Nama: Skolastika Belinda Rosari
NIM : 094241063
Pada zaman dahulu, di wilayah Cipondoh, Tangerang, terdapat sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan sawah dan pepohonan. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani dan pencari ikan. Meskipun hidup sederhana, mereka selalu rukun, bergotong royong, dan saling membantu ketika ada warga yang mengalami kesulitan.
Di desa tersebut, tinggallah seorang kakek miskin yang hidup seorang diri di sebuah gubuk sederhana. Walaupun tidak memiliki banyak harta, ia dikenal sebagai orang yang baik hati dan suka menolong. Ia tidak pernah ragu membagikan makanan yang dimilikinya kepada tetangga yang membutuhkan. Karena ketulusan hatinya, masyarakat desa sangat menghormatinya.
Pada suatu tahun, kemarau panjang melanda desa. Selama berbulan-bulan, hujan tidak kunjung turun. Sungai dan sumur mulai mengering, sawah berubah menjadi tanah yang retak, sedangkan tanaman layu sebelum menghasilkan panen. Persediaan air dan makanan semakin menipis. Para penduduk pun mulai diliputi kecemasan karena tidak mengetahui cara mempertahankan kehidupan mereka.
Pada suatu malam, ketika tertidur di dalam gubuknya, kakek itu bermimpi bertemu dengan seorang lelaki tua berpakaian serba putih. Wajah lelaki tersebut tampak teduh dan memancarkan kebijaksanaan.
“Wahai Kakek yang berhati baik,” ujar lelaki itu, “di bawah tanah desa ini tersimpan sumber air yang sangat besar. Galilah tanah di bawah pohon tua yang berada di tengah desa. Air itu akan menyelamatkan kalian dari kekeringan. Namun, ingatlah, air tersebut harus digunakan bersama-sama. Selama penduduk desa hidup rukun dan tidak serakah, sumber air itu akan membawa kesejahteraan.”
Setelah menyampaikan pesan tersebut, lelaki berpakaian putih itu menghilang. Sang Kakek pun terbangun. Ia masih mengingat dengan jelas setiap perkataan yang didengarnya dalam mimpi.
Keesokan paginya, Sang Kakek segera mengumpulkan warga dan menceritakan mimpinya. Sebagian warga mempercayainya, tetapi sebagian lainnya menganggapnya hanya sebagai bunga tidur. Namun, karena keadaan semakin sulit, mereka akhirnya sepakat mengikuti petunjuk dalam mimpi tersebut. Dengan membawa cangkul dan peralatan sederhana, mereka menggali tanah di bawah pohon tua yang berada di tengah desa.
Berhari-hari mereka menggali, tetapi belum juga menemukan air. Beberapa warga mulai kehilangan harapan. Sang Kakek terus menyemangati mereka agar tidak menyerah.
“Bersabarlah. Jika kita bekerja bersama-sama dengan hati yang tulus, pertolongan pasti akan datang,” katanya.
Pada hari berikutnya, salah seorang warga menancapkan cangkulnya lebih dalam. Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh dari bawah tanah. Sesaat kemudian, air jernih memancar dengan sangat deras. Para warga bersorak gembira. Mereka menampung air itu untuk diminum, memasak, mengairi sawah, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Air terus mengalir tanpa henti hingga menggenangi tanah di sekitarnya. Dalam waktu singkat, genangan tersebut berubah menjadi sebuah danau yang luas. Desa yang semula kering kembali subur. Tanaman tumbuh menghijau dan kehidupan masyarakat perlahan-lahan membaik.
Namun, setelah hidup berkecukupan, beberapa warga mulai melupakan pesan lelaki tua dalam mimpi Sang Kakek. Mereka menjadi serakah dan ingin menguasai sumber air tersebut. Ada yang menjual air dengan harga sangat mahal, bahkan ada pula yang melarang warga miskin mengambil air dari danau.
Sang Kakek merasa sangat sedih menyaksikan perubahan perilaku mereka. Ia pun mendatangi warga dan mengingatkan mereka.
“Danau ini merupakan anugerah untuk kita semua. Airnya muncul karena kita bekerja bersama-sama. Janganlah kalian menguasainya untuk kepentingan sendiri. Keserakahan hanya akan mendatangkan kesengsaraan,” nasihat Sang Kakek.
Sayangnya, sebagian besar warga yang telah dikuasai keserakahan tidak mau mendengarkan. Mereka justru mengejek dan mengusir Sang Kakek. Dengan hati kecewa, ia kembali ke gubuknya sambil berharap warga segera menyadari kesalahan mereka.
Pada malam harinya, langit yang semula cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap. Awan hitam berkumpul di atas desa. Petir menyambar, angin bertiup sangat kencang, dan hujan turun dengan derasnya. Air danau terus naik hingga meluap dan merendam rumah-rumah, sawah, serta tempat penyimpanan hasil panen.
Warga berlarian menyelamatkan diri. Dalam keadaan ketakutan, mereka teringat akan nasihat Sang Kakek. Mereka akhirnya menyadari bahwa bencana tersebut terjadi karena mereka telah melupakan kebersamaan dan membiarkan keserakahan menguasai hati.
Setelah hujan berhenti dan air mulai surut, para warga mendatangi Sang Kakek untuk meminta maaf. Mereka berjanji tidak akan lagi memperebutkan atau menguasai sumber air tersebut. Sejak saat itu, air danau digunakan secara adil untuk kepentingan bersama. Mereka kembali hidup rukun, bergotong royong, dan saling menolong tanpa membedakan orang kaya maupun miskin.
Danau itu kemudian dikenal dengan nama Situ Cipondoh. Dalam bahasa Sunda, kata situ berarti ‘danau’. Hingga kini, Situ Cipondoh menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa kekayaan alam merupakan anugerah yang harus dijaga dan dimanfaatkan bersama-sama.
Legenda Situ Cipondoh mengajarkan bahwa persatuan, kepedulian, dan sikap saling menolong akan membawa kesejahteraan. Sebaliknya, keserakahan dan keinginan menguasai sesuatu untuk kepentingan pribadi hanya akan mendatangkan perselisihan dan bencana.
Versi Bahasa Jepang
チポンドー湖の伝説
昔々、タンゲランのチポンドーという地域に、田畑と木々に囲まれた小さな村があった。村人の多くは農業や漁業を営んでいた。暮らしは決して豊かではなかったが、村人たちはいつも仲良く暮らし、困っている人がいれば互いに助け合っていた。
その村には、小さな小屋で一人暮らしをしている貧しいおじいさんがいた。おじいさんは財産をほとんど持っていなかったが、とても心が優しく、人を助けることが好きだった。食べ物が少ないときでも、困っている隣人がいれば、自分の食べ物を分け与えた。そのため、村人たちはおじいさんを深く尊敬していた。
ある年、村は長い日照りに見舞われた。何か月たっても雨が降らず、川や井戸の水は次第に干上がっていった。田畑の土にはひびが入り、作物は実る前に枯れてしまった。水や食べ物も少なくなり、村人たちはこれからどうやって暮らしていけばよいのか分からず、不安な日々を過ごしていた。
そんなある夜のことだった。おじいさんが小屋で眠っていると、不思議な夢を見た。夢の中に、白い服を着た一人の老人が現れた。その老人は穏やかな顔をしていて、どこか不思議な雰囲気を漂わせていた。
老人はおじいさんにこう言った。
「心の優しいおじいさんよ。この村の地下には、大きな水源が眠っている。村の中央にある古い木の下を掘るのだ。そこから湧き出す水が、村を日照りから救ってくれるだろう。ただし、その水は村人みんなで使わなければならない。村人たちが仲良く暮らし、欲張らないかぎり、その水は村に豊かさをもたらすだろう」
そう言い終えると、白い服を着た老人は静かに姿を消した。おじいさんは目を覚ましたが、夢の中で聞いた言葉を一つ一つはっきりと覚えていた。
翌朝、おじいさんはすぐに村人たちを集め、昨夜の夢について話した。おじいさんの話を信じる者もいれば、ただの夢にすぎないと言って信じない者もいた。しかし、村の状況はますます苦しくなっていたため、村人たちは夢のお告げに従ってみることにした。
村人たちは鍬などの道具を持ち寄り、村の中央に立っている古い木の下を一緒に掘り始めた。
何日間掘り続けても、水はなかなか出てこなかった。疲れ果て、希望を失いかける者もいた。それでも、おじいさんは村人たちを励まし続けた。
「諦めてはいけない。みんなが心を一つにして、一生懸命に働けば、きっと助けがやって来る」
その言葉を聞いた村人たちは、もう一度力を合わせて地面を掘り続けた。
すると翌日、一人の村人が鍬を深く振り下ろしたとき、突然、地面の下から大きな音が聞こえてきた。その直後、地中から澄んだ水が勢いよく噴き出した。
「水が出たぞ!」
村人たちは歓声を上げた。彼らはその水を飲み水や料理に使い、田畑にも引いた。日照りに苦しんでいた村に、ようやく希望が戻ってきた。
しかし、水は止まることなく湧き続け、やがて周囲の土地を満たしていった。しばらくすると、その場所には大きな湖ができた。乾ききっていた村は再び緑に包まれ、田畑では作物が育つようになった。村人たちの暮らしも、少しずつ豊かになっていった。
ところが、豊かな生活を取り戻すと、一部の村人たちは白い服を着た老人の言葉を忘れてしまった。彼らは欲深くなり、湖の水を自分たちだけのものにしようと考えるようになった。水を高い値段で売る者もいれば、貧しい人々が湖の水を使うことを禁じる者さえいた。
村人たちの変わり果てた姿を見たおじいさんは、深く悲しんだ。おじいさんは彼らのもとを訪れ、こう言って戒めた。
「この湖は、村人みんなに与えられた恵みだ。みんなで力を合わせたからこそ、この水は湧き出したのだ。自分だけの利益のために、水を独占してはいけない。欲深い心は、いつか必ず災いを招く」
しかし、欲に取りつかれた村人たちは、おじいさんの忠告に耳を貸そうとしなかった。それどころか、おじいさんを笑いものにし、その場から追い返してしまった。おじいさんは悲しい気持ちで小屋へ帰り、村人たちが一日も早く過ちに気づくよう願った。
その夜、晴れていた空が突然暗くなり、村の上空を黒い雲が覆った。雷が鳴り響き、激しい風が吹き荒れ、大雨が降り始めた。雨は一晩中降り続け、湖の水はしだいに増えていった。
やがて湖の水があふれ、村の家々や田畑、収穫物を保管していた倉庫まで水にのみ込まれた。村人たちは恐怖に震えながら、必死になって安全な場所へ逃げた。
そのとき、村人たちはおじいさんの忠告を思い出した。そして、自分たちの欲深い行いが、この災いを招いたのだと気づいた。
雨がやみ、湖の水が引き始めると、村人たちはおじいさんの小屋を訪れた。彼らは自分たちの行いを心から謝り、二度と湖の水を独占したり、奪い合ったりしないと誓った。
それからというもの、村人たちは湖の水を公平に使うようになった。裕福な者も貧しい者も区別することなく、再び仲良く暮らし、互いに助け合った。
その湖は、後に「シトゥ・チポンドー」と呼ばれるようになった。スンダ語で「シトゥ」は「湖」を意味する。シトゥ・チポンドーは、自然の恵みを大切に守り、みんなで公平に分かち合わなければならないことを、人々に伝え続けている。
この伝説は、団結する心、他者を思いやる心、そして互いに助け合うことが、人々に幸福と豊かさをもたらすと教えている。一方で、欲深さや自分だけの利益を求める行いは、争いや災いを引き起こすことも教えている。
Chipondō-ko no Densetsu
Mukashi mukashi, Tangeran no Chipondō to iu chiiki ni, tahata to kigi ni kakomareta chiisana mura ga atta. Murabito no ōku wa nōgyō ya gyogyō o itonande ita. Kurashi wa kesshite yutaka de wa nakatta ga, murabito-tachi wa itsumo nakayoku kurashi, komatte iru hito ga ireba tagai ni tasukeatte ita.
Sono mura ni wa, chiisana koya de hitorigurashi o shite iru mazushii ojīsan ga ita. Ojīsan wa zaisan o hotondo motte inakatta ga, totemo kokoro ga yasashiku, hito o tasukeru koto ga suki datta. Tabemono ga sukunai toki demo, komatte iru rinjin ga ireba, jibun no tabemono o wakeataeta. Sono tame, murabito-tachi wa ojīsan o fukaku sonkei shite ita.
Aru toshi, mura wa nagai hideri ni miwareta. Nankagetsu tatte mo ame ga furazu, kawa ya ido no mizu wa shidai ni hiagatte itta. Tahata no tsuchi ni wa hibi ga hairi, sakumotsu wa minoru mae ni karete shimatta. Mizu ya tabemono mo sukunaku nari, murabito-tachi wa kore kara dō yatte kurashite ikeba yoi no ka wakarazu, fuan na hibi o sugoshite ita.
Sonna aru yoru no koto datta. Ojīsan ga koya de nemutte iru to, fushigi na yume o mita. Yume no naka ni, shiroi fuku o kita hitori no rōjin ga arawareta. Sono rōjin wa odayaka na kao o shite ite, dokoka fushigi na fun’iki o tadayowasete ita.
Rōjin wa ojīsan ni kō itta.
“Kokoro no yasashii ojīsan yo. Kono mura no chika ni wa, ōkina suigen ga nemutte iru. Mura no chūō ni aru furui ki no shita o horu no da. Soko kara wakidasu mizu ga, mura o hideri kara sukutte kureru darō. Tadashi, sono mizu wa murabito minna de tsukawanakereba naranai. Murabito-tachi ga nakayoku kurashi, yokubaranai kagiri, sono mizu wa mura ni yutakasa o motarasu darō.”
Sō iioeru to, shiroi fuku o kita rōjin wa shizuka ni sugata o keshita. Ojīsan wa me o samashita ga, yume no naka de kiita kotoba o hitotsu hitotsu hakkiri to oboete ita.
Yokuasa, ojīsan wa sugu ni murabito-tachi o atsume, sakuya no yume ni tsuite hanashita. Ojīsan no hanashi o shinjiru mono mo ireba, tada no yume ni suginai to itte shinjinai mono mo ita. Shikashi, mura no jōkyō wa masumasu kurushiku natte ita tame, murabito-tachi wa yume no otsuge ni shitagatte miru koto ni shita.
Murabito-tachi wa kuwa nado no dōgu o mochiyori, mura no chūō ni tatte iru furui ki no shita o issho ni horihajimeta.
Nanokakan horitsuzukete mo, mizu wa nakanaka dete konakatta. Tsukarehate, kibō o ushinaikakeru mono mo ita. Soredemo, ojīsan wa murabito-tachi o hagemashitsuzuketa.
“Akiramete wa ikenai. Minna ga kokoro o hitotsu ni shite, isshōkenmei ni hatarakeba, kitto tasuke ga yatte kuru.”
Sono kotoba o kiita murabito-tachi wa, mō ichido chikara o awasete jimen o horitsuzuketa.
Suruto yokujitsu, hitori no murabito ga kuwa o fukaku furioroshita toki, totsuzen, jimen no shita kara ōkina oto ga kikoete kita. Sono chokugo, chichū kara sunda mizu ga ikioi yoku fukidashita.
“Mizu ga deta zo!”
Murabito-tachi wa kansei o ageta. Karera wa sono mizu o nomimizu ya ryōri ni tsukai, tahata ni mo hiita. Hideri ni kurushinde ita mura ni, yōyaku kibō ga modotte kita.
Shikashi, mizu wa tomaru koto naku wakitsuzuke, yagate shūi no tochi o mitashite itta. Shibaraku suru to, sono basho ni wa ōkina mizuumi ga dekita. Kawakikitte ita mura wa futatabi midori ni tsutsumare, tahata de wa sakumotsu ga sodatsu yō ni natta. Murabito-tachi no kurashi mo, sukoshi zutsu yutaka ni natte itta.
Tokoroga, yutaka na seikatsu o torimodosu to, ichibu no murabito-tachi wa shiroi fuku o kita rōjin no kotoba o wasurete shimatta. Karera wa yokubukaku nari, mizuumi no mizu o jibun-tachi dake no mono ni shiyō to kangaeru yō ni natta. Mizu o takai nedan de uru mono mo ireba, mazushii hitobito ga mizuumi no mizu o tsukau koto o kinjiru mono sae ita.
Murabito-tachi no kawarihatesugata o mita ojīsan wa, fukaku kanashinda. Ojīsan wa karera no moto o otozure, kō itte imashimeta.
“Kono mizuumi wa, murabito minna ni ataerareta megumi da. Minna de chikara o awaseta kara koso, kono mizu wa wakidashita no da. Jibun dake no rieki no tame ni, mizu o dokusen shite wa ikenai. Yokubukai kokoro wa, itsuka kanarazu wazawai o maneku.”
Shikashi, yoku ni toritsukareta murabito-tachi wa, ojīsan no chūkoku ni mimi o kasō to shinakatta. Sore dokoro ka, ojīsan o waraimono ni shi, sono ba kara oidashite shimatta. Ojīsan wa kanashii kimochi de koya e kaeri, murabito-tachi ga ichinichi mo hayaku ayamachi ni kizuku yō negatta.
Sono yoru, harete ita sora ga totsuzen kuraku nari, mura no jōkū o kuroi kumo ga ōtta. Kaminari ga narihibiki, hageshii kaze ga fukiare, ōame ga furihajimeta. Ame wa hitobanjū furitsuzuke, mizuumi no mizu wa shidai ni fuete itta.
Yagate mizuumi no mizu ga afure, mura no ieie ya tahata, shūkakubutsu o hokan shite ita sōko made mizu ni nomikomareta. Murabito-tachi wa kyōfu ni furuenagara, hisshi ni natte anzen na basho e nigeta.
Sono toki, murabito-tachi wa ojīsan no chūkoku o omoidashita. Soshite, jibun-tachi no yokubukai okonai ga, kono wazawai o maneita no da to kizuita.
Ame ga yami, mizuumi no mizu ga hikihajimeru to, murabito-tachi wa ojīsan no koya o otozureta. Karera wa jibun-tachi no okonai o kokoro kara ayamari, nido to mizuumi no mizu o dokusen shitari, ubaiattari shinai to chikatta.
Sore kara to iu mono, murabito-tachi wa mizuumi no mizu o kōhei ni tsukau yō ni natta. Yūfuku na mono mo mazushii mono mo kubetsu suru koto naku, futatabi nakayoku kurashi, tagai ni tasukeatta.
Sono mizuumi wa, nochi ni “Situ Chipondō” to yobareru yō ni natta. Sūnda-go de “situ” wa “mizuumi” o imi suru. Situ Chipondō wa, shizen no megumi o taisetsu ni mamori, minna de kōhei ni wakachiawanakereba naranai koto o, hitobito ni tsutaetsuzukete iru.
Kono densetsu wa, danketsu suru kokoro, tasha o omoiyaru kokoro, soshite tagai ni tasukeau koto ga, hitobito ni kōfuku to yutakasa o motarasu to oshiete iru. Ippō de, yokubukasa ya jibun dake no rieki o motomeru okonai wa, arasoi ya wazawai o hikiokosu koto mo oshiete iru.
Versi Bahasa Inggris
The Legend of Situ Cipondoh
Once upon a time, in Cipondoh, Tangerang, there was a small village surrounded by rice fields and trees. Most of the villagers worked as farmers and fishermen. Although they lived simple lives and had little wealth, they lived in harmony and always helped one another in times of need.
In the village lived a poor old man who stayed alone in a small hut. Although he had almost no possessions, he was kind-hearted and always willing to help others. Even when he had little food, he would share it with neighbors in need. Because of his kindness and generosity, the villagers respected him deeply.
One year, a severe drought struck the village. No rain fell for months. The rivers and wells gradually dried up, the soil in the fields cracked, and the crops withered before they could be harvested. Water and food became increasingly scarce. The villagers grew anxious because they did not know how they would survive.
One night, while the old man was sleeping in his hut, he had a mysterious dream. In the dream, an elderly man dressed entirely in white appeared before him. He had a gentle face and was surrounded by a mysterious presence.
The white-robed man said, “Kind-hearted old man, a great spring lies hidden beneath this village. Dig under the ancient tree in the center of the village. Water will rise from the ground and save your people from the drought. However, it must be shared by everyone. As long as the villagers live in harmony and do not become greedy, the water will bring prosperity to the village.”
After delivering the message, the mysterious man quietly disappeared. The old man awoke, but he could still remember every word he had heard in the dream.
The following morning, the old man gathered the villagers and told them about his dream. Some believed him, while others dismissed it as nothing more than a dream. However, as their situation was becoming increasingly desperate, they finally agreed to follow the instructions.
The villagers brought hoes and other simple tools to the ancient tree in the center of the village. Working together, they began to dig beneath it.
They dug for several days, but no water appeared. Some villagers became exhausted and began to lose hope. Nevertheless, the old man continued to encourage them.
“Do not give up,” he said. “If we work together with sincere hearts, help will surely come.”
Encouraged by his words, the villagers once again joined forces and continued digging.
The next day, as one of the villagers drove his hoe deep into the earth, a loud rumbling sound suddenly came from underground. A moment later, clear water burst from the earth with tremendous force.
“Water! We have found water!” the villagers shouted joyfully.
They used the water for drinking, cooking, and irrigating their fields. At last, hope returned to the drought-stricken village.
However, the water continued to flow without stopping and gradually filled the surrounding land. Before long, a vast lake had formed. The dry village became green once again, crops began to grow in the fields, and the villagers’ lives slowly became prosperous.
Unfortunately, after their lives had improved, some villagers forgot the warning given by the white-robed man. Greed began to take root in their hearts, and they wanted to claim the lake for themselves. Some sold its water at unreasonably high prices, while others even prevented poor villagers from taking any water.
The old man was deeply saddened when he saw how much they had changed. He went to them and offered a warning.
“This lake is a blessing given to all of us,” he said. “The water appeared because we worked together. You must not control it for your own benefit. Greed will only bring suffering and disaster.”
However, the greedy villagers refused to listen. Instead, they mocked the old man and drove him away. With a heavy heart, he returned to his hut, hoping that the villagers would soon realize their mistake.
That night, the clear sky suddenly turned dark. Black clouds gathered above the village. Thunder roared, strong winds swept across the land, and heavy rain began to fall. The rain continued throughout the night, causing the water in the lake to rise higher and higher.
Eventually, the lake overflowed. The floodwaters submerged houses and fields, as well as the barns where the villagers stored their crops. Terrified, the villagers ran for their lives and searched for a safe place.
At that moment, they remembered the old man’s warning. They finally realized that their greed had brought the disaster upon them.
When the rain stopped and the floodwaters began to recede, the villagers went to the old man’s hut. They sincerely apologized for their actions and promised never again to claim the lake for themselves or fight over its water.
From that day forward, the villagers shared the water fairly. Rich and poor alike were allowed to use it. They returned to living in harmony, working together, and helping one another.
The lake later became known as Situ Cipondoh. In the Sundanese language, the word situ means “lake.” To this day, Situ Cipondoh reminds people that nature is a precious gift that must be protected and shared fairly.
The legend of Situ Cipondoh teaches us that unity, compassion, and mutual assistance can bring happiness and prosperity. In contrast, greed and the desire to control something for personal gain will only lead to conflict, suffering, and disaster.