Nama : Tri Yoga Abiasa
NIM : 094241070
Pada zaman dahulu, di tanah Pasundan, berdirilah sebuah kerajaan yang makmur dan damai. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana dan disegani oleh seluruh rakyatnya. Sang raja memiliki tujuh orang putri yang cantik dan berbudi. Di antara ketujuh putri tersebut, putri bungsu bernama Purbasari adalah yang paling disayangi oleh rakyat.
Purbasari dikenal sebagai gadis yang baik hati, ramah, dan rendah hati. Ia tidak pernah membanggakan kedudukannya sebagai putri raja. Sebaliknya, ia senang membantu orang lain dan selalu memperlakukan siapa pun dengan sopan.
Namun, kebaikan Purbasari justru menimbulkan rasa iri di hati kakaknya, Purbararang. Sebagai putri sulung, Purbararang merasa dirinya lebih pantas menjadi penerus kerajaan. Ia tidak senang melihat rakyat dan sang raja begitu menyayangi adiknya.
Ketika sang raja mulai mempertimbangkan Purbasari sebagai calon penerus tahta, rasa iri Purbararang semakin besar. Ia pun menyusun rencana jahat untuk menyingkirkan adiknya.
Dengan bantuan seorang tabib istana, Purbararang membuat tubuh Purbasari dipenuhi bercak-bercak hitam yang menyerupai penyakit kulit. Melihat keadaan itu, banyak orang istana merasa takut dan menganggap Purbasari terkena kutukan.
Purbararang memanfaatkan keadaan tersebut untuk memengaruhi sang raja. Akhirnya, dengan berat hati, raja memutuskan untuk mengasingkan Purbasari ke tengah hutan.
Purbasari menerima keputusan itu dengan sabar. Ia meninggalkan istana tanpa membenci siapa pun. Meski sedih, ia tetap berusaha menjalani hidup dengan tabah.
Di tengah hutan yang lebat dan sunyi, Purbasari hidup seorang diri. Namun, suatu hari ia bertemu seekor lutung hitam yang berbeda dari hewan-hewan lainnya. Lutung itu tampak memahami kesedihan yang dirasakannya.
Lutung tersebut kemudian dikenal sebagai Lutung Kasarung.
Sejak saat itu, Lutung Kasarung selalu menemani Purbasari. Ia membantu mencarikan makanan, menjaga Purbasari dari bahaya, dan menjadi sahabat setianya. Berkat kehadiran lutung itu, hari-hari Purbasari di hutan tidak lagi terasa begitu sepi.
Lama-kelamaan, tumbuhlah rasa percaya yang kuat di antara mereka. Purbasari tidak pernah memandang Lutung Kasarung dari wujudnya yang sederhana. Ia melihat kebaikan hati dan kesetiaan yang dimiliki sahabatnya itu.
Tanpa diketahui Purbasari, Lutung Kasarung sebenarnya bukanlah hewan biasa. Ia adalah seorang pangeran dari kahyangan bernama Guruminda. Karena suatu kutukan, ia harus hidup dalam wujud seekor lutung hingga bertemu seseorang yang mampu melihat ketulusan di balik penampilan luar.
Sementara itu, di kerajaan, Purbararang semakin yakin bahwa Purbasari tidak akan pernah kembali. Namun, kabar tentang kehidupan Purbasari di hutan mulai terdengar oleh rakyat. Banyak orang yang merasa kasihan dan mulai meragukan keputusan yang telah diambil istana.
Untuk membuktikan bahwa dirinya lebih unggul, Purbararang mengadakan berbagai perlombaan dan memanggil Purbasari kembali ke kerajaan.
Satu demi satu tantangan diberikan kepada kedua putri tersebut. Mulai dari keterampilan rumah tangga, kecerdasan, hingga berbagai ujian lainnya.
Dengan bantuan Lutung Kasarung, Purbasari berhasil melewati semua ujian dengan baik. Ia menunjukkan bahwa kebaikan hati, kesabaran, dan ketekunan jauh lebih berharga daripada kesombongan.
Akhirnya tibalah ujian terakhir. Kedua putri diminta menunjukkan calon pendamping hidup mereka.
Purbararang merasa sangat yakin akan menang. Tunangannya adalah seorang pangeran tampan dan gagah. Sementara itu, Purbasari hanya ditemani seekor lutung hitam.
Para penghuni istana pun mulai berbisik-bisik. Mereka mengira kemenangan sudah pasti berada di tangan Purbararang.
Namun, sesuatu yang luar biasa terjadi.
Di hadapan seluruh penghuni istana, Lutung Kasarung tiba-tiba berubah wujud. Cahaya terang menyelimuti tubuhnya. Dalam sekejap, lutung hitam itu berubah menjadi seorang pangeran yang tampan dan berwibawa.
Dialah Pangeran Guruminda dari kahyangan.
Semua orang terkejut. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa sahabat setia Purbasari adalah seorang pangeran.
Purbararang hanya bisa menundukkan kepala. Saat itu ia menyadari bahwa rasa iri dan kesombongan tidak akan pernah mampu mengalahkan ketulusan dan kebaikan hati.
Akhirnya, kebenaran terungkap. Nama baik Purbasari dipulihkan, dan ia kembali memperoleh haknya sebagai putri yang layak menjadi penerus kerajaan.
Kelak, Purbasari memimpin kerajaan dengan bijaksana bersama Pangeran Guruminda. Di bawah kepemimpinan mereka, rakyat hidup damai, makmur, dan bahagia.
Sejak saat itu, kisah Lutung Kasarung terus diceritakan dari generasi ke generasi sebagai pelajaran bahwa kecantikan dan kemuliaan sejati tidak terletak pada penampilan luar, melainkan pada ketulusan hati dan kebaikan seseorang.
Tamat
Versi Bahasa Jepang
『ルトゥン・カサルン』
昔々、西ジャワのパスンダンという美しい国に、賢く立派な王がいた。
王は国を平和に治め、人々から深く尊敬されていた。王には七人の娘がいたが、その中でも末娘のプルバサリは特に人々に愛されていた。
プルバサリは優しく思いやりがあり、いつも謙虚だった。王女でありながら身分を誇ることはなく、誰に対しても親切に接していた。そのため、宮殿の人々だけでなく、多くの民からも慕われていた。
しかし、そのことを快く思わない者がいた。
姉のプルバラランである。
長女である彼女は、自分こそが王位を継ぐべきだと考えていた。ところが、王がしだいにプルバサリを信頼するようになると、その心には嫉妬の炎が燃え始めた。
やがてプルバラランは、妹を宮殿から追い出すための恐ろしい計画を立てた。
彼女は宮廷の医者を利用し、プルバサリの体に黒い斑点が現れるよう細工をした。
翌日、プルバサリの美しい肌には黒い斑点が広がっていた。
それを見た人々は驚き、不吉な出来事の前触れだと噂した。
プルバラランはその機会を逃さなかった。
「この者は王国に災いをもたらすかもしれません。」
そう言って王に訴えた。
王は深く悩んだ末、ついにプルバサリを森へ追放することを決めた。
プルバサリは悲しかったが、誰も恨まなかった。
ただ静かに運命を受け入れ、一人で森へ向かった。
深い森の中での暮らしは決して楽ではなかった。
それでもプルバサリは毎日を懸命に生きた。
そんなある日、彼女は一匹の黒いルトゥン(猿)と出会った。
その猿は普通の猿とはどこか違っていた。
優しい目をしており、まるで人の心が分かるかのようだった。
その猿こそ、ルトゥン・カサルンだった。
ルトゥン・カサルンはいつもプルバサリのそばにいた。
食べ物を見つけてくれたり、危険から守ってくれたりして、彼女の力になった。
こうして二人は少しずつ心を通わせていった。
プルバサリはルトゥンの姿ではなく、その優しさと誠実さを見ていた。
だが実は、ルトゥン・カサルンには大きな秘密があった。
彼の正体は、天界の王子グルミンダだったのである。
呪いによって猿の姿に変えられ、本当の価値を見抜く心を持つ者に出会うまで、その姿で生きなければならなかったのだ。
一方その頃、王宮ではプルバラランが自分の勝利を信じて疑わなかった。
しかし、森でたくましく暮らすプルバサリの噂は少しずつ国中に広まり、人々は王宮の決定に疑問を持ち始めた。
そこでプルバラランは、自分の方が優れていることを証明するため、さまざまな試練を行うことを提案した。
プルバサリは王宮へ呼び戻された。
料理や機織りなどの技術、知恵、そして人柄を試す多くの試練が与えられた。
しかし、プルバサリはどの試練も立派に乗り越えていった。
その姿に、多くの人々は感心した。
そして最後の試練の日がやって来た。
それは、どちらの伴侶がよりふさわしいかを比べる試練だった。
プルバラランは美しく立派な婚約者を連れて現れた。
彼女は自分の勝利を確信していた。
一方、プルバサリの隣にいたのは、いつもの黒いルトゥンだった。
人々はひそひそと話し始めた。
そのときだった。
突然、まばゆい光が辺りを包み込んだ。
ルトゥン・カサルンの体が光に包まれ、ゆっくりと姿を変え始めた。
そして光が消えると、そこには気高く美しい王子が立っていた。
グルミンダ王子だった。
宮殿中の人々は驚きのあまり言葉を失った。
プルバラランも何も言えなかった。
その瞬間、彼女はようやく気づいた。
本当に大切なのは外見や地位ではなく、心の美しさなのだということを。
やがてプルバサリは名誉を取り戻し、王国の正当な後継者となった。
そしてグルミンダ王子とともに国を治め、人々を幸せへ導いたという。
それ以来、『ルトゥン・カサルン』の物語は語り継がれ、真の美しさは外見ではなく、優しさと誠実な心の中にあることを人々に教え続けている。
おしまい
Lutung Kasarung
Mukashi mukashi, Nishi Jawa no Pasundan to iu utsukushii kuni ni, kashikoku rippa na ō ga ita.
Ō wa kuni o heiwa ni osame, hitobito kara fukaku sonkei sarete ita. Ō ni wa shichinin no musume ga ita ga, sono naka demo suemusume no Purbasari wa toku ni hitobito ni aisarete ita.
Purbasari wa yasashiku omoiyari ga ari, itsumo kenkyo datta. Ōjo de arinagara mibun o hokoru koto wa naku, dare ni taishite mo shinsetsu ni sesshite ita. Sono tame, kyūden no hitobito dake de naku, ōku no tami kara mo shitawarete ita.
Shikashi, sono koto o kokoroyoku omowanai mono ga ita.
Ane no Purbararang de aru.
Chōjo de aru kanojo wa, jibun koso ga ōi o tsugu beki da to kangaete ita. Tokoro ga, ō ga shidai ni Purbasari o shinrai suru yō ni naru to, sono kokoro ni wa shitto no honō ga moe hajimeta.
Yagate Purbararang wa, imōto o kyūden kara oidashu tame no osoroshii keikaku o tateta.
Kanojo wa kyūtei no isha o riyō shi, Purbasari no karada ni kuroi hanten ga arawareru yō saiku o shita.
Yokujitsu, Purbasari no utsukushii hada ni wa kuroi hanten ga hirogatte ita.
Sore o mita hitobito wa odoroki, fukitsuna dekigoto no maebure da to uwasa shita.
Purbararang wa sono kikai o nogasanakatta.
“Kono mono wa ōkoku ni wazawai o motarasu kamoshiremasen.”
Sō itte ō ni uttae ta.
Ō wa fukaku nayanda sue, tsuini Purbasari o mori e tsuihō suru koto o kimeta.
Purbasari wa kanashikatta ga, dare mo uramanakatta.
Tada shizuka ni unmei o ukeire, hitori de mori e mukatta.
Fukai mori no naka de no kurashi wa kesshite raku de wa nakatta.
Sore demo Purbasari wa mainichi o kenmei ni ikita.
Sonna aru hi, kanojo wa ippiki no kuroi lutung (saru) to deatta.
Sono saru wa futsū no saru to wa dokoka chigatte ita.
Yasashii me o shite ori, maru de hito no kokoro ga wakaru ka no yō datta.
Sono saru koso, Lutung Kasarung datta.
Lutung Kasarung wa itsumo Purbasari no soba ni ita.
Tabemono o mitsukete kuretari, kiken kara mamotte kuretari shite, kanojo no chikara ni natta.
Kōshite futari wa sukoshizutsu kokoro o kayowasete itta.
Purbasari wa Lutung no sugata de wa naku, sono yasashisa to seijitsusa o mite ita.
Da ga jitsu wa, Lutung Kasarung ni wa ōkina himitsu ga atta.
Kare no shōtai wa, tenkai no ōji Guruminda datta node aru.
Noroi ni yotte saru no sugata ni kaerare, hontō no kachi o minuku kokoro o motsu mono ni deau made, sono sugata de ikinakereba naranakatta no da.
Ippō sono koro, ōkyū de wa Purbararang ga jibun no shōri o shinjite utagawanakatta.
Shikashi, mori de takumashiku kurasu Purbasari no uwasa wa sukoshizutsu kunijū ni hiromari, hitobito wa ōkyū no kettei ni gimon o mochi hajimeta.
Soko de Purbararang wa, jibun no hō ga sugurete iru koto o shōmei suru tame, samazama na shiren o okonau koto o teian shita.
Purbasari wa ōkyū e yobimodosareta.
Ryōri ya orimono nado no gijutsu, chie, soshite hitogara o tamesu ōku no shiren ga ataerareta.
Shikashi, Purbasari wa dono shiren mo rippa ni norikoete itta.
Sono sugata ni, ōku no hitobito wa kanshin shita.
Soshite saigo no shiren no hi ga yatte kita.
Sore wa, dochira no hanryo ga yori fusawashii ka o kuraberu shiren datta.
Purbararang wa utsukushiku rippa na kon’yakusha o tsurete arawareta.
Kanojo wa jibun no shōri o kakushin shite ita.
Ippō, Purbasari no tonari ni ita no wa, itsumo no kuroi Lutung datta.
Hitobito wa hisohiso to hanashi hajimeta.
Sono toki datta.
Totsuzen, mabayui hikari ga atari o tsutsumikonda.
Lutung Kasarung no karada ga hikari ni tsutsumare, yukkuri to sugata o kae hajimeta.
Soshite hikari ga kieru to, soko ni wa kedakaku utsukushii ōji ga tatte ita.
Guruminda Ōji datta.
Kyūdenjū no hitobito wa odoroki no amari kotoba o ushinatta.
Purbararang mo nani mo ienakatta.
Sono shunkan, kanojo wa yōyaku kidzuita.
Hontō ni taisetsu na no wa gaiken ya chii de wa naku, kokoro no utsukushisa na no da to iu koto o.
Yagate Purbasari wa meiyo o torimodoshi, ōkoku no seitō na kōkeisha to natta.
Soshite Guruminda Ōji to tomo ni kuni o osame, hitobito o shiawase e michiita to iu.
Sore irai, 『Lutung Kasarung』 no monogatari wa kataritsugare, shin no utsukushisa wa gaiken de wa naku, yasashisa to seijitsu na kokoro no naka ni aru koto o hitobito ni oshietsudzukete iru.
Oshimai
Versi Bahasa Inggris
Lutung Kasarung
Long ago, in the beautiful land of Pasundan in West Java, there lived a wise and noble king.
The king ruled his kingdom peacefully and was deeply respected by his people. He had seven daughters, but among them, the youngest, Purbasari, was loved the most by everyone.
Purbasari was kind-hearted, gentle, and humble. Although she was a princess, she never boasted about her status. She treated everyone with kindness and respect, which made her beloved not only by the people of the palace but also by the common folk throughout the kingdom.
However, there was one person who was unhappy about this.
It was her older sister, Purbararang.
As the eldest daughter, Purbararang believed that she alone deserved to inherit the throne. As the king began to place more trust in Purbasari, jealousy slowly grew in her heart.
Eventually, Purbararang devised a cruel plan to drive her younger sister out of the palace.
With the help of a royal physician, she caused dark spots to appear all over Purbasari’s body.
The next day, when the people saw the strange marks on the princess’s skin, they were shocked. Many believed that it was a sign of a curse or a bad omen.
Purbararang took advantage of the situation.
“This girl may bring disaster to our kingdom,” she told the king.
The king was deeply troubled. After much hesitation, he finally decided to send Purbasari away into the forest.
Although heartbroken, Purbasari did not blame anyone. She quietly accepted her fate and left the palace alone.
Life in the deep forest was not easy.
Yet Purbasari remained patient and strong. She did her best to survive and continued to live with kindness in her heart.
One day, she encountered a black lutung, a type of monkey unlike any other she had ever seen.
The animal had gentle eyes and seemed to understand human feelings.
This mysterious creature was known as Lutung Kasarung.
From that day on, Lutung Kasarung stayed by Purbasari’s side.
He helped her find food, protected her from danger, and became her faithful companion. Little by little, a strong bond grew between them.
Purbasari never judged Lutung Kasarung by his appearance. Instead, she saw his kindness, loyalty, and sincerity.
What she did not know was that Lutung Kasarung was not an ordinary animal.
In reality, he was Prince Guruminda, a prince from heaven.
Because of a curse, he had been transformed into a lutung and was destined to remain in that form until he met someone capable of seeing the true worth hidden beneath appearances.
Meanwhile, back at the palace, Purbararang remained convinced of her own superiority.
However, stories about Purbasari’s life in the forest gradually spread throughout the kingdom. The people began to question whether the princess had truly deserved her exile.
Determined to prove herself, Purbararang proposed a series of challenges.
Purbasari was summoned back to the palace and asked to compete in various contests that tested skill, wisdom, and character.
One by one, Purbasari successfully completed every challenge.
With the help and encouragement of Lutung Kasarung, she demonstrated patience, intelligence, and integrity. The people were amazed by her abilities and noble character.
At last, the final challenge arrived.
The sisters were asked to present their future husbands.
Purbararang confidently appeared with her handsome and noble fiancé. Certain of her victory, she smiled proudly.
Beside Purbasari, however, stood only the black lutung.
The people began whispering among themselves.
Then, something extraordinary happened.
A brilliant light suddenly filled the palace.
Lutung Kasarung's body became surrounded by a dazzling glow. Slowly, his form began to change.
When the light faded, the black lutung had disappeared.
Standing in his place was a handsome and majestic prince.
It was Prince Guruminda.
The entire palace fell silent in astonishment.
Even Purbararang could not say a word.
At that moment, everyone realized that true worth is not determined by outward appearance, wealth, or status, but by the goodness and sincerity within one's heart.
In the end, Purbasari regained her honor and rightful place as the heir to the kingdom.
Together with Prince Guruminda, she ruled wisely and compassionately, bringing peace and prosperity to the people.
From that day forward, the story of Lutung Kasarung has been passed down from generation to generation.
It teaches that true beauty lies not in appearance, but in kindness, honesty, and the purity of one's heart.
The End.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar