Nama : Suci Rahma Ardiyati
NIM : 094241032
ロバンの森の開拓とバタン市の由来
Roban no Mori no Kaitaku to Batan-shi no Yurai
Dahulu kala, ketika Pulau Jawa masih dipenuhi hutan belantara yang lebat dan misterius, terdapat sebuah kawasan yang dikenal dengan nama Alas Roban. Hutan itu bukan sekadar hamparan pepohonan, tetapi dipercaya sebagai tempat bersemayamnya berbagai makhluk gaib yang berada di bawah kekuasaan seorang raja jin yang sakti bernama Dhandhung Waluyo, yang dalam beberapa versi cerita juga dikenal sebagai Raja Jin Uwentaya.
昔々、ジャワ島がまだ深い原生林に覆われていたころ、「ロバンの森」と呼ばれる場所があった。そこはただの森ではなく、ダンドゥン・ワルヨという強力な精霊の王が支配する、神秘的で恐ろしい場所だと伝えられていた。ダンドゥン・ワルヨは、別の伝承ではウウェンタヤという名でも知られていた。
Mukashi mukashi, Jawa-tō ga mada fukai genseirin ni oowarete ita koro, “Roban no mori” to yobareru basho ga atta. Soko wa tada no mori de wa naku, Dandun Waruyo to iu kyōryoku na seirei no ō ga shihai suru, shinpiteki de osoroshii basho da to tsutaerarete ita. Dandun Waruyo wa, betsu no denshō de wa Uwentaya to iu na demo shirarete ita.
Kisah itu bermula ketika Sultan Agung dari Kerajaan Mataram berkeinginan memperluas wilayah kekuasaannya ke arah barat. Untuk melaksanakan keinginan tersebut, ia mengutus seorang pemuda yang gagah berani bernama Jaka Bahu. Kelak, Jaka Bahu dikenal dengan gelar Ki Ageng Bahu Rekso.
Sultan Agung memerintahkan Jaka Bahu untuk membuka hutan dan mengembangkan wilayah di pesisir utara Jawa.
物語は、マタラム王国のスルタン・アグンが、領土を西へ広げようとしたことから始まる。そこでスルタン・アグンは、勇敢な若者であるジャカ・バフに、ジャワ島北岸の未開の土地を切り開くよう命じた。ジャカ・バフは、後に「キ・アゲン・バフ・レクソ」という称号を与えられる人物である。
Monogatari wa, Mataramu Ōkoku no Surutan Agun ga, ryōdo o nishi e hirogeyō to shita koto kara hajimaru. Soko de Surutan Agun wa, yūkan na wakamono de aru Jaka Bafu ni, Jawa-tō hokugan no mikai no tochi o kirihiraku yō meijita. Jaka Bafu wa, ato ni “Ki Agen Bafu Rekuso” to iu shōgō o ataerareru jinbutsu de aru.
Tugas tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah. Pada masa itu, Alas Roban dikenal sebagai tempat yang sangat angker dan berbahaya. Bahkan, masyarakat mengenalnya melalui semboyan, “Jalma mara jalma mati”, yang berarti “siapa pun yang datang ke tempat itu akan mati”.
Meski mengetahui bahaya tersebut, Jaka Bahu tetap menjalankan perintah Sultan Agung. Ia bersama para pengikutnya memasuki hutan dan mulai membuka wilayah tersebut.
しかし、その仕事は決して簡単ではなかった。当時のロバンの森は、とても恐ろしい場所として知られていた。人々は、「ジャルマ・マラ、ジャルマ・マティ」、つまり「そこへ来る者は死ぬ」と言って、この森を恐れていた。
それでもジャカ・バフは、スルタン・アグンの命令に従い、仲間たちとともに森へ入り、開拓を始めた。
Shikashi, sono shigoto wa kesshite kantan de wa nakatta. Tōji no Roban no mori wa, totemo osoroshii basho to shite shirarete ita. Hitobito wa, “Jaruma Mara, Jaruma Mati”, tsumari “soko e kuru mono wa shinu” to itte, kono mori o osorete ita.
Soredemo Jaka Bafu wa, Surutan Agun no meirei ni shitagai, nakamatachi to tomo ni mori e hairi, kaitaku o hajimeta.
Ketika Jaka Bahu dan para pengikutnya mulai menebang pohon-pohon besar, berbagai kejadian aneh mulai terjadi. Setiap pohon yang ditebang pada siang hari ternyata kembali berdiri tegak keesokan paginya, seolah-olah tidak pernah disentuh oleh kapak.
Keadaan itu membuat para pekerja ketakutan. Tidak hanya itu, satu demi satu para pekerja mulai jatuh sakit secara misterius sehingga pekerjaan membuka hutan semakin sulit dilakukan.
ジャカ・バフと仲間たちが大きな木を切り始めると、不思議なことが起こり始めた。昼間に切り倒したはずの木が、翌朝になると、まるで何事もなかったかのように元の場所に立っていた。
さらに、作業をしていた人々が次々と謎の病に倒れ始めた。そのため、森の開拓はますます難しくなっていった。
Jaka Bafu to nakamatachi ga ōkina ki o kiri hajimeru to, fushigi na koto ga okori hajimeta. Hiruma ni kiritaoshita hazu no ki ga, yokuchō ni naru to, marude nanigoto mo nakatta ka no yō ni moto no basho ni tatte ita.
Sarani, sagyō o shite ita hitobito ga tsugi-tsugi to nazo no yamai ni taore hajimeta. Sono tame, mori no kaitaku wa masumasu muzukashiku natte itta.
Jaka Bahu akhirnya menyadari bahwa yang mereka hadapi bukanlah hutan biasa. Ia kemudian masuk lebih jauh ke dalam hutan dan melakukan tapa brata untuk memohon petunjuk dan pertolongan Tuhan.
Dalam pertapaannya, Jaka Bahu kemudian didatangi oleh makhluk-makhluk gaib yang menjaga hutan tersebut. Karena merasa terusik oleh kehadiran manusia, mereka menentang Jaka Bahu. Pertempuran sengit pun tidak dapat dihindari.
ジャカ・バフは、彼らが相手にしているのは普通の森ではないと気づいた。そこで彼は森の奥深くへ入り、神の導きと力を求めて修行を始めた。
修行をしていると、森を守っている精霊たちがジャカ・バフの前に現れた。人間によって森を荒らされることを嫌った精霊たちは、ジャカ・バフに立ち向かった。こうして、激しい戦いが始まった。
Jaka Bafu wa, karera ga aite ni shite iru no wa futsū no mori de wa nai to kizuita. Soko de kare wa mori no oku fukaku e hairi, kami no michibiki to chikara o motomete shugyō o hajimeta.
Shugyō o shite iru to, mori o mamotte iru seireitachi ga Jaka Bafu no mae ni arawareta. Ningen ni yotte mori o arasareru koto o kiratta seireitachi wa, Jaka Bafu ni tachimukatta. Kōshite, hageshii tatakai ga hajimatta.
Jaka Bahu berjuang dengan tekad yang kuat. Dengan keberanian dan kesaktiannya, ia perlahan-lahan berhasil mengalahkan para makhluk gaib tersebut.
Namun, di tengah pertempuran, para jin menggunakan cara terakhir untuk menghentikan Jaka Bahu. Mereka menumbangkan sebuah pohon raksasa hingga melintang di aliran sungai.
Pohon tersebut begitu besar sehingga ratusan orang sekalipun tidak mampu memindahkannya. Batang pohon itu menyumbat aliran sungai dan menyebabkan air meluap hingga wilayah di sekitarnya dilanda banjir. Akibatnya, pekerjaan membuka hutan terpaksa berhenti.
ジャカ・バフは強い意志を持って戦い続け、勇気と不思議な力によって、精霊たちを少しずつ追い詰めていった。
しかし、戦いの途中で、精霊たちは最後の手段を使った。川の流れをせき止めるために、巨大な木を川の中へ倒したのだ。
その木はあまりにも大きく、何百人もの男たちが力を合わせても動かすことができなかった。木が川をふさいだため、水があふれ、周りの土地は洪水になった。その結果、森の開拓作業は完全に止まってしまった。
Jaka Bafu wa tsuyoi ishi o motte tatakai tsuzuke, yūki to fushigi na chikara ni yotte, seireitachi o sukoshi zutsu oitsumete itta.
Shikashi, tatakai no tochū de, seireitachi wa saigo no shudan o tsukatta. Kawa no nagare o sekitomeru tame ni, kyodai na ki o kawa no naka e taoshita no da.
Sono ki wa amari ni mo ōkiku, nanbyakunin mo no otokotachi ga chikara o awasete mo ugokasu koto ga dekinakatta. Ki ga kawa o fusaida tame, mizu ga afure, mawari no tochi wa kōzui ni natta. Sono kekka, mori no kaitaku sagyō wa kanzen ni tomatte shimatta.
Asal-Usul Kota Batang
バタン市の由来
Batan-shi no Yurai
Pohon raksasa yang melintang di sungai itu kemudian dikenal dalam cerita rakyat sebagai “watang”, yaitu batang atau kayu pohon yang tumbang. Dalam perkembangan cerita, sebutan tersebut dipercaya menjadi asal-usul nama “Batang”.
Jaka Bahu tidak menyerah. Dengan kekuatan yang diperolehnya melalui pertapaan, ia menghantam dan menghancurkan pohon raksasa tersebut. Setelah pohon itu berhasil dihancurkan, aliran sungai kembali lancar dan pekerjaan membuka hutan dapat dilanjutkan.
川をふさいだこの巨大な木は、後の伝説の中で、ジャワ語の「ワタン(Watang)」、つまり「木の幹」や「倒れた木」を表す言葉と結びつけて語られるようになった。そして、この「ワタン」が、現在の「バタン(Batang)」という地名の由来になったと伝えられている。
ジャカ・バフは、決してあきらめなかった。修行によって身につけた力を使い、巨大な木を打ち砕いた。木がなくなると、川の流れは再び元に戻り、森の開拓作業も続けられるようになった。
Kawa o fusaida kono kyodai na ki wa, ato no densetsu no naka de, Jawa-go no “Watan (Watang)”, tsumari “ki no miki” ya “taoreta ki” o arawasu kotoba to musubitsukete katarareru yō ni natta. Soshite, kono “Watan” ga, genzai no “Batan (Batang)” to iu chimei no yurai ni natta to tsutaerarete iru.
Jaka Bafu wa, kesshite akiramenakatta. Shugyō ni yotte mi ni tsuketa chikara o tsukai, kyodai na ki o uchikudaita. Ki ga nakunaru to, kawa no nagare wa futatabi moto ni modori, mori no kaitaku sagyō mo tsuzukerareru yō ni natta.
Melihat kekuatan Jaka Bahu yang luar biasa, Raja Jin akhirnya menyadari bahwa ia tidak dapat mengalahkannya. Ia pun menyerah dan mengizinkan manusia untuk membuka hutan tersebut.
Namun, Raja Jin memberikan satu syarat: manusia diperbolehkan membuka hutan, tetapi tidak boleh merusak atau menodai tempat-tempat yang dianggap keramat.
Dengan adanya kesepakatan tersebut, Jaka Bahu dan para pengikutnya dapat melanjutkan pekerjaan mereka.
ジャカ・バフの圧倒的な力を見た精霊の王は、ついに自分では彼に勝てないと悟った。そして降参し、人間が森を切り開くことを認めた。
ただし、一つの条件を出した。それは、人間が森を開拓しても、神聖な場所を荒らしてはいけないということだった。
この約束によって、ジャカ・バフと仲間たちは、安心して森の開拓を続けることができるようになった。
Jaka Bafu no attōteki na chikara o mita seirei no ō wa, tsui ni jibun de wa kare ni katenai to satotta. Soshite kōsan shi, ningen ga mori o kirihiraku koto o mitometa.
Tadashi, hitotsu no jōken o dashita. Sore wa, ningen ga mori o kaitaku shite mo, shinsei na basho o arashite wa ikenai to iu koto datta.
Kono yakusoku ni yotte, Jaka Bafu to nakamatachi wa, anshin shite mori no kaitaku o tsuzukeru koto ga dekiru yō ni natta.
Sebagai pengingat atas peristiwa tersebut, wilayah di sekitar sungai tempat pohon raksasa itu dahulu melintang kemudian disebut “Batang”. Nama tersebut diyakini berkaitan dengan kata “watang”, yaitu batang pohon yang menjadi bagian penting dalam kisah pembukaan Alas Roban.
Setelah berhasil mengatasi berbagai rintangan, Jaka Bahu melanjutkan tugasnya. Hutan yang dahulu dianggap angker perlahan berubah menjadi kawasan pemukiman. Tanah-tanahnya mulai dimanfaatkan sebagai sawah dan lahan pertanian, sehingga kehidupan masyarakat di wilayah tersebut menjadi semakin makmur.
この出来事を記念するように、巨大な木が川をふさいでいた場所の周辺は、「バタン」と呼ばれるようになった。この名前は、ロバンの森の開拓において重要な役割を果たした「ワタン」、つまり木の幹という言葉に由来すると伝えられている。
さまざまな困難を乗り越えたジャカ・バフは、その後も任務を続けた。かつて恐ろしい森だと思われていた場所は、少しずつ人々が暮らす土地へと変わっていった。そして、土地は田畑として利用され、地域は次第に豊かになっていった。
Kono dekigoto o kinen suru yō ni, kyodai na ki ga kawa o fusaide ita basho no shūhen wa, “Batan” to yobareru yō ni natta. Kono namae wa, Roban no mori no kaitaku ni oite jūyō na yakuwari o hatashita “Watan”, tsumari ki no miki to iu kotoba ni yurai suru to tsutaerarete iru.
Samazama na konnan o norikoeta Jaka Bafu wa, sono ato mo ninmu o tsuzuketa. Katsute osoroshii mori da to omowarete ita basho wa, sukoshi zutsu hitobito ga kurasu tochi e to kawatte itta. Soshite, tochi wa tahata to shite riyō sare, chiiki wa shidai ni yutaka ni natte itta.
Atas keberhasilannya membuka Alas Roban dan mengembangkan wilayah tersebut, Jaka Bahu memperoleh penghargaan dari Sultan Agung. Ia kemudian diangkat sebagai bupati pertama wilayah Batang dan diberi gelar “Ki Ageng Bahu Rekso”.
Sejak saat itu, nama Jaka Bahu atau Ki Ageng Bahu Rekso terus dikenang sebagai tokoh yang berjasa dalam kisah pembukaan Alas Roban dan asal-usul wilayah Batang.
Demikianlah cerita rakyat tentang Babat Alas Roban dan asal-usul Kota Batang yang diwariskan secara turun-temurun. Kisah ini tidak hanya menceritakan perjuangan seorang tokoh dalam membuka hutan, tetapi juga menggambarkan keberanian, ketekunan, dan hubungan manusia dengan alam serta kepercayaan masyarakat pada masa lampau.
ロバンの森を開拓し、その土地を発展させた功績をたたえ、スルタン・アグンはジャカ・バフを高く評価した。そして、ジャカ・バフをバタン地域の初代の長に任命し、「キ・アゲン・バフ・レクソ」という称号を与えた。
それ以来、ジャカ・バフ、またの名をキ・アゲン・バフ・レクソは、ロバンの森の開拓とバタンの地の発展に貢献した人物として、長く人々に語り継がれるようになった。
これが、ロバンの森の開拓とバタン市の由来について伝えられている昔話である。この物語は、一人の人物が森を切り開くために努力した姿だけでなく、勇気や忍耐、そして昔の人々が持っていた自然や神秘的な世界に対する考え方も伝えている。
Roban no mori o kaitaku shi, sono tochi o hatten saseta kōseki o tatae, Surutan Agun wa Jaka Bafu o takaku hyōka shita. Soshite, Jaka Bafu o Batan chiiki no shodai no osa ni ninmei shi, “Ki Agen Bafu Rekuso” to iu shōgō o ataeta.
Sore irai, Jaka Bafu, mata no na o Ki Agen Bafu Rekuso wa, Roban no mori no kaitaku to Batan no chi no hatten ni kōken shita jinbutsu to shite, nagaku hitobito ni kataritsugareru yō ni natta.
Kore ga, Roban no mori no kaitaku to Batan-shi no yurai ni tsuite tsutaerarete iru mukashibanashi de aru. Kono monogatari wa, hitori no jinbutsu ga mori o kirihiraku tame ni doryoku shita sugata dake de naku, yūki ya nintai, soshite mukashi no hitobito ga motte ita shizen ya shinpitekina sekai ni taisuru kangaekata mo tsutaete iru.
The Clearing of Alas Roban Forest and the Origin of Batang City
Long ago, when the island of Java was still covered by vast, dense, and mysterious forests, there was a region known as Alas Roban. Alas Roban was not merely a forest filled with trees; according to local folklore, it was also believed to be the dwelling place of various supernatural beings under the rule of a powerful spirit king named Dhandhung Waluyo, who is also known in some versions of the legend as King Jin Uwentaya.
The story began when Sultan Agung of the Mataram Kingdom wanted to expand his territory toward the west. To accomplish this mission, he sent a brave young man named Jaka Bahu, who would later become known by the title Ki Ageng Bahu Rekso. Sultan Agung ordered Jaka Bahu to clear the forest and develop the unexplored lands along the northern coast of Java.
However, the task was far from easy. At that time, Alas Roban was known as a dangerous and frightening place. People were so afraid of the forest that they described it with the saying, “Jalma mara jalma mati,” meaning, “Whoever comes here will die.” Despite knowing the dangers, Jaka Bahu obeyed Sultan Agung’s command. Together with his followers, he entered the forest and began clearing the land.
As Jaka Bahu and his followers began cutting down the giant trees, strange things started to happen. Every tree that was cut down during the day mysteriously stood upright again the following morning, as if it had never been touched by an axe. The workers became frightened by what they witnessed, and one by one, they began to fall mysteriously ill. As a result, clearing the forest became increasingly difficult.
Jaka Bahu eventually realized that they were not dealing with an ordinary forest. He went deep into the forest and began a period of spiritual meditation and ascetic practice, seeking guidance and strength from God. During his meditation, supernatural beings who guarded the forest appeared before him. They were angered by the presence of humans and opposed Jaka Bahu, and a fierce battle then broke out between Jaka Bahu and the supernatural beings.
Jaka Bahu continued fighting with great determination. Through his courage, spiritual strength, and supernatural abilities, he gradually overcame the supernatural beings. However, during the battle, they used their final strategy to stop him by bringing down a gigantic tree across the river and blocking the flow of water. The tree was so enormous that even hundreds of men could not move it. Because the tree blocked the river, the water overflowed and flooded the surrounding land, bringing the forest-clearing work to a complete halt.
The giant tree that blocked the river later became an important part of the local legend. In Javanese, the word “watang” refers to the trunk or stem of a tree, and according to the legend, this word eventually became associated with the name “Batang,” which is believed to be the origin of the name of the region. Jaka Bahu, however, refused to give up. Using the supernatural power he had gained through his spiritual practice, he struck and destroyed the enormous tree. Once the tree had been removed, the river began to flow freely again, allowing the forest-clearing work to continue.
Seeing Jaka Bahu’s extraordinary power, the spirit king finally realized that he could not defeat him. The spirit king surrendered and allowed the humans to continue clearing the forest. However, he imposed one condition: the people could clear and develop the forest, but they were not allowed to destroy or desecrate places considered sacred. With this agreement, Jaka Bahu and his followers were able to continue their work peacefully.
To commemorate the event, the area around the river where the giant tree had once blocked the water came to be known as Batang. The name was believed to be connected with the word “watang,” referring to the tree trunk that played an important role in the legendary clearing of Alas Roban. After overcoming numerous obstacles, Jaka Bahu continued carrying out his mission. The forest that had once been regarded as a terrifying and mysterious place gradually became a settlement. The land was transformed into rice fields and agricultural areas, and the community eventually began to prosper.
In recognition of his success in clearing Alas Roban and developing the region, Sultan Agung honored Jaka Bahu for his achievements. He was appointed as the first regent of the Batang region and was given the title Ki Ageng Bahu Rekso. From then on, Jaka Bahu, also known as Ki Ageng Bahu Rekso, was remembered as an important figure who contributed to the clearing of Alas Roban and the development of the Batang region. Thus, the story of “The Clearing of Alas Roban Forest and the Origin of Batang City” has been passed down from generation to generation. The legend does not merely tell the story of a man’s struggle to clear a vast forest; it also reflects the values of courage, perseverance, determination, and respect for nature, as well as the beliefs and worldview of people in the past. Through stories such as this, the history, cultural identity, and local wisdom of Batang continue to be remembered and preserved.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar