Nama :Wulan Dwi Liestya Ayuningtyas
NIM : 094231022
Sejak duduk di bangku kelas satu SMA, aku mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam diriku.
Awalnya hanya perasaan-perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Kadang aku merasa sedang diperhatikan padahal tidak ada siapa-siapa. Kadang bulu kudukku berdiri ketika melewati tempat tertentu. Dan di beberapa malam, aku bisa merasakan kehadiran sesuatu yang tidak terlihat, seolah berdiri sangat dekat di belakangku.
Aku membencinya.
Bahkan sampai sekarang pun, aku masih belum benar-benar bisa menerima kemampuan itu. Namun jauh di dalam hati, aku tahu ini bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Kemampuan itu diwariskan turun-temurun dari leluhur keluargaku—mengalir dalam darahku, menetap di mata batinku bahkan sebelum aku cukup dewasa untuk memahaminya.
Delapan tahun lalu, aku meninggalkan kampung halaman demi mengejar mimpi pergi ke Jepang. Untuk itu, aku harus belajar di sebuah sekolah bahasa Jepang di Sukoharjo, Solo.
Aku datang bersama Mae, teman satu daerah yang ternyata memiliki kemampuan serupa denganku. Bedanya, Mae belum mampu mengendalikan apa yang ia lihat.
Karena asrama sekolah penuh, kami tinggal di sebuah rumah kos berbentuk joglo tua khas Jawa. Bangunannya besar, dengan kayu-kayu tua yang berderit setiap malam diterpa angin. Aku sekamar dengan Mae dan seorang gadis asal Bogor bernama Fira.
Belakangan aku baru sadar—Fira juga bisa melihat mereka.
Malam itu, aku dan Fira sedang duduk di ruang makan sambil mengerjakan tugas. Hanya suara kipas angin dan gesekan pensil yang terdengar di antara kami. Tiba-tiba, dari kamar terdengar suara rintihan pelan.
Aku dan Fira saling berpandangan.
Rintihan itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas.
Kami langsung berlari menuju kamar.
Mae terduduk di sudut ranjang sambil memeluk lututnya sendiri. Air matanya mengalir deras. Wajahnya pucat seperti tidak memiliki darah.
“Wulan… tolong… aku takut…” isaknya gemetar.
Aku terpaku beberapa detik. Selama ini Mae tidak pernah menceritakan apa pun tentang kemampuannya kepadaku. Namun sebelum aku sempat bertanya, tubuhnya tiba-tiba menegang.
Dan detik berikutnya—
teriakannya memecah malam.
Suara itu begitu melengking hingga membuat napasku tercekat.
Fira langsung menggenggam tanganku erat. Kami mencoba membaca doa, mencoba menenangkan Mae, tetapi semuanya di luar kendali kami.
Ada sesuatu yang jauh lebih kuat sedang merasukinya.
Satu per satu penghuni kos berdatangan. Sebagian membaca ayat suci dengan suara bergetar, sebagian lagi hanya berdiri ketakutan di depan pintu kamar.
Suara doa memenuhi rumah joglo itu.
Tubuh Mae melengkung ke belakang seperti busur. Tangannya mencengkeram sprei begitu kuat hingga kukunya hampir robek.
Dan saat itulah aku melihatnya.
Di depan pintu kamar, berdiri sosok hitam besar dengan tubuh menjulang tinggi. Ia diam saja, menatap kami tanpa bergerak sedikit pun.
Dadaku langsung sesak.
“Bajingan…” umpatku dalam hati.
Fira menoleh kepadaku. Ia pasti melihat perubahan di wajahku. Perlahan ia mengusap punggungku sambil berbisik pelan di telingaku.
“Wulan… Astaghfirullāhal-‘aẓīm… nyebut…”
Aku langsung menunduk dan melanjutkan doa.
Tak lama kemudian, Kak Ado—senior dari asrama putra—datang. Setelah beberapa saat membacakan doa, suasana kamar perlahan berubah. Udara yang tadi terasa berat mulai terasa ringan.
Mae akhirnya sadar.
Ia langsung menangis sambil menggenggam tanganku erat-erat.
“Aku nggak mau ke sana lagi, Wulan…” suaranya serak. “Jangan belanja di sana lagi… seram… mereka pakai penglaris…”
Aku tahu tempat yang ia maksud.
Namun Kak Ado segera memberiku isyarat untuk diam.
Malam itu rumah kos kami berubah menjadi tontonan. Anak-anak dari kos lain berdatangan hanya untuk melihat apa yang terjadi. Dan seperti biasa, kabar menyebar lebih cepat daripada angin.
Keesokan harinya, cerita itu sudah sampai ke telinga kepala sekolah.
Belum selesai sampai di situ, Mae kembali kesurupan di dalam kelas. Sekolah langsung gempar. Akhirnya kepala sekolah memutuskan untuk menskors Mae sementara.
Namun Mae sudah terlalu ketakutan.
Ia memilih pulang.
Setelah kepergian Mae, semuanya terasa kembali normal.
Setidaknya, itulah yang kupikirkan.
Beberapa bulan kemudian sekolah kami pindah ke gedung baru yang letaknya jauh dari kos lama. Demi menghemat biaya, aku memilih tinggal di asrama sekolah.
Dan di situlah semuanya dimulai lagi.
Di samping sekolah terdapat lahan kosong dengan beberapa pohon pisang tumbuh liar di sana. Tempat itu biasa dipakai para siswi untuk membakar pembalut bekas.
Aku tidak pernah tahu bahwa tempat itu menyimpan sesuatu.
Malam itu aku baru pulang dari supermarket setelah membeli kebutuhan bulanan. Sendirian.
Saat melewati pagar sekolah, aku melihat sesuatu bergerak cepat di ujung pandanganku.
Putih.
Melintas tepat di samping pagar.
Langkahku langsung terhenti.
Asrama berada di dalam kompleks sekolah. Tidak ada jalan lain selain melewati tempat itu.
Dengan jantung berdebar keras, aku menunduk dan terus berjalan sambil menatap ujung sepatuku sendiri.
Aku tidak mau makhluk itu tahu bahwa aku bisa melihatnya.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Aku berhasil melewatinya tanpa menoleh sedikit pun.
Namun malam itu, ia datang dalam mimpiku.
Aku berdiri di depan pagar sekolah yang sama. Udara terasa dingin dan berat. Waktu seolah berhenti bergerak.
Di dekat rak sepatu depan asrama, berdiri sosok yang terbungkus kain kafan putih dari kepala hingga kaki.
Tetapi wajahnya—
wajah seorang lelaki muda.
Tampan. Tegap. Seperti jawara zaman dulu.
“Wulan…”
Suaranya lembut seperti angin malam.
“Aku Joko.”
Ia tersenyum tipis.
“Baumu harum… Aku ingin kamu jadi milikku.”
Sesaat aku terpaku.
Namun kesadaranku segera menarikku kembali.
Ini bukan manusia.
Ini makhluk yang sedang menyamar.
“Maaf,” kataku tegas. “Aku hanya tertarik pada manusia. Bukan makhluk sepertimu.”
Tatapannya berubah redup.
“Lebih baik kamu pergi.”
Aku membalikkan badan dan berjalan masuk ke asrama.
BRAK!
Suara pintu terbanting keras membuatku terbangun.
Aku langsung duduk sambil terengah.
Jam menunjukkan pukul lima pagi.
Suara sandal mulai terdengar di koridor asrama.
“Cuma mimpi…” gumamku pelan, mencoba menenangkan diri sendiri.
Namun ternyata semuanya belum selesai.
Sejak malam itu, setiap habis maghrib aku merasa takut keluar kamar. Dan hampir setiap malam, ada suara gagang pintu dimainkan perlahan dari luar.
Klik…
Klik…
Klik…
Seperti seseorang yang sedang memastikan apakah pintunya terkunci.
Tempat tidurku paling dekat dengan pintu.
Aku hanya bisa meringkuk di balik selimut sambil pura-pura tidur, mendengarkan suara itu dengan jantung berdegup begitu keras hingga terasa sakit.
Untungnya, lama-kelamaan gangguan itu mulai berkurang.
Hari-hari kembali terasa normal.
Sampai malam interview itu datang.
Perusahaan Jepang akan segera melakukan wawancara, dan para senior diminta membimbing junior setiap malam. Aku ikut mengajar di kelas interview bersama beberapa teman lain.
Saat itu aku sedang memperhatikan seorang junior bernama Ita.
Tatapannya aneh.
Ia terus menatapku tanpa berkedip.
Awalnya aku mengabaikannya.
Namun semakin lama, matanya terasa kosong. Tubuhnya mulai oleng.
Dan tiba-tiba—
BRUK!
Ia jatuh ke lantai.
Di belakang tubuh Ita yang terkulai, aku melihat sosok itu berdiri.
Joko.
Tubuhku langsung terasa berat.
Aku ingin bergerak, tetapi kakiku seperti tertanam di lantai.
Teman-teman mulai membaca doa bersama. Suara ayat suci menggema memenuhi ruangan.
Perlahan rasa berat itu menghilang.
Aku berlutut di samping Ita dan berbisik pelan.
“Lepaskan anak ini. Kalau urusanmu denganku, jangan libatkan orang lain.”
Belum sempat suasana tenang, tiba-tiba terdengar teriakan dari arah taman sekolah.
“Bola api!”
“Ya Allah! Bola api!”
Aku langsung menoleh.
Cahaya merah menyala melayang di antara pepohonan.
Banaspati.
“Astaghfirullāhal-‘aẓīm…” bisikku lirih.
Aku menarik napas panjang lalu berkata tegas kepada semuanya.
“Jangan lihat ke sana! Fokus baca Al-Qur’an! Fokus ke Ita!”
Kami membaca doa bersama-sama.
Satu suara.
Satu niat.
Dan perlahan tubuh Ita mulai bergerak. Napasnya kembali normal. Matanya terbuka pelan dengan tatapan bingung.
“Alhamdulillah…”
Aku langsung meminta teman-temannya mengantar Ita kembali ke kamar.
“Jangan biarkan dia sendirian malam ini.”
Kelas interview dibubarkan lebih cepat.
Kupikir malam itu sudah selesai.
Ternyata belum.
Saat aku hendak tidur, Evi datang menghampiriku dengan wajah pucat.
“Lan… kamu tahu Sila di mana? Dia belum balik ke kamar.”
Aku menggeleng.
Evi menggigit bibir bawahnya gugup.
“Temenin aku kunci gerbang, dong… aku takut sendirian.”
Aku sebenarnya juga ketakutan. Tetapi aku tetap ikut bersamanya.
Lorong sekolah malam itu terasa sunyi sekali.
Lampu-lampu redup memantulkan bayangan panjang di lantai.
Di tengah perjalanan, aku melihat Sila keluar dari kamar mandi dekat ruang guru.
“Itu Sila!” seruku lega.
“Oh syukurlah…” Evi mengembuskan napas panjang. “Aku mau ke toilet dulu sebentar.”
Aku dan Sila menunggu di luar.
Dan saat itulah kami mendengarnya.
Suara tawa perempuan.
Pelan.
Tipis.
Melayang dari lantai atas.
“Mbak?” panggilku sambil mendongak. “Sudah malam… jangan ketawa keras-keras…”
Tidak ada jawaban.
Hanya sunyi.
Lalu tawa itu terdengar lagi.
Kali ini lebih nyaring.
Lebih liar.
Seolah mengelilingi kami dari segala arah.
Dari kiri.
Dari kanan.
Dari atas.
Aku dan Sila saling pandang.
Dan tanpa aba-aba, kami langsung berlari.
Aku masuk ke asrama secepat mungkin. Sementara Sila justru kembali ke kamar mandi menarik Evi keluar.
Aku membanting pintu kamar asrama dan langsung mengajak teman-teman membaca doa bersama.
Beberapa menit kemudian, aku kembali mengetuk pintu kamar mandi.
“Evi! Sila! Cepat keluar!”
Pintu terbuka.
Mereka berdua langsung berlari ke kamar tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkanku sendirian di lorong beberapa detik yang terasa sangat panjang.
Ketika kami semua berkumpul di kamar, barulah kami sadar sesuatu.
Sila duduk diam di pojok ranjang.
Wajahnya pucat.
Matanya kosong.
Dan celananya basah.
Tidak ada yang menertawakannya.
Kami hanya duduk di dekatnya sambil mengusap punggungnya pelan.
Malam itu kami tidur dengan lampu menyala dan pintu terkunci rapat.
Namun jauh di dalam hati, aku tahu—
Joko belum benar-benar pergi.
Beberapa minggu setelah kejadian itu, gangguan kecil masih terus muncul. Bayangan di sudut mata. Perasaan diikuti di koridor. Tidur yang tidak pernah benar-benar nyenyak.
Sampai akhirnya program selesai dan aku pulang kampung.
Ibuku langsung sadar ada yang berbeda dariku.
“Kamu kenapa, Nduk?”
Aku tidak menjawab.
Namun malam itu aku menangis tanpa alasan yang jelas.
Atas saran keluarga, aku dibawa menemui seorang ustaz yang biasa melakukan ruqyah.
Beliau menanganinya dengan tenang. Tidak keras. Tidak menakutkan.
Saat ayat-ayat mulai dibacakan, dadaku terasa sesak luar biasa.
Seolah ada sesuatu di dalam tubuhku yang menolak pergi.
Ustaz itu membuka mata perlahan lalu berkata pelan,
“Ada yang ikut kamu dari jauh.”
Aku hanya diam.
“Dia bilang kamu harum.”
Tubuhku langsung menegang.
“Kamu lahir Sabtu Legi?”
Aku menatap beliau kaget.
“Iya…”
Beliau mengangguk kecil.
“Tulang wangi,” katanya pelan. “Makhluk seperti mereka bisa mencium keberadaanmu dari jauh. Seperti bunga di tengah padang.”
Saat itulah semuanya mulai jelas.
Joko bukan sekadar makhluk yang lewat begitu saja.
Ia sudah lama tinggal di area pohon pisang itu. Dan ketika aku membakar pembalut di dekat tempatnya berdiam, keberadaanku seperti cahaya yang menarik perhatiannya.
Ia langsung memilihku.
“Kamu tidak salah,” kata ustaz itu lembut. “Tapi kamu harus lebih hati-hati. Tidak semua orang membawa hal seperti yang kamu miliki.”
Ruqyah berlangsung lama.
Dan di satu titik, aku merasa seperti ada kabut tebal yang perlahan terangkat dari dadaku.
Lega.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa bernapas dengan tenang.
Namun ustaz itu tidak mengatakan bahwa kemampuanku akan hilang.
Karena beliau tahu—
itu bukan penyakit.
Itu warisan.
Sesuatu yang mengalir dari leluhurku, turun ke darahku, tinggal di mata batinku jauh sebelum aku mengerti apa artinya.
“Ini titipan,” kata beliau. “Bukan kutukan.”
Yang beliau lakukan hanyalah membantu meredamnya sedikit. Seperti lampu yang terlalu terang lalu diredupkan.
Cahayanya tetap ada.
Tetapi tidak lagi menyilaukan.
Setelah hari itu, aku mulai bisa tidur nyenyak kembali.
Joko sudah pergi.
Dan untuk pertama kalinya, aku berhenti lari dari diriku sendiri.
Kemampuan itu masih ada, dan mungkin akan selalu ada.
Namun kini aku tidak lagi membencinya.
Ia adalah bagian dari diriku.
Seperti nama yang diwariskan leluhur.
Seperti darah yang mengalir tanpa pernah kuminta.
Dan dengan semua itu, akhirnya aku berangkat ke Jepang.
Versi Bahasa Jepang
俺のもの
高校一年生の頃、私は自分の中に何か普通ではないものがあることに気づき始めた。
最初は、うまく説明できない違和感だった。
誰もいないはずなのに視線を感じたり、特定の場所を通ると急に鳥肌が立ったりする。そして夜になると、目には見えない“何か”がすぐそばに立っているような気配を感じることがあった。
私はその力が嫌だった。
今でも完全に受け入れられているわけじゃない。
でも心の奥では分かっている。これは突然手に入ったものじゃない。
この力は、先祖代々受け継がれてきたものだった。
私がまだ物心つく前から、血の中に流れ、心の奥に静かに宿っていたもの。
八年前、私は日本へ行くという夢を叶えるため、ソロ近郊のスコハルジョにある日本語学校へ通い始めた。
一緒に来たのは、同じ地元出身のマエだった。
彼女にも私と似た力があった。でも、まだその力をうまく扱えずにいた。
学校の寮は満室だったため、私たちはジャワの伝統家屋であるジョグロ造りの下宿で暮らすことになった。古い木造の家で、夜になると風に揺れた柱が軋む音を立てる。
そこで私たちは、ボゴール出身のフィラという女の子と同室になった。
しばらくしてから気づいた。
フィラにも、“見える”力があることを。
ある夜、私はフィラと食堂で宿題をしていた。
静かな空間に響くのは、扇風機の音と鉛筆の走る音だけだった。
その時だった。
部屋の方から、小さなうめき声が聞こえた。
私はフィラと顔を見合わせた。
もう一度、声が聞こえる。
今度はもっとはっきりと。
私たちは慌てて部屋へ駆け込んだ。
マエはベッドの隅で膝を抱え、震えながら泣いていた。顔は血の気がなく、涙で濡れていた。
「ウラン……助けて……怖い……」
私は数秒、言葉を失った。
マエは今まで、自分の力について何も話してくれなかったからだ。
だが次の瞬間、彼女の体が突然硬直した。
そして――
悲鳴が夜を切り裂いた。
耳をつんざくような叫び声だった。
フィラがすぐに私の手を握った。
私たちは祈りを唱え、マエを落ち着かせようとした。けれど、もう私たちだけではどうにもならなかった。
彼女に取り憑いているものは、あまりにも強かった。
下宿の住人たちが次々に集まってきた。
震える声で聖句を唱える者もいれば、恐怖で部屋の外から見ているだけの者もいた。
祈りの声が、古いジョグロの家を満たしていく。
マエの身体は弓のように反り返り、今にも宙に浮きそうだった。
そしてその時、私は見た。
部屋の入り口に、巨大な黒い影が立っていた。
動かないまま、じっとこちらを見ている。
胸が締めつけられるように苦しくなった。
――くそったれ。
心の中でそう吐き捨てた。
フィラは私の顔色の変化に気づいたらしい。
そっと背中を撫でながら、耳元で囁いた。
「ウラン……アスタグフィルッラーハル・アジーム……唱えて」
私は小さく頷き、再び祈りを続けた。
しばらくして、男子寮の先輩であるアド先輩が駆けつけてきた。
彼が祈りを唱え始めると、重く淀んでいた空気が少しずつ軽くなっていった。
やがてマエは意識を取り戻した。
彼女は泣きながら、私の手を強く握った。
「あそこ、もう行きたくない……ウラン……。あの店、もう行かないで……怖い……あそこ、ペンガラリ使ってる……」
私は彼女がどの店のことを言っているのか分かっていた。
だがアド先輩は、黙っていろというように私へ目配せした。
その夜、私たちは完全に下宿中の注目の的になっていた。
別の下宿からも生徒たちが集まり、騒ぎを見に来ていた。
噂はあっという間に学校中へ広がった。
翌日、マエは教室で再び取り憑かれた。
学校中が大騒ぎになり、校長は彼女をしばらく自宅待機にした。
でも、マエはもう限界だった。
彼女はそのまま故郷へ帰ってしまった。
マエが去ったあと、しばらくは平穏な日々が続いた。
少なくとも、私はそう思っていた。
数か月後、学校は新しい校舎へ移転した。
古い下宿からは遠くなったため、私は生活費を節約するために学校の寮へ入ることにした。
そして――
すべては、そこで再び始まった。
学校の隣には空き地があり、そこには何本ものバナナの木が生えていた。女子生徒たちは、その場所で使用済みの生理用品を燃やしていた。
まさか、その場所が災いの始まりになるとは思ってもいなかった。
その夜、私はスーパーで買い物を終え、一人で寮へ戻っていた。
学校の門を通りかかった時だった。
視界の端に、白い影が横切った。
足が止まった。
寮へ戻るには、その門を通るしかない。
心臓が激しく脈打つ。
私は顔を伏せ、自分の靴の先だけを見つめながら歩いた。
あれに、“見えている”ことを知られてはいけない。
一歩。
二歩。
三歩。
私は振り返ることなく、その場を通り過ぎた。
だがその夜、そいつは夢に現れた。
気づくと私は、あの門の前に立っていた。
空気は重く、時間が止まったようだった。
寮の靴箱のそばに、それは立っていた。
頭から足先まで白い布に包まれている。
だが、その顔だけは――
若い男の顔だった。
整った顔立ち。
堂々とした姿。
昔の時代なら、英雄と呼ばれていたような男。
「ウラン……」
夜風のように静かな声だった。
「俺はジョコだ」
男はゆっくり笑った。
「お前、いい匂いがするな……。俺のものになれ」
一瞬、私はその顔に見入ってしまいそうになった。
だが次の瞬間、理性が私を引き戻した。
これは人間じゃない。
美しい顔を被っただけの化け物だ。
「断る」
私ははっきりと言った。
「私は人間にしか興味ない。お前みたいなのは無理。消えて」
私は背を向け、寮へ入った。
――バン!!
激しい音に飛び起きた。
時計は朝五時を指していた。
廊下では、他の女子生徒たちのサンダルの音が聞こえ始めている。
「……夢か」
私は深く息を吐いた。
だが、それで終わりじゃなかった。
それ以来、マグリブの祈りが終わる頃になると、私は外へ出るのが怖くなった。
そして夜になると、誰かが部屋のドアノブをゆっくり回す音が聞こえる。
カチャ……
カチャ……
カチャ……
鍵が閉まっているか確かめるように、何度も。
私のベッドはドアのすぐ近くだった。
私は毛布にくるまり、眠ったふりをしながら、その音を聞いていた。
心臓が壊れそうなくらい鳴っていた。
それでも、不思議と時間が経つにつれ、怪異は少しずつ静まっていった。
そして面接指導の日がやってきた。
日本企業の面接が近づき、私たち上級生は後輩たちの指導を任されていた。
その夜、私はイタという後輩の様子がおかしいことに気づいた。
彼女は何度も私を睨むように見ていた。
最初は気にしなかった。
だが、徐々にその目が虚ろになっていく。
次の瞬間――
ドサッ。
イタが床へ倒れた。
その背後に、私は見た。
ジョコだった。
全身が重くなる。
足が動かない。
仲間たちはすぐに聖句を唱え始めた。
祈りの声が教室に響く。
少しずつ、体の重さが消えていった。
私はイタのそばに膝をつき、低い声で囁いた。
「この子を離せ。用があるなら私だけにしろ。関係ない人を巻き込むな」
その瞬間、庭の方から悲鳴が上がった。
「火の玉だ!」
「火の玉が飛んでる!」
私は反射的に振り向いた。
赤い光が、木々の間を漂っている。
――バナスパティ。
「アスタグフィルッラーハル・アジーム……」
私は息を整え、皆に叫んだ。
「そっちを見るな! クルアーンを読んで! イタに集中して!」
みんなで声を合わせて祈りを唱えた。
一つの声。
一つの願い。
やがてイタの体が小さく動いた。
目が開く。
戸惑ったような表情だったが、意識は戻っていた。
「アルハムドゥリッラー……」
私はすぐに彼女を部屋へ連れていくよう頼んだ。
「今夜は絶対に一人にしないで」
その夜、面接クラスは早めに解散になった。
でも、恐怖はまだ終わっていなかった。
Ore no Mono
Kōkō ichinensei no koro, watashi wa jibun no naka ni nanika futsū de wa nai mono ga aru koto ni kizuki hajimeta.
Saisho wa, umaku setsumei dekinai iwakan datta.
Dare mo inai hazu na no ni shisen o kanjitari, tokutei no basho o tōru to kyū ni torihada ga tattari suru. Soshite yoru ni naru to, me ni wa mienai “nanika” ga sugu soba ni tatte iru yō na kehai o kanjiru koto ga atta.
Watashi wa sono chikara ga iyadatta.
Ima demo kanzen ni ukeire rarete iru wake janai.
Demo kokoro no oku de wa wakatte iru. Kore wa totsuzen te ni haitta mono janai.
Kono chikara wa, sosen daidai uketsugarete kita mono datta.
Watashi ga mada monogokoro tsuku mae kara, chi no naka ni nagare, kokoro no oku ni shizuka ni yadoritte ita mono.
Hachi-nen mae, watashi wa Nihon e iku to iu yume o kanaeru tame, Soro kinkō no Sukoharjo ni aru Nihongo gakkō e kayoi hajimeta.
Issho ni kita no wa, onaji jimoto shusshin no Mae datta.
Kanojo ni mo watashi to nita chikara ga atta. Demo, mada sono chikara o umaku atsukaezu ni ita.
Gakkō no ryō wa manshitsu datta tame, watashitachi wa Jawa no dentō kagoku de aru Joguro-zukuri no geshuku de kurasu koto ni natta. Furui mokuzō no ie de, yoru ni naru to kaze ni yureta hashira ga kishimu oto o tateru.
Soko de watashitachi wa, Bogōru shusshin no Fira to iu onna no ko to dōshitsu ni natta.
Shibaraku shite kara kizuita.
Fira ni mo, “mieru” chikara ga aru koto ni.
Aru yoru, watashi wa Fira to shokudō de shukudai o shite ita.
Shizuka na kūkan ni hibiku no wa, senpūki no oto to enpitsu no hashiru oto dake datta.
Sono toki datta.
Heya no hō kara, chiisana umeki-goe ga kikoeta.
Watashi wa Fira to kao o miawaseta.
Mō ichido, koe ga kikoeru.
Kondo wa motto hakkiri to.
Watashitachi wa awatete heya e kakekonda.
Mae wa beddo no sumi de hiza o kakae, furuenagara naite ita. Kao wa chinoke ga naku, namida de nurete ita.
“Wuran…… tasukete…… kowai……”
Watashi wa sūbyō, kotoba o ushinatta.
Mae wa ima made, jibun no chikara ni tsuite nani mo hanashite kurenakatta kara da.
Da ga tsugi no shunkan, kanojo no karada ga totsuzen kōchoku shita.
Soshite――
Himei ga yoru o kirisaita.
Mimi o tsunzaku yō na sakebigoe datta.
Fira ga sugu ni watashi no te o nigitta.
Watashitachi wa inori o tonae, Mae o ochitsukaseyō to shita. Keredo, mō watashitachi dake de wa dōnimo naranakatta.
Kanojo ni toritsuite iru mono wa, amarini mo tsuyokatta.
Geshuku no jūnin-tachi ga tsugitsugi to atsumatte kita.
Furueru koe de seiku o tonaeru mono mo ireba, kyōfu de heya no soto kara mite iru dake no mono mo ita.
Inori no koe ga, furui Joguro no ie o mitashite iku.
Mae no karada wa yumi no yō ni sorikaeri, ima ni mo chū ni uki-sō datta.
Soshite sono toki, watashi wa mita.
Heya no iriguchi ni, kyodai na kuroi kage ga tatte ita.
Ugokanai mama, jitto kochira o mite iru.
Mune ga shimetsukerareru yō ni kurushiku natta.
――Kusottare.
Kokoro no naka de sō hakisuteta.
Fira wa watashi no kaoiro no henka ni kizuita rashii.
Sotto senaka o nadenagara, mimimoto de sasayaita.
“Wuran…… Asutagufirullāharu Ajīmu…… tonaete”
Watashi wa chiisaku unazuki, futatabi inori o tsudzuketa.
Shibaraku shite, danshi-ryō no senpai de aru Ado-senpai ga kaketsukete kita.
Kare ga inori o tonae hajimeru to, omoku yodonde ita kūki ga sukoshi zutsu karuku natte itta.
Yagate Mae wa ishiki o torimodoshita.
Kanojo wa nakinagara, watashi no te o tsuyoku nigitta.
“Asoko, mō ikitakunai…… Wuran…… ano mise, mō ikanai de…… kowai…… asoko, pengarari tsukatteru……”
Watashi wa kanojo ga dono mise no koto o itte iru no ka wakatte ita.
Da ga Ado-senpai wa, damatte iro to iu yō ni watashi e mekuwase shita.
Sono yoru, watashitachi wa kanzen ni geshuku-jū no chūmoku no mato ni natte ita.
Betsu no geshuku kara mo seito-tachi ga atsumari, sawagi o mi ni kite ita.
Uwasa wa atto iu ma ni gakkō-jū e hirogatta.
Yokujitsu, Mae wa kyōshitsu de futatabi toritsukareta.
Gakkō-jū ga ōsawagi ni nari, kōchō wa kanojo o shibaraku jitaku taiki ni shita.
Demo, Mae wa mō genkai datta.
Kanojo wa sono mama kokyō e kaette shimatta.
Mae ga satta ato, shibaraku wa heion na hibi ga tsudzuita.
Sukunakutomo, watashi wa sō omotte ita.
Sū-kagetsu go, gakkō wa atarashii kōsha e iten shita.
Furui geshuku kara wa tōku natta tame, watashi wa seikatsuhi o setsuyaku suru tame ni gakkō no ryō e hairu koto ni shita.
Soshite――
Subete wa, soko de futatabi hajimatta.
Gakkō no tonari ni wa akichi ga ari, soko ni wa nanbon mo no banana no ki ga haete ita. Joshi seito-tachi wa, sono basho de shiyō-zumi no seiri yōhin o moyashite ita.
Masaka, sono basho ga wazawai no hajimari ni naru to wa omotte mo inakatta.
Sono yoru, watashi wa sūpā de kaimono o oen, hitori de ryō e modotte ita.
Gakkō no mon o tōrikakatta toki datta.
Shikai no hashi ni, shiroi kage ga yokogitta.
Ashi ga tomatta.
Ryō e modoru ni wa, sono mon o tōru shika nai.
Shinzō ga hageshiku myakuutsu.
Watashi wa kao o fuse, jibun no kutsu no saki dake o mitsumenagara aruita.
Are ni, “miete iru” koto o shirarete wa ikenai.
Ippo.
Niho.
Sanpo.
Watashi wa furikaeru koto naku, sono ba o tōrisugita.
Da ga sono yoru, soitsu wa yume ni arawareta.
Kizuku to watashi wa, ano mon no mae ni tatte ita.
Kūki wa omoku, jikan ga tomatta yō datta.
Ryō no getabako no soba ni, sore wa tatte ita.
Atama kara ashisaki made shiroi nuno ni tsutsumarete iru.
Da ga, sono kao dake wa――
Wakai otoko no kao datta.
Totonotta kaodachi.
Dōdō to shita sugata.
Mukashi no jidai nara, eiyū to yobarete ita yō na otoko.
“Wuran……”
Yokaze no yō ni shizuka na koe datta.
“Ore wa Joko da”
Otoko wa yukkuri waratta.
“Omae, ii nioi ga suru na…… ore no mono ni nare”
Isshun, watashi wa sono kao ni miitte shimai sō ni natta.
Da ga tsugi no shunkan, risei ga watashi o hikimodoshita.
Kore wa ningen janai.
Utsukushii kao o kabutta dake no bakemono da.
“Kotowaru”
Watashi wa hakkiri to itta.
“Watashi wa ningen ni shika kyōmi nai. Omae mitai na no wa muri. Kiete”
Watashi wa se o muke, ryō e haitta.
――Ban!!
Hageshii oto ni tobiokita.
Tokei wa gozen go-ji o sashite ita.
Rōka de wa, hoka no joshi seito-tachi no sandaru no oto ga kikoehajimete iru.
“……Yume ka”
Watashi wa fukaku iki o haita.
Versi Bahasa Inggris
Mine
Back then, I was only a first-year high school student when I first realized that something inside me was different.
At first, it was only a strange feeling I could never explain.
I would sense someone watching me even when no one was there. Certain places made my skin crawl the moment I passed them. And at night, I often felt as though something invisible was standing quietly beside me.
I hated that ability.
Even now, I still cannot fully accept it.
But deep inside, I know the truth. This was not something I suddenly obtained one day.
It was inherited.
The ability had flowed through my bloodline for generations, long before I was old enough to understand it. It had always existed quietly inside me, buried deep within my soul.
Eight years ago, I took my first step toward my dream of going to Japan. To make that dream come true, I enrolled in a Japanese language school in Sukoharjo, near Solo.
I went there together with Mae, a friend from my hometown.
She possessed an ability similar to mine, although she still could not control it.
Because the school dormitory was already full, we ended up renting a traditional Javanese joglo house. It was an old wooden building whose pillars creaked softly whenever the night wind blew through it.
There, we shared a room with a girl from Bogor named Fira.
Not long after, we realized something unsettling.
Fira could see them too.
One night, Fira and I were studying together in the dining room.
The only sounds filling the silence were the spinning fan and the scratching of our pencils.
Then suddenly—
A faint moan came from our bedroom.
Fira and I exchanged glances.
We heard it again.
This time, louder.
We rushed toward the room.
Mae was curled up in the corner of the bed, trembling violently. Tears streamed down her pale face.
“Wulan… help me… I’m scared…”
For a moment, I could not speak.
Mae had never told me anything about her ability before.
But before I could ask anything, her body suddenly stiffened.
Then—
A scream tore through the night.
It was so sharp it felt as if it split the darkness apart.
Fira immediately grabbed my hand.
We recited prayers, trying desperately to calm Mae down. But it was useless.
Whatever had possessed her was far stronger than us.
People from the boarding house began gathering one after another. Some recited holy verses with trembling voices, while others stood frozen outside the room, too terrified to come closer.
The sound of prayers filled the old joglo house.
Mae’s body arched backward like a bow, as if she might levitate at any moment.
And then I saw it.
A massive black figure stood motionless by the doorway.
Watching us.
My chest tightened painfully.
Damn you.
I cursed silently in my heart.
Fira noticed the change in my expression. She gently rubbed my back and whispered into my ear.
“Wulan… Astaghfirullahal-‘Azhim… keep reciting…”
I nodded weakly and continued praying.
Not long after, Kak Ado, a senior from the boys’ dormitory, arrived.
As soon as he began reciting prayers, the suffocating heaviness in the room slowly started to fade.
Eventually, Mae regained consciousness.
She clung tightly to my hand while crying.
“I don’t want to go there anymore, Wulan… Don’t ever shop there again… It’s terrifying… They use black magic…”
I knew exactly which place she meant.
But Kak Ado immediately signaled me to stay silent.
That night, we became the center of attention for the entire boarding house. Even students from nearby lodgings came to watch the commotion.
Rumors spread through the school by the next morning.
Then it happened again.
Mae was possessed inside the classroom.
The entire school panicked, and eventually the principal suspended her temporarily.
But Mae had already reached her limit.
She chose to return home.
After Mae left, things became peaceful again.
Or at least, that was what I believed.
A few months later, the school moved to a new building located far from our old lodging. To save money, I moved into the school dormitory.
And that was where everything began again.
Beside the school stood an empty field filled with banana trees. The female students often burned used sanitary pads there.
I never imagined that place would become the beginning of my nightmare.
That night, I had just returned from shopping alone at the supermarket.
As I walked past the school gate, something white flashed across the corner of my vision.
I froze.
There was no other path back to the dormitory except through that gate.
My heartbeat thundered in my ears.
I lowered my head and stared only at the tips of my shoes while walking.
I could not let it realize that I could see it.
One step.
Two steps.
Three.
Without turning around, I walked past it.
But that night, it appeared in my dream.
I found myself standing in front of the same gate.
The air felt unbearably heavy, as if time itself had stopped moving.
Near the dormitory shoe rack stood a figure wrapped entirely in white burial cloth.
But its face—
Its face looked human.
Young. Handsome. Noble.
Like a warrior from another era.
“Wulan…”
Its voice was soft like the night wind.
“My name is Joko.”
The figure smiled slowly.
“You smell beautiful… Become mine.”
For a brief second, I almost found myself captivated by his face.
But reality pulled me back.
This was not human.
It was a monster hiding behind beauty.
“No.”
I answered firmly.
“I’m only interested in humans. Not something like you. Leave.”
I turned my back and walked into the dormitory.
BANG!!
I jolted awake.
The clock showed five in the morning.
Outside, I could already hear the sound of sandals dragging along the hallway as other girls woke up.
“…Just a dream.”
I exhaled deeply.
But it did not end there.
Ever since that night, fear returned every evening after maghrib prayer.
And at night—
Someone would slowly play with my doorknob.
Click…
Click…
Click…
As if checking whether the door was locked.
My bed was closest to the door.
I hid beneath my blanket, pretending to sleep while my heart pounded violently every time the sound returned.
Still, little by little, the disturbances began to lessen.
Until interview preparation season arrived.
The senior students, including me, were assigned to guide the juniors for Japanese company interviews. Every evening, we held training sessions about self-introduction, answering interview questions, and proper posture.
That night, I noticed something strange about one of the juniors named Ita.
She kept staring at me.
At first, I ignored it.
But gradually, her gaze became emptier… colder.
Then suddenly—
THUD.
Ita collapsed onto the floor.
And behind her—
I saw him.
Joko.
My entire body became heavy.
I could not move.
The others immediately began reciting holy verses around us.
Their voices echoed throughout the room.
Slowly, the pressure crushing my body faded away.
I knelt beside Ita and whispered quietly.
“Leave her alone. If you want something, deal with me. Don’t drag innocent people into this.”
Suddenly, screams erupted from outside.
“Fireball!”
“There’s a fireball!”
I turned instinctively.
A glowing red light floated between the trees.
Banaspati.
“Astaghfirullahal-‘Azhim…”
I steadied my breathing and shouted at everyone.
“Don’t look at it! Keep reciting the Qur’an! Focus on Ita!”
Everyone prayed together.
One voice.
One intention.
Gradually, Ita began moving again.
Her eyes opened slowly.
Confused, but alive.
“Alhamdulillah…”
I immediately asked the others to escort her back to her room.
“Don’t leave her alone tonight.”
That night, the interview class ended early.
But the terror was far from over.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar