Senin, 11 Mei 2026

Legenda Rawa Pening

NAMA: AL Thoriq Muhammad Hugo

NIM: 091241005

Dahulu kala, di sebuah lembah yang terletak di antara Gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo, terdapat sebuah desa bernama Ngasem. Di desa itu hiduplah sepasang suami istri bernama Ki Hajar dan Nyai Selakanta. Mereka dikenal sebagai orang yang dermawan, ramah, dan suka menolong sesama sehingga sangat dihormati oleh masyarakat.

Meski hidup berkecukupan dan harmonis, ada satu hal yang membuat hati mereka sedih: mereka belum juga dikaruniai anak. Namun demikian, keduanya tetap hidup rukun. Setiap menghadapi persoalan, mereka selalu menyelesaikannya dengan musyawarah dan penuh kesabaran.

Suatu sore, Nyai Selakanta duduk termenung di depan rumah. Wajahnya tampak murung. Tak lama kemudian, Ki Hajar datang menghampiri dan duduk di sampingnya.

“Istriku, mengapa engkau tampak sedih?” tanya Ki Hajar lembut.

Nyai Selakanta tersadar dari lamunannya setelah Ki Hajar menyentuh pundaknya.

“Maaf, Kanda,” ucapnya pelan. “Dinda hanya merasa sepi. Andai di rumah ini terdengar tangis dan tawa seorang anak, tentu hidup kita akan lebih bahagia.”

Mendengar perkataan istrinya, Ki Hajar menghela napas panjang.

“Bersabarlah, Dinda. Mungkin belum waktunya Tuhan memberi kita keturunan. Kita harus terus berusaha dan berdoa.”

Air mata pun jatuh di pipi Nyai Selakanta. Ki Hajar yang tak tega melihat kesedihan istrinya akhirnya berkata,

“Jika memang itu yang Dinda inginkan, izinkan Kanda pergi bertapa memohon kepada Yang Mahakuasa.”

Dengan berat hati, Nyai Selakanta mengizinkan suaminya pergi bertapa di lereng Gunung Telomoyo.

Hari demi hari berlalu. Minggu berganti bulan, namun Ki Hajar belum juga kembali. Kesepian Nyai Selakanta semakin terasa. Hingga suatu hari, ia mengalami mual dan muntah-muntah. Ternyata, ia sedang mengandung.

Waktu kelahiran pun tiba. Namun alangkah terkejutnya Nyai Selakanta ketika bayi yang dilahirkannya bukan manusia, melainkan seekor naga. Meski demikian, naga kecil itu dapat berbicara layaknya manusia.

Nyai Selakanta menamai anak itu Baru Klinthing, diambil dari nama pusaka tombak milik Ki Hajar. Kata “baru” berarti keturunan Brahmana, sedangkan “klinthing” berarti lonceng.

Nyai Selakanta merasa bingung dan malu apabila warga mengetahui dirinya melahirkan seekor naga. Karena itu, ia merawat Baru Klinthing secara sembunyi-sembunyi hingga anak itu tumbuh besar.

Tahun demi tahun berlalu. Baru Klinthing tumbuh menjadi naga muda yang bijaksana. Suatu hari, ia bertanya kepada ibunya,

“Ibu, apakah aku mempunyai ayah?”

Nyai Selakanta terdiam sejenak, lalu menjawab,

“Ayahmu bernama Ki Hajar. Saat ini beliau sedang bertapa di lereng Gunung Telomoyo. Pergilah menemuinya.”

Sebagai bukti, Nyai Selakanta memberikan pusaka tombak Baru Klinthing milik Ki Hajar kepada anaknya.

Berangkatlah Baru Klinthing menuju Gunung Telomoyo. Setibanya di sebuah gua pertapaan, ia melihat seorang laki-laki sedang bersemedi. Orang itu tak lain adalah Ki Hajar.

Ki Hajar terkejut melihat seekor naga dapat berbicara seperti manusia.

“Siapa engkau?” tanya Ki Hajar.

“Saya Baru Klinthing,” jawab naga itu sopan. “Saya datang untuk menemui Ayah.”

Awalnya Ki Hajar tidak percaya. Namun setelah melihat pusaka tombaknya, ia mulai yakin. Meski begitu, ia masih ingin menguji kebenaran ucapan Baru Klinthing.

“Jika engkau benar anakku, lingkarilah Gunung Telomoyo ini!”

Dengan kesaktiannya, Baru Klinthing berhasil melingkari gunung tersebut. Sejak saat itu, Ki Hajar mengakui Baru Klinthing sebagai anaknya.

“Pergilah bertapa di Bukit Tugur,” pesan Ki Hajar. “Suatu hari nanti, tubuhmu akan berubah menjadi manusia.”

Baru Klinthing pun menuruti perintah ayahnya.

Sementara itu, di dekat Bukit Tugur terdapat sebuah desa makmur bernama Pathok. Sayangnya, penduduk desa itu sangat sombong dan angkuh.

Suatu hari, warga Desa Pathok mengadakan pesta sedekah bumi setelah panen raya. Untuk persiapan pesta, mereka berburu hewan di Bukit Tugur. Namun hingga sore, mereka tidak mendapatkan seekor pun hewan buruan.

Saat hendak pulang, mereka melihat seekor naga sedang bertapa. Tanpa rasa belas kasihan, mereka menangkap dan membunuh naga tersebut. Naga itu tak lain adalah Baru Klinthing.

Daging naga itu kemudian dipotong-potong dan dimasak untuk hidangan pesta.

Ketika pesta berlangsung meriah, datanglah seorang anak laki-laki bertubuh penuh luka dan berbau amis. Anak itu sebenarnya adalah penjelmaan Baru Klinthing.

Dengan lapar, ia meminta sedikit makanan kepada warga. Namun tak seorang pun mau memberinya makan.

“Pergi kau dari sini!” hardik warga. “Tubuhmu menjijikkan!”

Sedih dan kecewa, Baru Klinthing meninggalkan keramaian. Di tengah jalan, ia bertemu seorang janda tua bernama Nyi Latung.

“Hai, Nak. Mengapa kau tidak ikut berpesta?” tanya Nyi Latung.

“Mereka mengusirku, Nek. Padahal aku sangat lapar,” jawab Baru Klinthing.

Nyi Latung yang baik hati segera mengajak anak itu ke rumahnya dan memberinya makanan.

“Terima kasih, Nek,” kata Baru Klinthing haru. “Ternyata masih ada orang baik di desa ini.”

Nyi Latung pun bercerita bahwa dirinya juga tidak diundang karena dianggap hina oleh warga desa.

Mendengar itu, Baru Klinthing berkata,

“Mereka harus diberi pelajaran. Jika nanti Nenek mendengar suara gemuruh, cepatlah naik ke atas lesung kayu.”

Setelah itu, Baru Klinthing kembali ke tengah pesta sambil membawa sebatang lidi. Di depan seluruh warga, ia menancapkan lidi itu ke tanah.

“Jika kalian merasa kuat, cabutlah lidi ini!” tantangnya.

Satu per satu warga mencoba mencabut lidi tersebut, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Namun tak seorang pun berhasil.

Baru Klinthing lalu mencabut lidi itu dengan mudah. Seketika terdengar suara gemuruh dahsyat. Dari bekas tancapan lidi menyembur air sangat deras.

Air terus meluap hingga menenggelamkan seluruh Desa Pathok. Warga panik berusaha menyelamatkan diri, tetapi semuanya terlambat. Desa itu akhirnya berubah menjadi sebuah rawa luas.

Sementara itu, Nyi Latung berhasil menyelamatkan diri dengan menaiki lesung kayu seperti perahu, sesuai pesan Baru Klinthing.

Sejak saat itu, rawa tersebut dikenal dengan nama Rawa Pening. Konon, Baru Klinthing kembali berubah menjadi naga dan menjadi penjaga Rawa Pening hingga kini.

 Versi Bahasa Jepang

ラワ・プニンの伝説

昔々、メルバブ山とテロモヨ山の間に広がる谷に、ンガセムという小さな村があった。そこには、キー・ハジャールとニャイ・セラクンタという夫婦が暮らしていた。二人はとても親切で、困っている人を助ける心優しい人物として村人たちから深く尊敬されていた。

しかし、二人には長い間子どもがいなかった。それでも夫婦は仲睦まじく暮らし、どんな問題も話し合いながら支え合っていた。

ある日の夕暮れ、ニャイ・セラクンタは家の前で寂しそうに座り込んでいた。そこへキー・ハジャールがやって来て、優しく声をかけた。

「どうしたのだ、そんなに悲しそうな顔をして。」

ニャイ・セラクンタは涙を浮かべながら答えた。

「この家に子どもの笑い声や泣き声があれば、どんなに幸せでしょう。私は子どもが欲しいのです。」

妻の悲しみを見たキー・ハジャールは深くため息をつき、神に祈りを捧げるため、テロモヨ山の麓へ修行に行くことを決意した。

それから数か月が過ぎた頃、ニャイ・セラクンタは身ごもった。そして出産の日を迎える。しかし、生まれてきたのは人間の赤ん坊ではなく、一匹の竜だった。

彼女はその子を「バル・クリンティン」と名付けた。驚くべきことに、バル・クリンティンは竜の姿をしていながら、人間の言葉を話すことができた。

だが、ニャイ・セラクンタは村人に知られることを恐れ、彼を人目につかないよう密かに育てた。

年月が流れ、バル・クリンティンは成長した。ある日、彼は母に尋ねた。

「お母さん、僕にはお父さんがいるの?」

ニャイ・セラクンタは静かにうなずき、父がテロモヨ山で修行していることを話した。そして、父の持ち物である「バル・クリンティン」という名の矛を証として彼に渡した。

母の許しを得たバル・クリンティンは、父を探しにテロモヨ山へ向かった。

山の洞窟で修行していたキー・ハジャールは、言葉を話す竜を見て大変驚いた。最初は自分の子どもだとは信じなかったが、矛を見せられると次第に心が揺らいだ。

しかし、本当に自分の息子か確かめるため、キー・ハジャールは言った。

「もしお前が本当に私の子なら、このテロモヨ山を体で囲んでみよ。」

バル・クリンティンは不思議な力を使い、巨大な体で山を一周してみせた。その姿を見たキー・ハジャールは、ついに彼を自分の息子だと認めた。

そして父は言った。

「トゥグル丘で修行を続けなさい。いつの日か、お前は人間の姿になれるだろう。」

一方その頃、近くにはパトッという豊かな村があった。しかし、そこに住む人々はとても傲慢で、他人を見下す心を持っていた。

ある日、村人たちは豊作を祝う祭りを開くため、トゥグル丘へ狩りに出かけた。しかし、どれだけ探しても獲物は見つからない。

帰ろうとしたその時、彼らは修行している一匹の竜を見つけた。それこそがバル・クリンティンだった。

村人たちは容赦なく彼を捕らえ、その肉を切り分けて村へ持ち帰り、祭りの料理にしてしまった。

祭りが盛り上がる中、全身に傷を負い、生臭い匂いを漂わせる一人の少年が現れた。実はその少年こそ、人間の姿に変わったバル・クリンティンだった。

彼は空腹のため食べ物を求めたが、村人たちは彼を嫌悪し、罵声を浴びせて追い払った。

失意の中で歩いていた彼は、ニ・ラトゥンという心優しい老婆に出会った。

「どうして祭りに行かないのかい?」と老婆は尋ねた。

「皆に追い出されました。僕はお腹が空いているのです。」

事情を聞いたニ・ラトゥンは、彼を家へ招き、温かい食事を与えた。

その優しさに感謝したバル・クリンティンは、彼女にこう告げた。

「もし後で地響きが聞こえたら、すぐに木臼の上へ乗ってください。」

その後、バル・クリンティンは祭りの会場へ戻り、一本の小さな棒を地面に突き刺した。

「この棒を引き抜ける者はいるか?」

村人たちは次々と挑戦したが、誰一人として抜くことはできなかった。

するとバル・クリンティンは、軽々とその棒を引き抜いた。

その瞬間、大地が激しく揺れ始め、棒が刺さっていた場所から大量の水が噴き出した。水はみるみるうちに村全体を飲み込み、パトッ村は大洪水に襲われた。

逃げ惑う村人たちは、誰一人助かることができなかった。

しかし、ニ・ラトゥンだけは、バル・クリンティンの言葉どおり木臼を舟のように使い、命を救われた。

こうして村は大きな湖となり、後に「ラワ・プニン(澄んだ沼)」と呼ばれるようになった。

そしてバル・クリンティンは再び竜の姿へ戻り、永遠にラワ・プニンを守る守護神になったのである。

 

Rawa Puningu no Densetsu 

Mukashi mukashi, Merubabu-zan to Teromoyo-zan no aida ni hirogaru tani ni, Ngasem to iu chiisana mura ga atta. Soko ni wa, Kī Hajāru to Nyai Serakunta to iu fūfu ga kurashite ita. Futari wa totemo shinsetsu de, komatte iru hito o tasukeru kokoro yasashii jinbutsu to shite murabito-tachi kara fukaku sonkei sarete ita.

Shikashi, futari ni wa nagai aida kodomo ga inakatta. Soredemo fūfu wa naka mutsumajiku kurashi, donna mondai mo hanashiai nagara sasaeatte ita.

Aru hi no yūgure, Nyai Serakunta wa ie no mae de sabishisō ni suwatte ita. Soko e Kī Hajāru ga yatte kite, yasashiku koe o kaketa.

“Dō shita no da, sonna ni kanashisō na kao o shite.”

Nyai Serakunta wa namida o ukabenagara kotaeta.

“Kono ie ni kodomo no waraigoe ya nakigoe ga areba, donna ni shiawase deshou. Watashi wa kodomo ga hoshii no desu.”

Tsuma no kanashimi o mita Kī Hajāru wa fukaku tameiki o tsuki, kami ni inori o sasageru tame, Teromoyo-zan no fumoto e shugyō ni iku koto o ketsui shita.

Sore kara sūkagetsu ga sugita koro, Nyai Serakunta wa migomotta. Soshite shussan no hi o mukaeru. Shikashi, umarete kita no wa ningen no akanbō de wa naku, ippiki no ryū datta.

Kanojo wa sono ko o “Baru Kurintingu” to nazuketa. Odoroku beki koto ni, Baru Kurintingu wa ryū no sugata o shite inagara, ningen no kotoba o hanasu koto ga dekita.

Daga, Nyai Serakunta wa murabito ni shirareru koto o osore, kare o hitome ni tsukanai yō hisoka ni sodate ta.

Toshitsuki ga nagare, Baru Kurintingu wa seichō shita. Aru hi, kare wa haha ni tazuneta.

“Okaasan, boku ni wa otōsan ga iru no?”

Nyai Serakunta wa shizuka ni unazuki, chichi ga Teromoyo-zan de shugyō shite iru koto o hanashita. Soshite, chichi no mochimono de aru “Baru Kurintingu” to iu hoko o akashi to shite kare ni watashita.

Haha no yurushi o eta Baru Kurintingu wa, chichi o sagashi ni Teromoyo-zan e mukatta.

Yama no dōkutsu de shugyō shite ita Kī Hajāru wa, kotoba o hanasu ryū o mite taihen odoroita. Saisho wa jibun no kodomo da to wa shinjinakatta ga, hoko o miserareru to jidai ni kokoro ga yureta.

Shikashi, hontō ni jibun no musuko ka tashikameru tame, Kī Hajāru wa itta.

“Moshi omae ga hontō ni watashi no ko nara, kono Teromoyo-zan o karada de kakonde miyo.”

Baru Kurintingu wa fushigi na chikara o tsukai, kyodai na karada de yama o isshū shite miseta. Sono sugata o mita Kī Hajāru wa, tsuini kare o jibun no musuko da to mitometa.

Soshite chichi wa itta.

“Tuguru oka de shugyō o tsudzuken nasai. Itsu no hi ka, omae wa ningen no sugata ni nareru darō.”

Ippō sono koro, chikaku ni wa Patto to iu yutaka na mura ga atta. Shikashi, soko ni sumu hitobito wa totemo gōman de, tanin o mikudasu kokoro o motte ita.

Aru hi, murabito-tachi wa hōsaku o iwau matsuri o hiraku tame, Tuguru oka e kari ni dekaketa. Shikashi, dore dake sagashite mo emono wa mitsukaranai.

Kaerou to shita sono toki, karera wa shugyō shite iru ippiki no ryū o mitsuketa. Sore koso ga Baru Kurintingu datta.

Murabito-tachi wa yōsha naku kare o torae, sono niku o kiriwakete mura e mochikaeri, matsuri no ryōri ni shite shimatta.

Matsuri ga moriagaru naka, zenshin ni kizu o oi, namagusai nioi o tadayowaseru hitori no shōnen ga arawareta. Jitsu wa sono shōnen koso, ningen no sugata ni kawatta Baru Kurintingu datta.

Kare wa kūfuku no tame tabemono o motometa ga, murabito-tachi wa kare o ken’o shi, basei o abisete oiharatta.

Shitsui no naka de aruite ita kare wa, Ni Ratun to iu kokoro yasashii rōba ni deatta.

“Dōshite matsuri ni ikanai no kai?” to rōba wa tazuneta.

“Mina ni oidasa remashita. Boku wa onaka ga suite iru no desu.”

Jijō o kiita Ni Ratun wa, kare o ie e maneki, atatakai shokuji o ataeta.

Sono yasashisa ni kansha shita Baru Kurintingu wa, kanojo ni kō tsugeta.

“Moshi ato de jibiki ga kikoetara, sugu ni kiusu no ue e notte kudasai.”

Sono ato, Baru Kurintingu wa matsuri no kaijō e modori, ippon no chiisana bō o jimen ni tsukisashita.

“Kono bō o hikinu keru mono wa iru ka?”

Murabito-tachi wa tsugitsugi to chōsen shita ga, dare hitori to shite nuku koto wa dekinakatta.

Suruto Baru Kurintingu wa, karugaru to sono bō o hikinuita.

Sono shunkan, daichi ga hageshiku yure hajime, bō ga sashatte ita basho kara tairyō no mizu ga fukidashita. Mizu wa mirumiru uchi ni mura zentai o nomikomi, Patto mura wa daikōzui ni osowareta.

Nigemadou murabito-tachi wa, dare hitori tasukaru koto ga dekinakatta.

Shikashi, Ni Ratun dake wa, Baru Kurintingu no kotoba dōri kiusu o fune no yō ni tsukai, inochi o sukuwareta.

Kōshite mura wa ōkina mizuumi to nari, nochi ni “Rawa Peningu” to yobareru yō ni natta.

Soshite Baru Kurintingu wa futatabi ryū no sugata e modori, eien ni Rawa Peningu o mamoru shugoshin ni natta no de aru.

 

Versi Bahasa Inggris  

The Legend of Rawa Pening

Long ago, in a valley between Mount Merbabu and Mount Telomoyo, there stood a small village called Ngasem. In that village lived a married couple named Ki Hajar and Nyai Selakanta. They were known as kind and generous people who always helped others, so the villagers deeply respected them.

However, despite their happy marriage, they had no children. Even so, they lived peacefully and always solved their problems together with patience and understanding.

One evening, Nyai Selakanta sat quietly in front of her house with a sorrowful face. Seeing her sadness, Ki Hajar approached her gently.

“My wife, why do you look so unhappy?” he asked softly.

With tears in her eyes, Nyai Selakanta replied,

“This house feels so lonely. If only we could hear the laughter and cries of a child, our lives would be much happier.”

Hearing his wife’s heartfelt wish, Ki Hajar sighed deeply. He then decided to go to the foothills of Mount Telomoyo to meditate and pray to God for a child.

Months passed. One day, Nyai Selakanta realized that she was pregnant. When the time came to give birth, something astonishing happened. Instead of a human baby, she gave birth to a dragon.

She named the child Baru Klinthing, after Ki Hajar’s sacred spear. Amazingly, although he had the form of a dragon, Baru Klinthing could speak like a human being.

Nyai Selakanta felt both shocked and ashamed. Afraid that the villagers would discover her secret, she raised Baru Klinthing in hiding.

Years passed, and Baru Klinthing grew into a wise young dragon. One day, he asked his mother,

“Mother, do I have a father?”

Nyai Selakanta nodded and explained that his father, Ki Hajar, was meditating on Mount Telomoyo. She then gave Baru Klinthing his father’s sacred spear as proof of his identity.

After receiving his mother’s blessing, Baru Klinthing traveled to Mount Telomoyo in search of his father.

Inside a cave, he found Ki Hajar deep in meditation. Ki Hajar was shocked to see a dragon speaking in human language. At first, he refused to believe Baru Klinthing’s story. But after seeing the sacred spear, he began to doubt his disbelief.

Still, Ki Hajar wanted proof.

“If you are truly my son,” he said, “then circle Mount Telomoyo with your body.”

Using his magical power, Baru Klinthing wrapped his enormous body around the mountain. Witnessing this, Ki Hajar finally accepted him as his son.

Then Ki Hajar said,

“Go and continue your meditation on Tugur Hill. Someday, you may become human.”

Meanwhile, near Tugur Hill stood a prosperous village called Pathok. Unfortunately, the villagers were arrogant and looked down on others.

One day, the villagers prepared a grand harvest festival. To gather food for the celebration, they went hunting on Tugur Hill. However, after searching all day, they found no animals.

Just as they were about to return home, they discovered a dragon meditating on the hill. The dragon was Baru Klinthing.

Without mercy, the villagers captured and killed him. They cut up his flesh and brought it back to the village to cook for the feast.

That night, while the villagers enjoyed the celebration, a wounded boy with a foul smell suddenly appeared among them. In truth, the boy was Baru Klinthing in human form.

Hungry and weak, he asked for food. But instead of helping him, the villagers insulted and drove him away.

Heartbroken, Baru Klinthing wandered off until he met a kind old widow named Nyi Latung.

“My child, why are you not joining the festival?” she asked kindly.

“They chased me away,” Baru Klinthing answered sadly. “I am very hungry.”

Feeling pity for him, Nyi Latung invited him into her home and gave him warm food to eat.

Touched by her kindness, Baru Klinthing warned her,

“If you hear a loud rumbling sound later, quickly climb onto your wooden mortar.”

After that, Baru Klinthing returned to the festival carrying a small stick. In the middle of the crowd, he planted the stick firmly into the ground.

“If any of you are truly strong,” he challenged, “pull this stick out!”

One by one, the villagers tried to pull it out, but none of them succeeded.

Then Baru Klinthing stepped forward and easily pulled the stick from the earth.

At that very moment, the ground shook violently. Water burst out from the hole where the stick had been planted. The water rose higher and higher until it flooded the entire village.

The arrogant villagers panicked and tried to escape, but it was too late. The whole village was swallowed by the flood.

Only Nyi Latung survived, floating safely on her wooden mortar just as Baru Klinthing had instructed.

In time, the flooded village became a vast lake known as Rawa Pening, which means “Clear Swamp.”

As for Baru Klinthing, he returned to his dragon form and became the eternal guardian spirit of Rawa Pening.

 

Versi Bahasa Jawa

Legenda Rawa Pening 

Mbiyen banget, ana sawijining desa aran Ngasem sing mapan ana ing lembah antarane Gunung Merbabu lan Gunung Telomoyo. Ing desa kuwi urip pasangan bojo aran Ki Hajar lan Nyai Selakanta. Wong loro kuwi misuwur amarga becik atine, seneng tulung-tinulung, lan tansah welas asih marang sapadha-padha, mula padha diajeni dening warga desa.

Nanging, sanadyan uripe rukun lan cukup, dheweke durung diparingi anak. Senajan mangkono, Ki Hajar lan Nyai Selakanta tansah urip guyub lan ngrampungake saben masalah kanthi rembugan lan sabar.

Ing sawijining sore, Nyai Selakanta lungguh dhewe ing ngarep omah karo rai sedhih. Ki Hajar banjur nyedhaki lan takon kanthi alus.

“Dhik, kok katon susah ngono?”

Nyai Selakanta banjur mangsuli karo mripat kebak luh.

“Omah iki krasa sepi banget, Kakang. Andai wae ana swara tangise bocah lan guyune anak cilik, mesthi urip kita luwih bungah.”

Krungu pangandikane bojone, Ki Hajar banjur narik ambegan dawa. Dheweke mutusake lunga tapa menyang lereng Gunung Telomoyo kanggo ndedonga marang Gusti Kang Maha Kuwasa supaya diparingi anak.

Sawetara sasi banjur kliwat. Nyai Selakanta jebul ngandhut. Nanging nalika wayahe nglairake teka, dheweke kaget banget amarga bayi sing lair dudu manungsa, nanging naga.

Anak kuwi banjur dijenengi Baru Klinthing, dijupuk saka jeneng pusaka tumbak kagungane Ki Hajar. Senajan awujud naga, Baru Klinthing isa ngomong kaya manungsa.

Nyai Selakanta rumangsa bingung lan isin yen warga ngerti bab kuwi. Mula, Baru Klinthing diasuh kanthi didhelikake saka wong-wong desa.

Wektu terus mlaku. Baru Klinthing saya gedhe lan dadi naga enom sing wicaksana. Ing sawijining dina, dheweke takon marang ibune.

“Buk, apa aku nduweni bapak?”

Nyai Selakanta banjur nyritakake yen bapake yaiku Ki Hajar sing lagi tapa ing Gunung Telomoyo. Dheweke uga maringi pusaka tumbak Baru Klinthing minangka tandha.

Sawise njaluk pangestu marang ibune, Baru Klinthing budhal menyang Gunung Telomoyo nggoleki bapake.

Nalika tekan ing guwa panggonan tapa, dheweke ketemu Ki Hajar. Ki Hajar kaget weruh naga sing isa ngomong kaya manungsa. Wiwitane dheweke ora percaya yen Baru Klinthing kuwi anake. Nanging sawise weruh pusaka tumbake, dheweke wiwit percaya.

Nanging kanggo mesthekake, Ki Hajar banjur kandha,

“Yen pancen kowe anakku, coba lingkara Gunung Telomoyo iki nganggo awakmu.”

Kanthi kasektene, Baru Klinthing kasil ngubengi gunung kuwi nganggo awak naga sing gedhe banget. Weruh kuwi, Ki Hajar pungkasane ngakoni dheweke dadi anake.

Ki Hajar banjur dhawuh,

“Lungaa tapa menyang Bukit Tugur. Mengko ing sawijining wektu, kowe bakal bisa dadi manungsa.”

Ing wektu sing padha, ana desa sugih aran Pathok. Nanging warga desa kuwi sombong lan seneng ngremehake wong liya.

Nalika arep nganakake pesta panen utawa sedekah bumi, warga padha moro menyang Bukit Tugur kanggo mburu kewan. Nanging nganti sedina muput, ora ana kewan siji wae sing ketangkep.

Nalika arep mulih, dheweke weruh naga sing lagi tapa. Naga kuwi ora liya yaiku Baru Klinthing.

Tanpa rasa welas, warga banjur nyekel lan mateni naga kuwi. Daginge dipotong-potong banjur digawa bali menyang desa kanggo digawe lawuh pesta.

Nalika pesta lagi rame, teka sawijining bocah lanang sing awake kebak tatu lan mambu amis. Bocah kuwi sejatiné jelmaan Baru Klinthing.

Amarga keluwen, dheweke njaluk pangan marang warga. Nanging warga malah ngenyek lan ngusir dheweke.

Kanthi ati sedhih, Baru Klinthing lunga saka papan kuwi nganti pungkasane ketemu karo randha tuwa sing apik ati aran Nyi Latung.

“Nak, kok ora melu pesta?” pitakone Nyi Latung.

“Aku diusir warga, Nek. Aku luwe banget,” jawab Baru Klinthing.

Nyi Latung banjur ngajak dheweke mlebu omah lan maringi panganan anget.

Baru Klinthing rumangsa matur nuwun banget marang kabecikane Nyi Latung. Dheweke banjur kandha,

“Yen mengko Nenek krungu swara gemuruh, enggal munggaha ing ndhuwur lesung kayu.”

Sawise kuwi, Baru Klinthing bali menyang panggonan pesta nggawa sebatang lidi. Lidi kuwi banjur ditancepake ing tengah lapangan.

“Sapa sing rumangsa kuwat, coba cabuta lidi iki!” tantange.

Warga padha nyoba siji-siji, nanging ora ana sing kasil nyabut lidi kuwi.

Pungkasane Baru Klinthing dhewe maju lan kanthi gampang nyabut lidi mau.

Saknalika bumi gumeter banter. Saka bolongan bekas lidi kuwi metu banyu deres banget. Suwe-suwe banyu saya akeh lan nglelebke sakabehe desa Pathok.

Warga padha kelabakan nylametake awake dhewe, nanging kabeh wis kasep. Desa kuwi pungkasane malih dadi rawa gedhe.

Mung Nyi Latung sing slamet amarga numpak lesung kayu kaya prau, kaya sing wis diwelingake dening Baru Klinthing.

Wiwit semana, rawa kuwi dijenengi Rawa Pening.

Dene Baru Klinthing bali maneh dadi naga lan dipercaya dadi penjaga Rawa Pening nganti saiki.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Legenda Sangkuriang

Nama   : Ira Popi Laurina NIM    : 091241007 Dahulu kala, di tanah Pasundan, Jawa Barat, hiduplah seorang perempuan cantik bernama Dayang Su...