Rabu, 03 Juni 2026

Candi Borobudur dan Legenda Gunadharma

Nama      : Ulfi Khoirunisak
NIM        : 094241132

Dahulu kala, di sebuah wilayah yang indah bernama Magelang di Pulau Jawa, hiduplah seorang arsitek bijaksana bernama Gunadharma.

Ia tidak hanya terkenal karena keahliannya dalam membangun bangunan, tetapi juga karena pengetahuan yang luas dan kebijaksanaannya. Banyak orang menghormatinya karena dianggap sebagai seorang pertapa yang memiliki kemampuan luar biasa.

Suatu hari, Raja kerajaan memanggil Gunadharma ke istana.

Sang Raja memiliki sebuah tugas besar untuknya.

Ia ingin membangun sebuah tempat suci yang dapat digunakan masyarakat untuk berdoa sekaligus mempelajari nilai-nilai kehidupan. Selain itu, bangunan tersebut juga harus menjadi simbol kemegahan dan kejayaan kerajaan yang dapat dikenang oleh generasi-generasi berikutnya.

Setelah memikirkan tugas itu dengan sungguh-sungguh, Gunadharma mendapatkan sebuah gagasan yang istimewa.

Ia ingin membangun sebuah candi yang menggambarkan perjalanan manusia menuju kesempurnaan dan pencerahan batin.

Bersama penduduk desa, ia mulai mengerjakan pembangunan tersebut.

Candi itu dirancang bertingkat-tingkat. Semakin ke atas, ukurannya semakin kecil. Bentuk itu melambangkan perjalanan manusia yang perlahan-lahan meninggalkan hawa nafsu dan berbagai godaan dunia untuk mencapai tingkat kebijaksanaan yang lebih tinggi.

Namun, pembangunan candi itu sama sekali tidak mudah.

Berbagai kesulitan datang silih berganti. Kadang-kadang hujan turun begitu deras sehingga pekerjaan harus dihentikan. Di waktu lain, terik matahari menyengat tubuh para pekerja. Tidak jarang pula mereka mengalami kekurangan tenaga untuk memindahkan batu-batu besar yang akan digunakan sebagai bahan bangunan.

Meskipun begitu, Gunadharma tidak pernah menyerah.

Siang dan malam ia bekerja tanpa mengenal lelah. Ia terus memberikan semangat kepada para pekerja dan mengajak mereka untuk tetap melanjutkan pembangunan.

Tahun demi tahun pun berlalu.

Akhirnya, candi yang megah itu berhasil diselesaikan.

Bangunan tersebut dihiasi dengan ribuan ukiran indah yang menceritakan kehidupan manusia, ajaran kebajikan, serta berbagai kisah yang penuh makna.

Ketika masyarakat melihat hasil akhirnya, mereka dibuat kagum oleh keindahan dan kemegahan candi itu.

Sejak saat itulah bangunan tersebut dikenal sebagai Candi Borobudur.

Pada hari selesainya pembangunan, Gunadharma naik seorang diri ke puncak candi.

Dari tempat yang tinggi itu, ia memandang hamparan alam yang luas dan melihat hasil karya yang telah ia dedikasikan selama bertahun-tahun.

Perasaan haru memenuhi hatinya.

Ia duduk dengan tenang lalu memejamkan mata untuk bermeditasi.

Angin bertiup perlahan, sementara awan bergerak pelan di langit yang luas.

Menurut legenda, setelah itu terjadi sesuatu yang misterius.

Gunadharma menghilang tanpa jejak.

Tidak seorang pun mengetahui ke mana ia pergi.

Namun, masyarakat percaya bahwa rohnya telah menyatu dengan Candi Borobudur dan akan terus menjaga bangunan itu untuk selamanya.

Hingga kini, Candi Borobudur masih berdiri dengan megah dan menjadi salah satu warisan budaya terbesar di dunia.

Lebih dari sekadar bangunan bersejarah, Borobudur menjadi simbol kecerdasan manusia, kerja keras, ketekunan, serta perjalanan spiritual yang mengajarkan bahwa setiap langkah dalam kehidupan memiliki makna menuju kebijaksanaan yang lebih tinggi.

Versi Bahasa Jepang

ボロブドゥール寺院とグナダルマの伝説

昔々、ジャワ島のマゲランという美しい土地に、グナダルマという名の賢い建築家が住んでいた。

彼は優れた技術を持つだけでなく、深い知識と不思議な力を備えた修行者としても知られていた。そのため、多くの人々から尊敬されていた。

ある日、王国の王はグナダルマを宮殿へ呼び出した。

王は彼に大きな使命を与えた。

それは、人々が祈りを捧げ、人生の教えを学ぶことができる壮大な寺院を建設することだった。また、その寺院は王国の繁栄と偉大さを後世に伝える象徴でもなければならなかった。

グナダルマはしばらく考えた末、人間が悟りへ向かう道のりを表現した寺院を造ることを決意した。

彼は村人たちと力を合わせ、建設を始めた。

寺院は下から上へ行くほど小さくなる段々の構造になっていた。それは、人間が欲や迷いを乗り越えながら、少しずつ精神的な高みへ近づいていく姿を表していた。

しかし、その建設は決して簡単なものではなかった。

激しい雨や強い日差しに悩まされることもあった。大きな石を運ぶ人手が足りなくなることもあった。

それでもグナダルマは決して諦めなかった。

昼も夜も働き続け、人々を励ましながら工事を進めた。

長い年月が流れた。

そしてついに、壮大な寺院が完成した。

その建物には数え切れないほどの美しい彫刻が刻まれ、人々の暮らしや教え、人生の物語が表現されていた。

人々はその壮大な姿に驚き、深く感動した。

後に、その寺院はボロブドゥール寺院として知られるようになった。

寺院が完成した日、グナダルマは一人で頂上へ登った。

高い場所から広大な景色と自らの作品を見渡した時、彼の胸には言葉では表せないほどの感動が込み上げてきた。

彼は静かに座り、瞑想を始めた。

風が吹き、雲がゆっくりと空を流れていった。

そして伝説によれば、グナダルマはそのまま姿を消してしまったという。

誰も彼がどこへ行ったのか知らなかった。

しかし人々は、彼の魂が寺院と一体になり、永遠にボロブドゥールを見守り続けていると信じるようになった。

現在でも、ボロブドゥール寺院は壮大な姿を残している。

それは単なる歴史的な建造物ではなく、人間の知恵と努力、そして精神的な成長を象徴する大切な遺産として、多くの人々に愛され続けている。

Borobudūru Jiin to Gunadaruma no Densetsu

Mukashi mukashi, Jawa-tō no Mageran to iu utsukushii tochi ni, Gunadaruma to iu na no kashikoi kenchikuka ga sunde ita.

Kare wa sugureta gijutsu o motsu dake de naku, fukai chishiki to fushigi na chikara o sonaeta shugyōsha to shite mo shirarete ita. Sono tame, ōku no hitobito kara sonkei sarete ita.

Aru hi, ōkoku no ō wa Gunadaruma o kyūden e yobidashita.

Ō wa kare ni ōkina shimei o ataeta.

Sore wa, hitobito ga inori o sasage, jinsei no oshie o manabu koto ga dekiru sōdaina jiin o kensetsu suru koto datta. Mata, sono jiin wa ōkoku no han'ei to idaisa o kōsei ni tsutaeru shōchō demo nakereba naranakatta.

Gunadaruma wa shibaraku kangaeta sue, ningen ga satori e mukau michinori o hyōgen shita jiin o tsukuru koto o ketsui shita.

Kare wa murabito-tachi to chikara o awase, kensetsu o hajimeta.

Jiin wa shita kara ue e iku hodo chiisaku naru dandan no kōzō ni natte ita. Sore wa, ningen ga yoku ya mayoi o norikoenagara, sukoshi zutsu seishinteki na takami e chikazuite iku sugata o arawashite ita.

Shikashi, sono kensetsu wa kesshite kantan na mono de wa nakatta.

Hageshii ame ya tsuyoi hizashi ni nayamasareru koto mo atta. Ōkii ishi o hakobu hitode ga tarinaku naru koto mo atta.

Sore demo Gunadaruma wa kesshite akiramenakatta.

Hiru mo yoru mo hatarakitsudzuke, hitobito o hagemashinagara kōji o susumeta.

Nagai toshitsuki ga nagareta.

Soshite tsuini, sōdaina jiin ga kansei shita.

Sono tatemono ni wa kazoe kirenai hodo no utsukushii chōkoku ga kizamarare, hitobito no kurashi ya oshie, jinsei no monogatari ga hyōgen sarete ita.

Hitobito wa sono sōdaina sugata ni odoroki, fukaku kandō shita.

Nochi ni, sono jiin wa Borobudūru Jiin to shite shirareru yō ni natta.

Jiin ga kansei shita hi, Gunadaruma wa hitori de chōjō e nobotta.

Takai basho kara kōdaina keshiki to mizukara no sakuhin o miwatashita toki, kare no mune ni wa kotoba de wa arawasenai hodo no kandō ga komiagete kita.

Kare wa shizuka ni suwari, meiso o hajimeta.

Kaze ga fuki, kumo ga yukkuri to sora o nagarete itta.

Soshite densetsu ni yoreba, Gunadaruma wa sono mama sugata o keshite shimatta to iu.

Dare mo kare ga doko e itta no ka shiranakatta.

Shikashi hitobito wa, kare no tamashii ga jiin to ittai ni nari, eien ni Borobudūru o mimamori tsudzukete iru to shinjiru yō ni natta.

Genzai demo, Borobudūru Jiin wa sōdaina sugata o nokoshite iru.

Sore wa tan naru rekishiteki na kenzōbutsu de wa naku, ningen no chie to doryoku, soshite seishinteki na seichō o shōchō suru taisetsu na isan to shite, ōku no hitobito ni aisare tsudzukete iru.

Versi Bahasa Inggris 

Borobudur Temple and the Legend of Gunadharma

Long ago, in the beautiful region of Magelang on the island of Java, there lived a wise architect named Gunadharma.

He was known not only for his extraordinary skill in designing buildings but also for his vast knowledge and wisdom. Many people respected him and believed that he possessed remarkable spiritual abilities.

One day, the king of the kingdom summoned Gunadharma to the royal palace.

The king entrusted him with a great mission.

He wanted a magnificent sacred monument that would serve as a place of prayer and reflection for the people. At the same time, it was meant to symbolize the greatness and prosperity of the kingdom for future generations.

After carefully considering the task, Gunadharma came up with a remarkable idea.

He decided to design a temple that would represent the journey of human life toward enlightenment and spiritual perfection.

Together with the villagers, he began the enormous construction project.

The temple was designed with a series of terraces that became smaller as they rose higher. This structure symbolized the gradual journey of human beings as they overcome worldly desires and distractions in their pursuit of wisdom and enlightenment.

However, building the temple was far from easy.

Many challenges stood in their way. At times, heavy rains forced the workers to stop their work. At other times, the scorching sun exhausted everyone involved. There were also occasions when they lacked enough people to transport the massive stones needed for construction.

Despite these difficulties, Gunadharma never gave up.

Day and night, he worked tirelessly. He encouraged the workers and inspired them to continue despite the hardships they faced.

Years passed.

At last, the magnificent temple was completed.

The structure was adorned with countless beautiful carvings depicting human life, moral teachings, and stories filled with wisdom and meaning.

When the people finally saw the completed monument, they were amazed by its beauty and grandeur.

From that day forward, the temple became known as Borobudur Temple.

On the day the construction was completed, Gunadharma climbed alone to the highest level of the temple.

From that lofty place, he gazed across the vast landscape and admired the masterpiece to which he had devoted so many years of his life.

A deep sense of emotion filled his heart.

He sat quietly and began to meditate.

The wind blew gently, and clouds drifted slowly across the endless sky.

According to the legend, something mysterious happened afterward.

Gunadharma disappeared without a trace.

No one ever discovered where he had gone.

However, the people came to believe that his spirit had become one with Borobudur Temple and would continue to watch over it forever.

Even today, Borobudur Temple stands proudly as one of the greatest cultural treasures in the world.

More than just a historical monument, it represents human intelligence, perseverance, dedication, and spiritual growth. It serves as a timeless reminder that every step in life carries meaning on the path toward greater wisdom and enlightenment.

Pelajaran Berharga dari Sebuah Kecelakaan Tak Terduga

NAMA : WILDA SUKMA AYU
NIM     : 094241117

Hujan turun deras sejak pagi itu. Langit kelabu menggantung rendah seolah ikut menambah kegelisahan yang sudah memenuhi pikiranku. Jam menunjukkan waktu yang hampir membuatku terlambat berangkat kerja. Di Jepang, ketepatan waktu adalah sesuatu yang sangat dihargai, dan aku tidak ingin meninggalkan kesan buruk di hadapan atasan maupun rekan kerja.

Tanpa banyak berpikir, aku mengenakan jas hujan, memasang topi, lalu mengayuh sepeda secepat mungkin menembus hujan. Butiran air yang jatuh semakin deras membuat jalanan tampak samar. Meski demikian, aku terus melaju. Dalam benakku hanya ada satu tujuan: jangan sampai terlambat.

Jalanan pagi itu cukup ramai. Orang-orang bergegas menuju tempat kerja dan sekolah sambil membawa payung. Namun, karena hujan yang mengaburkan pandangan serta topi yang menutupi sebagian penglihatanku, aku tidak terlalu memperhatikan keadaan sekitar. Aku terus mengayuh sepeda dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya.

Ketika mendekati sebuah persimpangan dengan lampu merah, aku masih melaju dengan tergesa-gesa. Di tengah derasnya hujan, seorang wanita Jepang yang sudah cukup tua berdiri di tepi jalan sambil memegang payung. Ia tampaknya hendak menyeberang.

Namun semuanya terjadi begitu cepat.

Dalam hitungan detik, aku kehilangan fokus. Saat menyadari ada seseorang tepat di depanku, semuanya sudah terlambat.

Brak!

Tubuhku dan sepeda yang kukendarai menghantam wanita itu. Ia terjatuh ke jalan dan tubuhnya sedikit terpental. Payung yang dipegangnya terlempar beberapa meter dari tempatnya berdiri.

Jantungku seakan berhenti berdetak.

Tubuhku langsung lemas. Tanpa berpikir panjang, aku melemparkan sepeda ke pinggir jalan dan berlari menghampirinya. Tanganku gemetar ketika membantu beliau bangun.

"Maaf... maafkan saya..." ucapku berulang kali.

Air mataku mulai jatuh tanpa bisa kutahan. Dengan panik aku bertanya apakah beliau terluka dan apakah perlu dibawa ke rumah sakit. Aku benar-benar ketakutan. Benturannya terasa cukup keras, terlebih lagi beliau sudah berusia lanjut.

Namun di luar dugaan, wanita itu menjawab dengan tenang.

"Saya tidak apa-apa," katanya sambil tersenyum tipis.

Beliau bahkan mengatakan tidak perlu pergi ke rumah sakit dan segera melanjutkan perjalanannya.

Meski mendengar jawaban itu, hatiku sama sekali tidak tenang.

Sepanjang perjalanan menuju tempat kerja, aku terus menangis. Rasa bersalah menghantamku tanpa ampun. Bayangan tubuh wanita itu yang terjatuh di tengah hujan terus berulang di dalam kepalaku.

Sesampainya di kantor, aku tidak mampu bekerja dengan baik. Tanganku masih gemetar dan pikiranku kacau. Akhirnya, aku memberanikan diri menemui atasan dan menceritakan seluruh kejadian yang baru saja kualami.

Atasanku mendengarkan dengan serius.

Setelah aku selesai bercerita, beliau berkata, "Ini bukan masalah kecil. Kamu harus bertanggung jawab dan memastikan keadaan korban."

Kata-kata itu membuatku semakin takut, tetapi aku tahu beliau benar.

Hari itu juga kami kembali ke lokasi kejadian dan melapor ke kantor polisi. Polisi meminta keterangan secara rinci, mulai dari kondisi cuaca, kecepatan sepeda yang kukendarai, hingga kronologi tabrakan yang terjadi.

Tidak lama kemudian, wanita yang kutabrak datang ke kantor polisi.

Saat melihatnya memasuki ruangan, perasaanku kembali campur aduk. Malu, takut, sedih, dan bersalah bercampur menjadi satu. Aku segera membungkukkan badan dan meminta maaf sekali lagi dengan tulus.

Kali ini aku mengetahui bahwa beliau memang mengalami luka ringan. Dahinya sedikit terluka dan perutnya terasa sakit akibat benturan.

Mendengar hal itu, hatiku terasa semakin berat.

Aku kembali meminta maaf sambil menahan air mata. Aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri. Semua itu terjadi karena aku terlalu terburu-buru dan mengabaikan keselamatan.

Namun, hal yang paling tidak akan pernah kulupakan adalah sikap wanita tersebut.

Alih-alih marah atau menyalahkanku, beliau justru berusaha menenangkanku.

"Tidak apa-apa. Jangan terlalu khawatir," katanya dengan suara lembut.

Perkataannya membuatku semakin terharu. Kebaikan hati beliau di tengah situasi seperti itu adalah sesuatu yang tidak pernah kuduga. Sikapnya mengajarkanku arti empati dan pengampunan yang sesungguhnya.

Setelah seluruh proses di kantor polisi selesai, aku kembali bekerja. Hari itu berjalan seperti biasa, tetapi hatiku tidak pernah benar-benar tenang. Peristiwa yang terjadi pagi itu terus memenuhi pikiranku.

Sejak saat itu, aku menyadari satu hal penting: terburu-buru dapat membawa akibat yang sangat berbahaya.

Hanya karena takut terlambat bekerja, aku hampir menyebabkan orang lain mengalami cedera yang lebih serius. Pengalaman tersebut mengajarkanku bahwa keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama, lebih penting daripada mengejar waktu atau memenuhi ambisi sesaat.

Kini, setiap kali mengendarai sepeda atau kendaraan apa pun, aku selalu mengingat kejadian itu. Rasa takut, panik, dan bersalah yang kurasakan pada hari itu mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang. Namun, dari pengalaman itulah aku belajar menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, lebih berhati-hati, dan lebih menghargai keselamatan diri sendiri maupun orang lain.

Kadang-kadang, pelajaran hidup yang paling berharga datang dari sebuah kesalahan yang tidak pernah kita harapkan terjadi. Dan bagi saya, kecelakaan di tengah hujan pada pagi itu adalah salah satu pelajaran terbesar yang akan selalu saya kenang sepanjang hidup.

Versi Bahasa Jepang

思いがけない事故から学んだ大切な教訓

その日の朝、空は厚い雲に覆われ、激しい雨が降っていた。

窓の外を見ながら、私は焦っていた。時計の針は出勤時間に近づいている。日本では時間を守ることがとても大切だ。遅刻をすれば、上司や会社に悪い印象を与えてしまうかもしれない。そんな不安が頭の中をいっぱいにしていた。

雨がどれほど強くても、仕事を休むわけにはいかなかった。

私はレインコートを着て帽子をかぶり、いつものように自転車に乗った。雨粒は容赦なく顔に当たり、視界はあまり良くなかった。それでも私はペダルを踏み続けた。

頭の中にあったのは、「遅刻したくない」という思いだけだった。

朝の道路は多くの人で混雑していた。会社へ向かう人、学校へ向かう学生、それぞれが傘を差しながら足早に歩いている。私はそんな人々の間を縫うように、自転車をいつもより速く走らせていた。

やがて赤信号のある交差点に差しかかった。

雨の向こう側に、一人の日本人女性が立っていた。少し年配の女性で、傘を手にしていた。おそらく彼女もどこかへ向かう途中だったのだろう。

しかし、その時の私は周囲を見る余裕を失っていた。

強い雨、帽子で狭くなった視界、そして遅刻への焦り。

そのすべてが重なり、私は女性が目の前にいることに気づかなかった。

次の瞬間だった。

ドンッ――。

激しい衝撃とともに、私は女性にぶつかってしまった。

女性の体は道路に倒れ、持っていた傘は遠くへ飛ばされた。

その光景を見た瞬間、頭の中が真っ白になった。

心臓が止まったような気がした。

私は慌てて自転車を道端に放り出し、女性のもとへ駆け寄った。

「すみません、本当にすみません!」

そう言いながら、震える手で女性を起こした。

涙が止まらなかった。

「大丈夫ですか? 病院へ行ったほうがいいんじゃないですか?」

私は何度もそう尋ねた。もし大けがをしていたらどうしよう。もし取り返しのつかないことになっていたらどうしよう。恐怖と後悔で胸がいっぱいだった。

ところが、女性は驚くほど落ち着いていた。

「大丈夫ですよ」

そう静かに言うと、彼女はそのまま立ち去ろうとした。

けれど、私の心はまったく落ち着かなかった。

会社へ向かう間も、私はずっと泣いていた。

頭の中には、道路に倒れた女性の姿が何度も浮かんでいた。本当に大丈夫だったのだろうか。どこか痛めていないだろうか。そんなことばかり考えていた。

会社に着いても、気持ちは少しも晴れなかった。

手は震え、仕事にも集中できない。

このまま黙っているのは違う。

そう思い、私は上司のもとへ向かった。

事故のことを最初から最後まで話すと、上司は真剣な表情で耳を傾けてくれた。

そして話を聞き終えると、静かに言った。

「それは小さな問題じゃない。きちんと責任を持たなければならない。」

その言葉を聞いて、私はさらに不安になった。

しかし、上司の言う通りだと思った。

その後、私は上司と一緒に事故現場へ戻り、警察署へ向かった。事故の時に使っていた自転車も持参した。

警察では、天候の状況や自転車の速度、事故が起きた経緯などを細かく説明した。

しばらくすると、あの女性も警察署にやって来た。

彼女の姿を見た瞬間、胸が締め付けられた。

私はすぐに頭を下げ、もう一度心から謝った。

そして、恐る恐る尋ねた。

「本当に病院へ行かなくて大丈夫ですか?」

すると女性は、額に小さな傷があり、お腹にも少し痛みがあると話してくれた。

その言葉を聞いた瞬間、胸がさらに重くなった。

私の不注意のせいで、年配の女性を傷つけてしまった。

その事実が苦しくてたまらなかった。

ところが、その時だった。

女性は私を責めるどころか、逆に優しく声をかけてくれた。

「大丈夫ですよ。あまり気にしないでください。」

その言葉を聞いた瞬間、涙があふれそうになった。

怒られても仕方がない状況だった。それなのに、彼女は私を思いやり、安心させようとしてくれた。

その優しさに、私は心から救われた。

すべての手続きが終わった後、私は会社へ戻り、再び仕事を始めた。

しかし、その日一日中、心は重いままだった。

あの雨の日の出来事が頭から離れなかった。

そして私は、その経験から大切なことを学んだ。

焦りは判断力を奪う。

私は遅刻したくないという気持ちにとらわれるあまり、安全を後回しにしてしまった。もし事故がもっと大きなものになっていたら、取り返しのつかない結果になっていたかもしれない。

それ以来、自転車に乗る時は以前よりもずっと慎重になった。

どれほど急いでいても、安全より優先すべきものはない。

あの日感じた恐怖や後悔、そして罪悪感は、今でも完全には消えていない。

それでも私は、その経験を人生の大切な教訓として受け止めている。

時には、人生で最も大切な学びは、自分が決して起こしたくなかった失敗の中にある。

雨の朝に起きたあの事故は、これから先もずっと、私に責任と安全の大切さを教え続けてくれるだろう。

Omoigakenai Jiko kara Mananda Taisetsu na Kyōkun

Sono hi no asa, sora wa atsui kumo ni ooware, hageshii ame ga futte ita.

Mado no soto o minagara, watashi wa asette ita. Tokei no hari wa shukkin jikan ni chikadzuite iru. Nihon de wa jikan o mamoru koto ga totemo taisetsu da. Chikoku o sureba, jōshi ya kaisha ni warui inshō o ataete shimau kamo shirenai. Sonna fuan ga atama no naka o ippai ni shite ita.

Ame ga dore hodo tsuyokutemo, shigoto o yasumu wake ni wa ikanakatta.

Watashi wa reinkōto o kite bōshi o kaburi, itsumo no yō ni jitensha ni notta. Amatsubu wa yōsha naku kao ni atari, shikai wa amari yokunakatta. Sore demo watashi wa pedaru o fumitsudzuketa.

Atama no naka ni atta no wa, "chikoku shitakunai" to iu omoi dake datta.

Asa no dōro wa ōku no hito de konzatsu shite ita. Kaisha e mukau hito, gakkō e mukau gakusei, sorezore ga kasa o sashinagara ashibaya ni aruite iru. Watashi wa sonna hitobito no aida o nuu yō ni, jitensha o itsumo yori hayaku hashirasete ita.

Yagate akashingō no aru kōsaten ni sashikakatta.

Ame no mukōgawa ni, hitori no Nihonjin josei ga tatte ita. Sukoshi nenpai no josei de, kasa o te ni shite ita. Osoraku kanojo mo dokoka e mukau tochū datta no darō.

Shikashi, sono toki no watashi wa shūi o miru yoyū o ushinatte ita.

Tsuyoi ame, bōshi de semaku natta shikai, soshite chikoku e no aseri.

Sono subete ga kasanari, watashi wa josei ga me no mae ni iru koto ni kizukanakatta.

Tsugi no shunkan datta.

Don!

Hageshii shōgeki to tomo ni, watashi wa josei ni butsukatte shimatta.

Josei no karada wa dōro ni taore, motte ita kasa wa tōku e tobasareta.

Sono kōkei o mita shunkan, atama no naka ga masshiro ni natta.

Shinzō ga tomatta yō na ki ga shita.

Watashi wa awatete jitensha o michibata ni hōridashi, josei no moto e kakeyotta.

"Sumimasen, hontō ni sumimasen!"

Sō iinagara, furueru te de josei o okoshita.

Namida ga tomaranakatta.

"Daijōbu desu ka? Byōin e itta hō ga ii n ja nai desu ka?"

Watashi wa nando mo sō tazuneta. Moshi ōkega o shite itara dō shiyō. Moshi torikaeshi no tsukanai koto ni natte itara dō shiyō. Kyōfu to kōkai de mune ga ippai datta.

Versi Bahasa Inggris 

 

A Valuable Lesson Learned from an Unexpected Accident

That morning, the sky was covered with thick gray clouds, and heavy rain had been falling since dawn.

As I looked out the window, I felt increasingly anxious. The clock was getting closer to my starting time at work. In Japan, punctuality is highly valued, and being late is often seen as a sign of irresponsibility. I did not want to leave a bad impression on my supervisor or my company. Those worries filled my mind as I prepared to leave.

No matter how hard it rained, taking a day off was not an option.

I put on my raincoat, wore a hat, and got on my bicycle as usual. Raindrops struck my face relentlessly, and my vision was far from clear. Still, I kept pedaling forward.

At that moment, there was only one thought in my mind:

I must not be late.

The streets were crowded with people heading to work and school. Everyone hurried along under their umbrellas, trying to escape the rain. I rode my bicycle faster than usual, weaving through the busy morning traffic.

Soon, I approached an intersection with a traffic light.

On the other side of the rain, I noticed a Japanese woman standing with an umbrella. She appeared to be elderly and was probably on her way somewhere, just like everyone else that morning.

However, I was too distracted to pay proper attention to my surroundings.

The heavy rain, my limited visibility under the hat, and my fear of being late had taken over my focus.

Before I realized it, everything happened in an instant.

Crash!

A sudden impact shook my entire body.

I had collided with the woman.

She fell onto the wet road, and the umbrella she was holding flew several meters away. The moment I saw her fall, my mind went completely blank.

It felt as if my heart had stopped beating.

Without thinking, I threw my bicycle to the side of the road and ran toward her.

“I’m so sorry! I’m really, really sorry!”

My hands trembled as I helped her get back on her feet. Tears began streaming down my face uncontrollably.

“Are you okay? Should we go to the hospital?”

I asked the same questions over and over again. Fear and guilt overwhelmed me. What if she had been seriously injured? What if something irreversible had happened because of my carelessness?

To my surprise, she remained remarkably calm.

“I’m fine,” she said softly.

Then she tried to continue on her way as if nothing had happened.

But I could not calm my heart.

On the way to work, I kept crying. The image of her falling onto the road replayed repeatedly in my mind. I could not stop wondering whether she was truly okay.

When I arrived at the office, I still could not focus. My hands were shaking, and my thoughts were in complete disarray.

I knew remaining silent would be wrong.

Gathering my courage, I went to my supervisor and explained everything that had happened from beginning to end.

He listened carefully and seriously.

When I finished, he looked at me and said,

“This is not a minor issue. You must take responsibility for what happened.”

His words made me even more nervous, but deep down, I knew he was right.

Soon afterward, my supervisor and I returned to the accident site and then went to the police station. I also brought the bicycle involved in the collision.

At the station, I was asked to explain every detail of the incident—the weather conditions, the speed of my bicycle, and exactly how the accident had occurred.

A short while later, the woman I had collided with arrived at the police station.

The moment I saw her, my chest tightened.

I immediately bowed deeply and apologized once again from the bottom of my heart.

Then I cautiously asked,

“Are you absolutely sure you don’t need to go to the hospital?”

This time, she admitted that she had suffered a small cut on her forehead and some pain in her stomach from the impact.

Hearing that made me feel even worse.

The reality that my carelessness had caused an elderly woman to be injured weighed heavily on my heart.

Yet what happened next is something I will never forget.

Instead of blaming me or expressing anger, she gently tried to comfort me.

“It’s all right,” she said kindly. “Please don’t worry too much.”

Her words nearly brought me to tears again.

She had every reason to be upset, yet she chose kindness and understanding instead. Her compassion in that difficult moment touched me deeply and gave me a sense of relief I desperately needed.

After all the procedures at the police station were completed, I returned to work and continued my duties as usual.

Outwardly, everything seemed normal.

But inside, my heart felt heavy throughout the entire day.

I could not stop thinking about what had happened.

That experience taught me one of the most important lessons of my life.

When people become too focused on rushing, they often lose the ability to make sound judgments.

My fear of being late had caused me to neglect something far more important: safety.

Had the accident been more serious, the consequences could have been devastating.

Since that day, I have become much more careful whenever I ride a bicycle or operate any vehicle.

No matter how urgent something may seem, nothing is more important than the safety of ourselves and others.

The fear, panic, guilt, and regret I felt that rainy morning have never completely disappeared.

Even so, I choose to remember that experience not only as a painful memory but also as a valuable lesson.

Sometimes, the most meaningful lessons in life come from mistakes we never wanted to make.

And for me, that accident on a rainy morning will always serve as a reminder to live more responsibly, act more carefully, and value safety above all else.

 

Senin, 01 Juni 2026

Lutung Kasarung

Nama : Tri Yoga Abiasa

NIM : 094241070

Pada zaman dahulu, di tanah Pasundan, berdirilah sebuah kerajaan yang makmur dan damai. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana dan disegani oleh seluruh rakyatnya. Sang raja memiliki tujuh orang putri yang cantik dan berbudi. Di antara ketujuh putri tersebut, putri bungsu bernama Purbasari adalah yang paling disayangi oleh rakyat.

Purbasari dikenal sebagai gadis yang baik hati, ramah, dan rendah hati. Ia tidak pernah membanggakan kedudukannya sebagai putri raja. Sebaliknya, ia senang membantu orang lain dan selalu memperlakukan siapa pun dengan sopan.

Namun, kebaikan Purbasari justru menimbulkan rasa iri di hati kakaknya, Purbararang. Sebagai putri sulung, Purbararang merasa dirinya lebih pantas menjadi penerus kerajaan. Ia tidak senang melihat rakyat dan sang raja begitu menyayangi adiknya.

Ketika sang raja mulai mempertimbangkan Purbasari sebagai calon penerus tahta, rasa iri Purbararang semakin besar. Ia pun menyusun rencana jahat untuk menyingkirkan adiknya.

Dengan bantuan seorang tabib istana, Purbararang membuat tubuh Purbasari dipenuhi bercak-bercak hitam yang menyerupai penyakit kulit. Melihat keadaan itu, banyak orang istana merasa takut dan menganggap Purbasari terkena kutukan.

Purbararang memanfaatkan keadaan tersebut untuk memengaruhi sang raja. Akhirnya, dengan berat hati, raja memutuskan untuk mengasingkan Purbasari ke tengah hutan.

Purbasari menerima keputusan itu dengan sabar. Ia meninggalkan istana tanpa membenci siapa pun. Meski sedih, ia tetap berusaha menjalani hidup dengan tabah.

Di tengah hutan yang lebat dan sunyi, Purbasari hidup seorang diri. Namun, suatu hari ia bertemu seekor lutung hitam yang berbeda dari hewan-hewan lainnya. Lutung itu tampak memahami kesedihan yang dirasakannya.

Lutung tersebut kemudian dikenal sebagai Lutung Kasarung.

Sejak saat itu, Lutung Kasarung selalu menemani Purbasari. Ia membantu mencarikan makanan, menjaga Purbasari dari bahaya, dan menjadi sahabat setianya. Berkat kehadiran lutung itu, hari-hari Purbasari di hutan tidak lagi terasa begitu sepi.

Lama-kelamaan, tumbuhlah rasa percaya yang kuat di antara mereka. Purbasari tidak pernah memandang Lutung Kasarung dari wujudnya yang sederhana. Ia melihat kebaikan hati dan kesetiaan yang dimiliki sahabatnya itu.

Tanpa diketahui Purbasari, Lutung Kasarung sebenarnya bukanlah hewan biasa. Ia adalah seorang pangeran dari kahyangan bernama Guruminda. Karena suatu kutukan, ia harus hidup dalam wujud seekor lutung hingga bertemu seseorang yang mampu melihat ketulusan di balik penampilan luar.

Sementara itu, di kerajaan, Purbararang semakin yakin bahwa Purbasari tidak akan pernah kembali. Namun, kabar tentang kehidupan Purbasari di hutan mulai terdengar oleh rakyat. Banyak orang yang merasa kasihan dan mulai meragukan keputusan yang telah diambil istana.

Untuk membuktikan bahwa dirinya lebih unggul, Purbararang mengadakan berbagai perlombaan dan memanggil Purbasari kembali ke kerajaan.

Satu demi satu tantangan diberikan kepada kedua putri tersebut. Mulai dari keterampilan rumah tangga, kecerdasan, hingga berbagai ujian lainnya.

Dengan bantuan Lutung Kasarung, Purbasari berhasil melewati semua ujian dengan baik. Ia menunjukkan bahwa kebaikan hati, kesabaran, dan ketekunan jauh lebih berharga daripada kesombongan.

Akhirnya tibalah ujian terakhir. Kedua putri diminta menunjukkan calon pendamping hidup mereka.

Purbararang merasa sangat yakin akan menang. Tunangannya adalah seorang pangeran tampan dan gagah. Sementara itu, Purbasari hanya ditemani seekor lutung hitam.

Para penghuni istana pun mulai berbisik-bisik. Mereka mengira kemenangan sudah pasti berada di tangan Purbararang.

Namun, sesuatu yang luar biasa terjadi.

Di hadapan seluruh penghuni istana, Lutung Kasarung tiba-tiba berubah wujud. Cahaya terang menyelimuti tubuhnya. Dalam sekejap, lutung hitam itu berubah menjadi seorang pangeran yang tampan dan berwibawa.

Dialah Pangeran Guruminda dari kahyangan.

Semua orang terkejut. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa sahabat setia Purbasari adalah seorang pangeran.

Purbararang hanya bisa menundukkan kepala. Saat itu ia menyadari bahwa rasa iri dan kesombongan tidak akan pernah mampu mengalahkan ketulusan dan kebaikan hati.

Akhirnya, kebenaran terungkap. Nama baik Purbasari dipulihkan, dan ia kembali memperoleh haknya sebagai putri yang layak menjadi penerus kerajaan.

Kelak, Purbasari memimpin kerajaan dengan bijaksana bersama Pangeran Guruminda. Di bawah kepemimpinan mereka, rakyat hidup damai, makmur, dan bahagia.

Sejak saat itu, kisah Lutung Kasarung terus diceritakan dari generasi ke generasi sebagai pelajaran bahwa kecantikan dan kemuliaan sejati tidak terletak pada penampilan luar, melainkan pada ketulusan hati dan kebaikan seseorang.

Tamat

Versi Bahasa Jepang

『ルトゥン・カサルン』

昔々、西ジャワのパスンダンという美しい国に、賢く立派な王がいた。

王は国を平和に治め、人々から深く尊敬されていた。王には七人の娘がいたが、その中でも末娘のプルバサリは特に人々に愛されていた。

プルバサリは優しく思いやりがあり、いつも謙虚だった。王女でありながら身分を誇ることはなく、誰に対しても親切に接していた。そのため、宮殿の人々だけでなく、多くの民からも慕われていた。

しかし、そのことを快く思わない者がいた。

姉のプルバラランである。

長女である彼女は、自分こそが王位を継ぐべきだと考えていた。ところが、王がしだいにプルバサリを信頼するようになると、その心には嫉妬の炎が燃え始めた。

やがてプルバラランは、妹を宮殿から追い出すための恐ろしい計画を立てた。

彼女は宮廷の医者を利用し、プルバサリの体に黒い斑点が現れるよう細工をした。

翌日、プルバサリの美しい肌には黒い斑点が広がっていた。

それを見た人々は驚き、不吉な出来事の前触れだと噂した。

プルバラランはその機会を逃さなかった。

「この者は王国に災いをもたらすかもしれません。」

そう言って王に訴えた。

王は深く悩んだ末、ついにプルバサリを森へ追放することを決めた。

プルバサリは悲しかったが、誰も恨まなかった。

ただ静かに運命を受け入れ、一人で森へ向かった。

深い森の中での暮らしは決して楽ではなかった。

それでもプルバサリは毎日を懸命に生きた。

そんなある日、彼女は一匹の黒いルトゥン(猿)と出会った。

その猿は普通の猿とはどこか違っていた。

優しい目をしており、まるで人の心が分かるかのようだった。

その猿こそ、ルトゥン・カサルンだった。

ルトゥン・カサルンはいつもプルバサリのそばにいた。

食べ物を見つけてくれたり、危険から守ってくれたりして、彼女の力になった。

こうして二人は少しずつ心を通わせていった。

プルバサリはルトゥンの姿ではなく、その優しさと誠実さを見ていた。

だが実は、ルトゥン・カサルンには大きな秘密があった。

彼の正体は、天界の王子グルミンダだったのである。

呪いによって猿の姿に変えられ、本当の価値を見抜く心を持つ者に出会うまで、その姿で生きなければならなかったのだ。

一方その頃、王宮ではプルバラランが自分の勝利を信じて疑わなかった。

しかし、森でたくましく暮らすプルバサリの噂は少しずつ国中に広まり、人々は王宮の決定に疑問を持ち始めた。

そこでプルバラランは、自分の方が優れていることを証明するため、さまざまな試練を行うことを提案した。

プルバサリは王宮へ呼び戻された。

料理や機織りなどの技術、知恵、そして人柄を試す多くの試練が与えられた。

しかし、プルバサリはどの試練も立派に乗り越えていった。

その姿に、多くの人々は感心した。

そして最後の試練の日がやって来た。

それは、どちらの伴侶がよりふさわしいかを比べる試練だった。

プルバラランは美しく立派な婚約者を連れて現れた。

彼女は自分の勝利を確信していた。

一方、プルバサリの隣にいたのは、いつもの黒いルトゥンだった。

人々はひそひそと話し始めた。

そのときだった。

突然、まばゆい光が辺りを包み込んだ。

ルトゥン・カサルンの体が光に包まれ、ゆっくりと姿を変え始めた。

そして光が消えると、そこには気高く美しい王子が立っていた。

グルミンダ王子だった。

宮殿中の人々は驚きのあまり言葉を失った。

プルバラランも何も言えなかった。

その瞬間、彼女はようやく気づいた。

本当に大切なのは外見や地位ではなく、心の美しさなのだということを。

やがてプルバサリは名誉を取り戻し、王国の正当な後継者となった。

そしてグルミンダ王子とともに国を治め、人々を幸せへ導いたという。

それ以来、『ルトゥン・カサルン』の物語は語り継がれ、真の美しさは外見ではなく、優しさと誠実な心の中にあることを人々に教え続けている。

おしまい

Lutung Kasarung

Mukashi mukashi, Nishi Jawa no Pasundan to iu utsukushii kuni ni, kashikoku rippa na ō ga ita.

Ō wa kuni o heiwa ni osame, hitobito kara fukaku sonkei sarete ita. Ō ni wa shichinin no musume ga ita ga, sono naka demo suemusume no Purbasari wa toku ni hitobito ni aisarete ita.

Purbasari wa yasashiku omoiyari ga ari, itsumo kenkyo datta. Ōjo de arinagara mibun o hokoru koto wa naku, dare ni taishite mo shinsetsu ni sesshite ita. Sono tame, kyūden no hitobito dake de naku, ōku no tami kara mo shitawarete ita.

Shikashi, sono koto o kokoroyoku omowanai mono ga ita.

Ane no Purbararang de aru.

Chōjo de aru kanojo wa, jibun koso ga ōi o tsugu beki da to kangaete ita. Tokoro ga, ō ga shidai ni Purbasari o shinrai suru yō ni naru to, sono kokoro ni wa shitto no honō ga moe hajimeta.

Yagate Purbararang wa, imōto o kyūden kara oidashu tame no osoroshii keikaku o tateta.

Kanojo wa kyūtei no isha o riyō shi, Purbasari no karada ni kuroi hanten ga arawareru yō saiku o shita.

Yokujitsu, Purbasari no utsukushii hada ni wa kuroi hanten ga hirogatte ita.

Sore o mita hitobito wa odoroki, fukitsuna dekigoto no maebure da to uwasa shita.

Purbararang wa sono kikai o nogasanakatta.

“Kono mono wa ōkoku ni wazawai o motarasu kamoshiremasen.”

Sō itte ō ni uttae ta.

Ō wa fukaku nayanda sue, tsuini Purbasari o mori e tsuihō suru koto o kimeta.

Purbasari wa kanashikatta ga, dare mo uramanakatta.

Tada shizuka ni unmei o ukeire, hitori de mori e mukatta.

Fukai mori no naka de no kurashi wa kesshite raku de wa nakatta.

Sore demo Purbasari wa mainichi o kenmei ni ikita.

Sonna aru hi, kanojo wa ippiki no kuroi lutung (saru) to deatta.

Sono saru wa futsū no saru to wa dokoka chigatte ita.

Yasashii me o shite ori, maru de hito no kokoro ga wakaru ka no yō datta.

Sono saru koso, Lutung Kasarung datta.

Lutung Kasarung wa itsumo Purbasari no soba ni ita.

Tabemono o mitsukete kuretari, kiken kara mamotte kuretari shite, kanojo no chikara ni natta.

Kōshite futari wa sukoshizutsu kokoro o kayowasete itta.

Purbasari wa Lutung no sugata de wa naku, sono yasashisa to seijitsusa o mite ita.

Da ga jitsu wa, Lutung Kasarung ni wa ōkina himitsu ga atta.

Kare no shōtai wa, tenkai no ōji Guruminda datta node aru.

Noroi ni yotte saru no sugata ni kaerare, hontō no kachi o minuku kokoro o motsu mono ni deau made, sono sugata de ikinakereba naranakatta no da.

Ippō sono koro, ōkyū de wa Purbararang ga jibun no shōri o shinjite utagawanakatta.

Shikashi, mori de takumashiku kurasu Purbasari no uwasa wa sukoshizutsu kunijū ni hiromari, hitobito wa ōkyū no kettei ni gimon o mochi hajimeta.

Soko de Purbararang wa, jibun no hō ga sugurete iru koto o shōmei suru tame, samazama na shiren o okonau koto o teian shita.

Purbasari wa ōkyū e yobimodosareta.

Ryōri ya orimono nado no gijutsu, chie, soshite hitogara o tamesu ōku no shiren ga ataerareta.

Shikashi, Purbasari wa dono shiren mo rippa ni norikoete itta.

Sono sugata ni, ōku no hitobito wa kanshin shita.

Soshite saigo no shiren no hi ga yatte kita.

Sore wa, dochira no hanryo ga yori fusawashii ka o kuraberu shiren datta.

Purbararang wa utsukushiku rippa na kon’yakusha o tsurete arawareta.

Kanojo wa jibun no shōri o kakushin shite ita.

Ippō, Purbasari no tonari ni ita no wa, itsumo no kuroi Lutung datta.

Hitobito wa hisohiso to hanashi hajimeta.

Sono toki datta.

Totsuzen, mabayui hikari ga atari o tsutsumikonda.

Lutung Kasarung no karada ga hikari ni tsutsumare, yukkuri to sugata o kae hajimeta.

Soshite hikari ga kieru to, soko ni wa kedakaku utsukushii ōji ga tatte ita.

Guruminda Ōji datta.

Kyūdenjū no hitobito wa odoroki no amari kotoba o ushinatta.

Purbararang mo nani mo ienakatta.

Sono shunkan, kanojo wa yōyaku kidzuita.

Hontō ni taisetsu na no wa gaiken ya chii de wa naku, kokoro no utsukushisa na no da to iu koto o.

Yagate Purbasari wa meiyo o torimodoshi, ōkoku no seitō na kōkeisha to natta.

Soshite Guruminda Ōji to tomo ni kuni o osame, hitobito o shiawase e michiita to iu.

Sore irai, 『Lutung Kasarung』 no monogatari wa kataritsugare, shin no utsukushisa wa gaiken de wa naku, yasashisa to seijitsu na kokoro no naka ni aru koto o hitobito ni oshietsudzukete iru.

Oshimai

Versi Bahasa Inggris  

Lutung Kasarung

Long ago, in the beautiful land of Pasundan in West Java, there lived a wise and noble king.

The king ruled his kingdom peacefully and was deeply respected by his people. He had seven daughters, but among them, the youngest, Purbasari, was loved the most by everyone.

Purbasari was kind-hearted, gentle, and humble. Although she was a princess, she never boasted about her status. She treated everyone with kindness and respect, which made her beloved not only by the people of the palace but also by the common folk throughout the kingdom.

However, there was one person who was unhappy about this.

It was her older sister, Purbararang.

As the eldest daughter, Purbararang believed that she alone deserved to inherit the throne. As the king began to place more trust in Purbasari, jealousy slowly grew in her heart.

Eventually, Purbararang devised a cruel plan to drive her younger sister out of the palace.

With the help of a royal physician, she caused dark spots to appear all over Purbasari’s body.

The next day, when the people saw the strange marks on the princess’s skin, they were shocked. Many believed that it was a sign of a curse or a bad omen.

Purbararang took advantage of the situation.

“This girl may bring disaster to our kingdom,” she told the king.

The king was deeply troubled. After much hesitation, he finally decided to send Purbasari away into the forest.

Although heartbroken, Purbasari did not blame anyone. She quietly accepted her fate and left the palace alone.

Life in the deep forest was not easy.

Yet Purbasari remained patient and strong. She did her best to survive and continued to live with kindness in her heart.

One day, she encountered a black lutung, a type of monkey unlike any other she had ever seen.

The animal had gentle eyes and seemed to understand human feelings.

This mysterious creature was known as Lutung Kasarung.

From that day on, Lutung Kasarung stayed by Purbasari’s side.

He helped her find food, protected her from danger, and became her faithful companion. Little by little, a strong bond grew between them.

Purbasari never judged Lutung Kasarung by his appearance. Instead, she saw his kindness, loyalty, and sincerity.

What she did not know was that Lutung Kasarung was not an ordinary animal.

In reality, he was Prince Guruminda, a prince from heaven.

Because of a curse, he had been transformed into a lutung and was destined to remain in that form until he met someone capable of seeing the true worth hidden beneath appearances.

Meanwhile, back at the palace, Purbararang remained convinced of her own superiority.

However, stories about Purbasari’s life in the forest gradually spread throughout the kingdom. The people began to question whether the princess had truly deserved her exile.

Determined to prove herself, Purbararang proposed a series of challenges.

Purbasari was summoned back to the palace and asked to compete in various contests that tested skill, wisdom, and character.

One by one, Purbasari successfully completed every challenge.

With the help and encouragement of Lutung Kasarung, she demonstrated patience, intelligence, and integrity. The people were amazed by her abilities and noble character.

At last, the final challenge arrived.

The sisters were asked to present their future husbands.

Purbararang confidently appeared with her handsome and noble fiancé. Certain of her victory, she smiled proudly.

Beside Purbasari, however, stood only the black lutung.

The people began whispering among themselves.

Then, something extraordinary happened.

A brilliant light suddenly filled the palace.

Lutung Kasarung's body became surrounded by a dazzling glow. Slowly, his form began to change.

When the light faded, the black lutung had disappeared.

Standing in his place was a handsome and majestic prince.

It was Prince Guruminda.

The entire palace fell silent in astonishment.

Even Purbararang could not say a word.

At that moment, everyone realized that true worth is not determined by outward appearance, wealth, or status, but by the goodness and sincerity within one's heart.

In the end, Purbasari regained her honor and rightful place as the heir to the kingdom.

Together with Prince Guruminda, she ruled wisely and compassionately, bringing peace and prosperity to the people.

From that day forward, the story of Lutung Kasarung has been passed down from generation to generation.

It teaches that true beauty lies not in appearance, but in kindness, honesty, and the purity of one's heart.

The End.

 

Asal-Usul Cianjur Kisah Prabu Siliwangi Membuka Tanah Baru

Nama    :Suryana Lubis
NIM      :094241013

Pada masa kejayaan Kerajaan Pajajaran, hiduplah seorang raja besar yang sangat dihormati oleh rakyatnya, yaitu Prabu Siliwangi. Namanya dikenal hingga ke berbagai penjuru negeri sebagai pemimpin yang bijaksana, adil, serta memiliki kesaktian yang luar biasa.

Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Pajajaran berkembang pesat. Sawah-sawah terbentang hijau, perdagangan berjalan lancar, dan rakyat hidup dalam keadaan aman serta sejahtera. Namun, meskipun kerajaannya telah makmur, Prabu Siliwangi tidak pernah melupakan tugasnya untuk memperhatikan kehidupan rakyat hingga ke pelosok wilayah.

Suatu hari, sang raja memutuskan melakukan perjalanan ke daerah selatan kerajaan. Ia ingin melihat secara langsung keadaan wilayah-wilayah yang masih jarang dikunjungi dan mencari daerah baru yang dapat dikembangkan untuk kesejahteraan rakyat.

Perjalanan itu membawanya melewati pegunungan, lembah, dan hutan yang lebat. Setelah menempuh perjalanan yang panjang, Prabu Siliwangi tiba di sebuah kawasan yang membuatnya terkesima.

Di hadapannya terbentang tanah yang sangat subur. Sungai-sungai mengalir jernih membelah hamparan alam yang hijau. Udara terasa sejuk, sementara hutan-hutan yang rimbun menjadi rumah bagi berbagai jenis tumbuhan dan hewan.

Sang raja berdiri sejenak memandangi keindahan tempat itu.

“Wilayah ini memiliki masa depan yang cerah,” pikirnya. “Jika dikelola dengan baik, tempat ini akan menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang.”

Tanpa menunda waktu, Prabu Siliwangi memerintahkan para pengikutnya untuk membuka lahan di daerah tersebut.

Maka dimulailah pekerjaan besar itu.

Pepohonan yang lebat dibersihkan dengan hati-hati. Saluran air dibuat untuk mengairi lahan pertanian. Rumah-rumah sederhana mulai didirikan sebagai tempat tinggal para penduduk yang datang membuka wilayah baru.

Hari demi hari berlalu.

Sedikit demi sedikit, kawasan yang dahulu berupa hutan sunyi berubah menjadi sebuah permukiman yang ramai. Sawah mulai menghasilkan padi, kebun-kebun tumbuh subur, dan kehidupan masyarakat berkembang dengan baik.

Melihat kemajuan tersebut, Prabu Siliwangi kemudian mengangkat seorang pemimpin setempat yang dikenal bijaksana dan jujur untuk mengatur kehidupan masyarakat sehari-hari.

Sebelum kembali ke Pajajaran, sang raja berpesan kepada penduduk agar selalu menjaga nilai-nilai kebajikan.

“Bangunlah daerah ini dengan kejujuran, kerja keras, dan semangat kebersamaan. Selama kalian menjaga nilai-nilai itu, tempat ini akan terus berkembang dan membawa kesejahteraan bagi generasi yang akan datang.”

Nasihat itu dipegang teguh oleh masyarakat.

Mereka hidup rukun, saling membantu, dan bekerja bersama membangun daerahnya. Berkat kerja keras seluruh penduduk, wilayah tersebut semakin maju dan dikenal sebagai daerah yang makmur.

Seiring berjalannya waktu, daerah itu kemudian dikenal dengan nama Cianjur.

Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, nama tersebut berasal dari kata ci yang berarti air, dan anjur yang berarti anjuran atau ajakan. Nama itu mengandung harapan agar masyarakat selalu memanfaatkan sumber daya alam dengan bijaksana, terutama air yang menjadi sumber kehidupan dan kemakmuran.

Tahun demi tahun berlalu. Generasi berganti generasi. Namun masyarakat Cianjur tetap mengenang jasa Prabu Siliwangi yang telah membuka dan mengembangkan wilayah tersebut.

Hingga sekarang, nilai-nilai yang diwariskannya masih hidup dalam kehidupan masyarakat, seperti kesederhanaan, keramahan, rasa hormat kepada sesama, dan semangat gotong royong.

Karena itulah, kisah asal-usul Cianjur tidak hanya menjadi sebuah legenda, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kemajuan suatu daerah lahir dari perpaduan antara kepemimpinan yang bijaksana, kerja keras, dan kebersamaan seluruh masyarakat.

Tamat

Versi Bahasa Jepang

チアンジュールの起源

プラブ・シリワンギと新しい土地の物語

パジャジャラン王国が最も栄えていた時代、一人の偉大な王がいた。

その名はプラブ・シリワンギ。

彼は知恵にあふれ、公正な統治を行う王として人々から深く敬われていた。また、不思議な力を持つ王としても知られていた。

彼の治める王国では、人々は平和で豊かな暮らしを送っていた。広い田畑には作物が実り、市場には活気があふれ、国中が繁栄していた。

しかし、プラブ・シリワンギは王国が豊かになったからといって満足することはなかった。

彼は常に人々の暮らしを気にかけ、遠く離れた地域にも目を向けていたのである。

ある日のこと。

王は南の地方を視察する旅に出た。

まだ十分に開発されていない土地を見て回り、人々の暮らしを自ら確かめるためだった。

長い旅の途中、王は山を越え、谷を渡り、深い森を進んでいった。

そしてある場所にたどり着いたとき、その美しい風景に思わず足を止めた。

そこには豊かな森が広がり、澄んだ川が静かに流れていた。

土は肥沃で、農業にも適しているように見えた。

人の姿はほとんどなかったが、その土地には大きな可能性が秘められていた。

プラブ・シリワンギはしばらく景色を眺めながら考えた。

「この土地は、きっと多くの人々の暮らしを支える場所になるだろう。」

そう確信した王は、すぐに家臣たちへ開拓を命じた。

人々は力を合わせて森を切り開き、水路を造り、畑を耕した。

住むための家も少しずつ建てられていった。

日が過ぎるにつれ、かつて静かな森だった場所には人々が集まり始めた。

やがて田畑には作物が実り、村には笑い声が響くようになった。

その土地は少しずつ発展し、活気ある集落へと生まれ変わっていったのである。

その様子を見たプラブ・シリワンギは、一人の賢明で誠実な人物を選び、その地域の指導者に任命した。

そして王は人々にこう語った。

「この土地を発展させるためには、正直であること、努力を惜しまないこと、そして互いに助け合うことが何よりも大切である。」

人々は王の言葉を心に刻んだ。

彼らは協力し合いながら暮らし、土地を守り、より良い未来を築こうと努力した。

その結果、この地域はますます豊かになり、多くの人々が憧れる土地として知られるようになった。

やがて人々は、この地を「チアンジュール」と呼ぶようになった。

言い伝えによれば、「チ(Ci)」は水を意味し、「アンジュール(Anjur)」は導きや勧めを意味するとされている。

その名には、生命の源である水を大切にし、自然の恵みを賢く活用しながら豊かに生きてほしいという願いが込められていた。

長い年月が流れ、時代が変わっても、人々はこの土地を切り開いたプラブ・シリワンギの功績を忘れなかった。

そして現在でも、チアンジュールの人々は質素さや親しみやすさ、そして助け合いの精神を大切に受け継いでいる。

だからこそ、この物語は単なる昔話ではない。

地域の発展は賢明な指導者だけでなく、人々の努力と協力によって築かれることを教えてくれる大切な教えなのである。

おしまい

Atarashii Kotoba 

 Pajajaran Ōkoku (パジャジャラン王国) = Kerajaan Pajajaran

 Purabu Shiriwangi (プラブ・シリワンギ) = Prabu Siliwangi

 Hiyoku na tsuchi (肥沃な土) = tanah yang subur

 Kaihatsu (開拓) = membuka lahan / mengembangkan wilayah

 Shūraku (集落) = permukiman, komunitas

 Iitsutae (言い伝え) = legenda yang diwariskan turun-temurun

 Tasukeai no seishin (助け合いの精神) = semangat gotong royong

 Oshimai (おしまい) = tamat / akhir cerita

Chianjūru no Kigen

Purabu Shiriwangi to Atarashii Tochi no Monogatari

Pajajaran Ōkoku ga motto mo sakaete ita jidai, hitori no idai na ō ga ita.

Sono na wa Purabu Shiriwangi.

Kare wa chie ni afure, kōsei na tōchi o okonau ō to shite hitobito kara fukaku uyamawarete ita. Mata, fushigi na chikara o motsu ō to shite mo shirarete ita.

Kare no osameru ōkoku de wa, hitobito wa heiwa de yutaka na kurashi o okutte ita. Hiroi tahata ni wa sakumotsu ga minori, ichiba ni wa kakki ga afure, kunijū ga han’ei shite ita.

Shikashi, Purabu Shiriwangi wa ōkoku ga yutaka ni natta kara to itte manzoku suru koto wa nakatta.

Kare wa tsuneni hitobito no kurashi o ki ni kake, tōku hanareta chiiki ni mo me o mukete ita node aru.

Aru hi no koto.

Ō wa minami no chihō o shisatsu suru tabi ni deta.

Mada jūbun ni kaihatsu sarete inai tochi o mite mawari, hitobito no kurashi o mizukara tashikameru tame datta.

Nagai tabi no tochū, ō wa yama o koe, tani o watari, fukai mori o susunde itta.

Soshite aru basho ni tadoritsuita toki, sono utsukushii fūkei ni omowazu ashi o tometa.

Soko ni wa yutaka na mori ga hirogari, sunda kawa ga shizuka ni nagarete ita.

Tsuchi wa hiyoku de, nōgyō ni mo tekishite iru yō ni mieta.

Hito no sugata wa hotondo nakatta ga, sono tochi ni wa ōkina kanōsei ga himerarete ita.

Purabu Shiriwangi wa shibaraku keshiki o nagamenagara kangaeta.

“Kono tochi wa, kitto ōku no hitobito no kurashi o sasaeru basho ni naru darō.”

Sō kakushin shita ō wa, sugu ni kashin-tachi e kaihatsu o meijita.

Hitobito wa chikara o awasete mori o kirihiraki, suiro o tsukuri, hatake o tagayashita.

Sumu tame no ie mo sukoshizutsu taterarete itta.

Hi ga sugiru ni tsure, katsute shizuka na mori datta basho ni wa hitobito ga atsumari hajimeta.

Yagate tahata ni wa sakumotsu ga minori, mura ni wa waraigoe ga hibiku yō ni natta.

Sono tochi wa sukoshizutsu hatten shi, kakki aru shūraku e to umarekawatte itta node aru.

Sono yōsu o mita Purabu Shiriwangi wa, hitori no kenmei de seijitsu na jinbutsu o erabi, sono chiiki no shidōsha ni ninmei shita.

Soshite ō wa hitobito ni kō katatta.

“Kono tochi o hatten saseru tame ni wa, shōjiki de aru koto, doryoku o oshimanai koto, soshite tagai ni tasukeau koto ga nani yori mo taisetsu de aru.”

Hitobito wa ō no kotoba o kokoro ni kizanda.

Karera wa kyōryoku shiainagara kurashi, tochi o mamori, yori yoi mirai o kizukō to doryoku shita.

Sono kekka, kono chiiki wa masu masu yutaka ni nari, ōku no hitobito ga akogareru tochi to shite shirareru yō ni natta.

Yagate hitobito wa, kono chi o “Chianjūru” to yobu yō ni natta.

Iitsutae ni yoreba, “Ci” wa mizu o imi shi, “Anjur” wa michibiki ya susume o imi suru to sarete iru.

Sono na ni wa, seimei no minamoto de aru mizu o taisetsu ni shi, shizen no megumi o kashikoku katsuyō shinagara yutaka ni ikite hoshii to iu negai ga komerarete ita.

Nagai toshitsuki ga nagare, jidai ga kawatte mo, hitobito wa kono tochi o kirihiraita Purabu Shiriwangi no kōseki o wasurenakatta.

Soshite genzai demo, Chianjūru no hitobito wa shisso-sa ya shitashimiyasusa, soshite tasukeai no seishin o taisetsu ni uketsuide iru.

Dakara koso, kono monogatari wa tan’naru mukashibanashi de wa nai.

Chiiki no hatten wa kenmei na shidōsha dake de naku, hitobito no doryoku to kyōryoku ni yotte kizukareru koto o oshiete kureru taisetsu na oshie na no de aru.

Oshimai.

Versi Bahasa Inggris  

The Origin of Cianjur

The Story of Prabu Siliwangi and the New Land

Long ago, during the golden age of the Pajajaran Kingdom, there lived a great king named Prabu Siliwangi.

He was admired throughout the kingdom for his wisdom, fairness, and extraordinary spiritual power. Under his rule, Pajajaran flourished. The fields were fertile, the markets were lively, and the people lived in peace and prosperity.

Yet despite the kingdom's success, Prabu Siliwangi never stopped thinking about the welfare of his people. He believed that a true ruler should not only govern from the palace but also understand the lives of those living in distant regions.

One day, the king decided to travel to the southern part of his kingdom.

His purpose was to inspect the remote areas and search for lands that could be developed to improve the lives of future generations.

His journey took him across mountains, valleys, and dense forests. After many days of travel, he arrived at a place that immediately captured his attention.

Before him stretched a beautiful landscape.

Lush forests covered the hills, clear rivers flowed peacefully through the land, and the soil appeared rich and fertile. Although very few people lived there, the king could see great potential hidden within the region.

For a moment, Prabu Siliwangi stood silently, gazing at the scenery.

“This land has a bright future,” he thought. “If it is developed wisely, it will become a source of life and prosperity for many people.”

Convinced of its potential, he immediately ordered his followers to begin opening the land.

The people worked together to clear the forests, build irrigation channels, and prepare fields for farming. Simple houses were gradually constructed, and more settlers began arriving.

Day by day, the once-quiet wilderness slowly transformed into a thriving community.

The fields began producing abundant harvests. Children's laughter echoed through the village, and the sound of daily activity filled the air.

As the settlement continued to grow, Prabu Siliwangi appointed a wise and honest local leader to guide the people.

Before returning to Pajajaran, the king gathered the villagers and gave them an important message.

“To build a prosperous land,” he said, “you must always uphold honesty, work diligently, and help one another. As long as you keep these values in your hearts, this place will continue to flourish.”

The people listened carefully and carried the king's words with them.

They worked together, protected their land, and supported one another in building a better future.

As the years passed, the region became increasingly prosperous and gained a reputation as one of the most fertile and successful areas in the kingdom.

Eventually, the land became known as Cianjur.

According to local tradition, the name comes from two words: “Ci,” meaning water, and “Anjur,” meaning guidance or encouragement.

Together, the name symbolizes the importance of using nature's blessings wisely, especially water, the source of life and prosperity.

Generations came and went, but the people never forgot the contribution of Prabu Siliwangi, who had recognized the potential of the land and helped transform it into a thriving community.

Even today, the people of Cianjur continue to uphold the values that have been passed down through the generations: simplicity, friendliness, mutual respect, and the spirit of cooperation.

For this reason, the story of the origin of Cianjur is more than just a legend.

It serves as a reminder that the growth of a region is not achieved through wise leadership alone, but also through the hard work, unity, and dedication of its people.

And so, the story of Prabu Siliwangi and the founding of Cianjur continues to be told, inspiring future generations to build a better future together.

The End

 

Pengalaman Menyeramkan di Asrama Sekolah

Mar'atus Sholihah
NIM:  093241001

Saat duduk di kelas satu SMP, saya pernah tinggal di sebuah asrama sekolah yang cukup besar. Bangunan asrama itu terdiri dari dua lantai. Saya tinggal di lantai satu bersama beberapa teman, sedangkan lantai dua ditempati oleh siswa-siswa lainnya.

Pada awalnya, kehidupan di asrama berjalan seperti biasa. Namun, suatu ketika terjadi kerusakan listrik di lantai dua. Gangguan tersebut cukup parah sehingga seluruh aliran listrik di lantai itu tidak dapat digunakan selama hampir satu bulan. Akibatnya, semua penghuni lantai dua harus pindah sementara ke lantai satu.

Sejak saat itu, lantai dua menjadi kosong dan tidak berpenghuni. Tidak ada lampu yang menyala, tidak ada suara percakapan, dan tidak ada aktivitas apa pun. Lorong-lorongnya yang panjang tampak gelap dan sunyi. Bahkan pada siang hari, tempat itu terasa suram. Apalagi saat malam tiba, suasananya berubah menjadi sangat menyeramkan hingga hampir tidak ada siswa yang berani naik ke sana sendirian.

Suatu malam sekitar pukul sepuluh, ketika sebagian besar penghuni asrama mulai beristirahat, seorang kakak kelas menghampiri saya. Ia meminta saya dan seorang teman untuk menemaninya ke lantai dua. Rupanya, ada beberapa pakaian yang tertinggal di kamarnya dan belum sempat ia setrika. Karena tidak berani pergi sendiri, ia mengajak kami berdua.

Awalnya saya ragu. Namun karena tidak enak menolak, akhirnya kami bertiga memutuskan untuk pergi bersama.

Dengan hanya ditemani sebatang lilin kecil, kami mulai menaiki tangga menuju lantai dua.

Begitu sampai di atas, suasana sunyi langsung menyelimuti kami. Cahaya lilin yang redup membuat bayangan-bayangan di dinding tampak bergerak mengikuti langkah kami. Lorong panjang yang biasanya ramai kini terlihat kosong dan gelap. Setiap langkah kaki yang kami ambil terdengar begitu jelas, seolah bergema di seluruh lantai.

Kamar yang dituju berada di ujung lorong. Kami berjalan perlahan sambil saling berdekatan. Tidak ada yang berbicara. Hanya suara langkah kaki dan detak jantung kami yang terasa semakin keras.

Setelah beberapa menit, kami berhasil menemukan pakaian yang dicari. Merasa lega, kami segera bersiap untuk turun kembali ke lantai satu.

Namun saat itulah sesuatu yang aneh terjadi.

Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari arah belakang kami.

Buk!

Suara itu cukup keras dan jelas.

Kami spontan menoleh ke belakang, tetapi tidak ada apa pun di sana.

Belum sempat kami memahami apa yang terjadi, sebuah sapu yang berdiri di dekat dinding tiba-tiba roboh dengan suara keras.

Brak!

Sapu itu jatuh begitu saja seolah-olah ada seseorang yang mendorongnya.

Jantung kami langsung berdegup kencang. Tanpa berkata apa-apa, kami saling berpegangan dan mulai berjalan cepat menuju tangga.

Meski sangat ketakutan, tidak seorang pun berani berlari. Tubuh kami terasa kaku, seolah kaki tidak mau bergerak lebih cepat.

Namun di tengah perjalanan menuju tangga, terdengar suara lain.

Tap... tap... tap...

Suara langkah kaki.

Suara itu terdengar jelas dari belakang, seakan ada seseorang yang sedang berlari mengikuti kami.

Kami memberanikan diri menoleh.

Tidak ada siapa pun.

Lorong panjang itu tetap kosong.

Tetapi suara langkah kaki itu masih terdengar.

Saat itulah rasa panik benar-benar menguasai kami.

Begitu sampai di tangga yang sempit, kami berusaha turun secepat mungkin. Dalam keadaan normal, kami tentu akan turun satu per satu. Namun malam itu rasa takut membuat kami kehilangan kendali.

Tiba-tiba kami terpeleset dan jatuh hampir bersamaan.

Yang paling aneh adalah apa yang terjadi setelahnya.

Ketika kami berhasil bangkit dan sampai di lantai bawah, posisi kami berubah tanpa kami sadari.

Saya yang sebelumnya berada di tengah justru menjadi orang pertama yang tiba di bawah. Kakak kelas yang tadi berada paling belakang malah terjatuh di bagian tengah tangga. Sementara teman yang berada di depan justru tertinggal paling atas.

Tidak seorang pun mengerti bagaimana hal itu bisa terjadi.

Sesampainya di lantai satu, beberapa siswa lain langsung menghampiri kami. Mereka bertanya mengapa kami berlari terburu-buru dari atas.

Kami saling berpandangan.

Padahal, kami merasa tidak pernah berlari.

Kami hanya berjalan cepat karena ketakutan.

Dengan napas masih terengah-engah, saya berkata bahwa rasanya seperti ada sesuatu yang mengejar kami dari belakang, meskipun kami tidak melihat siapa atau apa pun.

Malam itu kami tidak berani lagi membicarakan kejadian tersebut.

Yang lebih aneh, saya tidak mengalami luka sedikit pun akibat terjatuh di tangga. Sebaliknya, kakak kelas saya mengalami beberapa luka dan memar.

Hingga sekarang, peristiwa itu masih membekas dalam ingatan saya. Setiap kali mengingat lorong gelap di lantai dua, cahaya lilin yang bergetar, dan suara langkah kaki yang seolah mengikuti kami dari belakang, bulu kuduk saya masih meremang.

Saya tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

Namun satu hal yang pasti, pengalaman tersebut menjadi salah satu pengalaman paling menyeramkan yang pernah saya alami selama tinggal di asrama sekolah.

Versi Bahasa Jepang

学校の寮で体験した恐ろしい出来事

私が中学一年生だった頃、学校の寮で生活していた。

その寮は二階建てで、私は一階の部屋を使っていた。二階には上級生たちが住んでおり、普段はにぎやかな場所だった。

ところがある日、二階の電気設備が故障してしまった。

修理にはかなり時間がかかるらしく、一か月近く電気が使えなくなった。そのため、二階に住んでいた生徒たちは全員一階へ移動することになった。

それ以来、二階は誰もいない空間になった。

灯りのない廊下、閉ざされた部屋、聞こえるのは風の音だけ。

昼間でさえどこか薄気味悪く感じられたが、夜になるとその不気味さは何倍にも増した。

誰も一人では二階へ行こうとしなかった。

そんなある夜のことだった。

時計は午後十時を少し回っていた。

寮生の多くが部屋で休んでいる頃、一人の先輩が私のところへやって来た。

「部屋に服を置きっぱなしにしてしまったんだ。一緒に取りに行ってくれないか。」

先輩は少し困ったような顔をしていた。

どうやら一人で二階へ行く勇気がなかったらしい。

私も正直気が進まなかったが、断ることもできず、もう一人の友人と一緒に三人で向かうことになった。

私たちは一本のろうそくを手に持ち、ゆっくりと階段を上った。

二階へ着いた瞬間、重たい静けさが私たちを包み込んだ。

ろうそくの弱々しい光が壁に映り、揺れる影を作り出している。

まるで誰かがそこに立っているようにも見えた。

廊下の奥にある部屋まで行かなければならなかったため、私たちは身を寄せ合いながら慎重に歩いた。

誰も口を開かなかった。

聞こえるのは自分たちの足音と心臓の鼓動だけだった。

数分後、先輩は無事に服を見つけた。

ようやく終わった。

早く一階へ戻ろう。

そう思った、その時だった。

突然――

ドンッ。

背後から何かが落ちたような音が響いた。

私たちは反射的に振り返った。

しかし、そこには何もなかった。

誰もいない。

何も動いていない。

ただ暗い廊下が続いているだけだった。

その直後だった。

近くの壁に立てかけてあったほうきが突然倒れた。

バタンッ!

まるで誰かが押したかのような勢いだった。

私たちの心臓は一気に跳ね上がった。

言葉も出ないまま、互いの腕をつかみ、急いで階段へ向かった。

走ろうとしても体が思うように動かない。

恐怖で足が硬くなっていたのだ。

その時だった。

コツ……コツ……コツ……

後ろから足音が聞こえてきた。

最初は気のせいだと思った。

しかし、その音は確かに近づいてきていた。

まるで誰かが私たちを追いかけているかのように。

恐る恐る振り返った。

だが、やはり誰もいなかった。

長い廊下には私たち以外の姿はない。

それでも足音だけは聞こえていた。

その瞬間、恐怖は頂点に達した。

ようやく階段へたどり着いた私たちは、一刻も早く下へ降りようとした。

本来なら一人ずつ降りるはずだった。

しかし、その夜の私たちにはそんな余裕はなかった。

次の瞬間、全員がバランスを崩した。

気が付くと、私たちはほぼ同時に階段で転倒していた。

そして、その後に起きたことは今でも説明できない。

私はもともと三人の真ん中にいた。

それなのに、気が付くと一番先に一階へ着いていたのだ。

後ろにいたはずの先輩は階段の途中で倒れており、前にいた友人は上の方に取り残されていた。

どうしてそんなことになったのか、誰にも分からなかった。

ようやく一階へたどり着くと、他の生徒たちが驚いた顔で私たちを見ていた。

「どうしたんだ? すごい勢いで走っていたぞ。」

そう言われた。

しかし、私たちには走った記憶がなかった。

ただ怖くて必死に歩いていただけだった。

私は思わずこう言った。

「何かに追いかけられていた気がする……。」

もちろん、何かの姿を見たわけではない。

だが、あの足音だけは今でも忘れられない。

さらに不思議なことに、階段で転んだにもかかわらず、私はまったくけがをしていなかった。

一方で先輩は腕や足をぶつけてしまい、いくつか傷を負っていた。

あれから何年も経った今でも、あの夜のことは鮮明に覚えている。

暗闇に包まれた二階の廊下。

揺れるろうそくの灯り。

そして、誰もいないはずなのに背後から聞こえてきた足音。

あの出来事を思い出すたびに、今でも背筋が少し寒くなるのである。

 

Atarashii Kotoba:

  • Ryō (寮) = asrama.
  • Bukimi (不気味) = menyeramkan, tidak wajar.
  • Kyōfu (恐怖) = ketakutan.
  • Tenkō / Tentō (転倒) = terjatuh.
  • Sesuji ga samuku naru (背筋が寒くなる) adalah ungkapan Jepang yang setara dengan "bulu kuduk merinding" atau "merasa merinding ketakutan".

Gakkō no Ryō de Taiken Shita Osoroshii Dekigoto

Watashi ga chūgaku ichinensei datta koro, gakkō no ryō de seikatsu shite ita.

Sono ryō wa nikaidate de, watashi wa ikkai no heya o tsukatte ita. Nikai ni wa jōkyūseitachi ga sunde ori, fudan wa nigiyaka na basho datta.

Tokoro ga aru hi, nikai no denki setsubi ga koshō shite shimatta.

Shūri ni wa kanari jikan ga kakaru rashiku, ikkagetsu chikaku denki ga tsukaenaku natta. Sono tame, nikai ni sunde ita seitotachi wa zen’in ikkai e idō suru koto ni natta.

Sore irai, nikai wa dare mo inai kūkan ni natta.

Akari no nai rōka, tozasareta heya, kikoeru no wa kaze no oto dake.

Hiruma de sae dokoka ubushimiwaruku kanjirareta ga, yoru ni naru to sono bukimi-sa wa nanbai ni mo mashita.

Dare mo hitori de wa nikai e ikō to shinakatta.

Sonna aru yoru no koto datta.

Tokei wa gogo jūji o sukoshi mawatte ita.

Ryōsei no ōku ga heya de yasunde iru koro, hitori no senpai ga watashi no tokoro e yatte kita.

“Heya ni fuku o okippanashi ni shite shimatta nda. Issho ni tori ni itte kurenai ka.”

Senpai wa sukoshi komatta yō na kao o shite ita.

Dōyara hitori de nikai e iku yūki ga nakatta rashii.

Watashi mo shōjiki ki ga susumanakatta ga, kotowaru koto mo dekizu, mō hitori no yūjin to issho ni sannin de mukau koto ni natta.

Watashitachi wa ippon no rōsoku o te ni mochi, yukkuri to kaidan o nobotta.

Nikai e tsuita shunkan, omotai shizukesa ga watashitachi o tsutsumikonda.

Rōsoku no yowayowashii hikari ga kabe ni utsuri, yureru kage o tsukuridashite iru.

Marude dareka ga soko ni tatte iru yō ni mo mieta.

Rōka no oku ni aru heya made ikanakereba naranakatta tame, watashitachi wa mi o yoseainagara shinchō ni aruita.

Dare mo kuchi o hirakanakatta.

Kikoeru no wa jibuntachi no ashioto to shinzō no kodō dake datta.

Sūfun go, senpai wa buji ni fuku o mitsuketa.

Yōyaku owatta.

Hayaku ikkai e modorō.

Sō omotta, sono toki datta.

Totsuzen—

Don!

Haigo kara nanika ga ochita yō na oto ga hibiita.

Watashitachi wa hanshateki ni furikaetta.

Shikashi, soko ni wa nani mo nakatta.

Dare mo inai.

Nani mo ugoite inai.

Tada kurai rōka ga tsuzuite iru dake datta.

Sono chokugo datta.

Chikaku no kabe ni tatekakete atta hōki ga totsuzen taoreta.

Batan!

Marude dareka ga oshita ka no yō na ikioi datta.

Watashitachi no shinzō wa ikki ni haneagatta.

Kotoba mo denai mama, tagai no ude o tsukami, isoide kaidan e mukatta.

Hashirō to shite mo karada ga omou yō ni ugokanai.

Kyōfu de ashi ga kataku natte ita no da.

Sono toki datta.

Kotsu... kotsu... kotsu...

Ushiro kara ashioto ga kikoete kita.

Saisho wa ki no sei da to omotta.

Shikashi, sono oto wa tashika ni chikazuite kite ita.

Marude dareka ga watashitachi o oikakete iru ka no yō ni.

Osoru osoru furikaetta.

Da ga, yahari dare mo inakatta.

Nagai rōka ni wa watashitachi igai no sugata wa nai.

Sore demo ashioto dake wa kikoete ita.

Sono shunkan, kyōfu wa chōten ni tasshita.

Yōyaku kaidan e tadoritsuita watashitachi wa, ikkoku mo hayaku shita e oriyō to shita.

Honrai nara hitori zutsu oriru hazu datta.

Shikashi, sono yoru no watashitachi ni wa sonna yoyū wa nakatta.

Tsugi no shunkan, zen’in ga baransu o kuzushita.

Ki ga tsuku to, watashitachi wa hobo dōji ni kaidan de tentō shite ita.

Soshite, sono ato ni okita koto wa ima demo setsumei dekinai.

Watashi wa motomoto sannin no mannaka ni ita.

Sore nanoni, ki ga tsuku to ichiban saki ni ikkai e tsuite ita no da.

Ushiro ni ita hazu no senpai wa kaidan no tochū de taorete ori, mae ni ita yūjin wa ue no hō ni torinokosarete ita.

Dōshite sonna koto ni natta no ka, dare ni mo wakaranakatta.

Yōyaku ikkai e tadoritsuku to, hoka no seito-tachi ga odoroita kao de watashitachi o mite ita.

“Dōshita nda? Sugoi ikioi de hashitte ita zo.”

Sō iwareta.

Shikashi, watashitachi ni wa hashitta kioku ga nakatta.

Tada kowakute hisshi ni aruite ita dake datta.

Watashi wa omowazu kō itta.

“Nanika ni oikakerarete ita ki ga suru...”

Mochiron, nanika no sugata o mita wake de wa nai.

Da ga, ano ashioto dake wa ima demo wasurerarenai.

Sara ni fushigi na koto ni, kaidan de koronda ni mo kakawarazu, watashi wa mattaku kega o shite inakatta.

Ippō de senpai wa ude ya ashi o butsukete shimai, ikutsuka kizu o otte ita.

Are kara nannen mo tatta ima demo, ano yoru no koto wa senmei ni oboete iru.

Kurayami ni tsutsumareta nikai no rōka.

Yureru rōsoku no akari.

Soshite, dare mo inai hazu na noni haigo kara kikoete kita ashioto.

Ano dekigoto o omoidasu tabi ni, ima demo sesuji ga sukoshi samuku naru no de aru.

Versi Bahasa Inggris

A Terrifying Experience in the School Dormitory

When I was in my first year of junior high school, I lived in a school dormitory.

The dormitory was a two-story building. I stayed on the first floor, while the second floor was occupied by older students. Normally, it was a lively place filled with conversations and activity.

However, one day, the electrical system on the second floor broke down.

The repairs were expected to take quite a long time, and the electricity on that floor could not be used for nearly a month. As a result, all the students living upstairs had to move temporarily to the first floor.

From that moment on, the second floor became completely deserted.

The hallways were dark, the rooms were empty, and the only sound that could be heard was the wind passing through the building.

Even during the daytime, the place felt strangely unsettling. At night, however, it became much more frightening. No one wanted to go upstairs alone.

One particular night, at around ten o’clock, while most of the students were already resting in their rooms, an older student came to see me.

“I accidentally left some clothes in my room upstairs,” he said. “Could you come with me to get them?”

He looked uneasy. Apparently, he did not have the courage to go up there by himself.

To be honest, I did not want to go either. Still, I could not bring myself to refuse. In the end, another friend joined us, and the three of us headed upstairs together.

Carrying only a single candle, we slowly climbed the staircase.

The moment we stepped onto the second floor, a heavy silence surrounded us.

The weak candlelight cast trembling shadows on the walls, making it seem as though someone was standing in the darkness, watching us.

The room we needed to reach was at the far end of the hallway, so we walked carefully, staying close to one another.

No one spoke.

The only sounds were our footsteps and the pounding of our own hearts.

After a few minutes, the older student found his clothes.

Finally, we could go back downstairs.

That was what I thought.

Then, suddenly—

Bang!

A loud noise echoed from somewhere behind us, as if something had fallen to the floor.

We immediately turned around.

There was nothing there.

No one.

Nothing moving.

Only the long, dark hallway stretching into the shadows.

Then, just moments later, something even stranger happened.

A broom leaning against the wall suddenly fell over.

Crash!

It sounded as if someone had pushed it.

Our hearts nearly jumped out of our chests.

Without saying a word, we grabbed one another and hurried toward the staircase.

We wanted to run, but our bodies refused to move properly.

Fear had made our legs stiff.

Then we heard it.

Tap... tap... tap...

Footsteps.

Coming from behind us.

At first, I thought it was my imagination.

But the sound continued.

It was getting closer.

It felt as though someone—or something—was running after us.

Slowly and nervously, we looked back.

There was no one there.

The hallway was completely empty.

Yet the footsteps continued.

At that moment, our fear reached its peak.

When we finally reached the staircase, we desperately tried to get downstairs as quickly as possible.

Normally, we would have gone down one at a time.

But that night, panic had taken over.

Suddenly, all three of us lost our balance.

Before I knew it, we had fallen almost simultaneously on the stairs.

What happened next remains impossible for me to explain.

Originally, I had been walking in the middle.

Yet somehow, when everything was over, I was the first person to reach the bottom of the staircase.

The older student, who had been behind me, was lying halfway down the stairs.

Meanwhile, my friend, who had been in front, was still near the top.

None of us could understand how our positions had changed.

When we finally reached the first floor, several students rushed over to us.

“What happened?” they asked. “You were running down the stairs like crazy!”

But we had no memory of running.

As far as we knew, we had only been walking quickly because we were terrified.

Without thinking, I blurted out,

“It felt like something was chasing us.”

Of course, we had never actually seen anything.

Still, I have never forgotten those footsteps.

What was even stranger was that I did not suffer a single injury from the fall.

The older student, however, had bruises and cuts on his arms and legs.

Many years have passed since that night, but the memory remains vivid in my mind.

The dark hallway on the second floor.

The flickering candlelight.

And the footsteps that came from behind us, even though no one was there.

Whenever I remember that night, a chill still runs down my spine.

To this day, I have no idea what really happened.

But it remains one of the most terrifying experiences of my life.


PUTRI BULAN DAN NELAYAN BINTANG

Nama : Jeti Fitiana
NIM   : 094241112

Awal Mula

Di sebuah desa nelayan yang dipeluk oleh lautan luas dan diselimuti kabut pagi yang lembut, hiduplah seorang pemuda bernama Arjuna Samudra. Ia dikenal sebagai nelayan paling gigih di desanya. Setiap fajar menyingsing, ketika bintang-bintang masih berkelip di langit, Arjuna telah mendayung perahunya jauh ke tengah laut untuk mencari ikan.

Ketekunan dan keberaniannya membuat banyak orang menghormatinya. Namun, di balik semangatnya yang tak pernah padam, Arjuna sering memandangi langit malam dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah-olah ada sesuatu di antara bintang-bintang yang selalu memanggil hatinya.

Pertemuan Ajaib

Pada suatu malam purnama, ketika laut begitu tenang hingga tampak seperti cermin raksasa yang memantulkan cahaya bulan, Arjuna melihat sebuah sinar keemasan berkilauan di permukaan air.

Dengan rasa penasaran, ia mengarahkan perahunya mendekati cahaya tersebut. Semakin dekat ia mendayung, semakin jelas sosok yang berdiri di hadapannya.

Di atas sebuah batu karang yang diselimuti lumut berwarna perak, duduklah seorang putri yang sangat cantik. Rambut hitamnya terurai panjang bagai aliran sutra yang berkilau diterpa cahaya bulan. Di atas kepalanya bertengger mahkota berbentuk bulan sabit yang memancarkan sinar lembut.

"Siapakah engkau?" bisik Arjuna dengan suara gemetar karena tak percaya pada apa yang dilihatnya.

Sang putri tersenyum. Senyumnya sehangat cahaya fajar yang perlahan membuka cakrawala.

"Aku Dewi Chandra, putri dari Kahyangan Bulan," jawabnya. Suaranya terdengar merdu, bagaikan gemerincing lonceng perak yang tertiup angin malam.

"Setiap malam purnama, aku turun ke bumi untuk mengumpulkan tangisan bintang-bintang yang jatuh ke lautan."

Janji di Antara Dua Dunia

Sejak malam itu, setiap kali bulan purnama tiba, Arjuna selalu kembali ke batu karang tempat mereka pertama kali bertemu.

Di bawah cahaya bulan, keduanya berbagi cerita tentang dunia masing-masing. Arjuna bercerita tentang kehidupan di desa nelayan, aroma ikan bakar yang memenuhi udara senja, serta tawa anak-anak yang bermain di tepi pantai. Sementara itu, Dewi Chandra menceritakan keindahan langit malam, tarian bintang-bintang, dan kesunyian yang terkadang menyelimuti Kahyangan Bulan.

Seiring berjalannya waktu, pertemuan-pertemuan itu menumbuhkan perasaan yang semakin dalam di hati mereka. Tanpa disadari, cinta telah tumbuh di antara dua jiwa yang berasal dari dunia yang berbeda.

Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama.

Di Kahyangan Bulan terdapat hukum kuno yang melarang putri bulan menjalin cinta dengan manusia fana. Ketika Raja Bulan mengetahui hubungan Dewi Chandra dan Arjuna, ia murka.

Dengan suara yang mengguncang langit, Raja Bulan memerintahkan Dewi Chandra untuk tidak pernah lagi menginjakkan kaki di bumi.

Pengorbanan yang Abadi

Pada malam purnama berikutnya, Dewi Chandra turun ke bumi untuk terakhir kalinya.

Di batu karang tempat kenangan mereka bersemi, ia menemui Arjuna dengan mata yang dipenuhi kesedihan. Air matanya jatuh satu per satu ke permukaan laut dan seketika berubah menjadi mutiara-mutiara putih yang berkilauan.

"Aku tidak bisa lagi bersamamu di bumi," ucap Dewi Chandra dengan suara bergetar.

"Tetapi percayalah, aku akan selalu menjagamu dari atas sana."

Arjuna menggenggam tangannya erat, seakan tidak ingin melepaskan pertemuan terakhir itu. Namun takdir telah menentukan jalan yang berbeda bagi mereka.

Sebelum kembali ke Kahyangan Bulan, Dewi Chandra meniupkan napas lembut ke telapak tangan Arjuna. Seketika, sebuah bintang kecil bercahaya muncul dan berpendar hangat di sana.

"Itu adalah bagian dari cahayaku," katanya. "Selama bintang itu bersinar, hatiku akan selalu bersamamu."

Sesaat kemudian, tubuh Dewi Chandra berubah menjadi cahaya keperakan yang melesat menuju bulan, meninggalkan Arjuna yang berdiri memandang langit dengan hati yang penuh kerinduan.

Legenda yang Tak Pernah Padam

Sejak malam itu, penduduk desa percaya bahwa bintang paling terang yang selalu bersinar di dekat bulan adalah Arjuna Samudra yang telah diangkat ke langit untuk menjaga lautan bersama kekasihnya dari kejauhan.

Mereka juga percaya bahwa setiap mutiara yang ditemukan para nelayan di dasar laut berasal dari air mata Dewi Chandra—air mata cinta yang tak pernah pudar oleh waktu.

Dan hingga kini, ketika bulan purnama menerangi lautan yang tenang, para nelayan masih menceritakan kisah Putri Bulan dan Nelayan Bintang kepada anak-anak mereka sebagai pengingat bahwa cinta sejati akan selalu menemukan jalannya, meskipun dipisahkan oleh langit dan bumi.

Tamat

Versi Bahasa Jepang

月の姫と星の漁師

はじまり

広い海に抱かれ、朝霧にやさしく包まれた小さな漁村に、アルジュナ・サムドラという若者が住んでいた。

彼は村で一番勤勉な漁師として知られていた。夜明け前、まだ星々が空に瞬いている頃になると、アルジュナは小舟を漕ぎ出し、誰よりも早く海へ向かった。

村の人々はそんな彼を誇りに思っていた。しかしアルジュナは、仕事を終えた夜になると、いつも海辺に座って星空を見上げていた。まるで遠い空のどこかに、自分を呼ぶ声があるかのように。

不思議な出会い

ある満月の夜のことだった。

海は驚くほど穏やかで、まるで巨大な鏡のように月の光を映していた。

そのときアルジュナは、海面に金色の光が揺らめいているのを見つけた。

不思議に思いながら小舟を近づけると、銀色の苔に覆われた岩の上に、一人の美しい姫が座っていた。

夜風に揺れる黒く長い髪は絹のようになめらかで、その頭には三日月の形をした冠が静かに輝いていた。

「あなたは……誰なのですか?」

アルジュナは夢を見ているのではないかと思いながら、そっと尋ねた。

姫はやさしく微笑んだ。

その微笑みは、夜明けの光がゆっくりと空を染めていくように温かかった。

「私はデウィ・チャンドラ。月の天界に住む姫です。」

鈴の音のように澄んだ声で、姫はそう答えた。

「満月の夜ごとに地上へ降りてきて、海へ落ちた星たちの涙を集めているのです。」

二つの世界を結ぶ約束

それからというもの、満月の夜になるたびに、アルジュナはあの岩場を訪れるようになった。

二人は月明かりの下でさまざまな話をした。

アルジュナは漁村の暮らしや、浜辺に漂う焼き魚の香り、子どもたちの楽しそうな笑い声について語った。

一方、デウィ・チャンドラは夜空を彩る星々の舞や、月の天界の美しさ、そして雲の上に広がる静かな孤独について話した。

やがて二人の心は少しずつ近づいていった。

気が付けば、互いを想う気持ちはかけがえのないものになっていた。

しかし、その幸せな時間は長くは続かなかった。

月の天界には古くからの厳しい掟があった。

それは、「月の姫は決して人間を愛してはならない」というものだった。

二人のことを知った月の王は激しく怒り、デウィ・チャンドラに二度と地上へ降りてはならないと命じた。

永遠の別れ

次の満月の夜。

デウィ・チャンドラは最後の別れを告げるために地上へやって来た。

二人が初めて出会った岩場で、彼女は悲しそうにアルジュナを見つめた。

その瞳からこぼれ落ちた涙は海へと落ち、たちまち美しい白い真珠へと姿を変えた。

「私はもう、あなたと一緒にいることができません。」

震える声で彼女は言った。

「でも、どんなに離れていても、私はいつも空の上からあなたを見守っています。」

アルジュナは何も言えず、ただ彼女の手を強く握った。

離れたくない。

その思いだけが胸いっぱいに広がっていた。

するとデウィ・チャンドラは、彼の手のひらにそっと息を吹きかけた。

するとそこに、小さな星が現れ、やさしく輝き始めた。

「これは私の光のかけらです。」

彼女は微笑みながら言った。

「この星が輝いている限り、私の心はいつもあなたとともにあります。」

その言葉を残すと、デウィ・チャンドラの身体は銀色の光へと変わり、ゆっくりと夜空へ昇っていった。

アルジュナはその姿が見えなくなるまで、月を見上げ続けていた。

消えることのない伝説

それ以来、村には一つの言い伝えが残った。

月のすぐそばでひときわ明るく輝く星は、アルジュナ・サムドラなのだという。

彼は今もなお、愛するデウィ・チャンドラとともに、遠い空から海を見守っているのだと。

そして、漁師たちが海の底で美しい真珠を見つけるたびに、人々はこう語る。

「あれは月の姫が流した愛の涙だ。」

時が流れても、その涙が乾くことはない。

だからこそ、二人の愛の物語もまた、永遠に語り継がれていくのである。

おしまい

Tsuki no Hime to Hoshi no Ryōshi

Hajimari

Hiroi umi ni idakare, asagiri ni yasashiku tsutsumareta chiisana gyoson ni, Arujuna Samudora to iu wakamono ga sunde ita.

Kare wa mura de ichiban kinben na ryōshi to shite shirarete ita. Yoake mae, mada hoshiboshi ga sora ni matataku koro ni naru to, Arujuna wa kobune o kogidashi, dare yori mo hayaku umi e mukatta.

Mura no hitobito wa sonna kare o hokori ni omotte ita. Shikashi Arujuna wa, shigoto o oeta yoru ni naru to, itsumo umibe ni suwatte hoshizora o miagete ita. Marude tōi sora no dokoka ni, jibun o yobu koe ga aru ka no yō ni.

Fushigi na Deai

Aru mangetsu no yoru no koto datta.

Umi wa odoroku hodo odayaka de, marude kyodai na kagami no yō ni tsuki no hikari o utsushite ita.

Sono toki Arujuna wa, kaimen ni kin’iro no hikari ga yurameite iru no o mitsuketa.

Fushigi ni omoinagara kobune o chikadzukeru to, gin’iro no koke ni ōwareta iwa no ue ni, hitori no utsukushii hime ga suwatte ita.

Yokaze ni yureru kuroku nagai kami wa kinu no yō ni nameraka de, sono atama ni wa mikazuki no katachi o shita kanmuri ga shizuka ni kagayaite ita.

“Anata wa…… dare nanodesu ka?”

Arujuna wa yume o mite iru no de wa nai ka to omoinagara, sotto tazuneta.

Hime wa yasashiku hohoenda.

Sono hohoemi wa, yoake no hikari ga yukkuri to sora o somete iku yō ni atatakakatta.

“Watashi wa Dewi Chandra. Tsuki no tenkai ni sumu hime desu.”

Suzu no ne no yō ni sunda koe de, hime wa sō kotaeta.

“Mangetsu no yoru goto ni chijō e orite kite, umi e ochita hoshitachi no namida o atsumeite iru no desu.”

Futatsu no Sekai o Musubu Yakusoku

Sore kara to iu mono, mangetsu no yoru ni naru tabi ni, Arujuna wa ano iwaba o otozureru yō ni natta.

Futari wa tsukiakari no shita de samazama na hanashi o shita.

Arujuna wa gyoson no kurashi ya, hamabe ni tadayou yakizakana no kaori, kodomotachi no tanoshisō na waraigoe ni tsuite katatta.

Ippō, Dewi Chandra wa yozora o irodoru hoshiboshi no mai ya, tsuki no tenkai no utsukushisa, soshite kumo no ue ni hirogaru shizuka na kodoku ni tsuite hanashita.

Yagate futari no kokoro wa sukoshizutsu chikazuite itta.

Ki ga tsukeba, tagai o omou kimochi wa kakegae no nai mono ni natte ita.

Shikashi, sono shiawase na jikan wa nagaku wa tsuzukanakatta.

Tsuki no tenkai ni wa furuku kara no kibishii okite ga atta.

Sore wa, “Tsuki no hime wa kesshite ningen o aishite wa naranai” to iu mono datta.

Futari no koto o shitta Tsuki no Ō wa hageshiku okori, Dewi Chandra ni nido to chijō e orite wa naranai to meijita.

Eien no Wakare

Tsugi no mangetsu no yoru.

Dewi Chandra wa saigo no wakare o tsugeru tame ni chijō e yatte kita.

Futari ga hajimete deatta iwaba de, kanojo wa kanashisō ni Arujuna o mitsumeta.

Sono hitomi kara koboreochita namida wa umi e to ochi, tachimachi utsukushii shiroi shinju e to sugata o kaeta.

“Watashi wa mō, anata to issho ni iru koto ga dekimasen.”

Furueru koe de kanojo wa itta.

“Demo, donna ni hanarete ite mo, watashi wa itsumo sora no ue kara anata o mimamotte imasu.”

Arujuna wa nani mo iezu, tada kanojo no te o tsuyoku nigitta.

Hanaretakunai.

Sono omoi dake ga mune ippai ni hirogatte ita.

Suru to Dewi Chandra wa, kare no tenohira ni sotto iki o fukikaketa.

Suru to soko ni, chiisana hoshi ga araware, yasashiku kagayakihajimeta.

“Kore wa watashi no hikari no kakera desu.”

Kanojo wa hohoeminagara itta.

“Kono hoshi ga kagayaite iru kagiri, watashi no kokoro wa itsumo anata to tomo ni arimasu.”

Sono kotoba o nokosu to, Dewi Chandra no karada wa gin’iro no hikari e to kawari, yukkuri to yozora e nobotte itta.

Arujuna wa sono sugata ga mienaku naru made, tsuki o miagetsudzukete ita.

Kieru Koto no Nai Densetsu

Sore irai, mura ni wa hitotsu no iitsutae ga nokotta.

Tsuki no sugu soba de hitokiwa akaruku kagayaku hoshi wa, Arujuna Samudora na no da to iu.

Kare wa ima mo nao, aisuru Dewi Chandra to tomo ni, tōi sora kara umi o mimamotte iru no da to.

Soshite, ryōshitachi ga umi no soko de utsukushii shinju o mitsukeru tabi ni, hitobito wa kō kataru.

“Are wa tsuki no hime ga nagashita ai no namida da.”

Toki ga nagarete mo, sono namida ga kawaku koto wa nai.

Dakara koso, futari no ai no monogatari mo mata, eien ni kataritsuga rete iku no de aru.

Oshimai.

 

Versi Bahasa Inggris  

The Moon Princess and the Star Fisherman

The Beginning

In a small fishing village embraced by the vast sea and gently wrapped in the morning mist, there lived a young man named Arjuna Samudra.

He was known throughout the village as the most hardworking fisherman. Before dawn, while the stars still twinkled in the sky, Arjuna would set out in his small boat and sail farther into the sea than anyone else.

The villagers admired his diligence and determination. Yet, every night after finishing his work, Arjuna would sit alone by the shore and gaze at the stars above. It was as though a distant voice from the heavens was quietly calling to his heart.

A Magical Encounter

One night, under the light of a full moon, the sea became so calm that it looked like a giant mirror reflecting the silver glow of the sky.

As Arjuna sailed across the water, he noticed a golden light shimmering upon the surface of the sea.

Curious, he guided his boat toward it.

The closer he came, the more clearly he could see a beautiful young woman sitting upon a rock covered with silver moss.

Her long black hair flowed like silk in the night breeze, and upon her head rested a delicate crescent-shaped crown that shone with a gentle light.

“Who are you?” Arjuna asked softly, wondering whether he was dreaming.

The young woman smiled.

Her smile was as warm as the first light of dawn spreading across the horizon.

“I am Dewi Chandra, princess of the Moon Kingdom,” she replied in a voice as clear and delicate as the ringing of silver bells.

“Every full moon, I descend to the earth to gather the tears of the stars that have fallen into the sea.”

A Promise Between Two Worlds

From that night on, Arjuna returned to the rocky shore whenever the full moon appeared.

Beneath the moonlight, they shared stories of their worlds.

Arjuna spoke of life in the fishing village, the scent of grilled fish drifting through the evening air, and the joyful laughter of children playing along the beach.

In return, Dewi Chandra told him about the beauty of the night sky, the dance of the stars, and the loneliness that sometimes filled the vast kingdom above the clouds.

As time passed, their hearts grew closer.

Without realizing it, they had fallen deeply in love.

But their happiness was not destined to last.

In the Moon Kingdom, there existed an ancient law: a Moon Princess was forbidden to love a mortal human.

When the Moon King discovered their secret, he was consumed by anger.

With a voice that echoed through the heavens, he commanded Dewi Chandra never to set foot upon the earth again.

The Eternal Farewell

On the next full moon, Dewi Chandra descended to the earth one last time.

At the rocky shore where they had first met, she looked at Arjuna with eyes filled with sorrow.

Tears fell from her eyes and dropped into the sea.

The moment they touched the water, they transformed into beautiful white pearls.

“I can no longer stay with you,” she whispered, her voice trembling.

“But no matter how far apart we are, I will always watch over you from the sky.”

Unable to find any words, Arjuna simply held her hand tightly.

He did not want to let her go.

Then Dewi Chandra gently breathed into the palm of his hand.

At once, a tiny star appeared there, glowing softly with a warm light.

“This is a fragment of my light,” she said with a tender smile.

“As long as this star continues to shine, my heart will always remain with you.”

With those final words, her body transformed into a stream of silver light and slowly rose toward the heavens.

Arjuna stood silently beneath the moon, watching until she disappeared among the stars.

The Legend That Never Fades

From that day forward, a legend lived on in the village.

The brightest star shining beside the moon was said to be Arjuna Samudra himself.

The villagers believed that he had become a guardian of the sea, watching over the ocean together with his beloved Dewi Chandra from the heavens above.

And whenever fishermen discovered a pearl resting on the ocean floor, they would smile and say,

“That is a tear shed by the Moon Princess for the one she loves.”

Even as the years passed, those tears never faded.

And so the tale of the Moon Princess and the Star Fisherman continued to be told from generation to generation—a timeless story of love that endured beyond the boundaries of earth and sky.

The End

Candi Borobudur dan Legenda Gunadharma

Nama       : Ulfi Khoirunisak NIM           : 094241132 Dahulu kala, di sebuah wilayah yang indah bernama Magelang di Pulau Jawa, hiduplah s...