Rabu, 01 Juli 2026

Pengalaman Hidup Terburuk dalam Perjalanan Karierku

Nama : Ia Tamia

NIM : 094241079

Ada kalanya aku bertanya pada diri sendiri, mengapa jalan hidupku terasa begitu berat dibandingkan orang lain. Namun setiap kali mengingat semua yang telah kulewati, aku sadar bahwa setiap luka telah membentukku menjadi pribadi yang lebih kuat.

Namaku Ia Tamia. Aku adalah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan yang lahir dari keluarga sederhana. Ayahku meninggal dunia ketika aku masih duduk di bangku SMP. Sejak saat itu, hidup kami berubah. Ibuku harus berjuang seorang diri membesarkan anak-anaknya, sementara kondisi ekonomi keluarga semakin sulit. Di keluargaku, pendidikan bukanlah sesuatu yang mudah diraih. Bertahan hidup setiap hari saja sudah menjadi perjuangan.

Sebenarnya, setelah lulus sekolah aku memiliki satu mimpi besar: menjadi seorang dokter. Aku ingin melanjutkan kuliah di fakultas kedokteran. Namun mimpi itu perlahan harus kukubur dalam-dalam. Aku tahu biaya kuliah sangat mahal, dan aku tidak ingin menambah beban ibuku yang sudah bekerja keras. Akhirnya aku memilih bekerja daripada mengejar impian yang saat itu terasa mustahil.

Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan konveksi di Bandung. Saat itu gajiku hanya sekitar Rp1.800.000 per bulan, bahkan belum mencapai Upah Minimum Regional. Gaji itu hampir tidak pernah cukup. Setelah membayar uang kontrakan, kebutuhan hidup sehari-hari, dan mengirim sebagian penghasilan untuk ibu di kampung, tidak ada lagi yang tersisa.

Setiap akhir bulan, rekeningku kembali kosong.

Aku bahkan tidak pernah benar-benar memiliki tabungan. Kalaupun berhasil menyisihkan sedikit uang, keluargaku sering memintanya untuk dipinjam. Ketika aku menolak karena ingin menyimpan uang itu untuk masa depanku, aku justru dianggap sebagai anak yang tidak tahu balas budi. Mendengar kata-kata itu sangat menyakitkan. Rasanya seperti semua pengorbananku selama ini tidak pernah dianggap.

Saat itu aku benar-benar lelah.

Menjadi bagian dari sandwich generation bukanlah sesuatu yang mudah. Hampir setengah dari penghasilanku digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga di rumah. Di saat yang sama, aku juga dituntut untuk menjadi anak yang sukses dan mampu memenuhi berbagai harapan keluarga. Semakin lama, semua tuntutan itu berubah menjadi beban yang menghimpit pikiranku setiap hari.

Tubuhku mulai memberi tanda. Aku sering jatuh sakit dan berkali-kali harus berobat ke rumah sakit. Pada akhirnya aku memutuskan berhenti bekerja karena kondisi kesehatanku semakin memburuk.

Kupikir pulang ke kampung halaman akan membuatku pulih.

Ternyata aku salah.

Bukannya mendapatkan ketenangan, aku justru merasa semakin tertekan. Karena tidak bekerja dan tidak menghasilkan uang, aku sering dimarahi. Aku hanya diam di rumah untuk memulihkan kesehatan, tetapi apa pun yang kulakukan selalu dianggap salah. Saat itu aku benar-benar merasa sendirian. Tidak ada seorang pun yang benar-benar memahami apa yang sedang kurasakan.

Setelah kesehatanku berangsur membaik, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak boleh menyerah. Aku mulai menyusun kembali impian dan tujuan hidupku.

Saat itulah aku memutuskan untuk mencoba bekerja di Jepang.

Melalui rekomendasi seorang tetangga, aku mendaftar di sebuah lembaga pelatihan tenaga kerja. Biaya pendaftarannya sebesar delapan juta rupiah, dan seluruh uang itu kupinjam dari kakakku. Selama satu bulan pertama semuanya berjalan baik. Kami belajar bahasa Jepang setiap hari dan mulai membayangkan kehidupan baru di negeri impian.

Namun kemudian, pemilik lembaga menawarkan program kerja di bidang kaigo. Katanya prosesnya cepat, persyaratannya mudah, dan kami hanya perlu membayar tambahan delapan juta rupiah.

Karena minim informasi dan belum memahami prosedur kerja ke Jepang, aku mempercayai semua janji itu. Sekali lagi aku meminjam uang delapan juta rupiah dari kakakku.

Aku begitu yakin bahwa masa depanku sudah di depan mata.

Ternyata semua itu hanyalah kebohongan.

Program kerja itu palsu.

Aku dan teman-temanku menjadi korban penipuan.

Hari itu rasanya seluruh harapanku runtuh begitu saja. Aku keluar dari lembaga tersebut tanpa membawa apa pun selain utang enam belas juta rupiah.

Itulah titik terendah dalam hidupku.

Mimpi yang selama ini kuanggap akan mengubah nasibku justru berubah menjadi mimpi buruk. Aku merasa malu kepada keluarga, tetangga, dan teman-teman yang sudah mengetahui rencanaku bekerja di Jepang. Di sisi lain, aku terus memikirkan bagaimana caranya melunasi utang yang jumlahnya sangat besar bagiku saat itu.

Aku benar-benar kehilangan arah.

Langkahku terasa berat. Pikiranku kacau. Masa depanku terlihat gelap.

Tetapi di tengah semua keputusasaan itu, aku tidak berhenti berdoa. Setiap hari aku meminta kepada Tuhan agar diberi jalan keluar dan kesempatan untuk memperbaiki hidup.

Entah dari mana datangnya kekuatan itu, aku memutuskan untuk mencoba sekali lagi.

Aku kembali mencari lembaga pelatihan yang benar-benar resmi dan dapat dipercaya. Kali ini aku lebih berhati-hati, lebih banyak mencari informasi, dan tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Puji Tuhan, usahaku tidak sia-sia.

Aku akhirnya berhasil berangkat ke Jepang.

Sedikit demi sedikit kehidupanku mulai berubah. Aku mampu melunasi seluruh utang kepada kakakku, membantu memenuhi kebutuhan keluargaku di kampung, memiliki tabungan untuk pertama kalinya dalam hidupku, dan yang paling membahagiakan, aku akhirnya dapat melanjutkan pendidikan yang selama ini hanya menjadi impian.

Kini aku memahami satu hal.

Kadang-kadang hidup memang membawa kita jatuh sedalam-dalamnya, bukan untuk menghancurkan kita, melainkan agar kita belajar bangkit dengan cara yang lebih kuat. Semua kegagalan, air mata, dan rasa sakit yang pernah kualami ternyata hanyalah bagian dari perjalanan panjang menuju kehidupan yang selama ini kuimpikan.

Versi Bahasa Jepang 

私のキャリアの中で最も辛かった経験

時々、どうして自分の人生だけこんなにも苦しいのだろうと思うことがある。でも、これまで乗り越えてきたことを振り返るたびに、あの痛みや苦しみが今の自分を強くしてくれたのだと感じる。

私の名前はイア・タミア。職業高校を卒業した、ごく普通の家庭に生まれた子どもだった。父は私が中学生の時に亡くなり、それから母は一人で家族を支えてきた。家には十分なお金もなく、教育に恵まれた環境でもなかった。

本当は高校を卒業したら、医学部に進学したいという大きな夢があった。医者になりたかった。でも、学費のことを考えると、その夢はあまりにも遠かった。母にこれ以上負担をかけたくなくて、私は夢を胸の奥にしまい込み、働く道を選んだ。

バンドンの縫製工場に就職したが、給料は月180万ルピアほどで、最低賃金にも届かなかった。家賃、生活費、そして母への仕送りを払うと、毎月お金はほとんど残らなかった。

貯金なんてできなかった。

たまに少しだけお金を残せても、家族から「貸してほしい」と言われた。断ると、「恩知らずだ」と責められた。その言葉を聞くたびに、胸が苦しくなった。自分なりに必死で頑張っているのに、誰にも理解されていない気がした。

私はいわゆるサンドイッチ世代だった。給料の半分近くを実家の生活費に充て、自分の将来より家族を優先していた。同時に、「成功してほしい」「もっと稼いでほしい」という期待も背負っていた。

その重圧は少しずつ心を壊していった。

体調を崩し、何度も病院に通うようになり、ついには仕事を辞めた。故郷に帰れば楽になれると思った。でも現実は違った。家で休んでいるだけで叱られ、無職になった途端、何をしても間違っているように扱われた。

あの頃、本当に孤独だった。

もう一度、夢を追う

少しずつ体調が回復した頃、私はもう一度人生をやり直そうと決めた。そして、日本で働くという夢に挑戦することにした。

近所の人の紹介で職業訓練校に入り、入学費として800万ルピアを兄から借りた。最初の一か月は、日本語を勉強しながら希望を抱いていた。

しかしある日、校長が「介護の仕事ならすぐ日本へ行ける」と言ってきた。追加で800万ルピア払えば、難しい手続きもなく早く出国できるという話だった。

日本で働く仕組みを何も知らなかった私は、その言葉を信じてしまった。

もう一度、兄から800万ルピアを借りた。

でも、それは詐欺だった。

私たちは騙されていた。

結局、私は1600万ルピアの借金だけを抱えて訓練校を辞めた。

人生のどん底

あの時期は、人生で一番苦しかった。

「日本へ行けば人生が変わる」と信じていた夢が、一瞬で崩れ去った。家族や友人に合わせる顔がなく、日本へ行けなかったことが本当に恥ずかしかった。

しかも、1600万ルピアもの借金をどう返せばいいのか分からなかった。

足元はふらつき、頭の中はぐちゃぐちゃで、人生の目的も見失っていた。

その頃の私の気持ち

詐欺

夢が壊れた

1600万ルピアの借金

返済への不安

迷い

目的を見失う

再挑戦

もう一度立ち上がる

それでも、前へ

それでも私は祈ることをやめなかった。毎日、「どうか良い道を示してください」と神に願い続けた。

そして、もう一度だけ挑戦しようと決めた。

今度は信頼できる訓練機関を探し、慎重に情報を集めた。その結果、本当に日本へ行くことができた。

少しずつ人生は変わっていった。

兄への借金をすべて返し、家族を支え、初めて貯金ができた。そして何より、ずっと諦めていた勉強を再び始めることができた。

今なら分かる。

人生は時に、人をどん底まで突き落とす。でもそれは壊すためではなく、もっと強く立ち上がるためなのだと。あの日の涙も、失敗も、苦しみも、すべて今の私につながっている。

Watashi no Kyaria no Naka de Motto mo Tsurakatta Keiken

Tokidoki, dōshite jibun no jinsei dake konna ni mo kurushii no darō to omou koto ga aru. Demo, kore made norikoete kita koto o furikaeru tabi ni, ano itami ya kurushimi ga ima no jibun o tsuyoku shite kureta no da to kanjiru.

Watashi no namae wa Ia Tamia. Shokugyō kōkō o sotsugyō shita, goku futsū no katei ni umareta kodomo datta. Chichi wa watashi ga chūgakusei no toki ni nakunari, sore kara haha wa hitori de kazoku o sasaete kita. Ie ni wa jūbun na okane mo naku, kyōiku ni megumareta kankyō demo nakatta.

Hontō wa kōkō o sotsugyō shitara, igakubu ni shingaku shitai to iu ōkina yume ga atta. Isha ni naritakatta. Demo, gakuhī no koto o kangaeru to, sono yume wa amarini mo tōkatta. Haha ni kore ijō futan o kaketakunakute, watashi wa yume o mune no oku ni shimaikomi, hataraku michi o eranda.

Bandon no hōsei kōjō ni shūshoku shita ga, kyūryō wa tsuki hyaku hachijū man rupia hodo de, saitei chingin ni mo todokanakatta. Yachin, seikatsuhi, soshite haha e no shiokuri o harau to, maitsuki okane wa hotondo nokoranakatta.

Chokin nante dekinakatta.

Tama ni sukoshi dake okane o nokosete mo, kazoku kara "kashite hoshii" to iwareta. Kotowaru to, "onshirazu da" to semerareta. Sono kotoba o kiku tabi ni, mune ga kurushiku natta. Jibun nari ni hisshi de ganbatte iru noni, dare ni mo rikai sarete inai ki ga shita.

Watashi wa iwayuru sandoitchi sedai datta. Kyūryō no hanbun chikaku o jikka no seikatsuhi ni ate, jibun no shōrai yori kazoku o yūsen shite ita. Dōji ni, "seikō shite hoshii", "motto kaseide hoshii" to iu kitai mo seotte ita.

Sono jūatsu wa sukoshi zutsu kokoro o kowashite itta.

Taichō o kuzushi, nando mo byōin ni kayou yō ni nari, tsui ni wa shigoto o yameta. Kokyō ni kaereba raku ni nareru to omotta. Demo genjitsu wa chigatta. Ie de yasunde iru dake de shikarare, mushoku ni natta to tan, nani o shite mo machigatte iru yō ni atsukawareta.

Ano koro, hontō ni kodoku datta.

Mō Ichido, Yume o Ou

Sukoshi zutsu taichō ga kaifuku shita koro, watashi wa mō ichido jinsei o yarinaosō to kimeta. Soshite, Nihon de hataraku to iu yume ni chōsen suru koto ni shita.

Kinjo no hito no shōkai de shokugyō kunrenkō ni hairi, nyūgakuhi to shite happyaku man rupia o ani kara karita. Saisho no ikkagetsu wa, Nihongo o benkyō shinagara kibō o idaite ita.

Shikashi aru hi, kōchō ga "Kaigo no shigoto nara sugu Nihon e ikeru" to itte kita. Tsuika de happyaku man rupia haraeba, muzukashii tetsuzuki mo naku hayaku shukkoku dekiru to iu hanashi datta.

Nihon de hataraku shikumi o nani mo shiranakatta watashi wa, sono kotoba o shinjite shimatta.

Mō ichido, ani kara happyaku man rupia o karita.

Demo, sore wa sagi datta.

Watashitachi wa damasarete ita.

Kekkyoku, watashi wa senroppyaku man rupia no shakkin dake o kakaete kunrenkō o yameta.

Jinsei no Donzoko

Ano jiki wa, jinsei de ichiban kurushikatta.

"Nihon e ikeba jinsei ga kawaru" to shinjite ita yume ga, isshun de kuzuresatta. Kazoku ya yūjin ni awaseru kao ga naku, Nihon e ikenakatta koto ga hontō ni hazukashikatta.

Shikamo, senroppyaku man rupia mo no shakkin o dō kaeseba ii no ka wakaranakatta.

Ashimoto wa furatsuki, atama no naka wa guchagucha de, jinsei no mokuteki mo miushinatte ita.

Soredemo, Mae e

Soredemo watashi wa inoru koto o yamenakatta. Mainichi, "Dōka yoi michi o shimeshite kudasai" to kami ni negaitsuzuketa.

Soshite, mō ichido dake chōsen shiyō to kimeta.

Kondo wa shinrai dekiru kunren kikan o sagashi, shinchō ni jōhō o atsume ta. Sono kekka, hontō ni Nihon e iku koto ga dekita.

Sukoshi zutsu jinsei wa kawatte itta.

Ani e no shakkin o subete kaeshi, kazoku o sasae, hajimete chokin ga dekita. Soshite nani yori, zutto akiramete ita benkyō o futatabi hajimeru koto ga dekita.

Ima nara wakaru.

Jinsei wa toki ni, hito o donzoko made tsukiosu. Demo sore wa kowasu tame de wa naku, motto tsuyoku tachiagaru tame na no da to. Ano hi no namida mo, shippai mo, kurushimi mo, subete ima no watashi ni tsunagatte iru.

Versi Bahasa Inggris

The Hardest Experience in My Career Journey

Sometimes I wonder why life has been so much harder for me than it seems to be for others. But whenever I look back on everything I have been through, I realize that every hardship and every tear has shaped me into the person I am today.

My name is Ia Tamia. I graduated from a vocational high school and was born into a humble family. My father passed away when I was in junior high school, leaving my mother to raise our family on her own. We had very little financially, and pursuing higher education was a luxury that seemed far beyond our reach.

Ever since I was young, I dreamed of becoming a doctor. After graduating from high school, I wanted nothing more than to study medicine. Unfortunately, our financial situation made that dream impossible. I could not bear the thought of placing an even heavier burden on my mother, so I quietly buried my dream and chose to start working instead.

I found a job at a garment factory in Bandung. At that time, my monthly salary was only 1.8 million rupiah, which was even below the regional minimum wage. After paying my rent, covering my daily living expenses, and sending money home to support my mother, there was almost nothing left.

Saving money was simply impossible.

Even when I managed to save a small amount, my relatives would ask to borrow it. Whenever I refused because I wanted to protect the little I had, I was called ungrateful and accused of forgetting my family. Those words hurt deeply. I was already doing everything I could, yet it felt as though no one understood the struggles I faced every day.

I became part of what people call the sandwich generation. Nearly half of my salary went toward supporting my family back home, while I was expected to succeed and fulfill everyone's hopes. The pressure kept growing until it became more than I could bear.

Eventually, my body began to give up.

I became seriously ill and had to visit the hospital repeatedly. In the end, I resigned from my job because my health had deteriorated so much.

I thought returning to my hometown would give me the chance to recover.

Instead, it became another painful chapter of my life.

Because I was unemployed and no longer earning money, I was constantly criticized for staying at home. No matter what I did, it always seemed wrong in the eyes of my family. During that time, I felt completely alone.

Little by little, my health improved. As I recovered, I promised myself that I would rebuild my life. I started to think again about my dreams and the future I wanted to create.

That was when I decided to pursue my dream of working in Japan.

Through a neighbor's recommendation, I enrolled in a job training institution. The registration fee was eight million rupiah, which I borrowed from my older brother. During the first month, everything went smoothly. I studied Japanese every day and began to imagine a brighter future.

Then one day, the head of the training institution offered us a caregiving (kaigo) job in Japan. He promised that we could leave quickly without complicated procedures if we paid an additional eight million rupiah.

At that time, I knew almost nothing about the actual recruitment process for working in Japan. Like many of my classmates, I believed his promises. I borrowed another eight million rupiah from my brother, convinced that my dream was finally coming true.

But everything turned out to be a lie.

The job offer was a scam.

My friends and I had been deceived.

In the end, I left the training institution carrying nothing but a debt of sixteen million rupiah.

That was the darkest period of my life.

The dream that I believed would change my future had collapsed overnight. I felt ashamed to face my family, my neighbors, and my friends after failing to go to Japan. On top of that, I had no idea how I would repay such a large debt.

I felt lost.

My confidence was shaken, my thoughts were in chaos, and I no longer knew what direction my life should take.

Even so, I never stopped praying. Every day, I asked God to guide me toward a better future and to give me the strength to keep moving forward.

With renewed determination, I decided to try one more time.

This time, I carefully searched for a trustworthy training institution and learned as much as I could before making another decision.

Finally, my efforts paid off.

I successfully came to Japan.

Little by little, my life began to change. I repaid every rupiah I owed my brother, supported my family back home, built my savings for the first time in my life, and, most importantly, continued my education—the dream I had once believed was impossible.

Looking back now, I have learned an important lesson.

Sometimes life brings us to our lowest point, not to destroy us, but to teach us how to rise stronger than before. Every failure, every disappointment, and every tear became part of the journey that led me to where I am today.

Legenda Situ Bagendit

 Nama : Muhammad Junaedi Rodibillah

NIM  : 094241096

Pada zaman dahulu, di sebuah daerah yang terletak di sebelah utara Garut, Jawa Barat, hiduplah seorang janda kaya raya bernama Nyai Endit. Ia dikenal sebagai seorang tengkulak padi yang memiliki lumbung-lumbung penuh hasil panen. Pekerjaannya adalah membeli padi dari para petani dengan harga yang sangat murah, lalu menjualnya kembali dengan harga yang berlipat ganda ketika musim paceklik tiba.

Kekayaan yang dimiliki Nyai Endit tidak membuat hatinya menjadi mulia. Sebaliknya, ia semakin kikir, sombong, dan gemar memanfaatkan penderitaan orang lain. Para petani sering kali dipaksa menjual hasil panennya dengan harga yang rendah. Ketika musim kemarau datang dan persediaan makanan mereka habis, Nyai Endit justru menjual kembali beras kepada mereka dengan harga yang sangat mahal. Tak sedikit keluarga yang harus menahan lapar karena tidak mampu membeli beras miliknya.

Sementara penduduk desa hidup dalam kesusahan, Nyai Endit justru menghambur-hamburkan kekayaannya. Ia kerap mengadakan pesta-pesta mewah di rumahnya. Hidangan melimpah disajikan untuk para tamu, sementara nasi yang masih layak dimakan sering kali terbuang sia-sia. Semua itu dilakukannya demi memamerkan kekayaan dan kedudukannya kepada orang-orang.

Pada suatu hari, ketika musim kemarau semakin panjang dan banyak warga desa mulai kekurangan makanan, Nyai Endit kembali mengadakan pesta besar. Musik dan gelak tawa terdengar memenuhi halaman rumahnya. Di tengah kemeriahan itu, datanglah seorang pengemis tua yang berpakaian lusuh. Dengan suara lirih, ia memohon sedikit makanan untuk mengganjal perutnya yang telah lama kosong.

Namun, permintaan sederhana itu justru membuat Nyai Endit murka. Dengan wajah angkuh, ia memerintahkan para penjaganya untuk mengusir pengemis tua tersebut.

"Pergi dari sini! Jangan mengotori pestaku!" bentaknya tanpa sedikit pun rasa iba.

Pengemis tua itu hanya menatap Nyai Endit dengan tenang. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia pergi meninggalkan rumah megah itu.

Keesokan harinya, suasana desa menjadi ramai. Di tengah lapangan berdiri sebuah tongkat kayu yang tertancap kuat di dalam tanah. Banyak penduduk berkumpul dan bergantian mencoba mencabut tongkat itu, tetapi tidak seorang pun berhasil menggerakkannya.

Karena penasaran, Nyai Endit datang menghampiri kerumunan. Betapa terkejutnya ia ketika melihat pengemis tua yang diusirnya sehari sebelumnya berdiri tidak jauh dari tongkat tersebut. Dengan nada mengejek, Nyai Endit menuduh pengemis itu sebagai penyebab keanehan tersebut.

"Kalau memang tongkat itu milikmu, cabutlah sendiri!" katanya dengan penuh kesombongan.

Pengemis tua itu melangkah mendekati tongkat, lalu mencabutnya dengan mudah seolah tidak ada beban sama sekali.

Saat tongkat itu terangkat, tiba-tiba terdengar gemuruh dari dalam bumi. Dari lubang bekas tongkat tertancap, memancar air yang sangat deras. Air itu terus mengalir tanpa henti, semakin lama semakin besar hingga membanjiri seluruh desa.

Penduduk desa segera berlari menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi. Mereka saling membantu agar semua orang dapat selamat dari banjir yang datang begitu cepat.

Namun, Nyai Endit tidak memikirkan keselamatan dirinya. Ia justru berlari menuju rumahnya untuk mengumpulkan emas, perhiasan, dan seluruh harta bendanya. Dengan tergesa-gesa ia berusaha membawa semua kekayaannya, seolah-olah harta itu lebih berharga daripada nyawanya sendiri.

Air terus meninggi hingga akhirnya menenggelamkan rumah megah milik Nyai Endit. Bersama seluruh harta yang begitu dicintainya, ia pun tenggelam tanpa dapat menyelamatkan diri.

Banjir itu akhirnya membentuk sebuah danau yang sangat luas. Masyarakat setempat kemudian menamainya Situ Bagendit, yang berarti danau tempat tenggelamnya Nyai Endit. Hingga kini, legenda tersebut terus diceritakan turun-temurun sebagai pengingat bahwa keserakahan, kesombongan, dan sifat kikir hanya akan membawa petaka. Sebaliknya, hidup yang penuh kepedulian, kerendahan hati, dan kemurahan hati akan mendatangkan kebaikan bagi sesama.

Versi Bahasa Jepang

シトゥ・バゲンディットの伝説

昔々、西ジャワ州ガルットの北にある小さな村に、ニャイ・エンディットという裕福な未亡人が住んでいた。彼女は農民たちから米を安く買い取り、それを高値で売る仲買人だった。そのため、多くの財産を築き、村一番の金持ちになっていた。

しかし、ニャイ・エンディットは非常に欲深く、けちで、高慢な性格だった。農民たちが生活に困っていても容赦なく安値で米を買い取り、干ばつや凶作で食べ物が不足すると、その米を何倍もの値段で売りつけていた。そのため、村人たちは苦しい生活を強いられていた。

一方で、ニャイ・エンディットは自分の富を誇示することが大好きだった。たびたび豪華な宴会を開き、財宝や山のような食べ物を客に見せびらかしては、自分の豊かさを自慢していた。

ある年、長い日照りが続き、村中が深刻な食糧不足に陥った。それにもかかわらず、ニャイ・エンディットは大勢の客を招いて盛大な宴会を開いていた。

宴の最中、一人のみすぼらしい老人が屋敷を訪れ、空腹をしのぐために少しだけ食べ物を分けてほしいと頼んだ。

しかし、ニャイ・エンディットは老人を見下し、冷たく笑うと、召使いたちに命じて屋敷の外へ追い払わせた。

翌日、村の広場では大勢の村人たちが一本の古い杖を囲み、地面に深く突き刺さったその杖を抜こうとしていた。しかし、どれほど力を込めても、誰一人として杖を動かすことはできなかった。

そこへニャイ・エンディットが通りかかると、昨日追い払った老人が静かに立っているのが目に入った。

彼女は老人を指さし、「こんな妙なことをしたのはお前だろう」と怒鳴りつけ、「それほど自信があるなら、自分でその杖を抜いてみろ」と言い放った。

老人は何も言わずに杖へ近づき、軽く手を添えると、いとも簡単に杖を引き抜いた。

その瞬間、杖が刺さっていた穴から激しい勢いで水が噴き出した。

水はあっという間に川のような流れとなり、村全体をのみ込んでいった。村人たちは互いに助け合いながら、高台へ向かって必死に逃げた。

しかし、ニャイ・エンディットだけは逃げようとはしなかった。彼女は屋敷へ駆け戻り、黄金や宝石などの財産を持ち出そうと夢中になっていた。

だが、水は容赦なく屋敷をのみ込み、やがてニャイ・エンディットは大切な財産とともに家の中で溺れ、そのまま姿を消してしまった。

洪水が収まると、その村は広大な湖へと姿を変えていた。

人々はその湖を、欲深いニャイ・エンディットが沈んだ場所という意味を込めて、「シトゥ・バゲンディット」と呼ぶようになったという。

この伝説は、欲張りや傲慢な心はやがて自らを滅ぼし、思いやりと分かち合いの心こそが人々を幸せにするという教えとして、今も語り継がれている。

Shitu Bagenditto no Densetsu

Mukashi mukashi, Nishi Jawa-shū Garutto no kita ni aru chiisana mura ni, Nyai Enditto to iu yūfuku na mibōjin ga sunde ita. Kanojo wa nōmintachi kara kome o yasuku kaitori, sore o takane de uru nakagainin datta. Sono tame, ōku no zaisan o kizuki, mura ichiban no kanemochi ni natte ita.

Shikashi, Nyai Enditto wa hijō ni yokubukaku, kechi de, kōman na seikaku datta. Nōmintachi ga seikatsu ni komatte ite mo yōsha naku yasune de kome o kaitori, hibatsu ya kyōsaku de tabemono ga fusoku suru to, sono kome o nanbai mo no nedan de uritsukete ita. Sono tame, murabito-tachi wa kurushii seikatsu o shiirarete ita.

Ippō de, Nyai Enditto wa jibun no tomi o koji suru koto ga daisuki datta. Tabitabi gōka na enkai o hiraki, zaihō ya yama no yō na tabemono o kyaku ni misebirakashite wa, jibun no yutakasa o jiman shite ita.

Aru toshi, nagai hidori ga tsuzuki, murajū ga shinkoku na shokuryō busoku ni ochiitta. Sore ni mo kakawarazu, Nyai Enditto wa ōzei no kyaku o manite seidai na enkai o hiraite ita.

Utage no saichū, hitori no misuborashii rōjin ga yashiki o otozure, kūfuku o shinogu tame ni sukoshi dake tabemono o wakete hoshii to tanonda.

Shikashi, Nyai Enditto wa rōjin o mishitashi, tsumetaku warau to, meshitsukai-tachi ni meijite yashiki no soto e oiharawaseta.

Yokujitsu, mura no hiroba de wa ōzei no murabito-tachi ga ippon no furui tsue o kakomi, jimen ni fukaku tsukisasatta sono tsue o nukō to shite ita. Shikashi, dore hodo chikara o komete mo, dare hitori to shite tsue o ugokasu koto wa dekinakatta.

Soko e Nyai Enditto ga tōrikakaru to, kinō oiharatta rōjin ga shizuka ni tatte iru no ga me ni haitta.

Kanojo wa rōjin o yubisashi, "Konna myō na koto o shita no wa omae darō" to donaritsuke, "Sore hodo jishin ga aru nara, jibun de sono tsue o nuite miro" to iihanatta.

Rōjin wa nani mo iwazu ni tsue e chikazuki, karuku te o soeru to, itomo kantan ni tsue o hikinuita.

Sono shunkan, tsue ga sasatte ita ana kara hageshii ikioi de mizu ga fukidashita.

Mizu wa atto iu ma ni kawa no yō na nagare to nari, mura zentai o nomikonde itta. Murabito-tachi wa tagai ni tasukeainagara, takadai e mukatte hisshi ni nigeta.

Shikashi, Nyai Enditto dake wa nigeyō to wa shinakatta. Kanojo wa yashiki e kakemodori, kogane ya hōseki nado no zaisan o mochidasō to muchū ni natte ita.

Daga, mizu wa yōsha naku yashiki o nomikomi, yagate Nyai Enditto wa taisetsu na zaisan to tomo ni ie no naka de obore, sono mama sugata o keshite shimatta.

Kōzui ga osamaru to, sono mura wa kōdai na mizuumi e to sugata o kaete ita.

Hitobito wa sono mizuumi o, yokubukai Nyai Enditto ga shizunda basho to iu imi o komete, "Shitu Bagenditto" to yobu yō ni natta to iu.

Kono densetsu wa, yokubari ya gōman na kokoro wa yagate mizukara o horoboshi, omoiyari to wakachiai no kokoro koso ga hitobito o shiawase ni suru to iu oshie to shite, ima mo kataritsugarete iru.

Versi Bahasa Inggris

The Legend of Situ Bagendit

Long ago, in a small village north of Garut in West Java, there lived a wealthy widow named Nyai Endit. She was a rice trader who bought rice from farmers at very low prices and sold it again at much higher prices. Through this business, she accumulated enormous wealth and became the richest person in the village.

Despite her riches, Nyai Endit was greedy, stingy, and arrogant. She showed no compassion for the struggling farmers. Even when they faced hardship, she continued to buy their rice cheaply. During seasons of drought and poor harvests, when food became scarce, she sold the rice back to them at outrageously high prices. As a result, many villagers suffered from hunger and poverty.

Instead of helping those in need, Nyai Endit delighted in showing off her wealth. She frequently held lavish banquets at her grand house, displaying her treasures and serving abundant food to her guests. Her extravagant lifestyle stood in sharp contrast to the misery endured by the villagers.

One year, a long drought struck the village, causing a severe food shortage. Although the villagers struggled to survive, Nyai Endit once again hosted a magnificent feast.

In the middle of the celebration, an old beggar arrived at her house. With a humble voice, he asked for just a little food to satisfy his hunger.

Rather than showing kindness, Nyai Endit looked down on the old man. She laughed scornfully and ordered her servants to drive him away.

The following day, the villagers gathered around an old wooden staff firmly embedded in the ground at the village square. One after another, they tried to pull it out, but no one was strong enough to move it.

As Nyai Endit approached the crowd, she noticed the same old beggar standing quietly nearby.

Pointing at him angrily, she shouted, "You must be the one responsible for this strange thing! If you're so confident, then pull the staff out yourself!"

Without saying a word, the old man stepped forward. He gently grasped the staff and effortlessly pulled it from the ground.

The moment the staff was removed, a powerful stream of water burst out from the hole beneath it.

The water quickly became a raging flood that swept across the entire village. The villagers fled to higher ground, helping one another escape from the rising waters.

Nyai Endit, however, thought only of her possessions. Instead of saving herself, she rushed back into her mansion to gather her gold, jewelry, and countless treasures.

But the flood rose relentlessly, swallowing her house along with everything inside. Trapped by her own greed, Nyai Endit drowned together with the wealth she treasured so dearly.

When the flood finally subsided, the village had disappeared beneath a vast lake.

From that day on, the lake became known as Situ Bagendit, meaning the lake where the greedy Nyai Endit met her fate.

To this day, the legend of Situ Bagendit continues to be passed down from generation to generation. It reminds people that greed, arrogance, and selfishness ultimately lead to destruction, while kindness, generosity, and compassion bring harmony and lasting happiness.

Batas Sabar di Negeri Sakura

Nama : Lia Utari

NIM: 094241045

Catatan Harian Seorang Perantau di Jepang

Saat memutuskan merantau ke Jepang, aku membayangkan hidup yang indah. Negeri Sakura yang selama ini hanya kulihat di televisi akhirnya bisa kusaksikan dengan mata kepala sendiri. Jalan-jalan yang bersih, kereta yang selalu tepat waktu, bunga sakura yang mekar di musimnya, dan masyarakat yang terkenal disiplin membuatku semakin yakin bahwa keputusanku datang ke sini adalah pilihan yang tepat.

Perusahaan menempatkanku di sebuah apartemen dinas. Kamarnya tidak terlalu besar, tetapi cukup nyaman. Hanya saja, aku harus berbagi tempat tinggal dengan seorang rekan kerja yang juga berasal dari Indonesia. Saat pertama bertemu, aku merasa lega. Setidaknya ada teman senegara yang bisa diajak berbicara ketika rasa rindu kampung halaman datang.

Beberapa minggu pertama berjalan baik. Kami berangkat kerja bersama, memasak bergantian, dan sesekali mengobrol hingga larut malam. Aku benar-benar mengira kami akan menjadi teman selama bekerja di Jepang.

Sayangnya, semua itu tidak berlangsung lama.

Sedikit demi sedikit, sifat aslinya mulai terlihat. Awalnya hanya candaan kecil yang menurutku masih bisa dimaklumi. Aku berpikir mungkin itu caranya menghilangkan penat setelah bekerja seharian di pabrik. Namun, lama-kelamaan candaan itu berubah menjadi sesuatu yang membuatku tidak nyaman.

Yang paling sering terjadi adalah saat aku sedang mandi.

Entah bagaimana, setiap kali aku masuk ke kamar mandi, tiba-tiba lampunya mati. Padahal di apartemen ini sakelar lampu berada di luar. Bayangkan mandi saat udara mulai dingin, lalu mendadak seluruh ruangan menjadi gelap gulita.

"Woi... jangan dimatikan! Gelap!" teriakku dari dalam.

Yang kudengar hanya suara tawanya, lalu langkah kaki yang menjauh.

Awalnya aku mencoba tertawa. Aku berpikir, mungkin dia hanya bercanda. Namun, ketika kejadian yang sama terus berulang hampir setiap hari, aku mulai merasa lelah. Mandi yang seharusnya menjadi waktu untuk melepas penat justru berubah menjadi sesuatu yang membuatku cemas.

Masalahnya tidak berhenti di situ.

Barang-barangku mulai sering berpindah tempat. Sepatu kerjaku pernah tiba-tiba berada di balkon hingga basah terkena embun. Dompet kecil, charger, buku catatan, bahkan perlengkapan mandi sering tidak berada di tempat semula.

Ketika kutanya baik-baik, jawabannya selalu sama.

"Apa? Bukannya dari tadi memang di situ?"

Kadang dia malah tertawa sambil mengatakan mungkin aku yang lupa.

Lama-lama aku benar-benar bingung. Sempat terpikir jangan-jangan aku memang mulai pelupa karena kelelahan bekerja. Sampai akhirnya beberapa kali aku memergokinya sendiri memindahkan barang-barangku ketika dia mengira aku belum pulang.

Hari itu aku sadar, semua ini memang disengaja.

Aku berusaha tetap bersabar. Aku tidak ingin memperbesar masalah. Kami sama-sama perantau. Aku tidak ingin suasana apartemen menjadi semakin buruk.

Namun, kesabaran setiap orang pasti ada batasnya.

Suatu pagi, ketika hendak berangkat kerja shift pagi, langkahku langsung terhenti di depan pintu kamar.

Payung lipat kesayanganku yang baru beberapa hari kubeli di Lawson sudah tergeletak di lantai. Rangkanya patah. Kainnya robek. Di sampingnya, kotak plastik tempat menyimpan sandal rumah juga retak seperti baru saja diinjak dengan sengaja.

Aku hanya bisa berdiri memandangi semuanya.

Tidak ada pertengkaran di antara kami. Tidak ada masalah besar sebelumnya.

Aku benar-benar tidak mengerti mengapa seseorang bisa melakukan hal seperti itu kepada teman satu apartemennya sendiri.

Perjalanan menuju tempat kerja pagi itu terasa sangat panjang. Di dalam kereta, aku hanya menatap jendela sambil menahan emosi. Rasanya sesak sekali.

Aku sadar, kalau aku terus diam, keadaan tidak akan pernah berubah.

Keesokan harinya, aku memberanikan diri mendatangi kantor manajemen. Dengan perasaan campur aduk, aku meminta bertemu dengan penanggung jawab pekerja Indonesia.

Aku menceritakan semuanya dari awal. Tentang lampu kamar mandi yang selalu dimatikan, barang-barang yang dipindahkan tanpa izin, hingga payung dan kotak penyimpananku yang dirusak. Untungnya aku sempat memotret semua kerusakan itu sebagai bukti.

Beliau mendengarkan tanpa memotong pembicaraanku sedikit pun. Wajahnya terlihat semakin serius.

Aku baru tahu bahwa di Jepang, kenyamanan tempat tinggal pekerja dianggap sama pentingnya dengan keselamatan kerja. Apa yang kulaporkan ternyata termasuk pelanggaran yang cukup berat.

Sore harinya kami dipanggil bersama.

Awalnya dia masih tersenyum dan menganggap semuanya hanya bercanda.

Namun, ketika penanggung jawab memberikan teguran keras dalam bahasa Jepang dan Indonesia, senyum itu perlahan menghilang. Wajahnya berubah pucat.

Tidak lama kemudian keputusan pun keluar.

Perusahaan memutuskan untuk menghentikan kontraknya di unit tempat kami bekerja. Ia juga diwajibkan meninggalkan apartemen dalam waktu tiga hari.

Aku hanya terdiam mendengar keputusan itu.

Tiga hari kemudian, kulihat ia menyeret koper keluar dari apartemen. Tidak ada ucapan maaf. Tidak ada salam perpisahan. Ia pergi begitu saja.

Entah mengapa, aku tidak merasa senang atas hukuman yang diterimanya.

Yang kurasakan hanyalah lega.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku mandi tanpa rasa takut lampunya akan dimatikan. Barang-barangku tetap berada di tempatnya. Apartemen terasa sunyi, tetapi justru menghadirkan ketenangan yang sudah lama hilang.

Hari itu aku belajar satu hal.

Menjadi sabar memang penting. Namun, membiarkan diri terus disakiti bukanlah bentuk kesabaran. Ada saatnya kita harus berani berbicara, demi menjaga harga diri, ketenangan batin, dan kehidupan yang lebih baik.

Versi Bahasa Jepang

桜の国で限界を迎えた忍耐

― 日本でのある日の記録 ―

日本へ働きに行くことは、ずっと私の夢だった。テレビや本で見てきた桜の景色、きれいな街並み、時間に正確な電車、そして規律正しい人々。そんな日本で生活できることを心から楽しみにしていた。

会社が用意してくれた社員寮は決して広くはなかったが、生活するには十分だった。ただ、一つだけ予想していなかったことがあった。同じインドネシア人の同僚と部屋を共有することになったのだ。

最初の数週間は何の問題もなかった。一緒に仕事へ行き、休みの日には簡単な料理を作り、たまには夜遅くまで話をすることもあった。私は、この人とはきっと日本で助け合いながら生活していけると思っていた。

しかし、その考えは少しずつ変わっていった。

彼は私にいたずらをするようになった。

最初は「疲れているからふざけているだけだろう」と思って笑っていた。でも、そのいたずらは日に日にひどくなっていった。

一番つらかったのは、私がシャワーを浴びている時だった。

寮の浴室はスイッチが外にある。私がシャワーを浴びていることを知ると、彼は突然電気を消した。

「おい! 消すなよ! 真っ暗じゃないか!」

私は浴室の中から何度も叫んだ。

すると返ってくるのは、彼の笑い声だけだった。

最初は我慢した。

でも、その出来事が何度も何度も繰り返されるようになると、シャワーを浴びることさえ怖くなってしまった。暗闇の中で転んでしまうかもしれないという不安もあった。

それだけでは終わらなかった。

私の持ち物まで勝手に動かされるようになった。

仕事用の靴がベランダに置かれていたこともあれば、机の上に置いていた財布や充電器、本がいつの間にか別の場所へ移されていることもあった。

理由を聞いても、彼は平然とこう言った。

「自分で置いた場所を忘れたんじゃない?」

そして笑う。

その言葉を何度も聞いているうちに、「もしかして本当に私の勘違いなのだろうか」と、自分自身を疑うことさえあった。

しかし、ある日、彼が私の物を動かしているところを偶然見てしまった。

その瞬間、すべてがわかった。

これは冗談ではない。

わざと私を困らせ、嫌な思いをさせるためにやっていたのだ。

それでも私は我慢し続けた。

同じ国から来た仲間なのだから、大きな問題にはしたくなかった。

でも、人の我慢には限界がある。

ある朝、早番へ行こうとして部屋を出ると、玄関の前で足が止まった。

お気に入りだった折りたたみ傘が壊されていた。

数日前にローソンで買ったばかりの傘だった。

骨は折れ、布は破れていた。

その隣には、室内用スリッパを入れていたプラスチックケースまで割れていた。

しばらく私は何も言えず、その場に立ち尽くしていた。

私たちはけんかをしたわけでもない。

大きなトラブルがあったわけでもない。

それなのに、なぜここまでするのだろう。

その日の通勤電車の中で、私はずっと窓の外を見つめていた。

胸が苦しかった。

もう限界だった。

翌日、私は一人で悩み続けるのをやめた。

勇気を出して会社の管理担当者を訪ねた。

私は今まで起きたことをすべて話した。

シャワー中に電気を消されたこと。

私物を勝手に動かされたこと。

壊された傘と収納ケースのこと。

証拠として撮っておいた写真も見せた。

担当者は最後まで黙って話を聞いてくれた。

表情はだんだん厳しくなっていった。

日本では、仕事だけでなく寮で安心して生活できる環境もとても大切にされている。

だから会社は、この問題を決して軽く考えなかった。

その日の夕方、私たちは二人とも事務所へ呼ばれた。

彼は最初、「ただの冗談です」と笑っていた。

しかし、担当者から日本語とインドネシア語で厳しく注意されると、その笑顔は消え、顔色が変わった。

最終的に会社は、彼の行動を重大な問題と判断し、契約を終了することを決めた。

そして三日以内に寮を退去するよう命じられた。

数日後、大きなスーツケースを引きながら寮を出て行く彼の後ろ姿を見送った。

不思議なことに、悲しいという気持ちはなかった。

胸いっぱいに広がったのは、ただ「ほっとした」という安心感だった。

その夜、私は久しぶりに何も心配せずにシャワーを浴びた。

電気が突然消えることもない。

私の物が勝手に動かされることもない。

部屋は静かだった。

でも、その静けさが何より心地よかった。

この出来事を通して、私は一つのことを学んだ。

我慢することは大切だ。

しかし、自分が傷つき続けることまで我慢する必要はない。

本当に苦しい時は、一人で抱え込まず、信頼できる人に相談する勇気も同じくらい大切なのだ。

Sakura no Kuni de Genkai o Mukaeta Nintai

— Nihon de no Aru Hi no Kiroku —

Nihon e hataraki ni iku koto wa, zutto watashi no yume datta. Terebi ya hon de mite kita sakura no keshiki, kirei na machinami, jikan ni seikaku na densha, soshite kiritsu tadashii hitobito. Sonna Nihon de seikatsu dekiru koto o kokoro kara tanoshimi ni shite ita.

Kaisha ga yōi shite kureta shain ryō wa kesshite hiroku wa nakatta ga, seikatsu suru ni wa jūbun datta. Tada, hitotsu dake yosō shite inakatta koto ga atta. Onaji Indonesiajin no dōryō to heya o kyōyū suru koto ni natta no da.

Saisho no sūshūkan wa nan no mondai mo nakatta. Issho ni shigoto e iki, yasumi no hi ni wa kantan na ryōri o tsukuri, tama ni wa yoru osoku made hanashi o suru koto mo atta. Watashi wa, kono hito to wa kitto Nihon de tasukeainagara seikatsu shite ikeru to omotte ita.

Shikashi, sono kangae wa sukoshi zutsu kawatte itta.

Kare wa watashi ni itazura o suru yō ni natta.

Saisho wa "tsukarete iru kara fuzakete iru dake darō" to omotte waratte ita. Demo, sono itazura wa hini hini hido ku natte itta.

Ichiban tsurakatta no wa, watashi ga shawā o abite iru toki datta.

Ryō no yokushitsu wa suicchi ga soto ni aru. Watashi ga shawā o abite iru koto o shiru to, kare wa totsuzen denki o keshita.

"Oi! Kesu na yo! Makkura janai ka!"

Watashi wa yokushitsu no naka kara nando mo sakenda.

Suru to kaette kuru no wa, kare no waraigoe dake datta.

Saisho wa gaman shita.

Demo, sono dekigoto ga nando mo nando mo kurikaesareru yō ni naru to, shawā o abiru koto sae kowaku natte shimatta. Kurayami no naka de koronde shimau kamo shirenai to iu fuan mo atta.

Sore dake de wa owaranakatta.

Watashi no mochimono made katte ni ugokasareru yō ni natta.

Shigoto-yō no kutsu ga beranda ni okarete ita koto mo areba, tsukue no ue ni oite ita saifu ya jūdenki, hon ga itsu no ma ni ka betsu no basho e utsusarete iru koto mo atta.

Riyū o kiite mo, kare wa heizen to kō itta.

"Jibun de oita basho o wasureta n ja nai?"

Soshite warau.

Sono kotoba o nando mo kiite iru uchi ni, "Moshikashite hontō ni watashi no kanchigai na no darō ka" to, jibun jishin o utagau koto sae atta.

Shikashi, aru hi, kare ga watashi no mono o ugokashite iru tokoro o gūzen mite shimatta.

Sono shunkan, subete ga wakatta.

Kore wa jōdan de wa nai.

Wazato watashi o komarase, iya na omoi o saseru tame ni yatte ita no da.

Sore demo watashi wa gaman shitsudzuketa.

Onaji kuni kara kita nakama na no dakara, ōkina mondai ni wa shitaku nakatta.

Demo, hito no gaman ni wa genkai ga aru.

Aru asa, hayaban e ikō to shite heya o deru to, genkan no mae de ashi ga tomatta.

Kinīri datta oritatami kasa ga kowasarete ita.

Sūjitsu mae ni Rōson de katta bakari no kasa datta.

Hone wa ore, nuno wa yaburete ita.

Sono tonari ni wa, shinai-yō surippa o irete ita purasuchikku kēsu made warete ita.

Shibaraku watashi wa nani mo iezu, sono ba ni tachitsukushite ita.

Watashitachi wa kenka o shita wake demo nai.

Ōkina toraburu ga atta wake demo nai.

Sore na noni, naze koko made suru no darō.

Sono hi no tsūkin densha no naka de, watashi wa zutto mado no soto o mitsumete ita.

Mune ga kurushikatta.

Mō genkai datta.

Yokujitsu, watashi wa hitori de nayamitsudzukeru no o yameta.

Yūki o dashite kaisha no kanri tantōsha o tazuneta.

Watashi wa ima made okita koto o subete hanashita.

Shawāchū ni denki o kesareta koto.

Shibutsu o katte ni ugokasareta koto.

Kowasareta kasa to shūnō kēsu no koto.

Shōko to shite totte oita shashin mo miseta.

Tantōsha wa saigo made damatte hanashi o kiite kureta.

Hyōjō wa dandan kibishiku natte itta.

Nihon de wa, shigoto dake de naku ryō de anshin shite seikatsu dekiru kankyō mo totemo taisetsu ni sarete iru.

Dakara kaisha wa, kono mondai o kesshite karuku kangaenakatta.

Sono hi no yūgata, watashitachi wa futari tomo jimusho e yobareta.

Kare wa saisho, "Tada no jōdan desu." to waratte ita.

Shikashi, tantōsha kara Nihongo to Indonesiago de kibishiku chūi sareru to, sono egao wa kie, kaoiro ga kawatta.

Saishūteki ni kaisha wa, kare no kōdō o jūdai na mondai to handan shi, keiyaku o shūryō suru koto o kimeta.

Soshite mikka inai ni ryō o taikyo suru yō meijirareta.

Sūjitsu go, ōkina sūtsukēsu o hikinagara ryō o dete iku kare no ushirosugata o miokutta.

Fushigi na koto ni, kanashii to iu kimochi wa nakatta.

Mune ippai ni hirogatta no wa, tada "hotto shita" to iu anshinkan datta.

Sono yoru, watashi wa hisashiburi ni nani mo shinpai sezu ni shawā o abita.

Denki ga totsuzen kieru koto mo nai.

Watashi no mono ga katte ni ugokasareru koto mo nai.

Heya wa shizuka datta.

Demo, sono shizukesa ga nani yori kokochi yokatta.

Kono dekigoto o tōshite, watashi wa hitotsu no koto o mananda.

Gaman suru koto wa taisetsu da.

Shikashi, jibun ga kizutsukitsudzukeru koto made gaman suru hitsuyō wa nai.

Hontō ni kurushii toki wa, hitori de kakaekomazu, shinrai dekiru hito ni sōdan suru yūki mo onaji kurai taisetsu na no da.

Versi Bahasa Inggris 

The Limit of My Patience in the Land of Cherry Blossoms

— A Page from My Diary —

Working in Japan had always been one of my biggest dreams. For years, I had imagined the country with its beautiful cherry blossoms, spotless streets, punctual trains, and people who valued discipline above all else. When I finally arrived, I felt as if I had stepped into the life I had always hoped for.

The company provided a dormitory for its technical intern trainees, and I was assigned to share a room with another Indonesian coworker. At first, I was relieved. Living with someone from the same country made me feel a little less homesick.

During the first few weeks, everything went well. We went to work together, cooked simple meals on our days off, and occasionally stayed up late chatting. I truly believed we would support each other throughout our time in Japan.

Unfortunately, that feeling didn't last.

Little by little, his true personality began to show.

At first, he liked playing little pranks on me. I laughed them off, thinking he was simply trying to relieve the stress of factory work. But as time passed, those jokes gradually turned into deliberate acts of harassment.

The worst moments happened whenever I was taking a shower.

The bathroom light switch was located outside the bathroom. Every time he knew I was inside, he would suddenly turn off the lights.

"Hey! Don't do that! It's completely dark in here!" I shouted.

The only response I ever heard was his laughter as he walked away.

At first, I tried to ignore it.

But when it happened over and over again, I began to dread taking a shower. I wasn't just annoyed—I was genuinely afraid I might slip and injure myself in the darkness.

Unfortunately, that wasn't the end of it.

He also started moving my personal belongings without my permission.

Sometimes I found my work shoes left outside on the balcony. Other times, my wallet, phone charger, notebooks, or other small belongings had mysteriously disappeared from my desk and reappeared somewhere else.

Whenever I asked him about it, he calmly replied,

"Maybe you just forgot where you put them."

Then he would laugh.

Hearing that over and over again made me question my own memory. I even began wondering if I was becoming forgetful because of exhaustion.

Then one day, I caught him moving my belongings with my own eyes.

At that moment, everything became clear.

It wasn't a joke.

He was doing it intentionally just to make me uncomfortable.

Even so, I kept trying to be patient.

We were both Indonesians living far from home, and I didn't want to create conflict among fellow overseas workers.

But everyone's patience has a limit.

One morning, as I was leaving for an early shift, I stopped in front of my room.

My favorite folding umbrella lay on the floor.

It had only been a few days since I bought it at Lawson.

Its frame was bent, and the fabric had been torn apart.

Beside it, the plastic storage box where I kept my indoor slippers was cracked as though someone had deliberately stepped on it.

I stood there speechless.

We had never had a serious argument.

There had never been any major conflict between us.

So why would someone do something like this?

That morning, as the train carried me to work, I spent the entire journey staring silently out the window.

My chest felt heavy.

I had finally reached my limit.

The next day, I decided to stop suffering in silence.

Gathering all my courage, I went to the company's management office and asked to speak with the supervisor responsible for the Indonesian trainees.

I told him everything.

How the bathroom lights were repeatedly switched off while I was showering.

How my belongings had been moved without permission.

How my umbrella and storage box had been deliberately damaged.

I also showed him the photographs I had taken as evidence.

He listened carefully without interrupting me.

As my story continued, his expression grew increasingly serious.

In Japan, a safe and comfortable living environment is considered just as important as a safe workplace. Because of that, the company took the matter very seriously.

That same evening, both of us were called into the office.

At first, my roommate laughed and insisted that everything had been "just a joke."

However, after receiving a stern warning from the supervisor in both Japanese and Indonesian, the smile quickly disappeared from his face.

Eventually, the company concluded that his behavior was unacceptable.

His employment contract was terminated, and he was ordered to leave both the dormitory and the workplace within three days.

A few days later, I watched him pull his suitcase out of the dormitory without saying a single word.

Surprisingly, I didn't feel happy or satisfied.

What I felt was relief.

That night, for the first time in months, I took a shower without worrying that someone would suddenly switch off the lights.

My belongings remained exactly where I had left them.

The room felt quiet.

Yet that silence brought me more peace than I had experienced in a long time.

Looking back, I learned an important lesson from that experience.

Patience is a virtue.

But enduring endless mistreatment is not.

When life becomes too painful to bear alone, having the courage to seek help from someone you trust is just as important as being patient.

Asal Usul Lemah Gempal

Nama : Chandra Novita Nawastri Cicilia 

NIM : 091241009

Pada zaman penjajahan Belanda, Kota Semarang sering dilanda banjir besar. Setiap musim hujan tiba, air sungai meluap hingga menggenangi rumah-rumah penduduk, sawah, dan jalan-jalan. Kehidupan masyarakat pun menjadi sulit karena hampir setiap tahun mereka harus menghadapi bencana yang sama.

Melihat keadaan itu, pemerintah kolonial Belanda memutuskan membangun sebuah saluran air yang sangat besar agar aliran sungai dapat dikendalikan dan banjir berkurang. Saluran itu kemudian dikenal sebagai Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur.

Pembangunan kanal di bagian timur berjalan dengan lancar. Akan tetapi, pembangunan di bagian barat justru menemui banyak hambatan. Setiap kali para pekerja menggali tanah dan membangun tanggul, tanah itu selalu longsor. Tanggul yang telah disusun dengan susah payah runtuh kembali. Berulang kali mereka mencoba memperbaikinya, tetapi hasilnya tetap sama. Hari demi hari berlalu tanpa kemajuan sedikit pun.

Para pekerja mulai putus asa. Mereka tidak mengetahui penyebab tanah itu terus-menerus longsor. Di tengah kebingungan itu, seorang warga menyarankan agar mereka meminta nasihat kepada seorang sesepuh yang dikenal bijaksana dan memiliki pengetahuan tentang alam, yaitu Ki Sanak.

Ki Sanak mendengarkan cerita mereka dengan saksama. Setelah beberapa saat merenung, ia berkata, "Di samping rumahku terdapat dua buah batu. Ambillah kedua batu itu, lalu tanamkan di tempat tanggul yang selalu runtuh. Setelah itu, lanjutkan pekerjaan kalian dengan hati yang teguh."

Meskipun merasa heran, para pekerja mematuhi petunjuk Ki Sanak. Mereka mengambil kedua batu tersebut dan menanamnya di lokasi yang dimaksud. Keajaiban pun terjadi. Tanah yang sebelumnya mudah longsor perlahan menjadi padat dan menyatu. Tanggul yang dibangun akhirnya berdiri kokoh dan tidak runtuh lagi.

Berkat tanggul itu, pembangunan kanal dapat diselesaikan. Air sungai pun mengalir dengan lebih baik sehingga banjir yang selama ini menghantui masyarakat Semarang berangsur-angsur berkurang.

Sejak peristiwa itu, masyarakat menamai daerah tempat tanggul tersebut berdiri dengan sebutan Lemah Gempal. Dalam bahasa Jawa, lemah berarti tanah, sedangkan gempal berarti padat, menyatu, atau bongkahan tanah yang menjadi kokoh. Nama itu menjadi pengingat akan peristiwa ketika tanah yang terus longsor akhirnya menjadi kuat berkat usaha, doa, dan kebijaksanaan Ki Sanak.

Hingga kini, nama Lemah Gempal tetap dikenal oleh masyarakat sebagai warisan sejarah dan cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pesan Moral:
Setiap kesulitan pasti memiliki jalan keluar. Dengan kerja keras, tidak mudah menyerah, serta mau mendengarkan nasihat orang yang bijaksana, masalah sebesar apa pun dapat diatasi. Selain itu, manusia hendaknya selalu hidup selaras dengan alam dan menghargai kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur. 

Versi Bahasa Jepang

レマ・ゲンパルの由来

オランダ統治時代、スマランの町は毎年のように大洪水に見舞われていた。海に近く、大きな川が町の中を流れていたため、雨季になると川の水があふれ、家々や田畑、道路まで水に浸かってしまった。人々は毎年洪水に苦しみ、不安な日々を送っていた。

その様子を見たオランダ植民地政府は、洪水を防ぐために大きな運河を造ることを決めた。その運河は後に「西洪水運河(Banjir Kanal Barat)」と「東洪水運河(Banjir Kanal Timur)」と呼ばれるようになった。

東側の工事は順調に進んだ。しかし、西側では思いがけない問題が起こった。作業員たちが何度土を掘り、堤防を築いても、土はすぐに崩れてしまう。何度やり直しても同じことの繰り返しで、工事はまったく進まなかった。

作業員たちは途方に暮れた。どうして土が崩れ続けるのか、誰にも理由が分からなかった。そのとき、一人の村人が「キ・サナックという賢者なら何か知っているかもしれない」と勧めた。

そこで作業員たちはキ・サナックのもとを訪れ、助けを求めた。キ・サナックは静かに話を聞いたあと、こう言った。

「わしの家のそばに二つの石がある。その石を持って行き、崩れ続ける堤防の場所に埋めなさい。そして、あきらめずに工事を続けるのだ。」

作業員たちは半信半疑ながらも、その言葉に従った。二つの石を運び、教えられた場所に埋めると、不思議なことが起こった。それまで何度も崩れていた土がしだいに固まり、堤防はしっかりと立ち上がった。もう土が崩れることはなかった。

こうして運河の工事は無事に完成し、川の水はスムーズに流れるようになった。洪水は少しずつ減り、人々は安心して暮らせるようになった。

それ以来、その場所は「レマ・ゲンパル」と呼ばれるようになった。ジャワ語で「レマ(Lemah)」は「土」、「ゲンパル(Gempal)」は「固まった土」や「土の塊」を意味する。この名前は、崩れ続けていた土が固くまとまり、人々を救った出来事を今に伝えている。

教訓

どんな困難に直面しても、決してあきらめてはいけない。努力を続け、知恵ある人の助言に耳を傾ければ、どんな困難にも必ず解決の道は見つかる。また、先人たちの知恵や地域に伝わる言い伝えを大切にする心も忘れてはならない。

Rema Genparu no Yurai

Oranda tōchi jidai, Sumaran no machi wa maitoshi no yō ni daikōzui ni miwarete ita. Umi ni chikaku, ōkina kawa ga machi no naka o nagarete ita tame, uki ni naru to kawa no mizu ga afure, ieie ya tahata, dōro made mizu ni tsukatte shimatta. Hitobito wa maitoshi kōzui ni kurushimi, fuan na hibi o okutte ita.

Sono yōsu o mita Oranda shokuminchi seifu wa, kōzui o fusegu tame ni ōkina unga o tsukuru koto o kimeta. Sono unga wa nochi ni "Nishi Kōzui Unga (Banjir Kanal Barat)" to "Higashi Kōzui Unga (Banjir Kanal Timur)" to yobareru yō ni natta.

Higashi-gawa no kōji wa junchō ni susunda. Shikashi, Nishi-gawa de wa omoigakenai mondai ga okotta. Sagyōin-tachi ga nando tsuchi o hori, teibō o kizuite mo, tsuchi wa sugu ni kuzurete shimau. Nando yarinaoshite mo onaji koto no kurikaeshi de, kōji wa mattaku susumanakatta.

Sagyōin-tachi wa toho ni kureta. Dōshite tsuchi ga kuzuretsudzukeru no ka, dare ni mo riyū ga wakaranakatta. Sono toki, hitori no murabito ga, "Ki Sanakku to iu kenja nara nanika shitte iru kamo shirenai." to susumeta.

Soko de sagyōin-tachi wa Ki Sanakku no moto o otozure, tasuke o motometa. Ki Sanakku wa shizuka ni hanashi o kiita ato, kō itta.

"Washi no ie no soba ni futatsu no ishi ga aru. Sono ishi o motte iki, kuzuretsudzukeru teibō no basho ni ume nasai. Soshite, akiramezu ni kōji o tsudzukeru no da."

Sagyōin-tachi wa hanshinhangi nagara mo, sono kotoba ni shitagatta. Futatsu no ishi o hakobi, oshierareta basho ni umeru to, fushigi na koto ga okotta. Sore made nando mo kuzurete ita tsuchi ga shidai ni katamari, teibō wa shikkari to tachiagatta. Mō tsuchi ga kuzureru koto wa nakatta.

Kōshite unga no kōji wa buji ni kansei shi, kawa no mizu wa sumūzu ni nagareru yō ni natta. Kōzui wa sukoshi zutsu heri, hitobito wa anshin shite kuraseru yō ni natta.

Sore irai, sono basho wa "Rema Genparu" to yobareru yō ni natta. Jawa-go de "rema (lemah)" wa "tsuchi", "genparu (gempal)" wa "katamatta tsuchi" ya "tsuchi no katamari" o imi suru. Kono namae wa, kuzuretsudzukete ita tsuchi ga kataku matomari, hitobito o sukutta dekigoto o ima ni tsutaete iru.

Kyōkun

Donna konnan ni chokumen shite mo, kesshite akiramete wa ikenai. Doryoku o tsudzuke, chie aru hito no jogen ni mimi o katamukereba, donna konnan ni mo kanarazu kaiketsu no michi wa mitsukaru. Mata, senjin-tachi no chie ya chiiki ni tsutawaru iitsutae o taisetsu ni suru kokoro mo wasurete wa naranai.

Versi Bahasa Inggris

The Origin of Lemah Gempal

During the Dutch colonial era, the city of Semarang was often struck by severe floods. Because the city was located near the coast and crossed by a large river, the water would overflow every rainy season, flooding houses, rice fields, and roads. Year after year, the people lived in fear of the floods that disrupted their daily lives.

Seeing this situation, the Dutch colonial government decided to build a large canal to control the flow of the river and reduce flooding. The canal later became known as the West Flood Canal and the East Flood Canal.

The construction of the eastern canal went smoothly. However, the western canal faced an unexpected problem. No matter how many times the workers dug the soil and built the embankment, the earth kept collapsing. They rebuilt it again and again, but each attempt ended in failure, and the project made no progress.

The workers became discouraged. No one could explain why the ground continued to collapse. At that moment, one of the villagers suggested seeking advice from a wise elder named Ki Sanak, who was well known for his wisdom and deep understanding of nature.

The workers visited Ki Sanak and asked for his help. After listening carefully to their story, Ki Sanak said,

"Near my house, there are two stones. Take them and bury them where the embankment keeps collapsing. Then continue your work without giving up."

Although they were doubtful, the workers followed his instructions. They carried the two stones and buried them in the place he had indicated. Suddenly, something extraordinary happened. The soil that had repeatedly collapsed gradually became firm and solid. The embankment stood strong and no longer crumbled.

With the embankment finally secured, the canal was successfully completed. The river flowed more smoothly, and little by little, the floods that had long troubled the people of Semarang began to subside.

From that day on, the area became known as Lemah Gempal. In the Javanese language, lemah means soil or land, while gempal means a solid mass or a compact lump of earth. The name has been passed down through generations to commemorate the remarkable event in which unstable ground became firm and brought safety to the people.

Moral of the Story

No matter how difficult the challenge may be, we should never give up. Through perseverance, hard work, and a willingness to listen to the advice of wise people, every problem can eventually be overcome. The story also reminds us to value the wisdom of our ancestors and preserve the local traditions that have been passed down from generation to generation.

Pengalaman Hidup Terburuk dalam Perjalanan Karierku

Nama : Ia Tamia NIM : 094241079 Ada kalanya aku bertanya pada diri sendiri, mengapa jalan hidupku terasa begitu berat dibandingkan orang lai...