分に理解できないことがあったが、私は日本語を間違えるのが怖く、分からないことがあっても聞き返す勇気がなかった。

そんなある日、忘れることのできない大きな失敗をしてしまった。

上司の説明を完全に理解しないまま作業を進めてしまい、結果として仕事を最初からやり直さなければならなくなったのだ。

そのことに気付いた上司は、厳しい口調で私を注意した。

その瞬間、顔が熱くなり、とても恥ずかしくなった。悲しさと悔しさで胸がいっぱいになり、「自分は本当に日本で働くことに向いているのだろうか」と何度も考えた。

初めて、日本での生活をあきらめてインドネシアへ帰りたいと思ったのも、その頃だった。

Jinsei de Ichiban Tsurakatta Keiken

Hito wa dare demo, jinsei no naka de tsurai keiken ya kurushii keiken o suru mono da to omou. Sonoyō na keiken wa, sono toki wa totemo taihen da ga, ato ni natte furikaeru to, jibun o seichō sasete kureru taisetsu na zaisan ni naru.

Watashi ni totte jinsei de ichiban tsurakatta keiken wa, ginō jisshūsei to shite hajimete Indoneshia kara Nihon e kita toki no koto datta.

Nihon e kuru mae, watashi wa ōkina yume to kibō o idaite ita. Nihon wa senshinkoku de, machi wa kirei de, gijutsu mo hattatsu shite iru kuni da to omotte ita. Soshite, Nihon de hatarakinagara atarashii keiken o tsumi, kazoku o tasuketai to iu kimochi mo atta. Sono tame, shuppatsu mae ni wa Nihongo o benkyō shi, isshōkenmei junbi o shite ita.

Soshite, tsuini Nihon e mukau hi ga yatte kita. Hikōki ga ririku shita shunkan, kitai to fuan ga irimajitta fukuzatsu na kimochi ni natta koto o ima demo oboete iru. Atarashii jinsei no daiippo o fumidashita yō na kibun datta.

Shikashi, Nihon ni tōchaku shite miru to, genjitsu wa sōzō shite ita yori mo zutto kibishikatta.

Saisho no sūshūkan wa, atarashii kankyō ni nareru koto ga dekizu, totemo kurō shita. Toku ni fuyu no samusa wa, Indoneshia de sodatta watashi ni totte sōzō ijō datta. Asa, atatakai futon kara deru koto sae tsuraku, tsumetai kaze ga hada o sasu tabi ni kokyō no atatakai kikō ga koishiku natta.

Tabemono mo ōkina chigai datta. Nihon no ryōri wa oishikatta ga, naretashinda Indoneshia ryōri to wa aji tsuke ga kotonari, nareru made jikan ga kakatta.

Shikashi, nani yori mo kurō shita no wa Nihongo datta.

Nihon e kuru mae kara benkyō shite ita ni mo kakawarazu, jissai ni Nihonjin to kaiwa suru koto wa kantan de wa nakatta. Nihonjin wa hanasu supīdo ga hayaku, toki ni wa hōgen mo tsukau. Sono tame, kaiwa no naiyō ga rikai dekizu, tomado(u) koto ga nando mo atta.

Shokuba demo onaji datta. Jōshi kara no shiji o jūbun ni rikai dekinai koto ga atta ga, watashi wa Nihongo o machigaeru no ga kowaku, wakaranai koto ga atte mo kikikaesu yūki ga nakatta.

Sonna aru hi, wasureru koto no dekinai ōkina shippai o shite shimatta.

Jōshi no setsumei o kanzen ni rikai shinai mama sagyō o susumete shimai, kekka to shite shigoto o saisho kara yarinaosanakereba naranaku natta no da.

Sono koto ni kizuita jōshi wa, kibishii kuchō de watashi o chūi shita.

Sono shunkan, kao ga atsuku nari, totemo hazukashiku natta. Kanashisa to kuyashisa de mune ga ippai ni nari, “Jibun wa hontō ni Nihon de hataraku koto ni muite iru no darō ka” to nando mo kangaeta.

Hajimete, Nihon de no seikatsu o akiramete Indoneshia e kaeritai to omotta no mo, sono koro datta.

Versi Bahasa Inggris 

The Most Difficult Experience in My Life

Everyone experiences difficult and painful moments at some point in life. Although such experiences can be overwhelming at the time, they often become valuable lessons that help us grow and become stronger.

For me, the most difficult experience in my life began when I came to Japan for the first time as a technical intern trainee from Indonesia.

Before coming to Japan, I was filled with hopes and dreams. I imagined Japan as a modern and advanced country with clean cities, sophisticated technology, and a high standard of living. I also wanted to gain new experiences, broaden my horizons, and support my family financially. Because of that, I studied Japanese and prepared myself as much as possible before my departure.

Finally, the day of my departure arrived. As the airplane took off, I felt a mixture of excitement and anxiety. I still remember looking out of the window and thinking that I was stepping into a completely new chapter of my life.

However, when I arrived in Japan, reality turned out to be much harsher than I had imagined.

During the first few weeks, I struggled to adapt to my new environment. The cold winter weather was especially difficult for me. Having grown up in Indonesia's tropical climate, I was not prepared for the freezing temperatures. Every morning, getting out of my warm bed felt like a challenge, and the cold wind constantly reminded me how far I was from home.

Food was another challenge. Although Japanese food was delicious, it was very different from the dishes I had grown up eating. It took time for me to adjust to the new flavors and eating habits.

But the greatest challenge of all was the Japanese language.

Even though I had studied Japanese before arriving, communicating with native speakers was far more difficult than I expected. Many people spoke quickly, and some used local dialects that I had never learned before. There were many occasions when I could not fully understand what people were saying.

The same problem occurred at work. Sometimes I could not completely understand my supervisor's instructions. However, I was afraid of making mistakes in Japanese, so I often nodded and pretended to understand instead of asking questions.

One day, that fear led to a mistake I will never forget.

I started a task without fully understanding the instructions I had been given. As a result, I made a major error, and the entire job had to be redone from the beginning.

When my supervisor discovered what had happened, he reprimanded me firmly.

At that moment, I felt deeply embarrassed and disappointed in myself. My heart was filled with sadness and frustration. I kept asking myself, "Am I really capable of working in Japan?"

For the first time, I seriously considered giving up and returning to Indonesia.

The difficulties did not end there.

Living far away from my family was another painful challenge. After work, I would return to my small room and spend the evening alone. There were no family members to talk to, no close friends nearby, and no familiar atmosphere to comfort me.

Many nights, I found myself looking at family photos on my phone. Sometimes, tears would quietly fall as I thought about home. I missed my family, Indonesian food, and the simple moments we used to spend together.

One of the hardest moments came during winter when I became sick with a high fever.

Because I was living alone, there was no one to take care of me. Despite feeling weak and exhausted, I had to go to a convenience store by myself to buy medicine and food. As I walked through the cold streets, I felt truly alone.

Yet that experience taught me an important lesson.

Living abroad requires not only courage but also independence and mental strength.

Despite all the hardships, I did not want to give up.

Little by little, I began working to improve myself. Every evening after work, I studied Japanese diligently. I also gathered the courage to ask my seniors and supervisors whenever I did not understand something.

Gradually, my Japanese improved, and I became more confident at work.

At the same time, I learned a great deal about Japanese work culture. In Japan, punctuality, discipline, and responsibility are highly valued. At first, these expectations felt strict and stressful. However, over time, I realized that they were helping me become a more responsible and disciplined person.

Now, when I look back on those difficult days, I feel grateful rather than discouraged.

At the time, I often felt lonely, frustrated, and exhausted. However, those struggles shaped me into a stronger and more independent person. They taught me patience, perseverance, and the importance of never giving up.

I believe that every hardship and failure has meaning. Without challenges, people cannot truly grow. Difficult experiences may be painful, but they often become the stepping stones that lead us to a better future.

For that reason, I want to continue moving forward, face challenges with courage, and use the lessons from my past as motivation to build a brighter future.

Senin, 11 Mei 2026

Milikku

Nama    :Wulan Dwi Liestya Ayuningtyas

NIM        : 094231022 

Sejak duduk di bangku kelas satu SMA, aku mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam diriku.

Awalnya hanya perasaan-perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Kadang aku merasa sedang diperhatikan padahal tidak ada siapa-siapa. Kadang bulu kudukku berdiri ketika melewati tempat tertentu. Dan di beberapa malam, aku bisa merasakan kehadiran sesuatu yang tidak terlihat, seolah berdiri sangat dekat di belakangku.

Aku membencinya.

Bahkan sampai sekarang pun, aku masih belum benar-benar bisa menerima kemampuan itu. Namun jauh di dalam hati, aku tahu ini bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Kemampuan itu diwariskan turun-temurun dari leluhur keluargaku—mengalir dalam darahku, menetap di mata batinku bahkan sebelum aku cukup dewasa untuk memahaminya.

Delapan tahun lalu, aku meninggalkan kampung halaman demi mengejar mimpi pergi ke Jepang. Untuk itu, aku harus belajar di sebuah sekolah bahasa Jepang di Sukoharjo, Solo.

Aku datang bersama Mae, teman satu daerah yang ternyata memiliki kemampuan serupa denganku. Bedanya, Mae belum mampu mengendalikan apa yang ia lihat.

Karena asrama sekolah penuh, kami tinggal di sebuah rumah kos berbentuk joglo tua khas Jawa. Bangunannya besar, dengan kayu-kayu tua yang berderit setiap malam diterpa angin. Aku sekamar dengan Mae dan seorang gadis asal Bogor bernama Fira.

Belakangan aku baru sadar—Fira juga bisa melihat mereka.

Malam itu, aku dan Fira sedang duduk di ruang makan sambil mengerjakan tugas. Hanya suara kipas angin dan gesekan pensil yang terdengar di antara kami. Tiba-tiba, dari kamar terdengar suara rintihan pelan.

Aku dan Fira saling berpandangan.

Rintihan itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas.

Kami langsung berlari menuju kamar.

Mae terduduk di sudut ranjang sambil memeluk lututnya sendiri. Air matanya mengalir deras. Wajahnya pucat seperti tidak memiliki darah.

“Wulan… tolong… aku takut…” isaknya gemetar.

Aku terpaku beberapa detik. Selama ini Mae tidak pernah menceritakan apa pun tentang kemampuannya kepadaku. Namun sebelum aku sempat bertanya, tubuhnya tiba-tiba menegang.

Dan detik berikutnya—

teriakannya memecah malam.

Suara itu begitu melengking hingga membuat napasku tercekat.

Fira langsung menggenggam tanganku erat. Kami mencoba membaca doa, mencoba menenangkan Mae, tetapi semuanya di luar kendali kami.

Ada sesuatu yang jauh lebih kuat sedang merasukinya.

Satu per satu penghuni kos berdatangan. Sebagian membaca ayat suci dengan suara bergetar, sebagian lagi hanya berdiri ketakutan di depan pintu kamar.

Suara doa memenuhi rumah joglo itu.

Tubuh Mae melengkung ke belakang seperti busur. Tangannya mencengkeram sprei begitu kuat hingga kukunya hampir robek.

Dan saat itulah aku melihatnya.

Di depan pintu kamar, berdiri sosok hitam besar dengan tubuh menjulang tinggi. Ia diam saja, menatap kami tanpa bergerak sedikit pun.

Dadaku langsung sesak.

“Bajingan…” umpatku dalam hati.

Fira menoleh kepadaku. Ia pasti melihat perubahan di wajahku. Perlahan ia mengusap punggungku sambil berbisik pelan di telingaku.

“Wulan… Astaghfirullāhal-‘aẓīm… nyebut…”

Aku langsung menunduk dan melanjutkan doa.

Tak lama kemudian, Kak Ado—senior dari asrama putra—datang. Setelah beberapa saat membacakan doa, suasana kamar perlahan berubah. Udara yang tadi terasa berat mulai terasa ringan.

Mae akhirnya sadar.

Ia langsung menangis sambil menggenggam tanganku erat-erat.

“Aku nggak mau ke sana lagi, Wulan…” suaranya serak. “Jangan belanja di sana lagi… seram… mereka pakai penglaris…”

Aku tahu tempat yang ia maksud.

Namun Kak Ado segera memberiku isyarat untuk diam.

Malam itu rumah kos kami berubah menjadi tontonan. Anak-anak dari kos lain berdatangan hanya untuk melihat apa yang terjadi. Dan seperti biasa, kabar menyebar lebih cepat daripada angin.

Keesokan harinya, cerita itu sudah sampai ke telinga kepala sekolah.

Belum selesai sampai di situ, Mae kembali kesurupan di dalam kelas. Sekolah langsung gempar. Akhirnya kepala sekolah memutuskan untuk menskors Mae sementara.

Namun Mae sudah terlalu ketakutan.

Ia memilih pulang.

Setelah kepergian Mae, semuanya terasa kembali normal.

Setidaknya, itulah yang kupikirkan.

Beberapa bulan kemudian sekolah kami pindah ke gedung baru yang letaknya jauh dari kos lama. Demi menghemat biaya, aku memilih tinggal di asrama sekolah.

Dan di situlah semuanya dimulai lagi.

Di samping sekolah terdapat lahan kosong dengan beberapa pohon pisang tumbuh liar di sana. Tempat itu biasa dipakai para siswi untuk membakar pembalut bekas.

Aku tidak pernah tahu bahwa tempat itu menyimpan sesuatu.

Malam itu aku baru pulang dari supermarket setelah membeli kebutuhan bulanan. Sendirian.

Saat melewati pagar sekolah, aku melihat sesuatu bergerak cepat di ujung pandanganku.

Putih.

Melintas tepat di samping pagar.

Langkahku langsung terhenti.

Asrama berada di dalam kompleks sekolah. Tidak ada jalan lain selain melewati tempat itu.

Dengan jantung berdebar keras, aku menunduk dan terus berjalan sambil menatap ujung sepatuku sendiri.

Aku tidak mau makhluk itu tahu bahwa aku bisa melihatnya.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Aku berhasil melewatinya tanpa menoleh sedikit pun.

Namun malam itu, ia datang dalam mimpiku.

Aku berdiri di depan pagar sekolah yang sama. Udara terasa dingin dan berat. Waktu seolah berhenti bergerak.

Di dekat rak sepatu depan asrama, berdiri sosok yang terbungkus kain kafan putih dari kepala hingga kaki.

Tetapi wajahnya—

wajah seorang lelaki muda.

Tampan. Tegap. Seperti jawara zaman dulu.

“Wulan…”

Suaranya lembut seperti angin malam.

“Aku Joko.”

Ia tersenyum tipis.

“Baumu harum… Aku ingin kamu jadi milikku.”

Sesaat aku terpaku.

Namun kesadaranku segera menarikku kembali.

Ini bukan manusia.

Ini makhluk yang sedang menyamar.

“Maaf,” kataku tegas. “Aku hanya tertarik pada manusia. Bukan makhluk sepertimu.”

Tatapannya berubah redup.

“Lebih baik kamu pergi.”

Aku membalikkan badan dan berjalan masuk ke asrama.

BRAK!

Suara pintu terbanting keras membuatku terbangun.

Aku langsung duduk sambil terengah.

Jam menunjukkan pukul lima pagi.

Suara sandal mulai terdengar di koridor asrama.

“Cuma mimpi…” gumamku pelan, mencoba menenangkan diri sendiri.

Namun ternyata semuanya belum selesai.

Sejak malam itu, setiap habis maghrib aku merasa takut keluar kamar. Dan hampir setiap malam, ada suara gagang pintu dimainkan perlahan dari luar.

Klik…

Klik…

Klik…

Seperti seseorang yang sedang memastikan apakah pintunya terkunci.

Tempat tidurku paling dekat dengan pintu.

Aku hanya bisa meringkuk di balik selimut sambil pura-pura tidur, mendengarkan suara itu dengan jantung berdegup begitu keras hingga terasa sakit.

Untungnya, lama-kelamaan gangguan itu mulai berkurang.

Hari-hari kembali terasa normal.

Sampai malam interview itu datang.

Perusahaan Jepang akan segera melakukan wawancara, dan para senior diminta membimbing junior setiap malam. Aku ikut mengajar di kelas interview bersama beberapa teman lain.

Saat itu aku sedang memperhatikan seorang junior bernama Ita.

Tatapannya aneh.

Ia terus menatapku tanpa berkedip.

Awalnya aku mengabaikannya.

Namun semakin lama, matanya terasa kosong. Tubuhnya mulai oleng.

Dan tiba-tiba—

BRUK!

Ia jatuh ke lantai.

Di belakang tubuh Ita yang terkulai, aku melihat sosok itu berdiri.

Joko.

Tubuhku langsung terasa berat.

Aku ingin bergerak, tetapi kakiku seperti tertanam di lantai.

Teman-teman mulai membaca doa bersama. Suara ayat suci menggema memenuhi ruangan.

Perlahan rasa berat itu menghilang.

Aku berlutut di samping Ita dan berbisik pelan.

“Lepaskan anak ini. Kalau urusanmu denganku, jangan libatkan orang lain.”

Belum sempat suasana tenang, tiba-tiba terdengar teriakan dari arah taman sekolah.

“Bola api!”

“Ya Allah! Bola api!”

Aku langsung menoleh.

Cahaya merah menyala melayang di antara pepohonan.

Banaspati.

“Astaghfirullāhal-‘aẓīm…” bisikku lirih.

Aku menarik napas panjang lalu berkata tegas kepada semuanya.

“Jangan lihat ke sana! Fokus baca Al-Qur’an! Fokus ke Ita!”

Kami membaca doa bersama-sama.

Satu suara.

Satu niat.

Dan perlahan tubuh Ita mulai bergerak. Napasnya kembali normal. Matanya terbuka pelan dengan tatapan bingung.

“Alhamdulillah…”

Aku langsung meminta teman-temannya mengantar Ita kembali ke kamar.

“Jangan biarkan dia sendirian malam ini.”

Kelas interview dibubarkan lebih cepat.

Kupikir malam itu sudah selesai.

Ternyata belum.

Saat aku hendak tidur, Evi datang menghampiriku dengan wajah pucat.

“Lan… kamu tahu Sila di mana? Dia belum balik ke kamar.”

Aku menggeleng.

Evi menggigit bibir bawahnya gugup.

“Temenin aku kunci gerbang, dong… aku takut sendirian.”

Aku sebenarnya juga ketakutan. Tetapi aku tetap ikut bersamanya.

Lorong sekolah malam itu terasa sunyi sekali.

Lampu-lampu redup memantulkan bayangan panjang di lantai.

Di tengah perjalanan, aku melihat Sila keluar dari kamar mandi dekat ruang guru.

“Itu Sila!” seruku lega.

“Oh syukurlah…” Evi mengembuskan napas panjang. “Aku mau ke toilet dulu sebentar.”

Aku dan Sila menunggu di luar.

Dan saat itulah kami mendengarnya.

Suara tawa perempuan.

Pelan.

Tipis.

Melayang dari lantai atas.

“Mbak?” panggilku sambil mendongak. “Sudah malam… jangan ketawa keras-keras…”

Tidak ada jawaban.

Hanya sunyi.

Lalu tawa itu terdengar lagi.

Kali ini lebih nyaring.

Lebih liar.

Seolah mengelilingi kami dari segala arah.

Dari kiri.

Dari kanan.

Dari atas.

Aku dan Sila saling pandang.

Dan tanpa aba-aba, kami langsung berlari.

Aku masuk ke asrama secepat mungkin. Sementara Sila justru kembali ke kamar mandi menarik Evi keluar.

Aku membanting pintu kamar asrama dan langsung mengajak teman-teman membaca doa bersama.

Beberapa menit kemudian, aku kembali mengetuk pintu kamar mandi.

“Evi! Sila! Cepat keluar!”

Pintu terbuka.

Mereka berdua langsung berlari ke kamar tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkanku sendirian di lorong beberapa detik yang terasa sangat panjang.

Ketika kami semua berkumpul di kamar, barulah kami sadar sesuatu.

Sila duduk diam di pojok ranjang.

Wajahnya pucat.

Matanya kosong.

Dan celananya basah.

Tidak ada yang menertawakannya.

Kami hanya duduk di dekatnya sambil mengusap punggungnya pelan.

Malam itu kami tidur dengan lampu menyala dan pintu terkunci rapat.

Namun jauh di dalam hati, aku tahu—

Joko belum benar-benar pergi.

Beberapa minggu setelah kejadian itu, gangguan kecil masih terus muncul. Bayangan di sudut mata. Perasaan diikuti di koridor. Tidur yang tidak pernah benar-benar nyenyak.

Sampai akhirnya program selesai dan aku pulang kampung.

Ibuku langsung sadar ada yang berbeda dariku.

“Kamu kenapa, Nduk?”

Aku tidak menjawab.

Namun malam itu aku menangis tanpa alasan yang jelas.

Atas saran keluarga, aku dibawa menemui seorang ustaz yang biasa melakukan ruqyah.

Beliau menanganinya dengan tenang. Tidak keras. Tidak menakutkan.

Saat ayat-ayat mulai dibacakan, dadaku terasa sesak luar biasa.

Seolah ada sesuatu di dalam tubuhku yang menolak pergi.

Ustaz itu membuka mata perlahan lalu berkata pelan,

“Ada yang ikut kamu dari jauh.”

Aku hanya diam.

“Dia bilang kamu harum.”

Tubuhku langsung menegang.

“Kamu lahir Sabtu Legi?”

Aku menatap beliau kaget.

“Iya…”

Beliau mengangguk kecil.

“Tulang wangi,” katanya pelan. “Makhluk seperti mereka bisa mencium keberadaanmu dari jauh. Seperti bunga di tengah padang.”

Saat itulah semuanya mulai jelas.

Joko bukan sekadar makhluk yang lewat begitu saja.

Ia sudah lama tinggal di area pohon pisang itu. Dan ketika aku membakar pembalut di dekat tempatnya berdiam, keberadaanku seperti cahaya yang menarik perhatiannya.

Ia langsung memilihku.

“Kamu tidak salah,” kata ustaz itu lembut. “Tapi kamu harus lebih hati-hati. Tidak semua orang membawa hal seperti yang kamu miliki.”

Ruqyah berlangsung lama.

Dan di satu titik, aku merasa seperti ada kabut tebal yang perlahan terangkat dari dadaku.

Lega.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa bernapas dengan tenang.

Namun ustaz itu tidak mengatakan bahwa kemampuanku akan hilang.

Karena beliau tahu—

itu bukan penyakit.

Itu warisan.

Sesuatu yang mengalir dari leluhurku, turun ke darahku, tinggal di mata batinku jauh sebelum aku mengerti apa artinya.

“Ini titipan,” kata beliau. “Bukan kutukan.”

Yang beliau lakukan hanyalah membantu meredamnya sedikit. Seperti lampu yang terlalu terang lalu diredupkan.

Cahayanya tetap ada.

Tetapi tidak lagi menyilaukan.

Setelah hari itu, aku mulai bisa tidur nyenyak kembali.

Joko sudah pergi.

Dan untuk pertama kalinya, aku berhenti lari dari diriku sendiri.

Kemampuan itu masih ada, dan mungkin akan selalu ada.

Namun kini aku tidak lagi membencinya.

Ia adalah bagian dari diriku.

Seperti nama yang diwariskan leluhur.

Seperti darah yang mengalir tanpa pernah kuminta.

Dan dengan semua itu, akhirnya aku berangkat ke Jepang.

 

Versi Bahasa Jepang 

俺のもの

高校一年生の頃、私は自分の中に何か普通ではないものがあることに気づき始めた。

最初は、うまく説明できない違和感だった。
誰もいないはずなのに視線を感じたり、特定の場所を通ると急に鳥肌が立ったりする。そして夜になると、目には見えない“何か”がすぐそばに立っているような気配を感じることがあった。

私はその力が嫌だった。

今でも完全に受け入れられているわけじゃない。
でも心の奥では分かっている。これは突然手に入ったものじゃない。

この力は、先祖代々受け継がれてきたものだった。
私がまだ物心つく前から、血の中に流れ、心の奥に静かに宿っていたもの。

八年前、私は日本へ行くという夢を叶えるため、ソロ近郊のスコハルジョにある日本語学校へ通い始めた。

一緒に来たのは、同じ地元出身のマエだった。
彼女にも私と似た力があった。でも、まだその力をうまく扱えずにいた。

学校の寮は満室だったため、私たちはジャワの伝統家屋であるジョグロ造りの下宿で暮らすことになった。古い木造の家で、夜になると風に揺れた柱が軋む音を立てる。

そこで私たちは、ボゴール出身のフィラという女の子と同室になった。

しばらくしてから気づいた。
フィラにも、“見える”力があることを。

ある夜、私はフィラと食堂で宿題をしていた。
静かな空間に響くのは、扇風機の音と鉛筆の走る音だけだった。

その時だった。

部屋の方から、小さなうめき声が聞こえた。

私はフィラと顔を見合わせた。

もう一度、声が聞こえる。

今度はもっとはっきりと。

私たちは慌てて部屋へ駆け込んだ。

マエはベッドの隅で膝を抱え、震えながら泣いていた。顔は血の気がなく、涙で濡れていた。

「ウラン……助けて……怖い……」

私は数秒、言葉を失った。
マエは今まで、自分の力について何も話してくれなかったからだ。

だが次の瞬間、彼女の体が突然硬直した。

そして――

悲鳴が夜を切り裂いた。

耳をつんざくような叫び声だった。

フィラがすぐに私の手を握った。
私たちは祈りを唱え、マエを落ち着かせようとした。けれど、もう私たちだけではどうにもならなかった。

彼女に取り憑いているものは、あまりにも強かった。

下宿の住人たちが次々に集まってきた。
震える声で聖句を唱える者もいれば、恐怖で部屋の外から見ているだけの者もいた。

祈りの声が、古いジョグロの家を満たしていく。

マエの身体は弓のように反り返り、今にも宙に浮きそうだった。

そしてその時、私は見た。

部屋の入り口に、巨大な黒い影が立っていた。

動かないまま、じっとこちらを見ている。

胸が締めつけられるように苦しくなった。

――くそったれ。

心の中でそう吐き捨てた。

フィラは私の顔色の変化に気づいたらしい。
そっと背中を撫でながら、耳元で囁いた。

「ウラン……アスタグフィルッラーハル・アジーム……唱えて」

私は小さく頷き、再び祈りを続けた。

しばらくして、男子寮の先輩であるアド先輩が駆けつけてきた。
彼が祈りを唱え始めると、重く淀んでいた空気が少しずつ軽くなっていった。

やがてマエは意識を取り戻した。

彼女は泣きながら、私の手を強く握った。

「あそこ、もう行きたくない……ウラン……。あの店、もう行かないで……怖い……あそこ、ペンガラリ使ってる……」

私は彼女がどの店のことを言っているのか分かっていた。

だがアド先輩は、黙っていろというように私へ目配せした。

その夜、私たちは完全に下宿中の注目の的になっていた。
別の下宿からも生徒たちが集まり、騒ぎを見に来ていた。

噂はあっという間に学校中へ広がった。

翌日、マエは教室で再び取り憑かれた。

学校中が大騒ぎになり、校長は彼女をしばらく自宅待機にした。

でも、マエはもう限界だった。

彼女はそのまま故郷へ帰ってしまった。

マエが去ったあと、しばらくは平穏な日々が続いた。

少なくとも、私はそう思っていた。

数か月後、学校は新しい校舎へ移転した。
古い下宿からは遠くなったため、私は生活費を節約するために学校の寮へ入ることにした。

そして――

すべては、そこで再び始まった。

学校の隣には空き地があり、そこには何本ものバナナの木が生えていた。女子生徒たちは、その場所で使用済みの生理用品を燃やしていた。

まさか、その場所が災いの始まりになるとは思ってもいなかった。

その夜、私はスーパーで買い物を終え、一人で寮へ戻っていた。

学校の門を通りかかった時だった。

視界の端に、白い影が横切った。

足が止まった。

寮へ戻るには、その門を通るしかない。

心臓が激しく脈打つ。

私は顔を伏せ、自分の靴の先だけを見つめながら歩いた。

あれに、“見えている”ことを知られてはいけない。

一歩。

二歩。

三歩。

私は振り返ることなく、その場を通り過ぎた。

だがその夜、そいつは夢に現れた。

気づくと私は、あの門の前に立っていた。

空気は重く、時間が止まったようだった。

寮の靴箱のそばに、それは立っていた。

頭から足先まで白い布に包まれている。

だが、その顔だけは――

若い男の顔だった。

整った顔立ち。
堂々とした姿。

昔の時代なら、英雄と呼ばれていたような男。

「ウラン……」

夜風のように静かな声だった。

「俺はジョコだ」

男はゆっくり笑った。

「お前、いい匂いがするな……。俺のものになれ」

一瞬、私はその顔に見入ってしまいそうになった。

だが次の瞬間、理性が私を引き戻した。

これは人間じゃない。

美しい顔を被っただけの化け物だ。

「断る」

私ははっきりと言った。

「私は人間にしか興味ない。お前みたいなのは無理。消えて」

私は背を向け、寮へ入った。

――バン!!

激しい音に飛び起きた。

時計は朝五時を指していた。

廊下では、他の女子生徒たちのサンダルの音が聞こえ始めている。

「……夢か」

私は深く息を吐いた。

だが、それで終わりじゃなかった。

それ以来、マグリブの祈りが終わる頃になると、私は外へ出るのが怖くなった。

そして夜になると、誰かが部屋のドアノブをゆっくり回す音が聞こえる。

カチャ……

カチャ……

カチャ……

鍵が閉まっているか確かめるように、何度も。

私のベッドはドアのすぐ近くだった。

私は毛布にくるまり、眠ったふりをしながら、その音を聞いていた。

心臓が壊れそうなくらい鳴っていた。

それでも、不思議と時間が経つにつれ、怪異は少しずつ静まっていった。

そして面接指導の日がやってきた。

日本企業の面接が近づき、私たち上級生は後輩たちの指導を任されていた。

その夜、私はイタという後輩の様子がおかしいことに気づいた。

彼女は何度も私を睨むように見ていた。

最初は気にしなかった。

だが、徐々にその目が虚ろになっていく。

次の瞬間――

ドサッ。

イタが床へ倒れた。

その背後に、私は見た。

ジョコだった。

全身が重くなる。

足が動かない。

仲間たちはすぐに聖句を唱え始めた。

祈りの声が教室に響く。

少しずつ、体の重さが消えていった。

私はイタのそばに膝をつき、低い声で囁いた。

「この子を離せ。用があるなら私だけにしろ。関係ない人を巻き込むな」

その瞬間、庭の方から悲鳴が上がった。

「火の玉だ!」

「火の玉が飛んでる!」

私は反射的に振り向いた。

赤い光が、木々の間を漂っている。

――バナスパティ。

「アスタグフィルッラーハル・アジーム……」

私は息を整え、皆に叫んだ。

「そっちを見るな! クルアーンを読んで! イタに集中して!」

みんなで声を合わせて祈りを唱えた。

一つの声。

一つの願い。

やがてイタの体が小さく動いた。

目が開く。

戸惑ったような表情だったが、意識は戻っていた。

「アルハムドゥリッラー……」

私はすぐに彼女を部屋へ連れていくよう頼んだ。

「今夜は絶対に一人にしないで」

その夜、面接クラスは早めに解散になった。

でも、恐怖はまだ終わっていなかった。

Ore no Mono

Kōkō ichinensei no koro, watashi wa jibun no naka ni nanika futsū de wa nai mono ga aru koto ni kizuki hajimeta.

Saisho wa, umaku setsumei dekinai iwakan datta.
Dare mo inai hazu na no ni shisen o kanjitari, tokutei no basho o tōru to kyū ni torihada ga tattari suru. Soshite yoru ni naru to, me ni wa mienai “nanika” ga sugu soba ni tatte iru yō na kehai o kanjiru koto ga atta.

Watashi wa sono chikara ga iyadatta.

Ima demo kanzen ni ukeire rarete iru wake janai.
Demo kokoro no oku de wa wakatte iru. Kore wa totsuzen te ni haitta mono janai.

Kono chikara wa, sosen daidai uketsugarete kita mono datta.
Watashi ga mada monogokoro tsuku mae kara, chi no naka ni nagare, kokoro no oku ni shizuka ni yadoritte ita mono.

Hachi-nen mae, watashi wa Nihon e iku to iu yume o kanaeru tame, Soro kinkō no Sukoharjo ni aru Nihongo gakkō e kayoi hajimeta.

Issho ni kita no wa, onaji jimoto shusshin no Mae datta.
Kanojo ni mo watashi to nita chikara ga atta. Demo, mada sono chikara o umaku atsukaezu ni ita.

Gakkō no ryō wa manshitsu datta tame, watashitachi wa Jawa no dentō kagoku de aru Joguro-zukuri no geshuku de kurasu koto ni natta. Furui mokuzō no ie de, yoru ni naru to kaze ni yureta hashira ga kishimu oto o tateru.

Soko de watashitachi wa, Bogōru shusshin no Fira to iu onna no ko to dōshitsu ni natta.

Shibaraku shite kara kizuita.
Fira ni mo, “mieru” chikara ga aru koto ni.

Aru yoru, watashi wa Fira to shokudō de shukudai o shite ita.
Shizuka na kūkan ni hibiku no wa, senpūki no oto to enpitsu no hashiru oto dake datta.

Sono toki datta.

Heya no hō kara, chiisana umeki-goe ga kikoeta.

Watashi wa Fira to kao o miawaseta.

Mō ichido, koe ga kikoeru.

Kondo wa motto hakkiri to.

Watashitachi wa awatete heya e kakekonda.

Mae wa beddo no sumi de hiza o kakae, furuenagara naite ita. Kao wa chinoke ga naku, namida de nurete ita.

“Wuran…… tasukete…… kowai……”

Watashi wa sūbyō, kotoba o ushinatta.
Mae wa ima made, jibun no chikara ni tsuite nani mo hanashite kurenakatta kara da.

Da ga tsugi no shunkan, kanojo no karada ga totsuzen kōchoku shita.

Soshite――

Himei ga yoru o kirisaita.

Mimi o tsunzaku yō na sakebigoe datta.

Fira ga sugu ni watashi no te o nigitta.
Watashitachi wa inori o tonae, Mae o ochitsukaseyō to shita. Keredo, mō watashitachi dake de wa dōnimo naranakatta.

Kanojo ni toritsuite iru mono wa, amarini mo tsuyokatta.

Geshuku no jūnin-tachi ga tsugitsugi to atsumatte kita.
Furueru koe de seiku o tonaeru mono mo ireba, kyōfu de heya no soto kara mite iru dake no mono mo ita.

Inori no koe ga, furui Joguro no ie o mitashite iku.

Mae no karada wa yumi no yō ni sorikaeri, ima ni mo chū ni uki-sō datta.

Soshite sono toki, watashi wa mita.

Heya no iriguchi ni, kyodai na kuroi kage ga tatte ita.

Ugokanai mama, jitto kochira o mite iru.

Mune ga shimetsukerareru yō ni kurushiku natta.

――Kusottare.

Kokoro no naka de sō hakisuteta.

Fira wa watashi no kaoiro no henka ni kizuita rashii.
Sotto senaka o nadenagara, mimimoto de sasayaita.

“Wuran…… Asutagufirullāharu Ajīmu…… tonaete”

Watashi wa chiisaku unazuki, futatabi inori o tsudzuketa.

Shibaraku shite, danshi-ryō no senpai de aru Ado-senpai ga kaketsukete kita.
Kare ga inori o tonae hajimeru to, omoku yodonde ita kūki ga sukoshi zutsu karuku natte itta.

Yagate Mae wa ishiki o torimodoshita.

Kanojo wa nakinagara, watashi no te o tsuyoku nigitta.

“Asoko, mō ikitakunai…… Wuran…… ano mise, mō ikanai de…… kowai…… asoko, pengarari tsukatteru……”

Watashi wa kanojo ga dono mise no koto o itte iru no ka wakatte ita.

Da ga Ado-senpai wa, damatte iro to iu yō ni watashi e mekuwase shita.

Sono yoru, watashitachi wa kanzen ni geshuku-jū no chūmoku no mato ni natte ita.
Betsu no geshuku kara mo seito-tachi ga atsumari, sawagi o mi ni kite ita.

Uwasa wa atto iu ma ni gakkō-jū e hirogatta.

Yokujitsu, Mae wa kyōshitsu de futatabi toritsukareta.

Gakkō-jū ga ōsawagi ni nari, kōchō wa kanojo o shibaraku jitaku taiki ni shita.

Demo, Mae wa mō genkai datta.

Kanojo wa sono mama kokyō e kaette shimatta.

Mae ga satta ato, shibaraku wa heion na hibi ga tsudzuita.

Sukunakutomo, watashi wa sō omotte ita.

Sū-kagetsu go, gakkō wa atarashii kōsha e iten shita.
Furui geshuku kara wa tōku natta tame, watashi wa seikatsuhi o setsuyaku suru tame ni gakkō no ryō e hairu koto ni shita.

Soshite――

Subete wa, soko de futatabi hajimatta.

Gakkō no tonari ni wa akichi ga ari, soko ni wa nanbon mo no banana no ki ga haete ita. Joshi seito-tachi wa, sono basho de shiyō-zumi no seiri yōhin o moyashite ita.

Masaka, sono basho ga wazawai no hajimari ni naru to wa omotte mo inakatta.

Sono yoru, watashi wa sūpā de kaimono o oen, hitori de ryō e modotte ita.

Gakkō no mon o tōrikakatta toki datta.

Shikai no hashi ni, shiroi kage ga yokogitta.

Ashi ga tomatta.

Ryō e modoru ni wa, sono mon o tōru shika nai.

Shinzō ga hageshiku myakuutsu.

Watashi wa kao o fuse, jibun no kutsu no saki dake o mitsumenagara aruita.

Are ni, “miete iru” koto o shirarete wa ikenai.

Ippo.

Niho.

Sanpo.

Watashi wa furikaeru koto naku, sono ba o tōrisugita.

Da ga sono yoru, soitsu wa yume ni arawareta.

Kizuku to watashi wa, ano mon no mae ni tatte ita.

Kūki wa omoku, jikan ga tomatta yō datta.

Ryō no getabako no soba ni, sore wa tatte ita.

Atama kara ashisaki made shiroi nuno ni tsutsumarete iru.

Da ga, sono kao dake wa――

Wakai otoko no kao datta.

Totonotta kaodachi.
Dōdō to shita sugata.

Mukashi no jidai nara, eiyū to yobarete ita yō na otoko.

“Wuran……”

Yokaze no yō ni shizuka na koe datta.

“Ore wa Joko da”

Otoko wa yukkuri waratta.

“Omae, ii nioi ga suru na…… ore no mono ni nare”

Isshun, watashi wa sono kao ni miitte shimai sō ni natta.

Da ga tsugi no shunkan, risei ga watashi o hikimodoshita.

Kore wa ningen janai.

Utsukushii kao o kabutta dake no bakemono da.

“Kotowaru”

Watashi wa hakkiri to itta.

“Watashi wa ningen ni shika kyōmi nai. Omae mitai na no wa muri. Kiete”

Watashi wa se o muke, ryō e haitta.

――Ban!!

Hageshii oto ni tobiokita.

Tokei wa gozen go-ji o sashite ita.

Rōka de wa, hoka no joshi seito-tachi no sandaru no oto ga kikoehajimete iru.

“……Yume ka”

Watashi wa fukaku iki o haita.

 

Versi Bahasa Inggris 

Mine

Back then, I was only a first-year high school student when I first realized that something inside me was different.

At first, it was only a strange feeling I could never explain.
I would sense someone watching me even when no one was there. Certain places made my skin crawl the moment I passed them. And at night, I often felt as though something invisible was standing quietly beside me.

I hated that ability.

Even now, I still cannot fully accept it.
But deep inside, I know the truth. This was not something I suddenly obtained one day.

It was inherited.

The ability had flowed through my bloodline for generations, long before I was old enough to understand it. It had always existed quietly inside me, buried deep within my soul.

Eight years ago, I took my first step toward my dream of going to Japan. To make that dream come true, I enrolled in a Japanese language school in Sukoharjo, near Solo.

I went there together with Mae, a friend from my hometown.
She possessed an ability similar to mine, although she still could not control it.

Because the school dormitory was already full, we ended up renting a traditional Javanese joglo house. It was an old wooden building whose pillars creaked softly whenever the night wind blew through it.

There, we shared a room with a girl from Bogor named Fira.

Not long after, we realized something unsettling.

Fira could see them too.

One night, Fira and I were studying together in the dining room.
The only sounds filling the silence were the spinning fan and the scratching of our pencils.

Then suddenly—

A faint moan came from our bedroom.

Fira and I exchanged glances.

We heard it again.

This time, louder.

We rushed toward the room.

Mae was curled up in the corner of the bed, trembling violently. Tears streamed down her pale face.

“Wulan… help me… I’m scared…”

For a moment, I could not speak.
Mae had never told me anything about her ability before.

But before I could ask anything, her body suddenly stiffened.

Then—

A scream tore through the night.

It was so sharp it felt as if it split the darkness apart.

Fira immediately grabbed my hand.
We recited prayers, trying desperately to calm Mae down. But it was useless.

Whatever had possessed her was far stronger than us.

People from the boarding house began gathering one after another. Some recited holy verses with trembling voices, while others stood frozen outside the room, too terrified to come closer.

The sound of prayers filled the old joglo house.

Mae’s body arched backward like a bow, as if she might levitate at any moment.

And then I saw it.

A massive black figure stood motionless by the doorway.

Watching us.

My chest tightened painfully.

Damn you.

I cursed silently in my heart.

Fira noticed the change in my expression. She gently rubbed my back and whispered into my ear.

“Wulan… Astaghfirullahal-‘Azhim… keep reciting…”

I nodded weakly and continued praying.

Not long after, Kak Ado, a senior from the boys’ dormitory, arrived.
As soon as he began reciting prayers, the suffocating heaviness in the room slowly started to fade.

Eventually, Mae regained consciousness.

She clung tightly to my hand while crying.

“I don’t want to go there anymore, Wulan… Don’t ever shop there again… It’s terrifying… They use black magic…”

I knew exactly which place she meant.

But Kak Ado immediately signaled me to stay silent.

That night, we became the center of attention for the entire boarding house. Even students from nearby lodgings came to watch the commotion.

Rumors spread through the school by the next morning.

Then it happened again.

Mae was possessed inside the classroom.

The entire school panicked, and eventually the principal suspended her temporarily.

But Mae had already reached her limit.

She chose to return home.

After Mae left, things became peaceful again.

Or at least, that was what I believed.

A few months later, the school moved to a new building located far from our old lodging. To save money, I moved into the school dormitory.

And that was where everything began again.

Beside the school stood an empty field filled with banana trees. The female students often burned used sanitary pads there.

I never imagined that place would become the beginning of my nightmare.

That night, I had just returned from shopping alone at the supermarket.

As I walked past the school gate, something white flashed across the corner of my vision.

I froze.

There was no other path back to the dormitory except through that gate.

My heartbeat thundered in my ears.

I lowered my head and stared only at the tips of my shoes while walking.

I could not let it realize that I could see it.

One step.

Two steps.

Three.

Without turning around, I walked past it.

But that night, it appeared in my dream.

I found myself standing in front of the same gate.

The air felt unbearably heavy, as if time itself had stopped moving.

Near the dormitory shoe rack stood a figure wrapped entirely in white burial cloth.

But its face—

Its face looked human.

Young. Handsome. Noble.

Like a warrior from another era.

“Wulan…”

Its voice was soft like the night wind.

“My name is Joko.”

The figure smiled slowly.

“You smell beautiful… Become mine.”

For a brief second, I almost found myself captivated by his face.

But reality pulled me back.

This was not human.

It was a monster hiding behind beauty.

“No.”

I answered firmly.

“I’m only interested in humans. Not something like you. Leave.”

I turned my back and walked into the dormitory.

BANG!!

I jolted awake.

The clock showed five in the morning.

Outside, I could already hear the sound of sandals dragging along the hallway as other girls woke up.

“…Just a dream.”

I exhaled deeply.

But it did not end there.

Ever since that night, fear returned every evening after maghrib prayer.

And at night—

Someone would slowly play with my doorknob.

Click…

Click…

Click…

As if checking whether the door was locked.

My bed was closest to the door.

I hid beneath my blanket, pretending to sleep while my heart pounded violently every time the sound returned.

Still, little by little, the disturbances began to lessen.

Until interview preparation season arrived.

The senior students, including me, were assigned to guide the juniors for Japanese company interviews. Every evening, we held training sessions about self-introduction, answering interview questions, and proper posture.

That night, I noticed something strange about one of the juniors named Ita.

She kept staring at me.

At first, I ignored it.

But gradually, her gaze became emptier… colder.

Then suddenly—

THUD.

Ita collapsed onto the floor.

And behind her—

I saw him.

Joko.

My entire body became heavy.

I could not move.

The others immediately began reciting holy verses around us.

Their voices echoed throughout the room.

Slowly, the pressure crushing my body faded away.

I knelt beside Ita and whispered quietly.

“Leave her alone. If you want something, deal with me. Don’t drag innocent people into this.”

Suddenly, screams erupted from outside.

“Fireball!”

“There’s a fireball!”

I turned instinctively.

A glowing red light floated between the trees.

Banaspati.

“Astaghfirullahal-‘Azhim…”

I steadied my breathing and shouted at everyone.

“Don’t look at it! Keep reciting the Qur’an! Focus on Ita!”

Everyone prayed together.

One voice.

One intention.

Gradually, Ita began moving again.

Her eyes opened slowly.

Confused, but alive.

“Alhamdulillah…”

I immediately asked the others to escort her back to her room.

“Don’t leave her alone tonight.”

That night, the interview class ended early.

But the terror was far from over.

Lutung Kasarung

Nama : Tri Yoga Abiasa NIM : 094241070 Pada zaman dahulu, di tanah Pasundan, berdirilah sebuah kerajaan yang makmur dan damai. K...