Selasa, 27 Oktober 2026

SANGKURIANG

SENIANI DINA YULIANA
NIM 094241041

Legenda Asal-Usul Gunung Tangkuban Perahu

Pada zaman dahulu, di tanah Sunda yang subur dan dikelilingi pegunungan nan indah, hiduplah sebuah kisah yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Kisah tersebut dikenal dengan nama Legenda Sangkuriang, salah satu cerita rakyat paling terkenal dari Jawa Barat, Indonesia.

Legenda ini mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda bernama Sangkuriang yang tanpa disadarinya jatuh cinta kepada seorang perempuan cantik bernama Dayang Sumbi, yang ternyata adalah ibu kandungnya sendiri. Pertemuan yang semula dipenuhi kebahagiaan itu perlahan berubah menjadi kisah penuh rahasia, cinta, dan takdir yang tak dapat dihindari.

Di balik kisah cinta yang terlarang tersebut, tersimpan pula cerita tentang sebuah perahu besar yang konon berubah menjadi gunung akibat kemarahan dan kekecewaan Sangkuriang. Gunung itulah yang kini dikenal sebagai Gunung Tangkuban Perahu, yang menjulang megah di sebelah utara Kota Bandung.

Hingga saat ini, legenda Sangkuriang tetap hidup dalam ingatan masyarakat Sunda sebagai warisan budaya yang sarat dengan pesan moral tentang kasih sayang, kejujuran, pengendalian diri, serta akibat dari tindakan yang dilandasi amarah.

Dayang Sumbi dan Sumpah yang Mengubah Takdir

Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan yang makmur di tanah Sunda, hiduplah seorang putri cantik jelita bernama Dayang Sumbi. Parasnya begitu memesona, bagaikan bunga yang sedang mekar di taman istana. Selain dikenal karena kecantikannya, Dayang Sumbi juga memiliki kecerdasan dan keterampilan yang luar biasa, terutama dalam menenun kain. Namun, di balik segala kelebihannya, sang putri memiliki satu kelemahan, yakni sifat malas yang terkadang membuatnya enggan melakukan pekerjaan sederhana.

Pada suatu hari yang cerah, Dayang Sumbi sedang duduk di beranda istana sambil menenun sehelai kain. Angin sepoi-sepoi berembus lembut, mengiringi jemarinya yang terampil merangkai benang demi benang. Namun, ketika sedang asyik bekerja, tiba-tiba salah satu alat tenunnya terlepas dan jatuh ke bawah beranda.

Dayang Sumbi memandang alat tenun yang terjatuh itu. Karena enggan beranjak dari tempat duduknya, ia pun menghela napas panjang. Tanpa berpikir terlebih dahulu, terucaplah sebuah janji dari bibirnya.

"Barang siapa bersedia mengambilkan alat tenunku yang terjatuh, jika ia seorang laki-laki, akan kujadikan suamiku. Namun, jika ia seorang perempuan, akan kujadikan saudaraku!"

Tak disangka, ucapannya ternyata membawa akibat yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan. Dari kejauhan, muncullah seekor anjing jantan berbulu hitam bernama Tumang. Dengan patuh, anjing itu menghampiri alat tenun yang terjatuh, mengambilnya, lalu menyerahkannya kepada Dayang Sumbi.

Betapa terkejutnya sang putri ketika mengetahui bahwa yang memenuhi janjinya bukanlah seorang manusia, melainkan seekor anjing. Hatinya diliputi kebingungan dan penyesalan. Namun, janji yang telah terucap tidak dapat begitu saja ditarik kembali.

Sesungguhnya, Tumang bukanlah anjing biasa. Di balik wujudnya yang sederhana, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia sebenarnya adalah seorang dewa yang terkena kutukan sehingga harus menjalani kehidupan di dunia manusia dalam rupa seekor anjing.

Meskipun hatinya berat menerima kenyataan tersebut, Dayang Sumbi akhirnya harus menepati sumpah yang telah diucapkannya. Ia pun menikah dengan Tumang, tanpa pernah membayangkan bahwa keputusan itu akan membawa perubahan besar dalam kehidupannya.

Seiring berjalannya waktu, dari pernikahan yang tidak biasa itu lahirlah seorang anak laki-laki yang tampan dan gagah. Anak tersebut diberi nama Sangkuriang. Kehadirannya membawa kebahagiaan tersendiri bagi Dayang Sumbi. Dengan penuh kasih sayang, ia merawat dan membesarkan putranya hingga tumbuh menjadi anak yang sehat, kuat, dan lincah.

Sejak kecil, Sangkuriang dikenal sebagai anak yang pemberani dan gemar menjelajahi alam. Ia sering bermain di sekitar hutan dan perbukitan, ditemani seekor anjing setia bernama Tumang. Ke mana pun Sangkuriang pergi, Tumang hampir selalu berada di sisinya. Keduanya begitu akrab sehingga Sangkuriang menganggap Tumang sebagai sahabat sekaligus teman bermain yang paling disayanginya.

Namun, ada sebuah rahasia besar yang tidak pernah diketahui Sangkuriang. Anjing yang selama ini menemaninya bermain dan menjelajahi hutan itu sesungguhnya adalah ayah kandungnya sendiri. Dayang Sumbi menyimpan kenyataan tersebut rapat-rapat, sementara Sangkuriang tumbuh tanpa sedikit pun mencurigai asal-usul Tumang.

Hari demi hari berlalu dengan penuh kedamaian. Sangkuriang menikmati masa kecilnya bersama sang ibu dan anjing kesayangannya. Akan tetapi, tidak seorang pun menyangka bahwa kebahagiaan itu kelak berubah menjadi kesedihan akibat sebuah peristiwa yang tidak terduga.

Peristiwa itulah yang kemudian menjadi awal perjalanan takdir Sangkuriang, sebuah kisah yang penuh penyesalan, perpisahan, dan cinta yang akhirnya melahirkan legenda Gunung Tangkuban Perahu.

Pengusiran Sangkuriang

Peristiwa Tragis yang Memisahkan Ibu dan Anak

Waktu terus berlalu. Sangkuriang yang dahulu masih kecil kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah, kuat, dan pemberani. Ia sangat gemar menjelajahi hutan dan memiliki kepandaian dalam berburu. Hampir setiap hari, ia pergi menyusuri lebatnya hutan bersama Tumang, anjing setia yang selalu menemaninya sejak kecil. Ke mana pun Sangkuriang melangkah, Tumang senantiasa berada di sisinya.

Pada suatu pagi, ketika matahari mulai menyinari pepohonan, Dayang Sumbi memanggil putranya. Ia meminta Sangkuriang pergi ke hutan untuk mencari seekor rusa karena ingin memasak hidangan istimewa.

"Anakku, pergilah ke hutan dan bawakan Ibu hati seekor rusa. Ibu ingin memasak makanan yang lezat untuk kita," pinta Dayang Sumbi dengan lembut.

"Baik, Ibu. Aku akan mencarikannya," jawab Sangkuriang penuh semangat.

Tanpa menunggu lama, Sangkuriang segera menyiapkan perlengkapan berburunya. Bersama Tumang, ia pun berangkat menuju hutan yang lebat. Kicauan burung dan gemerisik dedaunan mengiringi langkah mereka menyusuri jalan setapak di antara pepohonan.

Namun, hari itu keberuntungan seolah menjauh dari Sangkuriang. Sejak pagi hingga matahari mulai condong ke barat, ia terus mencari rusa ke berbagai penjuru hutan. Berkali-kali ia mengintai di balik semak dan menyusuri tepian sungai, tetapi tak seekor rusa pun berhasil ditangkapnya.

Hari semakin sore, sementara hasil buruan belum juga didapat. Sangkuriang mulai gelisah. Ia teringat pesan ibunya dan merasa takut pulang dengan tangan kosong.

Ketika melihat seekor rusa melintas di kejauhan, Sangkuriang segera memerintahkan Tumang untuk mengejarnya.

"Tumang! Cepat kejar rusa itu! Jangan sampai lolos!" serunya.

Namun, Tumang hanya terdiam. Ia tidak bergerak sedikit pun meskipun Sangkuriang berkali-kali memerintahkannya. Sesungguhnya, Tumang mengetahui bahwa rusa tersebut merupakan hewan yang berada dalam perlindungan para dewa. Karena itulah, ia tidak bersedia mengejarnya.

Sangkuriang yang tidak mengetahui alasan Tumang semakin kehilangan kesabaran. Rasa lelah, kecewa, dan takut dimarahi ibunya bercampur menjadi satu. Dalam keadaan dikuasai amarah, ia pun kehilangan kendali atas dirinya.

Tanpa berpikir panjang, Sangkuriang membunuh Tumang, anjing setia yang selama ini selalu menemaninya. Namun, ia sama sekali tidak menyadari bahwa Tumang sesungguhnya adalah ayah kandungnya sendiri.

Setelah menyadari apa yang telah dilakukannya, Sangkuriang mulai diliputi ketakutan. Ia tidak berani pulang tanpa membawa hati rusa seperti yang diminta ibunya. Akhirnya, ia mengambil hati Tumang untuk dibawa pulang sebagai pengganti hati rusa.

Menjelang petang, Sangkuriang tiba di rumah. Dayang Sumbi menyambut kedatangannya dengan gembira. Melihat putranya membawa hati hasil buruan, ia segera menyiapkan masakan tanpa sedikit pun menaruh curiga.

Dengan penuh kasih sayang, Dayang Sumbi memasak hati tersebut dan menyantapnya bersama hidangan yang telah disiapkan. Ia tidak mengetahui bahwa hati yang dimasaknya bukanlah hati rusa, melainkan hati Tumang, suaminya sendiri.

Beberapa saat kemudian, Dayang Sumbi menyadari bahwa Tumang tidak terlihat bersama Sangkuriang. Ia pun mulai bertanya-tanya.

"Sangkuriang, ke mana Tumang? Mengapa ia tidak pulang bersamamu?" tanyanya.

Sangkuriang terdiam. Wajahnya berubah pucat dan pandangannya tertunduk. Ia berusaha menyembunyikan kenyataan, tetapi kegelisahan yang menyelimuti hatinya membuatnya tidak mampu berkata-kata.

"Jawablah, Anakku. Di mana Tumang sekarang?" tanya Dayang Sumbi sekali lagi.

Dengan suara gemetar, Sangkuriang akhirnya mengakui perbuatannya.

"Maafkan aku, Ibu. Aku telah membunuh Tumang karena ia tidak mau menuruti perintahku. Hati yang kubawa pulang tadi sebenarnya adalah hati Tumang."

Mendengar pengakuan itu, Dayang Sumbi terperanjat. Tubuhnya gemetar dan air matanya mulai mengalir. Betapa hancur hatinya mengetahui bahwa Tumang telah mati di tangan putranya sendiri. Lebih menyakitkan lagi, tanpa disadarinya, ia telah memasak dan memakan hati suaminya.

Kesedihan yang begitu mendalam perlahan berubah menjadi kemarahan. Dalam keadaan kehilangan kendali, Dayang Sumbi mengambil sendok sayur yang berada di dekatnya, lalu memukulkannya ke kepala Sangkuriang.

Sangkuriang menjerit kesakitan. Pukulan itu meninggalkan luka yang cukup dalam di kepalanya, sebuah bekas yang kelak menjadi penanda penting dalam perjalanan hidupnya.

"Pergi kau dari hadapanku, Sangkuriang! Kau telah membunuh ayahmu sendiri!" seru Dayang Sumbi dengan suara bergetar menahan tangis dan amarah.

Sangkuriang terkejut mendengar perkataan ibunya. Untuk pertama kalinya, ia mengetahui bahwa Tumang, anjing yang selama ini dianggapnya sebagai sahabat setia, ternyata adalah ayah kandungnya sendiri.

Hatinya seketika dipenuhi rasa bersalah, kesedihan, dan penyesalan. Namun, semuanya telah terlambat. Tumang tidak mungkin hidup kembali, sedangkan kemarahan ibunya tidak dapat diredakan.

Dengan kepala terluka dan hati yang hancur, Sangkuriang akhirnya meninggalkan rumah. Ia berjalan menjauh tanpa mengetahui ke mana harus pergi. Langkahnya membawanya menembus hutan, melewati perbukitan, dan menghilang di balik pepohonan yang semakin gelap.

Sementara itu, Dayang Sumbi hanya mampu menangis dalam kesendirian. Setelah amarahnya mereda, ia mulai menyadari bahwa dirinya telah kehilangan dua orang yang sangat dicintainya, yakni Tumang dan Sangkuriang.

Hari-hari berikutnya dilaluinya dengan kesedihan dan penyesalan yang mendalam. Ia terus mengenang suaminya yang telah tiada dan merindukan putranya yang pergi entah ke mana.

Demikianlah, sebuah peristiwa yang bermula dari kegagalan berburu telah memisahkan seorang ibu dari anaknya. Tidak seorang pun mengetahui bahwa perpisahan itu bukanlah akhir dari kisah mereka, melainkan awal dari perjalanan takdir yang jauh lebih menyedihkan.

Bertahun-tahun kemudian, takdir akan mempertemukan mereka kembali dalam keadaan yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan.

Pertemuan Kembali Sangkuriang dan Dayang Sumbi

Takdir yang Mempertemukan Kembali Ibu dan Anak

Sejak kepergian Sangkuriang, kehidupan Dayang Sumbi dipenuhi kesunyian dan kesedihan. Hari demi hari dilaluinya dengan hati yang pilu, mengenang Tumang yang telah tiada dan merindukan putra semata wayangnya yang pergi tanpa kabar. Penyesalan terus menghantui dirinya, terutama ketika teringat bagaimana ia mengusir Sangkuriang dalam keadaan penuh amarah.

Untuk menenangkan hati dan memohon pengampunan, Dayang Sumbi memilih mendekatkan diri kepada para dewa. Ia menghabiskan waktunya dengan berdoa dan bertapa, memohon ketenteraman jiwa serta berharap suatu hari kelak dapat bertemu kembali dengan putranya.

Bertahun-tahun lamanya Dayang Sumbi menjalani pertapaan dengan penuh kesabaran dan ketulusan. Doa-doanya akhirnya didengar oleh para dewa. Sebagai anugerah atas keteguhan hatinya, para dewa memberinya kecantikan abadi. Sejak saat itu, wajah Dayang Sumbi tetap muda dan jelita, seolah waktu tidak pernah menyentuh dirinya. Meskipun tahun demi tahun terus berganti, kecantikannya tidak sedikit pun memudar.

Sementara itu, jauh dari tanah kelahirannya, Sangkuriang terus mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya. Ia melintasi hutan belantara, mendaki pegunungan, dan menjelajahi berbagai negeri. Dalam perjalanan panjangnya, ia bertemu dengan banyak pertapa dan orang-orang bijaksana yang mengajarinya berbagai ilmu pengetahuan, kesaktian, serta keterampilan berperang.

Seiring berjalannya waktu, Sangkuriang tumbuh menjadi seorang lelaki yang gagah perkasa, berilmu tinggi, dan memiliki kesaktian luar biasa. Pengalaman hidup telah menjadikannya sosok yang tangguh dan pemberani. Namun, jauh di lubuk hatinya, masih tersimpan kenangan tentang masa kecil dan kampung halaman yang telah lama ditinggalkannya.

Tanpa terasa, puluhan tahun pun berlalu. Suatu hari, dalam pengembaraannya yang panjang, langkah kaki Sangkuriang membawanya menuju sebuah desa yang dikelilingi pepohonan rindang dan perbukitan hijau. Udara sejuk dan pemandangan alam yang indah membuatnya merasa tenteram. Entah mengapa, tempat itu terasa begitu akrab di hatinya, seakan-akan pernah menjadi bagian dari kehidupannya.

Namun, Sangkuriang sama sekali tidak menyadari bahwa desa yang didatanginya adalah tanah kelahirannya sendiri, tempat ia dahulu menghabiskan masa kecil bersama ibunya dan Tumang.

Ketika sedang berjalan menyusuri desa, pandangannya tiba-tiba tertuju kepada seorang perempuan yang sangat cantik. Wajahnya berseri, tutur katanya lembut, dan pembawaannya begitu anggun. Kecantikannya membuat Sangkuriang terpesona sejak pandangan pertama.

Perempuan itu tidak lain adalah Dayang Sumbi, ibu kandungnya sendiri. Berkat anugerah para dewa, wajah Dayang Sumbi masih tetap muda dan jelita, sama seperti ketika Sangkuriang meninggalkannya puluhan tahun silam.

Sangkuriang yang telah lama berpisah dari ibunya tentu saja tidak mengenali perempuan tersebut. Begitu pula Dayang Sumbi. Ia tidak menyadari bahwa lelaki gagah yang berdiri di hadapannya adalah putra yang selama ini dirindukannya. Waktu dan perjalanan hidup telah mengubah Sangkuriang menjadi sosok yang sangat berbeda dari anak kecil yang dahulu pergi meninggalkan rumah.

Sejak pertemuan itu, keduanya mulai saling mengenal. Sangkuriang kerap datang menemui Dayang Sumbi, berbincang tentang berbagai hal, dan menghabiskan waktu bersamanya. Hari demi hari, hubungan mereka semakin dekat. Tanpa mengetahui ikatan darah yang sesungguhnya, benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara keduanya.

Sangkuriang merasa telah menemukan perempuan yang selama ini dicarinya. Sementara itu, Dayang Sumbi merasakan kedekatan dan kehangatan yang sulit dijelaskan setiap kali berada di samping lelaki tersebut. Namun, tidak sedikit pun terlintas dalam pikirannya bahwa orang yang kini dicintainya adalah putra kandungnya sendiri.

Hingga pada suatu hari, ketika keduanya sedang duduk beristirahat bersama, Dayang Sumbi dengan lembut membelai rambut Sangkuriang. Saat jemarinya menyibak rambut sang pemuda, tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah bekas luka di kepalanya.

Dayang Sumbi terdiam seketika. Jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya mulai gemetar. Bekas luka itu terasa begitu dikenalnya. Perlahan, ingatannya kembali pada peristiwa menyedihkan yang terjadi puluhan tahun silam, ketika dalam keadaan marah ia memukul kepala putranya dengan sendok sayur.

Dengan perasaan cemas, Dayang Sumbi mengamati luka tersebut lebih saksama. Bentuk dan letaknya sama persis dengan bekas luka yang dahulu ditinggalkannya di kepala Sangkuriang.

Wajah Dayang Sumbi mendadak pucat. Air matanya mulai menggenang. Kini ia menyadari sebuah kenyataan yang begitu mengejutkan sekaligus memilukan. Lelaki yang selama ini berada di dekatnya ternyata adalah anak kandung yang telah lama dirindukannya.

Dengan suara lirih dan gemetar, Dayang Sumbi berbisik,

"Kau... kau adalah Sangkuriang, anakku!"

Sangkuriang memandang perempuan itu dengan penuh kebingungan. Ia tidak memahami mengapa Dayang Sumbi tiba-tiba menyebut namanya dengan suara penuh kesedihan.

Sementara itu, hati Dayang Sumbi diliputi perasaan yang bercampur aduk. Di satu sisi, ia begitu bahagia karena akhirnya dipertemukan kembali dengan putra yang selama puluhan tahun dirindukannya. Namun, di sisi lain, ia merasa sangat terpukul ketika menyadari bahwa lelaki yang telah mencuri hatinya ternyata adalah darah dagingnya sendiri.

Pertemuan yang semula membawa kebahagiaan kini berubah menjadi awal dari sebuah kenyataan yang menyakitkan. Dayang Sumbi menyadari bahwa cinta yang telah tumbuh di antara mereka tidak mungkin diteruskan.

Namun, takdir rupanya belum selesai menguji kehidupan ibu dan anak tersebut. Sebab, Sangkuriang yang belum mengetahui kebenaran itu telah terlanjur mencintai Dayang Sumbi dengan sepenuh hatinya.

Dari sinilah bermula sebuah pertentangan yang kelak melahirkan peristiwa luar biasa, sebuah kisah yang hingga kini dikenang sebagai asal-usul Gunung Tangkuban Perahu.

Syarat yang Mustahil

Kecerdikan Dayang Sumbi Menghadapi Kesaktian Sangkuriang

Setelah mengetahui bahwa lelaki yang dicintainya ternyata adalah putra kandungnya sendiri, hati Dayang Sumbi diliputi kegelisahan yang begitu mendalam. Ia tidak pernah membayangkan bahwa pertemuan yang selama ini dirindukannya justru membawa kenyataan yang begitu menyakitkan. Kebahagiaan karena dapat bertemu kembali dengan Sangkuriang kini berubah menjadi ketakutan dan kebingungan.

Dengan hati-hati, Dayang Sumbi berusaha menjelaskan kebenaran kepada Sangkuriang. Ia menceritakan masa lalu mereka, tentang kehidupan ketika Sangkuriang masih kecil, tentang Tumang, serta peristiwa tragis yang menyebabkan mereka berpisah selama puluhan tahun.

"Sangkuriang, dengarkanlah baik-baik. Aku bukanlah perempuan yang pantas menjadi istrimu. Aku adalah ibu kandungmu sendiri. Bekas luka di kepalamu itulah buktinya. Luka itu berasal dari pukulan yang pernah kuberikan kepadamu ketika kau masih kecil," ujar Dayang Sumbi dengan suara bergetar.

Namun, Sangkuriang tidak mau menerima kenyataan tersebut. Ia merasa bahwa perempuan cantik yang berdiri di hadapannya tidak mungkin merupakan ibunya. Wajah Dayang Sumbi masih begitu muda dan jelita, seolah tidak pernah tersentuh oleh perjalanan waktu.

"Tidak! Aku tidak percaya! Bagaimana mungkin perempuan secantik dan semuda dirimu adalah ibuku? Aku telah mencintaimu, dan aku tetap ingin menikah denganmu!" seru Sangkuriang dengan penuh keyakinan.

Dayang Sumbi terdiam. Ia menyadari bahwa Sangkuriang telah berubah menjadi lelaki yang keras hati dan memiliki kesaktian luar biasa. Semakin ia berusaha menjelaskan kebenaran, semakin kuat pula keinginan Sangkuriang untuk mempertahankan cintanya.

Hari demi hari, Dayang Sumbi terus memikirkan cara untuk menggagalkan keinginan putranya. Ia tahu bahwa pernikahan antara ibu dan anak merupakan sesuatu yang tidak boleh terjadi. Namun, menolak Sangkuriang secara terang-terangan juga bukanlah perkara mudah. Dayang Sumbi khawatir kemarahan Sangkuriang akan membawa malapetaka, bukan hanya bagi dirinya, melainkan juga bagi penduduk desa yang hidup di sekitarnya.

Setelah berpikir panjang, akhirnya Dayang Sumbi menemukan sebuah akal. Ia memutuskan untuk mengajukan persyaratan yang sangat berat, sesuatu yang menurutnya mustahil diselesaikan oleh siapa pun dalam waktu satu malam.

Pada suatu hari, Dayang Sumbi memanggil Sangkuriang dan menyampaikan keputusannya.

"Baiklah, Sangkuriang. Jika kau benar-benar ingin menikah denganku, aku akan mengabulkan keinginanmu. Namun, ada satu syarat yang harus kau penuhi terlebih dahulu," kata Dayang Sumbi dengan tenang.

Mendengar perkataan itu, wajah Sangkuriang seketika berseri-seri.

"Katakanlah apa syaratnya! Apa pun yang kau minta, pasti akan kupenuhi!" jawabnya penuh percaya diri.

Dayang Sumbi menarik napas panjang, lalu melanjutkan perkataannya.

"Aku ingin kau membendung aliran Sungai Citarum hingga terbentuk sebuah danau yang sangat luas. Setelah itu, buatlah sebuah perahu besar yang indah untuk berlayar di atas danau tersebut. Namun, ingatlah baik-baik, semua pekerjaan itu harus selesai dalam satu malam, sebelum ayam jantan berkokok menyambut datangnya pagi!"

Sangkuriang terdiam sejenak. Ia memandang Dayang Sumbi, lalu tersenyum penuh keyakinan. Baginya, pekerjaan sebesar apa pun bukanlah sesuatu yang mustahil. Selama pengembaraannya, ia telah mempelajari berbagai ilmu kesaktian yang memberinya kekuatan luar biasa.

"Jika hanya itu syaratnya, aku pasti sanggup! Sebelum fajar menyingsing, danau dan perahu yang kau inginkan akan selesai kubuat!" jawab Sangkuriang dengan lantang.

Dayang Sumbi berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Dalam hati, ia berharap Sangkuriang tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan tersebut sebelum waktu yang ditentukan.

Ketika matahari mulai tenggelam di balik pegunungan dan malam menyelimuti tanah Sunda, Sangkuriang segera memulai pekerjaannya. Ia berdiri di tengah hutan, memejamkan mata, lalu mengucapkan mantra-mantra sakti yang telah dipelajarinya selama bertahun-tahun.

Tak lama kemudian, angin bertiup semakin kencang. Pepohonan bergoyang, dedaunan berdesir, dan suasana hutan berubah menjadi sunyi serta mencekam. Dari balik kegelapan, muncullah para jin dan makhluk halus yang datang memenuhi panggilan Sangkuriang.

Dengan suara lantang, Sangkuriang memerintahkan mereka untuk bekerja.

"Wahai para penghuni alam gaib! Bantulah aku membendung sungai ini dan membuat sebuah perahu besar! Semua harus selesai sebelum fajar tiba!"

Mendengar perintah itu, para jin dan makhluk halus segera bergerak. Mereka bekerja dengan kecepatan yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia biasa. Pohon-pohon besar ditebang dan diangkut, batu-batu raksasa dipindahkan, sementara tanah dan bebatuan ditumpuk untuk membendung derasnya aliran Sungai Citarum.

Suara gemuruh terdengar di seluruh penjuru hutan. Batang-batang pohon berjatuhan, batu-batu besar bergeser, dan air sungai mulai tertahan oleh bendungan yang semakin tinggi. Perlahan-lahan, air menggenang dan membentuk sebuah danau yang luas.

Sementara sebagian makhluk halus sibuk membangun bendungan, sebagian lainnya mengerjakan perahu besar yang diminta Dayang Sumbi. Batang-batang kayu disusun, dipahat, dan dirangkai hingga membentuk sebuah perahu yang kokoh dan megah.

Malam semakin larut. Namun, pekerjaan itu justru berlangsung semakin cepat. Bendungan hampir selesai, air danau terus meninggi, dan perahu besar mulai terlihat bentuknya dengan jelas.

Dari kejauhan, Dayang Sumbi memperhatikan semua yang terjadi dengan perasaan cemas. Ia tidak menyangka bahwa Sangkuriang benar-benar mampu mengerjakan tugas yang dianggapnya mustahil.

Jantungnya berdegup semakin kencang ketika melihat bendungan hampir sempurna dan perahu besar nyaris selesai dibuat. Padahal, malam masih menyisakan waktu sebelum datangnya fajar.

"Celakalah aku jika semua pekerjaan itu berhasil diselesaikannya," bisik Dayang Sumbi dengan penuh kegelisahan.

Ia memandang langit yang masih gelap, lalu kembali menatap para makhluk halus yang terus bekerja tanpa mengenal lelah. Dayang Sumbi menyadari bahwa dirinya tidak boleh hanya berdiam diri.

Kini, ia harus menemukan cara lain untuk menggagalkan pekerjaan Sangkuriang sebelum semuanya terlambat.

Namun, apakah Dayang Sumbi mampu mengalahkan kesaktian putranya sendiri? Ataukah takdir akan memaksanya menghadapi kenyataan yang paling ditakutinya?

Malam itu, di tengah kesunyian tanah Sunda, sebuah peristiwa besar sedang menanti untuk terjadi. Peristiwa yang kelak akan dikenang sebagai asal-usul Gunung Tangkuban Perahu. 

Tipu Daya dan Kutukan

Amarah Sangkuriang dan Asal-Usul Gunung Tangkuban Perahu

Malam semakin larut menyelimuti tanah Sunda. Angin dingin berembus di antara pepohonan, sementara suara gemuruh dari hutan terus terdengar tanpa henti. Di bawah langit yang masih gelap, para jin dan makhluk halus bekerja dengan kekuatan luar biasa untuk menyelesaikan perintah Sangkuriang.

Batu-batu raksasa terus ditumpuk untuk memperkokoh bendungan. Air Sungai Citarum semakin tinggi menggenang dan perlahan membentuk sebuah danau yang luas. Tidak jauh dari tempat itu, sebuah perahu besar hampir selesai dibuat. Kayu-kayu yang telah dipahat dan dirangkai mulai membentuk sebuah perahu yang megah dan kokoh.

Dari kejauhan, Dayang Sumbi menyaksikan semua pekerjaan itu dengan hati berdebar-debar. Ia berharap tugas yang diberikannya akan membuat Sangkuriang menyerah. Namun, kenyataan yang dilihatnya justru sangat berbeda. Semakin lama ia memperhatikan, semakin jelas bahwa putranya hampir berhasil menyelesaikan kedua persyaratan tersebut.

Padahal, malam masih belum berakhir.

Kegelisahan mulai menguasai hati Dayang Sumbi. Ia membayangkan apa yang akan terjadi apabila Sangkuriang benar-benar menyelesaikan bendungan dan perahu sebelum ayam jantan berkokok. Ia tidak mungkin memenuhi janji untuk menikahi putra kandungnya sendiri. Namun, ia juga mengetahui betapa besar kesaktian dan kerasnya hati Sangkuriang.

"Apa yang harus kulakukan? Jika pekerjaan itu selesai, bagaimana aku dapat menghindari keinginannya?" bisik Dayang Sumbi dengan penuh kecemasan.

Ia menengadah ke langit, memohon petunjuk kepada para dewa. Dalam keheningan malam, tiba-tiba terlintas sebuah akal di benaknya. Ia menyadari bahwa para makhluk halus yang membantu Sangkuriang hanya dapat bekerja selama malam masih berlangsung. Apabila mereka mengira pagi telah tiba, tentu mereka akan menghentikan pekerjaannya.

Tanpa membuang waktu, Dayang Sumbi segera mendatangi para perempuan di desa dan meminta bantuan mereka.

"Wahai saudara-saudaraku, bantulah aku malam ini. Kita harus membuat langit di sebelah timur tampak seperti fajar yang mulai menyingsing. Hamparkanlah kain-kain merah dan kuning ke arah timur, lalu bakarlah jerami agar cahaya kemerahannya terlihat dari kejauhan!" pinta Dayang Sumbi dengan sungguh-sungguh.

Para perempuan desa yang mengetahui kegelisahan Dayang Sumbi segera menyanggupi permintaannya. Mereka bekerja bersama-sama dalam kesunyian malam. Kain-kain berwarna merah dan kuning dibentangkan menghadap ke timur, sementara tumpukan jerami mulai dibakar.

Tak lama kemudian, nyala api menerangi kegelapan. Asap mengepul ke udara, dan cahaya kemerahan memantul pada kain-kain yang terbentang. Dari kejauhan, langit di ufuk timur tampak berwarna jingga kemerahan, seolah-olah matahari akan segera terbit.

Suasana yang semula gelap perlahan menyerupai datangnya pagi.

Tidak lama berselang, ayam-ayam jantan di desa mulai berkokok bersahutan.

"Kukuruyuuuk! Kukuruyuuuk!"

Suara kokok ayam menggema ke seluruh penjuru desa, menembus kesunyian malam hingga terdengar ke tempat Sangkuriang dan para makhluk halus bekerja.

Mendengar kokok ayam dan melihat cahaya kemerahan di ufuk timur, para jin serta makhluk halus seketika menghentikan pekerjaan mereka.

"Fajar telah tiba! Waktu kita sudah habis!" seru salah satu makhluk halus.

Mereka percaya bahwa malam telah berakhir dan matahari akan segera terbit. Karena mengira waktu yang diberikan telah habis, para makhluk halus meninggalkan pekerjaan mereka. Satu demi satu, mereka menghilang ke dalam kegelapan, kembali ke alam gaib tempat mereka berasal.

Dalam sekejap, hutan yang sebelumnya dipenuhi suara gemuruh berubah menjadi sunyi.

Bendungan yang hampir selesai kini terbengkalai. Perahu besar yang tinggal sedikit lagi rampung pun ditinggalkan begitu saja.

Sangkuriang terkejut melihat para pembantunya pergi. Ia memandang langit di sebelah timur yang tampak kemerahan, lalu mendengar kokok ayam yang terus bersahutan.

"Mustahil! Mengapa pagi datang begitu cepat? Bukankah malam masih panjang?" serunya dengan penuh keheranan.

Sangkuriang mencoba memanggil kembali para jin dan makhluk halus, tetapi tidak satu pun datang memenuhi panggilannya. Mereka telah meninggalkan tempat itu karena mengira fajar benar-benar tiba.

Perlahan-lahan, Sangkuriang mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Ia memperhatikan cahaya kemerahan di kejauhan dan menemukan bahwa warna langit tersebut bukan berasal dari matahari yang terbit, melainkan dari nyala api dan kain-kain yang sengaja dibentangkan.

Saat itulah ia memahami bahwa dirinya telah diperdaya.

"Dayang Sumbi! Jadi, semua ini adalah tipu dayamu!" teriak Sangkuriang dengan suara menggelegar.

Kemarahan Sangkuriang tidak terbendung lagi. Ia merasa seluruh kerja kerasnya telah menjadi sia-sia. Danau yang hampir terbentuk dan perahu besar yang nyaris selesai kini tidak lagi berarti apa-apa baginya.

Dengan wajah merah padam dan napas memburu, Sangkuriang berjalan mendekati perahu besar yang berdiri di hadapannya.

"Aku telah mengerahkan seluruh kekuatanku untuk memenuhi permintaanmu! Namun, kau justru mempermainkanku!" serunya dengan penuh amarah.

Dalam luapan kemarahan yang begitu dahsyat, Sangkuriang mengangkat kakinya dan menendang perahu besar itu sekuat tenaga.

"BRAAAK!"

Tendangan Sangkuriang membuat perahu raksasa tersebut terlempar dan terbalik. Suara gemuruh yang menggelegar mengguncang tanah, seakan-akan seluruh bumi ikut bergetar. Pepohonan bergoyang hebat, bebatuan bergeser, dan burung-burung beterbangan meninggalkan sarangnya.

Perahu besar itu akhirnya jatuh dalam keadaan tertelungkup, dengan bagian dasarnya menghadap ke langit.

Konon, karena kesaktian Sangkuriang dan kehendak alam, perahu yang terbalik tersebut lambat laun berubah menjadi sebuah gunung yang menjulang tinggi. Bentuknya menyerupai perahu besar yang tertelungkup di antara pegunungan tanah Sunda.

Gunung itulah yang kemudian dikenal sebagai Gunung Tangkuban Perahu.

Dalam bahasa Sunda, nama Tangkuban Perahu berarti "perahu yang terbalik". Hingga kini, gunung tersebut berdiri di sebelah utara Bandung, menjadi bagian dari bentang alam yang menyimpan kisah cinta terlarang, kecerdikan seorang ibu, dan kemarahan seorang anak yang tidak mampu menerima kenyataan.

Sementara itu, setelah melampiaskan amarahnya, Sangkuriang pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia menghilang ke tengah hutan dan pegunungan, tanpa seorang pun mengetahui ke mana langkahnya membawa dirinya.

Sejak saat itu, tidak ada lagi kabar tentang Sangkuriang.

Adapun Dayang Sumbi, ia akhirnya terhindar dari pernikahan yang tidak seharusnya terjadi. Namun, keberhasilannya menggagalkan keinginan Sangkuriang tidak serta-merta menghapus kesedihan di hatinya. Ia kembali harus kehilangan putra yang telah lama dirindukannya.

Pertemuan yang semula diharapkan membawa kebahagiaan ternyata berakhir dengan perpisahan untuk kedua kalinya.

Demikianlah, menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Sunda, asal-usul Gunung Tangkuban Perahu tidak dapat dipisahkan dari kisah Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

Legenda ini mengajarkan bahwa kekuatan yang besar tidak selalu mampu mengalahkan kebijaksanaan. Cinta yang tidak disertai pengertian dapat berubah menjadi penderitaan, sedangkan amarah yang tidak terkendali dapat membawa kehancuran.

Dan hingga kini, ketika orang memandang Gunung Tangkuban Perahu yang menyerupai sebuah perahu terbalik, seolah-olah alam masih menyimpan jejak kisah Sangkuriang, sebuah legenda tentang cinta, takdir, penyesalan, dan akibat dari kemarahan yang tak terkendali.

Versi Bahasa Jepang

タンクバン・ペラフ山の由来

昔々、インドネシアの西ジャワ地方に、緑豊かな山々に囲まれた美しいスンダの地があった。その地には、古くから人々の間で語り継がれてきた一つの不思議な物語がある。それが、サンクリアンの伝説である。

この物語は、サンクリアンという一人の若者の数奇な運命を描いたものである。ある日、サンクリアンはダヤン・スンビという美しい女性に出会い、心を奪われてしまう。しかし、その女性が自分の実の母親であることを、彼はまだ知らなかった。こうして、二人の出会いは、やがて悲しい運命へとつながっていくのであった。

この伝説には、もう一つ、不思議な言い伝えが残されている。それは、サンクリアンが怒りと悲しみのあまり、造りかけの大きな舟を蹴り飛ばし、その舟が山になったという話である。その山こそ、今もバンドンの町の北にそびえ立つ、タンクバン・ペラフ山なのだ。

こうしてサンクリアンの物語は、愛と悲しみ、そして人の力では変えることのできない運命を伝える伝説として、今もスンダの人々の心の中に生き続けている。この物語には、親子の絆や誠実さ、怒りを抑えることの大切さなど、さまざまな教訓が込められているのである。

ダヤン・スンビと運命を変えた誓い

昔々、スンダの地に、豊かで平和な王国があった。その王国には、ダヤン・スンビという美しい姫が暮らしていた。その美しさは、まるで宮殿の庭に咲く花のようであった。ダヤン・スンビは、美しいだけでなく、頭もよく、特に機織りが得意であった。しかし、そんな彼女にも一つだけ困ったところがあった。それは、時々ひどく面倒くさがりになることであった。

ある晴れた日のこと、ダヤン・スンビは宮殿の縁側に座り、布を織っていた。そよ風が優しく吹く中、彼女は慣れた手つきで一本一本の糸を織り合わせていた。ところが、夢中になっているうちに、機織りの道具の一つが手から滑り落ち、縁側の下へ転がってしまった。

ダヤン・スンビは落ちた道具を見つめた。しかし、わざわざ立ち上がって取りに行くのが面倒だった。そこで、彼女は深く考えもせず、ため息をつきながらこう言った。

「誰か、あの道具を拾ってくれないかしら。拾ってくれたのが男の人なら、その人を夫にしましょう。女の人なら、私の姉妹にしましょう!」

ところが、その何気ない言葉が、思いもよらない運命を招くことになった。

しばらくすると、どこからともなく、トゥマンという黒い毛の雄犬が現れた。トゥマンは落ちていた道具を口にくわえると、ダヤン・スンビのもとへ運んできた。

それを見たダヤン・スンビは、びっくりしてしまった。まさか道具を拾ってくれたのが、人間ではなく、一匹の犬だったとは思いもしなかったからである。彼女は困り果て、自分の言葉を後悔した。しかし、一度口にした誓いを、簡単に取り消すことはできなかった。

実は、トゥマンはただの犬ではなかった。犬の姿の裏には、大きな秘密が隠されていた。トゥマンはもともと神であったが、呪いをかけられ、人間の世界で犬の姿をして暮らしていたのである。

ダヤン・スンビは、どうしてよいか分からず、長い間悩んだ。それでも、自分の誓いを守らなければならなかった。こうして、彼女はトゥマンと結婚することになった。だが、この出来事が自分の人生を大きく変えることになるとは、その時はまだ知る由もなかった。

やがて月日が流れ、二人の間に一人の男の子が生まれた。その子は、サンクリアンと名付けられた。サンクリアンは、たくましく、りりしい男の子であった。ダヤン・スンビは息子の誕生を心から喜び、深い愛情を注ぎながら大切に育てた。

サンクリアンはすくすくと成長し、元気で勇敢な少年になった。幼い頃から自然が大好きで、森や丘を駆け回って遊ぶことを楽しみにしていた。そんなサンクリアンのそばには、いつもトゥマンがいた。

サンクリアンがどこへ行くにも、トゥマンは忠実についていった。二人はとても仲がよく、サンクリアンにとってトゥマンは、大切な友達であり、かけがえのない遊び相手でもあった。

しかし、サンクリアンには、まだ知らされていない大きな秘密があった。それは、いつも自分のそばにいる愛犬トゥマンが、実は自分の本当の父親だということであった。

ダヤン・スンビは、その秘密を誰にも話さず、胸の奥にしまい込んでいた。サンクリアンも、トゥマンの本当の正体を少しも疑うことなく、毎日を楽しく過ごしていた。

こうして、母と子、そしてトゥマンの穏やかな日々が続いていた。しかし、その幸せな暮らしが、ある出来事をきっかけに大きく変わってしまうとは、誰も思っていなかった。

それは、やがてサンクリアンを悲しみと後悔、そして避けることのできない運命へと導く出来事となるのであった。

サンクリアンの追放(ついほう)

母と子を引き裂いた悲しい出来事

月日は流れ、幼かったサンクリアンは、たくましく勇敢な若者へと成長した。森を歩き回ることが大好きで、狩りもたいそう上手であった。ほとんど毎日のように、幼い頃からの忠実な愛犬トゥマンを連れて、深い森へ狩りに出かけていた。サンクリアンがどこへ行こうとも、トゥマンはいつもそのそばにいた。

ある朝のこと、木々の間から朝日が差し込み始めた頃、母のダヤン・スンビは息子を呼び寄せた。そして、料理に使う鹿の心臓を取ってきてほしいと頼んだ。

「サンクリアン、森へ行って鹿の心臓を取ってきておくれ。今日はおいしい料理を作ってあげたいの。」

「分かったよ、母さん。きっと取ってくるよ。」

サンクリアンは元気よく答えると、さっそく狩りの道具を用意し、トゥマンとともに森へ向かった。鳥たちのさえずりや木の葉のざわめきに包まれながら、二人は木々の間の細い道を進んでいった。

ところが、その日はどういうわけか、まったく獲物に恵まれなかった。朝から森の奥まで歩き回り、茂みの陰に隠れたり、川辺を探したりしたが、鹿を一頭も捕まえることができなかった。

やがて日が傾き始めた。それでも獲物は見つからない。サンクリアンはだんだん不安になってきた。母との約束を思い出し、何も持たずに帰れば叱られるのではないかと恐れたのである。

その時、遠くの木々の間を一頭の鹿が走り抜けるのが見えた。サンクリアンはすぐにトゥマンに命じた。

「トゥマン! あの鹿を追いかけろ! 絶対に逃がすな!」

しかし、トゥマンはじっとしたまま、少しも動こうとしなかった。サンクリアンが何度命じても、トゥマンはその場を離れなかった。

実は、トゥマンはその鹿が神々に守られた動物であることを知っていた。そのため、どうしても追いかけようとはしなかったのである。

だが、そんなことを知らないサンクリアンは、ますます腹を立てた。狩りの疲れと焦り、そして母に叱られることへの恐れが重なり、とうとう怒りを抑えきれなくなってしまった。

そして、何も考えず、長い間自分に寄り添ってきた忠実なトゥマンを殺してしまったのである。

しかし、その時のサンクリアンは、トゥマンが自分の本当の父親であることなど、夢にも思っていなかった。

我に返ったサンクリアンは、自分のしたことに恐ろしくなった。それでも、母との約束を果たさずに帰る勇気はなかった。そこで、トゥマンの心臓を取り出し、鹿の心臓の代わりに持ち帰ることにした。

夕暮れ時、サンクリアンはようやく家に帰り着いた。ダヤン・スンビは息子の帰りを喜び、持ち帰った心臓を見ると、何の疑いもなく料理を始めた。

そして、愛情を込めて料理を作り、その心臓を食べた。しかし、それが鹿のものではなく、自分の夫トゥマンの心臓であるとは、少しも知らなかったのである。

しばらくして、ダヤン・スンビはトゥマンの姿が見えないことに気づいた。

「サンクリアン、トゥマンはどこにいるの? どうして一緒に帰ってこなかったの?」

サンクリアンは黙り込んだ。顔は青ざめ、うつむいたまま何も答えられなかった。何とか本当のことを隠そうとしたが、胸の中の不安は大きくなるばかりであった。

「サンクリアン、答えておくれ。トゥマンはどこへ行ったの?」

母にもう一度尋ねられ、サンクリアンは震える声で、とうとう本当のことを打ち明けた。

「ごめんなさい、母さん。トゥマンが僕の言うことを聞かなかったから、殺してしまったんだ。さっき持って帰った心臓は……本当はトゥマンのものなんだ。」

その言葉を聞いたダヤン・スンビは、あまりの驚きに言葉を失った。体が震え、目からは涙があふれ出した。

長い間ともに暮らしてきたトゥマンが、実の息子の手によって命を奪われたのである。そればかりか、自分は知らずに夫の心臓を料理し、食べてしまったのだった。

深い悲しみは、やがて激しい怒りへと変わった。ダヤン・スンビは思わず、そばにあった大きなお玉を手に取ると、サンクリアンの頭を強く叩いた。

「痛い!」

サンクリアンは思わず叫んだ。その一撃によって頭には深い傷ができた。その傷跡は、後に彼の運命を大きく左右することになるのであった。

「出てお行き、サンクリアン! お前は自分の父親を殺してしまったのよ!」

ダヤン・スンビは、涙を流しながら叫んだ。

その言葉を聞いたサンクリアンは、驚きのあまり立ち尽くした。今までずっと大切な友達だと思っていたトゥマンが、実は自分の父親だったということを、初めて知ったのである。

サンクリアンの胸は、悲しみと後悔でいっぱいになった。しかし、もう取り返しがつかなかった。トゥマンが生き返ることはなく、母の怒りを鎮めることもできなかった。

頭に傷を負い、深く心を痛めたサンクリアンは、とうとう家を出ていった。どこへ行くあてもなく、森の中を歩き続けた。やがてその姿は、暗くなり始めた木々の向こうへと消えていった。

一方、ダヤン・スンビは、ただ一人、涙を流していた。怒りが静まると、自分が大切な夫と息子の二人を、一度に失ってしまったことに気づいた。

それからというもの、ダヤン・スンビは深い悲しみと後悔の中で日々を過ごした。亡くなったトゥマンを思い、どこか遠くへ行ってしまったサンクリアンを恋しく思い続けた。

こうして、たった一度の狩りの失敗から始まった出来事は、母と子を引き離してしまったのである。

しかし、この別れが二人の物語の終わりではなかった。

長い年月を経て、運命は再び二人を巡り合わせることになる。しかも、それは二人が思いもよらない、悲しい再会となるのであった。

サンクリアンとダヤン・スンビの再会

運命に導かれた母と子の再会

サンクリアンが家を去ってからというもの、ダヤン・スンビは深い悲しみと寂しさの中で暮らしていた。亡くなったトゥマンを思い、行方の分からない一人息子のことを案じながら、毎日を過ごしていた。怒りに任せてサンクリアンを追い出してしまったことを思い出すたびに、胸が締めつけられるようであった。

心の安らぎと許しを求めて、ダヤン・スンビは神々に祈りを捧げるようになった。そして、いつの日か息子と再び会えることを願いながら、静かに修行を続けた。

長い年月の間、ダヤン・スンビはひたすら祈り、苦しい修行にも耐え続けた。その真心は、ついに神々の心に届いた。神々は彼女の願いを聞き入れ、永遠の若さと美しさを授けたのである。

それからというもの、ダヤン・スンビの姿は少しも年老いることがなかった。どれほど年月が流れても、その顔は若く美しいままであった。まるで時の流れが、彼女だけを忘れてしまったかのようであった。

一方、故郷を離れたサンクリアンは、遠い国々を旅しながら、長い年月を過ごしていた。深い森を抜け、高い山を越え、さまざまな土地を巡り歩いた。その旅の途中で、多くの修行者や賢者たちに出会い、不思議な術や戦いの技、さまざまな知恵を学んでいった。

こうしてサンクリアンは、強くたくましく、優れた力を持つ立派な男へと成長した。数々の経験を重ねるうちに、勇気と知恵を身につけていったのである。しかし、その心の奥には、幼い頃の思い出や、遠く離れた故郷への懐かしさが、今もひっそりと残っていた。

やがて、何十年もの月日が流れた。

ある日のこと、長い旅を続けていたサンクリアンは、緑豊かな山々と大きな木々に囲まれた美しい村へとたどり着いた。涼しい風が吹き、鳥たちの声が響くその村は、どこか懐かしい雰囲気に包まれていた。

サンクリアンは周りの景色を眺めながら、不思議な気持ちになった。初めて訪れたはずなのに、なぜか昔から知っている場所のように感じられたのである。

しかし、そこが自分の生まれ育った故郷であることには、少しも気づいていなかった。

村の中を歩いていた時、サンクリアンは一人の美しい女性に出会った。その女性は、優しい顔立ちと上品な物腰をしており、穏やかな声で話していた。サンクリアンはその姿を一目見た瞬間、すっかり心を奪われてしまった。

ところが、その女性こそ、実の母親であるダヤン・スンビだったのである。

神々から授かった不思議な力によって、ダヤン・スンビは昔と変わらぬ若さと美しさを保っていた。そのため、サンクリアンは目の前の女性が自分の母親だとは、夢にも思わなかった。

ダヤン・スンビもまた、目の前に立つたくましい男が、長い間会えずにいた息子だとは気づかなかった。幼い頃のサンクリアンの面影は、長い年月と旅の経験によって大きく変わっていたからである。

それから、二人は少しずつ親しくなっていった。サンクリアンはたびたびダヤン・スンビのもとを訪れ、さまざまな話をしては、一緒に楽しい時間を過ごした。

日がたつにつれて、二人の心はますます近づいていった。互いの本当の関係を知らないまま、いつしか二人の間には恋心が芽生えていたのである。

サンクリアンは、ようやく自分の心にかなう女性に出会えたと思っていた。一方、ダヤン・スンビも、彼と一緒にいると不思議な温かさと安らぎを感じていた。しかし、その相手が自分の息子であるとは、少しも考えていなかった。

そんなある日のこと、二人は木陰に腰を下ろし、静かなひとときを過ごしていた。ダヤン・スンビは、そっとサンクリアンの髪に手を伸ばし、優しくなでた。

その時であった。

髪の間から、頭に残る一つの古い傷跡が見えたのである。

ダヤン・スンビは、はっとして手を止めた。胸が激しく高鳴り、体が小さく震え始めた。その傷跡には、見覚えがあった。

遠い昔の記憶が、次々とよみがえってきた。怒りに任せて、幼いサンクリアンの頭をお玉で叩いてしまった、あの悲しい日のことである。

ダヤン・スンビは、もう一度その傷跡を確かめた。傷の形も場所も、あの日、息子の頭につけてしまったものと、まったく同じであった。

その瞬間、ダヤン・スンビの顔から血の気が引いた。目には涙があふれ、胸が苦しくなった。

ようやく、すべてが分かったのである。

目の前にいるこの男は、長い間会いたいと願い続けていた、あのサンクリアンだったのだ。

ダヤン・スンビは、震える声で小さくつぶやいた。

「あなたは……あなたは、サンクリアン……私の息子だったのね……。」

サンクリアンは、驚いたように彼女を見つめた。なぜダヤン・スンビが突然、自分の名を呼び、悲しそうな顔をしているのか、まったく分からなかった。

一方、ダヤン・スンビの心には、喜びと悲しみが入り混じっていた。長い間恋しく思っていた息子と、ようやく再会できたことは、何よりもうれしいことであった。

しかし、それと同時に、恐ろしい事実に気づいてしまった。自分が心を寄せていた相手は、ほかでもない、自分の実の息子だったのである。

幸せに満ちていたはずの再会は、こうして悲しい運命へと変わっていった。

ダヤン・スンビは、二人の間に芽生えた恋を、このまま続けることは決してできないと悟った。

だが、サンクリアンはまだ何も知らなかった。彼はすでにダヤン・スンビを心から愛しており、その思いを簡単に捨てることなどできなかったのである。

こうして、運命は再び母と子を試そうとしていた。

そして、この出来事が、やがてタンクバン・ペラフ山の誕生へとつながる、大きな悲劇の始まりとなるのであった。

不可能な条件(ふかのうなじょうけん)

サンクリアンの不思議な力に立ち向かうダヤン・スンビの知恵

愛する男が実の息子であると知ったダヤン・スンビは、深い悲しみと不安に包まれていた。長い間待ち望んでいた再会が、こんなにもつらい現実をもたらすとは、夢にも思っていなかった。息子に再び会えた喜びは、いつしか恐れと戸惑いへと変わっていた。

ダヤン・スンビは、サンクリアンに本当のことを伝えようとした。彼がまだ幼かった頃のこと、トゥマンと一緒に暮らしていた日々のこと、そして二人が離れ離れになった悲しい出来事を、ゆっくりと話して聞かせた。

「サンクリアン、よく聞いておくれ。私はあなたの妻になることはできないの。私はあなたの本当の母親なのよ。頭に残っているその傷跡が何よりの証拠よ。あなたがまだ小さかった頃、私が怒って叩いてしまった時についた傷なの。」

ダヤン・スンビは、震える声でそう告げた。

しかし、サンクリアンはその言葉を信じようとはしなかった。目の前にいる若く美しい女性が、自分の母親であるはずがないと思ったのである。ダヤン・スンビの姿は、長い年月が過ぎたとは思えないほど若々しく、美しいままであった。

「そんなはずはない! 信じられるものか! こんなに若くて美しい人が、どうして僕の母親なんだ! 僕はあなたを愛している。何があっても、あなたと結婚するんだ!」

サンクリアンは、強い口調で言い張った。

ダヤン・スンビは言葉を失った。目の前のサンクリアンは、昔の幼い少年ではなかった。長い旅の間に強い力を身につけ、誰にも簡単には止められない男になっていたのである。

ダヤン・スンビがどれほど真実を説明しても、サンクリアンの気持ちは変わらなかった。それどころか、彼の結婚への思いはますます強くなっていった。

それからというもの、ダヤン・スンビは毎日悩み続けた。実の息子と結婚することなど、決して許されることではなかった。しかし、はっきりと断れば、サンクリアンが怒り、その恐ろしい力によって自分だけでなく、村の人々にまで災いが及ぶかもしれなかった。

どうすれば、この結婚を思いとどまらせることができるのだろうか。

長い間考え抜いた末、ダヤン・スンビは一つの知恵を思いついた。それは、どんなに力のある者でも、一晩では到底成し遂げられないような、難しい条件を出すことであった。

ある日のこと、ダヤン・スンビはサンクリアンを呼び、静かに話し始めた。

「分かったわ、サンクリアン。どうしても私と結婚したいというのなら、その願いを聞き入れましょう。でも、その前に一つだけ、条件を守ってもらわなければならないの。」

その言葉を聞いたサンクリアンの顔は、たちまち明るくなった。

「どんな条件でも言ってくれ! あなたの望みなら、何だってかなえてみせる!」

サンクリアンは自信に満ちた声で答えた。

ダヤン・スンビは深く息を吸い、ゆっくりと言葉を続けた。

「それなら、チタルム川の流れをせき止めて、大きな湖を造っておくれ。そして、その湖に浮かべる立派な大きな舟も造るのよ。ただし、すべての仕事を今夜一晩で終わらせなければならないわ。明け方、雄鶏が最初に鳴く前までに、必ず完成させるのよ!」

サンクリアンはしばらく黙っていたが、やがて自信ありげに微笑んだ。長い旅の間にさまざまな不思議な術を身につけた彼にとって、どれほど大きな仕事でも、不可能なことではないと思えたのである。

「それだけのことか! 心配はいらない。夜が明けるまでに、湖も舟も必ず完成させてみせる!」

サンクリアンは力強く言い切った。

ダヤン・スンビは、胸の中の不安を必死に隠した。どうかサンクリアンが、夜明けまでに仕事を終えることができませんようにと、心の中で祈っていた。

やがて太陽が山の向こうに沈み、スンダの地を深い夜の闇が包み込んだ。

サンクリアンは森の真ん中に立つと、静かに目を閉じ、長い年月をかけて身につけた不思議な呪文を唱え始めた。

すると、突然、強い風が吹き始めた。木々は大きく揺れ、葉がざわめき、森の中には不気味な気配が漂い始めた。

やがて暗闇の奥から、ジンと呼ばれる精霊や、さまざまな不思議な存在が次々と姿を現した。彼らはサンクリアンの呼びかけに応じて集まってきたのである。

サンクリアンは、彼らに向かって大声で命じた。

「闇の世界に住む者たちよ! 私の力となれ! この川をせき止め、大きな湖と立派な舟を造るのだ! 夜が明ける前に、すべてを完成させよ!」

その命令を聞くと、ジンや精霊たちは一斉に働き始めた。

彼らの動きは、人間には到底まねのできないほど速かった。大きな木々が次々と切り倒され、巨大な岩が持ち上げられ、土や石が積み重ねられていった。

森のあちらこちらから、木の倒れる音や岩のぶつかる音が響き渡った。チタルム川の激しい流れは、少しずつ高くなっていく堤によってせき止められ、やがて水がたまり始めた。

こうして、広い湖が少しずつ姿を現していった。

一方、別の精霊たちは大きな舟を造っていた。太い木の幹を運び、木材を削り、組み合わせながら、丈夫で立派な舟を形作っていった。

夜はますます深まっていった。しかし、作業の勢いは衰えるどころか、ますます速くなっていった。

堤はほとんど完成し、湖の水は次第に増えていった。そして、大きな舟も、あと少しで完成しようとしていた。

その様子を遠くから見守っていたダヤン・スンビは、胸が締めつけられるような思いであった。

まさか、サンクリアンが本当に、こんなにも難しい仕事を成し遂げようとしているとは思わなかったのである。

空はまだ暗く、夜明けまでには時間が残っていた。それなのに、湖も舟も、もうすぐ完成しそうであった。

「このままでは大変なことになってしまう……。もし本当に完成してしまったら、私はどうすればいいのだろう……。」

ダヤン・スンビは、不安そうにつぶやいた。

彼女は暗い夜空を見上げ、それから休むことなく働き続ける精霊たちを見つめた。

このまま何もせずに待っているわけにはいかなかった。

何としてでも、夜が明ける前にサンクリアンの仕事を止めなければならない。

しかし、果たしてダヤン・スンビは、強大な力を持つ息子の計画を止めることができるのだろうか。

それとも、逃れることのできない運命が、再び二人を悲しい結末へと導いてしまうのだろうか。

その夜、静かなスンダの地では、後にタンクバン・ペラフ山の誕生として語り継がれる、大きな出来事が起ころうとしていたのであった。

策略と呪い

サンクリアンの怒りとタンクバン・ペラフ山の由来

スンダの地は、ますます深い夜の闇に包まれていた。冷たい風が木々の間を吹き抜け、森の奥からは絶え間なく大きな物音が響いていた。まだ暗い夜空の下では、ジンや不思議な精霊たちが、サンクリアンの命令に従い、驚くべき力で働き続けていた。

巨大な岩が次々と積み重ねられ、川をせき止める堤はますます高くなっていった。チタルム川の水は次第にたまり、広い湖が姿を現し始めていた。その近くでは、大きな舟もほとんど完成しようとしていた。削られ、組み合わされた木材は、立派で丈夫な舟の形になっていた。

遠くからその様子を見つめていたダヤン・スンビは、胸が激しく高鳴るのを感じていた。あの難しい条件を出せば、きっとサンクリアンも諦めるだろうと思っていた。しかし、目の前で起こっていることは、彼女の予想とはまったく違っていた。見れば見るほど、サンクリアンが二つの仕事を完成させようとしていることが分かったのである。

それなのに、夜はまだ明けていなかった。

ダヤン・スンビの心は、不安でいっぱいになった。もしサンクリアンが雄鶏の鳴く前に湖と舟を完成させてしまったら、どうなるのだろうか。実の息子と結婚することなど、決してできるはずがなかった。しかし、彼の恐ろしい力と頑固な性格を思うと、どうしてよいのか分からなかった。

「どうしたらいいのだろう……。もし本当に完成してしまったら、私はどうやってあの子の願いを断ればいいの……。」

ダヤン・スンビは、不安そうに小さくつぶやいた。

彼女は夜空を見上げ、神々に助けを求めた。すると、静かな夜の中で、ふと一つの考えが頭に浮かんだ。

サンクリアンを手伝っているジンや精霊たちは、夜の間しか働くことができない。もし彼らが朝になったと思えば、きっと仕事をやめてしまうに違いない。

そう考えたダヤン・スンビは、すぐに村の女たちのもとへ走っていった。

「みんな、どうか今夜だけ私を助けておくれ。東の空が、まるで夜明けのように見えるようにしたいの。赤と黄色の布を東の方へ広げて、それから村の東側で藁を燃やしておくれ。遠くから見れば、きっと朝日が昇り始めたように見えるはずよ!」

ダヤン・スンビは、真剣な表情で頼んだ。

彼女の苦しみを知っていた村の女たちは、すぐに力を貸すことにした。皆で協力し、静かな夜の中で準備を始めた。

赤と黄色の布が東の方へ大きく広げられ、積み上げられた藁には火がつけられた。

やがて炎が勢いよく燃え上がり、暗闇を明るく照らし始めた。煙が空へと立ち上り、赤い炎の光が広げられた布に映った。

すると、遠くから見た東の空は、まるで朝日が昇る直前のように赤く染まって見えたのである。

まだ夜であるにもかかわらず、辺りには夜明けが近づいたかのような明るさが広がっていった。

その時、村の雄鶏たちが次々と鳴き始めた。

「コケコッコー! コケコッコー!」

雄鶏の鳴き声は村中に響き渡り、森の奥で働いていたサンクリアンや精霊たちの耳にも届いた。

東の空が赤く染まり、雄鶏の鳴き声が聞こえると、ジンや精霊たちは一斉に手を止めた。

「夜が明けたぞ! もう時間がない!」

一人の精霊が叫んだ。

彼らは、本当に朝が来たのだと思い込んでしまった。夜の間に仕事を終えなければならなかったため、これ以上働くことはできないと考えたのである。

こうしてジンや精霊たちは、完成しかけた堤と舟をそのままにして、次々と暗闇の中へ消えていった。そして、もとの不思議な世界へと帰っていったのであった。

つい先ほどまで大きな物音に満ちていた森は、たちまち静まり返った。

完成間近だった堤は、そのまま残された。あと少しで出来上がるはずだった大きな舟も、途中のまま置き去りにされてしまった。

突然、手伝っていた精霊たちが姿を消したことに、サンクリアンは驚いた。

彼は東の空を見上げた。空は赤く染まり、雄鶏の鳴き声があちらこちらから聞こえていた。

「そんなはずはない! どうしてもう朝になったのだ! まだ夜は長いはずではないか!」

サンクリアンは、驚きと怒りの入り混じった声で叫んだ。

彼は何度も呪文を唱え、ジンや精霊たちを呼び戻そうとした。しかし、どれほど呼びかけても、誰一人戻ってくる者はいなかった。

やがてサンクリアンは、何かがおかしいことに気づいた。

彼は遠くに見える赤い光をじっと見つめた。そして、その光が朝日によるものではなく、燃やされた藁の炎と、広げられた赤や黄色の布によって作り出されたものであることを知った。

その瞬間、サンクリアンはすべてを悟った。

自分は、だまされていたのである。

「ダヤン・スンビ! そうか、これはお前の仕業だったのか!」

サンクリアンの怒鳴り声が、静まり返った森に響き渡った。

彼の怒りは、もはや抑えられなかった。あれほど力を尽くして進めてきた仕事が、すべて無駄になってしまったのである。

完成しかけた湖も、大きな舟も、今のサンクリアンには何の意味もなかった。

顔を真っ赤にし、荒い息を吐きながら、サンクリアンは目の前にある巨大な舟へと歩み寄った。

「お前の願いをかなえるために、私はこれほどの力を尽くしたというのに! それなのに、お前は私をだましたのか!」

サンクリアンは怒りに震えながら叫んだ。

そして、ついにその怒りを抑えきれなくなり、目の前の巨大な舟を力いっぱい蹴り飛ばした。

「ドォォォン!」

ものすごい音とともに、巨大な舟は宙に浮き、ひっくり返って地面に落ちた。

大地は激しく揺れ、まるで地震が起きたかのようであった。木々は大きく揺れ、岩が動き、驚いた鳥たちは一斉に空へ飛び立った。

巨大な舟は、底を空に向けたまま、地面に伏せるようにして横たわった。

言い伝えによれば、サンクリアンの不思議な力と自然の働きによって、そのひっくり返った舟は、やがて大きな山へと姿を変えたという。

その山は、まるで巨大な舟が逆さまになっているような形をしていた。

それこそが、後にタンクバン・ペラフ山と呼ばれるようになった山なのである。

スンダ語で「タンクバン・ペラフ」とは、「ひっくり返った舟」という意味である。現在もその山は、バンドンの北にそびえ立ち、母と子の悲しい運命、母親の知恵、そして怒りを抑えられなかった息子の物語を、静かに伝えている。

一方、怒りを爆発させたサンクリアンは、その場所を去っていった。深い森と山々の中へ姿を消し、その後どこへ行ったのか、誰にも分からなかった。

それ以来、サンクリアンの消息を聞いた者はいなかったという。

ダヤン・スンビは、こうして決して許されない結婚を避けることができた。しかし、サンクリアンの願いを退けることができたからといって、彼女の悲しみが消えたわけではなかった。

長い間会いたいと願い続けていた息子を、再び失ってしまったのである。

幸せをもたらすはずだった再会は、こうして二度目の悲しい別れとなってしまった。

このように、スンダの人々の間で古くから語り継がれてきたタンクバン・ペラフ山の由来には、サンクリアンとダヤン・スンビの悲しい物語が深く結びついているのである。

この伝説は、どれほど大きな力を持っていても、知恵に勝てるとは限らないことを教えている。また、相手を理解しようとしない愛は、時として苦しみへと変わり、抑えきれない怒りは、大きな悲劇を引き起こすこともあるのだ。

そして今も、人々がひっくり返った舟のような形をしたタンクバン・ペラフ山を見上げる時、そこにはサンクリアンの物語が静かに息づいているかのようである。

それは、愛と運命、後悔、そして怒りがもたらした悲劇について、いつまでも語り継がれる一つの伝説なのであった。

Tankuban Perafu-yama no Yurai

Mukashi mukashi, Indoneshia no Nishi Jawa chihō ni, midori yutaka na yamayama ni kakomareta utsukushii Sunda no chi ga atta. Sono chi ni wa, furuku kara hitobito no aida de kataritsugarete kita hitotsu no fushigi na monogatari ga aru. Sore ga, Sankurian no densetsu de aru.

Kono monogatari wa, Sankurian to iu hitori no wakamono no sūki na unmei o egaita mono de aru. Aru hi, Sankurian wa Dayan Sunbi to iu utsukushii josei ni deai, kokoro o ubawarete shimau. Shikashi, sono josei ga jibun no jitsu no hahaoya de aru koto o, kare wa mada shiranakatta. Kōshite, futari no deai wa, yagate kanashii unmei e to tsunagatte iku no de atta.

Kono densetsu ni wa, mō hitotsu, fushigi na iitsutae ga nokosarete iru. Sore wa, Sankurian ga ikari to kanashimi no amari, tsukurikake no ōkina fune o keritobashi, sono fune ga yama ni natta to iu hanashi de aru. Sono yama koso, ima mo Bandon no machi no kita ni sobietatsu, Tankuban Perafu-yama na no da.

Kōshite Sankurian no monogatari wa, ai to kanashimi, soshite hito no chikara de wa kaeru koto no dekinai unmei o tsutaeru densetsu to shite, ima mo Sunda no hitobito no kokoro no naka ni ikitsuzukete iru. Kono monogatari ni wa, oyako no kizuna ya seijitsusa, ikari o osaeru koto no taisetsusa nado, samazama na kyōkun ga komerarete iru no de aru.

Dayan Sunbi to Unmei o Kaeta Chikai

Mukashi mukashi, Sunda no chi ni, yutaka de heiwa na ōkoku ga atta. Sono ōkoku ni wa, Dayan Sunbi to iu utsukushii hime ga kurashite ita. Sono utsukushisa wa, marude kyūden no niwa ni saku hana no yō de atta. Dayan Sunbi wa, utsukushii dake de naku, atama mo yoku, toku ni hataori ga tokui de atta. Shikashi, sonna kanojo ni mo hitotsu dake komatta tokoro ga atta. Sore wa, tokidoki hidoku mendōkusagari ni naru koto de atta.

Aru hareta hi no koto, Dayan Sunbi wa kyūden no engawa ni suwari, nuno o otte ita. Soyokaze ga yasashiku fuku naka, kanojo wa nareta tetsuki de ippon ippon no ito o oriawasete ita. Tokoroga, muchū ni natte iru uchi ni, hataori no dōgu no hitotsu ga te kara suberi ochi, engawa no shita e korogatte shimatta.

Dayan Sunbi wa ochita dōgu o mitsumeta. Shikashi, wazawaza tachiagatte tori ni iku no ga mendō datta. Soko de, kanojo wa fukaku kangae mo sezu, tameiki o tsukinagara kō itta.

“Dareka, ano dōgu o hirotte kurenai kashira. Hirotte kureta no ga otoko no hito nara, sono hito o otto ni shimashō. Onna no hito nara, watashi no shimai ni shimashō!”

Tokoroga, sono nanigenai kotoba ga, omoi mo yoranai unmei o maneku koto ni natta.

Shibaraku suru to, doko kara tomo naku, Tuman to iu kuroi ke no osuinu ga arawareta. Tuman wa ochite ita dōgu o kuchi ni kuwaeru to, Dayan Sunbi no moto e hakonde kita.

Sore o mita Dayan Sunbi wa, bikkuri shite shimatta. Masaka dōgu o hirotte kureta no ga, ningen de wa naku, ippiki no inu datta to wa omoi mo shinakatta kara de aru. Kanojo wa komarihatete, jibun no kotoba o kōkai shita. Shikashi, ichido kuchi ni shita chikai o, kantan ni torikesu koto wa dekinakatta.

Jitsu wa, Tuman wa tada no inu de wa nakatta. Inu no sugata no ura ni wa, ōkina himitsu ga kakusarete ita. Tuman wa motomoto kami de atta ga, noroi o kakerare, ningen no sekai de inu no sugata o shite kurashite ita no de aru.

Dayan Sunbi wa, dō shite yoi ka wakarazu, nagai aida nayanda. Sore demo, jibun no chikai o mamoranakereba naranakatta. Kōshite, kanojo wa Tuman to kekkon suru koto ni natta. Daga, kono dekigoto ga jibun no jinsei o ōkiku kaeru koto ni naru to wa, sono toki wa mada shiru yoshi mo nakatta.

Yagate tsukihi ga nagare, futari no aida ni hitori no otoko no ko ga umareta. Sono ko wa, Sankurian to nazukerareta. Sankurian wa, takumashiku, ririshii otoko no ko de atta. Dayan Sunbi wa musuko no tanjō o kokoro kara yorokobi, fukai aijō o sosoginagara taisetsu ni sodateta.

Sankurian wa sukusuku to seichō shi, genki de yūkan na shōnen ni natta. Osanai koro kara shizen ga daisuki de, mori ya oka o kakemawatte asobu koto o tanoshimi ni shite ita. Sonna Sankurian no soba ni wa, itsumo Tuman ga ita.

Sankurian ga doko e iku ni mo, Tuman wa chūjitsu ni tsuite itta. Futari wa totemo naka ga yoku, Sankurian ni totte Tuman wa, taisetsu na tomodachi de ari, kakegae no nai asobi aite demo atta.

Shikashi, Sankurian ni wa, mada shirasarete inai ōkina himitsu ga atta. Sore wa, itsumo jibun no soba ni iru aiken Tuman ga, jitsu wa jibun no hontō no chichioya da to iu koto de atta.

Dayan Sunbi wa, sono himitsu o dare ni mo hanasazu, mune no oku ni shimaikonde ita. Sankurian mo, Tuman no hontō no shōtai o sukoshi mo utagau koto naku, mainichi o tanoshiku sugoshite ita.

Kōshite, haha to ko, soshite Tuman no odayaka na hibi ga tsuzuite ita. Shikashi, sono shiawase na kurashi ga, aru dekigoto o kikkake ni ōkiku kawatte shimau to wa, dare mo omotte inakatta.

Sore wa, yagate Sankurian o kanashimi to kōkai, soshite sakeru koto no dekinai unmei e to michibiku dekigoto to naru no de atta.

Sankurian no Tsuihō

Haha to Ko o Hikisaita Kanashii Dekigoto

Tsukihi wa nagare, osanakatta Sankurian wa, takumashiku yūkan na wakamono e to seichō shita. Mori o arukimawaru koto ga daisuki de, kari mo taisō jōzu de atta. Hotondo mainichi no yō ni, osanai koro kara no chūjitsu na aiken Tuman o tsurete, fukai mori e kari ni dekakete ita. Sankurian ga doko e ikō tomo, Tuman wa itsumo sono soba ni ita.

Aru asa no koto, kigi no aida kara asahi ga sashikomi hajimeta koro, haha no Dayan Sunbi wa musuko o yobiyoseta. Soshite, ryōri ni tsukau shika no shinzō o totte kite hoshii to tanonda.

“Sankurian, mori e itte shika no shinzō o totte kite okure. Kyō wa oishii ryōri o tsukutte agetai no.”

“Wakatta yo, kāsan. Kitto totte kuru yo.”

Sankurian wa genki yoku kotaeru to, sassoku kari no dōgu o yōi shi, Tuman to tomo ni mori e mukatta. Toritachi no saezuri ya konoha no zawameki ni tsutsumarenagara, futari wa kigi no aida no hosoi michi o susunde itta.

Tokoroga, sono hi wa dō iu wake ka, mattaku emono ni megumarenakatta. Asa kara mori no oku made arukimawari, shigemi no kage ni kakuretari, kawabe o sagashitari shita ga, shika o ittō mo tsukamaeru koto ga dekinakatta.

Yagate hi ga katamuki hajimeta. Sore demo emono wa mitsukaranai. Sankurian wa dandan fuan ni natte kita. Haha to no yakusoku o omoidashi, nani mo motazu ni kaereba shikarareru no de wa nai ka to osoreta no de aru.

Sono toki, tōku no kigi no aida o ittō no shika ga hashirinukeru no ga mieta. Sankurian wa sugu ni Tuman ni meijita.

“Tuman! Ano shika o oikakero! Zettai ni nigasu na!”

Shikashi, Tuman wa jitto shita mama, sukoshi mo ugokō to shinakatta. Sankurian ga nando meijite mo, Tuman wa sono ba o hanarenakatta.

Jitsu wa, Tuman wa sono shika ga kamigami ni mamorareta dōbutsu de aru koto o shitte ita. Sono tame, dōshite mo oikakeyō to wa shinakatta no de aru.

Daga, sonna koto o shiranai Sankurian wa, masumasu hara o tateta. Kari no tsukare to aseri, soshite haha ni shikarareru koto e no osore ga kasanari, tōtō ikari o osaekirenaku natte shimatta.

Soshite, nani mo kangaezu, nagai aida jibun ni yorisotte kita chūjitsu na Tuman o koroshite shimatta no de aru.

Shikashi, sono toki no Sankurian wa, Tuman ga jibun no hontō no chichioya de aru koto nado, yume ni mo omotte inakatta.

Ware ni kaetta Sankurian wa, jibun no shita koto ni osoroshiku natta. Sore demo, haha to no yakusoku o hatasazu ni kaeru yūki wa nakatta. Soko de, Tuman no shinzō o toridashi, shika no shinzō no kawari ni mochikaeru koto ni shita.

Yūguredoki, Sankurian wa yōyaku ie ni kaeritsuita. Dayan Sunbi wa musuko no kaeri o yorokobi, mochikaetta shinzō o miru to, nan no utagai mo naku ryōri o hajimeta.

Soshite, aijō o komete ryōri o tsukuri, sono shinzō o tabeta. Shikashi, sore ga shika no mono de wa naku, jibun no otto Tuman no shinzō de aru to wa, sukoshi mo shiranakatta no de aru.

Shibaraku shite, Dayan Sunbi wa Tuman no sugata ga mienai koto ni kizuita.

“Sankurian, Tuman wa doko ni iru no? Dōshite issho ni kaette konakatta no?”

Sankurian wa damarikonda. Kao wa aozame, utsumuita mama nani mo kotaerarenakatta. Nantoka hontō no koto o kakusō to shita ga, mune no naka no fuan wa ōkiku naru bakari de atta.

“Sankurian, kotaete okure. Tuman wa doko e itta no?”

Haha ni mō ichido tazunerare, Sankurian wa furueru koe de, tōtō hontō no koto o uchiaketa.

“Gomen nasai, kāsan. Tuman ga boku no iu koto o kikanakatta kara, koroshite shimattan da. Sakki motte kaetta shinzō wa…… hontō wa Tuman no mono nan da.”

Sono kotoba o kiita Dayan Sunbi wa, amari no odoroki ni kotoba o ushinatta. Karada ga furue, me kara wa namida ga afuredashita.

Nagai aida tomo ni kurashite kita Tuman ga, jitsu no musuko no te ni yotte inochi o ubawareta no de aru. Sore bakari ka, jibun wa shirazu ni otto no shinzō o ryōri shi, tabete shimatta no datta.

Fukai kanashimi wa, yagate hageshii ikari e to kawatta. Dayan Sunbi wa omowazu, soba ni atta ōkina otama o te ni toru to, Sankurian no atama o tsuyoku tataita.

“Itai!”

Sankurian wa omowazu sakenda. Sono ichigeki ni yotte atama ni wa fukai kizu ga dekita. Sono kizuato wa, nochi ni kare no unmei o ōkiku sayū suru koto ni naru no de atta.

“Dete oiki, Sankurian! Omae wa jibun no chichioya o koroshite shimatta no yo!”

Dayan Sunbi wa, namida o nagashinagara sakenda.

Sono kotoba o kiita Sankurian wa, odoroki no amari tachitsukushita. Ima made zutto taisetsu na tomodachi da to omotte ita Tuman ga, jitsu wa jibun no chichioya datta to iu koto o, hajimete shitta no de aru.

Sankurian no mune wa, kanashimi to kōkai de ippai ni natta. Shikashi, mō torikaeshi ga tsukanakatta. Tuman ga ikikaeru koto wa naku, haha no ikari o shizumeru koto mo dekinakatta.

Atama ni kizu o oi, fukaku kokoro o itameta Sankurian wa, tōtō ie o dete itta. Doko e iku ate mo naku, mori no naka o arukitsuzuketa. Yagate sono sugata wa, kuraku nari hajimeta kigi no mukō e to kiete itta.

Ippō, Dayan Sunbi wa, tada hitori, namida o nagashite ita. Ikari ga shizumaru to, jibun ga taisetsu na otto to musuko no futari o, ichido ni ushinatte shimatta koto ni kizuita.

Sore kara to iu mono, Dayan Sunbi wa fukai kanashimi to kōkai no naka de hibi o sugoshita. Nakunatta Tuman o omoi, dokoka tōku e itte shimatta Sankurian o koishiku omoitsuzuketa.

Kōshite, tatta ichido no kari no shippai kara hajimatta dekigoto wa, haha to ko o hikihanashite shimatta no de aru.

Shikashi, kono wakare ga futari no monogatari no owari de wa nakatta.

Nagai nengetsu o hete, unmei wa futatabi futari o meguriawaseru koto ni naru. Shikamo, sore wa futari ga omoi mo yoranai, kanashii saikai to naru no de atta.

Sankurian to Dayan Sunbi no Saikai

Unmei ni Michibikareta Haha to Ko no Saikai

Sankurian ga ie o satte kara to iu mono, Dayan Sunbi wa fukai kanashimi to sabishisa no naka de kurashite ita. Nakunatta Tuman o omoi, yukue no wakaranai hitorimusuko no koto o anjinagara, mainichi o sugoshite ita. Ikari ni makasete Sankurian o oidashite shimatta koto o omoidasu tabi ni, mune ga shimetsukerareru yō de atta.

Kokoro no yasuragi to yurushi o motomete, Dayan Sunbi wa kamigami ni inori o sasageru yō ni natta. Soshite, itsu no hi ka musuko to futatabi aeru koto o negainagara, shizuka ni shugyō o tsuzuketa.

Nagai nengetsu no aida, Dayan Sunbi wa hitasura inori, kurushii shugyō ni mo taetsuzuketa. Sono magokoro wa, tsui ni kamigami no kokoro ni todoita. Kamigami wa kanojo no negai o kikiire, eien no wakasa to utsukushisa o sazuketa no de aru.

Sore kara to iu mono, Dayan Sunbi no sugata wa sukoshi mo oiru koto ga nakatta. Dore hodo nengetsu ga nagarete mo, sono kao wa wakaku utsukushii mama de atta. Marude toki no nagare ga, kanojo dake o wasurete shimatta ka no yō de atta.

Ippō, furusato o hanareta Sankurian wa, tōi kuniguni o tabishinagara, nagai nengetsu o sugoshite ita. Fukai mori o nuke, takai yama o koe, samazama na tochi o meguriaruita. Sono tabi no tochū de, ōku no shugyōsha ya kenjatchi ni deai, fushigi na jutsu ya tatakai no waza, samazama na chie o manande itta.

Kōshite Sankurian wa, tsuyoku takumashiku, sugureta chikara o motsu rippa na otoko e to seichō shita. Kazukazu no keiken o kasaneru uchi ni, yūki to chie o mi ni tsukete itta no de aru. Shikashi, sono kokoro no oku ni wa, osanai koro no omoide ya, tōku hanareta furusato e no natsukashisa ga, ima mo hissori to nokotte ita.

Yagate, nanjūnen mo no tsukihi ga nagareta.

Aru hi no koto, nagai tabi o tsuzukete ita Sankurian wa, midori yutaka na yamayama to ōkina kigi ni kakomareta utsukushii mura e to tadoritsuita. Suzushii kaze ga fuki, toritachi no koe ga hibiku sono mura wa, dokoka natsukashii fun'iki ni tsutsumarete ita.

Sankurian wa mawari no keshiki o nagamenagara, fushigi na kimochi ni natta. Hajimete otozureta hazu na noni, nazeka mukashi kara shitte iru basho no yō ni kanjirareta no de aru.

Shikashi, soko ga jibun no umare sodatta furusato de aru koto ni wa, sukoshi mo kizuite inakatta.

Mura no naka o aruite ita toki, Sankurian wa hitori no utsukushii josei ni deatta. Sono josei wa, yasashii kaodachi to jōhin na monogoshi o shite ori, odayaka na koe de hanashite ita. Sankurian wa sono sugata o hitome mita shunkan, sukkari kokoro o ubawarete shimatta.

Tokoroga, sono josei koso, jitsu no hahaoya de aru Dayan Sunbi datta no de aru.

Kamigami kara sazukatta fushigi na chikara ni yotte, Dayan Sunbi wa mukashi to kawaranu wakasa to utsukushisa o tamotte ita. Sono tame, Sankurian wa me no mae no josei ga jibun no hahaoya da to wa, yume ni mo omowanakatta.

Dayan Sunbi mo mata, me no mae ni tatsu takumashii otoko ga, nagai aida aezu ni ita musuko da to wa kizukanakatta. Osanai koro no Sankurian no omokage wa, nagai nengetsu to tabi no keiken ni yotte ōkiku kawatte ita kara de aru.

Sore kara, futari wa sukoshi zutsu shitashiku natte itta. Sankurian wa tabitabi Dayan Sunbi no moto o otozure, samazama na hanashi o shite wa, issho ni tanoshii jikan o sugoshita.

Hi ga tatsu ni tsurete, futari no kokoro wa masumasu chikazuite itta. Tagai no hontō no kankei o shiranai mama, itsushika futari no aida ni wa koigokoro ga mebaete ita no de aru.

Sankurian wa, yōyaku jibun no kokoro ni kanau josei ni deaeta to omotte ita. Ippō, Dayan Sunbi mo, kare to issho ni iru to fushigi na atatakasa to yasuragi o kanjite ita. Shikashi, sono aite ga jibun no musuko de aru to wa, sukoshi mo kangaete inakatta.

Sonna aru hi no koto, futari wa kokage ni koshi o oroshi, shizuka na hitotoki o sugoshite ita. Dayan Sunbi wa, sotto Sankurian no kami ni te o nobashi, yasashiku nadeta.

Sono toki de atta.

Kami no aida kara, atama ni nokoru hitotsu no furui kizuato ga mieta no de aru.

Dayan Sunbi wa, hatto shite te o tometa. Mune ga hageshiku takanari, karada ga chiisaku furue hajimeta. Sono kizuato ni wa, mioboe ga atta.

Tōi mukashi no kioku ga, tsugitsugi to yomigaette kita. Ikari ni makasete, osanai Sankurian no atama o otama de tataite shimatta, ano kanashii hi no koto de aru.

Dayan Sunbi wa, mō ichido sono kizuato o tashikameta. Kizu no katachi mo basho mo, ano hi, musuko no atama ni tsukete shimatta mono to, mattaku onaji de atta.

Sono shunkan, Dayan Sunbi no kao kara chi no ke ga hiita. Me ni wa namida ga afure, mune ga kurushiku natta.

Yōyaku, subete ga wakatta no de aru.

Me no mae ni iru kono otoko wa, nagai aida aitai to negaitsuzukete ita, ano Sankurian datta no da.

Dayan Sunbi wa, furueru koe de chiisaku tsubuyaita.

“Anata wa…… anata wa, Sankurian…… watashi no musuko datta no ne…….”

Sankurian wa, odoroita yō ni kanojo o mitsumeta. Naze Dayan Sunbi ga totsuzen, jibun no na o yobi, kanashisō na kao o shite iru no ka, mattaku wakaranakatta.

Ippō, Dayan Sunbi no kokoro ni wa, yorokobi to kanashimi ga irimajitte ita. Nagai aida koishiku omotte ita musuko to, yōyaku saikai dekita koto wa, nani yori mo ureshii koto de atta.

Shikashi, sore to dōji ni, osoroshii jijitsu ni kizuite shimatta. Jibun ga kokoro o yosete ita aite wa, hoka demo nai, jibun no jitsu no musuko datta no de aru.

Shiawase ni michite ita hazu no saikai wa, kōshite kanashii unmei e to kawatte itta.

Dayan Sunbi wa, futari no aida ni mebaeta koi o, kono mama tsuzukeru koto wa kesshite dekinai to satotta.

Daga, Sankurian wa mada nani mo shiranakatta. Kare wa sude ni Dayan Sunbi o kokoro kara aishite ori, sono omoi o kantan ni suteru koto nado dekinakatta no de aru.

Kōshite, unmei wa futatabi haha to ko o tamesō to shite ita.

Soshite, kono dekigoto ga, yagate Tankuban Perafu-yama no tanjō e to tsunagaru, ōkina higeki no hajimari to naru no de atta.

Fukanō na Jōken

 Sankurian no Fushigi na Chikara ni Tach向kau Dayan Sunbi no Chie 

Aisuru otoko ga jitsu no musuko de aru to shitta Dayan Sunbi wa, fukai kanashimi to fuan ni tsutsumarete ita. Nagai aida machinozonde ita saikai ga, konna ni mo tsurai genjitsu o motarasu to wa, yume ni mo omotte inakatta. Musuko ni futatabi aeta yorokobi wa, itsushika osore to tomadoi e to kawatte ita.

Dayan Sunbi wa, Sankurian ni hontō no koto o tsutaeyō to shita. Kare ga mada osanakatta koro no koto, Tuman to issho ni kurashite ita hibi no koto, soshite futari ga hanarebanare ni natta kanashii dekigoto o, yukkuri to hanashite kikaseta.

“Sankurian, yoku kiite okure. Watashi wa anata no tsuma ni naru koto wa dekinai no. Watashi wa anata no hontō no hahaoya na no yo. Atama ni nokotte iru sono kizuato ga nani yori no shōko yo. Anata ga mada chiisakatta koro, watashi ga okotte tataite shimatta toki ni tsuita kizu na no.”

Dayan Sunbi wa, furueru koe de sō tsugeta.

Shikashi, Sankurian wa sono kotoba o shinjiyō to wa shinakatta. Me no mae ni iru wakaku utsukushii josei ga, jibun no hahaoya de aru hazu ga nai to omotta no de aru. Dayan Sunbi no sugata wa, nagai nengetsu ga sugita to wa omoenai hodo wakawakashiku, utsukushii mama de atta.

“Sonna hazu wa nai! Shinjirareru mono ka! Konna ni wakakute utsukushii hito ga, dōshite boku no hahaoya nan da! Boku wa anata o aishite iru. Nani ga atte mo, anata to kekkon surun da!”

Sankurian wa, tsuyoi kuchō de iihatta.

Dayan Sunbi wa kotoba o ushinatta. Me no mae no Sankurian wa, mukashi no osanai shōnen de wa nakatta. Nagai tabi no aida ni tsuyoi chikara o mi ni tsuke, dare ni mo kantan ni wa tomerarenai otoko ni natte ita no de aru.

Dayan Sunbi ga dore hodo shinjitsu o setsumei shite mo, Sankurian no kimochi wa kawaranakatta. Sore dokoro ka, kare no kekkon e no omoi wa masumasu tsuyoku natte itta.

Sore kara to iu mono, Dayan Sunbi wa mainichi nayamitsuzuketa. Jitsu no musuko to kekkon suru koto nado, kesshite yurusareru koto de wa nakatta. Shikashi, hakkiri to kotowareba, Sankurian ga okori, sono osoroshii chikara ni yotte jibun dake de naku, mura no hitobito ni made wazawai ga oyobu kamo shirenakatta.

Dō sureba, kono kekkon o omoitodomaras eru koto ga dekiru no darō ka.

Nagai aida kangaenuita sue, Dayan Sunbi wa hitotsu no chie o omoitsuita. Sore wa, donna ni chikara no aru mono demo, hitoban de wa tōtei nashitogerarenai yō na, muzukashii jōken o dasu koto de atta.

Aru hi no koto, Dayan Sunbi wa Sankurian o yobi, shizuka ni hanashihajimeta.

“Wakatta wa, Sankurian. Dōshite mo watashi to kekkon shitai to iu no nara, sono negai o kikiiremashō. Demo, sono mae ni hitotsu dake, jōken o mamotte morawanakereba naranai no.”

Sono kotoba o kiita Sankurian no kao wa, tachimachi akaruku natta.

“Donna jōken demo itte kure! Anata no nozomi nara, nan datte kanaete miseru!”

Sankurian wa jishin ni michita koe de kotaeta.

Dayan Sunbi wa fukaku iki o sui, yukkuri to kotoba o tsuzuketa.

“Sore nara, Chitarumu-gawa no nagare o sekitomete, ōkina mizuumi o tsukutte okure. Soshite, sono mizuumi ni ukaberu rippa na ōkina fune mo tsukuru no yo. Tadashi, subete no shigoto o kon'ya hitoban de owarasenakereba naranai wa. Akegata, ondori ga saisho ni naku mae made ni, kanarazu kansei saseru no yo!”

Sankurian wa shibaraku damatte ita ga, yagate jishin arige ni hohoenda. Nagai tabi no aida ni samazama na fushigi na jutsu o mi ni tsuketa kare ni totte, dore hodo ōkina shigoto demo, fukanō na koto de wa nai to omoeta no de aru.

“Sore dake no koto ka! Shinpai wa iranai. Yo ga akeru made ni, mizuumi mo fune mo kanarazu kansei sasete miseru!”

Sankurian wa chikarazuyoku iikitta.

Dayan Sunbi wa, mune no naka no fuan o hisshi ni kakushita. Dōka Sankurian ga, yoake made ni shigoto o oeru koto ga dekimasen yō ni to, kokoro no naka de inotte ita.

Yagate taiyō ga yama no mukō ni shizumi, Sunda no chi o fukai yoru no yami ga tsutsumikonda.

Sankurian wa mori no mannaka ni tatsu to, shizuka ni me o toji, nagai nengetsu o kakete mi ni tsuketa fushigi na jumon o tonaehajimeta.

Suruto, totsuzen, tsuyoi kaze ga fukihajimeta. Kigi wa ōkiku yure, ha ga zawameki, mori no naka ni wa bukimi na kehai ga tadayoihajimeta.

Yagate kurayami no oku kara, Jin to yobareru seirei ya, samazama na fushigi na sonzai ga tsugitsugi to sugata o arawashita. Karera wa Sankurian no yobikake ni ōjite atsumatte kita no de aru.

Sankurian wa, karera ni mukatte ōgoe de meijita.

“Yami no sekai ni sumu monotachi yo! Watashi no chikara to nare! Kono kawa o sekitome, ōkina mizuumi to rippa na fune o tsukuru no da! Yo ga akeru mae ni, subete o kansei saseyo!”

Sono meirei o kiku to, Jin ya seireitachi wa issei ni hatarakihajimeta.

Karera no ugoki wa, ningen ni wa tōtei mane no dekinai hodo hayakatta. Ōkina kigi ga tsugitsugi to kiritaosare, kyodai na iwa ga mochiagerare, tsuchi ya ishi ga tsumikasanerarete itta.

Mori no achira kochira kara, ki no taoreru oto ya iwa no butsukaru oto ga hibikiwatatta. Chitarumu-gawa no hageshii nagare wa, sukoshi zutsu takaku natte iku tsutsumi ni yotte sekitomerare, yagate mizu ga tamarihajimeta.

Kōshite, hiroi mizuumi ga sukoshi zutsu sugata o arawashite itta.

Ippō, betsu no seireitachi wa ōkina fune o tsukutte ita. Futoi ki no miki o hakobi, mokuzai o kezuri, kumiawasenagara, jōbu de rippa na fune o katachizukutte itta.

Yoru wa masumasu fukamatte itta. Shikashi, sagyō no ikioi wa otoroeru dokoro ka, masumasu hayaku natte itta.

Tsutsumi wa hotondo kansei shi, mizuumi no mizu wa shidai ni fuete itta. Soshite, ōkina fune mo, ato sukoshi de kansei shiyō to shite ita.

Sono yōsu o tōku kara mimamotte ita Dayan Sunbi wa, mune ga shimetsukerareru yō na omoi de atta.

Masaka, Sankurian ga hontō ni, konna ni mo muzukashii shigoto o nashitogeyō to shite iru to wa omowanakatta no de aru.

Sora wa mada kuraku, yoake made ni wa jikan ga nokotte ita. Sore na noni, mizuumi mo fune mo, mō sugu kansei shisō de atta.

“Kono mama de wa taihen na koto ni natte shimau…… Moshi hontō ni kansei shite shimattara, watashi wa dō sureba ii no darō……”

Dayan Sunbi wa, fuansō ni tsubuyaita.

Kanojo wa kurai yozora o miage, sore kara yasumu koto naku hatarakitsuzukeru seireitachi o mitsumeta.

Kono mama nani mo sezu ni matte iru wake ni wa ikanakatta.

Nan to shite demo, yo ga akeru mae ni Sankurian no shigoto o tomenakereba naranai.

Shikashi, hatashite Dayan Sunbi wa, kyōdai na chikara o motsu musuko no keikaku o tomeru koto ga dekiru no darō ka.

Soretomo, nogareru koto no dekinai unmei ga, futatabi futari o kanashii ketsumatsu e to michibiite shimau no darō ka.

Sono yoru, shizuka na Sunda no chi de wa, nochi ni Tankuban Perafu-yama no tanjō to shite kataritsugareru, ōkina dekigoto ga okorō to shite ita no de atta.

Sakuryaku to Noroi

Sankurian no Ikari to Tankuban Perafu-yama no Yurai

Sunda no chi wa, masumasu fukai yoru no yami ni tsutsumarete ita. Tsumetai kaze ga kigi no aida o fukinuke, mori no oku kara wa taemanaku ōkina monooto ga hibiite ita. Mada kurai yozora no shita de wa, jin ya fushigi na seireitachi ga, Sankurian no meirei ni shitagai, odorokubeki chikara de hatarakitsuzukete ita.

Kyodai na iwa ga tsugitsugi to tsumikasanerare, kawa o sekitomeru tsutsumi wa masumasu takaku natte itta. Chitarumu-gawa no mizu wa shidai ni tamari, hiroi mizuumi ga sugata o arawashihajimete ita. Sono chikaku de wa, ōkina fune mo hotondo kansei shiyō to shite ita. Kezurare, kumiawasareta mokuzai wa, rippa de jōbu na fune no katachi ni natte ita.

Tōku kara sono yōsu o mitsumete ita Dayan Sunbi wa, mune ga hageshiku takanaru no o kanjite ita. Ano muzukashii jōken o daseba, kitto Sankurian mo akirameru darō to omotte ita. Shikashi, me no mae de okotte iru koto wa, kanojo no yosō to wa mattaku chigatte ita. Mireba miru hodo, Sankurian ga futatsu no shigoto o kansei saseyō to shite iru koto ga wakatta no de aru.

Sore na noni, yoru wa mada akete inakatta.

Dayan Sunbi no kokoro wa, fuan de ippai ni natta. Moshi Sankurian ga ondori no naku mae ni mizuumi to fune o kansei sasete shimattara, dō naru no darō ka. Jitsu no musuko to kekkon suru koto nado, kesshite dekiru hazu ga nakatta. Shikashi, kare no osoroshii chikara to ganko na seikaku o omou to, dō shite yoi no ka wakaranakatta.

“Dō shitara ii no darō…… Moshi hontō ni kansei shite shimattara, watashi wa dō yatte ano ko no negai o kotowareba ii no……”

Dayan Sunbi wa, fuansō ni chiisaku tsubuyaita.

Kanojo wa yozora o miage, kamigami ni tasuke o motometa. Suruto, shizuka na yoru no naka de, futo hitotsu no kangae ga atama ni ukanda.

Sankurian o tetsudatte iru jin ya seireitachi wa, yoru no aida shika hataraku koto ga dekinai. Moshi karera ga asa ni natta to omoeba, kitto shigoto o yamete shimau ni chigainai.

Sō kangaeta Dayan Sunbi wa, sugu ni mura no onnatachi no moto e hashitte itta.

“Minna, dōka kon'ya dake watashi o tasukete okure. Higashi no sora ga, marude yoake no yō ni mieru yō ni shitai no. Aka to kiiro no nuno o higashi no hō e hirogete, sore kara mura no higashigawa de wara o moyashite okure. Tōku kara mireba, kitto asahi ga noborihajimeta yō ni mieru hazu yo!”

Dayan Sunbi wa, shinken na hyōjō de tanonda.

Kanojo no kurushimi o shitte ita mura no onnatachi wa, sugu ni chikara o kasu koto ni shita. Mina de kyōryoku shi, shizuka na yoru no naka de junbi o hajimeta.

Aka to kiiro no nuno ga higashi no hō e ōkiku hirogerare, tsumiagerareta wara ni wa hi ga tsukerareta.

Yagate honō ga ikioi yoku moeagari, kurayami o akaruku terashihajimeta. Kemuri ga sora e to tachiagari, akai honō no hikari ga hirogerareta nuno ni utsutta.

Suruto, tōku kara mita higashi no sora wa, marude asahi ga noboru chokuzen no yō ni akaku somatte mieta no de aru.

Mada yoru de aru ni mo kakawarazu, atari ni wa yoake ga chikazuita ka no yō na akarusa ga hirogatte itta.

Sono toki, mura no ondoritachi ga tsugitsugi to nakihajimeta.

“Kokekokkō! Kokekokkō!”

Ondori no nakigoe wa murajū ni hibikiwatari, mori no oku de hataraite ita Sankurian ya seireitachi no mimi ni mo todoita.

Higashi no sora ga akaku somari, ondori no nakigoe ga kikoeru to, jin ya seireitachi wa issei ni te o tometa.

“Yo ga aketa zo! Mō jikan ga nai!”

Hitori no seirei ga sakenda.

Karera wa, hontō ni asa ga kita no da to omoikonde shimatta. Yoru no aida ni shigoto o oenakereba naranakatta tame, kore ijō hataraku koto wa dekinai to kangaeta no de aru.

Kōshite jin ya seireitachi wa, kanseishikaketa tsutsumi to fune o sono mama ni shite, tsugitsugi to kurayami no naka e kiete itta. Soshite, moto no fushigi na sekai e to kaette itta no de atta.

Tsui sakihodo made ōkina monooto ni michite ita mori wa, tachimachi shizumarikaetta.

Kansei majika datta tsutsumi wa, sono mama nokosareta. Ato sukoshi de dekiagaru hazu datta ōkina fune mo, tochū no mama okizari ni sarete shimatta.

Totsuzen, tetsudatte ita seireitachi ga sugata o keshita koto ni, Sankurian wa odoroita.

Kare wa higashi no sora o miageta. Sora wa akaku somari, ondori no nakigoe ga achira kochira kara kikoete ita.

“Sonna hazu wa nai! Dōshite mō asa ni natta no da! Mada yoru wa nagai hazu de wa nai ka!”

Sankurian wa, odoroki to ikari no irimajitta koe de sakenda.

Kare wa nando mo jumon o tonae, jin ya seireitachi o yobimodosō to shita. Shikashi, dore hodo yobikakete mo, dare hitori modotte kuru mono wa inakatta.

Yagate Sankurian wa, nanika ga okashii koto ni kizuita.

Kare wa tōku ni mieru akai hikari o jitto mitsumeta. Soshite, sono hikari ga asahi ni yoru mono de wa naku, moyasareta wara no honō to, hirogerareta aka ya kiiro no nuno ni yotte tsukuridasareta mono de aru koto o shitta.

Sono shunkan, Sankurian wa subete o satotta.

Jibun wa, damasarete ita no de aru.

“Dayan Sunbi! Sō ka, kore wa omae no shiwaza datta no ka!”

Sankurian no donarigoe ga, shizumarikaetta mori ni hibikiwatatta.

Kare no ikari wa, mohaya osaerarenakatta. Are hodo chikara o tsukushite susumete kita shigoto ga, subete muda ni natte shimatta no de aru.

Kanseishikaketa mizuumi mo, ōkina fune mo, ima no Sankurian ni wa nan no imi mo nakatta.

Kao o makka ni shi, arai iki o hakinagara, Sankurian wa me no mae ni aru kyodai na fune e to ayumiyotta.

“Omae no negai o kanaeru tame ni, watashi wa kore hodo no chikara o tsukushita to iu noni! Sore na noni, omae wa watashi o damashita no ka!”

Sankurian wa ikari ni furuenagara sakenda.

Soshite, tsui ni sono ikari o osaekirenaku nari, me no mae no kyodai na fune o chikara ippai keritobashita.

“Dōōōn!”

Monosugoi oto to tomo ni, kyodai na fune wa chū ni uki, hikkurikaette jimen ni ochita.

Daichi wa hageshiku yure, marude jishin ga okita ka no yō de atta. Kigi wa ōkiku yure, iwa ga ugoki, odoroita toritachi wa issei ni sora e to tobitatta.

Kyodai na fune wa, soko o sora ni muketa mama, jimen ni fuseru yō ni shite yokotawatta.

Iitsutae ni yoreba, Sankurian no fushigi na chikara to shizen no hataraki ni yotte, sono hikkurikaetta fune wa, yagate ōkina yama e to sugata o kaeta to iu.

Sono yama wa, marude kyodai na fune ga sakasama ni natte iru yō na katachi o shite ita.

Sore koso ga, nochi ni Tankuban Perafu-yama to yobareru yō ni natta yama na no de aru.

Sundago de “Tankuban Perafu” to wa, “hikkurikaetta fune” to iu imi de aru. Genzai mo sono yama wa, Bandon no kita ni sobietachi, haha to ko no kanashii unmei, hahaoya no chie, soshite ikari o osaerarenakatta musuko no monogatari o, shizuka ni tsutaete iru.

Ippō, ikari o bakuhatsu saseta Sankurian wa, sono basho o satte itta. Fukai mori to yamayama no naka e sugata o keshi, sono go doko e itta no ka, dare ni mo wakaranakatta.

Sore irai, Sankurian no shōsoku o kiita mono wa inakatta to iu.

Dayan Sunbi wa, kōshite kesshite yurusarenai kekkon o sakeru koto ga dekita. Shikashi, Sankurian no negai o shirizokeru koto ga dekita kara to itte, kanojo no kanashimi ga kieta wake de wa nakatta.

Nagai aida aitai to negaitsuzukete ita musuko o, futatabi ushinatte shimatta no de aru.

Shiawase o motarasu hazu datta saikai wa, kōshite nidome no kanashii wakare to natte shimatta.

Kono yō ni, Sunda no hitobito no aida de furuku kara kataritsugarete kita Tankuban Perafu-yama no yurai ni wa, Sankurian to Dayan Sunbi no kanashii monogatari ga fukaku musubitsuite iru no de aru.

Kono densetsu wa, dore hodo ōkina chikara o motte ite mo, chie ni kateru to wa kagiranai koto o oshiete iru. Mata, aite o rikai shiyō to shinai ai wa, toki to shite kurushimi e to kawari, osaekirenai ikari wa, ōkina higeki o hikiokosu koto mo aru no da.

Soshite ima mo, hitobito ga hikkurikaetta fune no yō na katachi o shita Tankuban Perafu-yama o miageru toki, soko ni wa Sankurian no monogatari ga shizuka ni ikizuite iru ka no yō de aru.

Sore wa, ai to unmei, kōkai, soshite ikari ga motarashita higeki ni tsuite, itsu made mo kataritsugareru hitotsu no densetsu na no de atta.

Versi Bahasa Inggris 

The Origin of Mount Tangkuban Perahu

Once upon a time, in the beautiful land of Sunda, West Java, Indonesia, there was a peaceful region surrounded by lush green mountains and breathtaking natural scenery. For generations, the people of this land had passed down a mysterious tale known as The Legend of Sangkuriang.

This legend tells the story of a young man named Sangkuriang, whose life was shaped by an extraordinary and tragic fate. One day, he met a beautiful woman named Dayang Sumbi and fell deeply in love with her. Little did he know that the woman who had captured his heart was none other than his own mother. What began as a seemingly joyful encounter would eventually lead to a heartbreaking destiny.

The legend also tells of a remarkable event that gave rise to one of West Java's most famous mountains. Overwhelmed by anger and sorrow, Sangkuriang kicked away a massive unfinished boat, which, according to the legend, was transformed into a mountain. That mountain became known as Mount Tangkuban Perahu, which still rises majestically to the north of Bandung.

To this day, the story of Sangkuriang lives on in the hearts of the Sundanese people. Passed down from one generation to the next, this timeless legend speaks of love, sorrow, and the mysterious power of fate. Beyond its tragic events, it carries valuable moral lessons about family bonds, honesty, self-control, and the consequences of allowing anger to overcome reason.

Dayang Sumbi and the Promise That Changed Her Destiny

Once upon a time, in the beautiful land of Sunda, there was a peaceful and prosperous kingdom. In that kingdom lived a beautiful princess named Dayang Sumbi. Her beauty was as enchanting as a flower blooming in the royal garden. Besides her extraordinary beauty, Dayang Sumbi was known for her intelligence and remarkable skills, especially in weaving. However, despite her many wonderful qualities, she had one weakness: she could sometimes be terribly lazy, even when it came to the simplest tasks.

One bright and sunny day, Dayang Sumbi was sitting on the veranda of the palace, weaving a beautiful piece of cloth. A gentle breeze blew softly as her skilled fingers carefully wove the threads together. Suddenly, while she was deeply absorbed in her work, one of her weaving tools slipped from her hand and fell beneath the veranda.

Dayang Sumbi looked down at the fallen tool. Feeling too lazy to get up and retrieve it herself, she let out a long sigh. Without thinking about the consequences, she made a careless promise.

"Whoever picks up my weaving tool, if he is a man, I shall take him as my husband. But if she is a woman, I shall make her my sister!"

Little did she know that those simple words would change her destiny forever.

A few moments later, a black-furred male dog named Tumang appeared from nowhere. The dog walked toward the fallen weaving tool, gently picked it up in his mouth, and faithfully brought it back to Dayang Sumbi.

The princess was utterly astonished. She had never imagined that the one who would fulfill her promise would be a dog rather than a human being. Her heart was filled with confusion and regret. Yet, a promise once spoken could not easily be taken back.

Unknown to many, Tumang was no ordinary dog. Behind his humble appearance lay a great secret. He was actually a god who had been placed under a curse and forced to live in the human world in the form of a dog.

Dayang Sumbi was deeply troubled and did not know what to do. For a long time, she struggled with her feelings, but she knew that she had to honor the promise she had made. And so, despite her reluctance, she eventually married Tumang, never imagining how greatly this unusual marriage would change her life.

As time passed, a baby boy was born from their marriage. They named him Sangkuriang. He was a handsome and strong child, and his birth brought great happiness to Dayang Sumbi. She raised him with tenderness, care, and boundless motherly love.

Sangkuriang grew into a healthy, energetic, and courageous boy. From an early age, he loved nature and enjoyed exploring the forests and hills surrounding his home. Wherever he went, his faithful companion, Tumang, was always by his side.

The two were inseparable. Tumang followed Sangkuriang wherever he wandered, and the boy regarded the dog as his dearest friend and most beloved playmate. Together, they spent countless joyful days exploring the beauty of the natural world.

However, there was a great secret that Sangkuriang had never been told. The loyal dog he loved so dearly was, in fact, his own father.

Dayang Sumbi kept this truth hidden deep within her heart, never revealing it to her son. Meanwhile, Sangkuriang continued to live happily, never once suspecting Tumang's true identity.

Day after day, the peaceful life of Dayang Sumbi, Sangkuriang, and Tumang continued. Their days were filled with warmth, affection, and happiness. Yet none of them could have imagined that their peaceful world would soon be shattered by an unexpected event.

That event would mark the beginning of Sangkuriang's tragic journey, leading him toward sorrow, regret, and a destiny from which he could never escape.

The Banishment of Sangkuriang

The Tragic Event That Separated a Mother and Her Son

As the years passed, Sangkuriang, once a little boy, grew into a strong, handsome, and courageous young man. He loved exploring the forest and had become a skilled hunter. Almost every day, he ventured deep into the woods with Tumang, the faithful dog who had accompanied him since childhood. Wherever Sangkuriang went, Tumang was always by his side.

One morning, as the first rays of sunlight filtered through the trees, Dayang Sumbi called her son. She asked him to go into the forest and bring back a deer's heart, for she wished to prepare a special meal.

"My dear son, go into the forest and bring me the heart of a deer. I would like to cook something delicious for us," Dayang Sumbi said gently.

"Of course, Mother. I will find one for you," Sangkuriang replied enthusiastically.

Without delay, Sangkuriang gathered his hunting equipment and set off into the dense forest with Tumang. The cheerful songs of birds and the gentle rustling of leaves accompanied them as they followed a narrow path beneath the towering trees.

However, fortune did not favor Sangkuriang that day. From early morning until the sun began to sink toward the western horizon, he searched tirelessly for deer. Again and again, he hid behind bushes and explored the riverbanks, yet he could not catch a single one.

As evening approached, Sangkuriang grew increasingly anxious. He remembered his mother's request and feared returning home empty-handed.

Suddenly, he spotted a deer running between the trees in the distance. Without hesitation, he ordered Tumang to chase it.

"Tumang! Chase that deer! Don't let it escape!" he shouted.

But Tumang remained perfectly still. No matter how many times Sangkuriang commanded him, the faithful dog refused to move.

What Sangkuriang did not know was that Tumang understood the deer was a sacred animal protected by the gods. For that reason, he would not pursue it.

Unaware of the truth, Sangkuriang became furious. Exhaustion, frustration, and fear of disappointing his mother overwhelmed him. Unable to control his anger, he acted without thinking.

In a moment of uncontrollable rage, Sangkuriang killed Tumang, the loyal companion who had stood beside him for so many years.

Yet he had no idea that the dog he had just killed was, in fact, his own father.

When Sangkuriang finally came to his senses, fear and regret began to fill his heart. Nevertheless, he was still afraid to return home without the deer's heart his mother had requested. Desperate to conceal his failure, he removed Tumang's heart and decided to bring it home in place of a deer's heart.

At sunset, Sangkuriang finally returned home. Dayang Sumbi welcomed her son warmly. Seeing that he had brought back a heart from his hunt, she happily began preparing the meal without the slightest suspicion.

With great care and affection, Dayang Sumbi cooked the heart and ate the meal she had prepared. Little did she know that the heart she had eaten belonged not to a deer, but to Tumang, her own husband.

Some time later, Dayang Sumbi noticed that Tumang was nowhere to be seen.

"Sangkuriang, where is Tumang? Why hasn't he returned with you?" she asked.

Sangkuriang fell silent. His face turned pale, and he lowered his head, unable to answer. He tried to hide the truth, but the guilt weighing upon his heart grew heavier with every passing moment.

"Sangkuriang, answer me, my son. Where is Tumang?" Dayang Sumbi asked again.

At last, with a trembling voice, Sangkuriang confessed.

"Forgive me, Mother. I killed Tumang because he refused to obey my command. The heart I brought home earlier... it was actually Tumang's heart."

Hearing those words, Dayang Sumbi was struck with horror. Her body trembled, and tears began streaming down her cheeks.

Her beloved Tumang, who had shared her life for so many years, had been killed by their own son. Even more horrifying was the realization that she had unknowingly cooked and eaten her husband's heart.

Her overwhelming grief soon turned into uncontrollable anger. In a moment of despair, Dayang Sumbi seized a large cooking ladle lying nearby and struck Sangkuriang on the head.

"Ouch!" Sangkuriang cried out in pain.

The blow left a deep wound on his head, a scar that would one day play an important role in shaping his destiny.

"Get out of my sight, Sangkuriang! You have killed your own father!" Dayang Sumbi cried, her voice trembling with sorrow and rage.

Sangkuriang stood frozen in disbelief. For the first time in his life, he learned that Tumang, the faithful dog he had always considered his closest companion, was actually his biological father.

His heart was overwhelmed with sorrow, guilt, and regret. But it was too late. Tumang could never return to life, and his mother's anger could not be calmed.

Wounded in both body and spirit, Sangkuriang finally left his home. With no destination in mind, he wandered into the forest, walking through the hills and beneath the darkening trees until his figure disappeared into the distance.

Meanwhile, Dayang Sumbi remained alone, weeping bitterly. As her anger slowly faded, she realized that she had lost the two beings she loved most dearly: her husband, Tumang, and her son, Sangkuriang.

From that day onward, Dayang Sumbi lived in deep sorrow and regret. She mourned the death of Tumang and longed for her son, who had wandered far away to an unknown land.

Thus, an unfortunate hunting trip had torn a mother and her son apart. Yet neither of them knew that their painful separation was not the end of their story, but the beginning of an even more tragic destiny.

Many years later, fate would bring them together once again, in circumstances neither could ever have imagined.

The Reunion of Sangkuriang and Dayang Sumbi

The Fateful Reunion of a Mother and Her Son

After Sangkuriang left home, Dayang Sumbi lived in deep sorrow and loneliness. Day after day, she mourned the death of Tumang and longed for her only son, who had disappeared without a trace. Whenever she remembered how she had driven Sangkuriang away in a moment of anger, her heart was filled with unbearable regret.

Seeking peace and forgiveness, Dayang Sumbi devoted herself to prayer and meditation. She prayed to the gods with all her heart, hoping that one day she might be reunited with her beloved son.

For many years, Dayang Sumbi continued her prayers and spiritual devotion with patience and sincerity. At last, the gods were moved by her unwavering faith. As a reward for her devotion, they granted her the extraordinary gift of eternal youth and beauty.

From that day forward, Dayang Sumbi never grew old. No matter how many years passed, her face remained as youthful and beautiful as ever. It was as though time itself had forgotten her.

Meanwhile, far away from his homeland, Sangkuriang wandered from one distant land to another. He traveled through dense forests, crossed towering mountains, and explored many unfamiliar places. Along his journey, he met wise sages and hermits who taught him mystical powers, the art of warfare, and many kinds of knowledge.

As the years went by, Sangkuriang grew into a strong, handsome, and powerful man. His long journey had shaped him into a courageous warrior, blessed with extraordinary abilities and wisdom. Yet deep within his heart, memories of his childhood and the homeland he had left behind still remained.

Before he knew it, several decades had passed.

One day, after years of wandering, Sangkuriang arrived at a beautiful village surrounded by green hills and towering trees. A cool breeze swept gently through the village, while the songs of birds echoed through the peaceful surroundings.

As he looked around, Sangkuriang felt a strange sense of familiarity. Although he believed he had never visited the place before, something about it seemed to awaken distant memories.

Little did he know that he had returned to the very village where he had been born and raised.

While walking through the village, Sangkuriang suddenly caught sight of a remarkably beautiful woman. Her gentle face, graceful manner, and soft voice captivated him at once. The moment he saw her, his heart was filled with admiration and affection.

But the woman was none other than Dayang Sumbi, his own mother.

Thanks to the divine blessing she had received from the gods, Dayang Sumbi had retained her youthful appearance and extraordinary beauty. She looked just as she had many years earlier, when Sangkuriang had left home.

Sangkuriang, having been separated from his mother for so long, did not recognize her. Likewise, Dayang Sumbi had no idea that the strong and handsome man standing before her was the son she had longed to see for so many years.

Time and experience had transformed Sangkuriang so greatly that almost no trace of the little boy she remembered remained.

From that day onward, the two began to spend more time together. Sangkuriang frequently visited Dayang Sumbi, sharing stories of his travels and enjoying long conversations with her.

As the days passed, they grew increasingly close. Without knowing the truth about their relationship, feelings of love gradually blossomed between them.

Sangkuriang believed he had finally found the woman of his dreams. Meanwhile, Dayang Sumbi felt a mysterious warmth and comfort whenever she was near him. Never once did she imagine that the man who had captured her heart was her own son.

Then, one peaceful day, the two were sitting together beneath the shade of a tree, enjoying the gentle afternoon breeze. Dayang Sumbi reached out and tenderly stroked Sangkuriang's hair.

Suddenly, something caught her attention.

Hidden beneath his thick hair was an old scar.

Dayang Sumbi froze. Her heart began to pound, and her hands trembled. There was something terribly familiar about that scar.

Memories from long ago came rushing back to her. She remembered the tragic day when, overcome by anger, she had struck her young son on the head with a cooking ladle.

With growing fear, Dayang Sumbi examined the scar more closely. Its shape and position were exactly the same as the wound she had inflicted on Sangkuriang many years before.

At that moment, the color drained from her face. Tears filled her eyes, and her heart seemed to stop.

At last, she understood the terrible truth.

The man standing before her was none other than Sangkuriang, the son she had prayed to see again for so many years.

With a trembling voice, she whispered,

"You... you are Sangkuriang... my son!"

Sangkuriang stared at her in confusion. He could not understand why Dayang Sumbi had suddenly called him her son or why her face was filled with such overwhelming sorrow.

Meanwhile, Dayang Sumbi's heart was torn between joy and despair. On one hand, she was overjoyed to have finally found the son she had missed for so many years.

Yet at the same time, she was horrified by the truth she had just discovered. The man for whom she had developed feelings of love was none other than her own flesh and blood.

What had begun as a joyful reunion had now turned into a heartbreaking twist of fate.

Dayang Sumbi realized that the love which had blossomed between them could never be allowed to continue.

But Sangkuriang still knew nothing of the truth. He had already fallen deeply in love with Dayang Sumbi, and his feelings were far too strong to abandon so easily.

Thus, fate was about to test the mother and son once again.

And this unexpected reunion would soon lead to an extraordinary tragedy, one that would forever be remembered as the origin of Mount Tangkuban Perahu.

The Impossible Conditions

Dayang Sumbi's Wisdom Against Sangkuriang's Supernatural Powers

Upon discovering that the man she had fallen in love with was her own son, Dayang Sumbi was overwhelmed with sorrow and anxiety. Never had she imagined that the reunion she had longed for would bring such a painful truth. The happiness of finding her beloved son again had now turned into fear and confusion.

With great care, Dayang Sumbi tried to explain the truth to Sangkuriang. She told him about his childhood, the days they had spent together with Tumang, and the tragic event that had separated them for so many years.

"Sangkuriang, listen to me carefully. I cannot become your wife. I am your own mother. The scar on your head is proof of that. It is the mark I left when I struck you in anger while you were still a little boy," Dayang Sumbi said in a trembling voice.

But Sangkuriang refused to believe her words. He could not accept that the beautiful young woman standing before him was his mother. Dayang Sumbi still looked so youthful and lovely that it seemed impossible for so many years to have passed.

"That cannot be true! I refuse to believe it! How could someone as young and beautiful as you possibly be my mother? I love you, and no matter what happens, I will marry you!" Sangkuriang declared stubbornly.

Dayang Sumbi was speechless. The man standing before her was no longer the little boy she had once known. During his long journey, Sangkuriang had gained extraordinary supernatural powers, becoming a man whom few could challenge or restrain.

No matter how carefully Dayang Sumbi explained the truth, Sangkuriang would not change his mind. Instead, his determination to marry her grew even stronger.

From that day onward, Dayang Sumbi spent her days troubled by worry. She knew that marriage between a mother and her son could never be allowed. Yet she also feared rejecting Sangkuriang openly. If he became enraged, his tremendous powers might bring disaster not only upon her but also upon the innocent villagers living nearby.

How could she persuade him to abandon his desire?

After thinking long and hard, Dayang Sumbi finally came up with a clever plan. She decided to set a challenge so difficult that no ordinary person could possibly complete it in a single night.

One day, she called Sangkuriang to her and spoke calmly.

"Very well, Sangkuriang. If you truly wish to marry me, I shall agree to your request. But first, there is one condition you must fulfill."

At these words, Sangkuriang's face immediately brightened.

"Tell me what it is! Whatever you ask of me, I shall surely accomplish!" he replied confidently.

Dayang Sumbi took a deep breath before continuing.

"I want you to dam the Citarum River and create a vast lake. Then you must build a magnificent boat large enough to sail upon its waters. But remember, everything must be completed in a single night, before the first rooster crows at dawn!"

For a moment, Sangkuriang remained silent. Then a confident smile appeared on his face. Having mastered many mystical arts during his years of wandering, he believed that no task was beyond his abilities.

"Is that all? You need not worry! Before the sun rises, both the lake and the boat shall be completed!" Sangkuriang declared boldly.

Dayang Sumbi struggled to conceal her anxiety. Deep in her heart, she prayed that Sangkuriang would fail to finish the impossible task before dawn.

As the sun disappeared behind the mountains and darkness spread across the land of Sunda, Sangkuriang prepared to begin his work.

Standing in the middle of the forest, he closed his eyes and began chanting powerful spells that he had learned during his long travels.

Suddenly, a fierce wind swept through the trees. Branches swayed violently, leaves rustled, and an eerie silence settled over the forest.

Before long, mysterious figures began emerging from the darkness. They were jinn and supernatural spirits, summoned by Sangkuriang's powerful magic.

Sangkuriang raised his voice and commanded them.

"O spirits of the unseen world! Come to my aid! Dam this river, create a great lake, and build a magnificent boat! Everything must be finished before daybreak!"

At his command, the jinn and spirits immediately set to work.

They moved with astonishing speed, far beyond the abilities of ordinary human beings. Towering trees were cut down and carried away, enormous boulders were lifted, and great piles of earth and stone were gathered to block the rushing waters of the Citarum River.

Thunderous sounds echoed throughout the forest. Trees crashed to the ground, massive rocks scraped against one another, and the river's powerful current gradually weakened as the great dam rose higher and higher.

Little by little, water began to collect behind the dam, forming a vast lake.

Meanwhile, another group of spirits worked tirelessly to construct the enormous boat. They carried thick tree trunks, carved wooden beams, and fitted the pieces together until the shape of a strong and magnificent vessel began to emerge.

The night grew darker and deeper, yet the work continued at an astonishing pace.

The dam was nearly complete, the waters of the lake were steadily rising, and the great boat was already taking its final shape.

From a distance, Dayang Sumbi watched everything with growing fear.

She had never imagined that Sangkuriang could truly accomplish such an extraordinary task. What she had believed to be impossible was now unfolding before her very eyes.

Her heart pounded as she saw the dam approaching completion and the enormous boat almost ready to sail. Yet the sky remained dark, and there was still time before dawn.

"If he succeeds, what will become of me?" Dayang Sumbi whispered anxiously. "I must find a way to stop him before it is too late."

She looked up at the dark night sky and then turned her gaze toward the supernatural beings, who continued working without rest.

Dayang Sumbi realized that she could no longer remain silent and simply hope for Sangkuriang to fail.

She had to find another way to prevent him from completing his task before the coming of dawn.

But could Dayang Sumbi truly overcome the extraordinary powers of her own son?

Or would fate once again lead the mother and son toward a tragic destiny from which neither could escape?

That night, beneath the dark skies of the Sundanese land, an extraordinary event was about to unfold, an event that would one day be remembered as the origin of Mount Tangkuban Perahu.

Deception and the Curse

The Wrath of Sangkuriang and the Origin of Mount Tangkuban Perahu

The land of Sunda was shrouded in the deep darkness of night. A cold wind swept through the trees, while thunderous sounds echoed endlessly from the depths of the forest. Beneath the dark sky, the jinn and supernatural spirits continued working with extraordinary strength, obeying Sangkuriang's commands.

Enormous boulders were piled one upon another, and the great dam grew higher and stronger. The waters of the Citarum River gradually rose, forming a vast lake. Nearby, a magnificent boat was almost complete. Great wooden beams had been carved and fitted together, giving shape to a strong and splendid vessel.

From a distance, Dayang Sumbi watched the work with a pounding heart. She had hoped that the impossible conditions she had set would force Sangkuriang to abandon his desire. Yet what she saw was entirely different from what she had expected. The longer she watched, the more certain she became that Sangkuriang was about to complete both tasks.

And still, the night was far from over.

Fear and anxiety filled Dayang Sumbi's heart. What would happen if Sangkuriang completed the lake and the boat before the first rooster crowed? She could never marry her own son. Yet she knew how powerful and stubborn he had become.

"What shall I do?" Dayang Sumbi whispered anxiously. "If he finishes everything, how can I possibly escape his demands?"

She raised her eyes toward the heavens and prayed for guidance from the gods. Then, in the stillness of the night, a clever idea suddenly came to her.

The jinn and spirits helping Sangkuriang could work only during the hours of darkness. If they believed that morning had arrived, surely they would abandon their work.

Without wasting another moment, Dayang Sumbi hurried to the women of the village and asked for their help.

"My sisters, please help me tonight! We must make the eastern sky appear as though dawn is breaking. Spread red and yellow cloths toward the east, and burn piles of straw on the eastern side of the village. From a distance, the sky will look as though the morning sun is about to rise!"

The village women, knowing Dayang Sumbi's distress, immediately agreed to help her. Working together in the silence of the night, they began preparing everything she had requested.

They spread large pieces of red and yellow cloth toward the east and set fire to great piles of straw.

Before long, bright flames rose into the darkness. Thick smoke drifted upward, while the reddish glow of the fire reflected upon the colorful cloths.

From afar, the eastern sky appeared to glow with shades of red and orange, just as it would before sunrise.

Although it was still night, the surroundings began to resemble the first light of dawn.

Soon afterward, the roosters in the village began crowing one after another.

"Cock-a-doodle-doo! Cock-a-doodle-doo!"

Their cries echoed throughout the village, reaching even the distant forest where Sangkuriang and the supernatural spirits were working.

Upon hearing the roosters and seeing the reddish glow in the eastern sky, the jinn and spirits immediately stopped their work.

"Dawn has come! Our time is over!" cried one of the spirits.

Believing that morning had truly arrived, they knew they could no longer continue their task. One by one, the supernatural beings abandoned the unfinished dam and boat, disappearing into the darkness and returning to their unseen realm.

In an instant, the forest, which had been filled with the sounds of labor, fell completely silent.

The great dam stood unfinished, and the magnificent boat, which had been only moments away from completion, was left abandoned.

Sangkuriang was astonished when he saw his supernatural helpers vanish.

He looked toward the eastern sky, which glowed red, and listened to the roosters crowing from every direction.

"Impossible! How can morning have come so quickly? Surely the night is not yet over!" he shouted in disbelief.

He began chanting his powerful spells again and again, desperately trying to summon the jinn and spirits back to their work. But no matter how loudly he called, not a single one returned.

Gradually, Sangkuriang began to suspect that something was wrong.

He stared intently at the reddish light in the distance. Soon, he discovered that the glow did not come from the rising sun at all. It came from burning straw and the red and yellow cloths that had been deliberately spread across the eastern side of the village.

At that moment, Sangkuriang understood everything.

He had been deceived.

"Dayang Sumbi! So this was your doing!" Sangkuriang roared, his voice echoing through the silent forest.

His anger knew no bounds. All the strength and effort he had poured into the enormous task had suddenly been wasted.

The nearly completed lake and the magnificent boat now meant nothing to him.

His face burning with rage and his breath coming in heavy gasps, Sangkuriang strode toward the enormous boat standing before him.

"I have used all my strength to fulfill your wishes! And yet, you have betrayed me!" he cried furiously.

Unable to contain his anger any longer, Sangkuriang raised his foot and kicked the enormous boat with all his might.

BOOOOM!

With a tremendous crash, the gigantic boat was hurled into the air, overturned, and fell heavily to the ground.

The earth shook violently, as though a mighty earthquake had struck. Trees swayed, enormous rocks shifted, and frightened birds scattered into the sky.

The great boat came to rest upside down, with its bottom facing the heavens.

According to the legend, through Sangkuriang's extraordinary powers and the mysterious forces of nature, the overturned boat gradually transformed into a towering mountain.

Its shape resembled a gigantic vessel lying upside down among the green hills of Sunda.

That mountain later became known as Mount Tangkuban Perahu.

In the Sundanese language, Tangkuban Perahu means "overturned boat." To this day, the mountain rises north of Bandung, silently preserving the tale of a mother's wisdom, a son's uncontrollable anger, and the tragic fate that bound them together.

Meanwhile, after unleashing his fury, Sangkuriang left the place behind. He disappeared into the deep forests and distant mountains, and no one ever knew where his journey had taken him.

From that day onward, nothing more was heard of Sangkuriang.

As for Dayang Sumbi, she had finally escaped a marriage that should never have taken place. Yet her success in preventing Sangkuriang from fulfilling his wish did not erase the sorrow in her heart.

Once again, she had lost the son she had longed to see for so many years.

The reunion that should have brought happiness had ended in a second heartbreaking separation.

And so, according to the ancient tale passed down through generations of the Sundanese people, the origin of Mount Tangkuban Perahu is forever intertwined with the tragic story of Sangkuriang and Dayang Sumbi.

The legend teaches us that even the greatest strength cannot always overcome wisdom. Love without understanding may turn into suffering, while anger left uncontrolled can bring destruction and sorrow.

Even today, when people gaze upon Mount Tangkuban Perahu, with its remarkable resemblance to an overturned boat, it is as though the mountain itself still holds the memory of Sangkuriang's story.

It is a timeless legend of love and destiny, regret and sorrow, and the tragic consequences of anger a story that will continue to be told for generations to come.


 

 

SANGKURIANG

SENIANI DINA YULIANA NIM 094241041 Legenda Asal-Usul Gunung Tangkuban Perahu Pada zaman dahulu, di tanah Sunda yang subur dan dikelilingi pe...