Nama : Ira Popi Laurina
NIM : 091241007
Dahulu kala, di tanah Pasundan, Jawa Barat, hiduplah seorang perempuan cantik bernama Dayang Sumbi. Selain terkenal karena kecantikannya, Dayang Sumbi juga dikenal memiliki kesaktian dan awet muda. Ia tinggal seorang diri bersama putra semata wayangnya yang bernama Sangkuriang.
Sangkuriang tumbuh menjadi anak laki-laki yang kuat, lincah, dan gemar berburu. Ke mana pun pergi, ia selalu ditemani seekor anjing setia bernama Tumang. Namun, Sangkuriang tidak pernah mengetahui bahwa Tumang sebenarnya adalah ayah kandungnya yang mendapat kutukan hingga berubah menjadi seekor anjing.
Suatu hari, Sangkuriang pergi berburu ke hutan bersama Tumang. Namun hingga matahari mulai condong ke barat, mereka belum juga mendapatkan seekor buruan pun. Karena kesal dan lapar, Sangkuriang menyuruh Tumang mengejar seekor rusa yang terlihat melintas di semak-semak.
Akan tetapi, Tumang hanya diam dan tidak mau mengejar rusa tersebut. Hal itu membuat Sangkuriang murka. Dalam kemarahannya, ia memanah Tumang hingga mati. Setelah itu, ia membawa pulang hati Tumang untuk diserahkan kepada ibunya.
Sesampainya di rumah, Dayang Sumbi memasak hati itu tanpa mengetahui asalnya. Setelah makan, Dayang Sumbi mencari Tumang karena anjing kesayangannya belum juga pulang. Ketika Sangkuriang akhirnya mengaku bahwa hati yang dimakan mereka adalah hati Tumang, Dayang Sumbi sangat terkejut dan marah.
Dengan penuh emosi, Dayang Sumbi memukul kepala Sangkuriang menggunakan sendok nasi hingga terluka. Karena kecewa dan sedih atas perbuatan anaknya, Dayang Sumbi pun mengusir Sangkuriang dari rumah.
Sangkuriang pergi mengembara meninggalkan kampung halamannya. Bertahun-tahun lamanya ia hidup di perantauan hingga tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan sakti.
Sementara itu, Dayang Sumbi tetap terlihat muda dan cantik berkat kesaktian yang dimilikinya.
Suatu hari, Sangkuriang kembali ke daerah asalnya. Di perjalanan, ia bertemu dengan seorang perempuan cantik yang tidak lain adalah Dayang Sumbi. Karena sudah bertahun-tahun berpisah, keduanya tidak saling mengenali.
Sangkuriang pun jatuh cinta kepada Dayang Sumbi dan berniat menikahinya.
Ketika Sangkuriang datang melamar, Dayang Sumbi mulai merasa curiga. Ia kemudian melihat bekas luka di kepala pemuda itu dan akhirnya sadar bahwa lelaki tersebut adalah Sangkuriang, anak kandungnya sendiri.
Dayang Sumbi pun sangat terkejut dan ketakutan. Ia berusaha mencari cara agar pernikahan itu tidak terjadi.
Akhirnya, Dayang Sumbi mengajukan syarat yang mustahil dipenuhi. Ia meminta Sangkuriang membuat sebuah danau dan sebuah perahu besar hanya dalam waktu satu malam, sebelum fajar menyingsing.
Tanpa ragu, Sangkuriang menyanggupi permintaan itu. Dengan bantuan makhluk-makhluk gaib, ia mulai membendung sungai untuk membuat danau dan menebang pohon-pohon besar untuk dijadikan perahu.
Sedikit demi sedikit, pekerjaan itu hampir selesai. Dayang Sumbi menjadi panik melihat Sangkuriang hampir berhasil memenuhi syarat tersebut.
Sebelum pekerjaan selesai, Dayang Sumbi segera mencari akal. Ia membentangkan kain putih di sebelah timur dan menyalakan api sehingga langit tampak terang seperti fajar telah tiba. Ayam-ayam pun mulai berkokok mengira hari sudah pagi.
Makhluk-makhluk gaib yang membantu Sangkuriang segera menghilang karena mengira matahari telah terbit.
Melihat usahanya gagal, Sangkuriang sangat marah. Dengan amarah yang meluap-luap, ia menendang perahu besar yang belum selesai dibuat itu hingga terbalik.
Konon, perahu yang terbalik itulah yang kemudian menjadi Gunung Tangkuban Perahu, yang bentuknya menyerupai perahu terbalik dan masih dapat dilihat hingga sekarang di Jawa Barat.
Versi Bahasa Jepang
サンクリアンの伝説
昔々、西ジャワのパスンダン地方に、ダヤン・スンビという美しく不思議な力を持つ女性が暮らしていた。彼女には、サンクリアンという一人息子がいた。
サンクリアンは、力強く活発な少年へと成長し、狩りをすることが大好きだった。彼はいつも、トゥマンという一匹の犬を連れて山や森へ出かけていた。
しかし、サンクリアンは知らなかった。実はトゥマンは、呪いによって犬の姿に変えられてしまった実の父親だったのである。
ある日、サンクリアンはいつものようにトゥマンと一緒に狩りへ出かけた。しかし、その日は朝から森を歩き回っても、獲物を一匹も捕まえることができなかった。
夕方になり、空腹と疲れで苛立っていたサンクリアンは、茂みの中を走る鹿を見つけた。
「トゥマン、早く鹿を追え!」
そう命じたが、トゥマンは動こうとしなかった。
その態度に怒ったサンクリアンは、怒りのあまり弓を放ち、トゥマンを殺してしまった。そして彼は、トゥマンの心臓を持ち帰り、母への土産にした。
家に戻ると、ダヤン・スンビは、それがトゥマンの心臓だとは知らずに料理した。
食事の後、ダヤン・スンビは大切なトゥマンの姿が見えないことに気づき、不思議に思った。
やがてサンクリアンが真実を打ち明けると、ダヤン・スンビは激しく怒り、深く悲しんだ。
怒りのあまり、彼女は手に持っていたしゃもじでサンクリアンの頭を叩いた。その傷は深く、彼の頭には大きな傷跡が残った。
そしてダヤン・スンビは、サンクリアンを家から追い出してしまった。
サンクリアンは故郷を離れ、長い年月を放浪しながら生きていった。やがて彼は、たくましく立派な青年へと成長した。
一方、ダヤン・スンビは不思議な力によって、歳を取っても若く美しい姿を保っていた。
ある日、故郷へ戻ってきたサンクリアンは、一人の美しい女性と出会った。それがダヤン・スンビであるとは、二人とも気づかなかった。
サンクリアンはたちまち彼女に恋をし、結婚を申し込んだ。
しかし、ダヤン・スンビは彼の頭に残る傷跡を見て、その青年が自分の息子サンクリアンだと気づいた。
彼女は大きな衝撃を受け、この結婚を何としても止めなければならないと思った。
そこでダヤン・スンビは、決して果たせないような条件を出した。
「一晩のうちに、大きな湖と船を作ってください。」
サンクリアンは迷うことなく、その条件を引き受けた。
彼は不思議な力を持つ精霊たちを呼び集め、川をせき止めて湖を作り、巨大な木を切り倒して大きな船を作り始めた。
作業は驚くほど早く進み、夜明け前にはほとんど完成しようとしていた。
それを見たダヤン・スンビは恐ろしくなった。
彼女は急いで白い布を東の空に広げ、火を灯して、まるで朝が来たかのように見せかけた。すると、鶏たちは本当に夜明けが来たと思い、一斉に鳴き始めた。
精霊たちは朝が来たと勘違いし、姿を消してしまった。
ようやく騙されたことに気づいたサンクリアンは、激しい怒りに震えた。
彼は完成目前だった大きな船を力いっぱい蹴り飛ばした。すると船は逆さまになり、そのまま山へと変わった。
その山こそが、現在の「タンクバン・プラフ山」であると、今も語り継がれているのである。
Sangkurian no Densetsu
Mukashi mukashi, Nishi Jawa no Pasundan chihō ni, Dayang Sumbi to iu utsukushiku fushigi na chikara o motsu josei ga kurashite ita. Kanojo ni wa, Sangkurian to iu hitori musuko ga ita.
Sangkurian wa, chikarazuyoku kappatsu na shōnen e to seichō shi, kari o suru koto ga daisuki datta. Kare wa itsumo, Tumang to iu ippiki no inu o tsurete yama ya mori e dekakete ita.
Shikashi, Sangkurian wa shiranakatta. Jitsu wa Tumang wa, noroi ni yotte inu no sugata ni kaerarete shimatta mi no chichioya datta no de aru.
Aru hi, Sangkurian wa itsumo no yō ni Tumang to issho ni kari e dekaketa. Shikashi, sono hi wa asa kara mori o arukimawatte mo, emono o ippiki mo tsukamaeru koto ga dekinakatta.
Yūgata ni nari, kūfuku to tsukare de iradatte ita Sangkurian wa, shigemi no naka o hashiru shika o mitsuketa.
“Tumang, hayaku shika o oe!”
Sō meijita ga, Tumang wa ugokō to shinakatta.
Sono taido ni okotta Sangkurian wa, ikari no amari yumi o hanachi, Tumang o koroshite shimatta. Soshite kare wa, Tumang no shinzō o mochikaeri, haha e no miyage ni shita.
Ie ni modoru to, Dayang Sumbi wa, sore ga Tumang no shinzō da to wa shirazu ni ryōri shita.
Shokuji no ato, Dayang Sumbi wa taisetsu na Tumang no sugata ga mienai koto ni kizuki, fushigi ni omotta.
Yagate Sangkurian ga shinjitsu o uchiaketa to, Dayang Sumbi wa hageshiku okori, fukaku kanashinda.
Ikari no amari, kanojo wa te ni motte ita shamoji de Sangkurian no atama o tataita. Sono kizu wa fukaku, kare no atama ni wa ōkina kizuatoga nokotta.
Soshite Dayang Sumbi wa, Sangkurian o ie kara oidashite shimatta.
Sangkurian wa furusato o hanare, nagai toshitsuki o hōrō shinagara ikite itta. Yagate kare wa, takumashiku rippa na seinen e to seichō shita.
Ippō, Dayang Sumbi wa fushigi na chikara ni yotte, toshi o totte mo wakaku utsukushii sugata o tamotte ita.
Aru hi, furusato e modotte kita Sangkurian wa, hitori no utsukushii josei to deatta. Sore ga Dayang Sumbi de aru to wa, futari tomo kizukanakatta.
Sangkurian wa tachimachi kanojo ni koi o shi, kekkon o mōshikonda.
Shikashi, Dayang Sumbi wa kare no atama ni nokoru kizuat o mite, sono seinen ga jibun no musuko Sangkurian da to kizuita.
Kanojo wa ōkina shōgeki o uke, kono kekkon o nantoshite mo tomena kereba naranai to omotta.
Soko de Dayang Sumbi wa, kesshite hatasenai yō na jōken o dashita.
“Hitoban no uchi ni, ōkina mizuumi to fune o tsukutte kudasai.”
Sangkurian wa mayou koto naku, sono jōken o hikiuketa.
Kare wa fushigi na chikara o motsu seireitachi o yobiatume, kawa o sekitomete mizuumi o tsukuri, kyodai na ki o kiritaoshite ōkina fune o tsukuri hajimeta.
Sagyo wa odoroku hodo hayaku susumi, yoake mae ni wa hotondo kansei shiyō to shite ita.
Sore o mita Dayang Sumbi wa osoroshiku natta.
Kanojo wa isoide shiroi nuno o higashi no sora ni hiroge, hi o tomoshite, marude asa ga kita ka no yō ni misekaketa. Suru to, niwatori-tachi wa hontō ni yoake ga kita to omoi, issei ni naki hajimeta.
Seireitachi wa asa ga kita to kanchigai shi, sugata o keshite shimatta.
Yōyaku damasareta koto ni kizuita Sangkurian wa, hageshii ikari ni furuita.
Kare wa kansei mokuzendatta ōkina fune o chikara ippai ketobashita. Suru to fune wa sakasama ni nari, sono mama yama e to kawatta.
Sono yama koso ga, genzai no “Tangkuban Perahu-san” de aru to, ima mo kataritsugarete iru no de aru.
Versi Bahasa Inggris
The Legend of Sangkuriang
Long ago, in the land of Pasundan in West Java, there lived a beautiful woman named Dayang Sumbi. She was known not only for her beauty, but also for the magical powers she possessed. Dayang Sumbi lived with her only son, Sangkuriang.
Sangkuriang grew into a strong, energetic young boy who loved hunting. Wherever he went, he was always accompanied by his loyal dog named Tumang.
However, Sangkuriang did not know that Tumang was actually his own father, who had been cursed and transformed into a dog.
One day, Sangkuriang went hunting in the forest with Tumang as usual. They wandered through the woods from morning until evening, but they failed to catch any prey.
Tired, hungry, and frustrated, Sangkuriang suddenly saw a deer running through the bushes.
“Tumang, chase that deer!” he ordered.
But Tumang remained silent and refused to move.
Filled with anger, Sangkuriang lost control of himself. He shot Tumang with his weapon and killed him. Then he took Tumang’s heart home as a gift for his mother.
When he arrived home, Dayang Sumbi cooked the heart without knowing where it came from. After the meal, she realized that Tumang had not returned home. Curious and worried, she asked Sangkuriang what had happened.
At last, Sangkuriang confessed the truth.
Hearing the terrible story, Dayang Sumbi became furious and heartbroken. In her anger, she struck Sangkuriang on the head with a rice spoon. The blow left a deep scar on his head.
Unable to forgive him, Dayang Sumbi drove Sangkuriang away from home.
Sangkuriang wandered far from his homeland for many years. Over time, he grew into a handsome, strong, and powerful young man.
Meanwhile, because of her magical powers, Dayang Sumbi remained youthful and beautiful despite the passing years.
One day, Sangkuriang returned to his homeland. During his journey, he met a beautiful woman and instantly fell in love with her. Neither of them realized that they were mother and son.
Sangkuriang eventually asked Dayang Sumbi to marry him.
However, when Dayang Sumbi noticed the scar on his head, she was shocked to discover that the young man was actually her own son, Sangkuriang.
Terrified and desperate to stop the marriage, Dayang Sumbi came up with an impossible condition.
“If you truly wish to marry me,” she said, “you must build a great lake and a giant boat in a single night before dawn.”
Without hesitation, Sangkuriang accepted the challenge.
Using his supernatural powers, he summoned spirits and magical creatures to help him. Together, they blocked the river to create a lake and cut down enormous trees to build a massive boat.
The work progressed incredibly fast, and before sunrise, the task was almost complete.
Seeing this, Dayang Sumbi became frightened and panicked.
Before Sangkuriang could finish his work, she spread a large white cloth in the eastern sky and lit fires to make it appear as though dawn had arrived. Roosters began crowing, believing morning had come.
The spirits who were helping Sangkuriang disappeared at once, thinking the night was over.
Realizing that he had been tricked, Sangkuriang was consumed by rage. In his fury, he kicked the unfinished boat with all his strength until it overturned.
According to legend, the overturned boat later became Mount Tangkuban Perahu, a mountain in West Java whose shape resembles an upside-down boat and can still be seen today.
Versi Bahasa Jawa
Legenda Sangkuriang
Mbiyen banget, ing tanah Pasundan, Jawa Barat, urip sawijining wanita ayu aran Dayang Sumbi. Dheweke ora mung misuwur amarga ayune, nanging uga amarga nduweni kasekten lan kekuwatan gaib. Dayang Sumbi urip karo anak lanang siji-sijine sing jenenge Sangkuriang.
Sangkuriang tuwuh dadi bocah lanang sing kuwat, sregep, lan seneng banget mburu. Saben lunga menyang alas utawa gunung, dheweke tansah ditemani asune sing setya aran Tumang.
Nanging, Sangkuriang ora ngerti yen Tumang sejatiné yaiku bapak kandunge dhewe sing kena kutuk nganti malih dadi asu.
Ing sawijining dina, kaya biyasane, Sangkuriang lunga mburu bebarengan karo Tumang. Wiwit esuk nganti sore dheweke mlaku-mlaku ing alas, nanging ora entuk kewan buruan siji wae.
Amarga kesel, luwe, lan nesu, Sangkuriang weruh ana kidang mlayu ing semak-semak.
“Tumang, cepet kejar kidang kuwi!” prentahe Sangkuriang.
Nanging Tumang mung meneng lan ora gelem nuruti.
Weruh Tumang ora obah, Sangkuriang dadi nesu banget. Kanthi emosi sing ora bisa dikendhaleni, dheweke mateni Tumang. Sawise kuwi, atiné Tumang digawa mulih kanggo diparingake marang ibune.
Nalika tekan omah, Dayang Sumbi masak ati kuwi tanpa ngerti yen kuwi atiné Tumang.
Sawise mangan, Dayang Sumbi rumangsa aneh amarga Tumang durung bali. Dheweke banjur takon marang Sangkuriang apa sing wis kedadeyan.
Pungkasane, Sangkuriang ngakoni kabeh sing wis ditindakake.
Krungu pengakuan kuwi, Dayang Sumbi nesu lan sedhih banget. Kanthi emosi, dheweke mukul sirahé Sangkuriang nganggo centhong sega nganti ninggal tatu gedhe ing sirahe.
Amarga kecewa banget, Dayang Sumbi banjur ngusir Sangkuriang saka omah.
Sangkuriang lunga ngumbara adoh saka tanah kelairane nganti pirang-pirang taun. Suwe-suwe dheweke tuwuh dadi nom-noman sing gagah, tampan, lan nduweni kasekten gedhe.
Dene Dayang Sumbi, amarga kekuwatan gaib sing diduweni, tetep katon enom lan ayu sanajan wektu terus mlaku.
Ing sawijining dina, Sangkuriang bali maneh menyang tanah kelairane. Ing perjalanan, dheweke ketemu wanita ayu lan langsung tresna. Dheweke ora ngerti yen wanita kuwi sejatiné yaiku ibune dhewe, Dayang Sumbi.
Sangkuriang banjur nglamar Dayang Sumbi supaya gelem dadi bojone.
Nanging nalika Dayang Sumbi weruh tatu ing sirahé Sangkuriang, dheweke langsung kaget lan sadar yen nom-noman kuwi yaiku anak kandunge dhewe.
Dayang Sumbi dadi bingung lan wedi. Dheweke banjur golek cara supaya pernikahan kuwi ora kelakon.
Pungkasane, Dayang Sumbi menehi syarat sing mokal ditindakake.
“Yen pancen kowe pengin nikah karo aku, gawenen tlaga gedhe lan prau gedhe sajrone sewengi sadurunge esuk teka.”
Tanpa mikir dawa, Sangkuriang nyanggupi syarat kuwi.
Kanthi bantuan makhluk gaib lan roh-roh alus, dheweke mbendung kali kanggo nggawe tlaga lan nebang wit-witan gedhe kanggo nggawe prau raksasa.
Pakaryan kuwi maju kanthi cepet banget. Sadurunge fajar, prau lan tlaga meh rampung kabeh.
Weruh kuwi, Dayang Sumbi dadi panik lan wedi yen Sangkuriang bakal kasil.
Dheweke banjur nyebar kain putih ing sisih wetan lan ngobong geni supaya katon kaya esuk wis teka. Pitik-pitik banjur padha berkokok amarga nganggep wis wayah esuk.
Makhluk-makhluk gaib sing mbantu Sangkuriang langsung padha ilang amarga ngira wengi wis rampung.
Nalika ngerti yen awake diapusi, Sangkuriang nesu banget. Kanthi nesu sing nggegirisi, dheweke nendhang prau gedhe sing durung rampung kuwi nganti kebalik.
Miturut crita rakyat, prau sing kebalik kuwi banjur malih dadi Gunung Tangkuban Perahu, gunung ing Jawa Barat sing wujude kaya prau terbalik lan isih bisa dideleng nganti saiki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar