Aries Nurhanna
NIM: 094241050
Aku masih mengingat dengan jelas kejadian yang kualami ketika bekerja di Timika, Papua. Sampai sekarang pun, setiap kali mengingatnya, bulu kudukku masih merinding. Mungkin bagi sebagian orang cerita ini terdengar biasa, tetapi bagiku, ini adalah salah satu pengalaman paling misterius yang pernah kualami.
Saat itu aku ditugaskan untuk mengawasi perbaikan sebuah mess karyawan yang sudah lama tidak ditempati. Bangunannya terlihat tua dan sepi. Debu menumpuk di berbagai sudut ruangan, sementara suasananya terasa begitu sunyi dan menyeramkan. Mess itu dikelilingi pagar yang cukup tinggi, dan hanya memiliki satu pintu gerbang sebagai akses keluar masuk.
Yang membuatku selalu merasa tenang sebenarnya adalah karena kunci gerbang dan seluruh bangunan hanya kupegang sendiri. Tidak ada orang lain yang memiliki akses masuk tanpa sepengetahuanku. Karena itulah, apa yang terjadi pagi itu sampai sekarang masih sulit kuterima dengan logika.
Biasanya para tukang baru datang sekitar pukul delapan atau sembilan pagi. Namun entah mengapa, hari itu aku memutuskan datang lebih awal, sekitar pukul enam pagi. Matahari belum benar-benar terbit. Langit masih redup, udara terasa dingin dan lembap. Di sekitar mess tidak ada suara apa pun selain hembusan angin dan sesekali suara dedaunan yang bergesekan. Suasana yang begitu hening membuat setiap langkah kakiku terdengar jelas.
Aku membuka gerbang, kemudian berjalan menuju pintu depan bangunan. Saat membuka pintu, sebenarnya sempat muncul perasaan tidak nyaman, tetapi aku mencoba mengabaikannya. Aku berpikir mungkin itu hanya karena suasananya memang terlalu sepi.
Aku berjalan menuju ruang tengah. Tujuanku adalah membuka pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang belakang. Sehari sebelumnya aku masih ingat betul telah merapikan beberapa kursi di ruang belakang. Semua kursi kususun rapi di pojok ruangan agar tidak menghalangi proses perbaikan. Aku bahkan masih bisa membayangkan posisi kursi-kursi itu karena akulah yang memindahkannya satu per satu.
Perlahan aku membuka kunci pintu ruang belakang.
Begitu pintu terbuka, tubuhku langsung terdiam. Rasanya seperti membeku beberapa saat.
Di hadapanku, tepat di tengah pintu yang baru saja kubuka, berdiri beberapa kursi yang tersusun menghadap lurus ke arah pintu. Posisi kursi-kursi itu benar-benar berada di tengah jalan, seolah sengaja disusun untuk menyambut siapa pun yang membuka pintu tersebut.
Jantungku langsung berdegup lebih cepat.
Aku berusaha meyakinkan diri bahwa mungkin aku salah ingat. "Apa mungkin kemarin aku lupa memindahkan kursi-kursi ini?" pikirku.
Namun semakin kupikirkan, semakin aku yakin itu tidak mungkin. Aku masih ingat dengan jelas bahwa semua kursi sudah kupindahkan ke pojok ruangan. Lagipula, jika kursi-kursi itu berada di tengah pintu, pasti akan menghalangi saat aku menutup ruangan sehari sebelumnya. Tidak mungkin aku membiarkannya begitu saja.
Pikiran lain mulai muncul.
"Kalau begitu... siapa yang memindahkannya?"
Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Rasanya semakin sulit dijelaskan karena semua kunci ada padaku. Tidak ada tanda-tanda orang lain pernah masuk ke dalam bangunan. Gerbang juga masih terkunci seperti saat kutinggalkan sehari sebelumnya.
Suasana yang begitu sunyi membuat rasa takutku perlahan berubah menjadi kepanikan. Aku mulai merasa seolah-olah ada sesuatu yang mengawasiku, meskipun tidak ada seorang pun yang terlihat.
Aku tidak ingin berlama-lama di dalam.
Tanpa berpikir lagi, aku berjalan cepat melewati kursi-kursi itu sambil berusaha tidak terlalu memperhatikannya. Aku langsung membuka pintu belakang dan keluar dari bangunan. Baru setelah berada di luar, aku menyadari napasku sudah tidak beraturan karena terlalu panik.
Aku memilih berdiri di dekat gerbang sambil menunggu para pekerja datang. Rasanya jauh lebih tenang berada di luar daripada harus kembali masuk sendirian ke dalam mess yang sunyi itu.
Selama menunggu, aku terus mencoba mencari penjelasan yang masuk akal. Mungkin aku salah ingat. Mungkin ada sesuatu yang terlewat. Namun setiap kali mencoba menyusun logika, semuanya kembali mentok pada satu kenyataan: kunci hanya ada padaku, tidak ada barang yang hilang, tidak ada tanda-tanda orang lain masuk, tetapi posisi kursi-kursi itu jelas sudah berubah.
Sejak hari itu aku tidak pernah lagi datang terlalu pagi ke mess tersebut. Aku selalu menunggu para pekerja datang lebih dulu sebelum masuk ke dalam bangunan. Entah mengapa, kejadian itu membuatku menjadi lebih berhati-hati dan lebih peka terhadap suasana di sekitarku.
Hingga sekarang, aku masih belum menemukan jawaban atas apa yang sebenarnya terjadi pagi itu. Mungkin ada penjelasan yang belum kuketahui. Atau mungkin memang ada hal-hal di dunia ini yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika.
Yang jelas, pengalaman di mess karyawan Timika itu akan selalu menjadi salah satu kenangan paling misterius yang pernah kualami.
Versi Bahasa Jepang
ティミカの社員寮での不思議な体験
あの出来事は、今でもはっきり覚えている。思い出すたびに鳥肌が立つ。人によっては大したことのない話だと思うかもしれないが、私にとっては人生で最も不思議な体験の一つだ。
あの頃、私はパプアのティミカで働いていて、長い間使われていなかった社員寮の修理を監督する仕事を任されていた。建物の中にはほこりが積もり、周囲は静まり返っていて、どこか不気味な雰囲気が漂っていた。寮は高いフェンスに囲まれており、出入りできるのは正面の門だけだった。
安心できることが一つだけあった。それは、門と建物の鍵を持っていたのが私だけだったということだ。監督を任されていたため、私の知らないうちに誰かが中へ入ることはできなかった。だからこそ、その朝に起きた出来事は、今でもどうしても説明がつかない。
普段、作業員が来るのは朝八時か九時頃だった。しかし、その日はなぜか朝六時頃には現場へ向かっていた。まだ太陽は完全には昇っておらず、空は薄暗かった。空気は冷たく湿っていて、辺りには風の音と木の葉が揺れる音しか聞こえなかった。静けさの中で、自分の足音だけがやけにはっきりと響いていた。
門を開けて建物へ向かい、正面のドアを開けた。その瞬間、少しだけ嫌な予感がした。でも、「気のせいだろう」と自分に言い聞かせ、そのまま中へ入った。
中央の部屋へ進み、奥の部屋へ続くドアを開けようとした。前日、私は奥の部屋にあった椅子をすべて部屋の隅へ移動させ、作業の邪魔にならないようにきれいに並べておいた。その様子は今でもはっきり覚えている。一脚ずつ自分で運んだからだ。
ゆっくりと鍵を開け、ドアを押した。
その瞬間、私はその場で立ち尽くした。
体が一瞬動かなくなった。
ドアの真正面、ちょうど入口の真ん中に、何脚もの椅子が並べられていた。その椅子はまっすぐこちらを向いていて、まるでドアを開ける人を待っていたかのようだった。その光景はあまりにも不自然だった。
心臓が一気に速くなった。
「昨日、椅子を移動し忘れたのだろうか。」
そう思って自分に言い聞かせようとした。
しかし、考えれば考えるほど、それはあり得ないという確信だけが強くなった。椅子は確かに部屋の隅へ移動させたはずだった。それに、もしドアの前に置かれていたなら、部屋を閉めるときに邪魔になるはずだ。そのままにして帰るなんて考えられなかった。
では、一体誰が動かしたのだろう。
その疑問が頭の中を何度も巡った。しかも、鍵は私しか持っていない。誰かが建物に入った形跡もなかった。
静まり返った建物の中にいるうちに、不安は次第に恐怖へと変わっていった。誰もいないはずなのに、自分以外の何かがそこにいるような気がしてならなかった。
これ以上そこにいたくなかった。
私は椅子の横を足早に通り過ぎ、できるだけそちらを見ないようにしながら奥のドアを開け、そのまま外へ飛び出した。外へ出たときには、心臓は激しく鼓動し、息も少し乱れていた。
私は門の近くで作業員が来るのを待つことにした。一人で建物の中へ戻る気には、とてもなれなかった。
待っている間も、「きっと何か理由があるはずだ」と何度も考えた。自分の勘違いかもしれない。何か見落としていたのかもしれない。
それでも、どれだけ考えても答えは見つからなかった。
鍵はずっと私が持っていた。誰かが入った形跡もない。物がなくなったわけでもない。ただ、椅子だけが、確かに昨日とは違う場所にあった。
あの日以来、私は二度と一人で早朝に社員寮へ行くことはなくなった。必ず作業員が来てから中へ入るようになった。そして以前よりも周囲の雰囲気に敏感になり、慎重に行動するようになった。
あれから何年経った今でも、あの朝に何が起きたのかは分からない。
もしかしたら、まだ知らない理由があるのかもしれない。
あるいは、この世には理屈だけでは説明できないことが、本当に存在するのかもしれない。
ティミカの社員寮で体験したあの出来事は、今でも私の心に深く残り続けている。
Timika no Shainryō de no Fushigi na Taiken
Ano dekigoto wa, ima demo hakkiri oboete iru. Omoidasu tabi ni torihada ga tatsu. Hito ni yotte wa taishita koto no nai hanashi da to omou kamo shirenai ga, watashi ni totte wa jinsei de mottomo fushigi na taiken no hitotsu da.
Ano koro, watashi wa Papua no Timika de hataraite ite, nagai aida tsukawarete inakatta shainryō no shūri o kantoku suru shigoto o makasarete ita. Tatemono no naka ni wa hokori ga tsumori, shūi wa shizumari kaette ite, dokoka bukimi na fun'iki ga tadayotte ita. Ryō wa takai fensu ni kakomarete ori, deiri dekiru no wa shōmen no mon dake datta.
Anshin dekiru koto ga hitotsu dake atta. Sore wa, mon to tatemono no kagi o motte ita no ga watashi dake datta to iu koto da. Kantoku o makasarete ita tame, watashi no shiranai uchi ni dareka ga naka e hairu koto wa dekinakatta. Dakara koso, sono asa ni okita dekigoto wa, ima demo dōshite mo setsumei ga tsukanai.
Fudan, sagyōin ga kuru no wa asa hachi-ji ka ku-ji goro datta. Shikashi, sono hi wa nazeka asa roku-ji goro ni wa genba e mukatte ita. Mada taiyō wa kanzen ni wa nobotte orazu, sora wa usugurakatta. Kūki wa tsumetakute shimette ite, atari ni wa kaze no oto to ki no ha ga yureru oto shika kikoenakatta. Shizukesa no naka de, jibun no ashioto dake ga yake ni hakkiri to hibiite ita.
Mon o akete tatemono e mukai, shōmen no doa o aketa. Sono shunkan, sukoshi dake iya na yokan ga shita. Demo, "Ki no sei darō" to jibun ni iikikase, sono mama naka e haitta.
Chūō no heya e susumi, oku no heya e tsuzuku doa o keyō to shita. Zenjitsu, watashi wa oku no heya ni atta isu o subete heya no sumi e idō sase, sagyō no jama ni naranai yō ni kirei ni narabete oita. Sono yōsu wa ima demo hakkiri oboete iru. Isseki zutsu jibun de hakonda kara da.
Yukkuri to kagi o ake, doa o oshita.
Sono shunkan, watashi wa sono ba de tachitsukushita.
Karada ga isshun ugokanaku natta.
Doa no masseimen, chōdo iriguchi no mannaka ni, nan-kyaku mono isu ga naraberarete ita. Sono isu wa massugu kochira o muite ite, maru de doa o akeru hito o matte ita ka no yō datta. Sono kōkei wa amari ni mo fushizen datta.
Shinzō ga ikki ni hayaku natta.
"Kinō, isu o idō shiwasureta no darō ka."
Sō omotte jibun ni iikikaseyō to shita.
Shikashi, kangaereba kangaeru hodo, sore wa arienai to iu kakushin dake ga tsuyoku natta. Isu wa tashika ni heya no sumi e idō saseta hazu datta. Sore ni, moshi doa no mae ni okarete itanara, heya o shimeru toki ni jama ni naru hazu da. Sono mama ni shite kaeru nante kangaerarenakatta.
Dewa, ittai dare ga ugokashita no darō.
Sono gimon ga atama no naka o nando mo megutta. Shikamo, kagi wa watashi shika motte inai. Dareka ga tatemono ni haitta keiseki mo nakatta.
Shizumari kaetta tatemono no naka ni iru uchi ni, fuan wa shidai ni kyōfu e to kawatte itta. Daremo inai hazu na noni, jibun igai no nanika ga soko ni iru yō na ki ga shite naranakatta.
Kore ijō soko ni itakunakatta.
Watashi wa isu no yoko o ashibaya ni tōrisugi, dekiru dake sochira o minai yō ni shinagara oku no doa o ake, sono mama soto e tobidasita. Soto e deta toki ni wa, shinzō wa hageshiku kodō shi, iki mo sukoshi midarete ita.
Watashi wa mon no chikaku de sagyōin ga kuru no o matsu koto ni shita. Hitori de tatemono no naka e modoru ki ni wa, totemo narenakatta.
Matte iru aida mo, "Kitto nanika riyū ga aru hazu da" to nando mo kangaeta. Jibun no kanchigai kamo shirenai. Nanika miotoshite ita no kamo shirenai.
Sore demo, dore dake kangaete mo kotae wa mitsukaranakatta.
Kagi wa zutto watashi ga motte ita. Dareka ga haitta keiseki mo nai. Mono ga nakunatta wake demo nai. Tada, isu dake ga, tashika ni kinō to wa chigau basho ni atta.
Ano hi irai, watashi wa nidoto hitori de sōchō ni shainryō e iku koto wa naku natta. Kanarazu sagyōin ga kite kara naka e hairu yō ni natta. Soshite izen yori mo shūi no fun'iki ni bin'kan ni nari, shinchō ni kōdō suru yō ni natta.
Are kara nannen tatta ima demo, ano asa ni nani ga okita no ka wa wakaranai.
Moshikashitara, mada shiranai riyū ga aru no kamo shirenai.
Arui wa, kono yo ni wa rikutsu dake de wa setsumei dekinai koto ga, hontō ni sonzai suru no kamo shirenai.
Timika no shainryō de taiken shita ano dekigoto wa, ima demo watashi no kokoro ni fukaku nokori tsuzukete iru.
Versi Bahasa Inggris
A Mysterious Experience at the Employee Dormitory in Timika
I still remember that incident very clearly. Even now, whenever I think about it, I still get goosebumps. Some people might think that this story is nothing special, but for me, it was one of the most mysterious experiences I have ever had in my life.
At that time, I was working in Timika, Papua, and I was assigned to supervise the renovation of an employee dormitory that had been unused for a long time. The building was covered with dust, and the entire place felt extremely quiet and isolated. There was a strange and unsettling atmosphere surrounding the dormitory. The building was surrounded by a high fence, and the only entrance was through the front gate.
There was one thing that made me feel certain that no one else could enter the building. I was the only person who had the keys to both the dormitory and the gate. Since I was responsible for supervising the renovation, nobody could enter the place without my knowledge. That was exactly why the incident that happened that morning remains so difficult for me to explain.
Normally, the workers arrived around eight or nine in the morning. However, for some reason, I decided to come earlier that day, around six in the morning. The sun had not completely risen yet, and the sky was still dim. The air was cold and damp. The surroundings were completely silent. The only sounds I could hear were the wind and the leaves moving gently. In that silence, the sound of my own footsteps echoed clearly.
I unlocked the gate and walked toward the building. When I opened the front door, I suddenly felt a strange sense of discomfort. However, I tried to ignore it and told myself that it was probably just because the place was too quiet.
I walked into the middle room and planned to open the door leading to the back room. The day before, I clearly remembered arranging all the chairs in the back room. I had moved them carefully to the corner of the room so they would not block the workers during the renovation. I still remembered their exact position because I had moved them myself.
Slowly, I unlocked the door and pushed it open.
The moment the door opened, I froze.
My body suddenly stopped moving.
Right in front of the doorway, exactly in the middle of the entrance, several chairs had been placed there. The chairs were facing directly toward me, as if they had been deliberately arranged to welcome someone who opened the door. The scene looked extremely unnatural.
My heart started beating faster.
I tried to convince myself.
"Maybe I forgot to move some of the chairs yesterday."
But the more I thought about it, the more certain I became that it was impossible. I clearly remembered moving all the chairs to the corner of the room. Besides, if the chairs had been placed in front of the door, they would have blocked the entrance. I would never have left them there when I locked the room the previous day.
Then one question came into my mind.
"Who moved them?"
That question kept repeating in my head. The keys were only in my possession. There were no signs that anyone had entered the building. Nothing was missing, and nothing else had changed.
The longer I stood there, the stronger my anxiety became. In the complete silence of the building, I started to feel as if I was not alone. Logically, there should have been nobody else inside, but I could not shake the feeling that something was there with me.
I did not want to stay there any longer.
Without thinking too much, I quickly walked past the chairs, avoiding looking at them for too long. I immediately opened the back door and stepped outside. Once I was outside, I realized that my heart was racing and my breathing had become faster because of the panic.
I decided to wait near the gate until the workers arrived. I did not feel brave enough to go back inside the building alone.
While waiting, I kept trying to find a logical explanation. I thought that perhaps I had made a mistake or missed something. I kept telling myself, "There must be a reason for this."
However, no matter how much I thought about it, I still could not find an answer.
I had always kept the keys with me. There were no signs of anyone entering the building. Nothing had been stolen or damaged. The only strange thing was that the chairs were definitely in a different position from the day before.
Since that day, I have never gone to the dormitory alone early in the morning. I always wait until the workers arrive before entering the building. I also became more careful and more sensitive to the atmosphere around me.
Even now, after many years have passed, I still do not know what really happened that morning.
Perhaps there was a reason that I still do not know.
Or perhaps there are things in this world that cannot always be explained by logic alone.
The mysterious experience I had at the employee dormitory in Timika remains deeply engraved in my memory. It will always be one of the strangest and most unforgettable experiences of my life.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar