Rabu, 01 Juli 2026

Legenda Situ Bagendit

 Nama : Muhammad Junaedi Rodibillah

NIM  : 094241096

Pada zaman dahulu, di sebuah daerah yang terletak di sebelah utara Garut, Jawa Barat, hiduplah seorang janda kaya raya bernama Nyai Endit. Ia dikenal sebagai seorang tengkulak padi yang memiliki lumbung-lumbung penuh hasil panen. Pekerjaannya adalah membeli padi dari para petani dengan harga yang sangat murah, lalu menjualnya kembali dengan harga yang berlipat ganda ketika musim paceklik tiba.

Kekayaan yang dimiliki Nyai Endit tidak membuat hatinya menjadi mulia. Sebaliknya, ia semakin kikir, sombong, dan gemar memanfaatkan penderitaan orang lain. Para petani sering kali dipaksa menjual hasil panennya dengan harga yang rendah. Ketika musim kemarau datang dan persediaan makanan mereka habis, Nyai Endit justru menjual kembali beras kepada mereka dengan harga yang sangat mahal. Tak sedikit keluarga yang harus menahan lapar karena tidak mampu membeli beras miliknya.

Sementara penduduk desa hidup dalam kesusahan, Nyai Endit justru menghambur-hamburkan kekayaannya. Ia kerap mengadakan pesta-pesta mewah di rumahnya. Hidangan melimpah disajikan untuk para tamu, sementara nasi yang masih layak dimakan sering kali terbuang sia-sia. Semua itu dilakukannya demi memamerkan kekayaan dan kedudukannya kepada orang-orang.

Pada suatu hari, ketika musim kemarau semakin panjang dan banyak warga desa mulai kekurangan makanan, Nyai Endit kembali mengadakan pesta besar. Musik dan gelak tawa terdengar memenuhi halaman rumahnya. Di tengah kemeriahan itu, datanglah seorang pengemis tua yang berpakaian lusuh. Dengan suara lirih, ia memohon sedikit makanan untuk mengganjal perutnya yang telah lama kosong.

Namun, permintaan sederhana itu justru membuat Nyai Endit murka. Dengan wajah angkuh, ia memerintahkan para penjaganya untuk mengusir pengemis tua tersebut.

"Pergi dari sini! Jangan mengotori pestaku!" bentaknya tanpa sedikit pun rasa iba.

Pengemis tua itu hanya menatap Nyai Endit dengan tenang. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia pergi meninggalkan rumah megah itu.

Keesokan harinya, suasana desa menjadi ramai. Di tengah lapangan berdiri sebuah tongkat kayu yang tertancap kuat di dalam tanah. Banyak penduduk berkumpul dan bergantian mencoba mencabut tongkat itu, tetapi tidak seorang pun berhasil menggerakkannya.

Karena penasaran, Nyai Endit datang menghampiri kerumunan. Betapa terkejutnya ia ketika melihat pengemis tua yang diusirnya sehari sebelumnya berdiri tidak jauh dari tongkat tersebut. Dengan nada mengejek, Nyai Endit menuduh pengemis itu sebagai penyebab keanehan tersebut.

"Kalau memang tongkat itu milikmu, cabutlah sendiri!" katanya dengan penuh kesombongan.

Pengemis tua itu melangkah mendekati tongkat, lalu mencabutnya dengan mudah seolah tidak ada beban sama sekali.

Saat tongkat itu terangkat, tiba-tiba terdengar gemuruh dari dalam bumi. Dari lubang bekas tongkat tertancap, memancar air yang sangat deras. Air itu terus mengalir tanpa henti, semakin lama semakin besar hingga membanjiri seluruh desa.

Penduduk desa segera berlari menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi. Mereka saling membantu agar semua orang dapat selamat dari banjir yang datang begitu cepat.

Namun, Nyai Endit tidak memikirkan keselamatan dirinya. Ia justru berlari menuju rumahnya untuk mengumpulkan emas, perhiasan, dan seluruh harta bendanya. Dengan tergesa-gesa ia berusaha membawa semua kekayaannya, seolah-olah harta itu lebih berharga daripada nyawanya sendiri.

Air terus meninggi hingga akhirnya menenggelamkan rumah megah milik Nyai Endit. Bersama seluruh harta yang begitu dicintainya, ia pun tenggelam tanpa dapat menyelamatkan diri.

Banjir itu akhirnya membentuk sebuah danau yang sangat luas. Masyarakat setempat kemudian menamainya Situ Bagendit, yang berarti danau tempat tenggelamnya Nyai Endit. Hingga kini, legenda tersebut terus diceritakan turun-temurun sebagai pengingat bahwa keserakahan, kesombongan, dan sifat kikir hanya akan membawa petaka. Sebaliknya, hidup yang penuh kepedulian, kerendahan hati, dan kemurahan hati akan mendatangkan kebaikan bagi sesama.

Versi Bahasa Jepang

シトゥ・バゲンディットの伝説

昔々、西ジャワ州ガルットの北にある小さな村に、ニャイ・エンディットという裕福な未亡人が住んでいた。彼女は農民たちから米を安く買い取り、それを高値で売る仲買人だった。そのため、多くの財産を築き、村一番の金持ちになっていた。

しかし、ニャイ・エンディットは非常に欲深く、けちで、高慢な性格だった。農民たちが生活に困っていても容赦なく安値で米を買い取り、干ばつや凶作で食べ物が不足すると、その米を何倍もの値段で売りつけていた。そのため、村人たちは苦しい生活を強いられていた。

一方で、ニャイ・エンディットは自分の富を誇示することが大好きだった。たびたび豪華な宴会を開き、財宝や山のような食べ物を客に見せびらかしては、自分の豊かさを自慢していた。

ある年、長い日照りが続き、村中が深刻な食糧不足に陥った。それにもかかわらず、ニャイ・エンディットは大勢の客を招いて盛大な宴会を開いていた。

宴の最中、一人のみすぼらしい老人が屋敷を訪れ、空腹をしのぐために少しだけ食べ物を分けてほしいと頼んだ。

しかし、ニャイ・エンディットは老人を見下し、冷たく笑うと、召使いたちに命じて屋敷の外へ追い払わせた。

翌日、村の広場では大勢の村人たちが一本の古い杖を囲み、地面に深く突き刺さったその杖を抜こうとしていた。しかし、どれほど力を込めても、誰一人として杖を動かすことはできなかった。

そこへニャイ・エンディットが通りかかると、昨日追い払った老人が静かに立っているのが目に入った。

彼女は老人を指さし、「こんな妙なことをしたのはお前だろう」と怒鳴りつけ、「それほど自信があるなら、自分でその杖を抜いてみろ」と言い放った。

老人は何も言わずに杖へ近づき、軽く手を添えると、いとも簡単に杖を引き抜いた。

その瞬間、杖が刺さっていた穴から激しい勢いで水が噴き出した。

水はあっという間に川のような流れとなり、村全体をのみ込んでいった。村人たちは互いに助け合いながら、高台へ向かって必死に逃げた。

しかし、ニャイ・エンディットだけは逃げようとはしなかった。彼女は屋敷へ駆け戻り、黄金や宝石などの財産を持ち出そうと夢中になっていた。

だが、水は容赦なく屋敷をのみ込み、やがてニャイ・エンディットは大切な財産とともに家の中で溺れ、そのまま姿を消してしまった。

洪水が収まると、その村は広大な湖へと姿を変えていた。

人々はその湖を、欲深いニャイ・エンディットが沈んだ場所という意味を込めて、「シトゥ・バゲンディット」と呼ぶようになったという。

この伝説は、欲張りや傲慢な心はやがて自らを滅ぼし、思いやりと分かち合いの心こそが人々を幸せにするという教えとして、今も語り継がれている。

Shitu Bagenditto no Densetsu

Mukashi mukashi, Nishi Jawa-shū Garutto no kita ni aru chiisana mura ni, Nyai Enditto to iu yūfuku na mibōjin ga sunde ita. Kanojo wa nōmintachi kara kome o yasuku kaitori, sore o takane de uru nakagainin datta. Sono tame, ōku no zaisan o kizuki, mura ichiban no kanemochi ni natte ita.

Shikashi, Nyai Enditto wa hijō ni yokubukaku, kechi de, kōman na seikaku datta. Nōmintachi ga seikatsu ni komatte ite mo yōsha naku yasune de kome o kaitori, hibatsu ya kyōsaku de tabemono ga fusoku suru to, sono kome o nanbai mo no nedan de uritsukete ita. Sono tame, murabito-tachi wa kurushii seikatsu o shiirarete ita.

Ippō de, Nyai Enditto wa jibun no tomi o koji suru koto ga daisuki datta. Tabitabi gōka na enkai o hiraki, zaihō ya yama no yō na tabemono o kyaku ni misebirakashite wa, jibun no yutakasa o jiman shite ita.

Aru toshi, nagai hidori ga tsuzuki, murajū ga shinkoku na shokuryō busoku ni ochiitta. Sore ni mo kakawarazu, Nyai Enditto wa ōzei no kyaku o manite seidai na enkai o hiraite ita.

Utage no saichū, hitori no misuborashii rōjin ga yashiki o otozure, kūfuku o shinogu tame ni sukoshi dake tabemono o wakete hoshii to tanonda.

Shikashi, Nyai Enditto wa rōjin o mishitashi, tsumetaku warau to, meshitsukai-tachi ni meijite yashiki no soto e oiharawaseta.

Yokujitsu, mura no hiroba de wa ōzei no murabito-tachi ga ippon no furui tsue o kakomi, jimen ni fukaku tsukisasatta sono tsue o nukō to shite ita. Shikashi, dore hodo chikara o komete mo, dare hitori to shite tsue o ugokasu koto wa dekinakatta.

Soko e Nyai Enditto ga tōrikakaru to, kinō oiharatta rōjin ga shizuka ni tatte iru no ga me ni haitta.

Kanojo wa rōjin o yubisashi, "Konna myō na koto o shita no wa omae darō" to donaritsuke, "Sore hodo jishin ga aru nara, jibun de sono tsue o nuite miro" to iihanatta.

Rōjin wa nani mo iwazu ni tsue e chikazuki, karuku te o soeru to, itomo kantan ni tsue o hikinuita.

Sono shunkan, tsue ga sasatte ita ana kara hageshii ikioi de mizu ga fukidashita.

Mizu wa atto iu ma ni kawa no yō na nagare to nari, mura zentai o nomikonde itta. Murabito-tachi wa tagai ni tasukeainagara, takadai e mukatte hisshi ni nigeta.

Shikashi, Nyai Enditto dake wa nigeyō to wa shinakatta. Kanojo wa yashiki e kakemodori, kogane ya hōseki nado no zaisan o mochidasō to muchū ni natte ita.

Daga, mizu wa yōsha naku yashiki o nomikomi, yagate Nyai Enditto wa taisetsu na zaisan to tomo ni ie no naka de obore, sono mama sugata o keshite shimatta.

Kōzui ga osamaru to, sono mura wa kōdai na mizuumi e to sugata o kaete ita.

Hitobito wa sono mizuumi o, yokubukai Nyai Enditto ga shizunda basho to iu imi o komete, "Shitu Bagenditto" to yobu yō ni natta to iu.

Kono densetsu wa, yokubari ya gōman na kokoro wa yagate mizukara o horoboshi, omoiyari to wakachiai no kokoro koso ga hitobito o shiawase ni suru to iu oshie to shite, ima mo kataritsugarete iru.

Versi Bahasa Inggris

The Legend of Situ Bagendit

Long ago, in a small village north of Garut in West Java, there lived a wealthy widow named Nyai Endit. She was a rice trader who bought rice from farmers at very low prices and sold it again at much higher prices. Through this business, she accumulated enormous wealth and became the richest person in the village.

Despite her riches, Nyai Endit was greedy, stingy, and arrogant. She showed no compassion for the struggling farmers. Even when they faced hardship, she continued to buy their rice cheaply. During seasons of drought and poor harvests, when food became scarce, she sold the rice back to them at outrageously high prices. As a result, many villagers suffered from hunger and poverty.

Instead of helping those in need, Nyai Endit delighted in showing off her wealth. She frequently held lavish banquets at her grand house, displaying her treasures and serving abundant food to her guests. Her extravagant lifestyle stood in sharp contrast to the misery endured by the villagers.

One year, a long drought struck the village, causing a severe food shortage. Although the villagers struggled to survive, Nyai Endit once again hosted a magnificent feast.

In the middle of the celebration, an old beggar arrived at her house. With a humble voice, he asked for just a little food to satisfy his hunger.

Rather than showing kindness, Nyai Endit looked down on the old man. She laughed scornfully and ordered her servants to drive him away.

The following day, the villagers gathered around an old wooden staff firmly embedded in the ground at the village square. One after another, they tried to pull it out, but no one was strong enough to move it.

As Nyai Endit approached the crowd, she noticed the same old beggar standing quietly nearby.

Pointing at him angrily, she shouted, "You must be the one responsible for this strange thing! If you're so confident, then pull the staff out yourself!"

Without saying a word, the old man stepped forward. He gently grasped the staff and effortlessly pulled it from the ground.

The moment the staff was removed, a powerful stream of water burst out from the hole beneath it.

The water quickly became a raging flood that swept across the entire village. The villagers fled to higher ground, helping one another escape from the rising waters.

Nyai Endit, however, thought only of her possessions. Instead of saving herself, she rushed back into her mansion to gather her gold, jewelry, and countless treasures.

But the flood rose relentlessly, swallowing her house along with everything inside. Trapped by her own greed, Nyai Endit drowned together with the wealth she treasured so dearly.

When the flood finally subsided, the village had disappeared beneath a vast lake.

From that day on, the lake became known as Situ Bagendit, meaning the lake where the greedy Nyai Endit met her fate.

To this day, the legend of Situ Bagendit continues to be passed down from generation to generation. It reminds people that greed, arrogance, and selfishness ultimately lead to destruction, while kindness, generosity, and compassion bring harmony and lasting happiness.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengalaman Hidup Terburuk dalam Perjalanan Karierku

Nama : Ia Tamia NIM : 094241079 Ada kalanya aku bertanya pada diri sendiri, mengapa jalan hidupku terasa begitu berat dibandingkan orang lai...