Minggu, 31 Agustus 2025

Membicarakan Hubungan Sosial: Teman dan Musuh

 

Membicarakan hubungan sosial pada dasarnya adalah membicarakan tentang teman dan musuh. Kita biasanya membayangkan musuh sebagai “tokoh jahat” orang-orang yang selalu ingin menyakiti orang lain, seperti penjahat dalam film aksi. Musuh adalah pihak antagonis dalam sebuah cerita. Mereka memang pembuat masalah, tetapi merekalah yang membuat cerita menjadi menarik. Tanpa mereka, sebuah kisah akan terasa hambar dan membosankan. Faktanya, hampir semua cerita dibangun di atas konflik.

Konflik ini bisa bersifat internal maupun eksternal datang dari orang lain yang memang berniat buruk, atau muncul dari dalam diri kita sendiri. Konflik batin yang bersifat psikologis justru sering menjadi sumber dari cerita yang lebih serius dan mendalam. Namun, dalam kehidupan nyata, ada beberapa perilaku yang bisa menimbulkan permusuhan dalam hubungan sosial. Kita perlu memahami perilaku-perilaku ini, bukan hanya agar tidak melakukannya, tetapi juga agar bisa menghadapinya ketika orang lain melakukannya terhadap kita. Hal-hal yang memang perlu kita hindari antara lain:

1.      Gosip

Gosip adalah cara paling umum dalam menciptakan musuh. Semakin sering kita bergosip, semakin besar pula kemungkinan kita mendapatkan musuh. Ada pepatah lama: “Jika kamu tidak bisa mengatakan hal baik tentang seseorang, lebih baik tidak usah berkata apa-apa.” Pepatah ini memang benar adanya, meskipun sering dilupakan orang. Sebelum menyebarkan gosip atau membicarakan keburukan orang lain, cobalah berpikir: apa keuntungan yang sebenarnya bisa saya dapatkan dengan melakukan ini?

2.      Fitnah

Tidak ada hal yang lebih merusak hubungan sosial selain fitnah. Memfitnah orang yang kita kenal itu jahat, tapi memfitnah orang yang bahkan belum kita kenal juga sama buruknya. Gosip mungkin masih berdasarkan fakta, meski fakta yang tidak menyenangkan. Namun fitnah lebih berbahaya, karena biasanya memang bertujuan untuk menghancurkan hidup atau reputasi seseorang, apa pun risikonya. Bagi si pemfitnah, benar atau salah sudah tidak penting lagi yang penting hanyalah menjatuhkan orang lain.

3.      Kritik.

Mengatakan seseorang salah bisa cukup membuatnya menjadi musuh kita. Mengatakan itu di depan orang lain bisa menjadikannya musuh yang lebih buruk. Dan jika kita menyebutnya bodoh di depan orang-orang yang menghormatinya, kita mungkin menciptakan musuh seumur hidup—bahkan musuh yang berniat membalas dendam. Kritik adalah hal yang sangat sensitif. Jika harus mengkritik, lakukan dengan hati-hati: secara pribadi, dengan humor, penuh ketelitian, dan kesopanan. Jika tidak bisa melakukannya dengan cara yang baik, sebaiknya jangan dilakukan sama sekali—karena bisa jadi kita justru menciptakan musuh baru.

4.      Ejekan

Tidak ada orang yang suka diejek atau dijadikan bahan olok-olok. Pengecualian hanya badut, yang memang terbiasa ditertawakan dan bisa menanggapinya dengan lapang dada. Tetapi ketika kita memperlakukan orang biasa seperti badut dan mengejek mereka, besar kemungkinan mereka akan menjadi musuh kita. Membuat musuh memang semudah membuat teman, tetapi satu musuh saja sudah terlalu banyak, sementara seribu teman rasanya masih terlalu sedikit. Seperti pepatah mengatakan: “Satu musuh terlalu banyak, seribu teman terlalu sedikit.”

Versi Bahasa Inggris

Talking About Social Relationships: Friends and Enemies

Talking about social relationships is essentially talking about friends and enemies. We usually think of enemies as the “bad guys”—those who always want to harm others, like the villains in action movies. Enemies play the role of antagonists in a story. They are the troublemakers, but they also make the story exciting. Without them, stories would become dull and boring. In fact, most stories are built upon conflict.

Conflict can be either internal or external: it may come from others—someone mischievous or malicious—or it may arise within ourselves. Internal, psychological struggles often provide the foundation for more serious and meaningful stories. But in real-life social relationships, there are certain destructive behaviours or techniques that can easily create enemies. It is important to understand these, not only so we avoid practicing them ourselves, but also so we can recognize and cope with them when others direct them at us. Things that we really need to avoid include:

1.      Gossip

Gossip is one of the most common ways to create enemies. The more you gossip, the greater the chance you will make enemies. There is an old saying: “If you cannot say something good about someone, then say nothing at all.” This saying holds true in many situations, and most people know it. Yet, people often forget and fall into the habit of gossiping. Before spreading gossip or speaking ill of others, one should take a moment to think: what benefit will this bring me?

2.      Slander

There is nothing more harmful in social relationships than slander. It is cruel to slander people we know, and it is just as bad to slander those we don’t. Gossip may sometimes be based on facts, even if unpleasant ones. But slander is worse because it is usually intended to destroy someone’s reputation or life, regardless of the truth. Whether it is right or wrong no longer matters to the slanderer—only the harm it causes.

3.      Criticism

Telling someone they are wrong may be enough to turn them into your enemy. Correcting someone in front of others, however, can turn them into your worst enemy. If you openly call someone “stupid” in front of people who respect them, you may create an enemy for life—someone who might even seek revenge. Criticism is delicate and dangerous to handle. If you must criticize, do it carefully: privately, with humour, with tact, and with politeness. If you cannot do it in such a way, then it is often better not to do it at all—otherwise, you may create enemies unnecessarily.

4.      Ridicule

No one likes to be ridiculed or made fun of. Clowns are an exception—they accept ridicule as part of their role and can laugh along with it. But treating ordinary people like clowns and mocking them will certainly earn their hostility. Making enemies may be as easy as making friends, but one enemy is already too many, while even a thousand friends never seem enough. As the saying goes: “One enemy is too many; a thousand friends are too few.”

Versi Bahasa Jepang

社会的関係について語る:友達と敵

 社会的関係について語るということは、基本的には友達と敵について語ることです。私たちは通常、敵を「悪役」、つまり他人を傷つけようとする人々、アクション映画に出てくる悪者のように考えます。敵は物語の中で反対の役割を果たします。彼らはトラブルメーカーですが、同時に物語を面白くする存在でもあります。敵がいなければ、物語は退屈でつまらなくなってしまいます。実際、ほとんどの物語は「対立(コンフリクト)」によって成り立っています。

 対立は内面的である場合もあれば、外部からやってくる場合もあります。他人の悪意から生じることもあれば、自分自身の中から心理的な葛藤として生まれることもあります。特に内面的な葛藤は、より深く、より意味のある物語の基盤となることが多いです。しかし現実の社会的関係においては、敵をつくりやすい行動や態度があります。私たちはこれらを理解することが大切です。自分がそうしないためだけでなく、他人がそうしたときにどう対応すべきかを知るためにも重要です。私たちが本当に避けなければならないことは、次のようなものです。

Shakaiteki kankei ni tsuite kataru: Tomodachi to Teki

Shakaiteki kankei ni tsuite kataru to iu koto wa, kihon-teki ni wa tomodachi to teki ni tsuite kataru koto desu. Watashitachi wa tsūjō, teki o “akuyaku”, tsumari hito o kizutsukeyō to suru hitobito, akushon eiga ni deru warumono no yō ni kangaemasu. Teki wa monogatari no naka de hantai no yakuwari o hatashimasu. Karera wa toraburu mēkā desuga, dōji ni monogatari o omoshiroku suru sonzai demo arimasu. Teki ga inakereba, monogatari wa taikutsu de tsumaranaku natte shimaimasu. Jissai, hotondo no monogatari wa “konfurikuto” ni yotte naritatte imasu.

Tairitsu wa naimen-teki de aru baai mo areba, gaibu kara yattekuru baai mo arimasu. Tanin no akui kara shōjiru koto mo areba, jibun jishin no naka kara shinriteki na kattō to shite umareru koto mo arimasu. Tokuni naimen-teki na kattō wa, yori fukaku, yori imi no aru monogatari no kiban to naru koto ga ōi desu. Shikashi genjitsu no shakaiteki kankei ni oite wa, teki o tsukuri yasui kōdō ya taido ga arimasu. Watashitachi wa korera o rikai suru koto ga taisetsu desu. Jibun ga sō shinai tame dake de naku, tanin ga sō shita toki ni dō taiō subeki ka o shiru tame ni mo jūyō desu. Watashitachi ga hontōni sakeru beki koto wa, tsugi no yōna monodesu.

 

噂話

噂話は敵をつくる最も一般的な方法のひとつです。噂をすればするほど、敵をつくる可能性は高くなります。古いことわざに「誰かについて良いことが言えないなら、何も言わない方がいい」というものがあります。この言葉は真実ですが、多くの人はつい忘れてしまいます。他人の悪口や噂を広める前に、少し立ち止まって考えてみましょう。「これをして自分にどんな利益があるのか?」と。

Uwasa-Banashi

Uwasa-banashi wa teki o tsukuru mottomo ippan-teki na hōhō no hitotsu desu. Uwasa o sureba suruhodo, teki o tsukuru kanōsei wa takakunari masu. Furui kotowaza ni “Dareka ni tsuite yoi koto ga ienai nara, nanimo iwanai hō ga ii” to iu mono ga arimasu. Kono kotoba wa shinjitsu desuga, ōku no hito wa tsui wasurete shimaimasu. Tanin no warukuchi ya uwasa o hiromeru mae ni, sukoshi tachidomatte kangaete mimashō. “Kore o shite jibun ni donna rieki ga aru no ka?” to.

中傷

社会的関係を最も破壊するものは中傷です。知っている人を中傷するのは残酷ですが、知らない人を中傷するのも同じくらい悪いことです。噂は時に事実に基づいていることもあります。たとえそれが不愉快な事実であったとしても。しかし中傷はさらに危険です。なぜなら、たいていの場合それは相手の人生や評判を壊すことを目的としており、真実かどうかは関係ないからです。中傷する人にとって大事なのは、ただ相手を落とすことなのです。

Chūshō

Shakaiteki kankei o mottomo hakai suru mono wa chūshō desu. Shitte iru hito o chūshō suru no wa zankoku desuga, shiranai hito o chūshō suru no mo onaji kurai warui koto desu. Uwasa wa toki ni jijitsu ni motozuite iru koto mo arimasu. Tatoe sore ga fuyukai na jijitsu de atta to shitemo. Shikashi chūshō wa sarani kiken desu. Nazenara, taitei no baai sore wa aite no jinsei ya hyōban o kowasu koto o mokuteki to shite ori, shinjitsu ka dōka wa kankei nai kara desu. Chūshō suru hito ni totte daiji na no wa, tada aite o otosu koto na no desu.

批判

誰かが間違っていると指摘するだけで、その人はあなたを敵とみなすかもしれません。それを人前で言えば、さらに悪い敵をつくってしまうでしょう。そしてもしその人を「愚かだ」と、彼を尊敬している人々の前で言ったら、一生の敵をつくることになるかもしれません。その敵は復讐を望むような存在になる可能性さえあります。批判はとてもデリケートで危険な行為です。どうしても批判しなければならない場合は、慎重に行いましょう。個人的に、ユーモアを交え、配慮と礼儀をもって伝えるのです。それができないなら、批判はしない方がいいでしょう。さもなければ、新しい敵を生み出してしまいます。

Hihan

Dareka ga machigatte iru to shiteki suru dake de, sono hito wa anata o teki to minasau kamoshiremasen. Sore o hitomae de ieba, sarani warui teki o tsukutte shimau deshō. Soshite moshi sono hito o “oroka da” to, kare o sonkei shite iru hitobito no mae de ittari shitara, isshō no teki o tsukuru koto ni naru kamo shiremasen. Sono teki wa fukushū o nozomu yōna sonzai ni naru kanōsei sae arimasu. Hihan wa totemo derikēto de kiken na kōi desu. Dōshitemo hihan shinakereba naranai baai wa, shinchō ni okonaimashō. Kojinteki ni, yūmoa o majie, hairyo to reigi o motte tsutaeru no desu. Sore ga dekinai nara, hihan wa shinai hō ga ii deshō. Semonakereba, atarashii teki o umidashite shimaimasu.

嘲笑

誰も自分を笑いものにされることは好きではありません。例外は道化師(ピエロ)で、彼らは笑われることを役割として受け入れ、楽しむことができます。しかし、普通の人を道化師のように扱い、からかうなら、その人はきっとあなたを敵とみなすでしょう。敵をつくるのは友達をつくるのと同じくらい簡単ですが、敵は一人でも多すぎます。逆に、友達は千人いてもまだ少ないと感じるものです。ことわざにもこうあります。「敵は一人でも多すぎる、友は千人いても足りない。

Chōshō

Daremo jibun o warai mono ni sareru koto wa sukide wa arimasen. Reigai wa dōkeshi (piero) de, karera wa warawareru koto o yakuwari to shite ukeire, tanoshimu koto ga dekimasu. Shikashi, futsū no hito o dōkeshi no yō ni atsukai, karakau nara, sono hito wa kitto anata o teki to minasau deshō. Teki o tsukuru no wa tomodachi o tsukuru no to onaji kurai kantan desuga, teki wa hitori demo ōsugimasu. Gyaku ni, tomodachi wa sennin ite mo mada tarinai to kanjiru monodesu. Kotowaza ni mo kō arimasu. “Teki wa hitori demo ōsugiru, tomo wa sennin itemo tarinai.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 17 Agustus 2025

ES PUDING YANG TERSOSOR

Aku hanya minta izin,
meski rasa bersalah ini
terbungkus dalam senyum malu.
Es puding itu,
yang ada di kotak itu,
berakhir di perutku.

Maafkan aku,
es puding yang begitu manis,
dingin, dan menggoda.
Setan, ya, setan…
es puding itu untuk bekal,
tapi kini hanya tinggal kenangan.

Aku tahu kamu menaruhnya di kulkas,
dengan harapan bisa menyantapnya di pagi hari.
Namun, aku yang tak tahan,
membuka kotak itu lebih dulu,
dan menikmati setiap suapan
sebelum matahari menyapa.

Setan…!!! es puding itu disosor,
tak peduli dengan niatmu,
tak peduli dengan rencanamu.
Hanya rasa manis yang kini mengisi hatiku,
dan sisa penyesalan yang mengikat lidahku.

Maafkan aku,
yang tak bisa menahan godaannya.
Semoga es puding itu tetap manis,
meski kini dalam ingatanmu.


Versi Bahasa Jepang

プリンの悲劇

ごめん、ごめん!
ちょっとだけのつもりだったんだ。

でもね、冷蔵庫を開けたら、
キラキラ光るプリンがこっちを見て、
「食べて〜!」って言ったんだよ。

気がつけばスプーンは動き、
気がつけばプリンは消えていた。

ああ、悪魔のしわざだ!
君のお弁当用だったのに……。
今、箱の中にはただの空気だけ。

お腹は幸せ、
心はちょっと罪悪感。

ごめんね、プリン。
君は私の朝ごはんになってしまった。

Purin no Higeki

Gomen, gomen!
Chotto dake no tsumori dattan da.

Demo ne, reizouko o aketara,
kirakira hikaru purin ga kocchi o mite,
“Tabete~!” tte itta n da yo.

Ki ga tsukeba supūn wa ugoki,
ki ga tsukeba purin wa kiete ita.

Aa, akuma no shiwaza da!
Kimi no obentou-you datta noni……
Ima, hako no naka ni wa tada no kūki dake.

Onaka wa shiawase,
kokoro wa chotto zaiakukan.

Gomen ne, purin.
Kimi wa watashi no asagohan ni natte shimatta.

Versi Bahasa Inggris

Oops, the Pudding’s Gone

I just wanted to say sorry,
though my guilt
is hiding behind a silly grin.

That pudding in the box…
yeah, it’s gone.
Straight into my belly.

Forgive me, dear pudding,
so sweet,
so cool,
so irresistible.

The devil—yes, blame the devil!
It was meant to be your snack,
but now it’s just a memory.

I knew you kept it in the fridge,
dreaming of enjoying it in the morning.
But I couldn’t hold back—
I opened the box first
and devoured every bite
before the sun even showed up.

The devil…! The pudding got stolen.
Your plan? Ignored.
Your hope? Forgotten.
Only the sugary joy fills me now,
with a tiny aftertaste of regret.

So sorry,
I couldn’t resist.
May the pudding stay sweet—
at least, in your memory.

Senin, 11 Agustus 2025

Dua Anak Beruang yang Serakah

 

Pada zaman dahulu, di pinggiran sebuah hutan lebat, hiduplah seekor induk beruang bersama dua anaknya.
Ketika mereka tumbuh besar, kedua anak beruang itu berniat pergi merantau untuk mencari kebahagiaan.
Mengetahui hal itu, sang induk beruang berpesan,

“Apa pun yang terjadi, kalian jangan pernah bertengkar. Jika bertengkar, kalian pasti akan merugi.”

“Kami mengerti, Ibu. Kami akur kok, tidak akan bertengkar,” jawab mereka.
Dengan semangat, kedua anak beruang pun memulai perjalanan.

Namun, di tengah perjalanan, bekal yang diberikan sang ibu habis.

“Kakak, aku sudah tidak sanggup berjalan. Dari pagi aku belum makan apa-apa,” keluh si adik sambil menangis.
“Aku juga sama. Aku lapar sekali sampai rasanya mau pingsan,” jawab si kakak sambil meneteskan air mata.

Meski begitu, mereka tetap berjalan. Hingga akhirnya, di tengah jalan, mereka melihat sesuatu yang bulat, besar, dan berwarna merah tergeletak di tanah.

“Apa itu, ya? Baunya enak sekali,” kata mereka sambil mendekat.
Ternyata, benda itu adalah sebuah keju besar.

Mereka pun sangat gembira dan hendak membaginya.

“Aku saja yang membaginya jadi dua,” kata si kakak.
“Tidak mau! Nanti kakak ambil yang besar,” bantah si adik.
“Apa? Justru kamu yang mau ambil yang besar!”

Mereka pun meletakkan keju itu di tanah dan mulai bertengkar.

Saat itu, datanglah seekor rubah betina tua.
“Aduh, anak-anak beruang, kenapa kalian marah-marah begitu?” tanyanya.

Kedua anak beruang menceritakan masalah mereka. Rubah itu tertawa dan berkata,

“Oh, cuma itu masalahnya. Kalau begitu, serahkan saja kejunya padaku. Aku akan membaginya dengan adil.”

“Baik, tapi pastikan ukurannya sama, ya!”
“Iya, harus sama besar!”

“Tenang, akan kubagi sama besar,” kata rubah itu sambil menerima keju tersebut.

Ia memecah keju menjadi dua bagian, tetapi salah satunya tampak lebih besar.

“Itu ukurannya tidak sama!”
“Tolong buat ukurannya sama!”

Mendengar protes itu, rubah tersenyum licik. Ia memang sengaja membuat satu bagian lebih besar.

“Tenang saja, Nak. Biar aku perbaiki,” katanya.

Ia lalu menggigit bagian yang lebih besar.
“Aduh, sekarang yang itu jadi lebih kecil,” kata si adik.
“Tidak apa-apa, sekarang gigit yang satunya lagi,” ujar rubah sambil memakan bagian lainnya.

Begitu seterusnya, rubah menggigit keju dari sisi kiri dan kanan, hingga akhirnya kedua bagian benar-benar sama besar—tetapi ukurannya sudah menjadi sangat kecil.

“Nah, sekarang ukurannya sama. Sampai jumpa,” kata rubah.

Dengan perut kenyang, rubah itu pun pergi meninggalkan dua anak beruang yang hanya memegang potongan keju kecil.


Versi Bahasa Jepang

二匹の欲張り子グマ

昔々、深い森のはずれに、お母さんグマと二匹の子グマの親子が住んでいました。
子グマたちは大きくなると、世の中へ出て幸せを探そうと思いました。
それを知ったお母さんは、子供たちに言いました。

「どんなことがあっても、けんかをしてはいけませんよ。けんかをすれば、必ず損をしますからね」

「大丈夫、僕たちは仲良しだから、けんかなんかしないよ」
二匹の子グマは元気よく旅に出かけました。

旅を続けるうちに、お母さんにもらった食べ物がなくなってしまいました。

「お兄さん、僕、もう歩けないよ。朝から何も食べていないんだもの」
弟グマが泣き出しました。

「僕だって同じだ。お腹がすいて、もう死にそうだ」
兄さんグマも涙をこぼしました。

それでも二匹は歩き続けました。すると、道の真ん中に赤くて大きな丸いものが落ちていました。

「何だろう?いい匂いがするけど…」
子グマたちはそばへ行ってみました。すると、それは大きなチーズではありませんか。

二匹は大喜びでチーズを分けようとしました。

「じゃあ、僕が二つに分けてやるよ」
「いやだ、そう言って兄さん、大きいほうを取るつもりだろう」
「何を言う、お前こそ大きいほうを取るつもりだろう」

二匹はチーズをそばに置いて口げんかを始めました。

すると、そこへキツネのおばさんが現れました。
「まあまあ、子グマさんたち、何をそんなに怒っているの?」

子グマたちは訳を話しました。すると、キツネは笑って言いました。

「おやおや、そんなことだったの。それならおばさんにチーズを貸してごらん。上手に分けてあげますよ」

「ありがとう。でも、ちゃんと同じ大きさにしておくれよ」
「そうだよ、同じ大きさだよ」

「はいはい、ちゃんと同じ大きさにしてあげますよ」

キツネはチーズを受け取ると、ぱかりと二つに割りました。すると、片方はどう見ても大きいのです。

「ああ、大きさが違うよ」
「ちゃんと同じ大きさにしてよ」

子グマたちが文句を言うと、キツネはにやりと笑いました。このキツネはずるいキツネで、わざと片方を大きくしたのです。

「坊やたち、騒がないで大丈夫よ。おばさんがうまくしてあげるから」

キツネは大きいほうにガブリとかみつき、チーズを食べてしまいました。

「ああ、そっちが小さくなっちゃった」
「平気平気、それならまた今度は…」

キツネはまた別のほうをかじりました。すると、そっちが小さくなりました。

「今度はそっちがちっちゃくなっちゃった」

「あら、それならこれで…」

キツネはそのままあっちをかじったり、こっちをかじったりしました。
そして、やっと同じ大きさになった時には、チーズはちっぽけなかけらになっていました。

「さあ、これで同じ大きさよ。では、さようなら」

キツネは大きくなったお腹をさすりながら、さっさと行ってしまいました。

Nihiki no Yokubari Koguma

Mukashi mukashi, fukai mori no hazure ni, okaasan guma to nihiki no koguma no oyako ga sunde imashita.
Koguma-tachi wa ookiku naru to, yo no naka e dete shiawase o sagasou to omoimashita.
Sore o shitta okaasan wa, kodomotachi ni iimashita.

"Donna koto ga atte mo, kenka o shite wa ikemasen yo. Kenka o sureba, kanarazu son o shimasu kara ne."

"Daijoubu, bokutachi wa nakayoshi dakara, kenka nanka shinai yo."
Nihiki no koguma wa genki yoku tabi ni dekakemashita.

Tabi o tsudzukeru uchi ni, okaasan ni moratta tabemono ga nakunatte shimaimashita.

"Oniisan, boku, mou arukenai yo. Asa kara nani mo tabete inai nda mono."
Otouto guma ga nakidashimashita.

"Boku datte onaji da. Onaka ga suite, mou shinisou da."
Nii-san guma mo namida o koboshimashita.

Soredemo nihiki wa arukitsuzukemashita. Soshite, michi no mannaka ni akakute ookina marui mono ga ochite imashita.

"Nandarou? Ii nioi ga suru kedo..."
Koguma-tachi wa soba e itte mimashita. Soshite, sore wa ookina chiizu de wa arimasen ka.

Nihiki wa ooyorokobi de chiizu o wakeyou to shimashita.

"Jaa, boku ga futatsu ni wakete yaru yo."
"Iyada, sou itte oniisan, ookii hou o toru tsumori darou."
"Nani o iu, omae koso ookii hou o toru tsumori darou."

Nihiki wa chiizu o soba ni oite kuchigenka o hajimemashita.

Suru to, soko e kitsune no obasan ga arawaremashita.
"Maa maa, koguma-san-tachi, nani o sonna ni okotte iru no?"

Koguma-tachi wa wake o hanashimashita. Suru to, kitsune wa waratte iimashita.

"Oyaya, sonna koto datta no. Sore nara obasan ni chiizu o kashite goran. Jouzu ni wakete agemasu yo."

"Arigatou. Demo, chanto onaji ookisa ni shite okure yo."
"Sou da yo, onaji ookisa da yo."

"Hai hai, chanto onaji ookisa ni shite agemasu yo."

Kitsune wa chiizu o uketoru to, pakari to futatsu ni warimashita. Suru to, katahou wa dou mite mo ookii no desu.

"Aa, ookisa ga chigau yo."
"Chanto onaji ookisa ni shite yo."

Koguma-tachi ga monku o iu to, kitsune wa niyari to warai mashita. Kono kitsune wa zurui kitsune de, wazato katahou o ookiku shita no desu.

"Bouya-tachi, sawaganaide daijoubu yo. Obasan ga umaku shite ageru kara."

Kitsune wa ookii hou ni gaburi to kamitsuki, chiizu o tabete shimaimashita.

"Aa, sotchi ga chiisaku nacchatta."
"Heiki heiki, sore nara mata kondo wa..."

Kitsune wa mata betsu no hou o kajirimashita. Suru to, sotchi ga chiisaku narimashita.

"Kondo wa sotchi ga chicchakunacchatta."

"Ara, sore nara kore de..."

Kitsune wa sono mama acchi o kajittari, kocchi o kajittari shimashita.
Soshite, yatto onaji ookisa ni natta toki ni wa, chiizu wa chippoke na kakera ni natte imashita.

"Saa, kore de onaji ookisa yo. Dewa, sayounara."

Kitsune wa ookiku natta onaka o sasurinagara, sassato itte shimaimashita.

 

 Versi Bahasa Inggris

The Two Greedy Bear Cubs

Once upon a time, on the edge of a deep forest, there lived a mother bear and her two cubs.
When they grew older, the cubs decided to set out into the world to seek happiness.
Hearing this, their mother bear gave them a piece of advice:

“No matter what happens, never fight with each other. If you fight, you will surely lose something.”

“Don’t worry, Mother. We’re good friends. We’ll never fight,” they replied.
With great enthusiasm, the two cubs set off on their journey.

However, along the way, the food their mother had given them ran out.

“Brother, I can’t walk anymore. I haven’t eaten anything since morning,” the younger cub cried.
“I feel the same. I’m so hungry I feel like I’m going to faint,” said the older cub, tears welling in his eyes.

Still, they kept walking. Eventually, in the middle of the road, they spotted something big, round, and red lying on the ground.

“What’s that? It smells so good,” they wondered, walking closer.
To their delight, it turned out to be a huge piece of cheese.

Overjoyed, they decided to divide it.

“I’ll cut it into two pieces,” said the older cub.
“No way! You’ll take the bigger piece,” the younger protested.
“What? You’re the one who wants the bigger piece!”

They placed the cheese on the ground and began to argue.

Just then, an old lady fox appeared.
“My, my! Little bear cubs, why are you so angry?” she asked.

The cubs explained their problem, and the fox chuckled.

“Oh, is that all? Then give the cheese to me. I’ll divide it evenly for you,” she said.

“Thank you, but make sure both pieces are the same size,” said the younger cub.
“Yes, the exact same size,” added the older.

“Of course, I’ll make them exactly the same,” replied the fox, taking the cheese.

She split the cheese in two, but one piece was clearly bigger.

“They’re not the same size!”
“Make them even!”

The fox gave a sly smile—she had made one piece larger on purpose.

“Don’t worry, little ones. I’ll fix it for you.”

She took a big bite from the larger piece.

“Oh no! Now that one’s smaller,” the younger complained.
“That’s fine, I’ll just bite the other one,” the fox said, taking a bite from the smaller piece.

But then the other piece became smaller.
Again and again, the fox alternated biting from each side until finally both pieces were the same size—
but by then, they were only tiny crumbs.

“There! Now they’re even. Goodbye,” said the fox.

Patting her full belly, she walked away, leaving the two bear cubs with nothing but a tiny scrap of cheese.

 

Minggu, 10 Agustus 2025

GURU

 

GURU
教師よ!
Kyoushi yo!

Layaknya pohon engkaulah akar peyangga
もし、木なら、あなたは木のだ。
Moshi, ki nara, anata wa ki no ne da.

Ruas buku penuh huruf bermakna
文字に意味を与えた
Moji ni imi o ataeta.

Itupun karena karyamu
その働きで
Sono hataraki de

Jagat ini penuh arti
この世界に意味を与えた。
Kono sekai ni imi o ataeta. 
Itu karena ikhlasmu
その真心から
Sono magokoro kara

Masa depanku membiru karena tulus pedulimu
あなたの教えを守る私の未来は明るい 
Anata no oshie o mamoru watashi no mirai wa akarui.

Guru engkaulah penyempurna titah langkahku
師よ!あなたは私に歩みを教えた
Shi yo! Anata wa watashi ni ayumi o oshieta. 

Guru aku akan terus belajar Alif kepadamu sampai dunia mengambil nyawaku
師よ!私は誓う。この命尽(つ)きるまで学び続けることを。
Shi yo! Watashi wa chikau. Kono inochi tsukiru made manabi tsudzukeru koto o. 

Guru terima kasih tanpa jeda ku ucap tulus untukmu
師よ!心より感謝いたします。
Shi yo! Kokoro yori kansha itashimasu. 

(Bunda Penny, テグ―サントソ、太原ゆ).
 
 
Versi Bahasa Inggris

Teacher!

Like a tree, you are the roots that hold it firm.
If you were a tree, you would be its roots.

The chapters are filled with letters rich in meaning,
It was you who gave them meaning.

Because of your work,
This world is full of meaning.

It is from your sincerity,
That my future shines bright,
Because I uphold your teachings.

Teacher! You guided my steps.

Teacher, I swear—
I will continue to learn from you until the world takes my life away.

Teacher, from the bottom of my heart,
I thank you without pause.

(Bunda Penny, Teguh Santoso, Tahara Yuka)

 

Jumat, 01 Agustus 2025

Bumi Pertiwi 80 Tahun Merdeka

 Bumi Pertiwi, 80 Tahun Merdeka

oleh: Teguh Santoso

Delapan dekade telah berlalu,
Merdeka dari penjajahan, jiwa bebas berkibar.
Kemerdekaan yang kita raih, dengan darah dan air mata,
Menjadi warisan berharga, untuk generasi masa depan.

Bendera merah putih, berkibar tinggi di angkasa,
Lambang keberanian, dan semangat tak tergoyahkan.
Dari Sabang sampai Merauke, kita bersatu padu,
Membangun bangsa, dengan cinta dan dedikasi.

Kita telah melewati perjalanan panjang,
Menghadapi rintangan, dan tantangan berat.
Tapi kita tidak pernah menyerah,
Karena kemerdekaan, adalah harga mati.

Mari kita terus maju,
Dengan semangat kemerdekaan, yang tak pernah pudar.
Kita akan terus membangun,
Bangsa yang kuat, dan sejahtera.

Selamat ulang tahun ke-80, Indonesia!
Semoga kemerdekaanmu, selalu membawa kebahagiaan,
Dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatmu.

Versi Bahasa Jepangnya 

インドネシア祖国よ、独立80年

八十年の歳月が流れた、
植民地支配から解放され、自由な魂が羽ばたく。
血と涙で勝ち取った独立、
未来の世代へと受け継がれる貴重な遺産。

赤と白の旗が空高く翻る、
勇気の象徴、揺るがぬ精神の証。
サバンからムラウケまで、我らは一つに結ばれ、
愛と献身で国を築く。

我らは長い道のりを歩んできた、
困難と試練に立ち向かいながら。
だが決してあきらめなかった、
独立とは譲れぬ価値だから。

さあ、これからも前へ進もう、
決して消えることのない独立の精神とともに。
我らは築き続ける、
強く、豊かな国を。

インドネシアよ、80回目の誕生日おめでとう!
その独立が常に幸福をもたらし、
すべての国民に繁栄を与えますように。

Indoneshia Sokoku yo, Dokuritsu hachijū-nen

Hachijū-nen no saigetsu ga nagareta,
Shokuminchi shihaikara kaihō sare, jiyū na tamashii ga habataku.
Chi to namida de katsu tot­ta dokuritsu,
Mirai no sedai e to uketsugareru kichōna isan.

Aka to shiro no hata ga sora takaku hirugaeru,
Yūki no shōchō, yuruganu seishin no akashi.
Saban kara Murauke made, warera wa hitotsu ni musubare,
Ai to kenshin de kuni o kizuku.

Warera wa nagai michinori o ayunde kita,
Konnan to shiren ni tachimukai nagara.
Daga kesshite akiramenakatta,
Dokuritsu to wa yuzurenu kachi dakara.

Saa, korekara mo mae e susumou,
Kesshite kieru koto no nai dokuritsu no seishin to tomo ni.
Warera wa kizuki tsuzukeru,
Tsuyoku, yutakana kuni o.

Indonesia yo, hachijūkai-me no tanjōbi omedetō!
Sono dokuritsu ga tsune ni kōfuku o motarashi,
Subete no kokumin ni han’ei o ataemasu yō ni.

"Motherland, 80 Years of Freedom"

Eight decades have passed,
Free from colonization, our spirit soars high.
Independence gained through blood and tears,
Becomes a precious legacy for future generations.

The red and white flag flies proudly in the sky,
A symbol of courage and unwavering spirit.
From Sabang to Merauke, we stand united,
Building this nation with love and dedication.

We have walked a long journey,
Facing hardships and great challenges.
But we never gave up,
For freedom is non-negotiable.

Let us keep moving forward,
With the undying spirit of independence.
We will continue to build
A strong and prosperous nation.

Happy 80th Independence Day, Indonesia!
May your freedom always bring joy,
And prosperity to all your people.


Puisi tentang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia

Puisi Tentang HUT RI

Tanah Ini Pernah Dirampas"
(Puisi Kemerdekaan RI ke-80)

oleh: Teguh Santoso

Tanah ini pernah berdarah,
di bawah langit yang kini bebas,
dulu diinjak sepatu penjajah,
jerit rakyat terkubur di batas.

Cinta kami bukan sekadar kata,
tumbuh dari luka yang membara,
bambu runcing bukan hiasan sejarah,
melainkan nyawa yang tak pernah pasrah.

Tanah airku, pernah mereka renggut,
sawah dijadikan parit,
hutan dibakar menjadi senyap,
air mata ibu menjadi sungai gigil.

Namun kami tak mati—
kami tumbuh di celah luka,
mewarisi nyali dari nyanyian merdeka,
yang tak bisa dibungkam oleh senjata.

Kini, delapan puluh tahun kita berdiri,
tapi cinta ini tak boleh letih,
karena penjajahan tak selalu berseragam,
kadang berbaju janji dan senyum palsu.

Wahai negeriku,
jika tanahmu kembali dirampas,
oleh tamak yang berwajah saudara,
biarkan darah kami sekali lagi jadi pelita.

Karena kemerdekaan bukan warisan,
tapi titipan yang harus dijaga dengan nyawa.
Tanah ini milik mereka yang mencinta—
dengan jujur, dengan hati, dan setia.

Versi Bahasa Jepangnya 

 インドネシア共和国独立記念日の詩

Indoneshia Kyōwakoku Dokuritsu Kinenbi no Shi

(インドネシア独立80周年の詩)

Kono daichi wa katsute ubawareta
(Indoneshia dokuritsu 80 shūnen no shi)


この大地はかつて血を流した、
自由となったこの空の下で、
かつては侵略者の靴に踏まれ、
民の叫びは境界に埋もれた。

Kono daichi wa katsute chi o nagashita,
Jiyū to natta kono sora no shita de,
Katsute wa shinryakusha no kutsu ni fumare,
Tami no sakebi wa kyōkai ni umoreta.


我らの愛は言葉だけではない、
燃える傷から育ったもの、
竹槍は歴史の飾りではなく、
決して諦めぬ命そのもの。

Warera no ai wa kotoba dake de wa nai,
Moeru kizu kara sodatta mono,
Takeyari wa rekishi no kazari de wa naku,
Kesshite akiramenu inochi sono mono.


この祖国はかつて奪われた、
田んぼは溝とされ、
森は焼かれて沈黙に変わり、
母の涙は震える川となった。

Kono sokoku wa katsute ubawareta,
Tanbo wa mizo to sare,
Mori wa yakarete chinmoku ni kawari,
Haha no namida wa furueru kawa to natta.


だが我らは死なず——
傷の隙間に芽を出し、
独立の歌から勇気を継ぎ、
銃では沈められぬ声となった。

Daga warera wa shinazu—
Kizu no sukima ni me o dashi,
Dokuritsu no uta kara yūki o tsugi,
Jū de wa shizumerarenu koe to natta.

Versi Bahasa Inggrisnya

A Poem for Indonesia’s Independence Day 

This Land Was Once Seized

(A Poem for Indonesia’s 80th Independence Day)

This land once bled,
beneath the sky that now breathes free,
once crushed beneath the boots of tyrants,
the people’s cries buried at the edge of silence.

Our love is not just spoken,
it grows from wounds that still burn,
the sharpened bamboo is no relic,
but a life that refused to surrender.

This homeland was once stolen,
rice fields carved into trenches,
forests silenced in fire,
a mother’s tears flowed into shivering rivers.

But we did not die—
we rose from the cracks of pain,
inheriting courage from freedom’s song,
a voice that weapons could never silence.

Now, eighty years have passed,
yet this love must never tire,
for tyranny no longer wears uniforms alone,
sometimes it smiles, cloaked in promises.

O my nation,
if your soil is seized once more,
by the greedy wearing faces of kin,
let our blood once again light the way.

For freedom is not an inheritance,
but a trust kept with our very lives.
This land belongs to those who love—
with honesty, with heart, and with loyalty.




Retak yang Tak Terucap

Karya: Teguh Santoso  Aku pulang membawa letih dan doa-doa yang kupeluk di dada, namun pintu hatimu terbuka pada sunyi yang tak menyeb...