Senin, 11 Mei 2026

Kenangan yang Tertinggal

NAMA : YUNI ARINDA
NIM     : 094241048

Rumah itu kini terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Tidak ada lagi suara lembut yang menyambut setiap kali aku datang, tidak ada lagi panggilan hangat dari dalam rumah yang membuat langkahku terasa pulang. Kursi kayu di sudut ruang tamu yang dulu selalu ditempati, kini kosong dan berdebu. Bahkan aroma kopi hitam yang biasanya menguar setiap pagi dan sore seolah ikut menghilang bersama kepergiannya.

Sejak nenekku, Toimah—yang kami panggil penuh kasih sebagai Hamiot—meninggal dunia, semuanya berubah. Kehilangan itu bukan hanya tentang tiadanya seseorang di rumah kami, melainkan hilangnya bagian penting dalam hidupku. Ada ruang di hati yang tak pernah benar-benar bisa terisi lagi.

Hamiot adalah nenek dari pihak ibu. Sosoknya sederhana, tetapi kasih sayangnya begitu besar. Ia mencintai anak-anak dan cucu-cucunya dengan cara yang tenang, tanpa banyak kata, namun selalu terasa hangat. Aku adalah cucu pertamanya, dan mungkin karena itu, aku menerima begitu banyak perhatian darinya.

“Cucu kesayangan Hamiot,” begitu katanya setiap kali memanggilku.

Dulu, aku menganggap panggilan itu biasa saja. Aku tidak pernah benar-benar memikirkannya. Namun sekarang, setelah ia tiada, kata-kata sederhana itu justru menjadi sesuatu yang paling kurindukan. Kadang, aku berharap bisa mendengarnya sekali lagi, walau hanya sebentar.

Di balik sifatnya yang lembut, Hamiot juga keras kepala—terutama dalam hal-hal yang ia sukai. Salah satunya kopi hitam. Setiap pagi dan sore, ia selalu menyeduh kopi hitam kesayangannya. Padahal dokter sudah berkali-kali melarang karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan. Namun Hamiot selalu tertawa kecil setiap kali diingatkan.

“Hidup tanpa kopi itu bukan hidup,” katanya suatu kali sambil tersenyum.

Dan seperti biasa, kami semua menyerah menghadapi keras kepalanya.

Kini, setiap kali mencium aroma kopi hitam, ingatanku selalu kembali padanya. Pada perempuan tua yang menjalani hidup dengan caranya sendiri—jujur, sederhana, dan apa adanya.

Hamiot juga dikenal sebagai sosok yang pandai memasak. Masakannya memiliki rasa khas yang sulit dijelaskan, tetapi selalu berhasil membuat siapa pun ingin menambah nasi. Dulu, ia memiliki warung nasi pecel di pasar. Banyak orang datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga karena mereka menyukai masakannya.

Bahkan, dalam berbagai hajatan tetangga, Hamiot sering diminta menjadi juru masak. Dari dapurnya yang sederhana, lahir hidangan-hidangan penuh rasa dan kehangatan. Bagiku, dapur itu bukan sekadar tempat memasak. Di sanalah tawa, cerita, dan kebersamaan keluarga tumbuh.

Ada begitu banyak kenangan bersamanya hingga sulit memilih mana yang paling berkesan. Namun, satu kebiasaan sederhana selalu melekat kuat dalam ingatanku.

Sepulang sekolah, aku hampir selalu pergi ke rumahnya. Orang tuaku sibuk bekerja, dan rumah kami memang berdekatan. Aku tahu, akan ada seseorang yang menungguku di sana.

Dan benar saja.

Hamiot selalu duduk menunggu kepulanganku.

Kadang ia sudah menyiapkan makanan di meja, kadang masih sibuk di dapur sambil bertanya bagaimana hariku di sekolah. Setelah itu, kami makan siang bersama. Dulu, semua itu terasa biasa saja. Aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari nanti, momen-momen sederhana itu justru akan menjadi kenangan paling berharga dalam hidupku.

Waktu terus berjalan, dan kesehatan Hamiot perlahan menurun.

Selama kurang lebih sepuluh tahun, ia berjuang melawan diabetes yang kemudian disertai komplikasi jantung. Dalam tiga tahun terakhir sebelum kepergiannya, ia harus rutin pergi ke rumah sakit setiap bulan untuk menjalani pemeriksaan.

Tubuhnya memang semakin melemah, tetapi semangatnya tidak pernah benar-benar hilang.

Ia tetap berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa.

Saat itu aku masih duduk di bangku SMA. Aku belum cukup dewasa untuk memahami betapa berat perjuangannya. Aku juga belum mampu melakukan banyak hal untuk membantunya. Kini, ketika mengingat masa itu, ada rasa sesal yang diam-diam tumbuh di dalam hati.

Semua terjadi begitu cepat.

Tiga hari sebelum meninggal dunia, kondisi Hamiot tiba-tiba menurun drastis. Ia segera dilarikan ke rumah sakit dan dirawat di ruang ICU. Tidak ada seorang pun yang menyangka semuanya akan terjadi secepat itu.

Padahal, di hari yang sama sebelumnya, kami masih sempat berkumpul bersama. Sepupuku baru saja datang dari luar kota, dan rumah terasa ramai oleh suara tawa. Hamiot tampak bahagia melihat anak dan cucunya berkumpul.

Tak ada yang tahu bahwa kebersamaan itu akan menjadi kenangan terakhir kami bersamanya.

Tanggal 8 Agustus 2020 menjadi hari yang tidak akan pernah bisa kulupakan.

Saat itu aku sedang berada di rumah, sibuk mempersiapkan keberangkatanku ke Jepang. Aku masih mengurus banyak hal ketika kabar itu datang.

Hamiot telah pergi.

Dunia seolah berhenti sesaat.

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan saat itu. Dadaku terasa sesak, pikiranku kosong, dan rumah yang biasanya terasa hangat tiba-tiba menjadi sangat asing. Kesedihan itu begitu dalam hingga kata-kata terasa tidak cukup untuk menggambarkannya.

Bahkan sampai sekarang, setiap kali mengingat hari itu, rasa sakitnya masih tetap sama.

Ada kehilangan yang ternyata tidak pernah benar-benar sembuh.

Namun di antara semua kesedihan itu, ada satu hal yang paling sering menghantuiku: penyesalan.

Aku merasa belum sempat membahagiakannya.

Hamiot selalu berbicara tentang masa depanku dengan penuh semangat. Ia sering membayangkan aku lulus sekolah, lulus kuliah, menikah, bahkan memiliki anak.

“Nanti kalau sudah sukses jangan lupa Hamiot,” katanya sambil tertawa kecil.

Saat itu aku hanya tersenyum tanpa benar-benar memahami makna di balik ucapannya.

Dan sekarang, ketika sebagian mimpi itu perlahan mulai terwujud, ia justru sudah tidak ada lagi untuk melihatnya.

Sejak kepergiannya, banyak hal berubah dalam keluargaku.

Lebaran tidak lagi terasa sama. Rumah yang dulu menjadi tempat berkumpul kini lebih sering kosong. Tidak ada lagi sosok yang menyatukan kami seperti dahulu. Setelah kakek juga menyusul pergi, suasana hangat itu semakin perlahan menghilang.

Kami jarang berkumpul seperti dulu.

Dan aku mulai memahami bahwa ternyata sebuah keluarga sering kali bertahan karena adanya satu sosok yang diam-diam menjaga semuanya tetap utuh.

Ada banyak hal yang kurindukan dari Hamiot.

Masakannya.

Suaranya.

Kebiasaannya menyeduh kopi.

Caranya menyambutku pulang.

Dan makan siang sederhana bersama yang dulu terasa biasa saja.

Kadang aku membayangkan, bagaimana jika aku diberi kesempatan berbicara dengannya sekali lagi.

Aku ingin mengatakan bahwa sekarang aku benar-benar sudah berada di Jepang, seperti yang dulu sering kami bicarakan. Aku ingin ia tahu bahwa impianku perlahan mulai terwujud—dan semua itu tidak lepas dari doa-doanya.

Aku ingin mengajaknya berjalan-jalan melihat dunia yang lebih luas. Aku ingin membelikannya makanan enak, membawanya naik pesawat, dan membuatnya menikmati hidup tanpa harus lelah bekerja lagi.

Aku ingin membalas semua kebaikannya.

Namun waktu tidak pernah bisa diputar kembali.

Kini, yang tersisa hanyalah kenangan.

Tetapi dari kenangan itulah aku belajar banyak hal tentang hidup.

Dari Hamiot, aku belajar tentang kasih sayang yang tulus, tentang kesederhanaan, tentang keteguhan menjalani hidup meski tubuh perlahan melemah. Ia adalah perempuan kuat yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarganya, bahkan ketika dirinya sendiri sedang kesakitan.

Dan meskipun kini ia telah tiada, aku percaya satu hal:

dalam setiap langkah yang kuambil hari ini, masih ada doa-doanya yang diam-diam berjalan bersamaku.

Versi Bahasa Jepang

残された思い出

あの家は、今では以前よりずっと静かになってしまった。
帰っても、「おかえり」と迎えてくれる声はもう聞こえない。居間の隅に置かれた木の椅子も、今は誰も座ることなく、ただ静かにそこにあるだけだ。毎朝と夕方に漂っていたブラックコーヒーの香りさえ、祖母と一緒に消えてしまったように感じる。

祖母――トイマ。
私たちは愛情を込めて「ハミオット」と呼んでいた。

祖母がいなくなってから、すべてが変わってしまった。
それは単に「家族を失った」ということではない。私の人生の大切な一部が、ぽっかりと欠けてしまったような感覚だった。

ハミオットは母方の祖母だった。派手な人ではなかったが、とても優しく、家族への愛情にあふれていた。特に子どもや孫たちを本当に大切にしてくれていた。

私は祖母にとって最初の孫だった。だからなのか、たくさんの愛情を注いでもらった。

「ハミオットの一番大好きな孫だよ。」

祖母はよくそう言って笑っていた。

当時は、その言葉を特別だと思ったことはなかった。ただのいつもの言葉だと思っていた。でも今になって、その何気ない言葉こそが、一番恋しいものになっている。

優しい祖母だったが、少し頑固な一面もあった。特にブラックコーヒーに関してはそうだった。

毎朝と夕方、祖母は必ずブラックコーヒーを淹れていた。医者からは何度も止められていた。糖尿病や心臓の病気があったため、体にはよくないと言われていたからだ。

それでも祖母は、小さく笑いながらこう言っていた。

「コーヒーのない人生なんて、つまらないよ。」

その言葉を聞くたび、家族は呆れながらも結局は何も言えなくなってしまった。

今でもブラックコーヒーの香りを嗅ぐと、祖母のことを思い出す。
自分らしく、正直に、ありのままで生きていた祖母の姿を。

祖母は料理もとても上手だった。
その味は素朴なのに不思議と忘れられず、誰もが「また食べたい」と言っていた。

昔、祖母は市場でナシペチェルの屋台を営んでいた。多くの人が食べに来ていたのは、ただお腹を満たすためではない。祖母の料理には、人を温かい気持ちにする力があったからだ。

近所の結婚式や行事でも、祖母はよく料理人として頼まれていた。祖母の小さな台所からは、いつも料理の香りと一緒に、人の笑い声や会話が溢れていた。

私にとって、あの台所はただ料理をする場所ではなかった。
家族の温もりが集まる場所だった。

祖母との思い出は数え切れないほどある。
その中でも、特に心に残っているのは、ごく普通の日常だった。

両親は仕事で忙しく、学校が終わると私はよく祖母の家へ行っていた。家が近かったこともあり、自然と足が向いていた。

なぜなら、そこにはいつも私を待っていてくれる人がいたからだ。

祖母は毎日のように、私の帰りを待っていた。
テーブルにはすでに昼ごはんが並んでいることもあれば、祖母がまだ台所で料理をしながら「今日は学校どうだった?」と声をかけてくれることもあった。

そして私たちは、一緒に昼ごはんを食べた。

あの頃は、それが特別なことだとは思わなかった。
でも今になって気づく。人はきっと、何気ない日常を失って初めて、その大切さを知るのだ。

祖母は約十年間、病気と闘っていた。
糖尿病を患い、その後は心臓の合併症も抱えるようになった。亡くなる前三年間は、毎月病院へ通い、検査を受けなければならなかった。

体は少しずつ弱っていった。
それでも祖母は、できるだけいつも通りに過ごそうとしていた。

当時の私はまだ高校生で、祖母の苦しみを本当の意味では理解できていなかった。祖母をもっと支えてあげることもできなかった。

今思い返すたびに、そのことが少し心に残っている。

すべては突然だった。

亡くなる三日前、祖母の体調は急激に悪化した。すぐに病院へ運ばれ、そのままICUに入ることになった。

誰も、こんなに急に別れが来るとは思っていなかった。

その日の昼間まで、祖母は家族や孫たちと一緒に笑って過ごしていたからだ。遠くから帰ってきた従兄弟もいて、家の中は久しぶりにとても賑やかだった。

祖母も嬉しそうに笑っていた。

あの時の笑顔が、私たちにとって最後の思い出になった。

2020年8月8日。
祖母は静かに息を引き取った。

その時、私は家で日本へ行く準備をしていた。突然その知らせを聞いた瞬間、頭の中が真っ白になった。

胸が苦しくて、何も考えられなかった。
いつも温かかった家が、その日だけは別の場所のように感じた。

言葉では表せないほど悲しかった。

そして今でも、あの日のことを思い出すたび、胸の奥が静かに痛む。

時間が経っても、消えない悲しみというものがあるのだと思う。

でも、悲しみ以上に心に残っているものがある。
それは後悔だ。

私は、祖母を十分に幸せにしてあげられなかった。

祖母はいつも、私の未来を楽しみにしていた。
卒業すること。大学を出ること。結婚すること。いつか子どもを持つこと。

そんな未来の話を、祖母は本当に嬉しそうに語っていた。

「将来、立派になった姿を見せてね。」

祖母は笑いながら、そう言っていた。

でも、その夢が叶う前に、祖母は旅立ってしまった。

祖母がいなくなってから、家族も少しずつ変わってしまった。

レバランの時期になっても、昔のような賑やかさはない。祖母の家は静かになり、家族が集まる機会も減っていった。

さらに祖父も亡くなり、あの温かかった時間は少しずつ遠ざかっていった。

私はその時、気づいた。

家族というものは、誰か一人の大きな愛によって支えられていることがあるのだと。

今でも、祖母のことをたくさん思い出す。

祖母の料理。
ブラックコーヒーの香り。
「おかえり」と迎えてくれた声。
一緒に食べた昼ごはん。

昔は当たり前だったそのすべてが、今では何より大切な思い出になっている。

もしもう一度だけ祖母と話せるなら、私は伝えたいことがある。

「今、私は日本にいるよ。」

昔、一緒に話していた夢が、少しずつ叶い始めていることを伝えたい。

そして、それは祖母の祈りや支えがあったからこそだと伝えたい。

もし祖母が今ここにいてくれたなら、一緒にいろいろな場所へ連れて行きたかった。もう暑さや雨の中で苦労しなくていいように、美味しいものを食べさせて、たくさん笑って過ごしてほしかった。

祖母から私は、本当に多くのことを学んだ。

人を愛すること。
どんな時でも強く生きること。
そして、優しくあること。

祖母はもうこの世にはいない。
それでも、祖母との思い出と教えは、これからもずっと私の中で生き続けていく。

そしてきっと今でも――

祖母の祈りは、静かに私の人生を支え続けてくれている。

Nokosareta Omoide

Ano ie wa, ima de wa izen yori zutto shizuka ni natte shimatta.
Kaette mo, “okaeri” to mukaete kureru koe wa mou kikoenai. Ima no heya no sumi ni okareta ki no isu mo, ima wa daremo suwaru koto naku, tada shizuka ni soko ni aru dake da. Maiasa to yuugata ni tadayotte ita burakku koohii no kaori sae, sobo to issho ni kiete shimatta you ni kanjiru.

Sobo —— Toima.
Watashitachi wa aijou o komete “Hamiotto” to yonde ita.

Sobo ga inakunatte kara, subete ga kawatte shimatta.
Sore wa tan ni “kazoku o ushinatta” to iu koto de wa nai. Watashi no jinsei no taisetsu na ichibu ga, pokkari to kakete shimatta you na kankaku datta.

Hamiotto wa hahaoya-gawa no sobo datta. Hade na hito de wa nakatta ga, totemo yasashiku, kazoku e no aijou ni afurete ita. Toku ni kodomo ya magotachi o hontou ni taisetsu ni shite kurete ita.

Watashi wa sobo ni totte saisho no mago datta. Dakara na no ka, takusan no aijou o sosoi demo ratta.

“Hamiotto no ichiban daisuki na mago da yo.”

Sobo wa yoku sou itte waratte ita.

Touji wa, sono kotoba o tokubetsu da to omotta koto wa nakatta. Tada no itsumo no kotoba da to omotte ita. Demo ima ni natte, sono nanigenai kotoba koso ga, ichiban koishii mono ni natte iru.

Yasashii sobo datta ga, sukoshi ganko na ichimen mo atta. Toku ni burakku koohii ni kanshite wa sou datta.

Maiasa to yuugata, sobo wa kanarazu burakku koohii o irete ita. Isha kara wa nando mo tomerarete ita. Tounyoubyou ya shinzou no byouki ga atta tame, karada ni wa yokunai to iwarete ita kara da.

Sore demo sobo wa, chiisaku warainagara kou itte ita.

“Koohii no nai jinsei nante, tsumaranai yo.”

Sono kotoba o kiku tabi, kazoku wa akirenagara mo kekkyoku wa nanimo ienaku natte shimatta.

Ima demo burakku koohii no kaori o kagu to, sobo no koto o omoidasu.
Jibun rashiku, shoujiki ni, arinomama de ikite ita sobo no sugata o.

Sobo wa ryouri mo totemo jouzu datta.
Sono aji wa soboku na no ni fushigi to wasurerarezu, daremo ga “mata tabetai” to itte ita.

Mukashi, sobo wa ichiba de nasi pecheru no yatai o itonande ita. Ooku no hito ga tabeni kite ita no wa, tada onaka o mitasu tame de wa nai. Sobo no ryouri ni wa, hito o atatakai kimochi ni suru chikara ga atta kara da.

Kinjo no kekkonshiki ya gyouji demo, sobo wa yoku ryourinin toshite tanomarete ita. Sobo no chiisana daidokoro kara wa, itsumo ryouri no kaori to issho ni, hito no waraigoe ya kaiwa ga afurete ita.

Watashi ni totte, ano daidokoro wa tada ryouri o suru basho de wa nakatta.
Kazoku no nukumori ga atsumaru basho datta.

Sobo to no omoide wa kazoekirenai hodo aru.
Sono naka demo, toku ni kokoro ni nokotte iru no wa, goku futsuu no nichijou datta.

Ryoushin wa shigoto de isogashiku, gakkou ga owaru to watashi wa yoku sobo no ie e itte ita. Ie ga chikakatta koto mo ari, shizen to ashi ga muite ita.

Naze nara, soko ni wa itsumo watashi o matte ite kureru hito ga ita kara da.

Sobo wa mainichi no you ni, watashi no kaeri o matte ita.
Teeburu ni wa sude ni hirugohan ga narande iru koto mo areba, sobo ga mada daidokoro de ryouri o shinagara “Kyou wa gakkou dou datta?” to koe o kakete kureru koto mo atta.

Soshite watashitachi wa, issho ni hirugohan o tabeta.

Ano koro wa, sore ga tokubetsu na koto da to wa omowanakatta.
Demo ima ni natte kizuku. Hito wa kitto, nanigenai nichijou o ushinatte hajimete, sono taisetsusa o shiru no da.

Sobo wa yaku juu-nenkan, byouki to tatakatte ita.
Tounyoubyou o wazurai, sono ato wa shinzou no gappeishou mo kakaeru you ni natta. Nakunaru mae san-nenkan wa, maitsuki byouin e kayoi, kensa o ukete inakereba naranakatta.

Karada wa sukoshi zutsu yowatte itta.
Sore demo sobo wa, dekiru dake itsumo doori ni sugoso u to shite ita.

Touji no watashi wa mada koukousei de, sobo no kurushimi o hontou no imi de wa rikai dekite inakatta. Sobo o motto sasaete ageru koto mo dekinakatta.

Ima omoikaesu tabi ni, sono koto ga sukoshi kokoro ni nokotte iru.

Subete wa totsuzen datta.

Nakunaru mikka mae, sobo no taichou wa kyuugeki ni akka shita. Sugu ni byouin e hakobare, sono mama ICU ni hairu koto ni natta.

Daremo, konna ni kyuu ni wakare ga kuru to wa omotte inakatta.

Sono hi no hiruma made, sobo wa kazoku ya magotachi to issho ni waratte sugoshite ita kara da. Tooku kara kaette kita itoko mo ite, ie no naka wa hisashiburi ni totemo nigiyaka datta.

Sobo mo ureshisou ni waratte ita.

Ano toki no egao ga, watashitachi ni totte saigo no omoide ni natta.

2020 nen 8 gatsu 8 ka.
Sobo wa shizuka ni iki o hikitoritta.

Sono toki, watashi wa ie de Nihon e iku junbi o shite ita. Totsuzen sono shirase o kiita shunkan, atama no naka ga masshiro ni natta.

Mune ga kurushikute, nanimo kangaerarenakatta.
Itsumo atatakakatta ie ga, sono hi dake wa betsu no basho no you ni kanjirareta.

Kotoba de wa arawasenai hodo kanashikatta.

Soshite ima demo, ano hi no koto o omoidasu tabi, mune no oku ga shizuka ni itamu.

Jikan ga tatte mo, kienai kanashimi to iu mono ga aru no da to omou.

Demo, kanashimi ijou ni kokoro ni nokotte iru mono ga aru.
Sore wa koukai da.

Watashi wa, sobo o juubun ni shiawase ni shite agerarenakatta.

Sobo wa itsumo, watashi no mirai o tanoshimi ni shite ita.
Sotsugyou suru koto. Daigaku o deru koto. Kekkon suru koto. Itsuka kodomo o motsu koto.

Sonna mirai no hanashi o, sobo wa hontou ni ureshisou ni katatte ita.

“Shourai, rippa ni natta sugata o misete ne.”

Sobo wa warainagara, sou itte ita.

Demo, sono yume ga kanau mae ni, sobo wa tabidatte shimatta.

Sobo ga inakunatte kara, kazoku mo sukoshi zutsu kawatte shimatta.

Rebaran no jiki ni natte mo, mukashi no you na nigiyakasa wa nai. Sobo no ie wa shizuka ni nari, kazoku ga atsumaru kikai mo hette itta.

Sara ni sofu mo nakunari, ano atatakakatta jikan wa sukoshi zutsu toozakatte itta.

Watashi wa sono toki, kizuita.

Kazoku to iu mono wa, dareka hitori no ookina ai ni yotte sasaerarete iru koto ga aru no da to.

Ima demo, sobo no koto o takusan omoidasu.

Sobo no ryouri.
Burakku koohii no kaori.
“Okaeri” to mukaete kureta koe.
Issho ni tabeta hirugohan.

Mukashi wa atarimae datta sono subete ga, ima de wa nani yori taisetsu na omoide ni natte iru.

Moshi mou ichido dake sobo to hanaseru nara, watashi wa tsutaetai koto ga aru.

“Ima, watashi wa Nihon ni iru yo.”

Mukashi, issho ni hanashite ita yume ga, sukoshi zutsu kanai hajimete iru koto o tsutaetai.

Soshite, sore wa sobo no inori ya sasae ga atta kara koso da to tsutaetai.

Moshi sobo ga ima koko ni ite kureta nara, issho ni iroiro na basho e tsurete ikitakatta. Mou atsusa ya ame no naka de kurou shinakute ii you ni, oishii mono o tabesasete, takusan waratte sugoshite hoshikatta.

Sobo kara watashi wa, hontou ni ooku no koto o mananda.

Hito o aisuru koto.
Donna toki demo tsuyoku ikiru koto.
Soshite, yasashiku aru koto.

Sobo wa mou kono yo ni wa inai.
Sore demo, sobo to no omoide to oshie wa, korekara mo zutto watashi no naka de ikitsuzukete iku.

Soshite kitto ima demo――

Sobo no inori wa, shizuka ni watashi no jinsei o sasaetsuzukete kurete iru. 

Versi Bahasa Inggris

The Memories Left Behind

That house has become far quieter than it used to be.
No one welcomes me home anymore with a warm voice calling from inside. The wooden chair in the corner of the living room, once always occupied, now sits empty in silence. Even the aroma of black coffee that used to drift through the house every morning and evening seems to have disappeared along with her.

My grandmother—Toimah.
We lovingly called her Hamiot.

Since she passed away, everything has changed.
It was not simply the feeling of losing a family member. It felt as if an important part of my life had suddenly vanished, leaving an emptiness that could never truly be filled again.

Hamiot was my mother’s mother. She was not an extraordinary woman in the eyes of the world, but to us, she was warmth itself. She loved her family deeply, especially her children and grandchildren.

I was her first grandchild, and perhaps because of that, she poured so much love into me.

“You are Hamiot’s favorite grandchild.”

She used to say that with a smile.

Back then, I never realized how precious those words were. They sounded ordinary to me at the time. But now, they are the very words I long to hear the most.

Although she was gentle, she also had a stubborn side—especially when it came to black coffee.

Every morning and every evening, she would brew a cup of her favorite black coffee. The doctors had warned her many times to stop because of her health condition. She suffered from diabetes and heart complications, and coffee was not good for her body anymore.

Still, she would simply laugh softly and say,

“A life without coffee is no life at all.”

Every time she said that, the whole family could do nothing but smile helplessly.

Even now, whenever I smell black coffee, I immediately think of her.
Of the woman who lived honestly, simply, and completely as herself.

Hamiot was also an excellent cook.
Her food had a simple taste, yet somehow unforgettable. Anyone who ate her cooking would always want more.

Years ago, she ran a small nasi pecel stall in the market. People did not come only because they were hungry. They came because her cooking carried warmth and comfort.

She was also often asked to cook for weddings and neighborhood celebrations. From her small kitchen came not only delicious meals, but also laughter, conversations, and togetherness.

To me, that kitchen was never just a place for cooking.
It was a place where family warmth lived.

I have countless memories with my grandmother.
But among all of them, the ones that remain strongest in my heart are the simplest moments.

My parents were busy working, so after school I would often go to my grandmother’s house. Our homes were close to each other, and somehow my feet always carried me there naturally.

Because I knew someone was waiting for me.

Every day, my grandmother waited for me to come home from school.
Sometimes lunch was already prepared on the table. Other times, she would still be cooking in the kitchen while asking me about my day at school.

And then we would eat lunch together.

At that time, those moments felt ordinary.
But now I understand that people often realize the value of ordinary moments only after they are gone.

My grandmother fought against illness for about ten years.
She had diabetes, which later developed into heart complications. During the last three years of her life, she had to go to the hospital every month for medical checkups.

Her body grew weaker little by little.
Even so, she always tried to live her days as normally as possible.

At that time, I was still in high school. I was too young to truly understand how hard her struggle was, and I could not do much to help her.

Even now, that regret still quietly remains in my heart.

Everything happened so suddenly.

Three days before she passed away, her condition suddenly became much worse. She was rushed to the hospital and admitted to the ICU.

No one expected that our goodbye would come so quickly.

Earlier that same day, she had still been laughing together with the children and grandchildren. One of my cousins had just returned from another city, and the house was filled with happiness and noise once again.

My grandmother looked truly happy that day.

None of us knew that her smile would become our final memory of her.

On August 8th, 2020, my grandmother quietly took her last breath.

At that time, I was at home preparing for my departure to Japan. When I heard the news, my mind went completely blank.

My chest felt heavy, and I could not think clearly.
The house that had always felt warm suddenly felt unfamiliar and empty.

The sadness I felt was beyond words.

Even now, whenever I remember that day, there is still a quiet pain deep inside my heart.

Some kinds of grief never truly disappear.

But more than sadness, there is one thing that remains in my heart the most:

regret.

I feel that I never had the chance to truly make her happy.

My grandmother was always excited about my future.
She often talked about my graduation, my future career, my marriage, and even the day I would have children of my own.

“Show me your successful future someday,” she once said with a smile.

But before any of those dreams could come true, she had already left this world.

After her passing, many things in our family changed.

Lebaran no longer feels the same. The house that once brought everyone together became quiet and empty. Family gatherings slowly became less frequent.

Then, after my grandfather also passed away, the warmth that once held our family together slowly faded away.

That was when I realized something important:

sometimes, a family stays whole because of the love of one person.

Even now, there are so many things I still miss about her.

Her cooking.
The smell of black coffee.
Her voice welcoming me home.
The lunches we shared together.

Things that once felt ordinary have now become the most precious memories of my life.

If I were given one more chance to speak with her, there are so many things I would want to say.

“I’m in Japan now.”

I want her to know that the dreams we once talked about are slowly coming true.

And I want her to know that none of it would have been possible without her prayers and support.

If she were still here, I would take her to see many places. I would make sure she no longer had to struggle under the heat or rain. I would buy her delicious food and spend more happy moments together.

From my grandmother, I learned so many things about life.

How to love sincerely.
How to stay strong during difficult times.
And how to always remain kind.

My grandmother is no longer here.
But her memories and everything she taught me will continue to live inside me forever.

And even now, I still believe—

her prayers are quietly walking beside me in every step of my life.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Milikku

Nama      :Wulan Dwi Liestya Ayuningtyas NIM           : 094231022  Sejak duduk di bangku kelas satu SMA, aku mulai menyadari bahwa ada sesu...